Fanny Wiriaatmadja

Archive for the ‘Work’ Category

Speechless

Source

Mau cerita nih tentang Mr. Ajaib, salah seorang petinggi regional di kantor yang ajaib dan super kece aksi-aksinya, dan kali ini GW akan menggunakan kata “gw” sebagai kata ganti orang pertama, tidak lagi “Aku” yang puitis atau “Saya” yang formal dan sopan, karena kali ini kisahnya akan berbau sedikit kurang ajar.

Pertama tau beliau hanyalah dari nama bekennya yang tersohor se-Asia Pacific, yang tentu saja tidak gw pedulikan, secara kenal juga kagak. Anyway gw di Jakarta dan Mr. Ajaib waktu itu di Hong Kong. Jarak memisahkan kami dengan hangatnya.

Pertama ‘bersentuhan’ dengan aura ajaibnya adalah ketika gw harus mengcover satu interview antara kandidat dengan dirinya, dan di hari yang sama, sekretaris si Mr. Ajaib ngabarin bahwa Mr. Ajaib baru saja meng-cancel interview session itu. Itu adalah tepat 1.5 jam sebelum schedule. Dan gw terpana dengan eloknya. Terus buru-buru gemeteran telepon kandidat. Ga nyambung-nyambung. Frustrasi neleponin sampe’ 15 menit, untung akhirnya berhasil, dan thank God dia masih OTW dan ga bete sedikit pun dengan aksi cancellation itu.

Reschedule berikutnya, gw udah kirim reminder sehari sebelumnya ke Mr. Ajaib, plus wanti-wanti nih ke sekretarisnya. “Bilangin Mr. Ajaib ya, besok ada interview jam 10.” Si Sekretaris bilang, apapun keputusan si Mr. Ajaib, hanya dia dan Tuhan yang tahu, jadi si sekretaris dengan pasrah berkata bahwa dia pun tidak bisa me-makesure interview besok akan berlangsung.

Gw saat itu percaya bahwa ga ada orang sedablek itu, yang udah diremind pun tetep mengabaikan. Jadi gw percaya teguh dan beriman, bahwa besok interview akan berjalan lancar.

Besokannya, kandidat udah datang pagi-pagi. Gw ud masukkin dia ke ruang Showcase, tempat video-conference dengan Hong Kong bakal berlangsung. Jam 10 teng, si Mr. Ajaib ga nongol. Langsung gw call sekretarisnya untuk nanya, dan sekretarisnya bilang dia juga gatau Mr. Ajaib ke mana. Diteleponin pun ga diangkat-angkat. Karena ga percaya, gw juga coba nelepon handphone si Mr. Ajaib dari Jakarta ini. Beneran, ga diangkat. Langkah selanjutnya adalah SMS dan send email ke Mr. Ajaib. 15 menit, tetep ga ada response. Entah, menjelajah ke tempat-tempat ajaib mana Mr. Ajaib ini.

Baliklah ke ruang showcase, senyum manis dengan muka meminta maaf tulus untuk ngabarin kandidat bahwa Mr. Ajaib akan sedikit telat. Merasa berdosa karena membohongi orang tak bersalah.

Setengah jam berlalu. Mr. Ajaib tetap raib seperti sediakala. Akhirnya gw nyerah, ga tega sama kandidat yang terkunci di ruang tertutup showcase. Gw bilang bahwa Mr. X lenyap dari muka bumi berhalangan dan sudah titip sent apology to the candidate (bohong banget secara Mr. X sepertinya adalah orang tanpa rasa sesal).

Ya sudah kandidatnya pulang.

I sent email to Mr. Ajaib cc to sekretarisnya, nerangin bahwa we better reschedule dan kapan dia available. And he never replied it.

Case kedua :

Kali ini, masih interview session bersama Mr. Ajaib.

Udah kirim invitation nih untuk interview dia di showcase Hong Kong dengan kandidat di Jakarta (which means showcase di Jakarta).

Di hari H, gw udah pasrah, siap-siap kemungkinan terburuk bahwa dia akan raib lagi ditelan bumi karena sepertinya dia menikmati ditelan oleh bumi. Eh ternyata bin ternyata, dia nongol loh! Mata berkerjap bahagia dan sebersit rasa bersalah hinggap di hati. Ah, Mr. Ajaib tidaklah seajaib itu. Dia hanyalah makhluk biasa yang sedikit ajaib.

Kandidat sudah siap rapi duduk manis berpose keren untuk interview via video conference di showcase, ketika tahu-tahu Mr. Ajaib email gw.

Katanya showcase Singapore ga ke-connect sama Jakarta.

Gw bilang, gw bookingnya Hong Kong, secara Mr. Ajaib kan Hong Kong based. Jelas banget bukan??? Waktu itu sedikit merasa ingin mencubit setulus hati pipi ajaib Mr. Ajaib. Atau menampar kilat pipinya empat kali untuk memastikan that he’s sober.

Dia bilang dia udah pindah ke Singapore dari dua bulan lalu.

DUENG.

Gw terkesiap dengan indahnya. I never knew it. I never knew it. I, really, never knew it.

And I have sent invitation before to him, clearly stated that the venue is TP Hong Kong. And he accepted it. And his secretary yang juga menerima undangan itu pun tidak ngomong apa-apa. Dan gw tetap membeku sampai beberapa jam setelahnya. Eh nggak deng, gw langsung cari IT personel di kantor untuk manually connect-in showcase Jakarta ke showcase Singapore, yang notabene adalah TEMPAT NGANTOR DIA YANG SEKARANG ITUH. Tapi IT Personelnya ga ada. Ga bisa book lewat system pula karena minimal booking time harus 1 jam sebelum sesi. Untunglah ada IT Singapore yang setelahnya membantu connect-in showcase Singapore dengan showcase Jakarta.

Ah syukurlah.

Yang ini anggap deh gw berkontribusi punya salah juga, KARENA GA MAKE SURE DIA SEKARANG UDAH PINDAH KE NEGARA BELAHAN BUMI MANA.

Case Ketiga :

Lagi-lagi interview session sama Mr. Ajaib. Kali ini ajaibnya, dia lagi maen-maen nyantai di Jakarta. Enggak deng, maksudnya kerja. Biztrip.

Mumpung dia di sini, dia mau ketemu sama satu kandidat yang juga Jakarta-based. Ya udah gw aturin dong. Dengan beribu doa dan sujud syukur sebelumnya untuk kelancaran sesi yang unpredictable ini.

Ternyata ada satu orang lagi VP dari Singapore yang mau ikutan interview, tapi dia masih di Singapore, jadi posisinya memang ga di Jakarta. Kita udah email-emailan tuh tek-tok-tek-tok bertigaan. Mesra. Janjian mau sesi interview bareng-bareng. Jadi si kandidat dateng ke kantor, trus bakalan face to face session sama si Mr. Ajaib parallel video conference sama si VP dari Singapore. Jadi langsung satu sesi gitu, di showcase Jakarta. Clear banget kan ya? Ya? Ya?

Invitation pun kemudian dikirimkan. Lagi-lagi dengan ribuan doa dan sujud syukur. Mandi kembang 2 malam sambal menatap nanar langit-langit kamar mandi.

Besokannya pagi, gw udah sibuk setting showcase Jakartanya, siapin minum dll. Jam 9 teng, gw cek ke receptionist, kandidatnya belum dateng katanya. Terus gw cek juga, si Mr. Ajaib di mana? Udah kelihatan belum batang hidung ajaibnya? Kata Receptionist, Mr. Ajaib lagi di ruang meeting.

Mengingat sebelumnya Mr. Ajaib agak kurang bertanggung jawab dengan segala sesi interview yang dia miliki, gw merasa maklum kalo’ si Mr. Ajaib masih aja sibuk meeting sementara jam 9 itu mestinya dia punya janji interview.

Jadi gw email si Mr. Ajaib dan si VP Singapore, ngasihtahu bahwa kandidatnya belum dateng, kemungkinan telat.

Paralel, gw teleponin si kandidat untuk nanya posisinya di mana, tapi ga diangkat-angkat. Udah setengah jam, gw udah agak panik, ini kandidat ke mana? Kenapa semua orang yang gw arrange interview selalu menghilang tanpa jejak di jam yang sudah dijanjikan? Apakah undangan gw berbau kutukan?

VP Singapore juga katanya udah nunggu di showcase Singapore (sambil kerja di depan notebook), dan mukanya udah agak bete (kelihatan dari layar di showcase Jakarta). Gw juga saat itu udah pengen ngamuk ke kandidatnya karena gak ngabarin sama sekali.

Akhirnya 1 jam berlalu tanpa kabar, duduk, berdiri, dan bolak-balik dengan gelisah tingkat tinggi, dan akhirnya gw memutuskan untuk email ke Mr. Ajaib dan ke VP Singapore, untuk mereschedule saja interview ini karena kandidatnya ga dateng-datang dan ga bisa dihubungin sedari tadi.

5 menit abis ngirim email itu, si Mr. Ajaib dengan ajaibnya me-reply, “I’ve finished the interview with the candidate..”

Gw terpaku lagi dengan indahnya sambil menggigiti bibir tipis gw yang malang. Mencoba mencerna dalam-dalam makna kalimatnya, lalu benak merekonstruksi ulang semua yang terjadi sedari pagi.
1. Bukannya kandidatnya belum dateng daritadi, kata si Receptionist?
2. Bukannya si Mr. Ajaib katanya lagi meeting?
3. Bukannya mestinya Mr. Ajaib tahu bahwa interviewnya mestinya berlangsung di showcase Jakarta bersama dengan si VP Singapore?
4. Ada di manakah mereka sekarang? Apakah mereka interview di negeri khayangan yang tidak terdeteksi?
5. Dan beribu pertanyaan lain

Lalu gw mencari ke seluruh ruang meeting, di manakah si Mr. Ajaib dan si kandidat berada? Memori masa kecil bermain Hide-And-Seek berseliweran di benak sambil mulut komat-kamit memaki dan mencaci perlahan.

Ternyata setelah gali info dan menginterogasi orang-orang satu kantor, mereka berdua ditemukan ada di bawah, di Starbucks. Abis ngupi-ngupi manis sambil interview. Dan gw satu jam-an berusaha menelepon si kandidat (yang tidak dijawab, tentu saja, kini jelas karena dia sedang interview)! Jangan lupakan efek samping aktivitas itu : Telepon kantor gw penyok sisi pinggirnya, hasil cengkeraman penuh rasa frustrasi dan kemarahan dari tangan gw selama berkali-kali men-dial nomor si kandidat.

Oh, gw ngerasa pingin melumat Mr. Ajaib. Tidak dengan cara yang romantis, melainkan dengan cara yang buas dan tidak beradab. Betapa teganya dia langsung menemui kandidat dan memboyongnya ke Starbucks tanpa sepengetahuan gw, padahal di email DAN invitation, jelas-jelas gw sudah state bahwa interview ini adalah BERSAMA dengan VP dari Singapore, dan itu seharusnya di ruang showcase?? Mengapa dia begitu tidak berperasaan??

Gw ga ngerti gimana mereka berdua bisa tau-tau nge-klik begitu saja pada pandangan pertama (setau gw mereka ga pernah kenal sebelumnya) dan ke Starbucks tanpa sepengetahuan gw dan si receptionist yang notabene jaga di depan. Dan si kandidat mestinya tau bahwa interview ini bukan dengan Mr. Ajaib doang, tapi it’s fine, ini bukan salah si kandidat. Masa’ dia mau berontak saat diculik ke Starbucks? Apalah dayanya selain mengikuti dengan pasrah Mr. Ajaib yang sesat itu? Oh, ada apakah dengan semesta??

Ya sudah habis itu gw email si Mr. Ajaib dan dengan keras menegur dia, mengingatkan bahwa interview ini seharusnya bertiga dengan si VP Singapore, yang sudah nunggu dengan bete satu jam di showcase Singapore. BWAHAHA. Seneng rasanya bisa ngomelin dia walaupun tetep aja dia ga reply.

Sekian teman-teman, seserpih keajaiban dari Mr. Ajaib. Selama gw masih menjadi kuli kucrit di kantor ini, selama itu pula gw akan tetap terkoneksi intim dengan Mr. Ajaib. Oh yeah, I love you Mr Ajaib! I surely do!

Advertisements
Tags:

aaaaaaaaaaa

Dalam masa-masa kerja, seneng banget kalo’ bisa ketemu orang-orang dengan etos kerja dan passion tinggi serta punya prinsip yang dalam soal leadership. Let me tell you some of them.

• Waktu kerja di Beiersdorf Indonesia, PresDir kami adalah orang Jerman – namanya Marcello Biasia. Asli ganteng, tinggi, badan bagus, pokoknya eye-catching banget. Kalo’ ga noleh pas papasan sama sosok unyu-unyu Beliau sih kebangetan banget namanya. Errrm mari lupakan itu sebentar. Yang mau saya bahas di sini adalah eagerness-nya Beliau untuk belajar Bahasa Indonesia selama dapet assignment di Indonesia ini. Bayangin, setiap PresDir masa kerjanya cuma 5 tahun paling lama (itu pun kalo’ ga dimutasi atau dirotasi lagi ke tempat lain atau dianya pribadi yang request dipindahin), setelah itu bakalan diganti sama orang lain yang di-assign from headquarter, tapi dia begitu semangat belajar Bahasa Indonesia. Seminggu 2-3x dia belajar Bahasa jam 7-an pagi sebelum jam kantor dimulai, dengan guru private yang dipanggil datang either ke apartmentnya atau ke kantornya. Dalam beberapa bulan, di suatu presentasi, dia mengagetkan kami dengan conduct the whole material in Bahasa. Lancar. Sesi tanya jawab pun diadakan dalam Bahasa Indonesia. Mungkin buat sebagian orang, ini hal biasa, tapi buat saya pribadi it’s amazing. Kok bisa ya orang yang cuma sebentar di suatu negara bisa bener-bener serius punya niat untuk mempelajari suatu bahasa yang notabene bukan bahasa yang cukup umum dipake’ di berbagai belahan dunia sehingga bisa dibilang setelah periode assignmentnya, pastilah tu bahasa ga bakalan kepake’ lagi? Kok bisa ya satu orang dengan posisi tinggi yang tentu saja bisa dan punya hak mewajibkan semua orang berkomunikasi dengannya dalam Bahasa Inggris, tetep punya keinginan untuk belajar suatu bahasa lokal untuk bisa lebih blended dengan para staff-nya? Kok bisa ya satu orang yang okelah sudah belajar Bahasa Indonesia, mempersiapkan satu materi presentasi bisnis dalam Bahasa Indonesia, yang jelas-jelas butuh effort banget, padahal dalam pikiran orang awam, Bahasa Indonesia untuk daily conversation aja mestinya cukuplah? Gimana bisa ga kagum, denger dan nyaksiinnya.. Dan FYI, di setiap negara yang dipimpinnya, dia selalu belajar bahasa lokal. Jadi bisa dibayangkan betapa banyak bahasa yang dia kuasai. I learnt about passion and loyalty from this guy. Definitely.

• Cerita tentang one colleague in the same department : Waktu lagi ada event dan diadakan suatu lomba, kebetulan kelompok kami menang karena dinilai konsep yang kami sajikan itu unik. Saat itu jurinya nanya ke group kami, “Whose idea is this?” I thought my colleague – yang waktu itu jadi leader – akan jawab “Ide bersama..” secara itu jawaban yang sangat diplomatis dan kesannya kan teamwork banget. Singkat kata, keren lah gitu, jawabannya. Tapi nggak loh, sambil senyum dia bilang, “Yang pertama kali idein ini adalah A,” sambil dia nunjuk temen kami si A, yang mukanya langsung tersipu, “kemudian kami godok bersama idenya..” Wow, I love that answer! Saya juga pernah ketemu satu kolega yang kebetulan minta satu file perhitungan pajak dari saya, karena ada senior manager yang membutuhkan file semacam itu supaya bisa ngitung instan pajak penghasilannya. Si senior manager kemudian memuji kolega saya itu, karena bisa-bisanya punya file yang sebegitu keren dan begitu membantu. Dengan kalem, my colleague said, “It’s not me. It’s Fanny ‘s file, I got it from her..” Padahal, waktu itu saya lagi ga deket situ. Saya cuma kebetulan denger dari luar ruangan, tapi toh orang itu tetap memilih mengatakan yang sebenarnya. I learnt about giving credit to people who deserve it. Don’t take someone’s credit for yourself.

• Someday, I had a meeting with my colleague. Bahas suatu hal, kami ketemu masalah dan ga yakin how to solve it, then sepakat untuk escalate to our boss. Pas udah mau beranjak ke ruangan si atasan, my colleague sepertinya masih mikir. “Anything else?” I asked him. “Nggak,” dia bilang, “I’m preparing some alternatives of solution..” Saya agak bingung waktu itu. I thought we’re looking for that one ke atasan kami. Dia kemudian bilang, “I educate myself, not to come with problem only, but prepare for the solution. We’re not asking our boss to solve our problem. We ask him for support or confirmation or input or advice or whatever, on our own solution.” Cool!

• On one training session where I was the PIC and observer only, and sit behind, one director kelihatan kebingungan celingak-celinguk ke sekeliling ruangan. I asked him, what he needed. Dia bilang dia cari Aqua. Sontak saya berdiri untuk keluar ruangan training, nyari waiter untuk minta Aqua. Tapi sang director nahan saya. “Jangan,” katanya, “Saya aja..” kemudian dia langsung jalan keluar ruangan. Saya langsung cepet nyusul dia. “Jangan Pak, saya aja..” I told him so, but he said, “You’re not my maid. Relax, mendingan kamu di dalem dengerin materinya. It’s a good material and you can learn a lot inside..” Saya –saat itu- hanya bisa terhenyak. I don’t know people from high managerial level can be that humble. Apalagi di jam-jam berikutnya, baru saja beberapa peserta berteriak pada saya, “Fan, AC-nya dong!! Panas banget nih!!”

Kisah di atas sebagian besar terjadi di awal-awal masa kerja saya dan selalu berusaha diterapin biarpun ga gampang. It’s just small things I witnessed, dan jadi a very sweet learning for me. Hope it works for you too

rejected

Belakangan ini pas kebetulan saya lihat-lihat Linked-In dan refresh my connection, saya surprise sendiri ngelihat betapa banyaknya kandidat yang pernah kami (company) tolakkin, ternyata udah pegang posisi yang quite high di company lain. And I imagined, seandainya orang itu diterima di company kami waktu itu, saya yakin posisinya ga akan naik dalam 1-2 tahun terakhir ini alias akan tetap sama dengan designationnya di awal.

Sontak teringat sama seorang kandidat yang waktu itu ga bisa masuk karena ada problem terkait hasil Medical Check Up-nya. Kandidat ybs. sudah provide rekomendasi positif dari dokter pribadinya dll. supaya bisa tetap keterima di tempat kami, tapi tetap waktu itu based on our internal discussion, kami tetap reject kandidat itu karena potensi dari kondisi kesehatannya.

Kamu tahu, waktu itu dia begitu marah dan kecewa, dan kata-katanya di email ke saya cukup menyakitkan. I don’t blame him at all for I know what he felt at that moment. It hurts, indeed, meskipun saya ga mengalami.

Anyway orang itu sekarang posisinya sudah sekelas GM atau head something, sementara dulu posisi yang di-apply nya di tempat kami hanya ‘sekelas’ Product Manager.

Dan itu baru 1 case saja. Masih banyak case-case lain, orang yang ditolak di sini karena ga lolos test, dan di tempat lain mereka bisa di-hire dengan posisi yang jauh lebih tinggi dan berkelas. Kalo’ mereka keterima di sini, percayalah pada case mereka, posisi mereka tetap akan stuck sampai saat ini. Bukan saya menjelek-jelekkan my company ya, tapi realita pada case posisi yang kebetulan mereka apply memang begitu karena kebetulan hierarki organisasi untuk posisi di departemen itu memang pendek di sini.

Anyway, my point of telling this is simple. God’s plan is better than yours. Sori kalo’ mungkin basi, standard dan ‘biasa’ banget statementnya, tapi mohon maaf, terimalah kenyataan bahwa realitanya memang seperti itu. Plan dari Dia memang selalu melebihi rencanamu. As simple as that.

Kalau ternyata kita ga diterima di suatu tempat yang mungkin begitu kita dambakan (misal, number 1 IT company di Indonesia) dan berasa banget hancur, pahit dan kecewanya pas ga keterima, just trust bahwa memang waktunya belum tepat. Atau memang kita memang ga belong di situ karena God has prepared for you in store, some place that is far better than what you think, dan tentu saja bagianmu adalah ‘Percaya dan Tunggu Saja’.

Kadang begitu kita mengalami rencana terbaikNya, baru kita bisa memandang ke belakang dan berbisik, “Thank you Lord, for now I understand..” Jadi ya mendingan sekarang kalo’ kejadian yang pahit-pahit tadi, better kita ga usah menghujat Yang Di Atas atau menyalahkan, atau mempertanyakan. Percaya saja bahwa pasti yang disediakan ke depannya lebih baik. Itu saja.

God bless & have a great day..

imagesasasasas

Wahai engkau,

Yang menjejak ranah penuh insan
Untuk menunaikan tugas yang diemban

Turut bertarung dalam kancah kecamuk
Kompetisi paling anyar antar makhluk

Berebut benak maha hebat sesuai pinta
Guna dipersembahkan pada yang bersabda
Memenuhi titah yang terujar

Tahu sebenar-benarnya aku,
Bagaimana nyawamu dipertaruhkan di arena ini
Paham sejelas-jelasnya aku,
Bahwa anak istrimu mengenyam hidup dari sini

Tapi perlulah sesekali
Kau coba bersujud dalam sunyi
Menceburkan diri dalam sebentuk renung
Tak apa sesekali termenung
Bahwa cepat dan gesitmu kadang lampaui batas
Kami dianggap tak bernapas
Dikejar tanpa henti, ditempel tanpa jeda
Gerah dan kikuk jadinya

Maka mengapa tidak memberi sebuah sela
Untuk menjembatani yang tak tekata
Untuk membuat pandangan lebih marak
Ketimbang buta saat rapat tanpa jarak
Kau bercokol di sepatuku,
Dan aku bersemayam di benakmu

Maka kita bisa bersinergi
Bersama meraih simpul mutualisme
Pundimu, pula suksesku
Baik jadinya untuk semua

* Dipersembahkan untuk para headhunter

interview

Berikut adalah segelintir tips-tips ala kadarnya buat yang mau interview. Jangan mikir ini tips profesional ala expert-expert di HR ya, karena isinya cuma seperintilan saran hasil bergulat dengan dunia menginterview-diinterview selama beberapa waktu, yang kesesatannya cukup boleh dipertanyakan, apalagi kemujarabannya.

PERSIAPAN INTERVIEW

* Sempetin diri setidaknya baca website perusahaannya. At least lo tahu ni company bergerak di bidang apa, berdirinya kapan, produk-produknya dll. User di tempat gw pernah langsung reject kandidat karena tuh kandidat ga tau bahwa perusahaan gw itu perusahaan multinational (kandidatnya pikir ini perusahaan lokal), padahal posisi yang di-apply adalah Public Relation. Cukup fatal kan? Pernah juga gw diinterview di sebuah perusahaan elektronik yang punya anak perusahaan di bidang software developer, dan ditanya siapa aja kompetitor mereka. Untung beribu untung, hari sebelumnya gw sempet baca-baca tentang tuh company dan bisa jawab dengan lancar. Kan lumayan buat nambah nilai plus.

* Simpen data alamat/ no telepon/ email si PIC interview, jadi in case ada apa-apa bisa kontak-kontakan. Apalagi kalo’ orangnya keren.

* Pake baju yang rapih lah ya. Standard ini mah. Jangan pake daster, nanti yang interview lo bawaannya mau merem. Jangan juga pake tuxedo, belum tentu tampang lo bisa ke-upgrade pake baju keren kayak gini. Juga jangan pake gaun malem, kalo’ sobek ntar mewek. Jangan pake baju seksi, nanti kalo’ berhasil ngegoda, sakit hati. Intinya pake baju formal yang nyaman, dandan juga jangan kayak mau nikahan, sayang make-up-nya, mending buat date sama pacar.

* Coba simulasiin pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul beserta jawabannya. Bukannya siapin karangan indah yah, tapi at least mengingat dan me-refresh riwayat pengalaman-pengalaman kerja yang dulu-dulu (termasuk tugas dan tanggung jawab lo dulu, reporting line, dll). Gw pernah ditanya suatu pertanyaan yang gw agak gelagapan jawabnya, bukan karena ga bisa, tapi karena ga inget histori kerja di tempat lama. Sampe rumah baru keingetan dan baru nemu jawabannya dan feeling nyeselnya awet beberapa hari!

Pertanyaan-pertanyaan standard yang mungkin muncul sih biasanya tentang job desc di tempat kerja terakhir plus yang dulu-dulu, reporting line, challenge terbesar, achievement, strength and weakness, apa yang bikin kamu mau keluar/cari kerja di tempat lain, apa yang kamu tau tentang company ini, apa yang akan kamu lakukan di hari-hari pertama kamu join di sini seandainya kamu diterima, apa yang membuat kami harus meng-hire kamu, case-case dimana kamu pernah gagal, case-case dimana kamu menghadapi konflik terbesar, dll. Persiapin jawaban yang jujur dan ga berlebihan. Jangan bohong, jangan ngebual, jangan ngegede-gedein, karena kalo’ ketemu interviewer jago yang hobi nyecer, nanti lo mati kutu sendiri dan malunya ga tertahan. Mending apa adanya aja. Lagian bohong itu susah, nanti kalo pertanyaannya diputer-puter, lo kejebak jawaban lo sendiri.

* Bawa alat tulis. Jangan kayak orang mau ke mall, yang bolpoin aja kudu minjem ke interviewer.

* Tanyalah kira-kira agenda hari itu apa saja. Apakah interview saja, atau test, dll, serta perkiraan waktunya. Ini akan membantu terutama kalo lo harus ijin dari company tempat lo kerja saat ini. Supaya lebih konsentrasi pas interview kan ada baiknya lo tau timelinenya kira-kira, supaya bisa mempersiapkan diri.

* Terkait schedule interview, kalo memang lo yang apply ke perusahaannya, jangan ‘banyak nuntut’ juga soal waktu interview. Gw pernah ketemu satu kandidat yang apply ke perusahaan kami dan pas diinvite interview, terjadilah seperti ini :

Kandidat : “Sabtu aja ya Bu interviewnya.. Saya ga bisa kalo weekdays.. Susah ijin dari kantor..”

Gw : “Mohon maaf, Sabtu kantor kami tutup..” -> sebenernya sih bisa aja gw ketemuin di luaran di hari Sabtu, misal di mall, tapi (1) At the end toh nanti dia harus ketemu user juga kan dan belum tentu user sebaik hati gw, mau ketemu di weekend (2) post yang kandidat itu apply saat itu jujur ga gitu signifikan sih, jadi kayaknya ga perlu sampe bela-belain ketemu hari Sabtu hi3..

Kandidat : “O ya udah kalo gitu hari Minggu aja deh Bu..” -> OMG.. ternyata aku ngomong sama batu.

Gw : “Maaf, kantor juga tutup hari Minggu..” -> yang buka gereja..

Kandidat : “Kalo’ after office hour gimana?”

Gw : “OK, bisa, tapi jam 6 sore is the latest ya..”  -> Soalnya gw ga yakin user mau nungguin sampe malem (kalo gw pribadi sih beneran ga keberatan, sampe jam 6.30 malem juga hayuk lah masih bisa gw tolerir, secara memang resiko kerjaan, selama ga sering-sering juga yaa, kalo nggak nanti jam nonton bioskop gw kacau balau)

Kandidat : “Ga bisa, saya bisanya jam 7.30 malem sampe sana.. Kantor saya jauh..” -> Ebuset deh.. OB gw aja udah pulang kali tuh.

Gw : “OK, gimana kalo pagi jam 7, supaya ga mengganggu jam kantor kamu?”

Kandidat : “Aduh ga bisa Bu, kepagian banget..”

Gw : “…….” *gigit notebook

Intinya dari cerita itu, maksud gw kalo memang ga ada itikad baik untuk menyesuaikan diri dengan schedule, ya mau gimana lagi? Gw skip aja tuh kandidat.

Nah sebaliknya, kalo’ lo yang di-approach oleh perusahaan alias ditaksir nih, apalagi kalo posisinya super penting alias agak tinggi, mau ga mau si company yang manggil memang harus nyesuain diri dan lebih fleksibel, jadi lo sebagai kandidat bolehlah belagu dan bertingkah sedikit terkait jadwal interview.. Di atas angin bo! 😀

PAS INTERVIEW

* Jangan telat. Gw tau itu hobby dan kegemaran lo, tapi mendingan jangan dilakuin pas lagi mau interview. Kalo’ ga tau tempat interviewnya, cari tahu dari hari-hari sebelumnya. Antisipasi sikon jalan yang macet, nyari parkir, pemeriksaan security dll. Mendingan kepagian daripada kesiangan. Kalo’ pun telat, hubungi interviewer, say sorry dan berikan reason serta perkiraan waktu tiba.

* Pas nunggu, saran gw jangan main HP atau BB atau apapun itu. Karena menurut gw “jelek” banget kalo pas si interviewer datang ke ruangan, lo lagi kutak-katik BB, terus lo harus cepet-cepet nyudahin percakapan di BB dll, masukkin BB lo dengan gelagapan bin buru-buru ke dalam tas, dll. Si interviewer juga jadi cengo berdiri karena harus nungguin lo masukkin dan beresin BB lo yang ga penting itu. Perkenalan dan introduction di awal jadi ga lancar dan ga bagus. Juga jangan bawa notebook dan nunggu sambil kerja ya. Emang sih gw tahu lo sibuk dan dikejar-kejar sama boss, tapi ga bagus banget impresinya buat si interviewer, karena kesannya lo ga fokus dan menganggap interview ini sebagai prioritas (walaupun kenyataannya ga begitu ya). Mendingan cari waktu / schedule lain saat lo lagi ga terlalu sibuk, supaya lo juga bisa konsen interviewnya.

Di atas itu cuma opini pribadi sih. Mendingan duduk diam dengan manis, siapin mental, siapin diri, tenangin diri.

Gw pernah ketemu satu kandidat yang nunggu sambil baca buku, dan bukunya buku Bahasa Inggris yang cukup berat. Anyway, itu lebih bikin nilai plus sih daripada lo sibuk BB-an selama nunggu. Pernah juga pas ikutan training di luar, gw ketemu seorang HR yang perusahaannya agak-agak gokil. So ternyata setiap manggil kandidat, mereka akan membiarkan kandidat itu nunggu minimal setengah jam di ruang tunggu, dan akan ada kamera ‘pengintai’ di atas, dan si HR akan nongkrongin setengah jam itu untuk melihat setiap reaksi dan respons si kandidat, either marah, bosen, kesel, dll. Dan semua respons itu akan dicatat dan masuk dalam kategori penilaian interview. OMG.. So buat perusahaan itu, adalah penting untuk mengenal ‘mental’ si kandidat; how they deal with pressure and how they manage their time. No comment sih untuk practice semacam ini, tapi menurut gw pribadi :

– Mental orang bisa dinilai dengan cara lain, ga harus dengan cara “mengintai” seperti itu

– Kandidat juga punya kerjaan lain, setengah jam itu waktu yang cukup berarti. Kenapa harus ‘menahan’ dia dengan cara seperti itu, sementara kalo’ kita mau sedikit pengertian, dia mungkin sedang ada deadline atau pekerjaan lain yang harus diselesaikan di kantornya. Jangan tega lah jadi orang.

– Buat si HR sendiri, emangnya enak ya ngeliatan kandidat bengong-bengong selama setengah jam-an? Mending kalo’ kandidat cakep dan enak dilihat. Setengah jam nganggur sih mendingan gw manfaatin buat browsing tiket murah di internet 😀

Moral of the story juga, kalo’ lagi nunggu, liat-liat cari kamera, siapatau lo lagi di-paparazzi. Jangan garuk-garuk ketek, ngupil, atau melakukan tindakan memalukan lainnya seperti nyuri properti yang ada di ruang tempat nunggu karena merasa ga ada orang. Pokoknya biar safe, pasang tampang cool dan manis aja.

* Jangan lupa silent BB lo..

* Ga usah tegang, relaks, bercanda sesekali sama si interviewer -> ga jadi deh, tips ini gw cancel, karena percayalah kadang nulis dan ngomong ini sangat gampang, beda dengan realita. Yang pasti, berdoalah sebelum dan sesudah interview 🙂 I mean it, seriously.

* Berusahalah jadi diri lo sendiri, tapi jangan lupa bahwa sedikit polesan juga diperlukan. Sama seperti sepatu yang sering dipakai, ga ada salahnya kan tetap memakai sepatu tua itu, tapi dipoles sedikit supaya lebih mengkilap? Maksud gw adalah, bersikaplah jujur dalam menjawab, jangan berusaha menjadi ‘superman’ dalam sesi interview, dan berusaha menunjukkan bahwa lo orang hebat yang jagoan di kerjaan apa pun. PD sangat perlu, tapi jangan over confident. Bersikaplah apa adanya dan humble, tapi juga jangan rendah diri dan pesimis. Tonjolkan apa yang memang menjadi kekuatan lo, sesuai bidang yang lo lamar. Misal, kalau lo melamar untuk posisi Accounting, tunjukkan kekuatan lo di bidang itu (selain kemampuan teknis), misal lo orang yang teliti dan hati-hati. Jangan malah menunjukkan kelebihan lo untuk ‘mempersuasi’ orang, karena kelebihan itu lebih cocok lo highlight saat lo (misal) apply buat posisi Sales.

Juga, biarpun lo aslinya bukan tipe orang yang suka senyum-senyum, usahakanlah sedikit lebih ‘friendly’ dan terbuka. Juga kalopun lo orang yang pendiem, jangan cuma jawab “iya”, “nggak”, “betul” dll yang cuma sepatah-sepatah kata gitu. Kayak kudu bayar aja kalo’ ngomong banyak. Jangan pelitlah. Sedikit hambur kata, tapi jangan kebanyakan juga. Mending kalo’ suara lo merdu dan enak didenger dan kata-kata lo indah kayak tukang bikin puisi. Singkatnya, jadilah diri lo sendiri yang sedikit dipoles cantik; jangan berlebihan dan jangan berkekurangan, titik.

* Saat ditanya strength / weakness lo, usahakan menjawab dengan spesifik. Jangan bilang “Oh, saya pekerja keras, bertanggung jawab dan berdedikasi..” yang beneran deh pasti bakal bikin interviewer lo muter mata seandainya keadaan memungkinkan. Jawablah dengan jujur dan spesifik, seperti “Saya seorang yang well-organized dan seorang yang berani.” Siapkan juga contoh-contoh nyata untuk mendukung statement itu, misalnya menceritakan salah satu case dimana lo demonstrate those behavior atau competency. Sebaliknya, saat ditanya weakness lo, jangan jawab jawaban safe seperti “Saya seorang yang terlalu perfeksionis” karena percayalah biarpun mungkin lo ga bohong, jawaban itu sudah sangat ketinggalan jaman dan ga model lagi. Jawablah apa adanya, misalnya “saya kurang menyukai konflik..” Tipsnya adalah jawablah dengan kelemahan yang tidak relevan dengan pekerjaan yang lo apply. Misal dalam kasus si Accounting tadi, sebisa mungkin ya jangan state bahwa kelemahan lo adalah di angka dan bahwa lo ga teliti, karena hancurlah sudah semuanya.

* Sedikit teknik licik untuk menjawab pertanyaan yang rada susah : Berikan jeda atau sedikit “eeeemmmm” sesudah pertanyaan itu, seolah lo sedang mikir, baru berikan jawabannya (walaupun lo sebenernya ud persiapin jawaban kerennya dan lo ud ga sabar ngeluarin jawaban pamungkas yang ud lo karang berhari-hari itu). Kalo’ lo langsung jawab, ketahuan banget bahwa jawabannya “hafalan”, apalagi diucapkan dengan lancar tanpa spasi. Kesan sedikit mikir tadi lebih akan berhasil untuk nunjukkin bahwa lo seorang yang cerdas (seolah-olah loh, inget, seolah-olah, catat)

* Jangan pernah jelek-jelekkin perusahaan lo yang sekarang. Ini is a big-no-no. Tapi jujur gw aja terakhir interview pernah ‘kejeblos’ juga di lubang ini. Kenapa kita bisa ‘jelek-jelekkin’ company kita yang sekarang, sebabnya adalah :

– Memang ada kecewa dengan perusahaan yang sekarang

– Berusaha nunjukkin reason yang valid of why you’re searching a new opportunity now. Kita jadi berusaha tunjukkin jelek-jeleknya company kita supaya reason kita untuk pindah ke perusahaan lain itu masuk akal (padahal sebenernya cuma karena pingin gaji lebih tinggi aja, ga ada specific reason, iya kan? Ngaku lo..)

Anyway apapun itu jangan pernah jelek-jelekkin company lo. Sekalipun ada kekecewaan terhadap company yang sekarang, state itu dengan kalimat yang netral, tanpa emosi. Interviewer juga mestinya bisa mengerti sikon yang terjadi. Waktu gw masuk perusahaan pertama sebagai fresh graduate Management Trainee untuk HR, Direktur HR nya menyuruh kami menceritakan tentang peristiwa paling ‘menggusarkan’ yang pernah kami alami. Beberapa waktu kemudian setelah diumumkan siapa saja yang lolos proses, baru dia buka kartu bahwa dia mencari someone dengan emosi yang stabil, yang cukup rasional dan tidak ‘terikat’ oleh kekecewaan masa lalu, karena yang dicari adalah seorang HR yang memang butuh karakter seperti itu untuk role-nya sebagai penjembatan antara Management dan Employee. Banyak di antara kandidat yang menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan kemarahan dan emosi, apalagi pas dipancing-pancing oleh si Direktur HR, dan terjebaklah mereka. So, sebisa mungkin apapun yang terjadi tetap jaga nada suara sepositif mungkin, dan again, jangan jelek-jelekkan company yang sekarang apalagi sampai membocorkan internal organisasi yang bersifat confidential. Berikan reason of leaving yang masuk akal dan netral tapi cukup bisa diterima. “Finding new opportunity and new challenge” biarpun sumpah basi banget, masih lebih bisa diterima.

* Kalau diberikan waktu nanya, jangan pernah nanya soal package on the first interview. Impresinya jadi kurang bagus. Lolos aja belum, udah nanya soal duit. Tanyalah pertanyaan bermutu lain seperti culture perusahaan seperti apa, apa strength-weakness-nya perusahaan, dll.

SETELAH INTERVIEW

* Kalau mau, gpp kok u/ say simple thank you ke si interviewer via email, pasca interview selesai. Ga usah berlebihan dan kiss-ass-mode-on, cukup simple thank you aja untuk the opportunity given.

* Jangan terlalu ngebet nanyain hasil interview sampe serasa mau ketemu pacar. Tunggulah 1-2 minggu untuk menanyakan progress, bila memang ingin tahu. Ga ada  salahnya kok nanyain progress hasil interview, karena itu adalah hak kita sebagai kanddiat dan itu somehow menunjukkan niat dan keseriusan kita. Cuma ya caranya itu, jangan tiap ari neleponin si interviewer juga dan bikin ilfeel. Gw juga pernah ketemu kandidat yang mungkin memang lagi desperate dan stress berat di company nya yang sekarang dan udah pengen banget pindah. Akibatnya ya itu, setiap hari gw disatronin, mulai dari email sampe SMS, padahal gw udah bilang bahwa kami masih mencari pembanding dan akan inform bila ada update. SMS-nya pun bisa jam 9 malam dan di weekend time. Pertama-tama sih masih sabar ya ngeladeninnya secara kan kasihan juga, tapi lama-lama kayaknya udah mulai ga ‘sehat’ deh, so akhirnya gw stop membalas sama sekali.

Kalo’ akhirnya diinform bahwa lo ga lolos, misal karena test-nya failed, tetep say thank you dan berbesar hatilah. Ada satu kandidat yang gw inform mengenai status testnya yang failed, jawabannya adalah “Ya soalnya waktu itu saya lagi ga sehat Bu.. AC nya dingin lagi.. Kerjaan juga lagi menumpuk sehingga ga konsentrasi, dan waktu itu saya terlambat datang ke tempat testnya, jadi buyar semua fokusnya..” Ih lengkap amat reasonnya, hebat! Pernah juga sih ada kandidat yang setelah tahu ga lolos, minta feedback kenapa dia ga lolos. Dia minta masukan dan saran untuk improvement dia ke depannya. Wuih, canggih juga. Ya sudah kalo’ ketemu yang macam begini, biasanya gw selalu berusaha jujur biarpun kadang ga tega juga ngasihtau weakness-weaknessnya during that interview session.

Jadi, kesimpulannya, jangan negatif dan paranoid atau pesimis dulu kalo’ belum dikontak-kontak tentang hasil interviewnya. You never know dapur recruitment di sebuah perusahaan. You’re not the only one. Ada kandidat lain yang juga harus diinterview sebagai pembanding dan mungkin nungguin jadwalnya lama, belum lagi user yang kemudian cuti ini itu, biztrip dll., sehingga ga sempet interview/ ga sempet mereview hasil interview semua kandidat, belum lagi ada perubahan rencana bisnis/organisasi di company itu, belum lagi tetek-bengek urusan internal lain. Gw juga pernah ditelepon setelah 3 bulan interview, untuk offering. Ya mungkin juga tuh company ud desperate dan akhirnya ngambil gw hi3, anyway apapun itu, bersabarlah 🙂 The best is yet to coming!

At the end, yang mau disampaikan juga selain dari semua di atas tadi adalah sebuah interview sangatlah judgemental dan subjektif. Interviewer sehebat apapun tetap saja bisa dipengaruhi oleh yang namanya feeling, rasa, judgement, subjektivitas dll. Jadi sebagus apapun lo, tetap saja itu bukan jaminan kamu bisa diterima. Kadang hal kecil aja bisa jadi reason of why you’re not hired at the end. Kalo gw pribadi, interview dan soal diterima-ga-diterima itu ‘sudah ada jalannya’. Jadi biasanya gw berusaha untuk nggak terbeban sebisa mungkin, karena kalo’ gw ga diterima itu artinya memang I’m not belong here and my place isn’t here. Kalo’ gw diterima, itu artinya ya memang Tuhan sudah persiapkan jalan untuk gw bekerja di perusahaan baru ini. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin di interview itu, dan let God do the rest.

Selamat interview!

14300640-collections-of-portraits-of-different-people-with-furious-angry-shocked-expressions

Tipe-tipe user keren dalam proses recruitment yang bikin hidup jadi berwarna-warni kayak stabilo kehabisan tinta, dengan comment-comment ajaib ala mereka  :

* Paranormal / Ahli Nujum

“Ah ini kayaknya terlalu elite nih anaknya.. Liat foto di CV-nya.. Bisa-bisa ga mau kerja susah nih..” -> Ih ga gaul.. Gatau ya, bahwa anak orang kaya sekarang kadang bisa lebih tough dari orang dengan ekonomi biasa-biasa saja? Sadarkah kamu bahwa mereka lulusan luar yang digembleng di Nanyang berkat duit orang tua yang kebanyakan atau dimanapun itu di luar negeri kadang punya mental baja yang tahan gempuran dan tahan banting akibat tuntutan ‘alam’ untuk membuat mereka jadi seorang yang mandiri, melebihi mereka yang hanya ‘sanggup’ mengenyam pendidikan nyaman di dalam negeri dan kadang terbentuk mentalnya jadi mental tempe tepung? Don’t judge the book by its cover looh, kalo’ dari alur cerita baru boleh! Dan anyway, ooo baru tau bahwa orang mau tampil cantik dengan dandan pas difoto aja ternyata tabu. Kasian atuh produsen kosmetik!

“Kayaknya kurang ulet ni anak, dari mukanya keliatan..” -> Ih, kalau sebuah CV bisa merepresentasikan kepribadiaan seseorang dengan 120% akurat, pasti pilih pacar sekarang harus pake submit CV dulu.. Asoy! Semoga beneran kejadian di 2029 😀 Anyway busway, jadi yang ulet itu yang mukanya kayak gimana sih? Yang kecil panjang, melata dan menjalar-jalar di tanah itu ya?

* Otak Ajaib

“Hah? Emang sekarang saya ada jadwal? Masa sih? Kok kamu ga bilang-bilang?” -> Makanya jangan kebanyakan nerimain undangan nikah Pak, sampe undangan interview aja lupa, padahal udah accept..

“Hah? Emang orangnya jadi dateng? Lah saya udah turun makan siang loh, saya pikir kandidatnya ga dateng..” -> Emangnya saya ada inform bahwa orangnya ga dateng, dan emangnya tiap 5 menit saya harus update reguler bahwa orangnya belum dateng dan emangnya Bapak ga punya telepon untuk ngecek ke saya, apakah orangnya jadi dateng atau ga? Ih inisiatip atuh! Ngaku aja bahwa udah kelaperan, ya kan? Ya kan? Sama!

“Loh kok ngapain orang yang ini dipanggil? Saya ga mau ah, coba lihat histori kerjanya yang lompat-lompat terus!” -> Eh jadi yang kemarin nyuruh saya manggil kandidatnya itu arwah gentayangan ya? Hiiiiyyy..

* Arogan

“Orangnya telat? Udahlah kamu ketemuin aja, saya skip! Kandidat model gini ga usah diproses lebih lanjut! Ga menghargai orang! Cari yang lain aja!” -> Ya udah besok Bapak kalo telat ke kantor, ga usah diproses jadi karyawan lagi ya! Horeeee.. achievement nih, bisa ngurangin expense 1 karyawan yang rewel!

* Super Detail

“Ah ga mau ah saya CV nya! Saya kan maunya yang pengalaman 5 tahun! Itu baru 4,5 tahun!” -> Ya amplop, sembah sujud deh gw..

* Kambing Item

Minggu 1 :

“Pak, yang kemarin ga mau diproses kandidatnya? Kan bagus..” -> “Iya si, tapi nanti deh tunggu pembanding dulu..”

Minggu 2 :

“Pak, masih belum mau diproses juga? Kan dari minggu kemarin ga ada yang bagus..” -> “Iya sih.. tunggu minggu depan deh..”

Minggu 3 :

“Pak, sebenernya ada concern apa sih ke kandidat yang bagus itu?” – > “Nggak ada sih.. Terakhir deh, kita tunggu minggu ini ya, kandidat lainnya..”

Minggu 4 :

“Pak, udah ga ada yang bagus, saya proses aja ya!!” -> “Eh ya udah deh.. Go ahead..”

Offering Process -> Kandidat nolak karena ud sign di tempat lain (mantabzz and predictable)

User : “Hadeuh, HR lama sih actionnya, jadi kayak begini deh..” -> pengen mejret aja deh rata ama tanah

* Kagatau Manner Interpiu

Pas Interview :

User : “Hmmm, OK.. saya mau tanya nih.. Begini.. Kamu.. Kamu.. Kamu orangnya pendendam ga??”

Kandidat : “Hah??? Nggg.. nggak sih, nggak..” -> pasti shock ditanyain kayak gini

Gw (dalam hati) : Emang ada ya kandidat yang bakal bilang sambil ketawa genit, “Eh iya loh Bu, saya pendendam banget! Tau aja Ibu..”

Contoh Lain

User : “Jadi kamu report ke siapa?”

Kandidat : “Ke Direktur..”

User : * Otak-atik BB

User : “Iya, jadi ke siapa tadi reportnya?”

Kandidat : “Direktur, Bu..”

User : “Oh iya.. OK Fan, ada pertanyaan lain?”

Fanny : Bla bla bla bla..”

Kandidat : “Bli bli bli bli..”

Gw : “OK, noted..”

Gw : *noleh ke user

Gw : “Bu, ada pertanyaan lain sebelum kita mulai test kandidat ini?”

User : OK, jadi kamu report ke siapa ya?”

Kandidat : (dalam hati) OMG ini yang bakal jadi boss gw nanti…..

Bantuin dong, bisa menghilang ga ya kayak pelem Star Wars itu??

Contoh Lain

User : “Selamat pagi, kenalin nama saya Ms. Barakuda Bin Naga..”

Kandidat : “Pagi Bu..”

User : “Ooo, kamu nih ya orangnya, yang kata si Fanny susah bener diteleponinnya, sampe di-SMS, di-email, diapa-apain semua ga bisa?”

Gw : OMG, pengen gw slepet nih user. Bisa ga sih mulut orang dicongkel pake konde?

Kandidat : *Tersipu merah, malu

Gw : *Tersipu merah, makan ati

Selesai

Demikian ceritanya.. Asyik dan seru kan dunia gw? Antara pengen nyusruk aja ke jurang (tapi yang keren ya misal di Grand Canyon gitu) tapi juga pengen ketawa pasrah, geli liatin macem-macem tipe orang. Halahhh kayak sendirinya waras aja haha..

** Selingan Adem : Semua cerita di atas terinspirasi dari kisah nyata dan tidak semuanya terjadi di tempat bekerja sekarang, melainkan merupakan akumulasi dari sepanjang riwayat bekerja sejak lulus kuliah

RECRUI~1

Recruitment.. Itu salah satu kerjaan saya sekarang.

Buat yang gak tau, belum tau ataupun mau tau, recruitment itu kerjaannya nyariin orang buat kerja di company kita. Itu aja sih simplenya. Kalo’ orang resign, recruitment yang kudu cariin gantinya. Kalo’ ada posisi baru, recruitment juga yang turun tangan u/ hunting. Sourcenya bisa macem-macem, mulai dari online recruitment seperti Jobstreet dan JobsDB dimana kita share posisi yang vacant saat ini (iklanin) sehingga orang-orang bisa apply, ataupun kitanya yang aktif nyari lewat LinkedIn ataupun lewat database statis yang ada di online recruitment tadi. Bisa juga kita memanfaatkan referral dari karyawan yang merekomendasikan teman/keluarganya, atau bisa juga kita publish iklan di milis-milis, di koran, majalah, buletin de-el-el, dan bisa juga hunting lewat event-event/komunitas-komunitas, dimulai dari tukeran kartu nama, ngobrol-ngobrol, nawarin kerjaan dan selanjutnya.

Pokoknya sebagai recruitment, semua source yang memungkinkan akan dijalanin buat ngedapetin the right man on the right place on the right time on the right price (catat hal yang terakhir ini).

Suka dukanya recruitment is as below. Eh tapi ini sebenernya lebih banyak dukanya sih alias sesi curhat colongan sedikit di tengah hari saat perut menggelitik minta disuap. Gpp ya dengerin saya curhat sedikit tentang pekerjaan saya 🙂 Semoga kalian tahan bacanya.

1. Waktu pertama masuk dengan posisi Recruiter, saya sebenernya udah tau ‘challenge’ terbesar dari role ini, yang tak lain adalah ‘this is a single task job’. Maksudnya, hanya ada satu ukuran yang akan dikenakan untuk keberhasilan dari posisi ini, yakni ada/tidaknya kandidat. Begitu kamu ga bisa provide candidate, mampuslah kamu. Intinya begitu. Sebagai recruiter, yang dinilai adalah hasil, bukan proses. Kemudian background saya yang memang generalist yang ngurusin ini itu di HR bakalan harus switch the fullest dengan role baru ini. Kalo dulu, misalnya saya lemah di training, performance saya masih bisa dicover dengan role payroll (misalnya saya bagus di payroll). Kalo’ di recruitment, ukuran keberhasilan saya bener-bener cuma satu, yakni availability of the candidate. Cuma ada kata berhasil/tidak. Jadi bener-bener keputusan yang cukup tough juga sih waktu akhirnya decided to take this opportunity.

2. Seperti yang saya bilang di atas, yang dinilai adalah hasil bukan proses. Jadi biarpun kita udah usaha nyari dan approach sampe 100 kandidat, kalo’ at the end ga ada yang nyantol atau berhasil lolos proses recruitmentnya, tetep aja kita dianggap gagal. Seagresif apapun kita mencari orang, kalo at the end kita ga bisa bikin seseorang join ke company, ya saya dianggap ga berhasil. Susah kan? Semua user taunya ‘ada kandidat’, padahal mereka ga tau bahwa dalam prosesnya, semua ga segampang di teori. Dalam proses approach kandidat, ada banyak yang namanya penolakan. Approach 10 kandidat, bisa 10-10nya nolak dengan berbagai alasan, mulai dari masih betah di company yang sekarang, masih ada project, ga tertarik dengan post yang ditawarkan, lokasi kerja yang dianggap kejauhan dan masih banyak lagi. Dan tetep, sebagai recruiter kita ga bisa bilang ke user, “eh gw kan udah usaha approach 10 orang!!! Bukan salah gw kalo mereka nolak semua!” karena seperti yang tadi gw bilang, walaupun our point is valid, tetep yang dinilai adalah result bukan proses. User ga akan peduli seberapa keras usaha lo, yang penting lo bisa kasih penuhin kebutuhan kandidat mereka at the end, itu aja. Mirip-mirip casenya dengan kandidat yang ga lolos test, tetep recruiter akan diblame karena ga bisa ngasih kandidat yang smart enough to pass the test. Padahal sebenernya kan lolos/ga nya kandidat itu di luar otoritas dan kontrol dari seorang recruiter, tapi again itu tetep dianggap tanggung jawab kita. Setelah interview, kalo kandidatnya jelek, kita disalahin dengan reason ga bisa nyeleksi kandidat dengan baik (padahal yang mau manggil kan situ juga kan berdasarkan CVnya). Sebaliknya kalo kandidatnya bagus atau lolos test, user akan berbangga-bangga karena menganggap dirinya berhasil milih kandidat yang tepat dan pandai, dengan langsung melupakan bahwa kandidat itu kan sumbernya dari HR juga 😀 Suatu kontradiksi yang nyata dan beneran terjadi.

3. User kadang suka ajaib karakter-karakternya dan itu jadi pinter-pinternya kita untuk ngenalin and deal with them. Ada user yang kalo’ interview dua kandidat maunya jadwalnya berurutan langsung supaya cepet beres. Ada juga yang ga mau, maunya satu di pagi dan satu lagi di sore. Jadi dari awal kita harus inget2 preferencenya mereka. Ada user yang super perfeksionis yang maunya dapat CV superbagus. Buntut-buntutnya karena setahun ga dapet-dapet, akhirnya terpaksa pilih satu kandidat yang notabene semua kualifikasinya beda total dari yang diinginkan, tapi at the end bisa perform super bagus. Baru deh dia diem. Ada juga yang demennya liat foto. Kalo ga sreg liat muka kandidatnya, CV langsung direject. Semua user bisa jadi pinter mendadak dan bisa membaca ‘wajah’ orang, “wah ni orang kayaknya keras nih.. pasti nanti susah bergaul dengan banyak orang..” OMG, paranormal dari mana sih, sampe bisa bikin analisa tidak scientific seperti itu? Kita sebagai recruiter juga kan ga bisa memaksakan user untuk mau ketemu sama kandidat itu. Jadi terpaksa ‘manut’ aja walaupun sesekali pasti kita berusaha fight juga argumen mereka yang tak berdasar itu. Ada juga user yang demen ubah-ubah jadwal, sehari bisa ubah jadwal sampe 2–3x. Kitanya sih gpp walaupun sebel dikit, tapi yang ‘ga enak’ nya kan ke kandidatnya. Kesannya perusahaan kita ga profesional banget. Belum lagi user yang pas interview ngaret sampe 1 jam lebih dan bikin kandidatnya harus nunggu. Itu masih mending ya, ada yang lupa kalo dia punya jadwal interview dan dengan enaknya bilang “eh suruh pulang aja deh, besok suruh dateng lagi..” Ya ampun enteng banget ya.. Ada juga user yang agak sombong, begitu kandidat ga bisa datang dan ijin reschedule atau si kandidat telat, si user langsung nolak mentah-mentah dan ga mau ketemu lagi sama kandidat itu. Duh.. Pokoknya unik-unik deh karakter user. Di atas sih cuma sebagian dari user yang ajaib. Sisanya, user-usernya banyak juga kok yang manis-manis dan kooperatif.

4. Mirip dengan user, kandidat juga macem-macem tipenya. Saya pernah ketemu satu kandidat yang selalu apply semua posisi yang vacant di  perusahaan saya, apapun posisi itu, sampe saya hafal nama dan fotonya. Kasian juga sih, mungkin orang ini desperate banget ya, sampe dia merasa harus coba untuk apply semua posisi yang kosong, Ada juga kandidat yang kreatif banget bikin CVnya, dimodelin kayak halaman browsing Google. Itu baru dari sisi CV. Pas interview, orangnya bisa lebih bervariasi lagi. Ada yang (sorry) cukup bau badan dan nyiksa banget buat kami para recruiter. Sebaliknya ada yang baunya semerbak banget bak bunga di padang. Ada yang bawelllll banget nyerocos tanpa henti sampe saya serasa pingin lempar piring cantik. Maklum salah satu kelemahan saya adalah saya bukan pendengar yang baik dan saya orangnya ga sabaran :p *kok jadi recruiter ya kalo begitu?? Ada juga kandidat yang arogannya bukan main. Pokoknya macem-macem deh dan seru banget ketemu berbagai tipe orang yang berbeda kayak gitu.

5. Karena saya kerja di dunia IT dan dunia IT memang kecil alias scopenya ya segitu-gitu aja (dalam hal talent sourcing), akhirnya sesama orang IT biasanya saling kenal walaupun beda perusahaan, dan namanya orang saling kenal plus punya mulut, mereka biasanya saling sharing apapun yang terjadi, termasuk (misal) offer yang mereka terima dari sebuah company, karakter seorang manager, dll. Jadi bisa loh pas saya approach kandidat, orangnya akan langsung nanya, “calon atasan saya nanti si xxx ya?” dan kalo saya iyain, dia bisa langsung nolak opportunity itu karena sudah dengar kabar di luaran tentang karakter si calon atasan itu. Or bisa tau-tau saya denger dari headhunter, rumor bahwa company saya offernya rendah-rendah, gara-gara ada kandidat yang nolak offer kita dan dia sebarin dari mulut ke mulut tentang besarnya offer yang kami kasih ke dia. OMG mengerikan. Ada juga kandidat yang saya approach lewat message LinkedIn, dan dia bisa-bisanya langsung capture tuh message dan dia disclose di Facebooknya dengan status, “terima ga yaaa?” dan langsung lumayan bikin heboh satu komunitas IT. Ga profesional banget.

6. Kadang saya bingung kalo user ada yang nanya dengan nada ngedesak, “masak CV yang masuk ratusan, kamu ga bisa provide satupun kandidat?” Pengen rasanya saya bawa dia ke notebook saya, terus saya kasihliat semua CV yang masuk itu, supaya mata dia bisa melebar dan liat realitanya. Asal tau aja ya, ga semua CV yang masuk itu sesuai dengan kualifikasi yang kita mau. Yang paling gampang, kita mau cari kandidat cewek, dan sudah jelas-jelas di-state di iklannya bahwa kita hanya nyari kandidat cewek, eh bisa-bisanya begitu banyak kandidat cowok yang ngelamar. Contoh lain, posisi untuk Arsitek, yang ngelamar bisa mulai dari Satpam, Office Boy sampe Teknisi. Saya bisa ngertiin sih kalo user memang ga tau realita di lapangan ‘recruitment’ sehingga kadang bisa nge-judge gitu. Cuma curious aja gimana cara bikin mereka nyadar bahwa milih CV itu ga segampang lo milih menu makanan di restoran (ini sih saya juga demen hihihi). Plus kebayang ga sih kalo posisi yang kosong aja 30-40 biji dan cuma dihandle sendirian, dan user dari 40 posisi berbeda itu teriak tiap hari, minta CV? Perasaan tangan saya cuma dua dan mulut saya cuma satu. Semua user rebutin mau diperhatiin, duhh 😀 Pernah juga sehari saya kirim 12 CV ke satu user, dan dia CUMA pilih 2 CV, terus besoknya dia tanya lagi ke saya, “Eh ga ada lagi CVnya??” Haa? Itu kemarin 12 biji aja nyarinya sampe 2 hari full, ini langsung minta lagi.. Emang CV tumbuh dari jigong saya ya? Belum pernah saya sengkat sampe terkapar ya?

7. User kadang sangat percaya dengan yang namanya referral alias rekomendasi dari orang-orang yang dikenal. Pernah kita mau cari Admin, dan user ini dapat CV dari sahabatnya, dimana background kandidat itu adalah Sales (pure). Secara hitam di atas putih aja kualifikasinya udah ga masuk, tapi karena ini sourcenya dari ‘sahabat’, maka tetep dipanggillah orang ini berdasarkan asas kepercayaan. Duh! Coba CV yang sama saya yang ngirim, pasti saya dihajar sampe budukan plus diteriakkin “Kalo milih CV yang bener dong!! Jelas-jelas posisinya Sales, kok disuruh jadi Admin!” Nah.. Itulah, faktor subjektivitas sangat kental di proses seleksi CV. Sabar-sabar aja deh 🙂

8. Kalo saya pribadi, jujur saya ga betah cuma duduk diem nunggu CV dateng. Saya kan lumayan kompetitif dan ga mau kalah, jadi pasti saya biasanya juga berlomba dengan para headhunter untuk hunting kandidat. Saya juga gengsi dong cuma ngarepin CV dari headhunter. Itu sih bukan recruitment namanya. Itu sih hire aja orang admin satu orang, tinggal oncang2 kaki nunggu CV dateng. Buat saya yang namanya Recruiter ya Headhunter alias kita harus agresif hunting orang. Kadang rejection2 dari kandidat yang kita terima sekarang someday bisa berbuah loh. Apa yang kita tuai, kita tabur. Tau-tau pas lagi desperate cari kandidat, eh bisa ada kandidat in the past yang pernah kita tawarin kerjaan, hubungin saya untuk nanya ada posisi lowong apa di perusahaan saya. Yang kayak gini baru berasa bahwa miracle is real 🙂

Yah kira-kira itulah serba-serbi pekerjaan saya, daily tasks yang harus saya hadapi setiap harinya. Semuanya biasanya ‘terbayar’ saat saya berhasil nemuin kandidat yang bagus 🙂 puasnya itu luar biasa deh. Anybody interested to work as a Recruiter?

futurecom-helps-create-great-leaders

Definisi a good leader is different one each other

Buat gw pribadi, a good leader adalah mereka seperti di bawah ini

1. First time I worked, gw ketemu seorang boss yang sangat menyebalkan dengan arogansinya dan dinginnya, yang akhirnya bikin sanguinitas gw semenjak kuliah hilang total, dan gw pure jadi seorang melankolis. Anyway, semenyebalkan apapun dia, ternyata dia kebalikan dari gw alias “Antagonist Outside, Protagonist Inside”. Sadis-sadis gitu ternyata dia memperhatikan dan noticed semua strength dan weakness anak buahnya dan langsung ‘hajar’ kami dengan memberikan project-project yang challenging. Guess what, my project is : Fanny harus berteman akrab dengan 2 – 3 orang di kantor  dalam waktu 1 bulan. Jreng-jreng!! Jujur saat itu gw beneran pengen murka dan ngamuk, dengan berbagai alasan. Pertama, dia berhasil menyentuh sisi kelemahan gw yang terdalam saat itu, yakni anti sosial dan lebih seneng mikir dan bergaul sendiri. Dua, sumpah itu project yang susah banget. Tiga, gw ngerasa “ngapain sih lo ikut campur urusan pribadi gw dan mencoba merubah karakteristik asli gw? Who the hell you are?” Keempat, gw ngerasa ini project konyol yang ga guna dan sebenernya tanpa harus akrab2 dengan orang lain, I can still manage my work very well. Kelima, Boss gw sendiri sama anti sosialnya dengan gw.. Kenapa ga dia benahin dulu diri dia sendiri sebelum dia assign this to me??

So intinya there’s a huge rejection from me, tapi karena status sebagai anak buah, kuli, bawahan, staff, de-el-el yang nempel di jidat, terpaksa gw ngangguk-ngangguk kaku biarpun ni hati dongkol banget. Akhirnya dijalanilah satu bulan bak neraka itu. Tiap siang gw harus manis-manis nyapa temen-temen sekantor, nyamperin mereka sambil bawa bekal, ngebuang gengsi dan harga diri, ngebaek-baekkin mereka, basa-basi sana sini campur ketawa-ketawa baik hati ga jelas bin terpaksa, dan masih banyak lagi. Hanya demi project superkonyol mahakarya Boss gundul ini!

Gw yang lebih suka baca buku pas jam istirahat, sekarang harus ngikut ngebuntutin temen-temen yang mau belanja jepitan, belanja gadget, dll di ITC Mangga Dua, ikut-ikutan comment, “iiih lucu bangetttt..” dengan nada histeris, ikut-ikutan muji-muji baju yang temen gw coba (padahal menurut gw swear dia ga pantes pake baju itu) dan masih banyak lagi kegilaan dan sengsara yang harus gw pikul selama satu bulan. It’s jut not ME banget. Kalo’ Boss gw lagi ga ngamatin, gw langsung jadi diri gw sendiri lagi. Kalo’ ada dia, gw langsung pasang aksi pura-pura jadi nice guy yang super ramah. Pokoknya petak umpet semacam itu gw lakuin selama satu bulan, dan hasilnya… TADAAAA, gw dinilai failed. Again, rasanya pingin ngamuk dan kebayang gw gebrak meja Boss gw dan sapu bersih barang yang ada di meja dia, plus pegang kerah baju dia dan angkat dia tinggi-tinggi, lalu lempar dia entah ke mana, intinya asal dia lenyap. Tega-teganya setelah sekian minggu gw mati-matian menjadi someone else, sekarang dia dengan gampangnya menJUDGE gw failed? Apapun justifikasi dan pembelaan diri gw, gw ga berkutik dan gw kalah, dan project itu pun berjalan lagi. Demi kelulusan program Management Associate ini, did I have any choice that time other than complying this jerk?

Anyway gw lagi males cerita panjang-panjang, pokoknya akhirnya gw dinyatakan berhasil, dan entah kenapa di akhir-akhir gw mulai bisa enjoy untuk ngumpul sama temen-temen, walaupun gw lebih suka diam dan jadi pemerhati rather than become seorang pencerah, pemeriah dan peramai suasana. Gw berhasil nemuin intisari untuk tetap bergaul dan punya ‘kawanan’ tapi tetap bisa menjadi diri sendiri, dan gw ga bisa jabarin proses bagaimana gw menemukan hal itu. Intinya gw sekarang menang dan tenang.

At the end yang ada cuma rasa syukur, kalo inget-inget lagi peristiwa itu. Serasa jadi Helen Keller yang ketemu Annie Sullivan. Pingin berontak, pingin marah, tapi sebenernya itu semua buat kebaikan kita. All that I can say is thank you Boss!! That’s a good leader kan? Tau apa potensi dan limitation anak buahnya and do something for that? 🙂

motivating-employees

2. Pas meeting beberapa waktu lalu dan ada boss Sales baru yang orangnya terlihat kalem. Eh pas meeting gitu, bisa-bisanya dia nyelipin sesi coaching & counseling dadakan buat anak buahnya.. Kereeen.. Pas kita lagi bahas-bahas scorecard untuk commercial team dan ada beberapa keraguan dan reluctance dari anak buahnya, dengan semangat dia ngasih motivasi dengan share experience dia saat dia ngerasain dapet incentive yang gede banget, saat dia ngerasain puasnya dan berharganya apa yang sudah dia buat dan hasilnya yang setimpal. “Ayo, kita semua jadi orang gila!! Ayo kita semua gila-gilaaan jualan! Jangan cuma melempem di dalam kantor! Ayo gerak, ayo keluar, ayo hunting! Jangan cuma makan enak di dalam mall bagus.. Ayo keluar cobain makan di Kebon Kacang! Ayo cobain nongkrong di pinggiran! Ga semua partner doyan makan di tempat bagus! Rangkul mereka! Ayo berubah, jangan hanya mau enak.. Bergerak! Semua harus berubah kalo mau capai target!! Ayo berubah bersama!!” dan masih banyak lagi “ayo-ayo” yang lain. Semua cuma melongo, kalo gw sih melongo kagum. Ih udah lama ga ketemu orang yang semangat kayak gini, someone with clear vision dan punya kerinduan untuk mencapainya bersama tim-nya. Isn’t that awesome? I could feel the energy, the passion, the drive.. Kereeeen!!

3. My own boss.. Today ada training Excel (in-house) untuk beberapa staff Admin di kantor, and my boss and colleague joined that session. Gw sendiri jaga kandang di kantor. Pagi-pagi gw tanya progress persiapan trainingnya ke temen gw sesama HR dan kelihatannya banyak hal yang ga beres, mulai dari snack breakfast yang belum siap, orang hotel yang susah dicari, colokan yang ga tersedia padahal jelas-jelas ini training Excel yang perlu notebook dengan daya powerful sepanjang hari, wifi yang ternyata ga free dan masih banyak lagi. Emang susah kalo’ kita ga handle sendiri dan nyerahin urusan venue training ke provider trainingnya sendiri. Lesson to learn today. Anyway setelah itu gw BBM my boss dan gw bilang, “Duh Bu kayake banyak yang ga beres ya.. bla bla bla..” ditambah emoticon-emoticon marah, sedih, kecewa dll. Eh ternyata balasan BBM nya enteng aja, “Haha, tenang, tenang, sudah beres semua kok..” Padahal setau gw semua belum beres. Tapi leader yang baik gitu kali ya. Ga ada yang namanya menuduh, menyalahkan de-el-el, tapi yang ada menenangkan dengan kalimat sakti yang ajaib itu, “Everything will be OK..” Duh sontak saat itu hati lebih lega rasanya dan secercah kagum muncul di hati karena ketenangan dan kesantaian my boss.. Itu buat gw adalah suatu bentuk support implisit yang sangat berharga plus suatu pelajaran untuk ditiru dan dikenang, isn’t it? 🙂

That’s, for me, is a good leader.. Sharpen my dream to learn and become one, one day 🙂

Arogan?

Posted on: June 19, 2013

Arogan?

Familiar dengan kata itu? Saya sih familiar banget, dan antara benci cinta sama kata ini. Kalo’ arogannya kayak Tony Stark sih saya cinta-cinta aja. Kalo arogannya kayak beberapa kolega di kantor? Bawaannya pengen pelintir-pelintir bulu alis sendiri saking gregetannya.. Buat saya yang namanya arogan biasanya diawali dengan posisi yang naik makin tinggi. Orang jadi ngerasa harus bertindak beda untuk menunjukkan statusnya, mulai dari cara ngomong, pilihan temen-temen main sampe’ ganti gadget dan pernak-pernik lain.

Saya lagi agak bete dan bawaannya pingin nyindir orang, jadi tolong ijinkan saya nulis sebentar untuk pelampiasan ya..

Yang biasa naik Blue Bird sekarang ngotot mati-matian maunya Silver Bird, biarpun kudu nunggu sampe jenggotan
Abis interview orang, file kandidat dilempar seenaknya ke meja HRD ditambah embel-embel gerutuan karena kandidatnya ga bagus (padahal yang mau manggil siapa?)
Nanya alesan resign, disambut dengan kata-kata “ini management issue, you don’t need to know..”
Ditegur karena ga perhatiin meeting dan sibuk main BB, hati ga terima dan mati-matian defense yang konyolnya malah menunjukkan semakin kental karakter aslinya.
Diresponse tanpa ditatap matanya, ‘ngambek’ dan merasa ga dihargai..
Yang biasa makan di kantin, sekarang mainannya minimal Food Court. Temen-temen gaul lama pun ditinggalkan, sekarang ganti dengan manager-manager.

Banyak lagi deh..

Makanya kadang ajaib kalo nemu orang dengan posisi tinggi tapi bisa tetep bersikap nice dan humble. Orang seperti itu kayak jarum dalam tumpukan jerami dalam kegelapan malam. Ada, tapi luar biasa minim dan eksklusifnya. Semoga saya masih diberkati untuk bertemu orang-orang semacam itu.

Tags:

banner_head-hunters-executive-recruitment

A good headhunter will :

1. Maintain a very good relationship with its client, both the candidate and the company. To the candidate, they will act as a friend. They give feedback to the candidate regarding the interview result, being honest about the result and give some advice for the future goods of the candidate. Even if the candidate has been succeeded employed, they still make a good friendship, asking the progress and the update during the probation period, and so many.

2. Have a good uncommon network. If you just source the candidate from Linked-In, why do we recruitment in the company has to hire a headhunter to help us? Instead we can do it by myself. The only reason why we hire a headhunter is because we expect them to have other source, that we recruitment cannot connect to! So give us a valuable network.

3. Possess integrity. They will not keeping sending unsuitable resume to client just because they have a target to send the report or to fulfill the quota of the number of CV sent. If the CV is not good or not suitable, they will stop sending it to client. It’s not about quantity but the quality, they’re prioritizing. And it’s a good thing a headhunter can give to us.


Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,714 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

There was an error retrieving images from Instagram. An attempt will be remade in a few minutes.

Blog Stats

  • 465,872 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

November 2017
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain's Personal Blog

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: