Fanny Wiriaatmadja

img_20161004_2042301

I’m an active Instagram user – and a dedicated follower to emak-emak dengan bayi super lucu, yang aktif posting foto anaknya dengan berbagai quote bijak yang intinya bilang bahwa sejak punya baby, their world has changed, bahwa being mom is the best thing in the world, bahwa this is the best feeling ever, and something similar.

I have no idea, tapi gw ngerasa kurang nyaman setiap kali baca those quotes. Bukannya apa-apa lho, ini beneran gw-nya yang problem. Penyebabnya simple aja : because it sometimes demotivates me as I’m not feeling exactly the same. Ini mirip kayak baca kisah sukses ibu-ibu soal ASI dan everytime you read it, you feel like a loser – bwahahaha pahit.

(out of topic) Sedikit mirip pula tidak nyamannya ketika membaca caption “I’m beyond bleseed”, “God is good” atau sejenisnya di foto orang jalan-jalan keluar negeri atau makan di restoran mahal. Maaf sama sekali tidak bermaksud nge-judge; tapi apa boleh buat memang itu yang gw rasa and I’m not gonna deny it. Itu hak setiap orang juga anyway to put whatever caption they want. Itu kan mencerminkan apa yang mereka rasakan juga, dan sama seperti gw berhak menyatakan apa yang gw rasa di blog, tentu saja orang lain pun berhak menyatakannya dalam bentuk caption. So truly ga ada judge-men-judge di sini. Let’s be santai. (out of topic)

Balik ke soal emak-emak, I know parenting is something great; something beyond your imagination. Beneran. But sometimes… it.. just..

Okeh, gini deh : Ketika suatu sore di busway yang penuh sesak sementara gw duduk nyaman untuk 1 jam 45 menit ke depan, I couldn’t hold myself to ask, “if I got a chance, would I choose my world with or without Aimee?” and I wasn’t surprised that I found myself not being able to answer it instantly, firmly, undoubtedly that I would definitely choose my world with Aimee.

It’s fine kalau kalian berjengit, mengernyitkan kening atau mengangkat alis mendengarnya. I know that my response is not impressive and not as expected, but it’s true. I can’t even decide. I can’t said anything like those positive caption I often read in social media, those emak-emak I always wish to be. I’m not proud to say this, but I try to be honest with myself.

Why can’t I decide? I mean, I’m truly thankful for Aimee in my life. It’s a wonderful surpise from dearly God for me and Buffy, and I sometimes feel that I don’t deserve it. He’s too good to bless me with such a wonderful baby. But why then?

It’s not just a simple condition antara ada anak vs ga ada anak. It’s not just a dilemma of “kalo ga’ ada anak lebih enak, bisa jalan-jalan” VS “kalo’ ada anak lebih enak, hidup terasa lebih bahagia dan complete”. Bukan sekedar perbandingan “Kalo’ ada anak repot” vs “kalo ga ada anak kesepian”. No, it’s more complicated, at least from what I feel, that I can’t choose what kind of world I prefer to stay in.

With Aimee in my life, I feel everything’s different (ya iya lah ya..). This is something new that I almost never experienced before, bahkan kalo’ boleh bilang, ini TERLALU baru. Gw ngerasa seperti lagi jadi kelinci percobaan, lagi struggle dan lagi di ambang titik gagal.

I’ve never been so in love sama seseorang (or sesuatu) sampai you want to spend every single second with her, BADLY, apalagi if you’re a working mum. I’ve never so worried of someone seperti yang gw rasain saat berpuluh-puluh malam menyaksikan Aimee sesak napas dalam tidurnya, dan berganti posisi dengan gelisah untuk menemukan the best one untuk bisa bernapas dengan baik (will share of this in other post kalo’ sempet). I’ve never had tears this much (kecuali pas Papa meninggal) watching her so suffering, in her ‘not-beauty-at-all’ sleep. I’ve never been so lack-of-sleep before, as I insist myself to keep opening my eyes the whole night to monitor her, until I’m sure she can breathe normally again, at least for some period of her sleep.

Hal-hal di atas belum termasuk perubahan ketika sekarang lo merasa mandi, makan, dll. adalah sebuah interupsi-super-mengganggu dan bersifat sedikit jahat, yang berusaha merebuat waktu lo dengan anak lo dan kadang membuat lo berpikir dalam khayal, bisakah mandi sambil bisa tetap main sama anak. Rasa yang membuat lo ga nyaman ketika lo date with your husband nonton film favorite lo, tapi tetap ngerasa rugi karena hilang waktu sama Aimee beberapa jam dan ga bisa nemenin dia tidur. Rasa yang membuat lo rela dan tetep hepi untuk gendong dia sepanjang hari biarpun pundak dan tulang punggung lo serasa mau retak dan nyaris lepas karena lo menikmati setiap sentuhan and being so close with her. Rasa yang membuat lo tidak puas karena ciuman, pelukan, sentuhan rasanya tidak cukup menggambarkan betapa sayangnya lo sama anak itu. Rasa rindu dan kangen yang membuat lo memakai sepatu jelek warna merah yang sama sekali tidak matching sama outfit kantoran lo, karena sepatu tersebut begitu nyaman dipakai dan bisa melesatkan lebih kilat langkah-langkah lo saat pulang kerja sehingga lo bisa lebih cepat nyampe’ di rumah and seeing your baby segera, entah rasa itu hanya sugesti atau tidak. Rasa yang membuat lo ga peduli udah bayar suster mahal-mahal dan tetep ga keberatan untuk gantiin sendiri pampers anak lo, nyusuin dia, nidurin dia dll. sometimes, karena lo enjoy dengan semua aktivitas itu dan menganggap itu adalah part of your quality time with your baby.

Belum lagi, rasa antagonis yang muncul, yang bisa membuat lo bisa bersikap antipati (dan kadang sangat benci) pada orang yang mencoba mengganggu terus-menerus intimacy lo sama anak lo. Rasa yang berkobar yang membuat lo mampu mengeluarkan statement bahwa lo akan melakukan apa saja buat anak lo termasuk jadi public enemy. Yeah, I’m more than ready for that. Juga, rasa yang membuat lo melewatkan entah berapa kali waktu makan siang bersama kolega-kolega dan menjadi agak anti-sosial because you’re busy browsing anything about your baby or having a video-call with her. Rasa yang membuat lo kadang bisa membenci suami lo at some point karena merasa bahwa tingkat-concern-nya ga setinggi lo terhadap sang anak. Rasa yang membuat lo sanggup untuk mengabaikan atau menolak dengar semua komentar miring orang saat lo membawa anak lo ke berbagai dokter karena (you know) pergi ke 4 dokter di Indonesia means 4 different opinions yang belum tentu semuanya benar.. Semua rasa antagonis itu kini bisa hinggap di lo dan lo ga pernah tahu bahwa lo bisa begitu mudah sebal, bahkan benci pada orang lain saat menyangkut anak lo.

In summary, I’m someone else. I’m someone new and I’m not really happy with the transformation. Someone that I don’t even recognize. I’ve never been so fragile, cruel, and weak like this, and I’ve never had so much ‘antagonist’ feeling within my heart to see anything or anyone that can possibly be a threat for my daughter. Terlalu tiba-tiba, tsunami rasa dan banjir hal baru yang mendera indera datang dalam sekejap berbarengan dengan kemunculan Aimee. Rasanya kadang gw ga siap menghadapi semua hal baru ini. Gw kewalahan. Gw kaget. Bingung. Gamang. Gw yang biasanya well-prepared, sekarang menyerah.

Balik ke pertanyaan tadi, apakah gw akan memilih hidup gw sebelum Aimee, atau sesudah Aimee lahir? Again I can’t just answer it easily. Karena kadang hidup gw setelah this cute lil’ monster ‘invade’ it terlalu menakjubkan untuk di-describe dengan kata-kata. Lo akan berubah menjadi seseorang yang lo sendiri ga kenal and it’s scary somehow. Kadang gw hanya mau gw yang biasa, yang ordinary, yang ‘baik-baik’ aja hidupnya, bukan someone yang sangat rapuh, jahat, kuatiran, paranoid, berlebihan, drama queen, dan menyebalkan seperti ini. Intinya gw ga pernah deh “se-orang-gila-ini”🙂

So please give me some more time before I can stand and said confidently, that I choose my life yang sekarang, sebagai ibu yang punya kekuatan untuk mencintai anaknya sedemikian besar. Biarkan gw perlahan mencapai titik itu tanpa dipaksa dan didorong, supaya at the end yang keluar adalah ketulusan pada saat menyatakan bahwa having Aimee is the best thing in my life.

Sekian renungan mellow Jum’at ini.

HARI 6

Nikmati Canal Cruises dengan menelusuri kanal-kanal didalam kota menggunakan perahu kaca.Dilanjutkan dengan city tour melewati objek wisata terkenal seperti Windmolen, Dam Square, Royal Palace yang dulu merupakan tempat tinggal Ratu Beatrix dan Rijksmuseum yang memiliki koleksi terbesar di Netherlands. Setelahnya Anda akan mengunjungi Volendam, sebuah desa Nelayan. Anda mempunyai kesempatan untuk berbelanja aneka cinderamata dan berfoto dengan memakai pakaian tradisional khas nelayan Belanda (Optional). Anda akan diajak menuju Zaanse Schans, desa tradisional yang banyak kincir angin.

Sambungan postingan di sini dan tenang, ini postingan terakhir bwahaha..

Bangun, mandi, dan breakfast. Tempat breakfastnya di lantai 17 dengan kaca di kiri kanan sehingga kami bisa menikmati pemandangan kota Amsterdam.

20160915_072759

Hari ini kami bakalan explore Belanda hampir satu harian full sebelum balik ke airport Schipol untuk kembali ke Jakarta.

Rute pertama adalah ke Desa Zaanse Schans, desa kincir angin, sekitar 1 jam perjalanan dari kota Amsterdam. Desanya lumayan cantik sih, asri dan hijau, hawanya juga segar dan masih terasa atmosfer tradisionalnya. Sesuai namanya, banyak kincir angin yang memang masih digunakan di sini.

20160915_090123

20160915_09573420160915_09295220160915_085812img_20160916_003553

Acara pertama di sini adalah ngeliat cara pembuatan sepatu clog, sepatu khas Belanda, yang bentuknya cantik tapi lumayan buat nyambit jambret. Kami masuk ke sebuah rumah, terus duduk di deretan bangku yang disediakan, dengan deretan mesin-mesin untuk membuat sepatu tersebut. Keren juga sih cara bikinnya, diperagakan oleh seorang bule.

img_20160919_215840

img_20160916_005646

20160915_091236

20160915_090448

Setelah itu kami keliling-keliling (masih di dalam rumah itu) liat souvenir yang lucu-lucu banget. Ada kelinci yang muncul berulang-ulang dalam bentuk berbagai souvenir. Lupa nama kelincinya, tapi sepertinya dia lumayan tenar di sini karena di airport pun gw sering liat si kelinci ini. Keliling demi keliling, gw hebat loh, masih bisa menahan diri belanja, hanya membeli magnet saja.

img_20160916_235928

Next activity adalah berpindah ke rumah lain, untuk melihat pembuatan keju. Ini juga lumayan menarik, diperagakan oleh seorang ibu-ibu yang keibuan banget dengan baju tradisional Belanda. Setelahnya, sama seperti di rumah sepatu clog tadi, kami keliling-keliling rumah tersebut untuk beli keju. Cici gw yang ke Belanda tahun sebelumnya udah titip keju terkenal asal Belanda tersebut, yang rasanya memang enak sih, even untuk someone yang ga terlalu ‘into’ cheese seperti gw.

img_20160919_215637

Selain itu, cici gw pernah bilang ada juga rumah tempat pembuatan minyak, tapi mungkin karena keterbatasan waktu, kami ga ke sana. Bagus deh, siapa juga yang tertarik liat cara buat minyak?

Setelah puas beli souvenir dan keju, kami keliling area desa Zaanse Schans. Ada danau gede yang cantik, rumah-rumah tradisional, kincir angin everywhere, dan masih banyak lagi. Areanya lumayan gede, hampir nyasar untuk balik ke bus. Lumayan menyenangkan sih di desa ini.

20160915_100022

20160915_100202

img_20160916_005853

img_20160916_003001

img_20160916_002814

Nextnya, perjalanan dilanjutkan ke Desa Volendam alias desa Nelayan, sekitar 45 menit dari Zaanse Schans. Di sini angin lebih kenceng, hawa lebih dingin, karena sesuai namanya, desa ini letaknya di pinggir pantai. Begitu sampe’ pun dan kita harus menyusuri jalan menuju desanya, di sebelah kiri sudah ada hamparan pantai yang… cantik. Enggak deng, biasa aja sih.

20160915_105241img_20160917_195518

20160915_105150

Nyampe desanya kami dibawa ke satu toko souvenir gede, tepatnya ke satu ruangan kecil yang temaram, untuk nonton film tentang histori negeri Belanda. Menarik sih, jadi tau bahwa dulu karena Belanda letaknya beberapa meter di bawah permukaan laut, maka kenalah mereka banjir hebat di tahun 1950-an sampe’ bisa dikatakan mereka itu tenggelam. Dari situ negeri ini langsung berbenah dan bangun dam untuk menahan air laut. Ga maen-maen loh, bukan sekedar bendungan untuk nahan danau atau semacam itu, tapi air laut. And it works, after sekian banyak effort, waktu dan komitmen. Makanya kalo’ ga salah Ahok kemarin-kemarin itu ada ke Belanda kan untuk belajar soal ini, karena Jakarta pun diramal bakalan tenggelam parah kayak Belanda kalo’ ga berbenah diri, dengan segala pengikisan garis pantai, pemanasan global dan apalah semua itu. Semoga apa yang dibuat oleh Belanda bisa diadaptasi di Indonesia soon ya.

20160915_105929

20160915_110749

Setelah nonton film, kami langsung belanja souvenir di toko itu. Tokonya lumayan gede dan barangnya OK-OK juga. Gw belanja gantungan kunci buat temen-temen kantor di sini.

Habis itu kami keluar toko dan jalan-jalan di sekeliling, kiri-kanan toko dengan background pantai, enak juga suasananya. Karena ini desa nelayan makan untuk lunch gw dan Mama mutusin makan Fish n’ Chips di salah satu restoran sederhana di sana. Rasanya OK banget, tapi sepertinya beda-beda tipis sama FIsh & Co Jakarta. Harganya kalo’ ga salah 9 EUR-an.

20160915_113832

Habis makan, kami keluar masuk toko-toko lagi. Gw sempet beli selai dan kaus lagi di sini. Di Volendam ini kita juga bisa foto pake’ baju khas Belanda gitu, tapi gw dan Mama mutusin untuk ga moto. Abis komersil dan kayaknya standard banget ya. Ga worth it pula menurut gw. So kami skipped foto-memoto ini.

img_20160917_195748

Setelah selesai, kami balik ke bus untuk jalan ke kota Amsterdam.

Sampe’ Amsterdam, next agenda adalah ke tempat pengasahan berlian. Ada 2 perusahaan gede yang paling terkenal di sini, salah satunya Coster Diamond yang kami datangi ini. Seneng sih liat-liat berlian (cewek!!), tapi ya ga seneng sih liat harganya. Selain seneng liat berlian, seneng juga dengerin penjelasan tentang gimana menilai berlian yang bagus. Menarik banget. Abis itu semua peserta liat-liat berlian termasuk gw, sayangnya ga ada yang beli, bwahaha.. orang tokonya mupeng. Langsung deh kami keluar.

20160915_14074220160915_145404

Ngoomong-ngomong soal berlian, katanya kualitas yang paling bagus adalah berlian dari Afrika Selatan. Catat ya.

Balik ke trip kami, area Coster Diamond ini deket sama Rijkmuseum, museum terkenal di kota Amsterdam yang kalo ga salah populer dengan huruf-huruf gede I AM STERDAM merah putihnya itu. Sayangnya karena keterbatasan waktu (soalnya ga main-main, kami berurusan dengan flight pulang kami nanti) kami ga sempet ke situ, dan ga sempet foto-foto pula. Sedih dan kecewa juga sih, soalnya itu kan salah satu trademarknya Amsterdam gitu.

img_20160916_010801

20160915_133027

Jadi dari tempat pengasahan berlian tadi kami langsung jalan untuk naik kapal lagi menysusuri kanal-kanal Amsterdam selama 1 jam. Inipun udah ngebut banget karena waktunya super mepet. Untungnya masih keburu sih jadwal kapalnya jam 3.15 siang.

20160915_151516

Ya sudah naiklah kami ke kapal kayu tersebut, dengan kaca-kaca di kiri kanan dan atas. Beda dengan kapal di Paris yang terbuka, kapal Amsterdam ini tertutup, tapi ya dengan lapisan kaca. Bangkunya juga beda. Kalau bangku kapal di Paris berderet rapi baris demi baris tanpa meja, bangku-bangku di kapal Amsterdam ini ada mejanya. Jadi kayak di restoran gitu, 1 meja dengan bangku panjang berhadapan. Ada earphone yang bisa kita pakai untuk mendengarkan recorded guide explanation dengan pilihan belasan bahasa, tapi boro-boro dengerin, gw malah ngobrol sama TL-nya saking membosankannya penjelasannya dan pemandangannya. Asli 1 jam rasanya lamaaa banget. Overall menurut gw sih kurang OK ya view-nya. Gatau juga, apa ini gara-gara gw asyik ngobrol sama TL dan Mama.

20160915_154416

20160915_133230

20160915_153812

20160915_151919

20160915_151550

Di seberang ferry port-nya ada pabrik Heineken tampaknya, dengan antrian panjang calon pengunjung.

Selesai naik kapal kami langsung ngebut ke airport karena pesawat kami jam 7.30 malam. Jalanan macet pula, bikin semua dag dig dug. Untung supir kami agak nekat juga, manuver kiri-kanan dan akhirnya bisa lolos dari kemacetan.

Sampe’ airport, peserta berpisah; sebagian melakukan tax refund, sebagian langsung check-in. Karena ga beli barang branded apa-apa, gw dan Mama langsung check-in. Ada sih tax refund yang kami terima, tapi cuma 10 EUR. Itu pun juga sudah mepet banget waktunya, jadi ga usah tax refund lah. TL juga udah wanti-wanti bahwa Schipol Airport ini merupakan salah satu bandara terbaik di dunia dan pemeriksaannya super ketat. Eh bener loh, gw ud nyobain beberapa airport di Eropa, and this one is insane. Kita masuk ke bilik kaca gede berbentuk oval gitu untuk di-scan badannya selama beberapa detik. Petugasnya pun rigid dan tegas banget. Ah bener-bener deh. Ga ada tuh pemeriksaan ngasal-ngasal atau birokrasi doang. Semuanya bener-bener detail dan menyeluruh. Agak nakutin sih.

20160915_183139

Setelah pemeriksaan dll. akhirnya kami berhasil nyampe gate tempat nunggu dan 10 menitan kemudian langsung boarding. Bener-bener mepet waktunya.

Peserta yang tax refund pun akhirnya batal semua karena ga keburu. Daripada ketinggalan pesawat mendingan ga usah tax refund kan. Ada peserta yang tax refund nya nyampe 10 jutaan loh, lumayan banget. Nyesek deh.. keluar deh statement dari beberapa peserta, “Mendingan tadi ga usah naik kapal di kanal Amsterdam.. waktunya buat ke airport aja untuk tax refund..” heheh no comment deh ya. Sejelek-jeleknya kapal tadi, rasanya sayang juga kalo’ nggak naik.

Flight kami berangkat agak telat tapi somehow we manage to make it on time loh pas nyampe Jakarta. Perjalanan lancar, transit Istanbul dulu seperti perginya.

Nyampe’ Istanbul gw buka hardlense dan berganti dengan kacamata, nunggu setengah jaman terus lanjut terbang lagi ke Jakarta sekian belas jam. Susah tidur banget, jadinya nonton terus, dan somehow karena duduk terus tulang ekor gw sampe’ sakit banget sehingga gw harus berganti posisi duduk terus-menerus. Duduknya jadi gelisah, padahal biasanya fine-fine aja.

Nyampe Jakarta jam 5.50 sore dan langsung dijemput suami dan Aimee. Aaaaaaakkkkh akhirnya ketemu my baby🙂

Intermezzo :

* Jadi-jadi, gw itu agak-gila-banget belanja pernak-pernik dan souvenir gitu. Tiap travelling pasti duit abis buat belanjain gituan. Nambahin koleksi terus. Udah satu lemari tuh di rumah. Nah, di trip kali ini karena pas lagi banyak pengeluaran juga, gw bertekad ga mau belanja aneh-aneh. Surprisingly gw berhasil loh, entah kenapa.. Sepertinya time has somehow changed me into someone different. Gw ga lagi tertarik dan kalap liat pernak-pernik lucu-lucu dan bisa nahan diri dengan mudah. Contoh kalo’ dulu misal ke Eropa Timur, satu negara gw bisa beli magnet sampe 4-5 biji, sekarang gw bisa loh cuma beli 1 magnet 1 negara, or maksimum 2 magnet lah gitu untuk 1 negara. Atau kalo’ dulu gw bisa beli oleh-oleh berlimpah buat semua orang, sekarang gw bener-bener batesin seadanya aja. Kesannya jadi pelit sih, tapi emang beneran sih gw belajar untuk pergi itu buat diri sendiri, bukan buat ‘nyenengin’ orang dengan bawain ini-itu apalagi melimpah-ruah. Yah at the end buat gw pribadi ini pencapaian banget loh karena bisa menghemat pengeluaran, apalagi tau sendiri harga di sini juga ga murah, apalagi di Swiss yang kejamnya maksimal. In summary, dari duit yang gw bawa selama trip ini, gw cuma pake 45 % aja, dan itu pun sebenernya banyak abis buat makan, secara gw kan ga dapet lunch and dinner di tour ini. Jadi beneran, I’m so proud of myself. Kayaknya gw bisa gitu put priority on the expense, mana yang penting and ga penting. Aaaaakhh senang!!

* Kalo’ keabisan Aqua, supir kami jualan Aqua botol kecil dengan harga 1 EUR.

* TL pernah cerita bahwa katanya Prudential pernah bikin incentive trip sekitar 3000-4000 orang ke Eropa. Mereka ‘membatikkan’ Euro Disney (karena ke sana dengan baju batik semua) dan bikin heboh Colloseum dengan maen angklung di sana. Sekian ribu orang. OMG keren banget!

* Selama di pesawat berhasil nonton:
– Money Monster (George Clooney and Julia Roberts) – Bagus tapi ga make sense.
– Me Before You – drama tentang cewek yang jadi ‘nanny’ buat cowok kaya ganteng yang jadi cacat karena kecelakaan, terus falling in love. Picisan banget sih menurut gw (tapi tetep aja ditonton).
– X + Y – cerita tentang anak jenius matematika dengan perjuangannya ikut olimpiade matematika dan permasalahan keluarga. Standard, tapi selalu menyenangkan nonton film tentang orang jenius.
– Water Diviner (Russel Crowe) – inspired by true story, tentang perjuangan seorang Bapak yang nyari 3 anaknya yang hilang during perang Turki gitu. Mengharukan dan bikin bercucuran air mata sambil makan di pesawat.
– Hunger Games Mockingjay yang terakhir, yang waktu itu ga sempet nonton di bioskop. Baru beberapa menit, udah ngerasa boring abis. Akhirnya shut it down.
– Film tentang pecatur (kayaknya kisah nyata tentang Bobby Fischer) dengan background Perang Dunia kayaknya – tapi nontonnya sambil tidur-tidur, akhirnya ga ngerti sama sekali.

* Untuk copet, gw pribadi lumayan worried kali ini karena gw bawa tas yang bener-bener terbuka, no zipper. Cuma satu kancing tempel gitu. Modelnya bawa di bahu gitu. Kenapa ‘maksa’ pake tas ini? Soalnya tasnya gede and lebar, jadi bawa apapun semua masuk, mulai dari payung, jaket. Aqua, dll. Perfect deh. Resikonya yah gw kudu extra hati-hati, karena dikepit di ketek aja tasnya masih tetap terbuka gitu, saking lebarnya. Mancing banget deh. Di sisi dalam tas, ada risleting gitu. Nah di dalamnya gw simpen dompet passport dll. yang penting-penting. Harapan gw sih semoga copetnya ga bisa buka risleting di dalam tas itu, tapi namanya copet kan banyak akal ya. Akhirnya solusi desperate gw adalah naruh dompet kosong di dalam tas. Jadi kalopun si copet ngeliat atau ngincer tas gw yang notabene terbuka lebar itu, yang pertama dia liat bakalan dompet kosong itu. My expectation sih dia bakalan nyopet dompet kosong itu aja gitu, dan lantas berpuas diri. Jadi ga kepikir untuk explore lebih lanjut buka-buka risleting keramat yang isinya ajigile pentingnya itu. Itu aja sih trik gw. Untungnya sampe’ akhir semua baik-baik aja, dan even si dompet pancingan itu juga aman-aman aja. Anyway dompet kosong itu gw pinjam sama ponakannya suami gw, dan ponakannya itu ga tau bahwa dompet itu digunakan sebagai umpan aja bwahaha..

* Untuk peserta tour semuanya enak-enak aja sih :

1. Sepasang tante yang suaminya adik kakak, yang selalu ceria, ramai, dan modis. Total 4 orang.
2. Sekeluarga oom-tante dengan dua anak cowok cewek yang ganteng dan cantik tapi berempat ini selalu agak ‘menyendiri’ dan ga terlalu socialized sama peserta lain.
3. Olive sama Alvin yang lagi honeymoon dan bikin mupeng (bwahaha)
4. Pak Fauzan yang pergi sendirian tanpa istri-anak dan setiap detik selalu selfie dengan tongsisnya. I almost never find him without posing in front of his tongsis haha..
5. Pak Lukman yang super kocak dengan istrinya yang super baik dan sabar bak angel banget dan 4 anaknya, 2 perempuan dan 2 lelaki.
6. Tante dan oom dengan dua anak cowok-ceweknya yang kompak banget
7. Dion dengan GoPro-nya sama Ryan adiknya, bocah kecil kelas 4 SD yang jadi hopeng gw selama tour ini dan bisa ngobrolin Pokemon berjam-jam selama cruise di Paris (mereka sama papa mamanya – si tante baru keluar RS)

Udah deh.

Okeh sekian deh tentang trip West Europe ini. Berkesan ga? Errrr sejujurnya kurang. Mungkin karena sebelumnya gw udah ke Eropa Timur yang notabene menurut gw lebih bagus, tournya lebih full dan lengkap, durasinya lebih lama. Jadi begitu ke West Europe ini, rasanya kok jadi ‘kebanting’ banget ya. Tapi anyway yang namanya travelling mah gw hepi-hepi aja. Selalu ada plus minusnya kan during the trip. Yang pasti pas trip gw enjoy, pulang trip juga bahagia karena bisa ketemu Aimee. Everything’s perfect-perfect aja jadinya🙂

Untuk Dwidaya Tour nanti gw ceritain terpisah ya, pengalaman gw pake’ mereka. Itupun kalo’ lagi rajin ngetik.

HARI 5

Meninggalkan Perancis dan menuju Belanda yang dikenal dengan sebutan Negara Kincir Angin, tepatnya kota Amsterdam dengan melalui kota Brussel, Belgia. Di Brussels Anda akan diajak melihat Manekin Piss Statue dan Grand Palace, tidak lupa melihat Everard Serclaes momument. Di Amsterdam Anda akan diajak mengunjungi salah satu tempat pengasahan berlian yang terkenal.

Sambungan dari postingan ini.

Hari ini kami bakal jalan ke Belanda dengan mampir di Brussel (Belgia) terlebih dahulu.

Di tengah jalan kami mampir dulu di rest area, ada kompleks lumayan gede dimana terdapat supermarket dan restoran di dalamnya, tempat kami sekalian lunch. Setelah beli Aqua di supermarket, gw dan Mama pilih lunch di Paul, dengan beli sandwich raksasanya. Model sandwichnya kayak di Kempi Deli gitu deh. Rotinya kerasnya setengah mati, kombinasi isi daging dan sayurannya juga agak aneh sih rasanya, dan ada semacam rasa wine gitu. Roti mama isinya ikan dan mayonaise, dan rasanya agak amis, tapi gw doyan aja dua-duanya.

20160914_120834

Setelah itu kami lanjut perjalanan ke Belgia. Di tengah jalan ada papan penunjuk jalan bergambar Asterix gitu. Iiiih cute..

img_20160914_220918

Nyampe’ Brussel kami dibawa ke satu toko yang gw bingung sih, ngapain di bawa ke sini. Isinya cuma tas Kipling dan berbagai merk lain. Ga menarik banget, tapi tetep aja banyak peserta yang beli. Tapi waktu itu kami diminta jangan beli dulu. Jadi ke situ sebenernya cuma numpang ke toilet aja, nanti pas jalan balik / pulangnya, baru kami bakal balik lagi ke situ, karena setelah ini masih ngejar waktu untuk ke next destinationnya di kota Brussel ini. Anyway tas Kipling ini juga asalnya dari Belgia loh.

Selanjutnya, jalan kaki agak jauh dari toko itu, kami ke pusat kota / Old Town-nya, yang notabene supeeeer cantik. Namanya Grand Place / Grote Markt kalo ga salah. Jadi ada satu lapangan atau alun-alun gede yang kiri kanannya semua bangunan cantik (yang gw gatau semua namanya karena kami ga dijelasin, cuma dilepas aja) dengan gaya arsitektur klasik khas Eropa : banyak ukiran dan motif. Di belakang lapangan itu baru berjejer gang-gang dengan toko-toko di kiri-kanannya.

20160914_153621

20160914_154036

20160914_163239

20160914_163233

20160914_153951

20160914_154144

Sebelum dilepas, kami dibawa ke satu toko cokelat yang sepertinya ‘partner’ gitu sama travel agency kami. Intinya sih mereka jualan terus kasih kami discount. Menurut TL memang Belgia ini adalah salah satu surga cokelat dengan harga murah. Herannya pas beli, gw kok tetep ngerasa cokelat ini mahal ya? Anyway busway, gw pernah baca bahwa Haagen Dazs pun menggunakan cokelat dari Belgia loh.. Haagen Dazs sendiri gw kira asalnya dari Eropa (merujuk ke namanya), ternyata ni es krim dari New York.

Setelah ‘lepas’ dari toko cokelat tadi, kami muter-muter ke toko lain. Gw tentu saja mampir ke toko souvenir, beli magnet, tidak lupa beli wafel seharga 3 EUR karena Belgia merupakan negara asal wafel. Rasanya? Menurut gw biasa aja, sama aja kayak wafel di Indonesia, tapi mungkin itu karena gw milihnya cuma menu wafel nutela yang standard, tanpa es krim dan buah.

Habis itu kami juga jalan kaki dikit ke Mannekin Piss, patung anak kecil pipis yang merupakan lambang kota Brussel. Sejarah di balik patung ini ada beberapa versi sih, salah satunya yang paling sohor adalah patung ini didirikan untuk mengenang satu anak kecil yang menyelamatkan kotanya dengan cara pipisin bom yang mau meledak di situ during Perang Dunia. Patungnya bener-bener biasa sih, kecil pula. Biasanya patungnya bugil, tapi di event-event tertentu patungnya bakal dikasih kostum seperti hari itu waktu gw pergi. Sayang karena tidak ada guide, gw gatau kostum putih yang dikenakan si patung bocah itu dalam rangka apa.

Toko-toko di sekitar sini juga banyak yang menggunakan patung anak kecil sebagai icon toko mereka.

img_20160919_220514

20160914_160052

20160914_154218

Setelah keliling-keliling toko, kami balik lagi ke alun-alun gede yang sekelilingnya penuh bangunan cantik tadi untuk foto-foto. Sampe’ bingung milih angle-nya karena semua sudut terlalu instagrammable.

img_20160915_061541

img_20160914_220123

20160914_16304520160914_163117

Puas moto-moto, sambil nunggu peserta tour lain, gw mampir di toko cokelat Godiva. Kayaknya ni brand juga asal Belgia deh. Aaaakh paling suka sama chocolate milkshakenya Godiva di Plaza Indo. Sayang di sini jualannya cuma cokelat doang. Akhirnya gw beli permen cokelat di sini. Not a big fans of chocolate, tapi ini Godiva gitu loh..

Abis dari Godiva, peserta belum ngumpul juga. Eeeh gw lihat toko Tintin, menjual pernak-pernik yang berbau Tintin. TL bilang bahwa Tintin kan emang asalnya dari Belgia (gw sendiri lupa-lupa inget). Sayang di toko ini harga barangnya mahal-mahal, dan untunglah hati gw masih (mario) teguh, jadi gw bisa bertahan ga beli apa-apa walaupun barangnya lucu-lucu banget. Eh baru inget juga bahwa Hercule Poirot, detektif ciptaan Agatha Christie, juga berasal dari Belgia. Wah ternyata Belgia walaupun ga setenar Perancis atau negara lain, menyimpan banyak ‘history’ background ya, seperti merupakan tempat asal wafel, Kipling, Godiva, Tintin, Hercule Poirot dan masih banyak lagi.

Setelah kelar, kami balik ke bus, tapi mampir lagi di toko tas Kipling tadi, karena beberapa peserta (termasuk Mama) juga mau beli beberapa barang di situ. Duh, apa bagusnya sih tas monyet aneh itu?

Habis itu baru beneran balik bus dan perjalanan dilanjutkan ke Amsterdam, Belanda.

Di itinerary disebutkan kami bakal ngeliat patung Everard Serclaes tadi di Brussel, tapi sampe’ akhir gw ga aware sama sekali yang mana patung itu, karena ga dikasihtau. Di bus sempet ada peserta yang nanya, TL-nya kasitau sih, tapi tetep aja gw ga aware. Kenapa ga dikasitau di sana sih? (* sepertinya sih patung ini adalah patung prajurit berkuda yang mangkal di atas salah satu bangunan di Grote Markt tadi -> see below)

img_20160914_220651

Di itinerary juga disebutkan bahwa nyampe Amsteredam kami bakal mengunjungi tempat pengasahan berlian, tapi sepertinya ga keburu karena nyampe Belanda udah malam. Di tengah perjalanan kami mampir di rest area dan gw beli semacam roti sandwichnya. I thought rotinya bakalan keras kayak roti-roti pada umumnya di Eropa, di luar dugaan ternyata rotinya lembut banget. Rotinya gw makan di bus, buat dinner.

Tadinya malam hari mau di-arrange dinner bareng di restoran Indonesia, karena kayaknya semua peserta udah eneg makan roti, sandwich, burger dll. Tapi setelah dirinci-rinci lagi biayanya yakni 22 EUR/orang, gw langsung nolak deh. Mending cari makan sendiri, McD cuma sekitar 5 EUR aja. Akhirnya peserta lain cancel juga, dan batallah makan di restoran Indonesia. Emang sih penasaran juga pengen tau rasa makanan Indo di sini kayak apa sih? Tapi mestinya ga sampe beda banget kali ya secara yang masak banyakan orang Indonesia sendiri juga. Paling bahannya aja yang agak beda.

Nyampe hotel kami langsung mandi dan istirahat. Hotelnya sendiri bagus dan kamarnya modern style, tapi agak remang. Namanya Ramada Apollo Amsterdam Centre.

20160915_081847

20160914_210303

20160914_210249

20160914_211104

20160914_211108

Sampe’ hotel Pak Lukman katanya kehilangan 1 koper. Waduh, semua panik. Apakah ada pencuriankah? Setelah ditelusuri dan telepon sana sini, untunglah ternyata kopernya ketinggalan di hotel di Paris dan akan dititip ke rombongan Dwidaya Tour berikutnya yang akan ke Paris juga minggu depan.

Bersambung ke postingan berikutnya.

HARI 4

Bonjour Paris ! Acara hari ini diisi dengan berkeliling kota Paris dengan melewati Notre Dame, sebuah gereja dimana Napoleon dinobatkan menjadi kaisar, kemudian melewati Arc De Triomphe, yang adalah sebuah gerbang (monument) yang dibangun untuk memperingati kejayaan Angkatan Bersenjata pada masa Napoleon pertama. Anda juga akan melewati Place De I’Etoile, titik pertemuan dari 12 jalan lurus disekitarnya, Louvre Museum, Des Invalides, hotel yang dibangun oleh Raja Louise XIV, Place de la Concorde serta Champs-Elysees, jalanan sepanjang 2 km yang sangat terkenal di Paris.Tidak lupa mengabadikan moment special anda dengan berfoto dengan latar belakang EIFFEL TOWER. Setelah city tour Anda akan diajak berbelanja di Benlux Duty Free dan Galeries Lafayette

Sambungan dari postingan ini.

Bangun, mandi, breakfast.

Karena Residhome Apparthotel merupakan hotel apartemen kali ya, jadinya breakfastnya dikit dan simple banget. Tapi sosisnya enak aji gile sih, jadi ya udah makanin itu aja.

Hari ini kami bakalan ke kota Paris untuk city tour di sana. Eh tepatnya bukan city tour sih. Nanti liat sendiri deh ngapain aja kami di Paris.

Perjalanan ke kota Paris makan waktu 1 jaman, apalagi macet pula. Kenapa makan waktu 1 jam? Karena hotel kami ada di pinggiran kota, di Montevrain, deket Euro Disney. Jadi memang bukan di pusat kota. Kenapa ga di pusat kota? Karena katanya bus ga selalu bisa lewat kalo’ di kota Paris. Ah apapun itu gw mah cincay-cincay aja, yang penting hotel tempat kami bermalam juga bagus-bagus aja kok.

Memasuki kota Paris, sampah is everywhere loh. Banyak grafiti pula di tembok-tembok di jalanan. Berasa di Jakarta aja.

20160913_094307

20160913_094414_001

Pas ud masuk di Parisnya, di pusat kotanya, baru keliatan cantiknya. Suka banget sama arsitektur bangunan-bangunannya yang cantik dan klasik banget. Place De La Concorde nya (semacam lapangan gede gitu) juga impressive banget dengan patung-patung berdetail rumit. Ah pokoknya Paris is cantik menurut gw. So far di trip ini, kalo’ semua peserta lain rata-rata lebih demen Swiss, gw confirm paling suka Paris.

Ini maap foto-fotonya mantul semua karena difoto dari balik jendela bus.

img_20160913_182627

20160913_104034

20160913_19541320160913_12135320160913_10481020160913_10451820160913_10422420160913_10420020160913_10413320160913_10291520160913_102504img_20160913_18213420160913_10312120160913_10310620160913_10355320160913_10363920160913_103838

Jadi pertama-tama kami diturunin di Menara Eiffel (dari jauh, bo..), cuma buat foto-foto doang. Jangan pikir kami bisa masuk, naik, liat view Paris dll. HOAHAHAHHAHA -> ketawa gede-gede dengan atmosfer pahit.

Karena ini Eiffel gitu loh, maka kami foto-fotonya lama buanget. Ada kali hampir setengah jam di sini. Pas di rumah liat foto-foto, rasanya foto Eiffel kok banyak banget, padahal sebenernya angle-nya sama-sama aja gitu.

img_20160913_170245

img_20160913_163949

20160913_111116

Atas : TL kami + Pak Lukman yang bikin tour rame

20160913_111217

Pas naik bus lagi, ada banyak penjual-penjual nyamperin kami. Kebanyakan (maaf) kulit hitam. Sepertinya memang banyak imigran dari Afrika. Mereka jual scarf-scarf Paris gitu dengan harga ga terlalu mahal. Langsung deh kami beli, termasuk gw dan Mama. Lumayan buat oleh-oleh sih, tapi gw kurang suka motif-motifnya yang menurut gw keramean dan sangat ‘tourisy’ modelnya.

Abis itu kami naik bus, terus diturunin lagi di Arc De Triomphe. Itu loh, gerbang kemenangan alias gerbang bin monumen berbentuk kotak terkenal gitu yang merupakan pertemuan dari 12 jalan lurus di sekitarnya. Kalo’ liat dari udara, ini pattern-nya keren banget loh. Kalo’ ga salah ada sedikit misteri kan soal pattern kota Paris ini. Seinget gw ada landmark-landmark tertentu yang kalo’ ditarik garis, ternyata semuanya membentuk gris lurus. Gw lupa baca di mana, kalo ga salah di bukunya Dan Brown. Ah keren deh kota ini.

img_20160919_221701

img_20160913_165306

Setelah foto-foto di Arc De Triomphe (dari jauh), kami naik bus lagi, terus jalan. Nah pas jalan, si bus ngelewatin gerbang Arc De Triomphe ini dari deket, jadi gw beneran bisa liat tuh bangunan quite close, dan OMG cantik banget ukiran-ukirannya! Rasanya hati sampe’ pedes-pedes nyesel berdarah karena ga bisa foto deket/ langsung di bawah gerbang ini. Itu di langit-langit di bawah atapnya ada banyak tulisan (lupa itu tulisan apaan, kayaknya nama pahlawan atau semacam itu), belum lagi konturnya keren banget. Ya ampun asli cantik banget. Rasanya Eiffel mah ga ada apa-apanya dengan ‘kekayaan’ arsitektur Arc De Triomphe ini. Bener-bener mengagumkan banget.

Nah setelah foto-foto di dua tempat itu, gw pikir kami bakalan dituruin di Champs Elysees. Itu loh, jalanan panjang kayak di Pasar Baru, tapi kiri-kanan butik branded semua. Yang ada toko LV gede banget itu loh. Eeeh boro-boro, ternyata kaga, Saudara-Saudara! Sedih banget deh, sampe’ bergumam, “ini tour apaan sih, ngapain kita cuma dibawa ke tempat moto doang..”

20160913_120705

Jadi abis itu kami diturunin di Benlux Duty Free, tempat kami bisa belanja, huhuhu.. Ini semacam bangunan indoor kecil kayak mall gitu, terdiri dari beberapa lantai. Tapi asli keciiiil banget, kayak cuma kantoran gitu, dan orang Indonesia cuma ‘boleh’ main di lantai paling atas. Itu cuma ada gerai parfum, gerai kecil Longchamp, MK, koper-koper, dll. Bener-bener ga menarik. Tragis banget deh. Tapi ya peserta lain (termasuk Mama) idup juga sih. Belanja parfum, tas, koper, dll. Di sini enaknya tax nya langsung dipotong, jadi ga kayak di tempat lain dimana duitnya kudu di-claim di airport or via kartu kredit nanti.

Di sini akhirnya gw beli kaus Paris aja saking ga ada kerjaan. Dari Benlux kami dilepas untuk makan siang di area situ. Setelah Mama puas belanja beli parfum, kami nyari makan siang. Karena dikasitau TL nya di seberang ada mall gitu, akhirnya kami ke seberang Benlux, terus turun ke bawah. Beneran ada mall, dan kami makan McD lagi. Kali ini cobain fish wrap nya gitu yang ga ada di Jakarta. Ih enak.. dan di sini Fillet O Fish nya bisa double bo. Hoahahaa.. Heaven banget. McD sini lebih mahal daripada McD waktu di Milan. Kalo’ di Milan 5 EUR udah dapet paket burger-kentang-Coke, di Paris ini mah harga segitu 1 burger aja belum dapet. Gw lupa akhirnya abis berapa di McD ini karena Mama yang gantian bayar.

Abis makan McD kami balik lagi ke deket titik ngumpul, terus belanja di sekitar situ, di tepi jalan. Gw dapet satu kaus untuk Aimee sama magnet di toko yang dimiliki sama satu cewek yang juteknya memprihatinkan.

Habis dari situ, nyampe’ bus gw denger Pak Lukman ada bilang, “eh pada foto ga di piramida putih itu?” dan ngobrol-ngobrol mengenai itu. Gw tadinya ga ngeh, piramida putih apaan sih, dan ga terlalu pay attention. Belakangan pas mikir tau-tau gw baru ngeh bahwa itu maksudnya Louvre Museum!! OMG!! Langsung gw panik-panik tanya Pak Lukman, “Pak maksudnya Louvre ya??” Beliau mengiyakan. Ya ampuuuun, ternyata Louvre itu lumayan deket dari Benlux!! Tau gitu daripada makan ke mall itu mendingan gw ke Louvre aja! Oh no, ke Paris tanpa ke Louvre (biarpun cuma numpang moto doang karena ga mungkin masuk kan tanpa tiket), itu udah kayak beli burger tapi ga ada dagingnya! Aduuuuh sampe’ berasa nyesel dan sedih banget. Terus biasa deh bawaannya mau ngambingitemin orang. Alias TL. Kenapa sih dia ga ngasitau bahwa deket situ ada Louvre Museum? Eh apa jangan-jangan kasitau tapi gw pas ga denger ya? Ah tapi mestinya dikasitaunya ke semua orang dong, ini kan informasi yang SANGAT-SANGAT penting (ini nulisnya vibra dikit karena emosi). LOUVRE bo. There’s Monalisa down there!! Ah ya udahlah, faktanya pokoknya gw missed ke Louvre. Udah. Eat it. Sedih.. Miris.. Pahit.. Geram..

Abis ke Benlux, kami diturunin lagi ke Galeries Lafayette. Itu tuh, mall gede super cantik dengan kubah penuh motif. Mirip dikit sama Galleries Vittorio Emanuelle di Milan kira-kira. Sekali lagi, ini mall GUEDE banget. Kami dikasih waktu 3 jaman di situ! Beberapa peserta udah mulai mengeluh karena acaranya kok belanja mulu. Gw juga udah males banget, gatau mau ngapain lagi 3 jam di situ. I meant, mendingan gw jalan-jalan ke Champs Elysees. Emang sih itu kiri-kanan butik branded juga, tapi kan beda gitu loh, bisa sambil jalan-jalan di area terbuka. Atau.. mendingan gw ke Louvre.

Ya udah karena udah nasib pergi ke situ, kami keliling-keliling ga jelas aja. Mama masih semangat liat-liat baju. Oh iya gw juga sekalian sih nyariin tas titipan sepupu gw di Fendi, tapi ternyata itu udah late season dan ga dijual lagi. Selain liat-liat baju, kami juga ke satu lantai yang merupakan surga buat gw, yakni pernak-pernik. Ih asli barangnya lucu-lucu dan berkualitas banget. Demen banget deh. Untung gw bisa menahan godaan dan hanya membeli 1 magnet.

Dari situ gw lihat di peta bahwa ada view ke dome Lafayette di lantai dua. Langsung deh cari-cari dan nemu. Ih cakep sih kubahnya. Mewah gitu dengan motif cantik.

20160913_153920

img_20160913_164311

Dari Dome View, kami naik lagi ke lantai paling atas, yaitu terrace. Cuma buat liat view kota Paris aja sih di sore hari. Teriknya ga ketulungan dan ternyata cuma gitu-gitu aja view-nya. Itu para bule juga asyik berjemur di bangku-bangku deket situ. Kami sih cepet-cepet kabur masuk lagi. Ga tahan panasnya.

img_20160919_221401

20160913_155553

Ga lama kemudian kami mulai kecapekan dan kebosenan, terus akhirnya duduk di semacam food courtnya gitu terus makan es krim lagi. Oh no.. lama-lama gw bisa ice-cream-phobia. Jadi acaranya makan es krim sambil ngobrol-ngobrol. Tau-tau udah tinggal setengah jam lagi aja. Cepet-cepet kami turun ke titik pertemuan. Pas turun, gw ngeliat ada satu lantai isinya.. Disney World gitu!! OMG langsung ngelonjak terus offically kalap dan cepet-cepet liat-liat dan cari baju buat Aimee. Akhirnya dapat 1 dress doang. Ngantrinya panjang banget pula. Duh kalo’ udah gini langsung nyesel-nyesel, kenapa tadi kelilingnya ga lebih intense. Coba ada waktu lebih, bwahaha.. Di awal ngoceh-ngoceh ngapain lama-lama di mall ini, eh belakangan malah nyesel pingin lamaan.

Abis ngantri dan bayar, ngumpullah kami semua. Oh, menyenangkan sekali ngeliat para peserta biarpun bersungut-sungut tetep aja balik bawa LV, Fendi, sama Chanel. Bwahaha..

Dari Lafayette, lanjut lagi, kali ini untuk optional tour menyusuri Sungai Seine naik kapal. Optional tour ini dikenakan biaya EUR 20 (ga dikasitau lagi, di-charge belakangan seperti optional tour Titisee-Jerman). Ya udah naiklah kami ke satu kapal gede terbuka bareng semua turis lain. Berderet kursi-kursi, dan duduklah kami sambil liat-liat pemandangan kiri-kanan. Nama kapalnya Bateux Mouches dan maap aduh maap bukannya underestimate ya, tapi beneran biasa banget. Rasanya waktu gw naik kapal di Budapest, viewnya jauh lebih cantik deh. Dapet wine pula, hihi..

20160913_190857

20160913_191210

20160913_192151

img_20160919_221130

 

20160913_103147

20160913_103416

20160913_195938

20160913_194735

img_20160919_221912

img_20160919_220724

Ya udah 1 jam kami muter-muter. Akhirnya gw sama Ryan si bocah kelas 4 SD malah memulai diskusi berbobot kami tentang Pokemon. Tepatnya saling memamerkan Pokemon yang kami punya. Gw jadi tersulut karena Ryan ngaku udah punya semua Pokemon, termasuk beberapa yang gw sendiri ga pernah berhasil dapet. Sayang Ryan ga bisa membuktikan karena ga bawa HP nya. Hmmmmh… jiwa kompetitif gw tertowel. No pic, hoax, Ryan!

Di penghujung berakhirnya kapal, tau-tau keliatan Eiffel. Dan karena ini udah jam 8-an malam, langit mulai gelap. Jadi Eiffelnya pun mulai nyala lampunya. Cakep-cakep aja sih. Langsung heboh deh semua orang foto-fotoin Eiffel. Gw juga. Sampe’ rumah, kebingungan lagi, ini ngapain fotoin Eiffel nyala kuning begini banyak? Angle-nya lagi-lagi sama. Ga menarik banget, haha..

img_20160913_220627

Setelah acara naik kapal kelar, kami balik deh ke hotel kami di pinggiran kota Paris itu. Nyampe udah malem, belum makan karena tadi ga sempet makan di Lafayette. Pop Mie udah abis. Jadi Mama ngeluarin senjata andalannya yang lain yakni Regal. Langsung deh kami seduh Regal banyak-banyak. Untung gw bawa Tupperware jadi bisa digunakan sebagai wadah.

Good Nite Paris, City of Light yang cantik..

HARI 3

Hari ini perjalanan dilanjutkan menuju pusat mode dunia yaitu Paris.

Sambungan dari postingan di sini :

Bangun, mandi, sarapan dan beres-beres koper karena hari ini bakalan check-out dari hotel. We’re going to Paris today. Perjalanan bakalan 6-7 jam, oh no..

Tau ga kalo’ ke Paris sontak ingetnya apa? No, no, not Eiffel atau sejenisnya. Yang langsung muncul dalam benak somehow adalah Rattatouille🙂

Anyway kami ditawarin optional tour ke Jerman, tepatnya ke Titisee, sebuah kawasan tempat asal kue black forest dengan danau cantik. Karena semua peserta tour OK-OK aja, maka berangkatlah kami ke sana.

I thought ini sekalian ngelewatin, sambil jalan ke Paris, ternyata perjalanannya agak melenceng. Jadi kalo’ Jerman ke kanan, kalo’ Paris ke kiri. Jadi nanti perjalanan dari Jerman ke Paris bakalan tambah jauh. Tapi ga apa-apa lah, enjoyin aja. Selama perjalanan asyik juga kok dengerin cerita-ceritanya TL tentang sejarah (I love history!) plus diputerin lagu and film juga.

Anyway optional tour ini kena 50 EUR. Ga dikasitau pula di awal, tapi terakhir langsung di-charge gitu. Biasanya pengalaman gw sama tour-tour lain, kalo’ ada optional tour pasti dikasitau dulu sih biayanya berapa, karena itu kan consideration factor juga, apakah kami mau ke sana atau nggak. I meant kalo’ tau-tau di-charge 100 or 200 EUR, rasanya belum tentu semua mau ke sana.

Perjalanan ke Jerman makan waktu sekitar 2-2.5 jam-an. Sampe’ sana udah keliatan danau gedeeeee yang super cantik. Waktu itu gw pernah baca di internet, ada orang bilang bahwa Danau Toba lebih bagus daripada Danau Titisee ini. I have no comment sih. Cakep aja dua-duanya menurut gw🙂

20160912_095452

Di sana kami diturunin di ‘desanya’, dengan deretan toko-toko dan restoran sepanjang jalan, serta danau di sisi yang lain. Menyenangkan sih tempat ini. Pertama-tama, kami dibawa ke toko jam kukuk untuk dikasihtau cara pembuatannya. Yang jelasin adalah seorang nci-nci orang Indonesia asli yang udah lama tinggal di situ. Ah, seru deh denger ceritanya biarpun cuma singkat. Kita jadi tau sejarah awal jam kukuk itu kayak gimana, bikinnya gimana, model-modelnya, dll. Sekarang udah lupa semua sih ceritanya, bwahaha..

img_20160913_090134

Abis itu udah deh kami liat-liat jam kukuk di toko itu. Cakep-cakep sih. I always love jam kukuk, tapi ga pernah beli secara mahal dan ga guna pula.

20160912_101947

Tante-Tante tukang jelasin jam kukuk. Penjelasannya enak, bikin jadi ngerti cara pembuatan jam kukuk.

img_20160912_220825

Jam kukuk yang tidak terbeli. Hanya terfoto

20160912_104325

Dari situ kami dikasih waktu bebas untuk keliling dan makan siang. Ya udah gw dan Mama jalan-jalan. Awalnya ke tepi danau dulu, foto-foto. Cantik deh danaunya. Dari situ kami jalan liat-liat toko souvenir sambil cari restoran. Karena ini Jerman, TL recommend banget untuk cobain Pork Knuckle-nya dan karena ini Titisee, tentu saja kami kudu coba Black Forest-nya.

20160912_105425

img_20160912_220703

img_20160912_124002

20160912_110223

20160912_105505

20160912_105932]

20160912_105509

Setelah itu kami jalan terus, cukup jauh sampe’ ujung. Toko-toko souvenirnya menurut gw is the best during our trip kali ini, karena hampir semua jualannya beda. Kalopun sama yah beda tipis lah. Jadi tiap masuk toko pasti nemu barang baru gitu. Dan karena kami dari Swiss kemarin-kemarin, si negara mahal, begitu nyampe Jerman ini pernak-perniknya jadi berasa murah banget. Pokoknya seneng deh nyusurin toko-toko souvenir di sini. Jualan makanannya juga seru-seru. Aneka selai, wine, madu, dll. Beneran menggoda iman banget, Akhirnya gw berhasil bertahan dengan hanya beli magnet Titisee, kaus, dan minuman keras gitu buat mertua. Ngomong-ngomong soal kaus, sama seperti magnet, gw selalu beli satu kaus cowok dari tiap negara. Buat suami sih. Jadi nanti tinggal suruh dia pilih mau yang mana, sisanya buat kakak ipar.

img_20160913_091412

img_20160912_220421

Paling demen sama signage cantik kayak gini

Setelah bergulat ria dengan souvenir, karena waktu makin mepet, akhirnya kami cari makan siang. Tadinya gw sempet liat ada satu papan iklan menu restoran yang menarik gitu, dipajang di tepi jalan. ‘Menarik’ di sini adalah banyak menu pork-nya, bwahaha. Setelah tadi udah sampe’ ujung jalan dan sudah selesai hunting pernak-pernik, baliklah gw dan Mama ke tempat papan iklan tadi, demi ngejar restoran itu (gw sih, tepatnya).

Sampe’ papan iklan menu itu, masuk ke restorannya ternyata jauh lagi ke dalam. Naik-naik tangga lagi. Lumayan rame’ pula, tapi tempatnya enak sih. Sayang view ke danaunya agak jauh.

Setelah dapet seat, langsung kami minta menu, dan.. terhenyak.. Halah semua menunya dalam Bahasa Jerman. Padahal iklan di papan yang tadi kami liat itu pake’ Bahasa Inggris. Ga mungkin kan gw balik lagi ke papan tadi demi ngeliatin menu lagi? Jalannya lumayan jauh. Begonya gw, gw ga minta menu Bahasa Inggris ke mereka. Saking buru-buru kali ya. Akhirnya gw cuma mengira-ngira aja nama menunya berdasarakan urutan standard menu restoran dan harga. Awal kan palingan appetizer ya yang harganya pasti lebih murahan. Terus main course dengan harga lebih tinggi. Jadi gw nyari-nyari di tengah-tengah deh. Begitu gw liat menunya harganya udah mulai agak mahalan baru gw mulai yakin ini udah masuk menu Main Course.

Nah abis itu gw liat ada tulisan platter gitu, buat 2 orang. Waaah gw langsung tertarik. Gw pikir pesen ini aja deh biar gampang. Gw tanya ini ada babinya ga? Orangnya bilang ada. Ada ham, pork, dll. Ah ya udah confirm deh pesen ini. Semoga ga salah pesen. Sayangnya gw lagi bau hari itu, dan harapan gw melayang jauh karena ternyata makanannya bener-bener “so-ga-bisa-dimakan-banget” oleh gw dan Mama. Liat aja sendiri deh. Isinya ham, ham, ham, sayur, buah. Gw dan Mama cuma bisa memandang dengan hampa. Walaupun asli cantik banget tuh makanan, tapi kayaknya kaga bisa dimakan deh.

img_20160912_123223

Akhirnya karena udah pesen, kami coba makan pelan-pelan. Apalagi harganya 24 EUR-an yang berarti 350 ribuan lebih. Hamnya asin banget pula, makannya sengsara banget. Lama-lama gw ga tahan, gw pesen aja satu steak lagi. Pokoknya namanya ada ‘steak’ nya gitu. Gatau steak apaan. Pilihnya yang termurah. Ga lama datanglah steak saya, jreng-jrengggg… Tampilannya yang penting napsuin. Langsung gw habek-habek tuh steak. Kurang enak sih menurut gw tapi yang penting bisa ngenyangin. Ya udah abis itu kami bayar, total 30-an EUR something. Pokoknya hampir 500 ribuan deh. Huhuhuhu..

img_20160913_070811

Steak kecil tipis yang rasanya ga enak-enak banget

Aaaand.. ga sempet nyobain Black Forest apapun juga *terjun dari jurang.

Setelah makan, kami ngumpul di tempat janjian. Karena udah parno mau ke Paris yang notabene superjauh, gw dan Mama cepet-cepet nyari WC. Nyesel kenapa tadi ga pipis di restoran. Akhirnya kami nemu toko es krim. Ya udah beli es krim dulu, terus numpang ke WC, padahal asli udah eneg banget makan es krim.

Abis itu perjalanan lanjut ke Paris, kalo’ ga salah berhenti 2 x deh di rest area. Di rest area pertama, gw cuma ke WC doang karena supermarketnya ga menarik. Ada restoran tapi juga mahal dan makanannya kurang OK. Di rest area kedua, gw beli wine gede buat mertua lagi sama Starbucks Frappuchino yang botol instan gitu. Ah enaknya.

20160915_163917

Selama perjalanan, gw sengaja udah bawa buku Harry Potter lagi buat baca selama di bus. Lumayan banget ngisi waktu selain tidur. Untungnya Eropa kan malem masih terang, jadi masih bisa baca dengan enak.

Sampe’ Paris udah jam 9.45 malam. Hotel kami bentuknya kayak apartment gitu, jadi lumayan, ada kompor listrik, microwave, coffee maker, sendok garpu, dll. OK banget deh. Langsung malem-malem bikin Pop Mie. Maklum baru ngerasain air panas gratis di hari ketiga ini. Abis itu mandi terus tidur.

20160913_090814

20160912_215454

20160912_222025

20160912_222018

20160912_222038

20160912_222046

Bersambung ke postingan selanjutnya.

HARI 2

Lanjutan dari postingan sebelumnya di sini

Pagi hari Anda akan berkesempatan mengunjungi Mt. Titlis, pegunungan yang memiliki ketinggian 10.000 kaki dengan melalui Engelberg, tempat stasiun Cable Car berada. Tiba di Puncak Mt. Titlis dengan Revolving Cable Car (kereta gantung berputar pertama didunia). Dipuncak Mt. Titlis, Anda dapat bermain salju, berfoto atau berbelanja aneka souvenir serta mengunjungi Ice Grotto (Goa Es). Kemudian kita akan menuju kota Lucerne untuk mengunjungi Lion Monument, yang di dedikasikan kepada tentara yang gugur di Perang Revolusi Perancis.

Bangun dengan terkantuk-kantuk karena ga bisa tidur, terus mandi dan breakfast. Breakfastnya standard aja tapi masih lumayan variasi deh. Ada scrambled egg, sosis, pancake dll.

Rute hari ini adalah menuju desa Engelberg untuk selanjutnya naik cable car ke Mt. Titlis, salah satu gunung salju terkenal di Swiss. Kalo’ ga salah ada beberapa gunung yang biasanya dijadikan objek wisata di Swiss ini. Mt. Titlis, Glacier 3000, Jungfrau, sama Matterhorn, gunung yang ada di bungkus cokelat Toblerone.

Pagi ini gw sengaja pake long john buat antisipasi aja karena katanya suhu di atas bisa 0 – 5 derajat. Plus ga lupa bawa 1 light jacket.

Perjalanan sekitar 45 menitan ke Engelberg. Pemandangannya lumayan cantik dalam perjalanan. Ada danau cantik yang warnanya intense banget.

20160911_102307

Turun dari bus, pemandangan udah lumayan cakep sih, gunung batu yang shadowingnya bagus banget, di atas barisan rapat pohon-pohon hijau. Suhunya juga enak. Cable car udah mulai keliatan naik turun. Sambil foto-foto, kami nunggu 1 rombongan peserta yang baru nyusul hari ini karena ada tante yang baru keluar rumah sakit. Setelah cukup lama nunggu, akhirnya rombongan tsb. datang dan baru deh kami masuk bareng-bareng ke stasiun cable car-nya.

20160911_102442

20160911_104244

20160911_104343

20160911_104014

20160911_104956

Boneka ga penting yang entah kenapa tetep perlu difoto dan ditampilkan

20160911_103148

Kami akan naik 2 x cable car yang berbeda, dengan sekuens yang berbeda pula. Cable car pertama cukup kecil, untuk ukuran 4-6 orang saja. Naik ke atas dengan cable car pertama sekitar 15 menitan dengan pemandangan (lebih banyak) hehijauan, kami akan ngelewatin 1 stasiun (ga turun karena memang tujuannya ga ke situ) dan baru turun di stasiun kedua. Stasiun pertama itu lebih untuk resort tempat tinggal dan tempat main ski. Di perjalanan, selama di cable car pertama, kami bingung kok ada kayak bunyi kecapi or gamelan gitu di dalam cable car nya. Gw mendadak baru inget (pernah baca) bahwa itu adalah bunyi klenengan sapi.

dscn7266

dscn7267

dscn7281

20160911_102145

dscn7280

20160911_141624

20160911_100813

dscn7291

20160911_135548

img_20160911_164043

Di stasiun kedua kami turun dan berganti naik revolving cable car/cable car yang bisa muter dan muat orang banyak banget, sampe’ puluhan orang. Ini ga ada kursinya, jadi semua harus berdiri. Dindingnya kaca semua jadi bisa bebas liat view ke pegunungan. Viewnya lumayan sih tapi ga impressive menurut gw. Di sini mulai saljunya kelihatan. Jadi putih lebih mendominasi.

dscn7311

20160911_130021

20160911_135943

dscn7317

dscn7319

20160911_135514

Akhirnya kami tiba di pemberhentian akhir yang merupakan satu bangunan kayu (semacam rumah) yang terdiri dari beberapa tingkat. Tiap tingkat beda-beda, ada restoran, tempat foto dengan baju tradisional Swiss, toko oleh-oleh, gua es, dan puncaknya di tingkat paling atas adalah outdoor tempat main salju atau main ski.

dscn7325

Mumpung belum terlalu ramai, kami mutusin untuk makan dulu di restoran self service. Tempatnya cukup nice, dengan lantai kayu dan jendela super gede tempat kita bisa melihat pemandangaan salju di luar. Masih agak pagi, tapi restorannya udah mulai crowded dengan para turis.

dscn7328

20160911_121022

Selain western food, ada makanan India juga loh di sini. Gw pernah baca bahwa ada orang India yang punya resort di Mt. Titlis ini, sehingga ‘masuk’ jugalah makanan India. Mama pesan spaghetti biasa, sementara gw pesen makanan India yang kebanyakan terdiri dari kuah-kuah kental khas India yang super sedap. Untuk makanan India, makanannya ditimbang dulu, baru dicharge sesuai beratnya. Sepiring makanan India gw itu harganya EUR 12.5. Hampir 200 ribuan deh. Makanan Mama kayaknya lebih mahal, tapi gw lupa berapa. Everything’s expensive here in Switzerland.

20160911_120931

Spaghetti yang sangat biasa rasa dan tampilannya

20160911_120929

Ini enak banget. Kuahnya sedep pula. Seinget gw habis dalam tempo waktu less than 5 minutes.

20160911_121008

20160911_121037

Bangkunya gambar-gambar binatang ^^

Setelah cari bangku kami duduk dan makan. Makanan India punya gw lumayan enak loh. Cepet banget abisnya, saking lapar, doyan dan enak. Spaghetti punya Mama bisa dibilang ga enak.

Ga lama setelah makan, gw dan Mama langsung naik ke lantai tertinggi untuk liat salju. Begitu buka pintu, kami disambut hawa dingin dan pemandangan serba putih. Ada deretan bangku-bangku dulu tempat orang bisa duduk. Kiri kanan sekelilingnya ada semacam pagar tinggi sebagai batas, dimana kita bisa liat open view dari situ. Jalan jauhan dikit, langsung terbentang salju putih. Ada jembatan pula yang katanya lumayan sereem (kata peserta lain). Apesnya, karena gw pake boat yang somehow alasnya licin, gw lumayan setengah mati jalan di atas salju. Hampir tiap langkah gw nyaris kepeleset, sementara gw perhatiin orang lain fine-fine aja. Kayaknya memang sol sepatu gw yang kurang cocok digunakan di atas salju. Berasa pengen nyeker aja jadinya.

dscn7336

dscn7337

20160911_122834

20160911_123021

20160911_123220

Selfie dulu karena celingak-celinguk ga nemu temen sesama tour untuk minta tolong fotoin.

img_20160911_164244

20160911_123019

dscn7331

Ya udah akhirnya gw ga berani jalan jauh. Cuma foto-foto dikit aja, abis itu balik dan liat-liat pemandangan. Hirup udara dalem-dalem, nikmatin segernya hawa pegunungan. Suhu ternyata ga gitu dingin juga. Adem aja gitu kayak di Bandung. Untung ga heboh pake winter coat segala (walaupun udah bawa di koper, hasil malak cici).

Sambil gw jalan-jalan di salju tadi, Mama duduk aja di kursi-kursi di deket sana dan malah di-pedekate-in sama beberapa orang rombongan turis dari Taiwan dan China. Gw dari jauh udah ngawasin aja sih. Agak-agak worried ya, takut si Mama diapa-apain, plus ngiri juga, gw yang kece gini aja ga ada yang pedekate-in, eeeh Mama yang udah tua-tua keladi malah laku pisan.

Akhirnya cepet-cepet gw samperin mereka dengan langkah gagah dan galak. Ternyata mereka lagi ngobrol-ngobrol heboh pake’ bahasa Mandarin (yang tidak gw mengerti) dan Mama lagi diramal tangannya (katanya Mama orangnya beruntung, nasib baik, anak-anak baik, dll. -> diterjemahkan dengan bangga oleh Mama). Halahh.. Gw masih agak curigaan sih, tapi dipikir-pikir sepertinya ga mungkin ada modus apa-apa sih secara mereka satu rombongan tour juga dari negeri lain, sama kayak kami-kami. Ya udah gw cuma liatin aja sambil terus lirik-lirik tangan-tangan mereka, siapa tau ada yang mendadak-copet. Soalnya aneh aja gitu, kok bisa semua ‘ngeroyok’ Mama yang tadinya lagi duduk manis-manis sambil nunggu anaknya yang juga manis.

Akhirnya ga lama-lama juga sih di situ karena ga ada aktivitas yang dilakukan juga secara sepatu gw licin dan ga bisa mainan salju. Kerjaan selanjutnya adalah explore lantai demi lantai di bangunan itu. Buntut-buntutnya kami pesan es krim Movenpick seharga 3.8 CHF.

20160911_131258

Es Krim Movenpick. Rasa? Biasa banget.

Habis makan es krim (yang rasanya biasa banget, beda banget sama es Italy kemarin), Mama belanja dark chocolate di toko cokelat (iyalah ya, masa belanja cokelat di toko semen). Gw absen belanja cokelat di situ karena kata TL cokelat lebih murah dan banyak di Belgia nanti. Mamanya loyar, anaknya pelit.

Setelah itu, kami ke toko souvenir liat-liat, dan gw mampir ke goa es di lantai dasar. Lagi-lagi gw ga bisa jalan karena sepatu yang licin, dan baru beberapa langkah masuk goa es, gw nyerah dan jalan balik lagi.

dscn7344

Terakhir sebelum kami ngumpul untuk berangkat, gw ke lantai tertinggi lagi untuk once more captured the view di sana, sekalian farewell gitu. Gw mah orangnya romantis. Lahap deh tuh semua, salju everywhere yang seolah nyatu sama awan dengan langit biru yang juga seolah ga mau kalah, pingin ikutan exist; danau cantik warna biru turqoise yang kecil tapi berusaha banget eye-catching di kejauhan sana, pepohonan hijau menjulang gagah dan cable car jalan anggun bolak-balik under seutas tali yang meragukan banget. What a nice view, walaupun not the best one.

20160911_122947

dscn7323

20160911_130148

20160911_124518

20160911_122730

20160911_122917

20160911_125257

dscn7338

Habis itu gw ke WC untuk copotin long john karena setelah ini kami bakalan ‘turun gunung’ dan ngunjungin kota lain di Swiss, yaitu Lucerne or Luzern.

Baliknya kami naik cable car yang sama lagi, 2 kali. Pemandangannya masih lumayan bagus dan free kabut.

dscn7302

dscn7329

20160911_140826

dscn7322

20160911_142316

Naik bus, setelah itu kami lanjutin perjalanan sekitar 1 jam-an ke Lucerne. Sampai sana kami diturunin di satu area pertokoan, kayaknya si pusat kotanya Lucerne ya, semacam Old Town nya. Toko pertama yang kami masuki adalah Casa Grande, toko souvenir. Di sini gw cuma belanja magnet dan pisau Victorinox buat adik, plus numpang pipis. Banyak dijual jam kukuk di sini, tapi rasanya ga guna ya beli jam kukuk biarpun jamnya cantik-cantik banget.

20160911_152757

Gambar ga penting tapi too cute to be ignored

20160911_153146

Habis ke Casa Grande, kami masuk lebih dalam lagi ke lorong-lorong toko di situ. Karena hari itu hari Minggu, hampir sebagian besar toko di tutup. Di Eropa emang gitu. Jalan-jalan-jalan, Mama kepo mau liat-liat toko jam, Tissot and Tag Heuer. Nyaris gw mau beli juga, battling between heart and mind. Sayang akhirnya akal sehat yang menang. Walaupun hati gw yang ngebet ini mati-matian bilang, “Gw sudah lama banget ga beli jam bagus..”, akhirnya tetep loh my mind kekeuh bilang bahwa gw saat ini gak butuh jam. Biarpun itu jam bagus. Apalagi jam jelek. And I nodded dengan berat badan. Eh berat hati. Well, my mind is true. Biarpun gw tahu beli di sini lebih murah dan belum tentu keulang lagi bisa beli dengan harga cheaper, akhirnya toh tetep ga beli jam tangan itu. I won. Horrayyyy.. *padahal hati nyesek.

20160911_152715

View kota Lucerne

20160911_152338

Abis itu kami nemu satu café dan numpang duduk plus makan di situ. Biasa aja sih makanannya; satu pizza, satu cake manis dan satu roti. Semua mahal, inget itu. Mama minum Aqua botol hasil bawa dari hotel, eh ketahuan dan langsung ditegur sama pelayannya. Ih mata elang betina banget wanita ini. Ya udah abis itu kita ga berani minum dan keluar dari café itu langsung habek-habek air Aquanya dengan buas.

20160911_163251

20160911_162742

Habis makan kami mampir ke satu toko gede Bucherer yang isinya jam tangan semua kebanyakan, untuk tukerin 1 kupon yang dikasih sama TL kami dengan sebuah sendok perak gitu. Sendoknya kecil aja sih, tapi namanya gratisan, apa daya, kami tak bisa tahan.

20160911_174233

Habis ke Bucherer, karena masih ada waktu, gw ajak Mama nyebrang jalan dikit dan liat-liat danau di situ. Banyak orang lagi duduk-duduk ataupun jalan-jalan di sana. Viewnya biasa aja sih, cuma menyenangkan aja suasananya. Rileks, santai, sangat tourisy. Rasanya ga ada ya spot macam gini di Jakarta. Di situ gw dan Mama beli es krim lagi. Ini kedua kali beli es krim hari itu, dan rasanya udah mulai eneg makan es krim. Terus coba cari WIFi, eh hoki, nemu.. sambil coba main Pokemon deh, tapi karena Pokemon-nya butut semua, akhirnya gw mogok main lagi.

20160911_172647

20160911_172734

20160911_171428

Ga lama kemudian kami balik ke tempat janjian, terus jalan kaki ke objek wisata berikutnya, yakni Lion Monument. Gw baca sendiri sih sejarahnya via internet. Patung singa berwajah sedih dengan tombak tertusuk di badannya ini adalah untuk mengenang jasa para tentara bayaran Swiss yang mati ngelindungin kerajaan Perancis. Jadi jaman dulu ternyata memang di Swiss ada yang namanya tentara bayaran yang di-hire oleh negara-negara lain. Tentara ini dilatih oleh keluarga bangsawan, sebagai sumber income gitu. Kenapa perjuangan para tentara bayaran ini patut dikenang sampe’ dibikinin monumen segala? Ya bayangin aja itu tentara Swiss kan bisa dibilang cuma ‘belain’ negara lain, bukan negaranya sendiri, tapi mereka mau loh bener-bener dedicated nyawanya sendiri buat negara lain. Itu yang namanya commitment and loyalty kali ya. Monumennya sih sederhana aja gitu, tapi sizenya gede. Kalo’ liat tampang singanya emang berasa sedih dan miris banget sih. I meant, muka singanya itu udah bicara banyak, more than words. Biarpun semua orang ngerasa ga guna ngunjungin ni patung, tetep aja gw seneng bisa jadi someone yang ikutan ngenang sejarah luar biasa ini. Berasa I was the part of the history, menurut gw.

img_20160913_071309

Udah deh habis ke Lion Monument, kami balik ke hotel.

Balik hotel (masih hotel yang sama), handuk semua ga ada dan ga diganti baru. Langsung deh call ke housekeeping dan minta handuk baru. Orangnya bilang, “Did you order a new towel?” Well nggak sih, tapi ini handuk yang lama aja juga ga ada. Untung orangnya ga banyak cingcong, ga lama diambilin lah handuk baru.

Untuk dinner kali ini gw dan Mama bikin Pop Mie gitu. Inget kan kalo’ di hotel ini ga bisa bikin air panas? Akhirnya gw dan Mama turun ke bawah untuk beli air panas. Kata peserta lain yang kemarin udah beli sih kita akan dikasih sepoci air panas. Sampe’ restoran di bawah, kami malah ditolak dan disuruh ke bar. Jalanlah ke bar untuk minta air panas. Bartendernya bilang, kami harus bawa wadah. Waduh bingung juga ya, wadah apaan. Akhirnya gw naik lagi, prepare langsung Pop Mie nya dan bawa 2 Pop Mie itu turun ke bar. Maksudnya air panasnya mau langsung dituang aja ke Pop Mie-nya. Bartendernya kelihatan kurang seneng sih, tapi akhirnya dia tuangin air panas ke masing-masing Pop Mie itu. Pas gw mau bayar, dia sempet mikir sebentar, terus dia nolak. Iiiih jutek-jutek tapi baik juga. Cium juga lo..

Pas gw jalan balik ke kamar, rombongan peserta tour lain ada yang jalan ke bar, bawa Pop Mie juga, hihihhi.. Pasti minta air panas juga. Ga kebayang deh, pasti si bartender agak bete.

Di kamar, pas mau makan Pop Mie, kami baru ngeh bahwa ternyata tuh Pop Mie ga dikasih garpu plastiknya. Kayaknya emang ga ada deh di paketan Pop Mie itu. Waduh langsung deh muter otak gimana cara makan Pop Mienya. Kalo’ minjem sendok garpu ke restoran rasanya sih males banget ya, mengingat ni hotel kayaknya ga terlalu user friendly gitu. Mikir punya mikir, tau-tau si Mama keingetan bahwa tadi di Bucherer kita dapet souvenir sendok silver kecil. Hoaaaa.. berasa bego banget dan ‘kalah’ sama Mama untuk problem solving, bwahaha.. Siapa dulu dong anaknya..

20160911_195826

Akhirnya cepet-cepet kami cuci tuh sendok, terus makan deh Pop Mie nya pake sendok itu. Tetep aja susah sih, tapi at least mendingan lah bisa makan.

Abis makan lagsung mandi terus tidur. Kayaknya ga gitu bisa tidur lagi deh malam itu.

Bersambung ke sini.

Background :

Dari sejak hamil sampe’ lahiran gw ga pernah travelling jauh lagi, padahal biasanya setaun diusahain minimal sekali travelling jarak jauh. Emang susah ya kalo’ terlahir gila jalan. Awal taun ada sih Bangkok sama family, terus ke Singapore urusan kantor sama beberapa domestic travelling, tapi kayaknya belum nampol, nendang, dan afdol kalo’ belum terlalu jauh (blagu). Plus Aimee ‘baru’ 9 bulan, I meant kayaknya masih bisa ditinggal tanpa anaknya berasa ditinggal. Kalo’ udah gedean kan dia bisa nangis bombay nyariin emaknya karena udah tau ditinggal (*emaknya pede banget bakal dicariin sama anaknya).

Mengapa ke West Europe?

Karena tour yang dimau ga jalan dan hanya tour West Europe ini yang jalan di waktu yang dimau.

Mengapa hanya 8 hari?

* Karena ga bisa cuti lama-lama. Ini aja udah minus.
* Karena kalo’ lama-lama ya harganya pasti meroket juga.
* Kalo’ lama-lama takut ga pingin balik lagi.
* Yang terakhir dan most importantly, karena ada 1 makhluk mungil bin lucu nan cute di rumah, menanti emaknya pulang.

Kenapa pergi sama Mama?

* Pengennya sih sama suami, tapi Aimee kayaknya ga mungkin ditinggal bapak-emaknya sekaligus. Bisa patah arang dia.
* Pengen yang kedua adalah pengen pergi sendiri, tapi jujur belum berani and pasti ga dikasih suami, sementara kalo ikutan tour, pergi sendiri itu jauh lebih mahal. Bisa nambah 5-7 juta (why oh why!!!)
* Akhirnya ajak Mama pergi d karena Mama adalah yang paling available tiap diajak pergi.

Kenapa ikutan tour?

Karena ajak Mama. Kalo’ jalan sendiri rasanya susah ajak Mama. Belum nyasar-nyasarnya dll. Bisa-bisa Mama langsung ngambek naik gojek balik Jakarta.

Overall tahapan tour ini :

1. Terima email iklan tour Yunani dari Chan Brothers. Tanggalnya pas pula, pas ada libur hari merah tgl. 12 Sept (Senin) sehingga cutinya ga usah terlalu banyak.
2. Kalap dong, langsung daftar and ajak Mama, sambil paralel minta ijin suami. Melas-melas, bujuk-rayu (ga mempan), sampe’ akhirnya on my birthday karena udah hopeless, langsung nodong dia, minta kado berupa ijin untuk pergi, and… BERHASIL (biarpun suami cemberutnya sempurna)!! Yeeeeay pinter ya gw!! Jadi-jadi, para bini, kalo’ mau pergi tanpa suami, pergilah deket-deket waktu ulang tahun kalian, HOAHAHHA..
3. Coba apply cuti juga. Nunggu mood Boss bagus, kemudian dengan muka polos ceria langsung ijin mau cuti 4 ari. It worked!
4. Menerima kabar dukacita bahwa Yunani ga kekumpul peserta. Sedih dan putus asa; langsung banting stir cari tour lain di periode tanggal yang sama karena spirit travelling sudah membara dan on air banget. Sehari-hari merangkap jadi HR / tour hunter di kantor, sampe’ missed lunch berkali-kali karena sibuk browsing and neleponin tour agency. Semoga tagihan telepon kantor ga bengkak.
5. Nemu 1 tour India yang pasti jalan. Eeeh Mama nolak mentah-mentah, padahal jarang-jarang loh tour India jalan di low season gini.
6. Hunting lagi, nemu 1 tour West Europe yang juga pasti jalan. The one and the only one yang tanggalnya juga pas dan harga ga mahal-mahal banget. Dwidaya Tour lagi, yang notabene lumayan lah namanya. Ya udah cepet-cepet daftar deh daripada ga ada dan ga bisa travelling. Padahal sebenernya ga terlalu napsu ke West Europe.
7. Cepet-cepet siapin dokumen karena waktu pergi tinggal 2.5 minggu lagi. Bikin pas photo, minta bank reference, dll. Untung karena udah pernah ada visa Schengen sebelumnya, proses visa yang sekarang lebih cepet. Ga usah pake’ ke kedutaan lagi u/ fingerprint dll. 3 hari dari document submission, visa udah jadi. Cepet banget! Anyway baru ngeh kalo’ sekarang bikin visa Schengen-nya ternyata via third party / agen (namanya TLS).
8. Begitu granted visa, langsung mulai browsing-browsing destinasinya, hotel, dll. Sehari-hari merangkap jadi HR / West Europe browser di kantor. Baru mulai semangat untuk jalan ke West Europe.

Sekian prosesnya.

Persiapan sendiri standard aja sih. Prepare koper seminggu sebelumnya. Pinjem banyak ini itu sama cici, mulai dari botol-botol kosong, kaus kaki, receh Euro, coat, topi, sarung tangan, dan entah apalagi. Gw adalah orang yang sangat bermodal; doyan travelling tapi sometimes ga punya essential stuff buat travelling, dan… ga berasa malu atas hal tersebut. Yippiiii..

Hari H berangkat (Jum’at 13 Sept), gw ke kantor dulu dan ijin pulang pagian jam 3-an ke rumah Mama. Jadi jalan ke airportnya langsung dari rumah Mama, barengan sama Mama. Pagi-pagi, Aimee udah ikut nganter gw ke kantor sekalian ‘perpisahan’. Ih, berasa sedih banget loh ninggalin bocah satu ini. Pas udah mau turun di lobby kantor sampe’ bercucuran air mata gendong dia, sumprit. Drama banget sih, tapi asli berasa kehilangan banget dan ngerasa jahat banget karena tega ninggalin dia. Terus di WC kantor lanjut nangis lagi sesengukan sambil menyemangati diri bahwa it’ll be only 8 days (*heran, kalo’ ninggalin suami ga sedih sama sekali yah bwahaha..)

Sore jalan ke airport diantar sama koko. Telat hampir 1 jam karena bloody traffic via Kota. Nyampe’ langsung kenalan sama tour leader, check-in, imigrasi, dan nunggu sambil baca Harry Potter yang baru dibeli. Bela-belain bawa berat-berat tuh buku karena ga tahan mau cepet baca. Jam 8-an malem boarding dan 8.30 take off. Pesawat Turkish Airlines. Anyway sebel juga, tiap x pergi jauh gini pasti dapet pesawatnya Turkish. Padahal pengen d cobain Emirates or Qatar. Hmmmh ini pasti pertanda ilahi bahwa gw harus travelling lagi, supaya bisa cobain 2 pesawat itu BWAHAHA..

Perjalanan sekian belas jam sampe’ Istanbul (subuh), terus transit bentar di sana and lanjut lagi ke Milan sekitar 2.5 – 3 jaman. Transit di Istanbul Mama langsung beli kurma dan gw langsung cuci muka + pake’ hardlense. Ga lama kemudian, kami langsung boarding and take off lagi ke Milan. Kerjaan di pesawat standard aja sih : nonton. makan. tidur. ke wc. mikirin Aimee.

20160910_083305

Sampe’ airport Milan, imigrasinya lancar dan sepi. Begitu koper keluar, Mama langsung heboh nyariin obat di koper. Sibuklah kami bongkar koper Mama demi nyariin obat. Lumayan bikin naik darah dan ga sabaran sih karena ga enak sama peserta tour lain yang nungguin. Why oh why, Mama ga bawa obatnya di tasnya ajahhh??

20160910_093045

20160910_094758

20160910_093001

Setelah itu (obatnya tetep ga ketemu) kami naik ke bus dan berangkat ke kawasan Duomo di pusat kota Milan. Pertama-tama kami lihat Le Scala Theatre. Sesuai namanya, ini adalah tempat nonton teater. Cuma lihat dari depan aja sih.Bentuk bangunannya sendiri biasa aja, ga terlalu banyak detail ini itu.

20160910_141803

Bus kami sepanjang trip West Europe ini

dscn7237

 

 

dscn7239

dscn7238

Setelah itu kami jalan dikit dan masuk ke Gallerie Vittorio Emanuelle, kayak indoor mall branded gitu di Milan dengan design kubah cantik dan arsitektur keren.

dscn7242

img_20160910_212954

20160910_110059

20160910_110337

20160910_123131

20160910_134609

Selain itu, di Kompleks Duomo ini ada juga Milan Cathedral, gereja yang ga kalah cantiknya. .

img_20160910_212657

Ngomong-ngomong soal Milan Cathedral yang merupakan gereja terbesar ke-4 (sedunia kalo’ ga salah), gw pikir kita bakalan masuk ke dalam katedralnya, kayak tour-tour biasa, and ternyata.. nggak masuk sama sekali!! Miris banget rasanya. Yah intinya kami dilepas di kompleks itu untuk foto-foto, belanja, makan siang, dan keliling-keliling. Kalo’ mau masuk ke katedralnya ya boleh aja sih, tapi bayar sendiri, antri sendiri. It’s excluded from the tour. Gw sampe’ baca ulang lagi itinerarynya, apakah wordingnya kira-kira maknanya sejenis “… kita akan memasuki Milan Cathedral..” tapi memang wordingnya ‘licik’ sih :

Hari ini Anda tiba di Milan Anda akan diajak city tour menikmati keindahan kota Milan dengan mengunjungi/melewati sebuah gereja bergaya Gothic yang dibangun pada tahun 1813, Milan Cathedral, La Scala Theatre salah satu gedung opera yang terkenal di Eropa, Galleria Vittorio Emanuele II yang sering disebut “The Living Room of Milan” atau tempat tinggal orang Milan yang letaknya berdekatan dengan Milan Cathedral. Tak ketinggalan berjalan-jalan sambil berbelanja di kawasan Duomo, tempat yang terletak di pusat kota Milan ini terkenal dengan fashionnya. Menuju Zurich untuk bermalam

KUNYUKKKKK!!!

Jadi sedikit info soal tournya, tour yang gw ikutin ini adalah tour ‘flexible’ yang notabene lunch and dinner dicover sendiri oleh peserta alias ga dapet makan. Juga ga ada local guide sama sekali (cuma tour leader dari Jakarta). Jadi beneran cuma tour jalan-jalan aja sih sebenernya. Makanya harganya murah pisan.

Jadi aktivitas gw selama di Kompleks Duomo ini :

Pas di Gallerie Vittorio Emanuelle (mall kecil) :

* Melahap puas-puas view kubah serta dinding cantik Galerie Vittorio Emanuelle. Plus foto-foto pastinya. Impressive banget!

img_20160910_202724

* Makan siang di McDonald. 1 paket burger-kentang-Coke sekitar 5 EUR (note : 1 EUR anggap aja IDR 15,000). Di McD ini juga kita bisa numpang ke toilet dengan gratis, beda dengan public toilet kebanyakan yang biasanya requires us untuk bayar 0.5 atau 1 EUR.

20160910_113403
* Gw juga baru inget bahwa di sekitar Gallerie Vittorio Emanuelle sini katanya ada satu cemilan yang terkenal yang namanya Luini. Langsung deh google-google pake’ wifi gratisan yang mati-idup-mati-idup di situ dan akhirnya berhasil nemu tempatnya. Sesuai yang ditulis di internet, antriannya panjang banget, tapi cepet. Jadi akhirnya gw ikutan ngantri. Dari sekian banyak menu, gw pilih Ham & Mozarella atau semacam itu deh, dan rasanya.. asli ga enak banget. Tapi melihat betapa populernya ni tempat, pasti lidah gw yang salah, bukan rotinya. Anggap aja ga cocok taste-nya or mungkin gw harusnya milih menu yang lain. Anyway harganya murah-murah aja, 2.7 EUR.

20160910_125311

20160910_125910

* Masuk toko-toko branded (ga banyak sih. Ada Prada, Versace, dll.), muter sekali, terus keluar lagi. Polanya gitu terus untuk semua toko.

20160910_110157

20160910_134558

* Beli es krim Savini yang sumprit enak banget. Letaknya agak nyudut jadi harus fully-aware supaya ga kelewatan. Gw beli yang rasa tiramitsu sama satu rasa lagi, asal tunjuk doang karena ga ngerti judul rasanya yang pake’ Bahasa Italy. Apapun itu, itu es krim paling enak sepanjang trip waktu itu. Es nya lembut dan ringan banget, ga bikin kenyang. Es krim 2 rasa gini harganya 4 EUR.

20160910_123520

20160910_124136

* Liat-liat orang muter di atas lantai bergambarkan banteng yang katanya dilakukan supaya kita bisa balik lagi kelak ke Milan atau untuk best luck, which I don’t believe at all. Males pula jalan-jalan muterin banteng ga jelas itu dan harus rebutan sama antrian banyak orang, jadinya gw cuma nontonin mereka muter-muter gitu. Ga menarik, tapi boleh juga untuk ngabisin waktu.

20160910_133857

Di luar Gallerie Vittorio Emanuelle :

* Ke toko souvenir, beli kaus dan beli kartu pos lucu, terus langsung ditulisin dan dikirim ke Jakarta buat Aimee pake prangko 5 EUR. NB : Sampe’ sekarang, 22 September 2016, kartu posnya belum nyampe rumah (dikirimnya tgl. 10 September 2016). Kayaknya prangko gw kedikitan.
* Nikmatin view katedral (dari luar ya, catat.. dari luar)
* Jalan ke sisi luar, masuk ke H&M, liat-liat. Ga nemu apapun yang menarik, jadi keluar lagi. Cuma ngadem doang sebenernya.

20160910_111818

20160910_111342

20160910_111836

Di Milan lagi lumayan panas dan terik. Kalo’ ga salah suhu 31 derajatan, dan seperti biasa TL udah ngingetin untuk be very careful dengan para copet di Eropa, terutama Milan dan Italy. Anyway intermezzo aja, kata TL, orang Italy anti sama Starbucks. “It’s like we drink a mineral water,” kata mereka. Pokoknya Starbucks dianggap ‘rendahan’ banget deh, beda sama kopi asli mereka.

Jadi, di Milan intinya kami cuma ke kompleks ini aja sih. Ga ada ke markas AC Milan or Intermilan. Untung gw memang not a fans jadi kayaknya biasa-biasa aja, sementara ada peserta lain yang ngarep-ngarep bisa ke situ.

Udah deh setelah 2.5 jam-an, kami ngumpul lagi, terus dikasitau bahwa kami bakal lanjutin perjalanan ke Swiss, tepatnya ke kota Zurich, kurang lebih 4,5 jam. Begitu denger gini, langsung rombongan bubar lagi karena semuanya mau ke toilet dulu dan toilet gratis adalah di McD yang notabene lumayan juga jalannya dari tempat ngumpul. Akhirnya perjalanan ngaret sekitar 20 menitan.

Ya udah abis itu naiklah kami ke bus dan jalan 4.5 jam. Lumayan cobaan dan ujian buat both pantat dan kesabaran. Macet pula. Untungnya di tengah jalan seperti biasa kami stop dulu di rest area. Rest area ini setau gw udah masuk di Swiss deh. Di rest area ini ada toilet stop sama supermarket buat belanja-belanja. Gw beli beberapa roti buat nyemil di bus sambil nunggu dinner nanti. Karena waktu itu udah sore menjelang malam, gw juga coba cek ke Tour Leader (selanjutnya akan disingkat TL), apakah nanti di sekitar hotel banyak tempat makan, karena gw curiga di sana akan gersang makanan secara hotelnya deket airport Swiss. Bener aja, kata TL ga ada sama sekali (!!!). Hix, kenapa ga dikasitau dari awal ya? Ini nanya baru dikasitau. Coba kalo’ ga nanya, bisa-bisa nanti kita harus dinner di hotel semua karena ga ada resto di sekitar situ.

Langsung deh buru-buru gw and Mama belanja sekalian buat dinner juga di supermarket itu. Untungnya ada restoran juga. Cuma karena waktunya terbatas, akhirnya kami cuma take away aja. Take awaynya simple aja : 1 lasagna sama 1 nasi-ayam-kentang. Dua item. Harganya 31.9 EUR alias hampir IDR 450,000. Duh nyeseknya itu sampe’ bertahan konsisten mangkal terus di ati sampe’ beberapa malam. Ga worth it banget, tapi memang we didn’t have any choice sih. Gw kayaknya ga bisa deh dinner cuma roti-roti doang. Mesti makan berat gitu, dan resikonya yah seperti ini. IDR 450,000. Nangis darah deh, secara siangnya gw baru seneng-seneng karena bisa nahan diri ga belanja aneh-aneh dan duit masih lumayan utuh. Dua porsi makan siang ini bener-bener menguras kantong sekaligus air mata.

Abis itu perjalanan lanjut lagi, dan pemandangan mulai berubah jadi cantik banget dengan danau raksasa yang selalu terpampang di setiap belokan yang kami lalui. Menghibur banget setelah pengalaman beli makanan yang bikin eneg tadi. Gw sempet tanya ini danau apa sih ke TL, tapi gw lupa namanya. Sikokon kalo’ ga salah deh. Cantiiiik banget danaunya. Bener-bener represent Swiss banget.

img_20160910_212255

20160910_191701

View cantik during our way to Swiss

20160910_191524

Danau cantik during our way to Swiss (*lupa namanya)

Sampe’ hotel di Zurich (Dorint Airport Hotel), jam udah sekitar 9 an malam. Langsung deh check-in kamar dan beres-beres. Baru mau buka koper, TL telepon dari receptionist, meminta gw tuker kamar sama 1 peserta tour yang lagi honeymoon karena ranjang di kamar gw itu queen, bukan twin. Ya sudah beberes koper lagi terus pindah kamar. Kamar gw and Mama sekarang ranjangnya jadinya twin. Gw dan Mama dipisahkan secara kejam, bwahahah.. *halah..

20160910_203404

20160910_203433

20160910_203432

Kamarnya sendiri OK sih menurut gw. Hotelnya juga bagus-bagus aja. Karena memang hotelnya di deket airport, di lobby ada papan flight schedule airport yang terupdate tiap beberapa waktu. Informatif banget ya.. Papan jadwal kedatangan bus di halte busway Jakarta mah boro-boro update tuh informasinya.

20160911_085010

Dorint Hotel Lobby

20160911_085047

Sapi merah trademark Hotel Dorint dengan background flight schedule board

Info lain : colokan sama-sama aja kayak Jakarta. Wifi free dan cepet. Sayangnya di kamar ga ada pemanas air/coffee maker sama sekali. Jadi kalo’ mau masak air, harus minta air panas ke restoran di bawah dan… bayar 2 CHF (duit Swiss). Oh iya di Swiss memang bisa pake’ Euro, tapi sebagian besar transaksi masih dilakukan dengan mata uang mereka sendiri yakni CHF. Masih eksklusif gitu. Rate CHF sekitar IDR 13 ribuan. Mirip-mirip lah sama EUR. Duit serasa ga ada artinya T_T

Abis beberes, kami langsung makan makanan yang dibeli di supermarket (yang harganya amit-amit itu loh.. inget kan?). Ni makanan taste-nya biasa banget, jadi makannya makin sakit ati. Udah gitu si Mama bilang dia kenyang pula karena makan roti di bus tadi. Haduh!! Tau gitu beli satu porsi aja dinnernya. Sakit ati makin nyut-nyutan deh. Karena Mama merasa bersalah akhirnya dia ikutan nyomot-nyomot ayamnya juga, tapi langsung ngoceh-ngoceh karena katanya ayamnya ga bersih, masih banyak darahnya. Waduh, speechless deh.

20160910_210933

Dua porsi makanan seharga 450,000 rupiah (kiri : lasagna; kanan : nasi ayam kentang). Rasa lumayan.

Setelah itu tidurlah kami. Gw langsung pules, tapi jam 3-an kebangun dan ga bisa tidur lagi sampe’ pagi. Untungnya di Jakarta udah pagi (selisih waktunya 5 jam duluan di Jakarta) sehingga bisa whatsapp-an dan video call sama my Aimee.

Bersambung ke sini

Seperti tahun-tahun sebelumnya, it’s the time for family holiday karena semua keponakan saya sudah mulai libur.

Plan tahun ini agak bergejolak karena penuh perubahan, keraguan, dan kemendadakan dari berbagai pihak terkait.

Saya : Harus beberapa minggu terus-menerus membujuk dan menunggu persetujuan suami dan boss. Ninggalin anak yang masih bayi di rumah sama suami memang bukan perkara gampang. Ngerasa bersalah banget pergi ninggalin mereka dan ngerepotin semua orang sementara I’m having fun outside, but finally we manage to settle it down dan ijin suami pun keluar biarpun dengan setengah hati (hati dia maksudnya, bukan hati saya :p).

Cici kedua : Berkali-kali berubah pikiran karena dia malas ke Bangkok yang panas. Kemudian ajak anak-anak(nya) ke Bangkok ga terlalu pas menurut dia secara Bangkok kan memang ga specialized buat anak-anak kayak (misal) Jepang, dll. Selain itu dia juga males naik pesawat 3.5 jaman (a.k.a. takut naik pesawat) dan berbagai sebab lain yang berkecamuk di hatinya (hatinya, bukan hati saya). Akhirnya dia memutuskan tidak ikut. Dan seperti dugaan di beberapa hari sebelum hari keberangkatan, tau-tau dia memutuskan untuk ikut gegara habis ke Pasar Duta Mas dan ngerasa hepi liat makanan; buah-buahan dan sayuran kiri-kanan dan akhirnya jadi ngiler kebayang-bayang Bangkok. Ya udah akhirnya jadi ikutan. Terima kasih berlipat ganda untuk Pasar Duta Mas karena telah menyadarkan ciciku.

Koko : Gegara anaknya (8 years old) mau ikutan juga ke Bangkok dan istrinya ga bisa ikutan (karena they have another 1 year baby yang ga bisa ditinggal), akhirnya koko pun di detik-detik terakhir ikutan juga demi nemenin dan jagain anaknya.

Adik : Tadinya ga mau ikut karena alesannya ga punya duit. Setelah dipaksa-paksa akhirnya beberapa hari sebelum keberangkatan juga jadi ikut.

Jadilah kami pergi ber-10 : 7 adult dan 3 anak kecil. Horeeeeee… Rame pisan!

Plan ke Bangkok pun tidak semulus kulit bayi; dari pertama destinasi yang dimau berubah-ubah pula. Pilihannya akhirnya either Bangkok or Bali. I love Bali, tapi Bali kan destinasi domestik yang notabene bisa pergi anytime. Ini moment jarang-jarang dimana semua bisa pergi dan tiket ga sampe’ mahal-mahal banget, mendingan kan yang jauhan dikit seperti ke Bangkok. Setelah beberapa perubahan, perdebatan, argumen dan segala bangsanya akhirnya Bangkok terpilih menjadi destinasi kami. Yeayyy!! Saya menang!!

Untuk pemilihan tanggal, sama susahnya pula. Saya cuma bisa pergi di periode tanggal tertentu karena bulan ini banyak event dan biztrip, plus ga boleh pergi di periode gajian. Cici pun sama, masing-masing punya preferensi tanggal sendiri. Setelah gontok-gontokkan dengan lemah lembut akhirnya terpilihlah tanggal 8-11 Juni (4 hari) Itupun di beberapa hari terakhir akhirnya diubah jadi 7-11 Juni (5 hari) karena kami ngerasa durasinya kurang. Pontang-panting deh kami ngubah tiket plus saya dan koko ngubah jadwal cuti kami, yang untungnya di-approved dengan gemulainya.

Ya sudah siap sedialah kami berangkat. Semua anak-anak dan Mama pergi, kecuali para mantu.

Few years ago saya sudah pernah ke Bangkok tapi join group tour, dan cuma ngunjungin tempat-tempat turis standard kayak Grand Palace, Wat Arun, Floating Market, Nong Nooch Village dll. Ga da explore ke mana-mana. Seneng banget kali ini dapat kesempatan pergi lagi.

Anyway kami pergi naik Lion Thai (thanks to Caun, petinggi dan ibu premannya Lion yang ga ada matinya dan ga ada capeknya ngurusin tiket kami yang berubah-ubah terus) dan pulang naik Air Asia. Semuanya with no transit. TIket per orang PP sekitar 2.1 jutaan dan udah dibooking sekitar 1 bulanan sebelum pergi. Mau promosi dikit, Lion Thai ini baru loh dan katanya baru start terbang May lalu, 1x per hari. Walaupun jujur image kami ke Lion juga ga bagus-bagus banget, atas nama harga akhirnya kami milih Lion juga untuk pergi. Pas terbang semuanya OK kok, dapet snack biscuit gitu 1x dan landingnya juga lumayan mulus.

Hari 1 :

Dengan pesawat jam 10.10, kami akhirnya berangkat ke Bangkok, dan turun di Don Mueang Airport setelah 3.5 jaman perjalanan. Di pesawat saking doyan makannya saya sampe’ pesen semacam Pop Mie ala Thai yang rasanya boleh juga (padahal saya sudah makan bacang yang dibawa cici saya). Mungkin juga si Pop Mie terasa nikmat dikarenakan saya sudah hampir 2 tahun ga pernah makan mie instant dan bangsanya karena kombinasi kondisi diri yang malas masak dan kondisi sedang hamil waktu itu sehingga harus antipati terhadap mie instant yang dikatakan tidak sehat dan tidak baik bagi janin.

Dari situ kami dijemput naik van (udah booking dari Jakarta di langganan temannya cici), kemudian langsung check-in ke Berkeley Hotel, hotel kami di daerah strategis di Pratunam. Dari situ deket banget ke Pasar Pratunam, Platinum Mall, daerah Siam-siaman dll. Bahkan hotelnya aja nempel sama Palladium Mall. Itu kayaknya semacam IT Mall? Ga jelas juga karena kami ga tertarik sama sekali nyatronin mall itu.

Di samping kelebihan-kelebihan di atas, sayangnya hotelnya lumayan jauh dari BTS (BTS = kayak monorail di Bangkok) terdekat. Jadi kalau kalian pergi-pergi naik BTS, jujur saya kurang recommend hotel ini. Tapi kalau kalian taxi person, then this hotel can be considered. SIlahkan dicek hotelnya : http://www.berkeleypratunam.com/.

Sebenernya banyak hotel-hotel lain yang lumayan menarik (saya paling suka hunting hotel), sayangnya ga semua punya kamar triple/double queen/king yang kami cari. Pilihan mau ga mau jatuh ke Hotel Berkeley.

Hotelnya sendiri lumayan kok. Kalo’ ga salah dia bintang 5. Bersih dan lumayan megah, tapi ga mewah. Kami book 2 kamar triple. 1 kamar isinya 2 ranjang Queen, dan 1 kamar itu kami isi @5 orangan (masuknya sendiri-sendiri biar ga ketahuan dan ga kena charge).

20160607_151634

20160608_073712

20160607_152918

20160607_152932

20160607_152946

20160607_151601_001

Ni hotel juga sepertinya ramai turis. Waktu kami datang saja hotelnya sudah ramai kayak di pasar.

20160608_070027

Perjalanan dari airport ke hotel lumayan jauh juga, sekitar 45 menitan. Sampe’ hotel sekitar jam 4-an langsung check-in dan taruh barang, terus jalan kaki nyebrang ke Platinum Mall. DI sana kami makan, makan, dan makan. Di depan lobby mall-nya banyak food truck macam-macam. Jadi kami cobain makan es krim dengan beentuk lucu-lucu, terus lanjut beli Kebab. Abis itu masuk ke mall-nya liat-liat dikit dan belanja kaus-kaus. Abis itu keluar ke Seven Eleven beli minum; terus beli fresh juice sama air kelapa. Setelahnya jalan dikit beli McDonald lagi (cobain burger porknya yang rasanya ternyata manis kayak semur, hoek!), abis itu makan beef rice dan beli nanas yang super duper manis dan pesen pizza. Ih gila dalam 1.5 jam an aja makannya udah macem-macem. Bahagia deh.

20160607_155903

20160607_155900

20160607_160846

Selanjutnya itinerary kami adalah ke Asiatique, pasar malam terbuka super gede dengan lampu-lampu nan cantik tempat kita bisa makan dan belanja. Menurut saya mirip-mirip Clarke Quay gitu deh. Sebenernya bisa aja kan naik taxi ke sana, cuma karena mau cobain naik boat ke Asiatique-nya plus sekalian cobain naik BTS nya Bangkok, akhirnya kami jalan ke stasiun BTS terdekat dari Platinum Mall tadi. Jadi rutenya : naik BTS sampai pier (pelabuhan), terus naik boat ke Asiatique. Pulangnya baru nanti naik taxi.

Setelah tanya sana-sini karena kami ragu BTS mana yang lebih dekat dari Platinum Mall (Chit Lom atau Ratchathewi), jalan kakilah kami ke Chit Lom (karena katanya ini yang lebih dekat) dan ternyata lumayan jauh loh. Rasanya ada deh 20 menitan jalan, ga sampe’-sampe’. Pas sampe’, kudu naik tangga lagi pula ke BTS statition-nya. Nyokap udah capek banget tampangnya. Anak-anak juga udah ngeluh karena jalannya jauh banget. Libby, ponakan saya yang doyan makan dan jago Inggris sampai bilang, “Man, I felt so tired.. and you know, when I said tired, it means a lot of food..” LOL.

Apa daya, mau cobain BTS akhirnya malah jadi buang tenaga, waktu, dan duit karena ternyata 10 orang naik BTS lebih mahal dari perkiraan biaya 2 taxi. Ya sudah yang penting udah tau rasanya naik BTS Bangkok.

Sampe’ BTS station-nya, kami juga ngerasa tuh BTS ga gitu user-friendly ya, beda sama Singapore dan Hong Kong. Misal di papan petanya, station Chit Lom dan Siam dinomori sama, yakni 15. Kami kan jadi bingung, ini maksudnya Chit Lom dan Siam ini terletak di 1 tempat yang sama, atau ini 2 tempat yang berbeda sehingga harus menggunakan BTS? Tanya sana-sini dll. akhirnya jadi tahu bahwa harus naik BTS untuk berpindah dari Chit Lom ke Siam. Lah terus kenapa di peta kedua station itu dinomori sama, seakan-akan mereka berada di tempat yang sama? Entahlah, sampe’ sekarang itu tak terjawab. Biarlah itu menjadi misteri ilahi.

Btw nanya-nanya sama orang Thai itu agak susah dan mengundang frustrasi yah, karena ga semua dari mereka bisa Bahasa Inggris. Rasanya sepanjang jalan dari Platinum Mall ke pier, ada kali kami nanya 7-8 orang dengan campuran Bahasa Inggris, bahasa isyarat, bahasa tubuh, bahasa keringat, dan lain-lain, tapi tetep aja kami kebingungan. Kami ga ngerti, mereka pun ga ngerti. Ya sudahlah tak usah saling mengerti, biarlah ini kembali menjadi misteri ilahi.

Kemudian naiklah kami ke BTS dari Chit Lom dan turun di Siam, kemudian berpindah kereta untuk menuju ke Saphan Taksin station, tempat kami akan menunggu boat ke Asiatique. Kurang-lebih 5 atau 6 station, sampailah kami di Saphan Taksin. Setelah turun, ikutin aja papan petunjuk, nanti tau-tau ada antrian panjang naik boat gratis ke Asiatique. Ngantrinya juga lama banget loh.. Sekitar 20-25 menitan barulah boatnya datang dan berhamburanlah kami semua para penganre gratisan, untuk masuk ke dalam. Untung stock hoki kami masih berlimpah, dan kami semua kebagian tempat duduk. Jalan deh perahunya ke Asiatique, sekitar 10 menitan.

IMG_20160608_062826

20160607_210216

Sampe’ sana kami cari makan, keliling-keliling.

Ada satu papan iklan bertuliskan ‘Chang’ yang menunjukkan gambar-gambar makanan enak plus ga terlalu mahal. Akhirnya kami tanya sana-sini, di mana restoran Chang ini. Keliling-keliling kok banyak banget papan nama serupa, dengan tulisan ‘Chang’ tersebut. Belakangan baru ngeh bahwa itu mah papan sponsor doang dan Chang itu adalah merk bir, bukan nama restorannya, hi-hi..

Okeh akhirnya di sini kami makan makanan Thai. Tom Yum, Pad Thai dll, yang rasanya menurut saya kaga ada enak-enaknya acan. Rasanya sedih dan desperate banget kalo’ makan makanan ga enak. Jadi ilang semangat idup sesaat.

20160607_192912

20160607_200029

20160607_200035

Habis itu saya keliling liat-liat baju untuk melupakan rasa kecewa tadi. Baru saya berencana mau ronde dua makan Kebab, eh hujan deras datang mengguyur bertubi-tubi tanpa ba-bi-bu dengan segala basah dan beceknya. Akhirnya batallah rencana makan dan belanja serta keliling-keliling. Eh, masih bisa sih keliling-keliling, tapi palingan cuma keliling di bagian yang indoor aja gitu dan kami kayaknya udah ilang selera belanja dan keliling, apalagi makan (kecuali saya). Setelah nunggu 20 menitan di deket pintu keluar dan ditawarin banyak taxi tanpa argo yang langsung ‘ngetok’ harga dan aji mumpung karena hujan gede, hujan akhirnya mulai agak reda dan kami langsung jalan bergiliran pake’ payung (punya saya) ke tempat antri taxi resmi dan balik ke hotel dengan 2 taxi.

Sampe’ hotel langsung tepar dan tidur. Ga pake’ peras ASI lagi, langsung tidur bablas dan untungnya lumayan nyenyak.

Hari 2 :

Hari ini itin-nya adalah ke Hua Hin, satu daerah pantai berjarak 3 jam-an dari Bangkok. Jam 8 pagi van sudah menunggu kami (udah di-book lama dari Jakarta). Start deh perjalanan kami ke Hua Hin. Karena lewat highway jadinya jalanannya mulus lancar dan akibatnya tentu saja supirnya jadi ngebut, dan perut saya yang jadi korban – kegelian dan ‘copot’ terus. Memang susah kena kutuk punya perut gampang gelian macam begini. Sampai sekarang saya masih sering google penjelasan scientific terkait perut yang ‘copot’, tapi belum nemu yang relevant dengan keadaan saya.

Anyway paginya sebelum berangkat, karena hotel yang kami pesan tidak termasuk breakfast, saya, cici pertama, mama dan koko sempat jalan ke seberang hotel dan sarapan bakmi di situ. Rasanya biasa aja sih. Pulangnya kami bungkus beberapa fish-ball noodle dan nasi hainam untuk anak-anak makan di kamar hotel.

20160608_073101

20160608_071944

Kembali ke Hua Hin, di Hua Hin ini sebenernya banyak tempat wisata sih terutama untuk anak-anak dan keluarga (dan para pecinta foto). Misal Santorini Park, The Venezia, Swiss Sheep Farm, Camel Republic, Cicada Market, Pleung Warn, dll. Cuma karena keterbatasan waktu, ga semuanya kami kunjungi, apalagi karena kami cuma pulang hari. Kalo’ ada waktu mungkin kalian bisa stay 1 malam untuk explore Hua Hin lebih jauh, termasuk pantainya yang kata orang lebih bagus dari Pattaya.

Sampe’ Santorini Park, kami cuma foto-foto doang. Sesuai namanya, ini adalah taman bermain yang meniru arsitektur daerah Santorini di Yunani, dengan warna putih biru khas mereka. Sumpah, ga terlalu ada apa-apa. Cuma toko-toko, tempat makan kecil-kecil dan spot foto everywhere. Ada juga sih carousel sama ferris wheel. Cuma panas-panas gitu asli ga napsu naik apa-apa.

IMG_20160610_094540

IMG_20160611_161450

IMG_20160609_064216

IMG_20160610_094235

IMG_20160609_064625

20160608_110043

20160608_115024

20160608_105500

20160608_110808

IMG_20160609_232454

IMG_20160609_221540

20160608_110605

20160608_111903

20160608_111925

20160608_111021

20160608_110050

20160608_110217

20160608_110738

20160608_112906

Setelah keliling-keliling, foto, dan belanja dikit, akhirnya kami udahan dan lanjut lunch. Supirnya yang nunjukkin tempat lunch di daerah situ, dan kami dibawa makan di sebuah tempat makan gede di pinggir pantai. Rasa makanannya semua sih menurut saya kurang enak. Kami pesan telur tiram, pad thai, nasi goreng, fish cake, dll. Service juga kurang OK. Pesen Thai Ice Tea aja dari awal order sampai makanan habis, semuanya belum datang. Harus di-remind sekitar 3-4 x baru akhirnya Thai Ice Tea nya datang. Itu pun menurut cici saya kemanisan (tapi saya suka sih..).

Yang sedikit menghibur sih di restoran itu adalah pemandangan pantainya yang lumayan cakep dengan warna biru turqoise air lautnya.

IMG_20160608_223421

20160608_132729

Setelah makan kami sempat foto sebentar dengan background itu, kemudian lanjutin perjalanan ke Venezia. Sesuai namanya juga, yang ini niru Venezia gitu dengan kanal-kanal dan gondolanya. Tiru-meniru yang berlaku lintas dunia.

Pas masuk kami bingung banget. Sepinya poll.. kayak kota mati. Rasanya cuma ada 2-3 keluarga doang deh. Ya sudah namanya sudah beli tiket, ya kami masuk aja, jalan-jalan dan foto-foto. Tukang gondolanya aja sampe’ ngegerombol ngobrol karena ga ada yang naik. Kasihan banget liatnya. Sepertinya harus ke sini pas weekend – mungkin lebih hidup dan ramai tempatnya.

Intinya ke sini cuma buat foto-foto sih. Banyak juga spot foto cantik-cantik ala  Eropa gitu tapi percayalah foto memang lebih bagus ketimbang aslinya.

20160608_134217

IMG_20160608_214253

IMG_20160609_063841

IMG_20160608_214025

IMG_20160608_213758

IMG_20160609_232740

20160608_140109

20160608_140101

20160608_142746

20160608_140300

20160608_134817

20160608_135251

20160608_135313

20160608_141146

20160608_141604

Ini web resminya mereka, kalau tertarik ke sana : http://www.theveneziahuahin.com/.

Setelah dari situ rencananya kami mau ke Swiss Sheep Farm, tapi yang lain ga mau. “Palingan gin-gini aja,” kata mereka. Kayake mereka udah kapok ke Santorini dan Venezia yang beneran basi banget dan cuma buat foto. Anak-anak aja bosen dan males. Padahal saya pengen juga loh ke Swiss Sheep Farm. Namanya kan udah ke daerah situ, ya liat aja sekalian. Kan sayang.. Tapi ya udah karena saya kalah suara, akhirnya kami balik ke van dan jalan pulang ke Bangkok.

Dari situ kami rencananya mau makan tom yum terkenal di Bangkok, nama restorannya Thanying. Habis itu kami mau ke Sukhumvit untuk lanjut makan malam karena google-google katanya di Sukhumvit ini banyak makanan enak. Setelah nego-nego sama supir, dia ternyata ga mau nungguin kami sampe’ selesai dari Sukhumvit, with no reason. Jadi habis dari Sukhumvit, dia mau langsung balik. Padahal kami ga keberatan bayar extra charge, tapi ya udah, berhubung si supir udah ngotot, kami akhirnya ngalah dan rencananya dari Sukhumvit nanti kami bakalan naik taxi saja.

Di tengah perjalanan balik ke Bangkok dari Hua Hin seperti biasa kami toilet break dulu sekalian mampir di Seven Eleven untuk belanja dan nyemil. Saya juga sempet beli burger KFC yang rasanya lumayan juga.

Sampai di Restoran Thanying kami terkaget-kaget. Kirain tempatnya resto pinggir jalan nan sederhana gitu, ternyata tempatnya lumayan elite dan mirip sama Bunga Rampai di Menteng biarpun Bunga Rampai lebih cantik. Pas masuk pun oleh si pelayan yang berdandan necis, kami diminta tunggu di luar dulu karena mereka perlu siapkan tempatnya.

20160608_174734

IMG_20160608_213654

20160608_175235

20160608_175259

20160608_175114

20160608_174752

Setelah masuk, karena memang hanya niat nyemil, kami hanya pesan 2 mangkuk tom yum chicken, 1 mangkuk green curry sama 1 mangkuk tom kha gai (santan kelapa). Asli semuanya hao che sen ching ping, walaupun menurut saya tom yum-nya kurang kental. Ini nulisnya aja sampai berliur. Semangkuk kira-kira IDR 80 ribuan.

Website Thanying : http://thanying.com/.

Selain puas makan di Thanying itu, beberapa dari kami jalan keluar untuk beli crepes yang banyak dijual di pinggir jalan, yang rasanya juga not bad.

Dari Thanying kami lanjut ke Sukhumvit 38 naik mobil. Jalanan supermacet dan baru sampe’ sana sekitar jam 7.30-8-an malam. Nyampe sana kami juga bingung, mana deretan makanannya? Mana mie wonton yang katanya tersohor itu? Yang bisa kami temukan cuma satu sudut kecil yang isinya stand-stand makanan gitu. Gatau sih apakah itu yang dimaksud oleh internet atau bukan. Lagi dan lagi biarlah ini menjadi misteri ilahi.

20160608_193700_001

20160608_193557

20160608_194238

Setelah pesan berbagai macam mulai dari pad thai, nasi goreng, babi, juga sticky mango rice (menurut saya ga ada yang enak selain mangganya), akhirnya kami balik ke hotel dengan 2 taxi.

Hari 3

Hari ini adalah jadwalnya Dream World dan Dinner Cruise.

Paginya kami kembali cari breakfast di luar. Kali ini kami jalan agak jauhan ke kompleks belakang Hotel Indra Regent, sekitar 10-15 menitan jalan dari hotel kami. Di sana full makanan pinggiran dan tukang jualan semua. Jadi selain makan kami bisa belanja juga. Saya dapat 2 baju di sini, lumayan. Di situ kami sarapan bubur, bakmi, nasi ayam dll.

IMG_20160609_232316

Di pasar ini kami makan berbagai macam bakmi dan bubur. Menurut saya rasanya biasa aja sih semua. Belum nemu yang enak-enak banget.

Balik hotel, jam 9 pagi, driver dengan papan bertuliskan nama cici saya sudah ready di lobby hotel. Tiket Dream World ini termasuk pick-up-nya semua sudah diatur sedari Jakarta. Jadi pas pesen itu kita bisa pilih paket-paket yang ada di Dream World, misal mau admission ticket doang atau mau termasuk Snow Town dan penjemputan. Atau mau termasuk 4D juga bisa, dll. Yang kami pesan waktu itu adalah tiket masuk + free all rides + 4D + Snow Town + return pick-up.

Website Dream World berikut ini : http://www.dreamworld.co.th/en/.

Setelah naik semua ke van, ternyata kami masih akan menjemput satu rombongan lagi di hotel lain. Baru deh habis itu kami semua berangkat ke Dream World. Perjalanannya lumayan juga; sekitar 45 menit, dengan jalan yang lagi-lagi bikin perut saya geli banget karena lumayan ngebut dan jalanannya bergelombang.

Sampai Dream World, setelah menukarkan tiket di Information, mulailah kami berkeliling. Dream World ini yah kayak Dufan aja sih. Wahana pertama yang kami naiki adalah kereta yang membawa kami jalan-jalan keliling arena Dream World. Cemen banget, tapi tetap saja menyenangkan.

IMG_20160612_111453

IMG_20160609_232053

IMG_20160609_220421

20160609_102553

20160609_104853

20160609_105132

 20160609_105104

Next-nya kami menuju wahana 4D, yang bercerita tentang profesor yang melakukan kesalahan sehingga binatang-binatang di labnya semua membesar dan menimbulkan kericuhan. Not bad sih 4D-nya, cuma saja bangkunya di sini ga goyang. Jadi cuma kaki kayak tau-tau digelitik, sandaran bangku tau-tau bergelombang, dan ada air menciprat kita sana-sini.

Setelah 4D, kami lanjut ke wahana Alien, yang swear menurut saya sampah banget. Kita bakal didudukkan di satu ruangan gede mirip bioskop dengan cahaya temaram. Ceritanya sih kita sedang berada di sebuah lab penelitian / penyimpanan alien dan ternyata aliennya lepas. Langsung setelah itu lampu digelapkan total dan terdengarlah suara-suara dari berbagai sudut yang lumayan ngagetin, seolah-olah Aliennya sedang mengincar kita dan kita jadi menduga-duga lokasi Alien-nya. Sandaran bangku kita juga akan mendadak bergelombang, tanda aliennya lewat. Setelah kita dibuat deg-degan dan ditakut-takuti dalam keadaan gelap dengan suara-suara kencang membahana tersebut, akhirnya lampu menyala tiba-tiba, dan aliennya ternyata ada di atas, lagi-lagi mengejutkan kita semua.

Udah deh, gitu doang. Basi ga? Basi ga?

20160609_114938

20160609_114946

Habis itu kami main berbagai macam permainan seperti jet coaster (saya sih nggak naik karena perut saya gelian dan karena saya pengecut), monorail, dan beberapa mainan anak-anak lainnya. Maklum ada 3 anak kecil di rombongan kami. Pengen juga masuk ke Haunted House, tapi pas masuk suasananya gelap banget. Akhirnya ga jadi deh hihihi..

Ga lama jam 1-an siang kami menuju tempat makan siang dimana disediakan paket buffet (sudah termasuk dalam tiket masuk yang kami book dari di Jakarta). Makanannya dikit sih tapi rasanya not bad. Tom Yum dan Tom Kha Gai-nya enak banget. Di sini kita juga bisa refill air putih. Langsung deh refill sebanyak-banyaknya, mengingat di luar sana hawanya panas banget.

20160609_124510

20160609_124514

Setelah makan siang, kami lanjut ke Snow Town. Ini juga sudah dibeli sebelumnya, sepaket dengan tiket Dream World. Dan buat anak-anak, inilah puncak acara favorite mereka selama di Bangkok.

Snow Town ini adalah satu area indoor ga begitu gede, dimana (sesuai namanya) isinya salju semua. Ada igloo, replika rusa kutub, kereta luncur, dan masih banyak lagi. Higlightnya adalah perosotan salju dimana kita bisa meluncur ke bawah dengan duduk/menaiki papan seluncuran. Wah, anak-anak langsung heboh banget dan bolak-balik naik seluncuran itu walaupun bawa naik papan seluncurannya ke atas itu lumayan berat dan menguras tenaga. Anyway saya karena takut perutnya kegelian, akhirnya tentu saja saya ga naik seluncuran ini. Pathetic banget.

IMG_20160610_070509

IMG_20160612_181006

IMG_20160610_065709

IMG-20160612-WA0002

IMG-20160612-WA0008

20160609_134636

Di dalam sana suhunya -5 derajat, jadi lumayan dingin sih. Kita diberikan pinjaman jaket dan sepatu boot. Para ponakan saya sudah ready dengan sarung tangan milik masing-masing karena dari awal sudah diinfo oleh cici pertama saya yang tahun lalu pergi ke Snow Town juga.

Kami di Snow Town sekitar setengah jam saja karena tidak tahan dinginnya plus bosan dan capek juga bolak-balik main seluncuran. Saya juga cuma pake’ celana pendek karena awalnya underestimate mengenai dinginnya. Ternyata beneran dingin oy, sampe’ saya ga bisa lagi pegang HP untuk menjepret foto karena tangan udah beku.

Setelah puas foto-foto dengan tangan mati rasa dan kaki kesemutan saking dinginnya, kami keluar dan duduk dulu sebentar di ruang tunggunya sebelum melangkah keluar, untuk menetralisir suhu tubuh sebelum kembali ke panas durhaka di luar sana.

Kelar dari Snow Town kami masih keliling-keliling lagi sebentar dan anak-anak sempat main ulang jet-coaster. Kami juga sempat nonton show Hollywood Adventure (apalah namanya, lupa). Cuma show tembak-tembakan tentara gitu sih, terus anak-anak foto sama para cast-nya.

IMG-20160612-WA0005

Jam 3.30 kami kembali ke Information dan supir yang tadi pagi sudah menunggu untuk membawa kami kembali ke hotel; demikian juga dengan 1 rombongan lagi yang tadi bareng juga ke Dream World bersama kami.

Sampai hotel, setelah setengah jam macet parah di depan hotel, akhirnya kami ga sempat istirahat lagi. Penjemputan berikutnya sudah ready lagi, yakni untuk menuju dinner cruise. Seperti Dream World, tiket dinner cruise kami pun sudah dipesan dari Jakarta.

Terlambat 15 menit karena menunggu cici kedua saya memandikan anak-anaknya, van kami melaju cepat ke River City Mall, tempat pier kami berada. Sampai sana, karena belum jam 7 malam (jam mulainya Cruise), kami masih sempat berkeliling untuk beli cemilan, termasuk ke Naraya untuk beli souvenir khas Thailand. Saya malah sempat juga ke semacam Guardian-nya Bangkok dan beli body lotion made in Thailand untuk oleh-oleh.

20160609_184839

Jam 7-an malam, kapal kami mulai kelihatan. Kapalnya cantik dan megah sih, dan kami disambut tari-tarian adat gitu. Antri deh kami masuk, dan setelah 15 menitan, dinner dimulai. It’s a buffet anyway, tapi makannnya sumprit ga ada yang enak. Acaranya pun hanya penyanyi biasa. Rasanya Pirate Cruise di Bali lebih atraktif acara dan nyanyiannya, termasuk makanannya. Untung ponakan saya si Jamie joget-joget dengan kecenya – jauh lebih menghibur ketimbang acara nyanyiannya.

IMG_20160609_220821

Anyway ini website Cruise-nya kalau mau lihat-lihat : https://www.thaicruise.com/.

Setelah setengah jam kelar makan, kami praktis hanya duduk-duduk saja menikmati nyanyian dan pemandangan kiri-kanan yang notabene biasa banget, ga ada apa-apa. It’s actually a-very-boring-1.5-hours.

20160609_190911

20160609_190901

IMG_20160609_231537

20160609_194842

Setelah akhirnya acara selesai (fiuhh) jam 9 malam, kami dijemput kembali oleh driver yang sama dan kembali ke hotel. Sampai hotel kami sempet keliling sebentar di depan hotel, karena banyak penjual baju di sepanjang jalan. Ada pasar malam pula. Tadinya saya mau Thai-massage, sayang cici saya ga mau karena sudah capek. Setelah keliling sebentar dan beli durian (saya ga doyan durian), akhirnya kami (beneran) balik hotel.

Hari 4 :

Hari ini temanya adalah belanja, belanja, dan belanja. Seperti hari sebelumnya, kami jalan lagi ke pasar di belakang Hotel Indra Regent untuk sarapan. Sempet pula mampir di Seven Eleven untuk beli roti mangga dan pisang favorit kami semua (rasanya enak abis loh; rotinya juga lembut banget) serta minuman. Saya coba beli bir untuk mertua saya, eh ternyata di sana beli bir harus di atas jam 11 siang. Batal deh.

Anyway di Bangkok Seven Eleven-nya jauh lebih berlimpah ruah yah daripada Jakarta. Beneran tiap 200 meter itu ada Seven Eleven. Mengherankan. Di kiri-kanan-seberang hotel saya total udah ada 3 Seven Eleven. Di pasar belakang Hotel Indra Regent juga total ada 3 Seven Eleven. Dan yang lebih heran, semua Seven Eleven mereka selalu ramai. Literally beneran ramai loh. Ga pernah sepi atau kosong. Luar biasa.

Setelah sarapan, kami naik taxi (pesan di depan hotel) dan menuju ke MBK, semacam ITC Mangga Dua-nya sana. Di sini kami lumayan lama karena shoppingnya ternyata cukup produktif. Saya ketemu kaus Iron Man super cute yang udah langsung bikin hepi seharian🙂

IMG_20160612_105519

Kami lunch di food court di sini, yang memang murah pisan. Rata-rata IDR 20-30 ribuan aja harganya. Tapi yah sayangnya ga ada yang enak. Bayangin aja 10 orang pesen makanan berbeda, semua rasanya either standard or below expectation.

20160610_130444

20160610_131157

Dari MBK kami lanjut ke Siam Center. Setelah tanya sana-sini ternyata ada jembatan penghubung ke seberang sehingga kita bisa sampe hampir ke depan kompleks Siam-Siam-an (Siam Paragon, Siam Center, dll.) dengan berjalan kaki.

Kenapa saya mau ke Siam Center, itu sebenernya cuma gegara browsing sih dan nemu 2 cafe super-cute yang menarik banget buat dikunjungin. Bagi cici-koko saya dan yang lain, itinerary ini jelas basi dan ga menarik. Tapi kayaknya demi mengobati kekecewaan saya yang kalah suara pas kemarin itu mau ke Swiss Sheep Farm di Hua Hin, akhirnya mereka ngalah dan membiarkan saya mengambil-alih itin barang sejenak.

Di lobby depan Siam Center ada banyak robot-robotan raksasa yang lumayan bikin hepi anak-anak setelah capek belanja di MBK. Saya juga hepi sih karena ada Iron Man juga.

IMG_20160610_171707

Masuk Siam Center, langsung saya cari Mr. Jones Orphanage, tempat dessert hasil googling saya, yang cute banget decor-nya. Sayang tempatnya ternyata agak sempit dan harus merunduk untuk masuk karena decor rel-relaan kereta yang dipasang di atas melintasi seluruh bagian cafe itu agak pendek dan hampir mentok ke kepala kita.

IMG_20160611_161042

Di sana saya cuma duduk sama anak-anak saja (ponakan), sementara yang lain malas masuk karena tempatnya sempit plus demi berhemat juga sepertinya.

Akhirnya saya cuma pesan 3 macam kue, itupun 1 macam habis, sehingga akhirnya kami cuma makan 2 kue. Kue yang habis itu pun ga diinformasikan ke kami. Kami udah nunggu-nunggu hampir 25 menit, baru mereka kasitahu. Itu pun karena kami nanyain. Payah juga nih servicenya.

Kue-kuenya sendiri not bad sih. Kami ada pesan Chocolate Fudge dan Lemon Cake. Semuanya pilihan para ponakan saya.

Keluar dari sana, saya minta ijin lagi ke keluarga untuk ke lantai 4 dan cobain cafe lain piritan saya, Petite Audrey. Ini pun hasil googling. Ternyata Audrey ini semacam group kayak Ismaya Group. Jadi mereka punya banyak cafe yang berbeda. Yang saya mau sebenernya ada di satu alamat yang sayangnya bukan di mall. Sepertinya ga mungkin yang lain mau nyari dan nyatronin alamat itu demi menuhin keinginan saya, jadi akhirnya terpaksa saya puas dengan ‘line’ nya group ini yang ada di mall terdekta yakni Siam Center, namanya Petite Audrey. Untungnya letaknya sama dengan Mr. Jones Orpahange di atas, jadinya sekalian 1 tempat bisa terpenuhi 2 wishlist saya.

Ini, kalau mau cek resto-resto groupnya Audrey ini : http://www.audreygroup.com/AudreyCafeBistro/index.html

Sampai di lantai 4 (saya masih bersama para ponakan saja, sementara yang lainnya nunggu dan duduk di bawah), tanya sana-sini semua ga ada yang tahu letak Petite Audrey. Saya sampe’ ketikkin nama tempatnya di HP dan menunjukkan ke mereka, berhubung tahu orang Thai bahasa Inggrisnya agak-agak menguatirkan.

Tanya ke sekitar 4 orang, semua ga ada yang tahu. Mampus deh, saya membatin, masak sih tempatnya udah tutup?

Setelah jalan keliling dan nyaris putus asa, eeeeh saya lihat satu tempat yang penampakannya mirip dengan Petite Audrey yang saya lihat di internet. Cepet-cepet saya samperin, dan ternyata bener!! Hanya saja judul di atasnya adalah ‘Audrey’. Tok. Tanpa ‘Petite’ di depannya. Makanya semua orang yang saya tanya ga ada yang tahu. Cuma ya ampun, yang saya tanya kan Petite Audrey. Ini nama cafe-nya Audrey. Masak sih dari 4 orang ga ada yang ngelihat koneksinya? Atau kasitau kek, “Oh ga ada Petite Audrey, adanya Audrey doang..” Kan lebih membantu gitu. Ah tapi ya sudahlah, yang penting nemu, horeeee…

IMG_20160611_001441

Setelah puas dengan decor cafenya (dan foto-foto tentunya), ga lama kemudian saya take away beberapa jenis cake mereka karena kalau dine in takut yang lain nunggu kelamaan. Setelah kue pesanan para ponakan saya datang, kami kembali ke bawah, ke tempat cici dan koko saya nunggu, kemudian makan bareng kue-kue itu. Enak-enak sih. Saya pesan signature dishnya Audrey yang terkenal, yakni Thai Tea Cake, yang rasanya seger banget, cuma sedikit kurang manis menurut saya.

Setelah dari Siam Center kami lanjut lagi ke Mall Terminal 21 di daerah Asok. Rencananya kami mau pakai 2 taxi. Taxi pertama datang, dan saya serta 4 orangan lagi (mama, cici, para ponakan) naik ke dalam. Jalanan macet banget dan supir taxinya ga bisa bahasa inggris. Plus yang parah pula, sepertinya dia gatau Terminal 21. Saya sampe’ ketikkin di HP saya, ‘Terminal 21′. Eh dia malah bales kasi liat wallpaper HP dia yang ada gambar ceweknya. Saya dan yang lain melongo. Gatau itu siapa dan maksudnya apa. Kalo kasi liat foto cowok cakep sih masih ga apa-apa.

Akhirnya saya cuma bilang “Asok, Asok” karena saya cuma tahu Terminal 21 itu ada di daerah Asok. Pasrah deh karena si supir ga menunjukkan tanda-tanda dia tahu Terminal 21 di mana. Saking macetnya malah supirnya terpatah-patah pake bahasa inggris campur bahasa isyarat, suruh kami jalan kaki. Katanya deket-deket aja kok destinasinya. Langsung saya tolak sambil tunjuk-tunjuk mama saya. “Her leg, sick, sick..” kata saya, pake bahasa isyarat juga. Refleks pake’ nunjukkin ekspresi sakit segala di muka. Untung dia ngerti. Dengan ga rela dia bilang, “Oh, OK..” terus terpaksa deh nyetir terus menghalau badai kemacetan menuju Terminal 21. Hmmh, rasakan the power of sakit kakinya Mom.

Anyway entah bagaimana akhirnya kami bisa selamat sampe’ di Terminal 21, puji Tuhan. Ga apa-apa deh si supir mau tunjukkin wallpaper 100 banci di HP-nya pun it’s OK, sepanjang kami nyampe tujuan tanpa kurang apa-apa.

Sampai di lobby mall, kami kembali kebingungan karena rombongan yang naik taxi berikutnya belum sampai. Saya coba SMS, ga ada yang delivered. Internet semua mati. Untung bisa pake wifi mall biarpun kudu register dan kasih passport dulu. Waktu lagi register, eeeh cici saya nyampe. Fiuhh syukurlah. Ternyata saking macetnya, mereka semua, si rombongan kedua, ga dapet taxi. Akhirnya mereka malah naik bus setelah nanya sana-sini. Ya sudah yang penting keluarga kami sudah bersatu kembali.

Setelah itu kami keliling-keliling deh. Terminal 21 ini mallnya agak unik sih. Jadi tiap lantai interiornya beda-beda. Ada Paris, London, Turkey, dll. WC nya pun designnya mengikuti design negara tersebut. Di tiap eskalator juga ada tulisannya, departure from Rome (misal). Arrival at London. Udah sih gitu-gitu aja. Barangnya bagus-bagus juga, cuma lebih mahal.

IMG_20160612_105852

Kami dinner di food court Terminal 21, dan harga makanannya surprisingly lebih murah lagi dari food court di MBK. Harganya berkisar belasan ribu sampe’ 20 ribuan. Saya aja saking murah (dan rakusnya) sampai makan 2 porsi nasi babi yang berbeda.

20160610_175934

Setelah makan kami keliling-keliling lagi. Lumayan dapat beberapa kaus di sini.

Habis itu kami naik taxi ke Big C supermarket buat belanja oleh-oleh makanan. Di luar ternyata hujan dan antrian taksi sudah mengular. Ga lama antri tau-tau kami dikasih 2 taksi sama penjaganya. Kaget juga, kok cepet juga dan kami dikasih duluan. Pas masuk taksi, baru 1 menitan, si supir langsung bilang dia ga mau pake’ argo karena macet dan hujan. Terus kami langsung ditembak harga 200 Baht.

Ya udah karena sombong dan gengsi, kami langsung menolak mentah-mentah dan turun dengan kerennya, kemudian cepet-cepet ngantri lagi. Pantesan rombongan antrian di depan kami ga ada yang mau ambil taxi-taxi tukang peras itu.

Anyway setelah ngantri lagi, dipikir-pikir 200 Baht cuma IDR 80-ribuan, kayaknya masih OK deh, ketimbang mesti nunggu lama lagi.

Akhirnya kami jilat kembali ludah kami dan pendam ulang gengsi kami, kemudian jadi ambil 2 taxi tadi dan naik deh menuju Big C Supermarket.

Sampai lobby Big C, saya dan cici kedua yang sudah nyampe duluan nunggu rombongan yang berikutnya dong. Eeeh udah hampir 20 menit ga nemu-nemu. Sampe’ bingung dan was-was juga, ini cici pertama saya dll. pada ke mana? Padahal kami sudah keliling juga di situ, in case di mall itu ada lobby atau pintu lain, tapi tetep aja ga nemu-nemu. Akhirnya kami yang udah sampe’ masuk duluan ke supermarketnya di lantai 2 sambil harap-harap cemas semoga rombongan cici pertama udah masuk ke situ, tapi sayangnya di sana pun tetep rombongan mereka itu ga ada.

Akhirnya saya balik lagi ke lobby dengan frustrasi dan di lobby mendadak ngeliat sosok koko saya yang beransel hitam. Langsung cepet-cepet saya lari-lari ngebut. Aaaaah, akhirnya kami ketemu. Sepertinya 2 supir taxi kami menempuh rute yang berbeda sehingga waktu tibanya berbeda jauh. Tsahh hari ini banyak banget cari-cariannya.

Setelah itu kami belanja di supermarket Big C itu. Ramenya bukan main, padahal sudah jam 9.30 malam. Ngantrinya juga lumayan panjang. Saya beli green tea dan thai ice tea serta beberapa makanan lain. Karena dari hari pertama udah belanja terus, saya sampai harus pinjam duit ke cici saya. Bayangin saya sudah sedia 5000 Baht, dan masih harus pinjam lagi ke cici saya 3500 Baht. Itupun setelahnya saya tukerin lagi 100 SGD ke baht. Mengerikan kemampuan dan kapabilitas belanja saya.

Habis itu kami balik hotel naik tuk-tuk karena Big C itu lumayan deket dengan hotel kami. Kami pakai 2 tuk-tuk dan seperti biasa anak-anak heboh banget di jalanan karena baru pertama kali naik tuk-tuk.

IMG-20160612-WA0000

Sampai di hotel, biarpun kaki udah capek luar biasa karena dari pagi beneran jalan terus non-stop keliling mall-to-mall, saya mutusin untuk turun lagi. Ini malam terakhir saya, jadi saya harus-harus-harus Thai-massage, with or without cici saya, karena saya cinta mati sama massage, reflexy, dan sejenisnya.

Di dekat hotel, sepanjang jalan berjejer tukang massage. Jadi tinggal pilih aja deh. Saya cuma ambil 1 jam foot-massage karena waktu itu sudah jam 10.45 malam. Kalau masih pagian sih pasti saya ambil pijat badan juga dan bakal berjam-jam. Pijatnya biasa aja sih, kurang kenceng. Tapi ya sudah, saya sih enjoy-enjoy aja.

Pas mulai pijit, si cewek tukang pjit saya itu nanya ke saya, “Songaaaa.. Songaaa…” Saya sampe’ bingung, dia ngomong apa sih. Dia tunjuk-tunjuk kaki saya dan ngomong lagi, “Songaaaaa.. songaaaa..” dengan logat Thai yang sengau itu. Saya asli beneran butek. Jadi saya geleng-geleng aja dengan muka bingung. Dia akhirnya ngomong lagi. “Songaaaaa.. slow-aaaa..” Dan baru saya ngeh, maksudnya dia ternyata “Strong or Slow?” Songaaaa itu maksudnya strong toh, hanya saja karena diucapkan dengan logat Thai ya jadinya “Songaaaa..” Bwahahahaha..

Setelah pijat saya jalan bentar menyusuri deretan tukang jualan baju di depan hotel, dan lumayan dapat beberapa baju lagi. Habis itu saya tepar. Tidur jam 12.30 malam dan seperti pagi-pagi sebelumnya, bangun lagi jam 6 pagi karena harus ngantri mandi dan harus peras ASI. Maklum 1 kamar 5 orang🙂

Hari 5 :

Hari ini jadwal kami adalah Pasar Jatujak (Catucak). Pesawat kami depart jam 5 sore. Jam 2 siang kami udah bakal dijemput di hotel untuk jalan ke airport. Jadi kami cuma punya waktu sekian jam doang di pasar itu.

Anyway Pasar Jatujak ini adalah salah satu tempat belanja paling gede di Bangkok. Dia bukanya cuma Sabtu Minggu aja. Hari biasa ada buka juga sih, tapi jualannya berbeda. Misal hari Senin-Selasa jualannya furniture. Cuma hari Sabtu-Minggu doang yang jualannya Wholesale gitu. Jadi the best time untuk ke sini ya hari Sabtu Minggu. Udah buka dari pagi.

Dengan mepetnya waktu, kami memutuskan untuk breakfast di Pasar Jatujak saja. Kami cuma sempat ke Seven Eleven deket hotel saja untuk beli roti pisang/mangga yang hao che pisan itu, yang harganya cuma 20 Baht aja sebijinya. Rasanya saya beli 15-an x tuh roti buat orang rumah, saking enaknya.

Okeh, pagi hari kami naik 2 taxi lagi dari hotel. Koko saya yang manggil 2 taxinya di jalanan dan udah ngomong-ngomong ke mereka untuk jalan ke Pasar Jatujak secara beriringan, biar ga cari-carian lagi nanti turunnya seperti kemarin-kemarin. Setelah jalan beberapa lama, adik saya yang setaxi sama saya nyeletuk, “eh kok argo-nya ga nyala ya?” Kami semobil juga agak bingung dan menduga, jangan-jangan tadi udah sepakat harga sama koko saya, sebelum berangkat, jadi ga pake’ argo lagi. Jadi kami diam saja. Ga ada yang tertarik nanyain soal argo, dasar o’on.

Tau-tau taxi-nya berhenti, dan supir bilang, “Udah sampe ya, tuh di seberang.. cepetan cepetan, ada polisi..” terus dia mengucapkan hal yang sama terus berulang-ulang, terutama bagian polisi itu. Cepet-cepet kami ambil duit dan supir bilang, “200 baht!” Yah, ga sempet nanya apa-apa lagi, kami bayar aja 200 baht dan cepet-cepet turun karena dia terus-menerus nyebut dengan heboh, ada polisi di belakang. Habis itu si supir langsung cau.

Pas keluar, taxi satu lagi yakni taxi koko saya di belakang juga berhenti. Dia tanya saya, kena harga berapa taxinya? Saya bilang 200 baht. Dia kaget karena taxi dia cuma 90 baht dan itu pake’ argo. Langsung deh kami ceritain bahwa taxi kami ga nyalain argo, terus pas sampe’ tadi si supir langsung ngeburu-buru kami turun dengan alasan ada polisi. Koko saya geleng-geleng. Hoaaa, ternyata kami ditipu sang supir taxi. Pantesan dia sengaja ngeburu-buru kami. Rupanya itu supaya kami cepet bayar sesuai kemauan dia dan ga sempet mikir serta komunikasi lagi dengan koko saya di taxi satunya lagi. Koko saya marah-marah bukan kepalang karena kebodohan kami, tapi ya sudahlah mau diapain lagi? Miskomunikasi pula. Kami kira taxinya sudah disepakati harganya dari awal.

Sampai di kompleks Pasar Jatujak, cici pertama ngajak nyebrang ke Pasar Ottokor (Farmers’ Market), tempat banyak buah-buahan dan sayuran, sekaligus cari makan di situ. Wah Mama saya hidup banget di situ. Beli duku, mangga, cherry dll. Namanya juga emak-emak. Saya sebenernya pingin banget bahwa pulang ketan, singkong dll. tapi sayang mereka ga tahan lama sampai besok.

Setelah makan sepiring nasi bryani, sepiring lagi nasi dengan lauk campur serta berbagai makanan lain (saya rakusnya emang kebangetan) plus tuker SGD ke Baht lagi demi acara belanja di Jatujak, kami kembali nyeberang ke Jatujak dan mulai belanja.

20160611_103336

20160611_142925

20160611_100337

20160611_132749

20160611_132746

Ngomong-ngomong soal pasar, kayaknya kebetulan deh kami dapet areanya yang kebanyakan butik-butik sehingga harganya kayaknya ga murah-murah banget. Tapi ya tetep aja beli banyak. Banyak kaus kartun lucu-lucu, termasuk (lagi-lagi) Iron Man. Seneng dan puas sih.

IMG_20160612_105633

Tau-tau udah jam 12 aja dan cepet-cepet kami balik ke hotel. Setelah di hotel dan packing barang belanjaan (kami sudah check-out pagi harinya dan koper sudah dititip di concierge. Untung pula ga ada charge apa pun terkait kami sekamar 5 orang :p), kami jalan lagi ke pasar belakang Hotel Indra Regent dan siang di situ. Karena sudah siang, sebagian tempat makannya sudah tutup, jadi kami makan seadanya saja. Rasanya saya udah eneg banget makan mie itu lagi, itu lagi.

Saya juga nyempetin ke Seven Eleven buat beli bir untuk mertua. Karena udah siang, udah boleh dong beli bir.

Habis itu kami balik hotel, tapi van yang seharusnya mengantar kami ke airport ga kunjung tiba, padahal udah jam 2 lewat. Ponakan saya yang sempet beli nomor lokal akhirnya coba kontak dengan supir Ybs. dan supir tadi suruh kami ke area parking. Koko saya ngomel lagi karena kami kan luggage-nya banyak banget, mana mungkin bererot turun ke tempat parkir. Yang semestinya ya supirnya dong yang ke lobby. Supirnya bilang dia ga berhasil dan kesulitan nemuin kami. Setelah susah payah berkomunikasi dalam bahasa Inggris campur-campur, akhirnya kami minta bell-boy di hotel kami untuk ngomong sama supir kami itu dalam Bahasa Thai. Intinya kamu mau minta dijemput di lobby. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk sama si bellboy, si supir menurut.

Setelah nunggu 10 menitan, si supir masih ga nongol batang idungnya juga di lobby. Kami minta lagi si bell-boy untuk ngomong lagi ke sang supir lewat HP ponakan saya. Eh si supir kembali marah-marah, dia bilang mendingan kami aja yang tempat parkir, dia ga bisa nemuin kami di lobby. Selidik punya selidik, ternyata bin ternyata si supir salah hotel bo!! Dia malah ke hotel Baiyoke, sementara kami di Hotel Berkeley. Ya amplop, ya surat.. Koko saya udah ngamuk banget sampe’ udah mau batalin aja penjemputan itu. Tapi karena jarak dari Hotel Baiyoke ke hotel kami cuma 10 menitan, ya udah deh kami mutusin nunggu aja biarpun waktu untuk ke airport jadi ngaret setengah jam karenanya.

Ga lama kemudian datanglah si supir, sambil nyembah-nyembah minta maaf. Huuuu udah galak-galak, padahal situ yang salah.

Jalanlah kami ke airport. Saya sempat beli kebab dulu di Airport sekalian ngabisin duit yang belum abis-abis (sombong, secara abis tukerin duit tadi pagi di Ottokor).

Setelah itu fly back deh kami ke Jakarta. Landingnya juga mulus, syukur deh.

Gitu deh, sekian cerita perjalanan kami. Cerita ini sih sebenernya lebih buat saya pribadi juga, supaya keinget apa aja yang terjadi (sampai detail) di 5 hari ini. Asli 5 hari kayaknya ga cukup deh. Sebelumnya malah plan kami 4 hari doang. Wiiih untung kami masih waras dan sempet ubah durasinya menjadi 5 hari.

Anyway summary aja, yang saya ga sempet kunjungin (padahal pengen huhuhuhu) adalah :

* Chocolate Ville -> kepengen ke sana karena semua orang bilang bagus. Saya lihat foto-fotonya terutama pas malam juga cakep banget (tau sendiri jiwa Instagram aja langsung hidup). Tapi kata cici saya yang udah pergi beberapa waktu lalu (perginya siang hari), asli tempatnya ga ada apa-apa. Makanannya juga mahal-mahal. Jauh lagi. Ya udah saya kalah suara dan akhirnya ga pergi.
* Swiss Sheep Farm -> sesuai cerita di atas, ga pergi karena semuanya udah boring sama Santorini dan The Venezia di Hua Hin.
* Baiyoke Sky Tower -> tadinya pingin buffet di sini malam hari buat nikmatin pemandangan malam kota Bangkok dari lantai 77. Ada reservatory deck-nya pula, dan harga buffetnya cuma IDR 200 ribuan doang. Tapi karena jadwal kami full dan hectic banget, akhirnya Baiyoke Sky Tower ini terlupakan, plus cici saya ga gitu napsu buffet-buffetan lagi setelah buffet Dream World dan buffet Dinner Cruise. Dia prefer makanan pinggiran aja. Plus 200 ribu dikalikan 10 orang ya akhirnya 2 jutaan juga sementara duit hasil kekumpul udah abis dan tekor, bwahahaha..

Untuk tiket-tiketan yang sudah dibeli di Jakarta, biasanya kami beli di http://www.hotels2thailand.com/

Overall saya sih selalu hepi pergi sama keluarga biarpun harus ngalah-ngalah karena semua orang punya keinginan yang beda-beda. Ada orang tua (mama) yang sebenernya ga suka pergi ke tempat bermain, ada anak kecil yang cepet bosen kalo’ kelamaan belanja, ada saya yang maunya macem-macem, dan masih banyak lagi. Yang penting bisa kompromi aja.

Mama saya juga lumayan seneng ke Bangkok karena makanannya enak-enak, buahnya manis-manis pula. Anak-anak gimana? Euh, mereka ogah balik Bangkok lagi ternyata😀 Mereka bilang mereka cuma hepi karena ada Snow Town dan durian. The rest is not so impressive🙂 Saya sendiri seneng-seneng aja ke Bangkok karena belanjanya bikin nagih. Makanannya kayake so far masih biasa aja ya. Mungkin belum nemu yang enak banget karena ga tau tempat-tempat andalannya. Cuma Restoran Thanying doang yang saya suka.

Oh, can’t wait for our next destination!!

civilwar

Terlalu sayang tidak me-review Civil War, sama sayangnya dengan tidak menontonnya. It’s a big must pastinya, especially when you have a cinta-mati-Iron-Man gene in your body and soul.

Langsung saja my impression setelah menonton film ini :

* I love the story and the plot. Sayang endingnya kok agak anti-klimaks dan cepet banget ya. I thought bakalan ada musuh besarnya lagi, ternyata the movie ends with Captain and Iron Man fight. That’s it. Emang sih tagline-nya aja udah “Which Side Are You” yang implicitly states bahwa film ini adalah tentang Captain America lawan Iron Man, tapi kirain ada something more.

* Masih sedikit terkait point di atas, motif villain-nya kok agak cemen ya. Revenge on behalf of family. Kalo’ di kehidupan nyata, yes itu relevant banget, tapi untuk ukuran sebuah blockbuster Marvel macam gini, rasanya motif ‘family’ terlalu dangkal. Klise banget sih memang kalo’ motifnya instead jadi menguasai dunia dll., but hey this is movie. What else is more interesting than that motive?

* Si Villain – sejak pertama liat, otak udah muter-muter. Kayaknya kok mukanya familiar banget ya, apalagi bibir tipisnya. Bukannya napsu loh.. Kelar nonton saya langsung google cast-nya the movie and baru sadar bahwa si jahat itu adalah Niki Lauda di film Rush! Ya ampun pantesan kayak tau gitu. Seneng banget bisa liat si jago akting ini lagi.

* Black Widow – aneh banget ngeliat dia jadi super nice di film ini. Rasanya ganjil dan ga betah ngeliat sisi dinginnya raib total, but I kinda like her in this nice-mode.

* Iron Man in Government side and Captain America against the government? Lagi-lagi rasanya ganjil. Sejak kapan seorang slengean-Tony-Stark mau diatur orang dan sejak kapan Captain America yang orangnya loyal dan lurus banget, mau ngelawan pemerintah? Rasanya kok lebih cocok kalo’ dibalik ya cast-nya in terms of their character. Seperti bukan mereka. Bandingkan dengan pas at the end when Iron Man kalah berantem sama Cap, he said to Cap, “Balikkin perisainya, it’s not yours. Itu kan bokap gw yang bikin..” Nah itu baru Iron Man. Selfish, childish. That’s exactly what he gonna said, menghadapi kekalahan plus kenyataan yang pahit. Tapi ya intinya I still enjoy the movie toh.

* Di film ini Captain terlihat kinclong banget. Cakep pisan gitu. Si Downey malah jadi kebanting dan jadi jelek banget. Kurang nampol kerennya. Scene favorite adalah waktu Captain selesai kiss sama tuh cewek dan melempar pandang polos ga berdosa ke dua rekannya di mobil. Auw he looked so cute! *habek-habek sampe’ ludes

* I hate si cewek yang kiss sama Captain America itu. First, dia cantik banget. Tak tahan tak iri. Kedua, why oh why dia bisa kiss sama si Captain. Ketiga, ketara banget deh naksirnya sama Captain. Di semua scene dia selalu mati-matian doing something risky buat si Captain. Jual mahal dikit kek grrr.. *ini point ga penting.

* Terakhir : Scriptnya nih film juga menurut saya bagus. Puncaknya adalah pas pertarungan one-to-one antara kedua team. Berasa kocak banget kan dialog-dialog antar tokohnya, apalagi selentingan-selentingan Antman and Spidey yang ngasal, misal pas si Antman masuk ke dalam kostum Iron Man dan Iron Man jejeritan panik “Sapa nehh??” Terus si Antman jawab, “Hati Nuranimu.. Udah lama kan lo ga bercakap-cakap sama dia?” Bwa-haha langsung ngakak karena kocak dan ada sarkasme yang terselubung. Juga pas salah satu tokoh bilang ke Spidey, “Lo pernah bertempur ga sih sebelomnya, karena biasanya pertempuran ga melibatkan percakapan sebanyak ini..” Bwa-haha lagi. Script favorite lain adalah pas childish-Tony bilang dengan sangat kasar ke Black Widow, “Double agent is always in your DNA, right?” Ih keren dan dalem banget *pengen habek-habek lagi.

Sudah deh sekian impresi saya mengenai film ini. Overall I rate it 8/10.

So which side I am? Errrm.. Kaki kiri di Downey, kaki kanan di Cap. Hey Black Widow, I do also have double agent gene! :)

 

ASI

Sub-Judul : Kisah sedih tentang si ASI *background lagu ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’ nya Marshanda

Bicara soal ASI, I think I was one of the most stupid emak-emak-baru ever, karena mengira bahwa… jreng-jreng, semua emak-emak-baru pasti bisa kasih ASI ke bayinya. Dengan lancar. Tanpa masalah. Mulus. Kayak paha ikan.

Beneran loh, sejak hamil, mungkin saking sibuknya sama kerjaan, saya ga pernah ngurusin persiapan ASI sama sekali, sampai sekitar beberapa minggu sebelum lahiran, saya sempet chat sama Eka, temen kantor lama saya, dan di situ kita ngomongin ASI. Saya sempet bingung karena Eka kok concern banget ya soal ASI, sampe’ nyuruh saya ke klinik laktasi dll. Saya sih iya-iya aja demi sopan santun. Saya kan orangnya baik.

Di satu mingguan terakhir sebelum lahiran, saya juga kebetulan nyasar ke link soal ASI dan pijat ASI, dan baca bahwa pijat ASI tidak disarankan untuk ibu-ibu yang mau lahir Cesar, karena katanya bisa merangsang kontraksi. Di situ saya ngangguk-angguk bangga, “Nah, untung saya ga pernah pijat-pijat,” gumam saya waktu itu -> ini membuktikan kebegoan saya lagi. Ngetik ini aja sampe’ gregetan sendiri.

Udah gitu pas lagi belanja perlengkapan bayi di Mangga Dua dan lagi mau beli pompa ASI dll, cici-cici saya pada bilang, “Aduh ga usah dulu deh, belum tentu ASI lo keluar..” Saya sebenernya agak bingung waktu itu, karena seperti yang saya jelaskan di atas, I thought semua ibu-ibu pasti keluar ASI dengan lancar jaya. Tapi waktu itu saya ngikutin aja dan ga beli pompa ASI dulu. Udah gitu saya cerita ke temen saya si Zha tentang statement cici saya itu, dan Zha bilang dengan tegas, bahwa dia ga setuju sama statement cici saya. Dia bilang, comment-comment semacam itulah yang bikin para ibu baru jadi ‘rendah diri’ dan akhirnya beneran bisa bikin ASI ga keluar. Padahal encouragement mengenai ASI sangat penting, karena perasaan percaya diri, gembira, bahagia dll. itu kan bisa ngerangsang keluarnya ASI terkait produksi hormon oksitoksin, dan bahwa ASI itu is the matter of demand-supply *eh aku udah macam kayak konsultan klinik laktasi aja

Dan jreng-jrenggggg baru setelah lahiran, saya ngeh dan nyadar kayak orang baru ditempeleng bajaj, bahwa persiapan ASI itu ternyata penting banget dan bahwa ASI itu udah kayak mantra ajaib buat para emak-emak. Ga heran abis lahiran, tiap ketemu emak-emak lain, pasti yang ditanya adalah, “ASI ga, ASI ga?” *iya kaaaan, ngaku, para emak-emak!

Ah sudahlah, intinya :
* Saya ga terlalu aware soal ASI dan persiapannya. Buta sama sekali soal IMD, LDR dll. Baru belakangan ini aware soal semua ini, dan nyeselnya bukan main *tersungkur sambil mukulin tanah
* Orang-orang di sekeliling saya termasuk orang-orang ‘jadul’ (no offense please) yang memang juga ga terlalu pro ASI. Maksudnya prinsip mereka “ada ASI syukur, ga ada ya udah, terima aja..” Padahal seiring dengan modernisasi serta kemajuan jaman di mana media sosial merajalela, kita bisa ‘ketemu’ para ibu-ibu (muda) modern jaman sekarang via online, yang sangat pro ASI, dan bisa ketularan positif dalam menyikapi ASI. No more paradigma yang menyepelekan ASI lagi. Dengan luapan informasi yang beragam, kita bisa belajar dari sharing mereka soal ASI dan makin aware bahwa persiapannya itu sebenernya ga susah kok dan ASI itu ya memang beneran super-penting dan nyaris ‘segalanya’.Sungguh baru terbuka mata saya sekarang betapa pentingnya ASI itu -> asli emak-emak paling bego sedunia.

Anyway-busway, sebagai akibat dari ketidak-care-an saya dan ketidak-aware-an saya, pada saat lahiran dan Rumah Sakit menanyakan apakah ibunya akan ASI ekslusif atau nggak, dengan PD (tanpa tahu apa-apa) saya mengatakan “Oh iya dong..” dan kemudian terhenyak saat tahu bahwa ‘konsekuensi’ dari pilihan itu, berarti si bayi akan tidur sekamar sama si ibu supaya ibu bisa menyusui anytime. Keluarga, seperti yang saya bilang, karena kebanyakan mungkin ga aware soal ASI juga, langsung menolak sambil mengernyitkan dahi, “Hah? Ibunya masih kesakitan, masa mesti tidur sama si bayi..” dan pendapat-pendapat sejenisnya. Termasuk suami saya. Termasuk saya juga, yang ngerasa ga nyaman harus langsung tidur bareng si baby demi ASI saat saya sendiri aja masih struggle dengan pain pasca lahiran baik fisik maupun mental. Akhirnya kami mengubah keputusan untuk si baby ga ASI eksklusif, melainkan… dikasih SUFOR. Oh no..

Asli kalau saja saat itu saya tahu mengenai seluk beluk IMD, ASI eksklusif dll., saya merasa semuanya pasti beda. If I could turn back the time, I would definitely do it. Rasanya nyesel banget karena ga lebih aware dan prepared. Dan seperti biasa muncul segala macam perandaian. Andai saya tahu pentingnya ASI, mungkin saya akan bela-belain untuk merangsang keluarnya ASI buat si baby sejak hari pertama dan ga langsung kasih sufor. Andai saya punya keluarga yang aware soal ASI pula, mungkin akan ada yang mencerahkan pikiran saya dan saya tidak akan ‘menyepelekan’ ASI. Andai saya tahu pentingnya ASI, saya bakalan tidur dengan baby saya di hari-hari di Rumah Sakit, karena keberadaan si baby (katanya) somehow justru could heal us, instead of bikin kita ribet. Mundur sedikit, andai saya tahu ini semua, saya akan prepare dengan mengunjungi klinik laktasi, melakukan pijat payudara, dan seterusnya.

Anyway ini sudah terjadi, dan sampai sekarang my baby jadinya minum sufor plus ASI. Eat the fact.

Jadi di awal-awal hari lahiran di Rumah Sakit, secara berkala Aimee dibawa ke saya untuk disusui. Namanya ibu-ibu baru, pas si baby terlihat ga mau nyusu, saya ya pasrah dan ngerasa fine-fine aja, terus saya pulangin lagi deh si Aimee ke si suster. Begitu terus, sampe’ bisa dibilang Aimee tuh ga ASI sama sekali pas di Rumah Sakit. Semuanya sufor. Saya bahkan gatau apakah ASI saya keluar atau nggak.

Di hari terakhir dirawat, dokter kandungan saya me-refer saya ke konsultan laktasi di RS itu, dan syukurlah ini dilakukan, karena saya jadi tahu soal pijat payudara (untuk pertama kalinya). Di situ saya dipijat sama konsultannya, dan itulah pertama kalinya saya liat ASI keluar dari payudara sendiri. Berasa kayak liat bayi sendiri pas pertama dia keluar n nongol di dunia, saking terharunya. Si konsultan juga berusaha menyemangati, “Ini udah mulai keluar loh Bu ASI-nya.. harus rajin dipijat ya..” katanya.

Pulang dari RS, karena segala macam kesibukan dan kemalasan, pijat ASI ga dilakukan dengan teratur. Jadi ya setiap kali Aimee memang dalam posisi menyusui, tapi saya bahkan gatau apakah ASI-nya keluar atau nggak. Udah gitu semua orang ribut nanyain, “ASI nggak?”, “ASI nya banyak ga?” dll., sampe’ saya pingin ngerekam suara saya aja atau tempelin tulisan di dahi, “ASI saya sedikit”.

Sempet juga saya coba peras payudara pake’ pompa, dimana yang keluar hanya beberapa tetes aja. Coba juga pake’ tangan, hasilnya sama. Tapi at least kan keluar gitu, dan secara masih norak, langsung saya bangga-banggain ke keluarga,

Saya : “Eh ASI gw ada loh! Bisa nih dperas.. keluar, keluar! Eh eh ini dimasukkin kulkas gitu ya kalo’ mau disimpen?”
Cici : “Iya, dimasukkin kulkas. Emang ASI lo ada berapa banyak? Gw aja dulu cuma 30 mili-an..”
Saya : “Gatau nih, ini mau sambil peras lagi..”
terus coba peras lagi dan hasilnya tetep cuma beberapa tetes aja #putusasa.#malu

Nah kemudian setelah ngobrol-ngobrol dikit sama sepupu saya Dyna, akhirnya saya mutusin datang ke klinik laktasi di St. Carolus demi dan atas nama ASI dan Aimee.

Pertama datang, saya ga bawa Aimee, karena saya pikir saya datang untuk dipijat payudaranya seperti waktu di Rumah Sakit paska lahiran -> kebegoan untuk ke sekian kalinya.

Pas ketemu dokternya, dokternya bingung. “Kok anaknya ga dibawa Bu?” Saya tersipu-sipu malu semalu-malunya.

Kata dokter lagi, “Kalo’ saya suruh pulang, nanti Ibu tersinggung. Tapi kalo’ sesi ini diterusin, Ibu ga bawa bayinya. Gimana saya bisa lihat proses menyusuinya?” Saya tersipu-sipu lagi. Nama saya perlu dirubah jadi Ms. Tersipu.

Akhirnya karena kasihan, dokter mengajak kami ngobrol soal ASI dan Aimee. Lumayan sih nambah pengetahuan. Dokter langsung mengultimatum : No more pake dot. Kalo’ nggak, nanti anaknya ga mau netek karena keenakan pake dot. Dokter suruh kami kasih sufornya pake sendok, tidak lupa mengajarkan cara memberikan susu yang benar dengan sendok tsb. Oh-oh.. denger ini aja saya udah stress. Ga kebayang deh repot dan ribetnya kudu nyendokkin si baby pake sendok, satu demi satu. Belum lagi ngerinya sama resiko tersedak.

Saya sempet berkilah, “Dok, buktinya sekarang anaknya masih mau netek kok.. padahal tiap hari juga kami kasih sufor pake dot..” Tapi dokter hanya tersenyum manis dan tetep kekeuh, “Akan ada some point of time dimana dia akan berhenti netek sama sekali dan hanya mau minum susu dari dot.” Saya sih masih ga percaya, tapi baca-baca di internet memang sih semua suggestion adalah jangan pake’ dot kalo’ mau ASI ekslusif. Pilihan lain ya sendok, feeder cup, dll., dan memang alternatif paling memungkinkan dan ‘user-friendly’ saat itu memang sendok sih sebagai pengganti dot.

Ya sudah kami pulang dengan beban.

Besokannya saya dateng lagi, kali ini tentu saja bersama Aimee, yang langsung celingak-celinguk kebingungan dengan noraknya, di tempat baru.

Setelah nunggu super lama karena memang di tiap sesi dokter harus liatin cara nyusuin pasien yang notabene ga sebentar, saya akhirnya masuk. Saya pun memeragakan cara saya menyusui Aimee ke si dokter (plus beneran netekin). Kayaknya sih fine-fine aja ya. Cuma dikasih masukan-masukan sedikit untuk memperbaiki pelekatan.

Di akhir sesi, untuk merangsang ASI, dokter mutusin untuk kurangin takaran sufor Aimee dari 60 mili menjadi…. 30 mili. Setengahnya. OMG. Saya sampe’ shock. Saya bilang, “Dok, how come? Bisa jejeritan ini anak, jatah sufornya dikurangi setengahnya, sementara ASI saya masih sedikit..” Dokternya cuma senyum-senyum aja. Pokoknya dia bilang, saya harus rajin peras dan pijat supaya ASI-nya bisa tambah banyak. Sufor nanti hari demi hari dikurangi.

Pulang dari dokter, saya stress setengah mati, tapi akhirnya coba dijabanin. Sufor dijadiin 30 mili doang, sama seperti jatah waktu lahir, sementara Aimee sekarang sudah hampir 1 bulan. Beneran ga tega ngurangin jatahnya jadi setengahnya. Seperti dugaan, Aimee jadi rewel luar biasa. Nangis kejer sepanjang hari. Ini berlangsung sekitar semingguan sebelum sesi kontrol kami berikutnya. Untuk medianya sendiri, saya masih nekat pake dot instead of pake sendok seperti suggestion dokter.

Sesi berikutnya lagi, si dokter nimbang berat badan Aimee dan surprisingly, berat badannya naik! Padahal takarannya udah diubah jadi 30 mili doang. Dokternya aja sampe’ surprise, tapi akhirnya seneng juga karena berarti Aimee ‘fine-fine’ aja dengan takaran sufor cuma 30 mili. “Lanjutkan,” kata dia. Okeh..

Kemudian dokter sekali lagi ngeliatin cara saya nyusuin. Kali ini, pas dokter liat, dokter bilang bahwa Aimee masih ga bener ngisepnya. Dianggapnya Aimee cuma ngempeng doang. Solusinya, dokter ngasih selang sebagai pengganti sendok. Jadi sambil netek, dengan posisi mulut Aimee masih melekat ke payudara, selang dimasukkan (diselipkan) ke mulut Aimee, kemudian ujung satu lagi ditaruh di botol berisi sufor. Karena Aimee akan menghisap payudara, nanti otomatis sufornya pun terhisap dan Aimee tinggal nelen aja deh dari selang itu. Kata dokter, dengan begini dia belajar menghisap supaya hisapannya juga kuat, sekaligus meminimalisir penggunaan dot.

Di situ saya sempet down lagi. Kok ada-ada aja ya? Kemarin harus pake’ sendok. Hari ini pake’ selang. Ribet banget. Pas saya cerita ke keluarga, semua juga geleng-geleng dan seperti biasa comment-comment negatif berdatangan. “Aduh, udah deh, ga usah ke klinik laktasi lagi,” atau “Ga usah aneh-aneh deh, pake’ sendok lah, pake’ selang lah.. udah pake’ dot aja kenapa sih? Buktinya anaknya masih mau netek toh..” dan lain-lain. Kebayang ga sih pressurenya?

Anyway saya tetep ikutin saran dokter, dan memakaikan selang saat Aimee menetek. Ternyata enak juga loh karena sufornya lebih cepet abis tanpa harus menyusui lewat botol. Lebih hemat waktu gitu, walaupun lebih ribet saat mencuci selang tersebut.

Jadi ya sudah hari-hari ke depan kami pakai selang untuk sufornya Aimee, sementara netek masih jalan terus. Intinya kami ga pake’ dot lagi.

Minggu depannya, sesuai instruksi, kami kontrol lagi ke klinik laktasi untuk liat perkembangan Aimee. Eeeh katanya masih belum terlalu OK ngisepnya. Saya sampe’ sebel dan frustrasi juga. Mesti diapain lagi sih? Di sesi tersebut dokter juga mengajarkan cara pijat payudara (refresh sesi di RS pasca lahiran dulu) yang bikin saya bingung juga. Kenapa baru diajarin sekarang, padahal saya udah pernah nanya dari sesi pertama soal pijat payudara. Terus mulai berasa kok sesi-sesi belakangan serasa ‘gak guna’ ya. Datang cuma untuk dilihatin cara nyusunya Aimee yang katanya ‘kurang’ ada perkembangan. Saya jadi capek sendiri, ini ujungnya sampe’ kapan ya? Kalopun teknik Aimee sudah benar, then what? -> ini emak-emak-baru yang cepet nyerah dan ga sabaran, ga bisa menikmati proses.

Akhirnya setelah itu saya berhenti mengunjungi klinik laktasi lagi. Saya gatau sih (sampe’ sekarang) apakah ini keputusan yang benar atau nggak. Yang penting saya udah dapat ilmu untuk peras payudara dengan menggunakan tangan dan teknik pijat payudara yang benar (walaupun saya hampir ga pernah pijat karena beneran ga ada waktu plus males juga hi-hi-hi).

Kesimpulan dari klinik laktasi :
* Harga mati ga boleh pake’ dot. Gunakan sendok, feeder cup atau yang lainnya.
* Pijat dengan kompres panas dingin sudah tidak digunakan (bikin saya bingung karena di internet semua bilang ini membantu kelancaran ASI)
* Jangan gunakan empeng, karena bisa merusak struktur gigi
* Better peras secara manual dengan tangan ketimbang dengan pompa karena beresiko menyebabkan luka dan lecet pada puting / payudara.

However balik ke soal ASI, walaupun saya ga balik ke klinik laktasi, saya tetap pake’ selang untuk sementara karena udah ‘keenakan’. Plus lama kelamaan karena Aimee rewel terus, saya naikkin lagi sufornya dari 30 mili, terus-menerus dan sekarang sudah 80 mili tiap minum sufor.

Kemudian kami punya suster, dan terkait pemakaian selang, somehow saya paranoid takut susternya nyuci selangnya ga bersih. Plus, entah kenapa susternya ga terlalu jago ‘nyelipin’ selang itu ke mulut Aimee, beda sama suami saya. Yang ada mulut Aimee disodok-sodok untuk masukkin selang itu ke posisi yang tepat supaya sufornya ‘terhisap’ pas dia lagi netek. Saya jadi ngeri mulutnya luka.

Jadi karena alasan-alasan di atas, akhirnya saya berhenti pake’ selang dan mulai pakai sendok. Suster yang nyendokkin. Bener-bener ‘mumpung’ ada suster juga (yang bilang bahwa dia sudah terbiasa ngasih susu pake sendok untuk para bayi yang dijaganya sebelumnya, sehingga kesabarannya mestinya cukup OK), Demi dan supaya Aimee ga mengenal dot lagi, segala upaya dijalani termasuk pake’ sendok yang menurut orang ‘berbahaya’ karena kans tersedaknya cukup tinggi. Makanya saya selalu liatin baik-baik setiap kali Aimee disendokkin, apalagi pas malam hari, karena takut susternya ngantuk, sampe’ bikin sang suster gerah dan akhirnya quit.

Di sisi lain, keluarga juga terus mendesak kami dan menyatakan secara eksplisit antipati mereka terhadap penggunaan sendok karena resiko tersedak tadi.

Mereka : “Udah pake dot aja..”
Kami : “Kalo’ si bayi kebiasaan ‘enak’ pake’ dot, lama-lama dia ga mau netek lagi. Netek kan perlu usaha ngisep, sementara pake dot tinggal terima beres..”
Mereka : “Ya kalo’ si bayi ga mau netek, nanti ASI nya diperas aja, kasih lewat dot juga.. Bisa kan tetep ASI?”
Kami : “Kalo’ si anak ga mau netek, berarti payudara tidak disedot. Means payudara tidak dirangsang untuk menghasilkan ASI. Akhirnya ASI-nya jadi tambah dikit loh dan lama-lama habis (eh masih bisa peras sih, tapi kan tetep sedotan bayi lebih efektif)
Mereka : “Kalo’ sampe ga mau netek lagi ya sudahlah.. Nih gw udah 30-an dan dulu pas bayi gw cuma minum sufor, tapi daya tahan gw baik-baik aja.. Tuh anak si XXX juga ga ASI tapi sehat sentosa aja.. Kayaknya ga ada beda deh anak ASI sama anak sufor..”

Speechless, tapi di satu sisi ‘terhibur’ juga dan membuat saya berkata pada diri sendiri, “Iya juga sih, ASI bukan segalanya kok..” walaupun semua orang di dunia definitely bilang bahwa bayi yang mengkonsumsi ASI lebih bagus daya tahan tubuhnya dan bonding dengan ibunya dengan ‘attached’ ketimbang anak sufor. Jujur sekarang saya udah ga peduli deh akurasi kebenarannya, yang penting diusahain kasih ASI semaksimal mungkin aja.

Jadi, menurut keluarga :
* Pakailah dot kalau tidak ingin mencelakakan anakmu.
* Kalo’ dot membuat anak tak mau menetek lagi, ya udah ga apa-apa. Ga bakalan mati kok. Gitu.

Anyway balik ke soal selang vs dot vs sendok, karena si suster tadi someday berhenti, akhirnya mau ga mau terpaksa kami ‘nurut’ saran keluarga untuk pake’ dot, karena walaupun sudah pernah diajarin di klinik laktasi cara menggunakan sendok yang benar, kami tetep ga PD dan merasa ga seahli si suster yang udah biasa nyendokkin bayi dan tahu penempatan sendok yang benar untuk meminimalisir resiko tersedak, termasuk saat bayi sedang menyusu dalam kondisi ngantuk, merem, bahkan tidur.

Dan setelah 1 bulanan, somehow ramalan ala nostradamus si dokter klinik laktasi terwujud. Aimee ngamuk dan nangis kejer setiap kali mau netek. Even baru diposisikan mau netek aja, dia langsung blingsatan dan jejeritan, sementara pas dikasih dot, doi langsung diem total dan merem-melek, asyik bersantap susu. Oh no, betapa sedih dan sakitnya ni hati, liat anak sendiri ga mau netek. Kalo’ dulu saya sering ngerasa jenuh banget dan berasa jadi ‘sapi perah’ karena harus netekin dia setiap 2 jam, sekarang rasanya I will pay everything untuk kembali ke saat-saat itu, dimana my baby masih mau netek walaupun ASI nya sedikit. Buat para orang tua di luar sana, bersyukurlah kalau your baby masih mau netek. It’s a greatest gift ever, beneran deh. It hurts so deep when your baby refused your milk.

Jadinya sekarang saya stop dulu netekin sementara, dan ‘kejar’ di peras aja. Sesekali saya masih coba usaha netekin Aimee dengan segala strategi dan tipu daya, walaupun sampai saat ini belum berhasil karena ternyata bayi sekarang cukup cerdas dan ga bisa ditipu. Mereka tahu bahwa mereka mau disuruh netek.

Kembali ke soal peras, karena ASI nya memang sedikit, sekali peras paling saya bisa dapat 30 mili. Kalo’ lagi banyak bisa dapat 40-60 mili. Di kantor saya usahakan 3x peras walaupun seringkali berhasilnya cuma 2 x peras. Dibawa pulang palingan cuma cukup buat sekali minum untuk Aimee.

Masih inget waktu pertama kali keluar rumah setelah 30-40 arian dipingit di rumah gitu pasca-lahiran, saya ke Ikea sama suami untuk nyari barang. Perginya lumayan lama, dari siang sampe’ sore. Sampe’ rumah, langsung cepet-cepet peras deh dan dapet hampir 80 mili. Abis itu mandi dan terus lanjut peras lagi, dan dapet 60 milian lagi. Kayaknya cuma itu pengalaman peras ASI yang terbanyak hi-hi. Setelah itu konstan sedikit terus. Anyway tetep bersyukur deh berapapun yang diperoleh, ASI masih bisa dan mau keluar.

Kadang bosen juga sih di awal-awal pasca lahiran tiap kali orang yang sama selalu nanyain, “ASI nya masih dikit?” Sampe’ saya bisa memahami deh perasaan orang-orang yang tiap lebaran or sinchia ditanyain “Kapan kawin? Masih single? Belum punya anak juga?” dll. Aku kini mengerti sungguh!

Balik ke pertanyaan-pertanyaan macam di atas, kadang emang sih statement-statement kayak gitu discourage kita banget (baca : saya). Jadinya kan ngerasa ‘rendah diri’, terus kayak diingetin terus bahwa “eh ASI lo dikit loh.. camkan itu siang dan malam ya.. inget, ASI lo DIKIT. D-I-K-I-T…” Lalu saya berasa sebal, sedih, kadang pingin nangis, terus efek ke pasokan ASI yang berkurang gara-gara hormon. Ah begitulah.. Sebenernya sih tergantung sayanya. Sayanya aja yang kurang positif, jadinya ‘ga bisa bawa santai’ tiap kali ditanyain gitu. Eh mungkin hormon juga kali ya, jadinya lebih sensitif -> kambing itemin hormon.

Anyway, thanks to my cousin Dyna yang ngasitau soal LDR dan lumayan ngefek untuk perbanyak ASIP. It works, saya sampe’ takjub. Rasanya banyak ya seluk-beluk ASI yang masih harus dipelajari dan dipraktikkan.

Jujur kalo’ liat orang posting foto ASIP mereka yang berbotol-botol itu, hati langsung ‘nyut’ gitu. I envy you all hi-hi.. Juga kalo’ baca-baca soal sharing / cerita di internet tentang para pejuang ASI yang berhasil ngasih ASI ekslusif, yang ada kok bukan termotivasi ya, tapi malahan sedih karena begitu banyak orang yang berhasil sementara diri sendiri melempem banget ASI-nya. Baca cerita mereka soal betapa banyak dan melimpahnya ASI mereka sampe’ muncrat-muncrat dll. itu bikin hati kayak dikentutin.

Anyway again tetep, kalo’ lagi down gini, diusahain sebisa mungkin untuk bersyukur karena masih bisa kasih ASI biarpun cuma sedikit. Bersyukur itu susah-susah gampang ya?🙂 I’m still learning though..

Next kalau ada kesempatan punya anak lagi (sementara belum mau lagi karena masih trauma), saya pasti bakalan lebih prepared biar bisa kasih full ASI eksklusif. Hmmhh!! No more kebodohan, kebegoan dan ketidaksiapan #mengepalkantanganpenuhtekad

Buat para pejuang ASI di luar sana, SEMANGKA!! Buat yang ASInya muncrat-muncrat, semoga makin deras. Buat yang cuma netes, semoga tetesannya menjadi aliran. Buat yang karena suatu kondisi apapun tidak bisa memberikan ASI, keep smiling karena kesehatan anakmu ada di tangan Tuhan🙂 Berserah saja..

Happy fri-yeay!!

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,696 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

1 (foto) lagi dari Mayora.. #aimee #birthday #1yearold #perayaanbatchkedua #celebration #remboelan #plazasenayan #inlawfamily #ayeamakukuyeye Libby and Jamie card for Aimee 😁

#birthdaycard #birthday #aimee #kids #handmadecard #cousin #nephew #niece Libby's card for Aimee 😁

#kids #birthdaycard #cousin #niece #birthday #aimee #handmadecard It's almost Christmas, the most wonderful time of the year!! Last year I didn't enjoy all this season beauty as I'm stucked at thome post-birth. But now?? Yeay!! Mall to mall, get ready!

#christmas #decoration #themostwonderfultimeoftheyear #christmastree One of my favorite place. Tasty food, wide range of variety, reasonable price, beautiful and comfy atmosphere

#remboelan #restaurant #indonesianfood Masih edisi ultah 🎂

Headband by @bearbeecollection 
Dress by Disney Lafayette 
#aimee #birthday #1yearold #white #baby #instababy #remboelan #plazasenayan #asyikdengansendokdansegalamacam Family is number one blessing

#aimee #birthday #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #keluargapala #remboelan #plazasenayan #whitebluedresscode ❤👪❤ 3 of us

#aimee #birthday #lunch #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan Teeth and tongue 😗

#aimee #baby #laugh #birthday #1yearold #lunch #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan 📷 : @lieta73 😀 Aimee mukanya kok penuh cela gitu si?

#aimee #baby #family #birthday #1yearold Aimee 2nd cake 🍰

A cake 🎂 by @ivenoven, a birthday cake I always want since errr.. forever?? #aimee #birthday #baby #1yearold #cake #ivenoven #winniethepooh #vanillanutella #vanilla #nutella Aimee 1st cake 🎂 🎂 @colettelola

#masihedisiulangtahun #aimee #birthday #1yearold #baby #cake #coletteandlola #chocolate Happy Birthday Aimee 🎂

#masihedisiulangtahun #aimee #birthday #1yearold #baby #changthien #keluargakaret #perayaanbatchpertama #greendresscode Happy birthday sweetheart 😀

Even the power of words (whom I trust the whole of my life) can't describe how I feel for this 1 year journey. 
It's a mixed of rollercoaster jaw-dropping, calming and peaceful feeling from rain and soil smell, soap opera laugh and tears, and so on.. Oh, and one thing for sure I know now what is heavy backpain and sleepless night, lol.. Mommy and Daddy woof you berry berry munch, sweet lil' monster.. Thank you for making me a better person, someone I never knew I could be.. ❤👪 #aimee #birthday #1yearold #baby #perayaanbatchpertama #chsngthien #bihunikanpalingenaksedunia #celebration #dinner #family Impatience has its cost 😐

#pablo #pablonyalongsor #cheesetart #japan #matcha #greentea #gandariacity #gancit #gojek #terimakasihabanggojekyangrelaantri #maugamaukasihtipsgede

@pablo_cheese_tart_indonesia Enjoying 30 % discount of Crispy Beef Steak 🐄🍴🍽 #fillbellies #gajahmada #crispybeefsteak #steak #food #dinner #western @fillbellies Anak kepo part 2

#aimee #baby #mainanembercuciankotor #emaknyaudahkehabisanide #udahhabisenergi #parenthood Anak kepo 😂

#aimee #koper #luggage #tatah #jalan #kepo #kiddy -> lg addicted main ini 😎

#designhome #game #playstore #interior #design Yg masak mau kawin tampaknya.. #bintanggading #pik #elanglaut #noodle #bakmi #pork #porknoodle #asinbangetyangdisini 😲😝😖😕

Blog Stats

  • 404,862 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

December 2016
M T W T F S S
« Oct    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

tuliskan yang tak mampu terucap

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: