Fanny Wiriaatmadja

Bangkok Trip 7-11 June 2016

Posted on: June 20, 2016

Seperti tahun-tahun sebelumnya, it’s the time for family holiday karena semua keponakan saya sudah mulai libur.

Plan tahun ini agak bergejolak karena penuh perubahan, keraguan, dan kemendadakan dari berbagai pihak terkait.

Saya : Harus beberapa minggu terus-menerus membujuk dan menunggu persetujuan suami dan boss. Ninggalin anak yang masih bayi di rumah sama suami memang bukan perkara gampang. Ngerasa bersalah banget pergi ninggalin mereka dan ngerepotin semua orang sementara I’m having fun outside, but finally we manage to settle it down dan ijin suami pun keluar biarpun dengan setengah hati (hati dia maksudnya, bukan hati saya :p).

Cici kedua : Berkali-kali berubah pikiran karena dia malas ke Bangkok yang panas. Kemudian ajak anak-anak(nya) ke Bangkok ga terlalu pas menurut dia secara Bangkok kan memang ga specialized buat anak-anak kayak (misal) Jepang, dll. Selain itu dia juga males naik pesawat 3.5 jaman (a.k.a. takut naik pesawat) dan berbagai sebab lain yang berkecamuk di hatinya (hatinya, bukan hati saya). Akhirnya dia memutuskan tidak ikut. Dan seperti dugaan di beberapa hari sebelum hari keberangkatan, tau-tau dia memutuskan untuk ikut gegara habis ke Pasar Duta Mas dan ngerasa hepi liat makanan; buah-buahan dan sayuran kiri-kanan dan akhirnya jadi ngiler kebayang-bayang Bangkok. Ya udah akhirnya jadi ikutan. Terima kasih berlipat ganda untuk Pasar Duta Mas karena telah menyadarkan ciciku.

Koko : Gegara anaknya (8 years old) mau ikutan juga ke Bangkok dan istrinya ga bisa ikutan (karena they have another 1 year baby yang ga bisa ditinggal), akhirnya koko pun di detik-detik terakhir ikutan juga demi nemenin dan jagain anaknya.

Adik : Tadinya ga mau ikut karena alesannya ga punya duit. Setelah dipaksa-paksa akhirnya beberapa hari sebelum keberangkatan juga jadi ikut.

Jadilah kami pergi ber-10 : 7 adult dan 3 anak kecil. Horeeeeee… Rame pisan!

Plan ke Bangkok pun tidak semulus kulit bayi; dari pertama destinasi yang dimau berubah-ubah pula. Pilihannya akhirnya either Bangkok or Bali. I love Bali, tapi Bali kan destinasi domestik yang notabene bisa pergi anytime. Ini moment jarang-jarang dimana semua bisa pergi dan tiket ga sampe’ mahal-mahal banget, mendingan kan yang jauhan dikit seperti ke Bangkok. Setelah beberapa perubahan, perdebatan, argumen dan segala bangsanya akhirnya Bangkok terpilih menjadi destinasi kami. Yeayyy!! Saya menang!!

Untuk pemilihan tanggal, sama susahnya pula. Saya cuma bisa pergi di periode tanggal tertentu karena bulan ini banyak event dan biztrip, plus ga boleh pergi di periode gajian. Cici pun sama, masing-masing punya preferensi tanggal sendiri. Setelah gontok-gontokkan dengan lemah lembut akhirnya terpilihlah tanggal 8-11 Juni (4 hari) Itupun di beberapa hari terakhir akhirnya diubah jadi 7-11 Juni (5 hari) karena kami ngerasa durasinya kurang. Pontang-panting deh kami ngubah tiket plus saya dan koko ngubah jadwal cuti kami, yang untungnya di-approved dengan gemulainya.

Ya sudah siap sedialah kami berangkat. Semua anak-anak dan Mama pergi, kecuali para mantu.

Few years ago saya sudah pernah ke Bangkok tapi join group tour, dan cuma ngunjungin tempat-tempat turis standard kayak Grand Palace, Wat Arun, Floating Market, Nong Nooch Village dll. Ga da explore ke mana-mana. Seneng banget kali ini dapat kesempatan pergi lagi.

Anyway kami pergi naik Lion Thai (thanks to Caun, petinggi dan ibu premannya Lion yang ga ada matinya dan ga ada capeknya ngurusin tiket kami yang berubah-ubah terus) dan pulang naik Air Asia. Semuanya with no transit. TIket per orang PP sekitar 2.1 jutaan dan udah dibooking sekitar 1 bulanan sebelum pergi. Mau promosi dikit, Lion Thai ini baru loh dan katanya baru start terbang May lalu, 1x per hari. Walaupun jujur image kami ke Lion juga ga bagus-bagus banget, atas nama harga akhirnya kami milih Lion juga untuk pergi. Pas terbang semuanya OK kok, dapet snack biscuit gitu 1x dan landingnya juga lumayan mulus.

Hari 1 :

Dengan pesawat jam 10.10, kami akhirnya berangkat ke Bangkok, dan turun di Don Mueang Airport setelah 3.5 jaman perjalanan. Di pesawat saking doyan makannya saya sampe’ pesen semacam Pop Mie ala Thai yang rasanya boleh juga (padahal saya sudah makan bacang yang dibawa cici saya). Mungkin juga si Pop Mie terasa nikmat dikarenakan saya sudah hampir 2 tahun ga pernah makan mie instant dan bangsanya karena kombinasi kondisi diri yang malas masak dan kondisi sedang hamil waktu itu sehingga harus antipati terhadap mie instant yang dikatakan tidak sehat dan tidak baik bagi janin.

Dari situ kami dijemput naik van (udah booking dari Jakarta di langganan temannya cici), kemudian langsung check-in ke Berkeley Hotel, hotel kami di daerah strategis di Pratunam. Dari situ deket banget ke Pasar Pratunam, Platinum Mall, daerah Siam-siaman dll. Bahkan hotelnya aja nempel sama Palladium Mall. Itu kayaknya semacam IT Mall? Ga jelas juga karena kami ga tertarik sama sekali nyatronin mall itu.

Di samping kelebihan-kelebihan di atas, sayangnya hotelnya lumayan jauh dari BTS (BTS = kayak monorail di Bangkok) terdekat. Jadi kalau kalian pergi-pergi naik BTS, jujur saya kurang recommend hotel ini. Tapi kalau kalian taxi person, then this hotel can be considered. SIlahkan dicek hotelnya : http://www.berkeleypratunam.com/.

Sebenernya banyak hotel-hotel lain yang lumayan menarik (saya paling suka hunting hotel), sayangnya ga semua punya kamar triple/double queen/king yang kami cari. Pilihan mau ga mau jatuh ke Hotel Berkeley.

Hotelnya sendiri lumayan kok. Kalo’ ga salah dia bintang 5. Bersih dan lumayan megah, tapi ga mewah. Kami book 2 kamar triple. 1 kamar isinya 2 ranjang Queen, dan 1 kamar itu kami isi @5 orangan (masuknya sendiri-sendiri biar ga ketahuan dan ga kena charge).

20160607_151634

20160608_073712

20160607_152918

20160607_152932

20160607_152946

20160607_151601_001

Ni hotel juga sepertinya ramai turis. Waktu kami datang saja hotelnya sudah ramai kayak di pasar.

20160608_070027

Perjalanan dari airport ke hotel lumayan jauh juga, sekitar 45 menitan. Sampe’ hotel sekitar jam 4-an langsung check-in dan taruh barang, terus jalan kaki nyebrang ke Platinum Mall. DI sana kami makan, makan, dan makan. Di depan lobby mall-nya banyak food truck macam-macam. Jadi kami cobain makan es krim dengan beentuk lucu-lucu, terus lanjut beli Kebab. Abis itu masuk ke mall-nya liat-liat dikit dan belanja kaus-kaus. Abis itu keluar ke Seven Eleven beli minum; terus beli fresh juice sama air kelapa. Setelahnya jalan dikit beli McDonald lagi (cobain burger porknya yang rasanya ternyata manis kayak semur, hoek!), abis itu makan beef rice dan beli nanas yang super duper manis dan pesen pizza. Ih gila dalam 1.5 jam an aja makannya udah macem-macem. Bahagia deh.

20160607_155903

20160607_155900

20160607_160846

Selanjutnya itinerary kami adalah ke Asiatique, pasar malam terbuka super gede dengan lampu-lampu nan cantik tempat kita bisa makan dan belanja. Menurut saya mirip-mirip Clarke Quay gitu deh. Sebenernya bisa aja kan naik taxi ke sana, cuma karena mau cobain naik boat ke Asiatique-nya plus sekalian cobain naik BTS nya Bangkok, akhirnya kami jalan ke stasiun BTS terdekat dari Platinum Mall tadi. Jadi rutenya : naik BTS sampai pier (pelabuhan), terus naik boat ke Asiatique. Pulangnya baru nanti naik taxi.

Setelah tanya sana-sini karena kami ragu BTS mana yang lebih dekat dari Platinum Mall (Chit Lom atau Ratchathewi), jalan kakilah kami ke Chit Lom (karena katanya ini yang lebih dekat) dan ternyata lumayan jauh loh. Rasanya ada deh 20 menitan jalan, ga sampe’-sampe’. Pas sampe’, kudu naik tangga lagi pula ke BTS statition-nya. Nyokap udah capek banget tampangnya. Anak-anak juga udah ngeluh karena jalannya jauh banget. Libby, ponakan saya yang doyan makan dan jago Inggris sampai bilang, “Man, I felt so tired.. and you know, when I said tired, it means a lot of food..” LOL.

Apa daya, mau cobain BTS akhirnya malah jadi buang tenaga, waktu, dan duit karena ternyata 10 orang naik BTS lebih mahal dari perkiraan biaya 2 taxi. Ya sudah yang penting udah tau rasanya naik BTS Bangkok.

Sampe’ BTS station-nya, kami juga ngerasa tuh BTS ga gitu user-friendly ya, beda sama Singapore dan Hong Kong. Misal di papan petanya, station Chit Lom dan Siam dinomori sama, yakni 15. Kami kan jadi bingung, ini maksudnya Chit Lom dan Siam ini terletak di 1 tempat yang sama, atau ini 2 tempat yang berbeda sehingga harus menggunakan BTS? Tanya sana-sini dll. akhirnya jadi tahu bahwa harus naik BTS untuk berpindah dari Chit Lom ke Siam. Lah terus kenapa di peta kedua station itu dinomori sama, seakan-akan mereka berada di tempat yang sama? Entahlah, sampe’ sekarang itu tak terjawab. Biarlah itu menjadi misteri ilahi.

Btw nanya-nanya sama orang Thai itu agak susah dan mengundang frustrasi yah, karena ga semua dari mereka bisa Bahasa Inggris. Rasanya sepanjang jalan dari Platinum Mall ke pier, ada kali kami nanya 7-8 orang dengan campuran Bahasa Inggris, bahasa isyarat, bahasa tubuh, bahasa keringat, dan lain-lain, tapi tetep aja kami kebingungan. Kami ga ngerti, mereka pun ga ngerti. Ya sudahlah tak usah saling mengerti, biarlah ini kembali menjadi misteri ilahi.

Kemudian naiklah kami ke BTS dari Chit Lom dan turun di Siam, kemudian berpindah kereta untuk menuju ke Saphan Taksin station, tempat kami akan menunggu boat ke Asiatique. Kurang-lebih 5 atau 6 station, sampailah kami di Saphan Taksin. Setelah turun, ikutin aja papan petunjuk, nanti tau-tau ada antrian panjang naik boat gratis ke Asiatique. Ngantrinya juga lama banget loh.. Sekitar 20-25 menitan barulah boatnya datang dan berhamburanlah kami semua para penganre gratisan, untuk masuk ke dalam. Untung stock hoki kami masih berlimpah, dan kami semua kebagian tempat duduk. Jalan deh perahunya ke Asiatique, sekitar 10 menitan.

IMG_20160608_062826

20160607_210216

Sampe’ sana kami cari makan, keliling-keliling.

Ada satu papan iklan bertuliskan ‘Chang’ yang menunjukkan gambar-gambar makanan enak plus ga terlalu mahal. Akhirnya kami tanya sana-sini, di mana restoran Chang ini. Keliling-keliling kok banyak banget papan nama serupa, dengan tulisan ‘Chang’ tersebut. Belakangan baru ngeh bahwa itu mah papan sponsor doang dan Chang itu adalah merk bir, bukan nama restorannya, hi-hi..

Okeh akhirnya di sini kami makan makanan Thai. Tom Yum, Pad Thai dll, yang rasanya menurut saya kaga ada enak-enaknya acan. Rasanya sedih dan desperate banget kalo’ makan makanan ga enak. Jadi ilang semangat idup sesaat.

20160607_192912

20160607_200029

20160607_200035

Habis itu saya keliling liat-liat baju untuk melupakan rasa kecewa tadi. Baru saya berencana mau ronde dua makan Kebab, eh hujan deras datang mengguyur bertubi-tubi tanpa ba-bi-bu dengan segala basah dan beceknya. Akhirnya batallah rencana makan dan belanja serta keliling-keliling. Eh, masih bisa sih keliling-keliling, tapi palingan cuma keliling di bagian yang indoor aja gitu dan kami kayaknya udah ilang selera belanja dan keliling, apalagi makan (kecuali saya). Setelah nunggu 20 menitan di deket pintu keluar dan ditawarin banyak taxi tanpa argo yang langsung ‘ngetok’ harga dan aji mumpung karena hujan gede, hujan akhirnya mulai agak reda dan kami langsung jalan bergiliran pake’ payung (punya saya) ke tempat antri taxi resmi dan balik ke hotel dengan 2 taxi.

Sampe’ hotel langsung tepar dan tidur. Ga pake’ peras ASI lagi, langsung tidur bablas dan untungnya lumayan nyenyak.

Hari 2 :

Hari ini itin-nya adalah ke Hua Hin, satu daerah pantai berjarak 3 jam-an dari Bangkok. Jam 8 pagi van sudah menunggu kami (udah di-book lama dari Jakarta). Start deh perjalanan kami ke Hua Hin. Karena lewat highway jadinya jalanannya mulus lancar dan akibatnya tentu saja supirnya jadi ngebut, dan perut saya yang jadi korban – kegelian dan ‘copot’ terus. Memang susah kena kutuk punya perut gampang gelian macam begini. Sampai sekarang saya masih sering google penjelasan scientific terkait perut yang ‘copot’, tapi belum nemu yang relevant dengan keadaan saya.

Anyway paginya sebelum berangkat, karena hotel yang kami pesan tidak termasuk breakfast, saya, cici pertama, mama dan koko sempat jalan ke seberang hotel dan sarapan bakmi di situ. Rasanya biasa aja sih. Pulangnya kami bungkus beberapa fish-ball noodle dan nasi hainam untuk anak-anak makan di kamar hotel.

20160608_073101

20160608_071944

Kembali ke Hua Hin, di Hua Hin ini sebenernya banyak tempat wisata sih terutama untuk anak-anak dan keluarga (dan para pecinta foto). Misal Santorini Park, The Venezia, Swiss Sheep Farm, Camel Republic, Cicada Market, Pleung Warn, dll. Cuma karena keterbatasan waktu, ga semuanya kami kunjungi, apalagi karena kami cuma pulang hari. Kalo’ ada waktu mungkin kalian bisa stay 1 malam untuk explore Hua Hin lebih jauh, termasuk pantainya yang kata orang lebih bagus dari Pattaya.

Sampe’ Santorini Park, kami cuma foto-foto doang. Sesuai namanya, ini adalah taman bermain yang meniru arsitektur daerah Santorini di Yunani, dengan warna putih biru khas mereka. Sumpah, ga terlalu ada apa-apa. Cuma toko-toko, tempat makan kecil-kecil dan spot foto everywhere. Ada juga sih carousel sama ferris wheel. Cuma panas-panas gitu asli ga napsu naik apa-apa.

IMG_20160610_094540

IMG_20160611_161450

IMG_20160609_064216

IMG_20160610_094235

IMG_20160609_064625

20160608_110043

20160608_115024

20160608_105500

20160608_110808

IMG_20160609_232454

IMG_20160609_221540

20160608_110605

20160608_111903

20160608_111925

20160608_111021

20160608_110050

20160608_110217

20160608_110738

20160608_112906

Setelah keliling-keliling, foto, dan belanja dikit, akhirnya kami udahan dan lanjut lunch. Supirnya yang nunjukkin tempat lunch di daerah situ, dan kami dibawa makan di sebuah tempat makan gede di pinggir pantai. Rasa makanannya semua sih menurut saya kurang enak. Kami pesan telur tiram, pad thai, nasi goreng, fish cake, dll. Service juga kurang OK. Pesen Thai Ice Tea aja dari awal order sampai makanan habis, semuanya belum datang. Harus di-remind sekitar 3-4 x baru akhirnya Thai Ice Tea nya datang. Itu pun menurut cici saya kemanisan (tapi saya suka sih..).

Yang sedikit menghibur sih di restoran itu adalah pemandangan pantainya yang lumayan cakep dengan warna biru turqoise air lautnya.

IMG_20160608_223421

20160608_132729

Setelah makan kami sempat foto sebentar dengan background itu, kemudian lanjutin perjalanan ke Venezia. Sesuai namanya juga, yang ini niru Venezia gitu dengan kanal-kanal dan gondolanya. Tiru-meniru yang berlaku lintas dunia.

Pas masuk kami bingung banget. Sepinya poll.. kayak kota mati. Rasanya cuma ada 2-3 keluarga doang deh. Ya sudah namanya sudah beli tiket, ya kami masuk aja, jalan-jalan dan foto-foto. Tukang gondolanya aja sampe’ ngegerombol ngobrol karena ga ada yang naik. Kasihan banget liatnya. Sepertinya harus ke sini pas weekend – mungkin lebih hidup dan ramai tempatnya.

Intinya ke sini cuma buat foto-foto sih. Banyak juga spot foto cantik-cantik alaΒ  Eropa gitu tapi percayalah foto memang lebih bagus ketimbang aslinya.

20160608_134217

IMG_20160608_214253

IMG_20160609_063841

IMG_20160608_214025

IMG_20160608_213758

IMG_20160609_232740

20160608_140109

20160608_140101

20160608_142746

20160608_140300

20160608_134817

20160608_135251

20160608_135313

20160608_141146

20160608_141604

Ini web resminya mereka, kalau tertarik ke sana : http://www.theveneziahuahin.com/.

Setelah dari situ rencananya kami mau ke Swiss Sheep Farm, tapi yang lain ga mau. “Palingan gin-gini aja,” kata mereka. Kayake mereka udah kapok ke Santorini dan Venezia yang beneran basi banget dan cuma buat foto. Anak-anak aja bosen dan males. Padahal saya pengen juga loh ke Swiss Sheep Farm. Namanya kan udah ke daerah situ, ya liat aja sekalian. Kan sayang.. Tapi ya udah karena saya kalah suara, akhirnya kami balik ke van dan jalan pulang ke Bangkok.

Dari situ kami rencananya mau makan tom yum terkenal di Bangkok, nama restorannya Thanying. Habis itu kami mau ke Sukhumvit untuk lanjut makan malam karena google-google katanya di Sukhumvit ini banyak makanan enak. Setelah nego-nego sama supir, dia ternyata ga mau nungguin kami sampe’ selesai dari Sukhumvit, with no reason. Jadi habis dari Sukhumvit, dia mau langsung balik. Padahal kami ga keberatan bayar extra charge, tapi ya udah, berhubung si supir udah ngotot, kami akhirnya ngalah dan rencananya dari Sukhumvit nanti kami bakalan naik taxi saja.

Di tengah perjalanan balik ke Bangkok dari Hua Hin seperti biasa kami toilet break dulu sekalian mampir di Seven Eleven untuk belanja dan nyemil. Saya juga sempet beli burger KFC yang rasanya lumayan juga.

Sampai di Restoran Thanying kami terkaget-kaget. Kirain tempatnya resto pinggir jalan nan sederhana gitu, ternyata tempatnya lumayan elite dan mirip sama Bunga Rampai di Menteng biarpun Bunga Rampai lebih cantik. Pas masuk pun oleh si pelayan yang berdandan necis, kami diminta tunggu di luar dulu karena mereka perlu siapkan tempatnya.

20160608_174734

IMG_20160608_213654

20160608_175235

20160608_175259

20160608_175114

20160608_174752

Setelah masuk, karena memang hanya niat nyemil, kami hanya pesan 2 mangkuk tom yum chicken, 1 mangkuk green curry sama 1 mangkuk tom kha gai (santan kelapa). Asli semuanya hao che sen ching ping, walaupun menurut saya tom yum-nya kurang kental. Ini nulisnya aja sampai berliur. Semangkuk kira-kira IDR 80 ribuan.

Website Thanying : http://thanying.com/.

Selain puas makan di Thanying itu, beberapa dari kami jalan keluar untuk beli crepes yang banyak dijual di pinggir jalan, yang rasanya juga not bad.

Dari Thanying kami lanjut ke Sukhumvit 38 naik mobil. Jalanan supermacet dan baru sampe’ sana sekitar jam 7.30-8-an malam. Nyampe sana kami juga bingung, mana deretan makanannya? Mana mie wonton yang katanya tersohor itu? Yang bisa kami temukan cuma satu sudut kecil yang isinya stand-stand makanan gitu. Gatau sih apakah itu yang dimaksud oleh internet atau bukan. Lagi dan lagi biarlah ini menjadi misteri ilahi.

20160608_193700_001

20160608_193557

20160608_194238

Setelah pesan berbagai macam mulai dari pad thai, nasi goreng, babi, juga sticky mango rice (menurut saya ga ada yang enak selain mangganya), akhirnya kami balik ke hotel dengan 2 taxi.

Hari 3

Hari ini adalah jadwalnya Dream World dan Dinner Cruise.

Paginya kami kembali cari breakfast di luar. Kali ini kami jalan agak jauhan ke kompleks belakang Hotel Indra Regent, sekitar 10-15 menitan jalan dari hotel kami. Di sana full makanan pinggiran dan tukang jualan semua. Jadi selain makan kami bisa belanja juga. Saya dapat 2 baju di sini, lumayan. Di situ kami sarapan bubur, bakmi, nasi ayam dll.

IMG_20160609_232316

Di pasar ini kami makan berbagai macam bakmi dan bubur. Menurut saya rasanya biasa aja sih semua. Belum nemu yang enak-enak banget.

Balik hotel, jam 9 pagi, driver dengan papan bertuliskan nama cici saya sudah ready di lobby hotel. Tiket Dream World ini termasuk pick-up-nya semua sudah diatur sedari Jakarta. Jadi pas pesen itu kita bisa pilih paket-paket yang ada di Dream World, misal mau admission ticket doang atau mau termasuk Snow Town dan penjemputan. Atau mau termasuk 4D juga bisa, dll. Yang kami pesan waktu itu adalah tiket masuk + free all rides + 4D + Snow Town + return pick-up.

Website Dream World berikut ini : http://www.dreamworld.co.th/en/.

Setelah naik semua ke van, ternyata kami masih akan menjemput satu rombongan lagi di hotel lain. Baru deh habis itu kami semua berangkat ke Dream World. Perjalanannya lumayan juga; sekitar 45 menit, dengan jalan yang lagi-lagi bikin perut saya geli banget karena lumayan ngebut dan jalanannya bergelombang.

Sampai Dream World, setelah menukarkan tiket di Information, mulailah kami berkeliling. Dream World ini yah kayak Dufan aja sih. Wahana pertama yang kami naiki adalah kereta yang membawa kami jalan-jalan keliling arena Dream World. Cemen banget, tapi tetap saja menyenangkan.

IMG_20160612_111453

IMG_20160609_232053

IMG_20160609_220421

20160609_102553

20160609_104853

20160609_105132

Β 20160609_105104

Next-nya kami menuju wahana 4D, yang bercerita tentang profesor yang melakukan kesalahan sehingga binatang-binatang di labnya semua membesar dan menimbulkan kericuhan. Not bad sih 4D-nya, cuma saja bangkunya di sini ga goyang. Jadi cuma kaki kayak tau-tau digelitik, sandaran bangku tau-tau bergelombang, dan ada air menciprat kita sana-sini.

Setelah 4D, kami lanjut ke wahana Alien, yang swear menurut saya sampah banget. Kita bakal didudukkan di satu ruangan gede mirip bioskop dengan cahaya temaram. Ceritanya sih kita sedang berada di sebuah lab penelitian / penyimpanan alien dan ternyata aliennya lepas. Langsung setelah itu lampu digelapkan total dan terdengarlah suara-suara dari berbagai sudut yang lumayan ngagetin, seolah-olah Aliennya sedang mengincar kita dan kita jadi menduga-duga lokasi Alien-nya. Sandaran bangku kita juga akan mendadak bergelombang, tanda aliennya lewat. Setelah kita dibuat deg-degan dan ditakut-takuti dalam keadaan gelap dengan suara-suara kencang membahana tersebut, akhirnya lampu menyala tiba-tiba, dan aliennya ternyata ada di atas, lagi-lagi mengejutkan kita semua.

Udah deh, gitu doang. Basi ga? Basi ga?

20160609_114938

20160609_114946

Habis itu kami main berbagai macam permainan seperti jet coaster (saya sih nggak naik karena perut saya gelian dan karena saya pengecut), monorail, dan beberapa mainan anak-anak lainnya. Maklum ada 3 anak kecil di rombongan kami. Pengen juga masuk ke Haunted House, tapi pas masuk suasananya gelap banget. Akhirnya ga jadi deh hihihi..

Ga lama jam 1-an siang kami menuju tempat makan siang dimana disediakan paket buffet (sudah termasuk dalam tiket masuk yang kami book dari di Jakarta). Makanannya dikit sih tapi rasanya not bad. Tom Yum dan Tom Kha Gai-nya enak banget. Di sini kita juga bisa refill air putih. Langsung deh refill sebanyak-banyaknya, mengingat di luar sana hawanya panas banget.

20160609_124510

20160609_124514

Setelah makan siang, kami lanjut ke Snow Town. Ini juga sudah dibeli sebelumnya, sepaket dengan tiket Dream World. Dan buat anak-anak, inilah puncak acara favorite mereka selama di Bangkok.

Snow Town ini adalah satu area indoor ga begitu gede, dimana (sesuai namanya) isinya salju semua. Ada igloo, replika rusa kutub, kereta luncur, dan masih banyak lagi. Higlightnya adalah perosotan salju dimana kita bisa meluncur ke bawah dengan duduk/menaiki papan seluncuran. Wah, anak-anak langsung heboh banget dan bolak-balik naik seluncuran itu walaupun bawa naik papan seluncurannya ke atas itu lumayan berat dan menguras tenaga. Anyway saya karena takut perutnya kegelian, akhirnya tentu saja saya ga naik seluncuran ini. Pathetic banget.

IMG_20160610_070509

IMG_20160612_181006

IMG_20160610_065709

IMG-20160612-WA0002

IMG-20160612-WA0008

20160609_134636

Di dalam sana suhunya -5 derajat, jadi lumayan dingin sih. Kita diberikan pinjaman jaket dan sepatu boot. Para ponakan saya sudah ready dengan sarung tangan milik masing-masing karena dari awal sudah diinfo oleh cici pertama saya yang tahun lalu pergi ke Snow Town juga.

Kami di Snow Town sekitar setengah jam saja karena tidak tahan dinginnya plus bosan dan capek juga bolak-balik main seluncuran. Saya juga cuma pake’ celana pendek karena awalnya underestimate mengenai dinginnya. Ternyata beneran dingin oy, sampe’ saya ga bisa lagi pegang HP untuk menjepret foto karena tangan udah beku.

Setelah puas foto-foto dengan tangan mati rasa dan kaki kesemutan saking dinginnya, kami keluar dan duduk dulu sebentar di ruang tunggunya sebelum melangkah keluar, untuk menetralisir suhu tubuh sebelum kembali ke panas durhaka di luar sana.

Kelar dari Snow Town kami masih keliling-keliling lagi sebentar dan anak-anak sempat main ulang jet-coaster. Kami juga sempat nonton show Hollywood Adventure (apalah namanya, lupa). Cuma show tembak-tembakan tentara gitu sih, terus anak-anak foto sama para cast-nya.

IMG-20160612-WA0005

Jam 3.30 kami kembali ke Information dan supir yang tadi pagi sudah menunggu untuk membawa kami kembali ke hotel; demikian juga dengan 1 rombongan lagi yang tadi bareng juga ke Dream World bersama kami.

Sampai hotel, setelah setengah jam macet parah di depan hotel, akhirnya kami ga sempat istirahat lagi. Penjemputan berikutnya sudah ready lagi, yakni untuk menuju dinner cruise. Seperti Dream World, tiket dinner cruise kami pun sudah dipesan dari Jakarta.

Terlambat 15 menit karena menunggu cici kedua saya memandikan anak-anaknya, van kami melaju cepat ke River City Mall, tempat pier kami berada. Sampai sana, karena belum jam 7 malam (jam mulainya Cruise), kami masih sempat berkeliling untuk beli cemilan, termasuk ke Naraya untuk beli souvenir khas Thailand. Saya malah sempat juga ke semacam Guardian-nya Bangkok dan beli body lotion made in Thailand untuk oleh-oleh.

20160609_184839

Jam 7-an malam, kapal kami mulai kelihatan. Kapalnya cantik dan megah sih, dan kami disambut tari-tarian adat gitu. Antri deh kami masuk, dan setelah 15 menitan, dinner dimulai. It’s a buffet anyway, tapi makannnya sumprit ga ada yang enak. Acaranya pun hanya penyanyi biasa. Rasanya Pirate Cruise di Bali lebih atraktif acara dan nyanyiannya, termasuk makanannya. Untung ponakan saya si Jamie joget-joget dengan kecenya – jauh lebih menghibur ketimbang acara nyanyiannya.

IMG_20160609_220821

Anyway ini website Cruise-nya kalau mau lihat-lihat : https://www.thaicruise.com/.

Setelah setengah jam kelar makan, kami praktis hanya duduk-duduk saja menikmati nyanyian dan pemandangan kiri-kanan yang notabene biasa banget, ga ada apa-apa. It’s actually a-very-boring-1.5-hours.

20160609_190911

20160609_190901

IMG_20160609_231537

20160609_194842

Setelah akhirnya acara selesai (fiuhh) jam 9 malam, kami dijemput kembali oleh driver yang sama dan kembali ke hotel. Sampai hotel kami sempet keliling sebentar di depan hotel, karena banyak penjual baju di sepanjang jalan. Ada pasar malam pula. Tadinya saya mau Thai-massage, sayang cici saya ga mau karena sudah capek. Setelah keliling sebentar dan beli durian (saya ga doyan durian), akhirnya kami (beneran) balik hotel.

Hari 4 :

Hari ini temanya adalah belanja, belanja, dan belanja. Seperti hari sebelumnya, kami jalan lagi ke pasar di belakang Hotel Indra Regent untuk sarapan. Sempet pula mampir di Seven Eleven untuk beli roti mangga dan pisang favorit kami semua (rasanya enak abis loh; rotinya juga lembut banget) serta minuman. Saya coba beli bir untuk mertua saya, eh ternyata di sana beli bir harus di atas jam 11 siang. Batal deh.

Anyway di Bangkok Seven Eleven-nya jauh lebih berlimpah ruah yah daripada Jakarta. Beneran tiap 200 meter itu ada Seven Eleven. Mengherankan. Di kiri-kanan-seberang hotel saya total udah ada 3 Seven Eleven. Di pasar belakang Hotel Indra Regent juga total ada 3 Seven Eleven. Dan yang lebih heran, semua Seven Eleven mereka selalu ramai. Literally beneran ramai loh. Ga pernah sepi atau kosong. Luar biasa.

Setelah sarapan, kami naik taxi (pesan di depan hotel) dan menuju ke MBK, semacam ITC Mangga Dua-nya sana. Di sini kami lumayan lama karena shoppingnya ternyata cukup produktif. Saya ketemu kaus Iron Man super cute yang udah langsung bikin hepi seharianπŸ™‚

IMG_20160612_105519

Kami lunch di food court di sini, yang memang murah pisan. Rata-rata IDR 20-30 ribuan aja harganya. Tapi yah sayangnya ga ada yang enak. Bayangin aja 10 orang pesen makanan berbeda, semua rasanya either standard or below expectation.

20160610_130444

20160610_131157

Dari MBK kami lanjut ke Siam Center. Setelah tanya sana-sini ternyata ada jembatan penghubung ke seberang sehingga kita bisa sampe hampir ke depan kompleks Siam-Siam-an (Siam Paragon, Siam Center, dll.) dengan berjalan kaki.

Kenapa saya mau ke Siam Center, itu sebenernya cuma gegara browsing sih dan nemu 2 cafe super-cute yang menarik banget buat dikunjungin. Bagi cici-koko saya dan yang lain, itinerary ini jelas basi dan ga menarik. Tapi kayaknya demi mengobati kekecewaan saya yang kalah suara pas kemarin itu mau ke Swiss Sheep Farm di Hua Hin, akhirnya mereka ngalah dan membiarkan saya mengambil-alih itin barang sejenak.

Di lobby depan Siam Center ada banyak robot-robotan raksasa yang lumayan bikin hepi anak-anak setelah capek belanja di MBK. Saya juga hepi sih karena ada Iron Man juga.

IMG_20160610_171707

Masuk Siam Center, langsung saya cari Mr. Jones Orphanage, tempat dessert hasil googling saya, yang cute banget decor-nya. Sayang tempatnya ternyata agak sempit dan harus merunduk untuk masuk karena decor rel-relaan kereta yang dipasang di atas melintasi seluruh bagian cafe itu agak pendek dan hampir mentok ke kepala kita.

IMG_20160611_161042

Di sana saya cuma duduk sama anak-anak saja (ponakan), sementara yang lain malas masuk karena tempatnya sempit plus demi berhemat juga sepertinya.

Akhirnya saya cuma pesan 3 macam kue, itupun 1 macam habis, sehingga akhirnya kami cuma makan 2 kue. Kue yang habis itu pun ga diinformasikan ke kami. Kami udah nunggu-nunggu hampir 25 menit, baru mereka kasitahu. Itu pun karena kami nanyain. Payah juga nih servicenya.

Kue-kuenya sendiri not bad sih. Kami ada pesan Chocolate Fudge dan Lemon Cake. Semuanya pilihan para ponakan saya.

Keluar dari sana, saya minta ijin lagi ke keluarga untuk ke lantai 4 dan cobain cafe lain piritan saya, Petite Audrey. Ini pun hasil googling. Ternyata Audrey ini semacam group kayak Ismaya Group. Jadi mereka punya banyak cafe yang berbeda. Yang saya mau sebenernya ada di satu alamat yang sayangnya bukan di mall. Sepertinya ga mungkin yang lain mau nyari dan nyatronin alamat itu demi menuhin keinginan saya, jadi akhirnya terpaksa saya puas dengan ‘line’ nya group ini yang ada di mall terdekta yakni Siam Center, namanya Petite Audrey. Untungnya letaknya sama dengan Mr. Jones Orpahange di atas, jadinya sekalian 1 tempat bisa terpenuhi 2 wishlist saya.

Ini, kalau mau cek resto-resto groupnya Audrey ini : http://www.audreygroup.com/AudreyCafeBistro/index.html

Sampai di lantai 4 (saya masih bersama para ponakan saja, sementara yang lainnya nunggu dan duduk di bawah), tanya sana-sini semua ga ada yang tahu letak Petite Audrey. Saya sampe’ ketikkin nama tempatnya di HP dan menunjukkan ke mereka, berhubung tahu orang Thai bahasa Inggrisnya agak-agak menguatirkan.

Tanya ke sekitar 4 orang, semua ga ada yang tahu. Mampus deh, saya membatin, masak sih tempatnya udah tutup?

Setelah jalan keliling dan nyaris putus asa, eeeeh saya lihat satu tempat yang penampakannya mirip dengan Petite Audrey yang saya lihat di internet. Cepet-cepet saya samperin, dan ternyata bener!! Hanya saja judul di atasnya adalah ‘Audrey’. Tok. Tanpa ‘Petite’ di depannya. Makanya semua orang yang saya tanya ga ada yang tahu. Cuma ya ampun, yang saya tanya kan Petite Audrey. Ini nama cafe-nya Audrey. Masak sih dari 4 orang ga ada yang ngelihat koneksinya? Atau kasitau kek, “Oh ga ada Petite Audrey, adanya Audrey doang..” Kan lebih membantu gitu. Ah tapi ya sudahlah, yang penting nemu, horeeee…

IMG_20160611_001441

Setelah puas dengan decor cafenya (dan foto-foto tentunya), ga lama kemudian saya take away beberapa jenis cake mereka karena kalau dine in takut yang lain nunggu kelamaan. Setelah kue pesanan para ponakan saya datang, kami kembali ke bawah, ke tempat cici dan koko saya nunggu, kemudian makan bareng kue-kue itu. Enak-enak sih. Saya pesan signature dishnya Audrey yang terkenal, yakni Thai Tea Cake, yang rasanya seger banget, cuma sedikit kurang manis menurut saya.

Setelah dari Siam Center kami lanjut lagi ke Mall Terminal 21 di daerah Asok. Rencananya kami mau pakai 2 taxi. Taxi pertama datang, dan saya serta 4 orangan lagi (mama, cici, para ponakan) naik ke dalam. Jalanan macet banget dan supir taxinya ga bisa bahasa inggris. Plus yang parah pula, sepertinya dia gatau Terminal 21. Saya sampe’ ketikkin di HP saya, ‘Terminal 21′. Eh dia malah bales kasi liat wallpaper HP dia yang ada gambar ceweknya. Saya dan yang lain melongo. Gatau itu siapa dan maksudnya apa. Kalo kasi liat foto cowok cakep sih masih ga apa-apa.

Akhirnya saya cuma bilang “Asok, Asok” karena saya cuma tahu Terminal 21 itu ada di daerah Asok. Pasrah deh karena si supir ga menunjukkan tanda-tanda dia tahu Terminal 21 di mana. Saking macetnya malah supirnya terpatah-patah pake bahasa inggris campur bahasa isyarat, suruh kami jalan kaki. Katanya deket-deket aja kok destinasinya. Langsung saya tolak sambil tunjuk-tunjuk mama saya. “Her leg, sick, sick..” kata saya, pake bahasa isyarat juga. Refleks pake’ nunjukkin ekspresi sakit segala di muka. Untung dia ngerti. Dengan ga rela dia bilang, “Oh, OK..” terus terpaksa deh nyetir terus menghalau badai kemacetan menuju Terminal 21. Hmmh, rasakan the power of sakit kakinya Mom.

Anyway entah bagaimana akhirnya kami bisa selamat sampe’ di Terminal 21, puji Tuhan. Ga apa-apa deh si supir mau tunjukkin wallpaper 100 banci di HP-nya pun it’s OK, sepanjang kami nyampe tujuan tanpa kurang apa-apa.

Sampai di lobby mall, kami kembali kebingungan karena rombongan yang naik taxi berikutnya belum sampai. Saya coba SMS, ga ada yang delivered. Internet semua mati. Untung bisa pake wifi mall biarpun kudu register dan kasih passport dulu. Waktu lagi register, eeeh cici saya nyampe. Fiuhh syukurlah. Ternyata saking macetnya, mereka semua, si rombongan kedua, ga dapet taxi. Akhirnya mereka malah naik bus setelah nanya sana-sini. Ya sudah yang penting keluarga kami sudah bersatu kembali.

Setelah itu kami keliling-keliling deh. Terminal 21 ini mallnya agak unik sih. Jadi tiap lantai interiornya beda-beda. Ada Paris, London, Turkey, dll. WC nya pun designnya mengikuti design negara tersebut. Di tiap eskalator juga ada tulisannya, departure from Rome (misal). Arrival at London. Udah sih gitu-gitu aja. Barangnya bagus-bagus juga, cuma lebih mahal.

IMG_20160612_105852

Kami dinner di food court Terminal 21, dan harga makanannya surprisingly lebih murah lagi dari food court di MBK. Harganya berkisar belasan ribu sampe’ 20 ribuan. Saya aja saking murah (dan rakusnya) sampai makan 2 porsi nasi babi yang berbeda.

20160610_175934

Setelah makan kami keliling-keliling lagi. Lumayan dapat beberapa kaus di sini.

Habis itu kami naik taxi ke Big C supermarket buat belanja oleh-oleh makanan. Di luar ternyata hujan dan antrian taksi sudah mengular. Ga lama antri tau-tau kami dikasih 2 taksi sama penjaganya. Kaget juga, kok cepet juga dan kami dikasih duluan. Pas masuk taksi, baru 1 menitan, si supir langsung bilang dia ga mau pake’ argo karena macet dan hujan. Terus kami langsung ditembak harga 200 Baht.

Ya udah karena sombong dan gengsi, kami langsung menolak mentah-mentah dan turun dengan kerennya, kemudian cepet-cepet ngantri lagi. Pantesan rombongan antrian di depan kami ga ada yang mau ambil taxi-taxi tukang peras itu.

Anyway setelah ngantri lagi, dipikir-pikir 200 Baht cuma IDR 80-ribuan, kayaknya masih OK deh, ketimbang mesti nunggu lama lagi.

Akhirnya kami jilat kembali ludah kami dan pendam ulang gengsi kami, kemudian jadi ambil 2 taxi tadi dan naik deh menuju Big C Supermarket.

Sampai lobby Big C, saya dan cici kedua yang sudah nyampe duluan nunggu rombongan yang berikutnya dong. Eeeh udah hampir 20 menit ga nemu-nemu. Sampe’ bingung dan was-was juga, ini cici pertama saya dll. pada ke mana? Padahal kami sudah keliling juga di situ, in case di mall itu ada lobby atau pintu lain, tapi tetep aja ga nemu-nemu. Akhirnya kami yang udah sampe’ masuk duluan ke supermarketnya di lantai 2 sambil harap-harap cemas semoga rombongan cici pertama udah masuk ke situ, tapi sayangnya di sana pun tetep rombongan mereka itu ga ada.

Akhirnya saya balik lagi ke lobby dengan frustrasi dan di lobby mendadak ngeliat sosok koko saya yang beransel hitam. Langsung cepet-cepet saya lari-lari ngebut. Aaaaah, akhirnya kami ketemu. Sepertinya 2 supir taxi kami menempuh rute yang berbeda sehingga waktu tibanya berbeda jauh. Tsahh hari ini banyak banget cari-cariannya.

Setelah itu kami belanja di supermarket Big C itu. Ramenya bukan main, padahal sudah jam 9.30 malam. Ngantrinya juga lumayan panjang. Saya beli green tea dan thai ice tea serta beberapa makanan lain. Karena dari hari pertama udah belanja terus, saya sampai harus pinjam duit ke cici saya. Bayangin saya sudah sedia 5000 Baht, dan masih harus pinjam lagi ke cici saya 3500 Baht. Itupun setelahnya saya tukerin lagi 100 SGD ke baht. Mengerikan kemampuan dan kapabilitas belanja saya.

Habis itu kami balik hotel naik tuk-tuk karena Big C itu lumayan deket dengan hotel kami. Kami pakai 2 tuk-tuk dan seperti biasa anak-anak heboh banget di jalanan karena baru pertama kali naik tuk-tuk.

IMG-20160612-WA0000

Sampai di hotel, biarpun kaki udah capek luar biasa karena dari pagi beneran jalan terus non-stop keliling mall-to-mall, saya mutusin untuk turun lagi. Ini malam terakhir saya, jadi saya harus-harus-harus Thai-massage, with or without cici saya, karena saya cinta mati sama massage, reflexy, dan sejenisnya.

Di dekat hotel, sepanjang jalan berjejer tukang massage. Jadi tinggal pilih aja deh. Saya cuma ambil 1 jam foot-massage karena waktu itu sudah jam 10.45 malam. Kalau masih pagian sih pasti saya ambil pijat badan juga dan bakal berjam-jam. Pijatnya biasa aja sih, kurang kenceng. Tapi ya sudah, saya sih enjoy-enjoy aja.

Pas mulai pijit, si cewek tukang pjit saya itu nanya ke saya, “Songaaaa.. Songaaa…” Saya sampe’ bingung, dia ngomong apa sih. Dia tunjuk-tunjuk kaki saya dan ngomong lagi, “Songaaaaa.. songaaaa..” dengan logat Thai yang sengau itu. Saya asli beneran butek. Jadi saya geleng-geleng aja dengan muka bingung. Dia akhirnya ngomong lagi. “Songaaaaa.. slow-aaaa..” Dan baru saya ngeh, maksudnya dia ternyata “Strong or Slow?” Songaaaa itu maksudnya strong toh, hanya saja karena diucapkan dengan logat Thai ya jadinya “Songaaaa..” Bwahahahaha..

Setelah pijat saya jalan bentar menyusuri deretan tukang jualan baju di depan hotel, dan lumayan dapat beberapa baju lagi. Habis itu saya tepar. Tidur jam 12.30 malam dan seperti pagi-pagi sebelumnya, bangun lagi jam 6 pagi karena harus ngantri mandi dan harus peras ASI. Maklum 1 kamar 5 orangπŸ™‚

Hari 5 :

Hari ini jadwal kami adalah Pasar Jatujak (Catucak). Pesawat kami depart jam 5 sore. Jam 2 siang kami udah bakal dijemput di hotel untuk jalan ke airport. Jadi kami cuma punya waktu sekian jam doang di pasar itu.

Anyway Pasar Jatujak ini adalah salah satu tempat belanja paling gede di Bangkok. Dia bukanya cuma Sabtu Minggu aja. Hari biasa ada buka juga sih, tapi jualannya berbeda. Misal hari Senin-Selasa jualannya furniture. Cuma hari Sabtu-Minggu doang yang jualannya Wholesale gitu. Jadi the best time untuk ke sini ya hari Sabtu Minggu. Udah buka dari pagi.

Dengan mepetnya waktu, kami memutuskan untuk breakfast di Pasar Jatujak saja. Kami cuma sempat ke Seven Eleven deket hotel saja untuk beli roti pisang/mangga yang hao che pisan itu, yang harganya cuma 20 Baht aja sebijinya. Rasanya saya beli 15-an x tuh roti buat orang rumah, saking enaknya.

Okeh, pagi hari kami naik 2 taxi lagi dari hotel. Koko saya yang manggil 2 taxinya di jalanan dan udah ngomong-ngomong ke mereka untuk jalan ke Pasar Jatujak secara beriringan, biar ga cari-carian lagi nanti turunnya seperti kemarin-kemarin. Setelah jalan beberapa lama, adik saya yang setaxi sama saya nyeletuk, “eh kok argo-nya ga nyala ya?” Kami semobil juga agak bingung dan menduga, jangan-jangan tadi udah sepakat harga sama koko saya, sebelum berangkat, jadi ga pake’ argo lagi. Jadi kami diam saja. Ga ada yang tertarik nanyain soal argo, dasar o’on.

Tau-tau taxi-nya berhenti, dan supir bilang, “Udah sampe ya, tuh di seberang.. cepetan cepetan, ada polisi..” terus dia mengucapkan hal yang sama terus berulang-ulang, terutama bagian polisi itu. Cepet-cepet kami ambil duit dan supir bilang, “200 baht!” Yah, ga sempet nanya apa-apa lagi, kami bayar aja 200 baht dan cepet-cepet turun karena dia terus-menerus nyebut dengan heboh, ada polisi di belakang. Habis itu si supir langsung cau.

Pas keluar, taxi satu lagi yakni taxi koko saya di belakang juga berhenti. Dia tanya saya, kena harga berapa taxinya? Saya bilang 200 baht. Dia kaget karena taxi dia cuma 90 baht dan itu pake’ argo. Langsung deh kami ceritain bahwa taxi kami ga nyalain argo, terus pas sampe’ tadi si supir langsung ngeburu-buru kami turun dengan alasan ada polisi. Koko saya geleng-geleng. Hoaaa, ternyata kami ditipu sang supir taxi. Pantesan dia sengaja ngeburu-buru kami. Rupanya itu supaya kami cepet bayar sesuai kemauan dia dan ga sempet mikir serta komunikasi lagi dengan koko saya di taxi satunya lagi. Koko saya marah-marah bukan kepalang karena kebodohan kami, tapi ya sudahlah mau diapain lagi? Miskomunikasi pula. Kami kira taxinya sudah disepakati harganya dari awal.

Sampai di kompleks Pasar Jatujak, cici pertama ngajak nyebrang ke Pasar Ottokor (Farmers’ Market), tempat banyak buah-buahan dan sayuran, sekaligus cari makan di situ. Wah Mama saya hidup banget di situ. Beli duku, mangga, cherry dll. Namanya juga emak-emak. Saya sebenernya pingin banget bahwa pulang ketan, singkong dll. tapi sayang mereka ga tahan lama sampai besok.

Setelah makan sepiring nasi bryani, sepiring lagi nasi dengan lauk campur serta berbagai makanan lain (saya rakusnya emang kebangetan) plus tuker SGD ke Baht lagi demi acara belanja di Jatujak, kami kembali nyeberang ke Jatujak dan mulai belanja.

20160611_103336

20160611_142925

20160611_100337

20160611_132749

20160611_132746

Ngomong-ngomong soal pasar, kayaknya kebetulan deh kami dapet areanya yang kebanyakan butik-butik sehingga harganya kayaknya ga murah-murah banget. Tapi ya tetep aja beli banyak. Banyak kaus kartun lucu-lucu, termasuk (lagi-lagi) Iron Man. Seneng dan puas sih.

IMG_20160612_105633

Tau-tau udah jam 12 aja dan cepet-cepet kami balik ke hotel. Setelah di hotel dan packing barang belanjaan (kami sudah check-out pagi harinya dan koper sudah dititip di concierge. Untung pula ga ada charge apa pun terkait kami sekamar 5 orang :p), kami jalan lagi ke pasar belakang Hotel Indra Regent dan siang di situ. Karena sudah siang, sebagian tempat makannya sudah tutup, jadi kami makan seadanya saja. Rasanya saya udah eneg banget makan mie itu lagi, itu lagi.

Saya juga nyempetin ke Seven Eleven buat beli bir untuk mertua. Karena udah siang, udah boleh dong beli bir.

Habis itu kami balik hotel, tapi van yang seharusnya mengantar kami ke airport ga kunjung tiba, padahal udah jam 2 lewat. Ponakan saya yang sempet beli nomor lokal akhirnya coba kontak dengan supir Ybs. dan supir tadi suruh kami ke area parking. Koko saya ngomel lagi karena kami kan luggage-nya banyak banget, mana mungkin bererot turun ke tempat parkir. Yang semestinya ya supirnya dong yang ke lobby. Supirnya bilang dia ga berhasil dan kesulitan nemuin kami. Setelah susah payah berkomunikasi dalam bahasa Inggris campur-campur, akhirnya kami minta bell-boy di hotel kami untuk ngomong sama supir kami itu dalam Bahasa Thai. Intinya kamu mau minta dijemput di lobby. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk sama si bellboy, si supir menurut.

Setelah nunggu 10 menitan, si supir masih ga nongol batang idungnya juga di lobby. Kami minta lagi si bell-boy untuk ngomong lagi ke sang supir lewat HP ponakan saya. Eh si supir kembali marah-marah, dia bilang mendingan kami aja yang tempat parkir, dia ga bisa nemuin kami di lobby. Selidik punya selidik, ternyata bin ternyata si supir salah hotel bo!! Dia malah ke hotel Baiyoke, sementara kami di Hotel Berkeley. Ya amplop, ya surat.. Koko saya udah ngamuk banget sampe’ udah mau batalin aja penjemputan itu. Tapi karena jarak dari Hotel Baiyoke ke hotel kami cuma 10 menitan, ya udah deh kami mutusin nunggu aja biarpun waktu untuk ke airport jadi ngaret setengah jam karenanya.

Ga lama kemudian datanglah si supir, sambil nyembah-nyembah minta maaf. Huuuu udah galak-galak, padahal situ yang salah.

Jalanlah kami ke airport. Saya sempat beli kebab dulu di Airport sekalian ngabisin duit yang belum abis-abis (sombong, secara abis tukerin duit tadi pagi di Ottokor).

Setelah itu fly back deh kami ke Jakarta. Landingnya juga mulus, syukur deh.

Gitu deh, sekian cerita perjalanan kami. Cerita ini sih sebenernya lebih buat saya pribadi juga, supaya keinget apa aja yang terjadi (sampai detail) di 5 hari ini. Asli 5 hari kayaknya ga cukup deh. Sebelumnya malah plan kami 4 hari doang. Wiiih untung kami masih waras dan sempet ubah durasinya menjadi 5 hari.

Anyway summary aja, yang saya ga sempet kunjungin (padahal pengen huhuhuhu) adalah :

* Chocolate Ville -> kepengen ke sana karena semua orang bilang bagus. Saya lihat foto-fotonya terutama pas malam juga cakep banget (tau sendiri jiwa Instagram aja langsung hidup). Tapi kata cici saya yang udah pergi beberapa waktu lalu (perginya siang hari), asli tempatnya ga ada apa-apa. Makanannya juga mahal-mahal. Jauh lagi. Ya udah saya kalah suara dan akhirnya ga pergi.
* Swiss Sheep Farm -> sesuai cerita di atas, ga pergi karena semuanya udah boring sama Santorini dan The Venezia di Hua Hin.
* Baiyoke Sky Tower -> tadinya pingin buffet di sini malam hari buat nikmatin pemandangan malam kota Bangkok dari lantai 77. Ada reservatory deck-nya pula, dan harga buffetnya cuma IDR 200 ribuan doang. Tapi karena jadwal kami full dan hectic banget, akhirnya Baiyoke Sky Tower ini terlupakan, plus cici saya ga gitu napsu buffet-buffetan lagi setelah buffet Dream World dan buffet Dinner Cruise. Dia prefer makanan pinggiran aja. Plus 200 ribu dikalikan 10 orang ya akhirnya 2 jutaan juga sementara duit hasil kekumpul udah abis dan tekor, bwahahaha..

Untuk tiket-tiketan yang sudah dibeli di Jakarta, biasanya kami beli di http://www.hotels2thailand.com/

Overall saya sih selalu hepi pergi sama keluarga biarpun harus ngalah-ngalah karena semua orang punya keinginan yang beda-beda. Ada orang tua (mama) yang sebenernya ga suka pergi ke tempat bermain, ada anak kecil yang cepet bosen kalo’ kelamaan belanja, ada saya yang maunya macem-macem, dan masih banyak lagi. Yang penting bisa kompromi aja.

Mama saya juga lumayan seneng ke Bangkok karena makanannya enak-enak, buahnya manis-manis pula. Anak-anak gimana? Euh, mereka ogah balik Bangkok lagi ternyataπŸ˜€ Mereka bilang mereka cuma hepi karena ada Snow Town dan durian. The rest is not so impressiveπŸ™‚ Saya sendiri seneng-seneng aja ke Bangkok karena belanjanya bikin nagih. Makanannya kayake so far masih biasa aja ya. Mungkin belum nemu yang enak banget karena ga tau tempat-tempat andalannya. Cuma Restoran Thanying doang yang saya suka.

Oh, can’t wait for our next destination!!

4 Responses to "Bangkok Trip 7-11 June 2016"

hi ci fanny… setelah sekian lama en lagi bete baru baca lagi post cici buat penghiburan hahaha…. seru bgt deh ci jalan2 ke bkk, jd kangen makanannya… cici kurang makan tuh ci,masih byk yg enak2 en murah2 hahahah…. keknya kita cocok ci,doyan makan en belanja doang hahaha maybe oneday kt bisa trip bareng ci hahahah..

Haha iya makanannya kurang explore macem2 ni. Maklum itin nya super padat, bawa anak2 and ortu juga. Boleh2 jalam bareng :p

Fan, gw juga ke bangkok! 8-15june kemarin inii, seneng banget baca post soal trip kalian sekeluarga, ikutan ngebayangin kemarin gw jalan2 disana. Bangkok ternyata ada banyak tempat yaa, gw ga kepikiran dinner cruise atau main salju ituu lho. Pratunam bukannya murah2 buat belanja, tapi harus grosiran kl mau murce gt.

Hoaaaaa lg musim ya pada ke Bangkok.. eh gw pikir dinner cruise standard itinerary gt haha.. dreamworld jg karena ada anak2 aja. Kalo nggak pasti ga bakal didatengin hehe.. gw stay deket pratunam tp malah ga ke sana sama skali hi3..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,697 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Refreshing morning view
.
#view
#morning
#bandung
#mercure
#nature
#familyholiday I must get it!!
.
#aimee
#minnie
#baby
#mercure
#bandung
#holiday
#family Christmas is everywhere 🌲
.
.
#christmas #christmastree #bandung #bandungtrip #aimee #transluxuryhotel #instatravel #instababy FAMILY πŸ‘¦πŸ‘§πŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘΄πŸ‘΅πŸ‘ΆπŸ‘±
.
.
#family #bandung #bandungtrip #transluxuryhotel #familyportrait Tempatnya loetjoe. That's it.
.
.
#dinner #bandung #missbeeprovidore #chicken #instafood #food Aimee and Koko Kael at the kids club

#aimee #baby #kidsclub #transluxuryhotel #bandung #holiday #family #kids Swimming!! 🏊🏊🏊
.
.
#aimee #baby #swimming #bandung #bandungtrip #holiday #family #transluxuryhotel Get ready for Aimee 1st traveling experience. We tried the easy one first, Bandung :) #aimee #baby #traveling #jalan2 #longweekend #bandung #family <<emosi>> Last nite dinner di Kopitiam, GI

#langsunghilangseleramakan
#kwetiau
#pucatpasi
#polosbanget
#dikitbanget
#4suaphabis
#emosi
#seginiplustehpajakdll70ribu 
#enakkankwetiaunyokapgw
#waiternyajelalatanlagi πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘ 1 (foto) lagi dari Mayora.. #aimee #birthday #1yearold #perayaanbatchkedua #celebration #remboelan #plazasenayan #inlawfamily #ayeamakukuyeye Libby and Jamie card for Aimee 😁

#birthdaycard #birthday #aimee #kids #handmadecard #cousin #nephew #niece Libby's card for Aimee 😁

#kids #birthdaycard #cousin #niece #birthday #aimee #handmadecard It's almost Christmas, the most wonderful time of the year!! Last year I didn't enjoy all this season beauty as I'm stucked at thome post-birth. But now?? Yeay!! Mall to mall, get ready!

#christmas #decoration #themostwonderfultimeoftheyear #christmastree One of my favorite place. Tasty food, wide range of variety, reasonable price, beautiful and comfy atmosphere

#remboelan #restaurant #indonesianfood Masih edisi ultah πŸŽ‚

Headband by @bearbeecollection 
Dress by @galerieslafayette

#aimee #birthday #1yearold #white #baby #instababy #remboelan #plazasenayan #asyikdengansendokdansegalamacam Family is number one blessing

#aimee #birthday #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #keluargapala #remboelan #plazasenayan #whitebluedresscode ❀πŸ‘ͺ❀ 3 of us

#aimee #birthday #lunch #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan Teeth and tongue πŸ˜—

#aimee #baby #laugh #birthday #1yearold #lunch #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan πŸ“· : @lieta73 πŸ˜€ Aimee mukanya kok penuh cela gitu si?

#aimee #baby #family #birthday #1yearold Aimee 2nd cake 🍰

A cake πŸŽ‚ by @ivenoven, a birthday cake I always want since errr.. forever?? πŸ˜€

#aimee #birthday #baby #1yearold #cake #ivenoven #winniethepooh #vanillanutella #vanilla #nutella

Blog Stats

  • 405,710 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

June 2016
M T W T F S S
« May   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

tuliskan yang tak mampu terucap

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: