Fanny Wiriaatmadja

Archive for the ‘Life’ Category

img_20161004_2042301

I’m an active Instagram user – and a dedicated follower to emak-emak dengan bayi super lucu, yang aktif posting foto anaknya dengan berbagai quote bijak yang intinya bilang bahwa sejak punya baby, their world has changed, bahwa being mom is the best thing in the world, bahwa this is the best feeling ever, and something similar.

I have no idea, tapi gw ngerasa kurang nyaman setiap kali baca those quotes. Bukannya apa-apa lho, ini beneran gw-nya yang problem. Penyebabnya simple aja : because it sometimes demotivates me as I’m not feeling exactly the same. Ini mirip kayak baca kisah sukses ibu-ibu soal ASI dan everytime you read it, you feel like a loser – bwahahaha pahit.

(out of topic) Sedikit mirip pula tidak nyamannya ketika membaca caption “I’m beyond bleseed”, “God is good” atau sejenisnya di foto orang jalan-jalan keluar negeri atau makan di restoran mahal. Maaf sama sekali tidak bermaksud nge-judge; tapi apa boleh buat memang itu yang gw rasa and I’m not gonna deny it. Itu hak setiap orang juga anyway to put whatever caption they want. Itu kan mencerminkan apa yang mereka rasakan juga, dan sama seperti gw berhak menyatakan apa yang gw rasa di blog, tentu saja orang lain pun berhak menyatakannya dalam bentuk caption. So truly ga ada judge-men-judge di sini. Let’s be santai. (out of topic)

Balik ke soal emak-emak, I know parenting is something great; something beyond your imagination. Beneran. But sometimes… it.. just..

Okeh, gini deh : Ketika suatu sore di busway yang penuh sesak sementara gw duduk nyaman untuk 1 jam 45 menit ke depan, I couldn’t hold myself to ask, “if I got a chance, would I choose my world with or without Aimee?” and I wasn’t surprised that I found myself not being able to answer it instantly, firmly, undoubtedly that I would definitely choose my world with Aimee.

It’s fine kalau kalian berjengit, mengernyitkan kening atau mengangkat alis mendengarnya. I know that my response is not impressive and not as expected, but it’s true. I can’t even decide. I can’t said anything like those positive caption I often read in social media, those emak-emak I always wish to be. I’m not proud to say this, but I try to be honest with myself.

Why can’t I decide? I mean, I’m truly thankful for Aimee in my life. It’s a wonderful surpise from dearly God for me and Buffy, and I sometimes feel that I don’t deserve it. He’s too good to bless me with such a wonderful baby. But why then?

It’s not just a simple condition antara ada anak vs ga ada anak. It’s not just a dilemma of “kalo ga’ ada anak lebih enak, bisa jalan-jalan” VS “kalo’ ada anak lebih enak, hidup terasa lebih bahagia dan complete”. Bukan sekedar perbandingan “Kalo’ ada anak repot” vs “kalo ga ada anak kesepian”. No, it’s more complicated, at least from what I feel, that I can’t choose what kind of world I prefer to stay in.

With Aimee in my life, I feel everything’s different (ya iya lah ya..). This is something new that I almost never experienced before, bahkan kalo’ boleh bilang, ini TERLALU baru. Gw ngerasa seperti lagi jadi kelinci percobaan, lagi struggle dan lagi di ambang titik gagal.

I’ve never been so in love sama seseorang (or sesuatu) sampai you want to spend every single second with her, BADLY, apalagi if you’re a working mum. I’ve never so worried of someone seperti yang gw rasain saat berpuluh-puluh malam menyaksikan Aimee sesak napas dalam tidurnya, dan berganti posisi dengan gelisah untuk menemukan the best one untuk bisa bernapas dengan baik (will share of this in other post kalo’ sempet). I’ve never had tears this much (kecuali pas Papa meninggal) watching her so suffering, in her ‘not-beauty-at-all’ sleep. I’ve never been so lack-of-sleep before, as I insist myself to keep opening my eyes the whole night to monitor her, until I’m sure she can breathe normally again, at least for some period of her sleep.

Hal-hal di atas belum termasuk perubahan ketika sekarang lo merasa mandi, makan, dll. adalah sebuah interupsi-super-mengganggu dan bersifat sedikit jahat, yang berusaha merebuat waktu lo dengan anak lo dan kadang membuat lo berpikir dalam khayal, bisakah mandi sambil bisa tetap main sama anak. Rasa yang membuat lo ga nyaman ketika lo date with your husband nonton film favorite lo, tapi tetap ngerasa rugi karena hilang waktu sama Aimee beberapa jam dan ga bisa nemenin dia tidur. Rasa yang membuat lo rela dan tetep hepi untuk gendong dia sepanjang hari biarpun pundak dan tulang punggung lo serasa mau retak dan nyaris lepas karena lo menikmati setiap sentuhan and being so close with her. Rasa yang membuat lo tidak puas karena ciuman, pelukan, sentuhan rasanya tidak cukup menggambarkan betapa sayangnya lo sama anak itu. Rasa rindu dan kangen yang membuat lo memakai sepatu jelek warna merah yang sama sekali tidak matching sama outfit kantoran lo, karena sepatu tersebut begitu nyaman dipakai dan bisa melesatkan lebih kilat langkah-langkah lo saat pulang kerja sehingga lo bisa lebih cepat nyampe’ di rumah and seeing your baby segera, entah rasa itu hanya sugesti atau tidak. Rasa yang membuat lo ga peduli udah bayar suster mahal-mahal dan tetep ga keberatan untuk gantiin sendiri pampers anak lo, nyusuin dia, nidurin dia dll. sometimes, karena lo enjoy dengan semua aktivitas itu dan menganggap itu adalah part of your quality time with your baby.

Belum lagi, rasa antagonis yang muncul, yang bisa membuat lo bisa bersikap antipati (dan kadang sangat benci) pada orang yang mencoba mengganggu terus-menerus intimacy lo sama anak lo. Rasa yang berkobar yang membuat lo mampu mengeluarkan statement bahwa lo akan melakukan apa saja buat anak lo termasuk jadi public enemy. Yeah, I’m more than ready for that. Juga, rasa yang membuat lo melewatkan entah berapa kali waktu makan siang bersama kolega-kolega dan menjadi agak anti-sosial because you’re busy browsing anything about your baby or having a video-call with her. Rasa yang membuat lo kadang bisa membenci suami lo at some point karena merasa bahwa tingkat-concern-nya ga setinggi lo terhadap sang anak. Rasa yang membuat lo sanggup untuk mengabaikan atau menolak dengar semua komentar miring orang saat lo membawa anak lo ke berbagai dokter karena (you know) pergi ke 4 dokter di Indonesia means 4 different opinions yang belum tentu semuanya benar.. Semua rasa antagonis itu kini bisa hinggap di lo dan lo ga pernah tahu bahwa lo bisa begitu mudah sebal, bahkan benci pada orang lain saat menyangkut anak lo.

In summary, I’m someone else. I’m someone new and I’m not really happy with the transformation. Someone that I don’t even recognize. I’ve never been so fragile, cruel, and weak like this, and I’ve never had so much ‘antagonist’ feeling within my heart to see anything or anyone that can possibly be a threat for my daughter. Terlalu tiba-tiba, tsunami rasa dan banjir hal baru yang mendera indera datang dalam sekejap berbarengan dengan kemunculan Aimee. Rasanya kadang gw ga siap menghadapi semua hal baru ini. Gw kewalahan. Gw kaget. Bingung. Gamang. Gw yang biasanya well-prepared, sekarang menyerah.

Balik ke pertanyaan tadi, apakah gw akan memilih hidup gw sebelum Aimee, atau sesudah Aimee lahir? Again I can’t just answer it easily. Karena kadang hidup gw setelah this cute lil’ monster ‘invade’ it terlalu menakjubkan untuk di-describe dengan kata-kata. Lo akan berubah menjadi seseorang yang lo sendiri ga kenal and it’s scary somehow. Kadang gw hanya mau gw yang biasa, yang ordinary, yang ‘baik-baik’ aja hidupnya, bukan someone yang sangat rapuh, jahat, kuatiran, paranoid, berlebihan, drama queen, dan menyebalkan seperti ini. Intinya gw ga pernah deh “se-orang-gila-ini” 🙂

So please give me some more time before I can stand and said confidently, that I choose my life yang sekarang, sebagai ibu yang punya kekuatan untuk mencintai anaknya sedemikian besar. Biarkan gw perlahan mencapai titik itu tanpa dipaksa dan didorong, supaya at the end yang keluar adalah ketulusan pada saat menyatakan bahwa having Aimee is the best thing in my life.

Sekian renungan mellow Jum’at ini.

Advertisements

ASI

Sub-Judul : Kisah sedih tentang si ASI *background lagu ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’ nya Marshanda

Bicara soal ASI, I think I was one of the most stupid emak-emak-baru ever, karena mengira bahwa… jreng-jreng, semua emak-emak-baru pasti bisa kasih ASI ke bayinya. Dengan lancar. Tanpa masalah. Mulus. Kayak paha ikan.

Beneran loh, sejak hamil, mungkin saking sibuknya sama kerjaan, saya ga pernah ngurusin persiapan ASI sama sekali, sampai sekitar beberapa minggu sebelum lahiran, saya sempet chat sama Eka, temen kantor lama saya, dan di situ kita ngomongin ASI. Saya sempet bingung karena Eka kok concern banget ya soal ASI, sampe’ nyuruh saya ke klinik laktasi dll. Saya sih iya-iya aja demi sopan santun. Saya kan orangnya baik.

Di satu mingguan terakhir sebelum lahiran, saya juga kebetulan nyasar ke link soal ASI dan pijat ASI, dan baca bahwa pijat ASI tidak disarankan untuk ibu-ibu yang mau lahir Cesar, karena katanya bisa merangsang kontraksi. Di situ saya ngangguk-angguk bangga, “Nah, untung saya ga pernah pijat-pijat,” gumam saya waktu itu -> ini membuktikan kebegoan saya lagi. Ngetik ini aja sampe’ gregetan sendiri.

Udah gitu pas lagi belanja perlengkapan bayi di Mangga Dua dan lagi mau beli pompa ASI dll, cici-cici saya pada bilang, “Aduh ga usah dulu deh, belum tentu ASI lo keluar..” Saya sebenernya agak bingung waktu itu, karena seperti yang saya jelaskan di atas, I thought semua ibu-ibu pasti keluar ASI dengan lancar jaya. Tapi waktu itu saya ngikutin aja dan ga beli pompa ASI dulu. Udah gitu saya cerita ke temen saya si Zha tentang statement cici saya itu, dan Zha bilang dengan tegas, bahwa dia ga setuju sama statement cici saya. Dia bilang, comment-comment semacam itulah yang bikin para ibu baru jadi ‘rendah diri’ dan akhirnya beneran bisa bikin ASI ga keluar. Padahal encouragement mengenai ASI sangat penting, karena perasaan percaya diri, gembira, bahagia dll. itu kan bisa ngerangsang keluarnya ASI terkait produksi hormon oksitoksin, dan bahwa ASI itu is the matter of demand-supply *eh aku udah macam kayak konsultan klinik laktasi aja

Dan jreng-jrenggggg baru setelah lahiran, saya ngeh dan nyadar kayak orang baru ditempeleng bajaj, bahwa persiapan ASI itu ternyata penting banget dan bahwa ASI itu udah kayak mantra ajaib buat para emak-emak. Ga heran abis lahiran, tiap ketemu emak-emak lain, pasti yang ditanya adalah, “ASI ga, ASI ga?” *iya kaaaan, ngaku, para emak-emak!

Ah sudahlah, intinya :
* Saya ga terlalu aware soal ASI dan persiapannya. Buta sama sekali soal IMD, LDR dll. Baru belakangan ini aware soal semua ini, dan nyeselnya bukan main *tersungkur sambil mukulin tanah
* Orang-orang di sekeliling saya termasuk orang-orang ‘jadul’ (no offense please) yang memang juga ga terlalu pro ASI. Maksudnya prinsip mereka “ada ASI syukur, ga ada ya udah, terima aja..” Padahal seiring dengan modernisasi serta kemajuan jaman di mana media sosial merajalela, kita bisa ‘ketemu’ para ibu-ibu (muda) modern jaman sekarang via online, yang sangat pro ASI, dan bisa ketularan positif dalam menyikapi ASI. No more paradigma yang menyepelekan ASI lagi. Dengan luapan informasi yang beragam, kita bisa belajar dari sharing mereka soal ASI dan makin aware bahwa persiapannya itu sebenernya ga susah kok dan ASI itu ya memang beneran super-penting dan nyaris ‘segalanya’.Sungguh baru terbuka mata saya sekarang betapa pentingnya ASI itu -> asli emak-emak paling bego sedunia.

Anyway-busway, sebagai akibat dari ketidak-care-an saya dan ketidak-aware-an saya, pada saat lahiran dan Rumah Sakit menanyakan apakah ibunya akan ASI ekslusif atau nggak, dengan PD (tanpa tahu apa-apa) saya mengatakan “Oh iya dong..” dan kemudian terhenyak saat tahu bahwa ‘konsekuensi’ dari pilihan itu, berarti si bayi akan tidur sekamar sama si ibu supaya ibu bisa menyusui anytime. Keluarga, seperti yang saya bilang, karena kebanyakan mungkin ga aware soal ASI juga, langsung menolak sambil mengernyitkan dahi, “Hah? Ibunya masih kesakitan, masa mesti tidur sama si bayi..” dan pendapat-pendapat sejenisnya. Termasuk suami saya. Termasuk saya juga, yang ngerasa ga nyaman harus langsung tidur bareng si baby demi ASI saat saya sendiri aja masih struggle dengan pain pasca lahiran baik fisik maupun mental. Akhirnya kami mengubah keputusan untuk si baby ga ASI eksklusif, melainkan… dikasih SUFOR. Oh no..

Asli kalau saja saat itu saya tahu mengenai seluk beluk IMD, ASI eksklusif dll., saya merasa semuanya pasti beda. If I could turn back the time, I would definitely do it. Rasanya nyesel banget karena ga lebih aware dan prepared. Dan seperti biasa muncul segala macam perandaian. Andai saya tahu pentingnya ASI, mungkin saya akan bela-belain untuk merangsang keluarnya ASI buat si baby sejak hari pertama dan ga langsung kasih sufor. Andai saya punya keluarga yang aware soal ASI pula, mungkin akan ada yang mencerahkan pikiran saya dan saya tidak akan ‘menyepelekan’ ASI. Andai saya tahu pentingnya ASI, saya bakalan tidur dengan baby saya di hari-hari di Rumah Sakit, karena keberadaan si baby (katanya) somehow justru could heal us, instead of bikin kita ribet. Mundur sedikit, andai saya tahu ini semua, saya akan prepare dengan mengunjungi klinik laktasi, melakukan pijat payudara, dan seterusnya.

Anyway ini sudah terjadi, dan sampai sekarang my baby jadinya minum sufor plus ASI. Eat the fact.

Jadi di awal-awal hari lahiran di Rumah Sakit, secara berkala Aimee dibawa ke saya untuk disusui. Namanya ibu-ibu baru, pas si baby terlihat ga mau nyusu, saya ya pasrah dan ngerasa fine-fine aja, terus saya pulangin lagi deh si Aimee ke si suster. Begitu terus, sampe’ bisa dibilang Aimee tuh ga ASI sama sekali pas di Rumah Sakit. Semuanya sufor. Saya bahkan gatau apakah ASI saya keluar atau nggak.

Di hari terakhir dirawat, dokter kandungan saya me-refer saya ke konsultan laktasi di RS itu, dan syukurlah ini dilakukan, karena saya jadi tahu soal pijat payudara (untuk pertama kalinya). Di situ saya dipijat sama konsultannya, dan itulah pertama kalinya saya liat ASI keluar dari payudara sendiri. Berasa kayak liat bayi sendiri pas pertama dia keluar n nongol di dunia, saking terharunya. Si konsultan juga berusaha menyemangati, “Ini udah mulai keluar loh Bu ASI-nya.. harus rajin dipijat ya..” katanya.

Pulang dari RS, karena segala macam kesibukan dan kemalasan, pijat ASI ga dilakukan dengan teratur. Jadi ya setiap kali Aimee memang dalam posisi menyusui, tapi saya bahkan gatau apakah ASI-nya keluar atau nggak. Udah gitu semua orang ribut nanyain, “ASI nggak?”, “ASI nya banyak ga?” dll., sampe’ saya pingin ngerekam suara saya aja atau tempelin tulisan di dahi, “ASI saya sedikit”.

Sempet juga saya coba peras payudara pake’ pompa, dimana yang keluar hanya beberapa tetes aja. Coba juga pake’ tangan, hasilnya sama. Tapi at least kan keluar gitu, dan secara masih norak, langsung saya bangga-banggain ke keluarga,

Saya : “Eh ASI gw ada loh! Bisa nih dperas.. keluar, keluar! Eh eh ini dimasukkin kulkas gitu ya kalo’ mau disimpen?”
Cici : “Iya, dimasukkin kulkas. Emang ASI lo ada berapa banyak? Gw aja dulu cuma 30 mili-an..”
Saya : “Gatau nih, ini mau sambil peras lagi..”
terus coba peras lagi dan hasilnya tetep cuma beberapa tetes aja #putusasa.#malu

Nah kemudian setelah ngobrol-ngobrol dikit sama sepupu saya Dyna, akhirnya saya mutusin datang ke klinik laktasi di St. Carolus demi dan atas nama ASI dan Aimee.

Pertama datang, saya ga bawa Aimee, karena saya pikir saya datang untuk dipijat payudaranya seperti waktu di Rumah Sakit paska lahiran -> kebegoan untuk ke sekian kalinya.

Pas ketemu dokternya, dokternya bingung. “Kok anaknya ga dibawa Bu?” Saya tersipu-sipu malu semalu-malunya.

Kata dokter lagi, “Kalo’ saya suruh pulang, nanti Ibu tersinggung. Tapi kalo’ sesi ini diterusin, Ibu ga bawa bayinya. Gimana saya bisa lihat proses menyusuinya?” Saya tersipu-sipu lagi. Nama saya perlu dirubah jadi Ms. Tersipu.

Akhirnya karena kasihan, dokter mengajak kami ngobrol soal ASI dan Aimee. Lumayan sih nambah pengetahuan. Dokter langsung mengultimatum : No more pake dot. Kalo’ nggak, nanti anaknya ga mau netek karena keenakan pake dot. Dokter suruh kami kasih sufornya pake sendok, tidak lupa mengajarkan cara memberikan susu yang benar dengan sendok tsb. Oh-oh.. denger ini aja saya udah stress. Ga kebayang deh repot dan ribetnya kudu nyendokkin si baby pake sendok, satu demi satu. Belum lagi ngerinya sama resiko tersedak.

Saya sempet berkilah, “Dok, buktinya sekarang anaknya masih mau netek kok.. padahal tiap hari juga kami kasih sufor pake dot..” Tapi dokter hanya tersenyum manis dan tetep kekeuh, “Akan ada some point of time dimana dia akan berhenti netek sama sekali dan hanya mau minum susu dari dot.” Saya sih masih ga percaya, tapi baca-baca di internet memang sih semua suggestion adalah jangan pake’ dot kalo’ mau ASI ekslusif. Pilihan lain ya sendok, feeder cup, dll., dan memang alternatif paling memungkinkan dan ‘user-friendly’ saat itu memang sendok sih sebagai pengganti dot.

Ya sudah kami pulang dengan beban.

Besokannya saya dateng lagi, kali ini tentu saja bersama Aimee, yang langsung celingak-celinguk kebingungan dengan noraknya, di tempat baru.

Setelah nunggu super lama karena memang di tiap sesi dokter harus liatin cara nyusuin pasien yang notabene ga sebentar, saya akhirnya masuk. Saya pun memeragakan cara saya menyusui Aimee ke si dokter (plus beneran netekin). Kayaknya sih fine-fine aja ya. Cuma dikasih masukan-masukan sedikit untuk memperbaiki pelekatan.

Di akhir sesi, untuk merangsang ASI, dokter mutusin untuk kurangin takaran sufor Aimee dari 60 mili menjadi…. 30 mili. Setengahnya. OMG. Saya sampe’ shock. Saya bilang, “Dok, how come? Bisa jejeritan ini anak, jatah sufornya dikurangi setengahnya, sementara ASI saya masih sedikit..” Dokternya cuma senyum-senyum aja. Pokoknya dia bilang, saya harus rajin peras dan pijat supaya ASI-nya bisa tambah banyak. Sufor nanti hari demi hari dikurangi.

Pulang dari dokter, saya stress setengah mati, tapi akhirnya coba dijabanin. Sufor dijadiin 30 mili doang, sama seperti jatah waktu lahir, sementara Aimee sekarang sudah hampir 1 bulan. Beneran ga tega ngurangin jatahnya jadi setengahnya. Seperti dugaan, Aimee jadi rewel luar biasa. Nangis kejer sepanjang hari. Ini berlangsung sekitar semingguan sebelum sesi kontrol kami berikutnya. Untuk medianya sendiri, saya masih nekat pake dot instead of pake sendok seperti suggestion dokter.

Sesi berikutnya lagi, si dokter nimbang berat badan Aimee dan surprisingly, berat badannya naik! Padahal takarannya udah diubah jadi 30 mili doang. Dokternya aja sampe’ surprise, tapi akhirnya seneng juga karena berarti Aimee ‘fine-fine’ aja dengan takaran sufor cuma 30 mili. “Lanjutkan,” kata dia. Okeh..

Kemudian dokter sekali lagi ngeliatin cara saya nyusuin. Kali ini, pas dokter liat, dokter bilang bahwa Aimee masih ga bener ngisepnya. Dianggapnya Aimee cuma ngempeng doang. Solusinya, dokter ngasih selang sebagai pengganti sendok. Jadi sambil netek, dengan posisi mulut Aimee masih melekat ke payudara, selang dimasukkan (diselipkan) ke mulut Aimee, kemudian ujung satu lagi ditaruh di botol berisi sufor. Karena Aimee akan menghisap payudara, nanti otomatis sufornya pun terhisap dan Aimee tinggal nelen aja deh dari selang itu. Kata dokter, dengan begini dia belajar menghisap supaya hisapannya juga kuat, sekaligus meminimalisir penggunaan dot.

Di situ saya sempet down lagi. Kok ada-ada aja ya? Kemarin harus pake’ sendok. Hari ini pake’ selang. Ribet banget. Pas saya cerita ke keluarga, semua juga geleng-geleng dan seperti biasa comment-comment negatif berdatangan. “Aduh, udah deh, ga usah ke klinik laktasi lagi,” atau “Ga usah aneh-aneh deh, pake’ sendok lah, pake’ selang lah.. udah pake’ dot aja kenapa sih? Buktinya anaknya masih mau netek toh..” dan lain-lain. Kebayang ga sih pressurenya?

Anyway saya tetep ikutin saran dokter, dan memakaikan selang saat Aimee menetek. Ternyata enak juga loh karena sufornya lebih cepet abis tanpa harus menyusui lewat botol. Lebih hemat waktu gitu, walaupun lebih ribet saat mencuci selang tersebut.

Jadi ya sudah hari-hari ke depan kami pakai selang untuk sufornya Aimee, sementara netek masih jalan terus. Intinya kami ga pake’ dot lagi.

Minggu depannya, sesuai instruksi, kami kontrol lagi ke klinik laktasi untuk liat perkembangan Aimee. Eeeh katanya masih belum terlalu OK ngisepnya. Saya sampe’ sebel dan frustrasi juga. Mesti diapain lagi sih? Di sesi tersebut dokter juga mengajarkan cara pijat payudara (refresh sesi di RS pasca lahiran dulu) yang bikin saya bingung juga. Kenapa baru diajarin sekarang, padahal saya udah pernah nanya dari sesi pertama soal pijat payudara. Terus mulai berasa kok sesi-sesi belakangan serasa ‘gak guna’ ya. Datang cuma untuk dilihatin cara nyusunya Aimee yang katanya ‘kurang’ ada perkembangan. Saya jadi capek sendiri, ini ujungnya sampe’ kapan ya? Kalopun teknik Aimee sudah benar, then what? -> ini emak-emak-baru yang cepet nyerah dan ga sabaran, ga bisa menikmati proses.

Akhirnya setelah itu saya berhenti mengunjungi klinik laktasi lagi. Saya gatau sih (sampe’ sekarang) apakah ini keputusan yang benar atau nggak. Yang penting saya udah dapat ilmu untuk peras payudara dengan menggunakan tangan dan teknik pijat payudara yang benar (walaupun saya hampir ga pernah pijat karena beneran ga ada waktu plus males juga hi-hi-hi).

Kesimpulan dari klinik laktasi :
* Harga mati ga boleh pake’ dot. Gunakan sendok, feeder cup atau yang lainnya.
* Pijat dengan kompres panas dingin sudah tidak digunakan (bikin saya bingung karena di internet semua bilang ini membantu kelancaran ASI)
* Jangan gunakan empeng, karena bisa merusak struktur gigi
* Better peras secara manual dengan tangan ketimbang dengan pompa karena beresiko menyebabkan luka dan lecet pada puting / payudara.

However balik ke soal ASI, walaupun saya ga balik ke klinik laktasi, saya tetap pake’ selang untuk sementara karena udah ‘keenakan’. Plus lama kelamaan karena Aimee rewel terus, saya naikkin lagi sufornya dari 30 mili, terus-menerus dan sekarang sudah 80 mili tiap minum sufor.

Kemudian kami punya suster, dan terkait pemakaian selang, somehow saya paranoid takut susternya nyuci selangnya ga bersih. Plus, entah kenapa susternya ga terlalu jago ‘nyelipin’ selang itu ke mulut Aimee, beda sama suami saya. Yang ada mulut Aimee disodok-sodok untuk masukkin selang itu ke posisi yang tepat supaya sufornya ‘terhisap’ pas dia lagi netek. Saya jadi ngeri mulutnya luka.

Jadi karena alasan-alasan di atas, akhirnya saya berhenti pake’ selang dan mulai pakai sendok. Suster yang nyendokkin. Bener-bener ‘mumpung’ ada suster juga (yang bilang bahwa dia sudah terbiasa ngasih susu pake sendok untuk para bayi yang dijaganya sebelumnya, sehingga kesabarannya mestinya cukup OK), Demi dan supaya Aimee ga mengenal dot lagi, segala upaya dijalani termasuk pake’ sendok yang menurut orang ‘berbahaya’ karena kans tersedaknya cukup tinggi. Makanya saya selalu liatin baik-baik setiap kali Aimee disendokkin, apalagi pas malam hari, karena takut susternya ngantuk, sampe’ bikin sang suster gerah dan akhirnya quit.

Di sisi lain, keluarga juga terus mendesak kami dan menyatakan secara eksplisit antipati mereka terhadap penggunaan sendok karena resiko tersedak tadi.

Mereka : “Udah pake dot aja..”
Kami : “Kalo’ si bayi kebiasaan ‘enak’ pake’ dot, lama-lama dia ga mau netek lagi. Netek kan perlu usaha ngisep, sementara pake dot tinggal terima beres..”
Mereka : “Ya kalo’ si bayi ga mau netek, nanti ASI nya diperas aja, kasih lewat dot juga.. Bisa kan tetep ASI?”
Kami : “Kalo’ si anak ga mau netek, berarti payudara tidak disedot. Means payudara tidak dirangsang untuk menghasilkan ASI. Akhirnya ASI-nya jadi tambah dikit loh dan lama-lama habis (eh masih bisa peras sih, tapi kan tetep sedotan bayi lebih efektif)
Mereka : “Kalo’ sampe ga mau netek lagi ya sudahlah.. Nih gw udah 30-an dan dulu pas bayi gw cuma minum sufor, tapi daya tahan gw baik-baik aja.. Tuh anak si XXX juga ga ASI tapi sehat sentosa aja.. Kayaknya ga ada beda deh anak ASI sama anak sufor..”

Speechless, tapi di satu sisi ‘terhibur’ juga dan membuat saya berkata pada diri sendiri, “Iya juga sih, ASI bukan segalanya kok..” walaupun semua orang di dunia definitely bilang bahwa bayi yang mengkonsumsi ASI lebih bagus daya tahan tubuhnya dan bonding dengan ibunya dengan ‘attached’ ketimbang anak sufor. Jujur sekarang saya udah ga peduli deh akurasi kebenarannya, yang penting diusahain kasih ASI semaksimal mungkin aja.

Jadi, menurut keluarga :
* Pakailah dot kalau tidak ingin mencelakakan anakmu.
* Kalo’ dot membuat anak tak mau menetek lagi, ya udah ga apa-apa. Ga bakalan mati kok. Gitu.

Anyway balik ke soal selang vs dot vs sendok, karena si suster tadi someday berhenti, akhirnya mau ga mau terpaksa kami ‘nurut’ saran keluarga untuk pake’ dot, karena walaupun sudah pernah diajarin di klinik laktasi cara menggunakan sendok yang benar, kami tetep ga PD dan merasa ga seahli si suster yang udah biasa nyendokkin bayi dan tahu penempatan sendok yang benar untuk meminimalisir resiko tersedak, termasuk saat bayi sedang menyusu dalam kondisi ngantuk, merem, bahkan tidur.

Dan setelah 1 bulanan, somehow ramalan ala nostradamus si dokter klinik laktasi terwujud. Aimee ngamuk dan nangis kejer setiap kali mau netek. Even baru diposisikan mau netek aja, dia langsung blingsatan dan jejeritan, sementara pas dikasih dot, doi langsung diem total dan merem-melek, asyik bersantap susu. Oh no, betapa sedih dan sakitnya ni hati, liat anak sendiri ga mau netek. Kalo’ dulu saya sering ngerasa jenuh banget dan berasa jadi ‘sapi perah’ karena harus netekin dia setiap 2 jam, sekarang rasanya I will pay everything untuk kembali ke saat-saat itu, dimana my baby masih mau netek walaupun ASI nya sedikit. Buat para orang tua di luar sana, bersyukurlah kalau your baby masih mau netek. It’s a greatest gift ever, beneran deh. It hurts so deep when your baby refused your milk.

Jadinya sekarang saya stop dulu netekin sementara, dan ‘kejar’ di peras aja. Sesekali saya masih coba usaha netekin Aimee dengan segala strategi dan tipu daya, walaupun sampai saat ini belum berhasil karena ternyata bayi sekarang cukup cerdas dan ga bisa ditipu. Mereka tahu bahwa mereka mau disuruh netek.

Kembali ke soal peras, karena ASI nya memang sedikit, sekali peras paling saya bisa dapat 30 mili. Kalo’ lagi banyak bisa dapat 40-60 mili. Di kantor saya usahakan 3x peras walaupun seringkali berhasilnya cuma 2 x peras. Dibawa pulang palingan cuma cukup buat sekali minum untuk Aimee.

Masih inget waktu pertama kali keluar rumah setelah 30-40 arian dipingit di rumah gitu pasca-lahiran, saya ke Ikea sama suami untuk nyari barang. Perginya lumayan lama, dari siang sampe’ sore. Sampe’ rumah, langsung cepet-cepet peras deh dan dapet hampir 80 mili. Abis itu mandi dan terus lanjut peras lagi, dan dapet 60 milian lagi. Kayaknya cuma itu pengalaman peras ASI yang terbanyak hi-hi. Setelah itu konstan sedikit terus. Anyway tetep bersyukur deh berapapun yang diperoleh, ASI masih bisa dan mau keluar.

Kadang bosen juga sih di awal-awal pasca lahiran tiap kali orang yang sama selalu nanyain, “ASI nya masih dikit?” Sampe’ saya bisa memahami deh perasaan orang-orang yang tiap lebaran or sinchia ditanyain “Kapan kawin? Masih single? Belum punya anak juga?” dll. Aku kini mengerti sungguh!

Balik ke pertanyaan-pertanyaan macam di atas, kadang emang sih statement-statement kayak gitu discourage kita banget (baca : saya). Jadinya kan ngerasa ‘rendah diri’, terus kayak diingetin terus bahwa “eh ASI lo dikit loh.. camkan itu siang dan malam ya.. inget, ASI lo DIKIT. D-I-K-I-T…” Lalu saya berasa sebal, sedih, kadang pingin nangis, terus efek ke pasokan ASI yang berkurang gara-gara hormon. Ah begitulah.. Sebenernya sih tergantung sayanya. Sayanya aja yang kurang positif, jadinya ‘ga bisa bawa santai’ tiap kali ditanyain gitu. Eh mungkin hormon juga kali ya, jadinya lebih sensitif -> kambing itemin hormon.

Anyway, thanks to my cousin Dyna yang ngasitau soal LDR dan lumayan ngefek untuk perbanyak ASIP. It works, saya sampe’ takjub. Rasanya banyak ya seluk-beluk ASI yang masih harus dipelajari dan dipraktikkan.

Jujur kalo’ liat orang posting foto ASIP mereka yang berbotol-botol itu, hati langsung ‘nyut’ gitu. I envy you all hi-hi.. Juga kalo’ baca-baca soal sharing / cerita di internet tentang para pejuang ASI yang berhasil ngasih ASI ekslusif, yang ada kok bukan termotivasi ya, tapi malahan sedih karena begitu banyak orang yang berhasil sementara diri sendiri melempem banget ASI-nya. Baca cerita mereka soal betapa banyak dan melimpahnya ASI mereka sampe’ muncrat-muncrat dll. itu bikin hati kayak dikentutin.

Anyway again tetep, kalo’ lagi down gini, diusahain sebisa mungkin untuk bersyukur karena masih bisa kasih ASI biarpun cuma sedikit. Bersyukur itu susah-susah gampang ya? 🙂 I’m still learning though..

Next kalau ada kesempatan punya anak lagi (sementara belum mau lagi karena masih trauma), saya pasti bakalan lebih prepared biar bisa kasih full ASI eksklusif. Hmmhh!! No more kebodohan, kebegoan dan ketidaksiapan #mengepalkantanganpenuhtekad

Buat para pejuang ASI di luar sana, SEMANGKA!! Buat yang ASInya muncrat-muncrat, semoga makin deras. Buat yang cuma netes, semoga tetesannya menjadi aliran. Buat yang karena suatu kondisi apapun tidak bisa memberikan ASI, keep smiling karena kesehatan anakmu ada di tangan Tuhan 🙂 Berserah saja..

Happy fri-yeay!!

Wahai Bapak dan Ibu,

Sungguh kami adalah kepala-kepala kecil
Lalui dasawarsa tanpa histori berarti
Buta pengalaman, cacat kapabilitas
Bagai bayi mengurus bayi

Di bawah ketiakmu kini,
Meracau sungkan, bungkam pun segan
Lidah kelu, tubuh kaku
Bisu tuli, kami sekejap ahli

Bersemayam di peraduanmu
Serpihan benihmu subur tertabur
Haruskan disemai dalam lahan benak
Dan dituai panennya sendiri?

Sungguh, lalukanlah kami dari gelombang paksamu
Alpakanlah kami dari perkamen kehendakmu
Nihilkan kami dari neraca hasratmu

Relakanlah kami
Menjalani tapak resiko
Menghidupi sepetak kebebasan kami
Mamilih dan memilah dengan segala keterbatasan
Itulah bahagia kami

Bolehkah kami rengkuh bahagia itu?

Gilaku

Posted on: March 14, 2016

do-i-miss-you-every-day-quote-1

Katakan
Gila macam apa
Yang membuat waktu jadi seteru
Membidani lahirnya tekad sebulat biji mata
Menyalip, berkelit, berkelok
Semua dimotori sosokmu di ujung sana
Terpusat oleh engkau, hanya oleh engkau
Tiada teralihkan, yang lain terabaikan

Ceritakan,
Perih macam apa, pedih jenis apa,
Saat bersua bengisnya realita
Tetap digdaya sang waktu yang unggul
Walau kaki berderap gesa
Dipacu selekasnya dalam resah
Tetap, aku sang pecundang

Beritahu,
Sensasi duka yang menghantam menohok puas
Saat porak-poranda fondasi hati,
Menatap lontaran senyum yang bukan buatku
Kala bukan sosokku
Yang alfa saat kau bangun
Dan omega saat kau lelap

Teriakkan,
Pedasnya semburat nyeri
Buasnya torehan luka
Saat seolah bayangku tanpa arti
Saat diri ini tak teracuhkan
Sekian bulan perjalanan bersama pudar dari benakmu
Bias kasih sayang berpendar luas dari segala penjuru
Menyelimutimu berlapis-lapis
Engkau nyaman dan bahagia
Bukan, bukan dariku

Siapakah aku kini
Yang hanya antara ada dan tiada
Yang hanya sewujud doa terujar lirih
Yang hanya bisa memutar imajimu dalam memori
Yang hanya bisa sesekali mengakali Sang Waktu
Untuk mendapat secuwil tampilanmu dalam dimensi terbatas
Di tengah padatnya keseharianmu

Hanya beberapa pinta kulontar,
Ijinkan aku menggenggammu
Dalam seserpih waktu yang kupunya
Biarkan aku merengkuhmu erat
Dalam peluk tanpa jeda
Biarkan kulempar hangat
Tatap penuh kasih yang bicara berjuta aksara
Ijinkan aku melahap dan merekam gambar dirimu
Supaya lega dahagaku
Biarkan gita dan senandung kulantun
Mengiring curahan sayangku untukmu
Ijinkan air mata haru tertetes
Untuk syukur atas hadirmu

Guratkan namaku dalam-dalam di segenap dirimu
Biar jadi ikrar manis kita
Dan penyembuh luka borok ini

Aku dan darahku, dagingku.
Selamanya.

Jakarta, 14 Maret 2016

1046878-Royalty-Free-RF-Clip-Art-Illustration-Of-A-Cartoon-Pediatrician-With-A-Client

Menurut saya, simbiosis yang terjadi antara para pediatrician a.k.a. dokter anak dengan para emak quite similar dengan simbiosis yang terjadi antara para nanny dan para emak sebagai berikut :

* Keduanya secara teori dikatakan saling membutuhkan alias mutualisme, tapi pada praktiknya, sebenarnya emak-emaklah yang lebih membutuhkan mereka. Lagi-lagi fakta yang menyebalkan, yang tidak bisa dipungkiri. Ga ada tuh “cari nanny itu kayak cari pacar”.. karena menurut saya, pacar itu statusnya imbang. Keduanya berada pada posisi sejajar. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kecuali kalau salah satunya o’on alias mau aja dikontrol semena-mena bin membabi-buta sama pasangannya. Nah, kalo’ dokter atau suster, jelas atas nama anak, bahwa kitalah para emak yang lebih membutuhkan mereka ketimbang mereka membutuhkan kita. Sepihak. Titik. Dokter dan suster, tanpa para anak, rasanya masih bisa cari kerjaan lain dan hidup baik-baik saja, sementara emak-emak tanpa dokter anak atau nanny rasanya almost impossible #opinikacangan.

* Yang kedua, kalo’ ketemu dokter anak/ nanny yang cocok, hoaaa rasanya bahagia banget dan hidup tenteram. Tapi kalo’ belum nemu yang cocok, hunting berjalan terus dan nestapa rasanya karena gregetan, makan ati, dan apapun itu yang sejenisnya.

However, profesi dokter anak ini buat saya sangat keren karena :

* Ga cuma ngandalin kejagoan teknis tapi juga butuh persuasion and communication skill yang baik.

* Kedua, profesi ini berhadapan dengan makhluk (baca : bayi) yang ga bisa ngomong dan menjelaskan apa yang mereka rasa, sehingga si dokter harus menganalisa dan mendiagnosa hanya berdasarkan penjelasan dari orang tuanya mengenai gejala yang terlihat dari si bayi, yang biasanya agak subjektif, reaktif, dan meledak-ledak karena kepanikan yang melanda si orang tua sehingga diragukan kebenaran, keabsahan dan akurasinya. Kebayang kan betapa complicatednya profesi ini.

Jadi-jadi-jadi, beginilah sekilas pengalaman saya bersama para pediatrician itu :

1. Bagian Pertama

Awalnya kan dokter anak ‘ngikut’ Rumah Sakit tempat lahiran ya. Cuma gara-gara case kepala anak saya yang bengkak sebelah tanpa ada penjelasan berarti dari sang dokter, akhirnya semua orang manas-manasin untuk pindah dokter. Karena saya oke-oke aja dipanasin, jadinya ya udah kami pindah dokter, ngikutin mayoritas sepupu saya yang dokter anaknya adalah dokter LH yang praktik di RS Medistra / JWCC sana.

Suatu hari kami ke sana untuk cek kepala anak saya, sekalian untuk melakukan imunisasi. Ternyata bin ternyata, sang dokter mirip dikit sama Robert Downey (menurut saya), yang langsung disangkal mentah-mentah sama suami saya. Atas dasar kekurangsenangan suami atas pendapat saya itu, saya harus lebih berhati-hati dalam bertindak-tanduk selama mengunjungi sang dokter, karena sekali sapuan merapikan rambut saja, saya akan dituduh melakukannya ‘demi dan karena mau ketemu dokter Robert Downey’. Ah anyway, kita sudah melenceng dari topik dan kini mari kembali lagi.

Pertama pergi sih lumayan impress karena Aimee diperiksa dengan teliti, dan itu pertama kalinya saya terkagum-kagum (sekaligus deg-degan) liat dia bolak-balikkin Aimee dengan gampang dan cepet banget, udah kayak benda mati tanpa berat. Belakangan baru ngeh bahwa semua dokter anak emang jago ngebolak-balik bayi kayak gitu. Kayak lihat atraksi sirkus deh.

Singkat cerita, diagnosa sang dokter bilang bahwa kepala Aimee baik-baik saja, walaupun untuk kembali normal mungkin butuh waktu cukup lama, kurang lebih 6 bulanan (anyway ga sampe’ sebulan, kepala Aimee ternyata udah balik normal, syukurlah).

Nah, terus setelah selesai periksa, namanya juga emak dan bapak baru, nanyalah kami mengenai beberapa hal. Suami saya nanya mengenai lidah bayi yang putih – harus diapainkah? Apakah tidak apa-apa?? Dan sang dokter menjawab dengan sangat jutek, “You ga usah ikutin orang-orang jaman dulu lah!!” yang bikin kami bengong. Perasaan kami nanya pertanyaan yang cukup normal deh, kok jawabnya galak amat. Di akhir kejutekannya dokter bersabda, “Ya udah kalo’ mau yah dibersihin ajalah pake’ kain kasa dan air putih..” Okeh, kami mingkem deh..

Eh saya karena aji mumpung lagi di dokter, nanya lagi mengenai napas anak. Saya bilang napasnya Aimee kayaknya agak berat dan berbunyi. Takutnya kenapa-kenapa karena saya dan suami asma berat dan eksim. Takutnya kan faktor turunan.

Dokter LH menatap kami seakan kami gila dan berkata dengan gregetan sambil menoleh melihat ke arah lain dan menghela napas, suatu ungkapan eksplisit keputusasaan dia, “Aduh!!” katanya, mengindikasikan bahwa pertanyaan kami sangat bodoh bin tolol bin bego bin apapun itu. Jadi kami diam lagi, dalam kebingungan dan ketakutan. Setelahnya karena mungkin dia ga tega, dia menjelaskan bahwa penyebab napas bunyi ya bisa macem-macem. Alergi, faktor eksternal, dll. Ya sudahlah, penjelasannya ga terlalu menjawab pertanyaan kami, jadi kami setelahnya langsung terbirit-birit kabur keluar ruangan karena emang udah selesai periksa juga. Btw, sebenernya kan bisa yah, dia langsung jawab aja gitu pertanyaan kami, ga usah pake’ aksi membuang muka yang dramatis gitu.

Dokter LH ini, secara akademik dll. katanya memang OK. Maksudnya, dokternya pintar, diagnosanya (katanya) hampir selalu tepat. Pernah saya bawa Aimee juga karena matanya banyak kotoran mata sampe’ kayak luka gitu, dokternya kasih salep dan dalam beberapa hari Aimee langsung sembuh. Eh ini sih mungkin cuma case kecil aja, jadi memang solusinya mudah pula.

Selain itu, si Dokter LH periksanya cermat, ga ‘kejar tayang’ dan… dia seorang anak Tuhan. Saya pernah baca tulisannya mengenai ‘pelayanan’ di dunia kesehatan, yang membuat saya makin kagum dengan beliau. Cuma ya begitulah namanya dokter, kadang karena capek, macet, plus serbuan pertanyaan membeludak bin ga masuk akal dari para emak-emak, kadang-kadang mungkin emosinya jadi terpengaruh sehingga kamilah para pasien berikutnya yang kena dampaknya. Either kita dijutekkin, didamprat, dll., dan mereka akan berkata “Kami juga manusia” sebagai pembelaan atas ‘kejahatannya’ itu, Memang berat menjabani profesi dokter, apalagi dokter anak, tapi itu kan resiko atas pilihan hidup mereka ya.. Kalo’ ga sabar-sabar ngadepin anak (dan emaknya), mana bisa jadi dokter anak yang baik? Mending ga usah daripada ‘nyakitin’ hati banyak keluarga pasien.

Khusus buat dokter LH ini, saya sih beneran berdoa supaya dia ga jadi batu sandungan buat para pasiennya dan tetap jadi berkat, sebagaimana misinya di dunia kesehatan dengan profesinya sebagai dokter anak.

2. Bagian Kedua

Next case nya adalah waktu saya notice lagi dan lagi bahwa napas Aimee itu terasa (dan terlihat) susah banget. Memang kasihan kalo’ punya emak bapak alergi alias asma dan eksim. Bunyi napasnya bukan sekedar bunyi grok-grok biasa yang memang normal untuk para bayi baru lahir, tapi lebih ke bunyi ‘ngik, ngik..” yang menyeramkan, apalagi menjelang malam pas Aimee sudah mau tidur. Capek dan kasihan banget liat dia napas dengan susah, sampe’ nyaris bikin saya mau gotong dia ke UGD di suatu malam, saking kuatirnya #baladaemakemakbaru #masihnorak #panikkan

Akhirnya kami bawa lagi ke dokter LH di atas. Eeeeh, dapetnya nomor bontot, sementara ke RS Medistra itu macetnya lumayan nampol dan nunggu antrian si dokter pun cukup menyita waktu karena dia kan meriksa pasiennya teliti dan lama.

Jadinya kami ke dokter B dulu (lupa nama belakangnya) di Klinik Elizabeth di deket Pluit sana, dokter senior yang pendengarannya sudah menggunakan alat bantu dan jalannya agak terseok-seok tapi punya rekam jejak bagus dan kredibilitas cukup tinggi di antara para dokter anak.

Sekali periksa, dokter bilang bahwa dahaknya Aimee banyak sekali, makanya napas sesak, dan harus dikasih obat pengencer dahak. Plus katanya Aimee alergi karena badan dan mukanya banyak bintik-bintik. Alhasil, kami dikasih obat, kemudian disuruh ganti susu ke susu anti-alergi NeoCate yang harga sekalengnya 345 ribu (dan di kemudian hari kami notice bahwa setiap 5 hari, tuh susu habis.. keringlah kantong demi beliin susu ni anak). Terkait obat, saya ga mau dulu beli obatnya karena ga tega rasanya kasih obat ke bayi yang baru umur 1.5 bulan. So obat dipending dulu sementara.

3. Bagian Ketiga

Besokannya, kami kembali lagi ke dokter LH untuk second opinion, kali ini syukurlah dapat nomor antrian kedua.

Dari luar ruangan, saya udah denger dokter LH lagi ngomel-ngomel di telepon. Kayaknya sama orang tua pasien deh, hampir pasti sih emak-emak. Omelannya (dengan nada jutek yang mulai saya kenal), “Udah ya Bu, ga usah dikit-dikit kuatir, kita para dokter jadi pusing juga kalo begini.. Gimana mau kerja!”

Dan….. abis itu giliran Aimee. Saya dan suami masuk. Si dokter masih bertampang bete dan bikin saya deg-degan. Bukan karena tampang Downeynya, tapi karena kuatir dia bakalan jutek sana-sini lagi kayak biasa.. Saya pun mulai cerita dengan bahasa yang baik dan sederhana bahwa si Aimee ga bisa napas. Namun Saudara-saudara, tampaknya saya salah kata sehingga si dokter dengan muka bete malah membalas cepat, “Hah? Ga bisa napas?? Maksudnya apa??” Cepet-cepet saya perbaiki, “Eh maksudnya susah napasnya Dok.. ngik-ngik gitu..” dan dengan panjang kali lebar kali tinggi, saya ceritain kisah sesaknya Aimee, termasuk soal Aimee yang ga mau netek beberapa hari, yang saya duga dengan sok tahunya, disebabkan oleh napasnya yang sesak.

Dokter menoleh ke Aimee, terus menatap kami dengan datar, “Mana bunyi ngik-ngiknya? Saya ga denger tuh..”

Kami diam. Errr, kayaknya ada sedikit deh itu bunyi napasnya. Kok dia bisa ga denger ya? Kemarin aja dokter B langsung denger dan langsung bilang, “Wahhh banyak dahak nih anak, tuh napasnya sampe’ kayak begitu..”

Dokter berdiri, bersidekap, menunggu respons kami. Kami salah tingkah. Pipi bersemu. Sekali lagi, bukan karena tampang Downey-nya. Gatau kenapa ya pokoknya bersemu aja. Ga usah ditanya.

“Errr itu bukannya bunyi ya Dok? Daritadi di mobil juga bunyi terus napasnya,” kata saya.

“Ya itu di mobil kan? Nah sekarang buktinya ga bunyi tuh? Mana?” tantangnya.

Kami diam lagi. Bingung dan speechless. Pengen tenggelam aja rasanya. Di laut Atlantik. Pacific juga boleh.

Akhirnya dia samperin Aimee yang lagi ditidurin di ranjang, terus dia mulai periksa-periksa. Dia bilang dengan sedikit nada sinis, “Kalo’ gitu nginep aja anaknya di sini.. biar napasnya ga bunyi lagi. Wong napasnya bersih kok di sini..”

Saya coba remind dia lagi, “Tapi ni anak juga ga mau nyusu (ASI) beberapa hari ini Dok.. kayaknya dia ‘engap’ gitu napasnya..” Dokter langsung melirik catatannya di meja. “Buktinya berat badannya naik tuh..” tantangnya lagi. Kami diam lagi. Pokoknya kerjaan kami cuma diam mulu di hadapan si dokter. Kayak orang gagu-grogi-gemetar-gigil-gelisah, sementara si dokter kerjaannya nantangin mulu, kayak jagoan.

Terus singkat cerita (karena udah capek ngetiknya), dia cuma kasih kami Sterimar Baby untuk legain napas, dan cuma suruh kami bersihin tirai, kamar, dinding dll. di rumah untuk mencegah alergi. Oh ya sempet juga sih dia sedot ingusnya Aimee (ih baik juga ya ni dokter). Semoga ingusnya lezat ya Dok..

Setelah selesai pemeriksaan, intinya saya menyimpulkan bahwa si dokter berpendapat :

* Pertama, selama berat badan naik, kemudian si bayi masih mau nyusu (dari dot) dan bayi ga rewel, ya artinya si bayi baik-baik aja.

* Kedua, ga peduli si bayi terlihat sesak, napasnya bunyi parah dll., pokoknya ya si bayi baik-baik aja. Lihat point satu di atas. Titik.

* Ketiga, kami para orang tua (baca : saya) adalah makhluk paranoid yang harus berubah dan belajar menerima kedua point di atas. Titik sekali lagi. Makan tuh titik.

Udah deh. Dari situ suami saya agak bete dan nyaris ga mau ke dokter itu lagi dengan alasan si dokter tidak komunikatif dan super jutek. Kayaknya emang kaminya aja deh yang apes, ke tempat si dokter setiap kali dia lagi bete. Perasaan sepupu-sepupu yang ke Dokter LH itu muji-muji si dokter mulu. “Orangnya sabar, baik pula..” kata mereka, yang bikin saya pingin be’ol sekejap kalau melihat pengalaman indah saya bersama si dokter.

Memang bingung sih bagaimana dalam 2 hari kami ke 2 dokter yang berbeda dan mereka bisa memberikan hasil yang totally different. Yang satu langsung bilang bahwa memang ada something problem, sementara yang kedua bilang ga ada apa-apa.

Sebenernya memang sih tujuan kita para orang tua pergi ke dokter itu menurut saya :

* Kita pingin denger dokter mengiyakan ‘dugaan’ atau diagnosis kita, dan kita hendak berkata dalam hati, “tuh kan bener kekuatiran gw.. something problem dengan anak ini!”
* Kedua, kita pingin denger dokter menenangkan kita, mengeluarkan statement kontra bahwa pendapat atau dugaan kita salah, dan kita akan berkata dalam hati, “Aduh untung anak gw ga apa-apa..”

Nah di dokter LH ini, saya sih lebih dengan reason nomor satu di atas. Saya merasa something wrong with napas Aimee seperti yang kemarin juga sudah ditegaskan oleh dokter B. Dokter LH memang menyatakan sebaliknya, yaktu bahwa Aimee ga apa-apa, tapi sayangnya saat itu Ybs. sedang bad mood sehingga kami akhirnya ga merasa mendapatkan penjelasan dan ketenangan.

Ya sudah deh case closed. Kami anggap Aimee ga apa-apa, walaupun kelihatan jelas banget nih anak napasnya susah dan bunyinya serem banget. Campuran bunyi grok-grok, bunyi reak yang ga bisa dikeluarin, dan bunyi ngik-ngik khas orang asma. Sepaket semua dalam napasnya, lengkap.

4. Bagian Keempat

Beberapa hari kemudian, namanya juga emak-emak baru, ngeliat anaknya masih begitu aja tanpa ada perkembangan, akhirnya saya bawa lagi Aimee ke dokter ketiga, dokter RH di RS Satyanegara Sunter. Pas dateng, Aimee lagi jamnya minum susu, dan sayangnya jamnya bertepatan dengan jam kami dipanggil masuk ke ruangan dokter. Padahal termos sudah dikeluarin, ready untuk bikin susu.

Ya udah kami masuk ke ruangan dokter dulu, dan si monster kecil mulai nangis meraung-raung, mostly saya yakin karena dia emang lapar dan mau nyusu.

Terus saya ceritain tentang napas Aimee ke sang dokter, dan dengan sangat cepat, dokter berkata, “Memang bayi itu suka kolik. Kalau kolik, ya dia akan nangis meraung-raung seperti ini…” dan Ybs. menjelaskan panjang lebar tentang kolik termasuk ngajarin cara pijat bayi. Saya setengah mendengarkan sambil bengong total, karena rasanya keluhan saya soal napas deh, bukan perut. Kalo’ kolik, saya ngerti, it happens sometimes ke bayi-bayi, tapi raungan Aimee hari itu lebih ke arah dia mau nyusu, I was quite sure. Lagian kok ga nyambung banget ya, orang lagi ngomongin napas, eh tau-tau dokter bahas Kolik dengan serunya. Berasa pingin koprol di tempat jadinya saking gregetannya.

Terakhir kami malah dikasih semacam suplemen untuk mengatasi atau mencegah kolik. Semacam probiotik. Pas saya tanya lagi mengenai napas Aimee, dokternya tersenyum, “Ga apa-apa kok..” DUENG.. kami pun tambah pusing tujuh keliling, Perasaan dokternya ga meriksa sama sekali deh, cuma langsung ngomongin kolik based on tangisan Aimee tadi. Sayang Aimee lagi nangis kejer, sehingga napas bunyinya itu ga kedengeran dan ga bisa saya tunjukkin ke dokter.

5. Bagian Kelima

Ya udah akhirnya kami balik ke dokter B yang pertama kali kami datangin itu untuk ambil obat dia karena udah gatau harus gimana. Setelah konsultasi sama kakak ipar saya yang dokter kandungan, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan obat tersebut untuk Aimee karena sepertinya obatnya quite safe. Selama 3 minggu kami kasih Aimee obat-obatan itu (bukan antibiotik) dan ga ada perkembangan berarti sehingga akhirnya saya pasrah dan stop-in semua obat itu karena ga tega lihat anak sekecil itu dicekokin sekian banyak obat dalam periode waktu cukup lama.

Jadi intinya pergi ke tiga dokter berbeda, semuanya berbeda, semuanya sia-sia. Hi-hi-hi.. *ketawamelengkingtandafrustrasi

Nah fenomena ‘shopping’ dokter semacam ini saya rasa common banget dan hampir pasti terjadi di semua ibu-ibu pas anaknya sakit dan kita tidak merasa mendapatkan jawaban yang kita mau (seperti yang saya tulis di atas), either jawaban yang membenarkan kekuatiran kita atau jawaban yang menenangkan hati kita.

In this case, akhirnya saya gave up and stop hunting dokter. Sambil setiap kali tersiksa ngeliatin napas Aimee, saya coba pantau terus perkembangan dia. Sekarang sih sepertinya dia agak mendingan (atau karena kaminya udah terbiasa dengan bunyi-bunyian dan kondisi dia ya? No clue). Plan saya sih, liat perkembangan Aimee sampai beberapa bulan ke depan. Semoga napasnya bisa membaik dan memang sayanya aja yang paranoid. Pingin banget bisa gantiin posisi dia, supaya dia ga perlu kesusahan kalo’ napas bak orang asma gitu.

Saya juga udah capek diomelin dan dinasihatin orang sana-sini, “Ga usah cari dokter lagi deh.. dokter a, b, c pasti beda semua..”, “jangan paranoid”, dan segala macam nasihat lainnya. I understand sih their point. Cuma susah ya, karena mereka gak ngalamin langsung ngeliat anak bayi 1,5 bulan napasnya definitely terlihat sesak dan dahaknya banyak. Memang susah jadi emak-emak. Being a wise one yang bisa tetap rasional dan tenang while seeing your baby suffer itu rasanya susah banget. Being a patient one yang bisa terima dengan humble semua judgment orang yang mempertanyakan keputusan kita untuk pergi ke dokter a, b, c, itu juga sama susahnya. Kadang memang silence itu solusi terbaik.

Udah deh sekian curhatan mengenai para dokter anak. Sampai sekarang saya masih ke dokter LH kalau untuk sekedar imunisasi. Anggap aja demi melihat tampang Robert Downey-nya. Dan, dan, dan, semoga, semoga, semoga, my sweet Aimee napasnya baik-baik saja ke depannya. My plan is to strictly monitor keadaan dia. Udah punya 2 nama dokter sih untuk dipergiin ke depannya, yang sepertinya lebih cocok untuk case-nya Aimee, yakni dokter alergi dari Klinik Sehat dan dokter anak sub spesialis pernapasan di Jatinegara. Juga, kalo’ napas Aimee udah mendingan, kami rencana ganti susu lagi – sehingga ga perlu tekor pake’ susu mahal yang bikin jutaan melayang tiap bulannya.

Happy friday! *buatparadokteranak

 

mom-holding-childs-hand-clip-art

Happy Friday!

Just FYI, ini bukan tulisan mengenai sesuatu yang baru. Jutaan emak-emak baru has experienced this; pengalaman bagaimana rutinitas dijungkirbalikkan dan keseharian diobrak-abrik oleh seorang makhluk yang berojol dari peranakan, atas titah Yang Kuasa.

So, inilah perubahan yang saya alami saat si kecil nongol tanpa tedeng aling-aling setelah bulanan merajalela di rahim :

* Website pertama yang dibuka saat browsing : Dulu so pasti http://www.21cineplex.com. Sekarang? No more cinema – forget it! “Google” sekarang adalah tautan utama yang didatangi tanpa harus dipikir dua kali. “Cara cepat menyendawakan bayi”, “Tips menghentikan cegukan pada bayi”, dan sejenisnya-sejenisnya itu yang sekarang jadi makanan sehari-hari. Ah, dasar ibu-ibu-baru-seumur-jagung!

* No more me-time. Saya hampir ga pernah melakukan perawatan wajah lagi. Paling maksimal ya hanya cuci muka aja, itu pun karena sekalian dilakukan pas mandi. Sebenernya sih bisa aja dilakukan kalo’ mau dipaksain, tapi gatau kenapa, setiap hari rasanya diri selalu berpacu sama waktu. Jaga anak jadi first priority, dan urusan tetek-bengek kecantikan lain seperti tidak lagi punya tempat, karena saya dan suami hanya jaga anak berdua tanpa bala bantuan. Bahkan pake’ krim penghilang bekas garis lahir dan bekas operasi Cesar aja ga lagi dilakukan dengan teratur, termasuk minum booster ASI, Mama Soya, dan apapun itu. Ga ada deh mikir gimana caranya supaya badan bisa balik kurusan seperti sebelum lahiran. Udah ga ada waktu mikirin solusinya. Perut ga balik? Ya udah terima aja sambil mulai memilah-milah celana yang masih muat dipakai. Body lotion dan parfum juga ga pernah dipake lagi dan nyaris mau dikasih ke suster sebelum kemudian si suster ngabur minta berhenti, Tapi body lotion and parfum matters ini lebih karena takut kena kulit sensitif si bayi sih #emak-emakkampungan #paranoid

* No more pup teratur everyday. Yang ada 2 hari sekali. Ga ada tuh leyeh-leyeh menikmati mulusnya luncuran feses ke jamban. Yang ada malahan ga sabar nunggu prosesnya selesai dan akhirnya keluar statement pasrah, ‘ga usah pup deh hari ini..’ saking terburu-buru mau balik jaga anak. Akibatnya : perut begah, kentut super-bau-busuk.

* No more belanja buat diri sendiri. Sekalinya keluar ke mall dan mampir di department store, yang dilakukan adalah nyatronin tempat baju bayi dan langsung heboh ber ‘aaah’ dan ‘iiiih’ melihat baju-baju bayi yang lucu dan cute, apalagi kalo’ ada diskonan dimana baju bayi cuma… 50 rebuuuuu!! OMG, bahagia banget! Pengen sebar duit rasanya.. Intinya saya jadi hilang selera belanja buat diri sendiri. Belanja baju bayi jauh lebih nyenengin, apalagi ga usah buang waktu nyoba-nyobain di ruang ganti seperti pakaian kita-kita orang dewasa. Walaupun secara teori tahu bahwa beli baju bayi itu buang-buang duit karena hanya bisa dipakai beberapa waktu saja, tetep aja godaan selalu berhasil menembus benteng pertahanan yang memang kendor ini. Oh no, siapa sih yang tahan ga belanja baju-baju yang lucunya bukan kepalang itu? Kalo pun ga di mall, sehari-hari pas lowong kerjaannya ngeliatin account baju bayi online di Instagram, hu-hu-hu..

* Kalo’ dulu postingan Instagram hampir pasti isinya gambar makanan semua, menumpahkan kerakusan yang terpampang jelas ke dunia dua dimensi, sekarang mah isinya postingan foto anak mulu. Ga tahan untuk ga posting dan mendokumentasikan kelucuannya yang bikin hati hangat.

* No more game. Goodbye Battle Camp and Hay Day. Bener-bener no time untuk main game, apalagi join event-event di game. Sesekali saya masih mainin Hay Day karena no pressure dan loadingnya lebih cepet ketimbang Battle Camp. No more balesin missed-call orang. Kalo’ penting toh orang itu akan telepon lagi. Pokoknya jadi jarang banget nyentuh HP.

* Tangan jadi kasar karena sering cuci tangan (biar steril dan higienis) dan cuci botol susu anak #nasibgapunyasuster.

Begitulah sekilas beberapa hal yang berubah. Gatau kapan semuanya bisa balik normal. However tetep aja sih berusaha di-enjoyin semuanya 🙂

 

Tags: ,

2016125151205[1]

Aimee Lynn. Banyak orang tanya, kenapa ni anak dikasih nama kayak gitu. Ada juga yang bilang namanya aneh, ga familiar, jarang denger, dll., hihihi.. Syukurin..

Sebenernya saya memang sengaja nyari nama yang belum banyak dipake’ orang. Habis kecepatan pertumbuhan populasi bayi di semesta kayaknya melebihi kreativitas manusia dalam mencipta nama, jadinya banyak banget anak yang bernama sama.

Tadinya saya mau kasih nama Elaine or Faye ke si baby, tapi apa daya udah banyak yang pake’ juga (‘poke’ implisit ke temen saya Farica sama Eric). Maklum saya manusia sedikit sombong bin congkak, jadinya pinginnya nama anaknya belum pasaran-pasaran banget.

Terus setelah merenung setiap hari dengan teduh dan khusyuk dalam perjalanan ke kantor di busway, akhirnya saya memutuskan pingin kasih nama Renee ke nih anak. ‘e’ nya sih pengennya pake ‘e’ yang di atasnya ada garis miring tuh, kayak model Perancis punya. Maklum, namanya juga nama dari Bahasa Perancis. Sekali lagi harap diingat saya manusia sombong.

Apa daya ternyata memang ga memungkinkan, kalo’ pake’ ‘e’ yang aneh-aneh gitu di Indonesia ini, jadinya ya udah Renee aja tanpa sentuhan cantik garis seksi di atas huruf ‘e’-nya.

Sejalan waktu, saya mulai ragu sendiri karena bingung, ‘Renee’ itu diucapinnya ‘Ri-ne’ atau ‘Re-ne’ ya? Aih, si manusia congkak tertelan kesombongannya sendiri dan harus menderita sebuah kebingungan. Google sana-sini, kayaknya sih orang Perancis aslinya ngucapinnya ‘Re-ne’ sementara orang bule ngucapinnya ‘Ri-ne’. Jangan-jangan orang Indo ngucapinnya ‘Re-ne-e’. Lebih ngaco lagi. Nah lo, jadi tambah bingung kan.

Kebingungan semakin merebak karena setau saya nama Renee banyaknya dipake’ sama kaum adam deh di Perancis sana, sementara anakku kan perempuan! Kayaknya ga rela juga namanya jadi biseksual gitu. Akhirnya saya memutuskan untuk mulai menyeleweng ke nama lain.

Gatau kenapa, either gara-gara nonton Asia Next Top Model atau saya memang pinter, tau-tau saya nemu dan falling in love sama nama Aimee, salah satu kontestan di acara itu yang masuk 3 besar dan merupakan salah satu favorite saya karena kecantikan dan kekalemannya. Eh, lagi-lagi nama Perancis. Biarpun sombong nan angkuh, saya sebenernya demennya nama yang simple; ga keberatan dan merupakan nama ‘jadi’, bukan nama jadi-jadian atau dibuat-buat. Ermmm nama yang dibuat-buat itu maksud saya adalah nama hasil kreativitas para mama, misal kayak Rubenia atau Joicelyne atau semacam itu. Eh maaf ya buat yang bernama seperti itu atau yang punya anak dikasih nama seperti itu. Itu kan cuma pendapat wanita sombong ini saja. Eh (lagi), pada ngerti kan ya maksud saya.. maksudnya saya lebih suka nama yang ‘jadi’, bukan yang dirangkai-rangkai sendiri gitu.

Balik ke nama Aimee, saya baru inget juga bahwa di Indonesia ada model yang namanya Aimee Juliet. Jadi yah nama ini ga ‘asing’-‘asing’ banget lah ya..

Setelah cukup mantap dengan nama ini, iseng-iseng saya google, ni nama punya arti ga ya.. Pas dicek, eeeeh ternyata artinya (kalau ga salah inget – males google lagi) dalam bahasa Perancis adalah Yang Disayangi/ Tersayang/ Terkasih. Mirip-mirip gitu deh. Saya langsung hepi dan surprise banget, karena emang bener sih ni anak pasti banyak banget yang sayang (pe-de) secara keluarga saya keluarga besar, keluarga suami juga ga mau kalah, keluarga besar pula. Diliat dari sisi kuantitas, pasti ada banyak orang yang bakal sayang sama nih anak. Iya ga sih? Jadi saya ngerasa makna namanya kok nendang banget ya.

Dan ga berapa lama kemudian, pas mau formulain nama mandarin buat Aimee, eeeeh ternyata ada huruf ‘Ai’ dalam nama itu, yang dalam bahasa mandarin berarti Cinta. Ya ampun, kok bisa sama dengan arti dalam bahasa Perancisnya? Saya sampe’ takjub dan bener-bener ngerasa miracle banget. Agak lebay sih, tapi berasa keren aja gitu nih nama bisa punya makna yang aligned antara bahasa Perancis dan mandarinnya. Seneng banget! Jadi makin mantep untuk pake’ nama Aimee.

Eh iya satu lagi, Aimee itu juga bisa ditulis sebagai I Am Me. Aimee. Hi-hi, berasa norak banget. Kan bisa buat identitas diri gitu. I Am Me.

Mengenai nama keduanya yakni ‘Lynn’, saya gatau sih asal-muasalnya dapet darimana, pokoknya seperti yang saya bilang, saya emang demennya nama yang simple dan ga berat. Jadi ya udah pake’ Lynn aja. Beberapa orang bilang nama ‘Lynn’ ini kayak orang Bule, which is bikin saya agak bingung. Masa sih ya? Kalo’ iya ya ga apa-apa juga sih, cuma mau bingung aja. Boleh kan?

Oh ya ada juga sih yang nanya, “Ga kasian namanya berhuruf depan ‘A’? Nanti kalo’ di sekolahan, dia selalu dipanggil pertama loh..” Bener juga sih, saya juga udah lama kepikir gitu, tapi saya pikir ga apa-apa lah, ada enaknya juga. Dipanggil duluan, abis itu ‘deg-degan’nya ilang, ga ada beban lagi. Coba bayangin anak yang huruf depannya ‘Z’, pasti deg-degan nunggu dipanggil ujian praktik olahraga, nunggu pengumuman nilai (misalnya), dll. Nama depan ‘A’ bebannya cuma sebentar, habis itu bisa santai-santai.

Nah begitulah sejarah nama Aimee Lynn. Sederhana dan simple, seperti namanya.

Mengenai Aimee sendiri, setelah hampir 2 bulan kenal dia, ternyata anaknya sangat ‘mengejutkan’ terutama dari sisi emosi. Ga sabaran, cepet marah, grumpy, dll. Contoh :

  • Akan marah-marah dan ngedumel dengan bahasa bayi paling ajaib bak nge-rap, saat ada orang yang berisik/ngobrol pas dia lagi menyusu. Oh, bahkan pernah pas lagi menyusu, perut saya bunyi karena laper, dan believe It or not, matanya langsung buka, dan dia langsung nangis sambil ngeluarin bunyi aneh yang intinya marah-marah. Cukup lama untuk ngeredain nangisnya. Pokoknya kalo’ lagi nyusu, dia maunya tenang damai sentosa.
  • Kalau lagi ‘nete’ dan pasokan mulai seret (maklum ASInya masih dikit), dia juga akan marah-marah dan mulai nge-rap ‘maki-maki’ (bahasa ‘halus’) yang kedengerannya lucu dan ajaib banget, bikin kita mau ketawa. Plus badannya akan dia banting sana-sini untuk berusaha meraih, menarik, menggigit, dll. Berasa ngeliat bulldog. Takjub deh akan kelenturan gerak badan dan kepalanya.
  • Kalau lagi tidur, dia sering ngulet/menggeliat dan keluarin suara marah-marah/ teriak gitu.

Yah pokoknya ni anak ajaib deh. Ga sabaran dan agak sedikit pemarah. Semoga gedean dikit, emosinya lebih stabil ya Nak..

Biarpun dia sedikit temperamental, tentu aja kami-kami yang namanya bapak-emaknya sayang banget sama nih anak. Gatau kenapa ya, liatin tampangnya yang lucu, gendut, berdagu lipat dll. bikin ‘nagih’ banget. Kadang bisa sampe’ berlinang air mata karena terharu dan ngerasa sayang banget sama nih bocah *emak-emak lebay yang emosinya ga stabil dan hipersensitif. Rasanya emang jadi lebih sering nangis pas udah punya anak, daripada pas hamil.

Selain nangis, saya dan suami juga sering banget dibuat ngakak sama anak yang satu ini, terutama oleh tingkahnya pas mau tidur/ pas lagi tidur. Mata yang teler sehingga bagian bola mata itemnya ilang, menyisakan bagian mata yang putih saja (we call it mata Sadako), kemudian sering ngakak sendirian pas mau tidur sampe’ ranjang bergoncang-goncang dan bikin kami kaget (gatau kenapa), dan masih banyak lagi. We simply love and enjoy all the moments!

Btw juga, si Aimee ini katanya mewarisi mulut jutek mamanya (we call it mulut Gunung Fuji), dan forum muka bapaknya. Hidungnya sih tengah-tengah deh, campuran hidung mommy-daddy-nya, jadi lumayan adil.

Waktu lahir, kepala Aimee sempet benjol sebelah, tanpa sebab musebab apapun. Konsultasi ke berbagai dokter, katanya sih ga apa-apa, cuma kepentok jalan lahir or tulang vagina, dan syukurlah sampai sekarang kepalanya udah kembali ke ukuran normal. Problem kepala lainnya sekarang muncul, yakni gepeng sebelah gara-gara tiap tidur/digendong, kepalanya selalu belok ke sebeah kanan. Duh!

Aimee-dudut (panggilan sayang), kadang juga kami panggil Little-Monster karena beneran bikin kami dag-dig-dug dan agak paranoid. Setiap dia start agak pules pas kami tidurin dia dan taruh dia di boxnya, cepet-cepet kami berjingkat-jingkat tanpa suara, ngumpet dan balik ke ranjang, menatap nanar langit-langit dengan big-worry-takut-dia-bangun yang biasanya terbukti benar.

Begitu kami denger satu bunyi aneh tanpa dosa dari mulutnya di box tempatnya bertakhta itu, pertanda nih anak bangun lagi, langsung jantung kami berpacu lebih cepet dan keringet dingin ngalir keluar; tanda we’re ready untuk start dari awal lagi nimang-nimang, nyanyi-nyanyi, gendong dengan segala gaya dan usaha untuk bikin dia pules dan mau lagi ditaruh di box-nya. Arrrgh, our sweet little monster!

Buat masa depan Aimee, plan jangka pendek adalah bikinin dia email address dimana saya bakalan tulis surreal buat dia anytime, dan bakal kasih dia passwordnya pas dia udah gede. Semoga dia cukup rajin untuk mau baca surat dari Mommynya selama belasan tahun! -> rencana masa depan jangka pendek yang ga penting banget hihi.

Rencana lain adalah bukain tabungan buat dia sehingga dia punya duit sendiri, tempat dia bisa simpen hasil pemberian orang-orang pas dia lahir, pas Imlek, dan pas ulang tahun setiap tahunnya. So at least buat dia sekolah, ada sedikit dana yang bisa dipake. Kami berdua, saya dan suami, commit untuk ga touch duit itu sama sekali. Itu adalah duitnya Aimee dan kami hanya boleh pake’ untuk kepentingan dia.

Last but not least, tiap ari Mommy and Daddy selalu ngedoain biar Aimee tumbuh jadi anak yang takut dan cinta mati sama Tuhan. I don’t need anak yang pinter, cantik, dll. (ga perlulah, udah ada gen emaknya). I just want anak yang selalu pegang tangan Tuhan selama idupnya, muliain nama Tuhan dan jadi berkat buat sesama, secara saya tau, kami ga akan mungkin terus ngawasin Aimee seumur hidup. Cuma berserah sama Tuhan dan doain Aimee selalu jalanin firman Tuhan, yang bisa bikin kami hidup tenang dan yakin bahwa anak ini akan ‘baik-baik saja’. Ga akan ada gunanya kuatirin apakah dia akan terjun ke pergaulan bebas, apakah dia akan punya pacar yang ga baik, dll. Mikir dari A sampai Z, ga ada jalan lain untuk tenang selain berserah. Sepanjang Aimee hidup takut akan Tuhan, maka kami orangtuanya bisa tenang. Makanya itu yang selalu saya doain. Semoga kami dapat hikmat untuk mendidik dan merawat dia dengan baik. AMIN.

 

article-1016703-01045CA000000578-108_634x345

Berikut adalah persiapan lahiran sejak tanggal 1 Desember. Kronologis pengingat buat di-share ke anak someday.

* 1 Desember

Udah mulai cuti. Sibuk ngurusin pindahan rumah dari apartemen yang notabene banyak banget. Mulai gunting rambut juga, pendekkin supaya pas lahiran ga gerah. Jadi ke Chandra Gupta yang biasanya adalah salon andalan untuk rambut pendek, dan hasilnya surprisingly asli jelek banget. Kecewa total. Abis itu ke dept store juga beli bra untuk menyusui dan keperluan lainnya.

* 2 Desember

Cek lab di RS untuk monitor detak jantung baby dan kondisi saya. Semuanya OK untungnya. Sempet ke-notice ada satu kali kontraksi di hasil lab nya. Setelah itu, saya balik ke salon lain lagi di Baywalk untuk rapiin rambut, siapatau bisa bagusan. Eeeh yang ada tetep jelek. Ya udah terima aja nasib, bakalan ketemu si baby dalam kondisi bad hair day. Sebel banget

* 3 Desember

Rencana lahiran adalah siang jam 12-an, karena menurut mertua itu tanggal dan waktu cantik. Okeh, ikutin aja deh. Lahirannya bakalan Cesar, karena saya asma dan mata minusnya tinggi.

Operasi akan start siang, jadi jam 9-an saya udah di RS. ngurus-ngurus administrasi dll. Ambil kelas 2 sajah, secara RS Mitra Kelapa Gading mahalnya poll dan kebetulan kantor saya ga ganti terlalu banyak untuk manfaat lahiran.

Saran buat yang mau lahiran, dari awal coba cek dulu biaya lahiran biar bisa ancang-ancang atau mutusin, beneran mau di RS itu atau nggak.

Kemudian babynya (dalem perut) di-final cek lagi sebelum proses lahiran. Abis itu dokter anestesi dateng kasih briefing mengenai proses penyuntikan obat bius yang bakalan dilakukan dari punggung.

Mertua dan cici, nyokap, semua pada dateng dan mertua bilang mau makan Bakmi Benteng di Kelapa Gading, mumpung lagi di daerah situ. Sedih dan sakit banget karena pengeeeen banget makan bakmi itu, tapi sayangnya kan lagi puasa dari pagi hari. Jadi dari pagi jam 5 itu saya cuma makan roti 2 biji plus jus kalo’ ga salah. Setelahnya no more food. Yang susah adalah ga boleh minumnya itu. Dari jam 5 pagi sampe’ jam 12 siang ga minum itu sesuatu banget loh.

Setelah itu proses lahiran dimulai deh. Saya dipakein baju operasi, kemudian masuk ruang operasi. Agak dag dig dug sih. Suami dll. semua ga boleh ikutan, itu aturan baru dari RS nya. Tapi emang suami saya ga mau ikut masuk sih karena takut ga kuat liat darah katanya.

Terus setelah sekian waktu yang rasanya lama banget, saya mulai disuruh duduk dan disuntik obat bius dari belakang sama si dokter anestesi. Eeeh aneh banget, ternyata tulang punggung saya agak bengkok or something deh, sepertinya semacam scoliosis dikit, sehingga suntikannya ga masuk-masuk. Heboh banget deh saya jadi tontonan seisi ruangan operasi karena dicoba berkali-kali dalam berbagai posisi, suntikannya tetep gagal, dan badan saya gerak terus otomatis setiap kali suntikan masuk dan ‘mentok’ ke tulang belakang. Dokter teriak-teriak, “Relax Bu, relax!!” Dalam ati, relax emak lo, orang badan ini otomatis gerak sendiri. Bayangin aja lo dikelitikin di pinggang, kan pasti reflex gerak. Udah gitu si dokter teriak-teriak panik gitu, “Waduh! Masih gagal! Gimana nih!” dll. Gimana orang ga makin kepengaruh. Ada kali 10-15 menitan dicoba terus-menerus, akhirnya syukur banget suntikannya berhasil masuk. Kaki saya mulai berasa semutan dan mati rasa. Hidung saya juga dimasukkin infus gitu.

Untuk operasi Cesar ini, bius yang dilakukan adalah bius Spinal (kalo’ ga salah). Jadi kaki ke bawah itu mati rasa dan kaki ke atas tetep sadar. Jadi initnya saya sadar sih. Di leher dipasangi tirai, jadi saya ga bisa liat proses pembedahan di perut sana. Anyway saya merasa saya liat percikan darah di tirai itu deh pas proses pembedahan udah mulai. Hiiiiy horror banget. Entah saya salah atau nggak, tau-tau pokoknya ada percikan darah gitu, titik-titik, di tirai itu.

Operasinya sendiri ga lama. Tau-tau saya denger suara baby nangis, terus babynya dibawa ke saya, didekapin di dada dan coba disusui, yang ternyata gagal karena ASI nya ga keluar. Waktu itu jujur sih ga ada perasaan apa-apa sih. Cuma seneng aja, tapi ga ada tangis haru-biru dll. Mati rasa banget sih saya haha..

Nah, setelah itu bayi dibawa sama suster, dan setelahnya adalah masa-masa paling menderita buat saya, yang bikin saya mencamkan dalam hati bahwa saya ga mau punya anak lagi kalo’ prosesnya kayak gini lagi.

Jadi setelah bayi dibawa pergi, perut saya kan harus dijahit alias ditutup. Nah itu saya masih terus sadar kan. Tau-tau karena saya memang lagi flu dan ruangannya dingin, hidung saya jadi mampet. Udah gitu kaki kan mati rasa dan bisa gerak. Belum lagi tangan dua-duanya diiket karena katanya biar ga nyentuh daerah steril (gatau maksudnya apa). Jadi asli saat itu saya panik banget dan berasa klaustrofobia atau semacam itu. Saya jadi ngerti perasaan orang yang stroke dan ga bisa gerak sama sekali, itu ga enak banget dan bikin mau ngamuk. Itu yang saya alami. Beneran sampe’ panik dan mau teriak rasanya. 45 menit saya merasakan itu, sambil dengerin celotehan dokter. Bener-bener salah satu worst time in my life. Mengerikan banget, ga bisa napas dan hampir seluruh tubuh ga bisa gerak. Pingin berontak dan jerit rasanya.

Akhirnya saya cuma bisa ngomong lemah ke suster, “hidung saya mampet..” dan suster cuma bilang “iya nanti dikasih obat ya..” tapi bayangin, obat pelega hidung baru dikasih sama suster setelah operasi beneran selesai. Rasanya pingin ngamuk banget. Saya juga minta obat penenang yang bikin ngantuk, dan dikasih sama suster, tapi ternyata ga mempan. Jadi ya 45 menit itu saya tetep sadar dan cuma bisa napas pake’ mulut karena hidung saya mampet total.

Selesai operasi, badan saya ditebolak-tebalikkin karena ada beberapa kali pindah ranjang. Dengan posisi kaki mati rasa, ditebolak-tebalikkin gitu rasanya ga enak banget, kayak kita mau didorong jatuh, dan kita ga punya control sama sekali. Serem banget rasanya. Tau ga, saya sampe’ bilang dalam hati, rasanya mendingan hamil 9 bulan lagi ketimbang ngulang 1 x proses cesar lagi, hihi..

Keluar-keluar, suami diijinin masuk sebentar untuk lihat saya. Dia masuk dengan raut muka bahagia gitu, dan saya inget dia bilang, “thank you..” sambil meremas tangan saya. Tapi asli waktu itu (dia bilang) dia kaget karena muka saya horror banget dan saya sama sekali ga bales ucapan dia. Kayak ga berarti gitu ucapan dia. Maklum deh, itu pas lagi trauma dan saya bener-bener lagi shock banget. Di situ hidung saya masih mampet, dan saya bilang ke suami untuk mintain obat pelega hidung. Baru di situ suster kasih saya obatnya, dan langsung hidung saya ga tersumbat lagi. Kenapa ga daritadi sih? Sedih dan kesel banget.. Kalo’ daritadi kan at least pengalaman operasi saya ga serem-serem banget.

Horor masih terus berlanjut. Saya dibawa balik ke kamar rawat inap, dan kaki saya masih mati rasa. Dokter bilang kaki saya bakalan normal 2-3 jam lagi. Kenyataannya tau ga, saya dibawa ke kamar inap itu jam 2 an siang dan jam 7 malem, kaki saya baru normal. OMG.. itu 5 jam.. 5 jam mati rasa dan kesemutan, ditambah rasa frustrasi karena ga bisa gerak sama sekali. Asli, bukan mau nakut-nakutin, tapi itu semua serem banget deh.

Keluarga mulai berdatangan dan jenguk setelahnya, dan saya sama sekali ga bisa senyum atau bicara karena masih trauma. Yang ada saya beneran pingin mereka semua pergi. Bahkan saya sama sekali ga keingetan sama bayi saya ataupun pingin ketemu sama dia. Beneran saya memilih untuk merem aja supaya semua tamu pergi. Pingin banget bisa tidur supaya tau-tau bangun kaki udah normal, tapi lagi-lagi obat tidurnya ga mempan ke saya. Jadi saya melek terus deh dari siang sampe’ malem. Asli stress banget.

Sore hari saya udah mulai boleh minum, tapi ga ada rasa kepingin sama sekali. Belakangan dokter kandungan saya datang dan bilang bahwa rasa semutan dan biusnya akan ilang cepet kalau saya banyak minum. Jadi obat biusnya bisa kebuang lewat urin. Langsung deh saya minum cepet-cepet dan banyak-banyak.

Jam 7-an malem, beneran kakinya mulai berasa enak. Saya mulai bisa gerak dan jam 8-9 an malem kakinya bisa dibilang udah normal total. Baru deh mulai bisa senyum cantik dikit.

Setelahnya saya makan malam, disuapin, karena ga boleh bangun sama sekali. Posisi harus terus tidur sampe pagi berikutnya, itu titah dari dokter kandungan. Again rasanya ga enak dan sengsara banget. Makan minum semua harus dari posisi tiduran. Terhibur dikit karena makanan malam itu ternyata lumayan enak. Sakit aja masih rakus.

Btw suami saya ga nginep di RS karena rasanya saya sendiri juga masih bisa. Palingan dikit-dikit panggil suster.

Untungnya lagi malam itu saya bisa tidur lumayan nyenyak. Kebangun beberapa kali, tapi badan kerasa lebih seger. Udah deh, pagi harinya saya udah bisa ‘hidup’ normal. Bayinya mulai dibawa ke saya untuk disusui tapi lagi-lagi ASI nya ga keluar dan saya masih kagok posisi menggendongnya. Akhirnya cuma sebentar-sebentar aja deh gendong dan liatnya, setelah itu saya istirahat lagi.

Btw kepala my baby ternyata agak benjol sebelah, cukup besar, di sebelah kanan, dan bikin kami sekeluarga cukup kaget, karena hari pertama lahiran, kepalanya baik-baik saja. Tanya-tanya dokter katanya sih ga apa-apa, tapi mereka juga ga bisa jelasin penyebabnya. Masalahnya saya kan lahirnya Cesar, bukan normal. So seharusnya ga ada proses apapun yang akan berimpact ke kepala si baby. Kisah mengenai kepala ini akan saya share later.

Saya masuk RS itu hari Kamis dan udah boleh pulang hari Sabtu, tapi keluarga suami memilih hari Minggu aja, sesuai mitos yang dipercaya. Ya sudah saya ngikut lagi saja.

Hari ketiga siang, saya mulai belajar berdiri dan jalan. Bekas operasinya ga terlalu sakit sih, cuma agak ganjel aja. Hari itu saya juga masih mandi di ranjang.

Hari berikutnya, hari terakhir dirawat, saya coba mandi sendiri di kamar mandi di kamar, dan… keramas. Setelahnya pas keluarga tau, saya dimaki-maki abis-abisan karena berani-berani keramas. Pake air dingin lagi. Seharusnya kan nunggu sampe’ 40 ari. Asli agak nyesel juga sih, abis ga tahan gerah dan keringetan setengah mati selama 2 harian itu dan badan udah lepek banget. Huhuhuhuhu..

Hari terakhir saya didaftarin ikutan massage payudara (yang notabene sakit setengah mati) untuk ASI dan ada juga briefing untuk perawatan bayi bareng seorang cewek India, dll. Siangnya saya udah boleh pulang ke rumah. Syukurlah!

Selama di RS itu saya 2x ganti ‘temen’ sekamar. Ga saling ngobrol atau bicara sih, sendiri-sendiri aja. Paling kalo’ papasan pas ke WC ya saling senyum aja (info ga penting).

Anyway karena dokter kandungan saya adalah kakak ipar saya sendiri, di RS itu somehow suster-suster pada baik banget sama saya. Saya sih menduga sebabnya ya karena mereka tau bahwa saya itu iparnya dokter xxx. Curigation banget ya saya..Tapi ya gatau juga sih, mungkin aja memang standard service di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading memang udah lumayan bagus.

Oh ya, saran saya selama dirawat : Bawa celana dan gurita lebihan, in case pembalut yang digunakan bocor dan tembus, karena itu yang saya alami. Akhirnya cici saya harus bawain saya celana dan gurita baru karena yang lama tembus.

Demikian sedikit kisah lahiran. Kisah si baby akan diposting terpisah.

 

vector-of-a-cartoon-pregnant-woman-holding-her-belly-coloring-page-outline-by-ron-leishman-14422

Gambar dari Vecto.rs

This is a late post of the latest series of my pregnancy period yang dituliskan dengan paksa demi menyimpan dan mengabadikan memori trimester kehamilan ketiga or terakhir sebelum benak hilang kemampuan untuk mengingat.

Di trimester ketiga, segalanya berlangsung lebih baik, selain sesak dan napas yang tersengal di setiap aktivitas, sekecil apapun itu, termasuk bicara atau ngobrol. Ga ada rasa eneg lagi dan selera makan beneran seperti normal. Juga ga ada rasa gatel-gatel yang selalu konsisten mendera di trimester sebelumnya. Rasa ingin buang air kecil sih masih terus ada, tapi silih berganti, sepertinya tergantung posisi janin. Di 5 menit pertama bisa pingin kencing banget, dan di 5 menit berikutnya rasa tersebut bisa hilang. Jadi semuanya masih ter-manage banget.

Yang ga enak palingan rasa gerah yang makin menggila. Di ruang ber-AC pun saya bisa keringetan, sampe’ saya setting ulang ruangan kerja saya di kantor supaya AC nya nyemprot gila-gilaan dan semua yang masuk complain kedinginan. Apa boleh buat.. Selain itu, badan juga lebih bau daripada biasanya. Maaf ya buat yang sering nyium or ngerasain bau badan saya, ha-ha, itu beneran karena hormon loh. Biasanya sehari-hari saya ga bau-bau dan ga jorok-jorok banget. Memang ngebetein sih, tapi diapain juga ga ngefek, tetep badan ada bau ga enaknya, gatau kenapa. Terima aja deh.

Asma juga masih ada terus. Masih sering batuk-batuk dan harus sering pake’ semprotan, tapi at least sekarang nemu bahwa kalo’ saya pake’ parfum ternyata asma saya makin sering kumat. Jadi sekarang no more parfum, or mungkin harus ganti parfum lain (tapi belum sempet).

Balik dikit soal makanan, saya sekarang bener-bener udah sembarangan makannya. Beneran kayak orang normal aja, walaupun pantangan dasar orang hamil tentu saja masih diikutin kayak no makanan mentah dan bakar-bakaran. Eh eh eh tapi selain makan sembarangan, kontradiktifnya saya makin banyak makan asupan vitamin and makanan bergizi lainnya loh, misal sarang burung (bener-bener nguras kantong saya untuk beliin sarang burung tiap minggu di 3 bulan terakhir), yoghurt, kacang ijo, susu kacang, jus buah, susu hamil, dll. Sampe’ tiap hari bingung, ini mau mulai makannya gimana ya dan urutan makannya yang bener gimana supaya semua makanan bergizi tadi itu efektif ke tubuh. Yang ada pola makan jadi agak berantakan dan ngasal. Pokoknya pagi begitu bangun biasanya saya konsumsi sarang burung dulu. Tunggu beberapa menit, terus minum jus. Kadang kalo’ lagi males minum jus, saya langsung makan roti and minum susu hamil. Malem biasanya jatahnya susu kacang, dan siang hari pas weekend biasanya saya makan yoghurt, kacang ijo, dll. Kacau-balau deh.

Hal lain di trimester ketiga ini adalah badan yang makin menggendut dan dagu yang berlipit tiga, dengan masing-masing bagian ngotot ingin eksis sebisa mungkin. Asli physically saya bener-bener buruk rupa banget. Lipatan mata juga makin bengkak, jadi bikin kayak orang ngantuk. Asli ga ada cakep-cakepnya acan. Orang semua ngira saya hamil anak cowok saking kumel dan jeleknya plus bentuk perut yang mancung ke depan, padahal saya hamil anak cewek. Jadi malu, tidak representative sebagai ibu bercalon anak cewek.

Di trimester ketiga ini, pas beberapa kali kontrol kehamilan, ada sedikit masalah dengan janinnya. Jadi pas diukur, panjang tulang pahanya itu ‘tekor’ beberapa minggu. Misal mestinya usia kandungan saya udah 28 minggu, panjang tulang paha si baby itu masih panjang untuk janin usia 25 minggu. Tekornya cukup konsisten, sekitar 3 mingguan, jadi akhirnya demi ngegenjot panjang tulang pahanya itu, vitamin D dan kalsium saya digandain dan saya harus jemur sinar matahari tiap pagi.

Karena terkendala kerja di tempat yang cukup jauh akhirnya jemur pagi hanya bisa dilakukan di Sabtu Minggu aja. Itu pun kadang mataharinya suka ngumpet. Di kontrol berikutnnya sampai di minggu terakhir, ukuran tulang pahanya masih ga ngejar. Akhirnya saya masih usahain jemur di kantor. Sampe kantor, saya langsung turun ke lobby dan cari posisi yang kena sinar matahari. Beneran kayak orang bego banget dan satpam semua pada kebingungan, ngapain ni ibu berdiri bengong di bawah terik matahari. Biasanya sebagai kamuflase, saya belaga main HP atau nelepon orang, or makan roti, sambil membunuh waktu juga.

Aaaaand terbukti masih ga ngefek juga. Akhirnya ya udah pasrah aja, palingan nanti kekurangan ukuran panjang pahanya harus ngejar pas si baby udah lahir.

Nah-nah, terus untuk 4D, saking bodohnya saya, saya pikir 4D itu pure cuma untuk ngeliat muka si baby doang. Jadi saya pikir nanti aja 4D-nya tunggu deket-deket lahiran biar muka babynya makin aktual, ciyeh.. Bodoh banget ya, ternyata pas mau 4D, usia kandungan saya udah mencapaai 35-36 mingguan yang notabene udah telat banget karena air ketuban udah sedikit dan muka si baby belum tentu bisa sejelas 4D yang dilakukan di usia kandungan yang lebih muda. Huhuhu nyesel banget karena ga nanya-nanya juga sama dokter kandungannya.

Pas 4D itu juga sekalian dicek mengenai issue ukuran panjang si baby. Dokter 4D nya juga bingung sih kenapa tulang pahanya doang yang ‘pendek’ sementara tulang punggung dll. semua bagus-bagus aja. Akhirnya dia menduga saya kekurangan kalsium (padahal kalsium udah digandain double) dan saya disuruh cek lab untuk ngukur kadar kalsium saya. Hari itu juga saya langsung cek ke Prodia. Hasilnya keluar beberapa hari kemudian, dan ternyata kadar kalsium saya memang rendah. Ga jelas kenapa, apakah saya memang kurang asupan kalsium atau memang badan saya yang problem dan metabolisme kalsiumnya ga bagus, itu mesti go for further check dan saya beneran ga ada waktu lagi. Jadi akhirnya ya udah sementara terima aja bahwa memang kadar kalsium saya rendah sehingga ga nyampe ke babynya dan efeknya tulang paha babynya pendek. Gatau juga kenapa larinya ke tulang paha dan bukan tulang yang lain, tapi apapun itu ya sudah terima aja. Untungnya itu bukan semacam kelainan atau ‘cacat’, hanya aja nanti babynya bisa pendek or bogel. Semoga saja nanti pas lahir bisa dikejar lewat jemur di bawah sinar matahari dll.

Berdasarkan hasil kontrol juga, kata dokternya lambung my baby ukurannya gede banget, means dia sepertinya kuat makan (seperti emak-bapaknya, hihih).

Di trimester ketiga ini karena makin engap kalo’ jalan, akhirnya selain pulang kerja dijemput, perginya sekarang saya dianterin juga, yang notabene sangat ngebantu banget. Emang sih jadi abis bensin, nambah biaya dll., tapi asli saya ga kebayang harus naik busway tiap pagi dan jalan cukup jauh dengan kondisi engap dan perut yang udah segede gentong. Thanks to suami yang cukup pengertian, ga usah diminta, langsung inisiatif mau nganterin pergi kerja di minggu-minggu terakhir.

Duduk juga ga bisa duduk lama-lama karena setelahnya pas bangun pasti tulang pantatnya jadi sakit. Mungkin karena ada beban berat si baby. Susahnya saya kan (di awal-awal trimester 3) masih naik busway dan duduknya lumayan lama, sekitar 2 jaman. Di kantor juga selalu duduk terus. Jadi memang rasa sakit di pantatnya lumayan sering kerasa.

Di minggu-minggu terakhir menjelang hamil, tau-tau saya juga kena batuk pilek yang cukup parah, dan ga sembuh sampe sebulan. Lumayan bikin parno karena takut efek ke babynya, apalagi batuknya lumayan parah dan sampe’ perut keguncang-guncang. Kasian banget deh babynya. Udah ke berbagai dokter dan minum various obat, sampe udah abis obat batuk 2 botol dengan jenis berbeda,tetep aja ga bae. Dokter akhirnya cuma bilang, obatnya ya harus istirahat, yang bikin saya agak worry karena urusan kantor lagi hectic-hectinya menjelang saya mau cuti hamil, plus saya lagi sibuk urusin pindah rumah terkait kehamilan saya. Mana bisa istirahat? Itu pun udah ijin sick leave berhari-hari untuk rest di rumah, dan yang ada akhirnya sedikit dipertanyakan karena ini HRD kok sering banget ga masuk hihihi.. Abis sakitnya ga baek-baek. Sampe’ ga enak banget sama boss (tapi ga ngerasa bersalah sih, abis emang kondisinya batuk pilek ga baek-baek, mau diapain dong).

Sampe’ hari lahiran, saya masih officially batuk pilek huhuh.. abis lahiran sih langsung sembuh untungnya.

Di trimester ketiga ini juga somehow posisi tidur saya malah lebih nyaman terlentang, walaupun saya tahu mestinya yang bagus kan tidur miring. Soalnya tiap kali saya miring, entah kenapa si baby selalu nendang dan lumayan sakit, gatau kenapa. Akhirnya saya harus balik terlentang lagi dan lama-lama malah lebih enak tidur terlentang.

Si baby juga udah sering diajak ngobrol walaupun cuma pas malem aja sih karena pas kerja ga sempet. Malem juga jujur kadang udah teler sih abis kerja, jadinya suami yang lebih sering ngajak ngomong si baby. Kadang worry juga loh, since seharian tiap kali di kantor sering banget ketemu boss dan meeting, jangan-jangan si baby lebih ngenalin suara si boss daripada suara suami saya yang cuma didenger malam hari, huhuhh.. Jangan sampe’ deh.

Untuk berat badan, total kenaikannya adalah 17 kg, hiiiiy.. banyak juga ya. Baju-baju akhirnya cuma pake yang itu-itu aja saking baju lain semua udah ga muat dan saya ga banyak beli baju hamil. Pelit.com.

Kira-kira naik-turun trimester ketiga seperti itu deh. Postingan terkait lahiran akan diupdate ASAP.

 

 

Pregnant

Hi-hi..

Kembali lagi bersama akuh dalam cerita trimester kedua.. ta-daaa..

Beberapa point (tidak) penting :

1. Masuk trimester tiga, seperti teori kehamilan pada umumnya dan kenyataan yang diderita ibu hamil pada khususnya, rasa eneg dan segala macam jenisnya sudah raib tanpa jejak. Eh sebenernya ada sih jejaknya karena saya masih inget hari di mana rasa eneg itu hilang yaitu di sebuah hari di sore hari yang indah dengan langit senja yang menawan, sepulang kerja yang melelahkan di mana makanan sudah tersaji di meja makan di bawah tatapan nanar seperti biasa dan tau-tau saya berasa ‘sehat’ banget, dan tercetus ucapan ke suami, “eh kok tumben ya ga berasa eneg sama sekali..” terus saya makan dengan lahap dan bahagia. Besok-besoknya, rasa enegnya hilang sempurna tanpa noda dan hidup kembali normal.

2. Gara-gara udah ga eneg, tau dong apa impactnya. Yup, makan jadi gila-gilaan. Bayangin aja, dalam keadaan normal aja saya makannya emang banyak dan memang doyan makan. Apalagi ini ada makhluk di dalam tubuh, tentunya nafsu makannya berganda. Plus rasa eneg sudah hilang. Tuh liat parameternya banyak banget kan.. Kalau biasanya orang hamil akan ngerasa laper terus menerus secara berkala, saya hampir ga pernah ngerasain lapar sejenis itu karena biasanya sekali makan saya pasti makan sampe’ kenyang dan begah, dan sampe’ perut tidak bisa lagi merasa dan mengenal rasa lapar. Sebenernya ini bukan disengaja sih, tapi gatau kenapa setiap makan, selalu porsinya itu tersedia dengan banyak, sampe’ saya selalu kekenyangan setiap kali makan. Kalo’ lagi parah misalnya ada acara bday dimana kita semua makan buffet, saya bisa makan sampe’ bener-bener engap dan harus napas pake’ mulut sampe’ diafragma di dada terasa sakit banget selama 1-2 hari. Parah kan. Ke depannya saya berusaha sih ngurangin makan supaya jangan sampe’ kekenyangan and instead ngikutin teori yang benar yakni makan dikit-dikit tapi sering, ketimbang makan sekaligus banyak. Tapi memang ga gampang kalo’ ketemu makanan enak, bawaannya kan pengennya makan sampe’ puas dan kenyang biarpun perut begah, atas nama alasan mulia yang diada-ada, “kan si baby juga butuh makan”.

Kemudian kalo’ 3 bulan pertama itu makan dijaga sesehat mungkin (sampe’ ke Bakmi GM aja bela-belain makan nasi capcay biar sehat), selepas 3 bulan entah kenapa makannya jadi ga gitu terjaga lagi. Saya inget breakthrough ‘kejatuhannya’ adalah pas libur Lebaran dimana kami sekeluarga ke Bandung. Wah di sana ga ada deh yang namanya makanan sehat. Setiap hari makan seenak udel dan yang penting ‘ENAK’. Sepulang dari Bandung, jadi berlanjut deh kebiasaan makan tidak sehatnya. Erm masih sih makan sehat karena kan masih dibawain bekal terus buat lunch tiap hari oleh sang ibu, tapi maksudnya kalo’ makan di luar saya udah ga mikir panjang untuk pesen makanan sehat, tapi langsung makanan yang saya suka, no matter what.

3. Berat badan so far masih terkontrol di trimester 2, tapi begitu menginjak bulan 5 ke bulan ke 6, saya kaget banget pas ditimbang di dokter dan angka timbangan menunjukkan kenaikan berat 10 kg. Hoaaa super kaget, tapi berusaha menerima dengan rendah dan pedih hati sih bahwa saya makannya emang agak gila dan ga terkontrol.

4. Tentang si baby nya sendiri, setiap hari pasti dia bergerak, either nendang, ngulet atau apapun deh, dan pingin banget ke depannya someday kita masing-masing punya 1 mesin USG sendiri biar bisa tau si baby lagi ngapain. Ngomong-ngomong soal gerakan bayi, sebenernya awal-awal di bulan kedua or ketiga saya udah bisa ngerasain ada gerakan samar di dalam perut, cuma ada ga terlalu yakin apakah itu bener gerakan si bayi atau hanya sensasi kembung-ingin-kentut, bunyi efek kekenyangan, atau maag yang lagi bermasalah. Tapi bulan demi bulan baru bisa yakin bahwai sensasi rasa waktu itu adalah bener gerakan si bayi. Aku jadi merasa bangga sekali karena 2 bulanan sudah bisa merasakan gerakan si bayi (sombong yang sebenarnya sangat tidak perlu).

Di bulan kelima dan keenam, suami baru bisa ngerasain gerakan si bayi, terutama pas nendang, tapi harus dengan kulit telanjang dan biasanya dalam keadaan diam. Kalau berlapis baju atau sedang di jalan biasanya dia ga terlalu bisa ngerasain gerakannya. Always remember muka amazing si suami pas pertama ngerasain tendangan si bayi 🙂

5. Mengenai kebiasaan denger musik klasik yang katanya bisa bikin anak lebih pintar, saya juga ikutan sih awalnya, download musik-musik klasik dll. Apalagi saya sendiri lumayan demen lagu klasik. Tapi asli lama–lama kok eneg juga ya dengerin lagu klasik mulu. Akhirnya asli sekarang saya udah ga pernah lagi dengerin musik klasik. Malah lebih sering puter lagu rohani. Rasanya lebih penting ‘memperkenalkan’ our amazing God lewat lagu rohani ketimbang bikin pinter anak pake’ lagu klasik, sekalian memperkenalkan konsep saat teduh saat kita dengerin lagu rohani, kepada si baby. Gatau ya menurut saya kalo’ memang sudah ditakdirkan anaknya kaga pinter, mau diperdengarkan lagu klasik 24 jam x 9 bulan juga ga bakal ngefek, jadi kayaknya pasrah aja deh. Semoga anaknya nurunin otak pinter mamanya bwa-ha-ha.. Amin-amin-amin-amin..

6. Karena bawaannya stress tiap pake celana hamil yang bentuknya kaga ada yang bagus dan bikin badan jadi seolah melembung tanpa bentuk, akhirnya bawaannya saya jadi pingin belanja mulu, walaupun pas baju/celana barunya dipake, tetep aja jatuhnya jelek karena emang bentuk badannya gendut aneh ajaib gitu. Huhuhuhuh pengeluaran makin bertambah, tapi kepercayaan diri tetap nyungsep. Baju juga banyak yang udah ga muat dan harus dipulangkan kembali ke rumah nyokap. Pokoknya persediaan bajuku jadi sedikit dan memprihatinkan banget. Untung dapat subsidi juga dari kakak ipar. Siapapun yang lain yang juga tertarik dan terketuk untuk memberikan baju hamilnya, silahkan dan monggo.

7. Jenis kelamin -> diduga cewek selama beberapa kali USG. Kemungkinan besar deh. Saya sih hepi-hepi aja. Tiap orang nanya jenis kelamin dan saya bilang “cewek”, hampir semua dengan muka penuh belas kasihan selalu bilang, “Ya udah ga apaapa ya, yang penting kan anaknya sehat..” Hah? Emang gpp kok, saya mah malah seneng kalo’ anaknya cewek, bwa-ha-ha. Mungkin mereka kira saya ngarepnya punya anak cowok kali sepertinya kebanyakan keluarga Cina konservatif lainnya. Padahal saya dan suami mah asyik-asyik aja. Suami sebenernya ada rasa lebih kepingin punya anak cowok, tapi untuk logical reason aja sih : dia ngerasa ngeri kalo’ punya anak cewek, karena takut terjerumus dalam pergaulan, lebih susah dijagain, dll. Yah semoga apapun jenis kelaminnya kami berdua bisa mendidik si anak dengan baik ya 🙂

8. Secara sering baca tentang bahaya radiasi handphone, saya berusaha juga untuk ngurangin penggunaan HP. Tapi tetep sih games jalan terus. Abis mana tahan melewati sehari tanpa main Battle Camp dan HayDay. Aku bisa gila total dalam sekejap. Maksudnya mengurangi adalah, setiap malam sekarang HP saya matiin/ pasang airplane mode aja. Kemudian pagi hari HP masih terus saya matiin karena di busway pas duduk kan tasnya saya peluk. Kalo’ HP nyala, takutnya ada radiasi gitu sih, jadi atas nama keparanoidan, saya memutuskan untuk leave the handphone off sampe’ saya tiba di kantor. Semoga bisa sedikit berefek positif dengan mematikan HP di saat-saat tertentu itu.

9. Terkait gejala kehamilan lain, saya juga ga imun dari gejala kaki bengkak. Saya inget suatu pagi saya bangun dan jalan ke WC dan kakinya rasanya kok agak ga enak dan agak sakit. Tadinya saya cuekkin aja, karena memang aslinya cuek dan ga care. Ga lama pas pergi sama cici saya, mereka bilang, “Eh kaki lo kok kayaknya gede banget ya..” dan bikin saya sakit ati dikit dan sontak menolak mengakuinya. Saya tatap-tatap kaki saya dan tetep ngerasa tuh kaki indah apa adanya, tapi mereka ngotot katanya biasanya kaki saya ga segede itu. Mereka langsung bilang, “Wah kaki lo udah bengkak tuh..” Dan akhirnya sebagai seorang amatir dalam bidang kehamilan, melawan dua orang yang sudah pro akhirnya saya menerima dengan akal sehat dan terbuka bahwa kaki saya memang bengkak. Sampe’ sekarang sepertinya masih agak bengkak sih, dan kadang agak nyeri sedikit tapi ga mengganggu sama sekali.

Selain kaki, orang juga bilang hidung saya jadi megar, yang bikin saya 100 x lebih sedih dengernya ketimbang kaki yang bengkak, karena hidung yang megar kesannya jadi jelek banget dan terbayang muka babi (beneran). Pas ngaca, saya sih ga berasa idung saya megar. Kayaknya mancung-mancung langsing aja kayak biasa, tapi karena udah lebih dari 3 orang yang ngomong, akhirnya saya ngalah lagi. Kalo’ hamil saya jadi lebih rendah hati, pengalah dan pengertian.

10. Kemudian ngomong-ngomong kaki, sebelnya kaki saya sekarang jadi keringetan mulu. Berasa geli banget deh, dan kebayang film animasi berjudul makhluk berkaki keringat, atau makhluk kaki basah. Sandal jepit saya hampir selalu basah, dan rasanya ga kebayang udah seberapa baunya. Semoga setelah hamil kaki ini kembali kering normal tak bercela.

11. Karena Pak Dokter bilang saya harus sering cuci tangan apalagi ketika mau makan, maka saya pun menurut seperti anak baik pada umumnya. Selapar dan senapsu makan apapun, saya selalu mendisiplinkan diri untuk cuci tangan dulu biarpun dengan terpaksa dan sambil ngawasin makanan diambilin orang laiin dari jauh sementara saya sedang mencuci tangan. Cuma belakangan karena udah bandel, sering juga sih saya makan tanpa cuci tangan lagi. Semoga disiplin saya bisa kembali ke tingkatan yang semula, sesegera mungkin.

12. Karena baca di internet bahwa posisi tidur bagi ibu hamil lebih baik miring, dan miring ke kiri lebih dianjurkan (ada alasan medisnya tapi intinya lebih bagus buat si bayi, buat peredaran darah dan lain sebagainya) maka lagi-lagi saya menurut, sampe’ setiap bangun rambut bagian kiri pasti lebih lepek dari bagian kanan karena ditindihin terus.

13. Ngomong-ngomong soal pantangan makanan, untunglah saya ga ngopi dan ngeteh, karena selama hamil kan kedua minuman itu tidak dianjurkan. Bayangkan kalau saya penggila kopi dan teh, gimana bisa menahan diri selama 9 bulan untuk tidak mengonsumi kedua minuman itu. Intinya makanan yang saya bener-bener hindari selama kehamilan (dan so far cukup berhasil) adalah : makanan mentah seperti sashimi dan sebangsanya; termasuk telur setengah matang (yang ini bikin sakit hati banget karena telur adalah makanan favorite saya); makanan panggang-panggang atau bakar-bakar, selada-selada dan buah yang mentah; makanan pinggir jalan apapun itu, kerang-kerang karena takut kotor, minuman soda-soda dan makanan ringan model Taro, Chitato dll., Indomie (tidaaaaaaakkkk!!!), dan lain-lain. Make-up juga saya hampir ga touch sama sekali untuk minimalisir segala resiko. Makanya muka selalu pucat dan kumal. Eh tapi kalo’ dandan juga tetep jelek aja sih, jadi terima aja deh. Sisanya yang lain selain hal-hal di atas, saya hajar terus.

Demikian sekilas info mengenai 3 bulan kedua, segera dilanjutkan ke postingan berikutnya bila sedang tidak ada kerjaan dan bila sedang tidak malas mengetik.

Tags:

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,714 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Sumprit this is so good! #chickenkaraagesambelkecombrang @morningvillejkt
.
#morningville
#chickenkaraage 
#kecombrang
#eatery
#coffee
#food
#cafe
#restaurant
#culinary
#wisatakuliner My strength and booster
.
#aimee
#aimeelynn
#daughter
#ilusm Fell in love with the name first, followed by the food. New place in Wahid Hasyim, Tanah Abang. Nice place, good food, small portion, a bit pricy but very recommended! @pardonmyfrench.jkt
.
*brb, need to go to Mcdonald
.
#pardonmyfrench
#pardonmyfrenchjakarta
#review
#restaurant
#cafe
#lunch Can u believe it? The traffic was mad. Lady Ai2 was sleeping aaand.. I opened the app and playin' this again the whole time from Jelambar to Karet! I know it's pretty embarassing but 8 new monsters caught in 40' and they're super cute. No regret! I really miss the euphoria!
.
#pokemon
#game Felt so yellow here. Somehow don't really feel like homey.
.
#cafemilano
#caffemilano
#gi
#coffee With Aimee and Kuku @ye_23ly 😎
.
#aimee
#aimeelynn
#family 
#temukangen
#greyhound 
#gi Selalu berjodoh dengan tempat ini. 3rd time in a month
.
#greyhound 
#gi
#coffee
#mangostickyrice Ayam tulang lunak 🍗🍗
.
#ayamtulanglunak
#hayamwuruk
#greenville
#lunch
#food Natural disaster is my kind of movie
.
#geostorm
#movie
#fridaynite
#cinemaz
#cineplex
#grandparagon Kids mode ini kece banget! I've been Samsung loyal customer but never realized of this feature before.
.
#baruexplore
#samsung Yummy!!
.
#cassis
#cassiskitchen
#marshmallow
#gulali
#food
#instafood Tutor Time trial
.
#tutortime
#pluit
#aimee
#aimeelynn 
#preschool
#toddler
@tutortimepluit Topic of the day : Anak n cruise 😁
.
#reunion
#greyhound
#aciauvinnie
#friends Come back here because this is lumayan enak
.
#gopek
#gi
#indonesian
#restaurant
#lunch Situation : classic place plus little playground in the form of pirates ship. Usually rame and sering di-reserved buat acara so better call first before you come
.
#harlequinbistro 
#kemang
#restaurant
#classical
#cafe Nice place tapi banyak nyamuk
.
#harlequinbistro
#kemang
#restaurant
#cafe
#breakfast
#classic Freak out of bubbles 🤣
.
#littlejack
#trial
#aimeelynn
#emporium
#bubbles Closest comparison with be with #magal. Side dish perspective I'd prefer Magal but the rest, @seoseogalbi_id is the champion. Nice and quite spacious place, friendly waitress, super juicy pork belly and of course their superb Seo Seo Galbi. Suka!
.
#seoseogalbi
#korean
#koreanbbq
#pik
#food
#instafood #zoomov time! Anak ini tegang banget tiap nyobain mainan baru 🤣
.
#aimee
#aimeelynn
#daughter
#kids
#kidsplay Just can't resist their mango flavor cheese cake
.
@chizukek
#cheesecake
#somplak
#chizukek
#mango
#mangocheesecake

Blog Stats

  • 460,161 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

October 2017
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain's Personal Blog

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: