Fanny Wiriaatmadja

Archive for the ‘Papa’ Category

HBD

Hai Ayah,
Apa kabar?

Sebelumnya, selamat ulang tahun dulu ya..
Kalau Ayah masih di sini, umurmu sekarang 73 tahun..
Ada rambut putih yang berusaha kau sepuh,
Ada ketiak dengan bau khasnya yang terekspos saat kau tidur dengan gaya andalanmu,
Dan sejuta memori lain yang bersarang hangat di hati dan pikiran

Di hari ulang tahunmu ini,
Pasti kita sedang makan bersama malam ini, riuh-rendah-ramai dengan ocehan cucu-cucu Ayah,
Lengkap dengan tiupan lilin dan potong kue.
Serta doa yang terujar pelan dalam hati, tulus untuk Ayah

Ayah,
Aku sungguh rindu tawa bahagia dan binar tulus matamu
Ada begitu banyak yang ingin aku ceritakan,
Walaupun aku tahu Ayah tahu.

Tentang pekerjaan, pindah-pindah lompat-lompat kantor yang aku alami sampai sekarang
Boss bule dari Australia dengan aksen New Zealand yang kental di kantor sebelumnya,
Yang membuatku pusing tujuh keliling tak tahu dia bicara apa
Nyerocos panjang lebar dengan aku mengangguk-angguk seolah paham
Padahal dalam hati aku menjerit penuh nestapa
Merasa malang karena hampir tak mengerti sepatah kata pun
Mengutuk diri karena punya telinga dan otak bebal

Ah, kalau aku cerita, Ayah pasti akan geleng-geleng tidak percaya
Ayah akan menganggap aku anak rendah hati yang hanya mengaku tak mengerti
Karena Ayah selalu menaruh percaya dan bangga di atas rata-rata pada semua anaknya

Ayah,
Sekarang sepertinya aku bisa loh bayarin Ayah jalan-jalan
Ayah mau ke mana pun, kami semua sekarang bisa, mampu, dan sanggup membawamu
Memboyongmu ke Xiamen, Fujian, Guangzhou, sebut saja yang kau damba
Maka kami siap berangkat

Sayang, semua belum kesampaian ya..
Dan kami kini melimpahkan semua hasrat itu ke Ibu..
Semoga Ayah pun bisa menikmati semua perjalanan kami dari atas sana ya.
Dan kami tahu ada senyum bahagia Ayah untuk kami..

Ayah,
Ingat tidak waktu aku jadi guru les privat?
Gajiku cuma tujuh ratus ribu waktu itu
Tapi Ayah gembar-gembor ke semua temanmu, memberitahu mereka gajiku
Banggamu bukan main, padahal aku nyaris tutup wajah karena malu

Tapi itulah engkau
Aku tak tahu dengan sekarang Ayah
Kalau Ayah tahu gajiku yang mungkin memang sudah berlipat dari tujuh ratus ribu itu,
Entah apa rasa yang ada dalam hatimu
Dan entah semembuncah apa rasa banggamu padaku, dan pada semua anakmu yang lain
Aku tak tahu, seberapa sebal dan bosan pastinya teman-temanmu mendengar kisahmu tentang anak-anakmu

Ayah,
Aku sudah menikah
Ayah sama sekali tidak sempat bertemu suamiku
Sayang ya..
Tapi dia permah datang mengunjungi Ayah kok..
Aku tahu Ayah melihatnya,
Percayalah dia akan menjagaku dengan baik, walaupun tentu saja tidak bisa menandingi kasih sayang Ayah
Serbuan cerita penuh bangga dariku tentang sosok Ayah, selalu memenuhi hari-harinya
Semoga Ayah menyayanginya, sama seperti aku menyayanginya
Dan aku percaya dia juga menyayangi dan mengenal Ayah dengan baik
Dia tahu jelas betapa cinta mati istrinya pada sosok ayahnya, dan tahu jelas bahwa posisi Ayah di hatiku tidak akan tergantikan, bahkan oleh dirinya

Ayah,
Kalau Ayah masih ada, Ayah sekarang sudah punya 5 cucu
Dan 6, kalau semua lancar.
Cucu lelaki yang Ayah dambakan sudah ada,
Namanya Jamie
Anaknya ceriwis bukan main, bicara tiada henti, suaranya melengking membuat semua ingin muntah
Ayah pasti pusing dan mabok berada dekatnya
Tapi pasti Ayah bahagia, karena Ayah selalu dan selalu begitu.
Cinta pada keluarga tak terbandingi

Ah Ayah, aku rindu pisan..
Entah harus dilampiaskan ke mana dan bagaimana.
Kadang sungguh membuat frustrasi, ingin menjungkirkan dunia, ingin menjerit, ingin menendang apa pun yang ada di sekitar, apapun itu..

Ayah,
Seperti biasa aku menulis ini dalam linangan air mata
Tak terbendung, tak terhenti
Bahkan pagi hari kemarin saat duduk di busway, melihat pria tua sepantaran dirimu,
Air mataku langsung meledak
Menghempas dahsyat, dan tak bisa kupeduli lagi pandangan orang

Ayah,
Lagi, kau tahu betapa cinta, rindu, dan sayang kami pada dirimu
Tidak usah berharap muluk pada waktu yang kami harap berputar kembali,
Karena dia makhluk kejam tanpa rasa, dan karena semua sesal tiada guna sekarang

Yang terpenting adalah hati,
Yang terus terkoneksi tanpa henti denganmu
Dengan bayang dirimu, memori akan engkau, bau tubuhmu, senyummu, hidung mancungmu, gantengmu, semuanya..
Yang penting adalah mimpi yang sesekali datang membawamu, menghadirkanmu
Membuat kami melepas rindu sekaligus membuat pedih saat terbangun, berharap tak bangun lagi

Selamat ulang tahun Ayah
Kecup cium, peluk dekap seerat mungkin
Belai mesra dan tatap lembut kami untuk Ayah
Dari istri, anak-anak, cucu, dan calon cucu

Kami sayang Ayah..

Jakarta, 10 May 2015

Advertisements

dad

Dalam suatu perbincangan di mobil bersama keluarga, kami teringat kisah tentang ayah yang kami boyong lebih dari 8 tahun lalu ke mall untuk berbelanja baju imlek. Khas anak-anak dengan karakter kepo yang sudah mendarahdaging ditimpali lagi oleh kepedulian campur rasa sayang berbumbu sedikit perfeksionis, dapat dibayangkanlah betapa bawelnya kami para anak mengomentari semua baju yang dia kenakan di ruang ganti.

“Kebesaran!”
“Terlalu ketat! Ada bolong kecil, lagi!”
 “Jelek! Kayak mau dangdutan!”
“Ga cerah! Jadi kumel pake ini!”
“Potongannya ga bagus! Masak’ lengannya ngejeber gini..”

Dan sejuta comment tak berperasaan lain yang tentunya merujuk pada si baju dan bukan pada si pemakai. Belum lagi tingkah kami yang sok merapikan kerah baju Papa saat beliau berpose di depan cermin, atau menepuk-nepuk bajunya supaya jatuh lebih rapi dan lurus, dan masih banyak lagi. Riuh. Ramai. 1 ayah, 1 istri dan 5 anak.

Seorang bapak tua yang tampaknya memperhatikan sedari tadi kemudian sambil tersenyum menghampiri Papa dan berkata sambil menepuk-nepuk punggungnya, “Ni (kamu dalam bahasa Mandarin) orang paling bahagia ya, anak-anak sayang semua..”

Waktu itu aku tidak ingat sama sekali seperti apa ekspresi Papa. Kakak-kakakku pun mendadak buram akan raut wajah Papa saat si Oom berucap seperti itu.

Apapun itu, moment itu akan selamanya ngendon di benak kami, tentu saja. Rasanya kami tidak melakukan apapun yang ‘berarti’ saat itu, tapi orang melihat kasih sayang di semua tindak dan kata kami.

Beberapa bulan setelah Papa meninggal, kami menemukan buku hariannya. Sebuah kalimat indah dalam bahasa Mandarin tergurat rapi di selembar halaman di dalamnya.

“Orang paling bahagia adalah orang yang sehat..”

Kalimat itu membuat kami lantas terisak lagi, sontak ingat akan sakit beliau sepanjang hidupnya. Terbayang asma kejam yang menggerogoti tubuhnya dan menghabiskan napasnya. Tidak pernah kami lupa kata-kata dokter yang mengatakan bahwa napas Papa itu bak orang 2 hari treadmill tanpa henti. Can you imagine? Itu mungkin kiasan, itu mungkin hanya umpama. Tapi jelas sekali, bukan lagi implisit menurutku, bahwa napas Papa sudah habis-habisan gara-gara asmanya dan betapa sengsara hari-hari di hidupnya. Bayangkanlah tiap helaan napas dalam sehari – bukan, mungkin dalam sejam – yang harus diperjuangkannya, dalam puluhan tahun hidupnya.. Pantaslah kalau ia menuliskan kalimat itu.

Aku tidak tahu apa maksudku menuliskan semua cerita ini. Apakah Papa lebih menganggap kesehatan berarti daripada keluarga, seperti yang diucapkan si Oom beberapa tahun lalu? Apakah Papa bergumam dalam hatinya, “Kamu tidak tahu apa yang membuatku bahagia..“ saat si Oom mengucapkan kalimat di atas tadi dengan nada iri?

Aku tidak tahu dan tidak kepingin mencari tahu.

Aku tahu jelas Papa bahagia dengan kami anak-anaknya. Beliau mungkin tidak pernah menuliskan kalimat formal atau mendeklarasikannya secara tertulis, atau menghias kalimat itu dalam bahasa mandarin berkaligrafi indah di bukunya, tapi dengan semua moment kami bersama, segala tawa canda marah kesal tangis, kami tahu kami sudah mengimbangi sengsara dan sakitnya dengan bahagia, sayang dan kasih.

Kami (sangat) sayang Papa..

IMG-20130918-01963

Wahai Kata,
Bila hari ini aku mengenalmu dalam intim,
Itu semua adalah berkat pria ini,
Yang membawamu ke hadapanku melalui gennya
Lewat darah, sumsum dan seratnya

Mari berterima kasih bersama padanya..

Wahai Menulis,
Bila hari ini kita bersahabat erat bak sekandung,
Semua adalah jasa pria ini seorang,
Yang menghadirkanmu dalam gemerlap hidupku
Sebagai teman karib peneman suka duka

Mari mengingat peran pentingnya dalam pertalian kita..

Wahai Aksara,
Bila hari ini kau bak separuh jiwaku,
Lagi-lagi pria inilah yang buat ulah
Ialah yang mengumpaniku dengan kawanan kalian
Membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama

Kita berhutang budi pada Mak Comblang yang satu ini

Sekarang,
Maukah membantuku sejenak?
Karena kalian juga bak saudara sedarah dengannya,
Saling menyayangi pula dengannya,
Maukah menyampaikan semua rasa yang tak bisa tersirat?
Maukah mengirimkan kerinduan yang menonjok, yang tak bisa ditumpahkan dalam medan kalian?
Maukah melontarkan beribu peluk dan cium untuknya di alam sana?
Maukah menampung air mata ini dan mengkristalkannya dalam kenangan tanpa akhir?

Sungguh aku sangat kangen pada pria itu..

**

Sore ini, aku menerima BBM dari cici yang isinya berupa gambar di atas. Oh Tuhan, aku langsung mewek sesengukan seperti orang bodoh.. Teringat saat Papa menuliskan list kata-kata yang dia tidak terlalu familiar di sepucuk memo polos itu, memintaku untuk memberikan definisinya secara tertulis di samping masing-masing kata supaya bisa ia ingat baik-baik artinya dan tempelkan lekat-lekat semua maknanya di benak cerdasnya; supaya ia menang dari tantangan saat mengisi TTS kesukaan kami bersama di koran langganan tiap hari; supaya ia mengerti jelas saat artikel koran-koran sok profesional itu menggunakan istilah teknis yang tidak ia akrabi.

Terima kasih Tuhan untuk selembar kecil kenangan yang sore ini kau jatuhkan untukku; pengingat akan jasa pria itu, yang seolah bak diatur, telah mempersiapkan kehadiran aksara dan kata sebagai penghibur dan pengganti dirinya untukku, saat dia sudah tiada.

Dedicated, again, to my beloved Dad – orang yang bertanggungjawab membawa kecintaan pada dunia tulis-menulis, dalam diriku.

tangan

Eratnya genggaman tangan kadang berarti lebih dari segalanya

Teringat waktu kakakku keguguran,
Papa duduk di samping ranjangnya di Rumah Sakit
Menggenggam erat-erat tangannya
Walau Papa juga kecewa kehilangan bakal-cucunya,
Dia membesarkan hatinya untuk menjadi jangkar bagi putrinya
Menahan air mata dan kepedihannya sendiri
Sebab sakit putrinya adalah sakitnya juga
Dia menyalurkan penghiburannya lewat genggaman erat itu
Tanpa kata menyuarakan “semuanya akan baik-baik saja..”

Genggaman yang sama dia berikan
Saat aku terkapar karena usus buntu
Aku ingat malam sebelumnya kami ribut
Seharian kami tidak bicara
Aku ngambek, dia pun membalasnya
Bak dua anak kecil yang kekanakan
Tapi saat aku meringkuk menahan sakit
Dia melepaskan semua gengsinya
Menggenggam tanganku erat-erat
Tidak lupa dengan usapan lembut nan menenangkan di kepala
Genggaman itu tidak pernah dilepasnya sepanjang ranjang beroda tempatku berbaring itu didorong di Rumah Sakit
Sampai aku berharap bisa terus sakit
Supaya bisa menikmati nyamannya genggaman itu

Saat aku di pelaminan nanti
Aku tahu genggaman itu tidak akan ada lagi
Entah siapa yang akan menggantikannya
Berharap ahli kosmetik menciptakan maskara anti luntur dengan daya tahan berpuluh kali lipat
Supaya saat aku terisak deras nanti, dandanan susah payah hasil bangun subuh-subuh itu tidak rusak
Mengerti bahwa hatinya sudah selamanya menggenggam hatiku
Menggantikan dan melebihi genggaman tangannya
Tahu bahwa semua sayangnya sudah disalurkan maksimal lewat hidupnya selama puluhan tahun itu
Tapi aku tak berdaya, tetap mengharap genggaman tangannya
Ingin merasa kerut-kerut dan renta tekstur tangannya.
Genggaman yang tak tergantikan..
Rindu…

stock-illustration-9406003-father-and-daughter-doodle

Siang itu, aku melihatnya..
Gadis itu merangkul ayahnya, menggoda pria tua itu dan bercandatawa dengannya
Mesranya bukan kepalang..
Aku sontak memalingkan muka
Seperti tertangkap basah melihat adegan tidak senonoh
Dan hatiku serasa dicubit
Kecil saja, tapi membuatku tersenyum simpul
Sebab serangan ini timbul lagi
Kumat, kambuh..
Dan aku tak tahan tak membagi perasaan ini kepada mereka yang tedekat
Jawab Sang Pertama, “Halahhh, sudahlah, ngapain sih kamu pikirkan!! Bikin BT liburanmu saja!”
Jawab Sang Kedua, “Hehe, pasti kangen banget ya.. Tenang ya, he’ll forever be in your heart bukan?”
Dan aku tersenyum lagi
Aku tahu, aku bertanya dengan mengharap jawaban tertentu
Dan kamu sudah tahu jawaban mana yang lulus
Malaikat juga tahu, siapa juaranya..

Anyway,
Terima kasih Sahabat, untuk kata-kata manis yang menenangkan..
Untuk tidak pernah bosan dengan sindrom ‘jealous attack’-ku yang mungkin berlebihan bagi orang lain
Tapi kamu tetap sabar dan bertahan
Untuk seorang aku yang ‘membosankan’
Again, terima kasih
Papaku pasti juga tersenyum dari sana 🙂

i-love-dad

Papa lagi, Papa lagi..

Memangnya pernah bayangannya berhenti hadir di hidup kami, anak-anaknya? 🙂 Memangnya bisa kenangan akan dia berhenti mengalir dalam benak kami, yang mencintainya bak diri sendiri?

Teringat setiap kali tiba waktu bayaran uang sekolah bulanan jaman aku SMP dan SMU.

Karena uang bayarannya supermahal untuk ukuran tahun itu (BPK Penabur gitu loh, Badan Pemeras Keluarga), setiap mau ngasih tagihan ke Papa, asli rasanya beraaat banget dan selalu serba salah in terms of timing. Saat dia lagi bete, kita jadi ga enak ngasih tagihan. Sebaliknya saat dia hepi, kita jadi tersenyum sendiri ngeliat muka happy-nya dan jadi super ga tega ngerusak kebahagiaannya dengan memberikan tagihan laknat itu. Sekarang saya sendiri ga tau, ada hasilnya ga sih dengan bersekolah di sekolah bagus itu? Kayaknya sekarang juga gini-gini aja 🙂

Sama halnya dengan waktu ke dokter gigi. Berat banget memberitahukan ke Papa schedule visit ke dokter gigi, karena itu berarti Rp 100,000 harus melayang untuk si dokter yang notabene hanya mengencangkan karet-karet di kawat gigi ini jaman SMU. Duh, penuh sesal mengapa gigi ini tumbuh begitu jelek, sampai harus dikoreksi, tepatnya dengan DUIT. Benci harus memberatkan Papa lagi dan lagi dalam urusan uang.

Teringat titah Beliau setiap makan malam, dimana kami semua sekeluarga harus duduk bersama di meja makan. Makan bersama, ngobrol bersama. Walau kadang ga ada obrolan, tetep aja rasanya damai ngumpul bersama seperti itu. Setelah Beliau ga ada, meja makan itu jadi kambing congek di sudut dapur; saksi bisu sejarah kemesraan sebuah keluarga besar. Sekarang boro-boro makan bersama di meja, yang ada kita jarang makan di rumah lagi, lebih sering makan di luar. Kalaupun makan bersama, masing-masing prefer makan di tempat favoritnya, either di ruang tamu atau di ranjang. Pingin kembali lagi ke masa-masa mesra itu.

Teringat juga ritual kami berdua. Duduk bersama bersisian di meja belajarnya Papa. Either kami khusyuk baca Alkitab masing-masing, sibuk dengan renungan kami sendiri-sendiri, atau kami mengerjakan TTS dengan kamus manual buatan Papa, shortcut kunci jawaban alias cara licik Papa untuk bisa membombardir habis semua kotak TTS itu. Aih indahnya moment itu.

Teringat saat Papa minta diajari cara ber-SMS dengan HP-nya, dan otaknya yang pintar cerdas itu rupanya saat itu belum bisa mengakomodir cara ber-SMS. Begitu penasarannya dia sampai dicobanya berkali-kali dan akhirnya menyerah dengan gadget konyol itu.

Teringat saat aku mengerjakan tugas kuliah dengan komputer, ditemani dengan Winamp yang sengaja ku-stel dengan playlist berisi lagu-lagu Mandarin kesukaannya, hanya demi membahagiakannya, yang sedang berbaring-baring santai di kamar sebelah. Happiness is simple.. Huang Huen, Xiao Wei, dan masih banyak lagi lagu penuh kenangan itu. Adakah yang bisa mengerti kecintaanku terhadap lagu Mandarin selain dia yang juga memiliki minat dan cinta yang sama?

Teringat saat dompet ini dijambret orang. Sesak.. Bukan sekedar karena kehilangan isinya, tapi karena foto dirinya (yang selalu kupajang di setiap dompet apapun yang aku punya) pasti akan dibuang si penjambret entah kemana. Dianggap tidak berguna. Dianggap sampah. Sakit, membayangkan image-nya terdampar di pinggir jalan atau di tong sampah, atau dimanapun, yang pasti tidak layak untuknya, may be diinjak orang 😦

Teringat setiap kali berjalan-jalan dalam liburan, terutama saat ke luar negeri. Pilu membayangkan tidak kesampaian membawa dia pergi berlibur bersama padahal sudah sanggup. Gagal membawanya menikmati sakura Jepang yang indah, pemandangan Guilin yang spektakuler, ataupun temple-temple sakral di Taiwan. Selalu minimal sekali ada sesi tangisan cengeng dalam liburan, mengingat kesempatan untuk melihat tawa bahagia dan kagumnya itu sudah tiada. Benci dan sakit..

Teringat saat Papa masuk Rumah Sakit karena asmanya yang akut, dan besokannya subuh-subuh sahabat karibnya sekaligus tetangga kami diserempet mobil saat lari pagi dan harus dibawa segera ke Rumah Sakit. Demikianlah sebuah persaudaraan, sahabat Papa ini ngotot mau dibawa ke Rumah Sakit yang sama dengan Papa, dan sukses ditempatkan di kamar yang sama dengan kamar Papa 😀 Yang satu empot-empotan ga bisa napas karena asma, yang satu patah kaki karena diserempet mobil.. Seru, satu ruangan, dijenguk oleh teman-teman yang sama dan sukses bikin heboh dengan canda tawa khas bapak-bapak dengan gank-nya. Papa sakit, tapi untunglah bisa terhibur dengan keberadaan sahabatnya itu.

Ngomong-ngomong Rumah Sakit, teringat juga saat-saat pahit itu; saat dimana (masih) dia harus dirawat berhari-hari di tempat yang tidak disukainya itu, dan suatu pagi dengan suara lemah dia mengadu ke kami bahwa Susternya jahat dan kasar. OMG, sungguh betapa hancurnya hati kami mendengar aduannya itu dan tidak bisa melakukan apa-apa selain mengajukan complain ke pihak Rumah Sakit. Tak berdaya karena tak bisa setiap detik mengawasi Papa dan Suster-Suster biadab itu. Siapa yang amarahnya tidak bangkit dan mental sampai ubun-ubun kepala sisi teratas, mendengar kesakitan yang dialami oleh orang yang paling disayang itu? Benci, pahit dan sakit rasanya. Berbagai alternatif tindakan sadis dan kejam muncul di kepala untuk diterapkan ke si Suster dalam imajinasi, tapi toh tidak bisa dilakukan kan, karena malam demi malam, kami memang harus menyerahkan Papa ke tangan orang yang seharusnya bak malaikat itu?

Siapapun kalian yang ingin menjadi Suster atau Perawat atau apapun itu, sungguh, sungguh dan sungguh, semoga kalian semua melakukannya dengan hati dan cinta, tidak seperti Suster yang jahat itu 😦 Ga kebayang nasib para pasien apalagi yang sudah tua renta dan ga berdaya, ditambah misalnya tidak punya keluarga yang cukup menyayangi dan memperhatikannya, di tangan para Suster yang seenak jidat dan tak punya hati.

Teringat lagi dan lagi, saat dia di ICU dengan napas yang terpatah-patah, yang menurut dokter bagaikan orang lari di tempat 2-hari non-stop sesaknya, dan kami hanya bisa menempelkan hidung di kaca ruang ICU dari luar dalam isak tangis, menatapi dia yang seluruh badan dan wajahnya ditempeli alat, namun masih kesulitan bernapas. Pandangannya yang nanar namun liar menyiratkan secara eksplisit derita dan sakitnya, dan kami di luar hanya bisa mengucapkan doa dan jeritan dalam hati. Belum lagi tangannya yang kemudian terangkat, penuh mohon ke kami seakan berucap, “Gendong Papa, bawa keluar dari sini..” Bayangan itu semua terekam di benak ini, tak akan pernah hilang sakit dan hancurnya di hati saat mengenangnya. Seandainya sakit Beliau bisa dibagi rata dan ditanggung oleh kami berenam. Tak terbayang deritanya tak bisa bernapas, sementara naik jembatan penyebrangan saja napasku sudah tak bisa bekerjasama dengan hidung, dan harus menggunakan mulut karenanya sebagai penyeimbang. Papa, mengapa begitu sengsara engkau dengan sakitmu? 😦

Terakhir, ingat juga akan someone yang pernah berjanji di depan almarhum Papa, that he will take care of me. Someone yang on behalf of Papa, berjanji melakukannya sepenuh hati. Well, sepertinya itu tidak bisa terlaksana bukan? You broke the promise 🙂 It is a vow, that you once said, anyway, on behalf of the person whom I love the most in the world..  It hurts sometimes to remember.

Terhadap seorang manager di bekas kantor, aku pernah katakan bahwa dalam audisi cast sebuah film dimana adegan yang diujicobakan adalah menangis, mungkin aku bisa dijagokan jadi pemenang atau paling tidak lolos next stepnya. Sebab membayangkan sosok paling disayang dan dicinta itu, segala kenangan dengannya, bahagia dan hidup bersamanya, bahkan sampai mengingat semua kesakitannya, pasti sukses menghasilkan genangan air mata, dimana aku harus mendongak-dongak tidak karuan menatap langit-langit demi menahan bocornya air mata ini, jatuh ke bawah.

Again siapapun kalian yang masih diberikan cukup keberuntungan untuk masih bisa menikmati hidup bersama ayah kalian, would you guys do a favor to me?

Tolong, sayangi dan cintai dia.. peluk dia, kecup dia, rangkul dia sesering mungkin, nikmati moment-moment kalian bersama. Sabar terhadap dia, temani dia, manjakan dan mesralah dengan dia, jadilah anak kecil selalu untuk dia, jangan pernah berubah, jangan pernah menjauh. Tolong wakili aku yang sudah tidak bisa melakukannya lagi, lewat tangan dan hidup kalian. Salurkan semua kerinduanku yang kadang tak tertahan ini dimana hanya mimpi yang kadang bisa membantuku mempertemukan diri dengannya, itupun kebanyakan dalam diam.

Salam terhangat dan terdalamku untuk semua ayah kalian dimana pun kalian dan mereka berada dan terima kasih sebelumnya.

……………………..

Harus berhenti menulis. Can’t see clearly tuts keyboard ini. This tears is blocking my sight.

Love you Dad..

dreamz-my-dream-is-24206278-1920-1200

Dreams never lie.. That is so true..

Mimpi yang saya maksud di sini adalah bunga tidur di malam hari. Apapun teori tentang keterkaitan mimpi, tidur dan otak, saya sungguh percaya mimpi itu punya perasaan, punya benak untuk mengerti rasa dan hati tuannya serta punya kepekaan menangkap kerinduan yang tersembunyi, yang elemen lain tidak bisa jewantahkan dengan baik.

Dan dalam hal saya, mimpi saya bisa menginterpretasikan kerinduan saya terhadap sosok itu. Sosok agung yang selalu memiliki dan dimiliki hati ini; bayangan yang begitu real, yang setiap sel tubuh ini menolak melupakannya dan mati-matian ingin terus merasakan dan merengkuhnya erat-erat.

Beberapa malam lalu, saya mimpi Papa lagi.. Mimpi biasa yang selalu membuat mata berkaca-kaca saat bangun, lengkap dengan campuran rasa bahagia sekaligus pilu yang berkecamuk dalam putaran tornado hati. Papa sedang duduk, terlihat gundah karena koko saya sedang membetulkan langit-langit kamar dan entah kenapa berakibat kebocoran dan air mulai menetes dalam ritme perlahan namun pasti.

Entah kenapa Papa bisa bilang ke koko saya, “Kamu selalu jealous dengan si X..” FYI X adalah sepupu saya, alias keponakan Papa. Koko saya menjawab, “Saya dengan X memang beda.. Saya lebih jago di Fisika, kalo X di Matematika..” Saya sendiri tidak mengerti maksud percakapan itu dan kenapa saya bisa bermimpi seperti itu, tapi bukankah mimpi tidak punya batas dan begitu imajinatif, sehingga semua unsur kehidupan kita bisa dicampurbaur bak adonan kue, hanya saja tanpa kepastian rasa karena ketidakberaturan takaran dan tidak sesuai pedoman/petunjuk? Saya ingat di mimpi itu saya berlutut di bangku di samping Papa, mengelus-elus rambutnya, mengecup puncak kepalanya dan berkata dengan nada selembut mungkin, dengan maksud menenangkan, “Gapapa ya Pa.. Langit-langitnya pasti beres.. Ga akan bocor lagi..” Entah kenapa saat itu ada kebingungan di hati saya, mengapa saya bisa begitu sayang kepada orang ini? Sungguh, di mimpi itu saya dilanda kebingungan dan ketidakmengertian, mengapa saya bisa mencium Papa, membelainya dan menenangkannya, menatapnya dalam-dalam seolah hendak menyalurkan segala daya yang ada di diri untuk melepaskan semua gundah gulananya. Dan dalam mimpi itu terus pertanyaan itu terucap dalam hati saya, “Mengapa saya begitu mengasihi orang ini?”

Dan setelah itu seperti biasa, mimpi yang memang seorang yang urakan, merenggut semua bayang itu dan terjagalah saya. Mata berkerjap, bingung, berusaha mencerna semua, berusaha membedakan realita dan mimpi, dan perlahan benak berputar lagi, mengulang rekaman peristiwa dalam mimpi lagi dan bercampurlah rasa itu, seperti yang saya tulis tadi : bahagia, sedih, pilu, rindu.. Dan sungguh pertanyaan dan sayang yang melimpah itu masih tersisa dalam hati saya, masih begitu berbekas, seakan nyata. Saya berusaha mengingat lagi dan lagi, mendekap semua rasa itu, supaya membekas erat di hati dan tidak bisa terlupakan. Tapi seperti biasa juga, pagi harinya ketika saya bangun kembali, saya sudah lupa semua rasa itu, hanya teringat peristiwanya.. Ah betapa merindu hati ini..

Malam-malam berikutnya, campuran cuplikan film Star Trek seakan bergabung dengan mimpi saya. Ada peristiwa gunung meletus, dan saya serta sepupu saya dan beberapa anggota keluarga lain sedang berada di suatu rumah. Kami menyaksikan sendiri gunung tersebut meletus, dentuman dan letupan bertubi-tubi menghajar lapisan tanah, asap membumbung tinggi dan langit keruh kotor. Saya dan sepupu saya berlari meninggalkan rumah itu, berusaha menyelamatkan diri. Di tengah jalan HP sepupu saya berbunyi, dan itu ternyata Papa saya. Saya langsung merebut telepon dan berteriak dalam kepanikan, “Papa di mana?!!” Papa menjawab lemah, “Di rumah..” Saat itu jiwa saya seperti menciut, penuh sesal dan ketakutan serta kengerian. “Papa keluar dari rumah!! Lari sekarang juga!!!” Jerit saya. Papa menjawab lagi, “Tapi koko kamu ga ada.. Adikmu juga sedang pergi, dia bawa mobil..” Saat itu saya dilanda amarah sontak, ingin menjerit histeris, berani-beraninya adik saya pergi dan meninggalkan Papa saya sendirian di rumah dalam keadaan gawat darurat seperti itu, meninggalkan sosok tua tak berdaya itu sendirian di rumah. Langsung saat itu benak saya berputar cepat, ingin mengadu ke cici saya, meneriakkan semua kebangsatan adik saya yang berani-beraninya meninggalkan Papa. “Papa keluar sekarang!! Papa ke rumah Ko Cibeng sekarang!!! Selamatkan diri!!” pekik saya lagi. FYI Ko Cibeng itu adalah teman terdekat Papa sekaligus tetangga kami. Saya serasa melihat Papa menggeleng, disusul kata-katanya, “Papa takut mobilnya ga muat, takut istrinya Ko Cibeng marah..” OMG!! Dalam mimpi pun hatinya yang lembut tak pernah berubah.

Dan detik itu mimpi saya selesai, saya bangun. Rasanya saya terbangun dalam keadaan ingin berteriak dan menjerit dalam keputusasaan. Dan perlahan, benak nyata saya mulai kembali ke tempatnya dan saya sadar lagi itu mimpi. Antara lega dan tidak lega, antara marah dan tidak marah, antara bahagia dan tidak bahagia. Benci, tapi ada lega karena itu mimpi. Saya ga kebayang kalau itu real dan Papa saya dalam keadaan seperti itu. Sungguh lebih baik kami anak-anaknya mati daripada harus menyaksikan dia dalam detik-detik terakhir seperti itu.

Itulah dua mimpi terakhir saya. Saya merasa mimpi saya sangat mengerti saya, seperti seorang sahabat yang berupaya menghantarkan sedikit kenangan lagi tentang sosok paling disayang itu. Seakan Sang Mimpi mengerti ketidakberdayaan saya dan diapun berusaha sekuat tenaga sebisa dia untuk membantu, supaya saya bisa bertemu lagi dengan Papa walaupun hanya dalam dunia imaginary.

Terima kasih dan syukur saya kepada Sang Mimpi. Semoga dia bisa menyampaikan cium, peluk, sayang, kangen, cinta dan salam saya untuk Papa di Negeri Bahagia itu. We love you Dad..

Tags: ,

Yosianaggk

Sinchia always talks about Dad..
Sosok mengagumkan yang memang selamanya selalu terpatri di hati, sebagaimana dirasa juga oleh kakak dan adik lainnya..
Dan seperti tahun sebelumnya dalam ritual Sinchia, kami selalu nonton konser artis Taiwan/HK di TV
Jay Chou, Jackie Cheung, Andy Lau, semua nama-nama itu tampil membawakan lagu-lagu lawas
Dan bagaimana bisa semua lagu itu tidak menghadirkan kenangan akan beliau lagi?
Bagaimana bisa dia yang selalu duduk di sampingku bersama, mengomentari penampilan para artis itu, sekarang tidak lagi ada?
Maka hadirlah lagi air mata itu, seolah berusaha dengan pongahnya menggantikan tempat ayahku itu
Lagu-lagu merdu itu jadi laksana lagu kematian yang begitu menyedihkan
Dan rasanya tak mau lagi aku mendengar alunan merdunya gita-gita kegemaran Papa itu

Sakit ini ditambah lagi dengan perubahan lagi dan lagi yang semakin terasa tiap tahunnya
Sejak Ema meninggalkan kami, sinchia berubah..
Tak ada lagi sinchia 2 hari.. sinchia hanya 1 hari..
Tamu mengecil hanya keluarga besar inti saja..
Makanan juga tak lagi seberlimpah biasanya..

Kemudian pergilah Papa..
Dan perubahan itu semakin menggila dan merajalela
Bukan cuma Sinchia 1 hari, tapi Sinchia setengah hari
Pagi sampai siang serasa berlubang dan hampa
Dan sore baru laksana raja yang keluar dari takhta
Menunjukkan kemegahan, kemeriahan dan keramaiannya

Tahun ini, perubahan makin mau menguasai
Maka direnggutlah malam sinchia dari kami semua
Maka sendirilah kami semua masing-masing
Entah dalam damai, ketidakpedulian, atau kehilangan
Begitu ingin aku tahu, apa rasa yang dinikmati yang lain
Apakah ada kesedihan yang sama, pilu yang sama?
Atau yang ada pendar bahagia campur tak peduli?

Semua berubah, dan aku tahu Papa ada dalam peran perubahan itu walaupun tak ada niatnya sama sekali, tentu saja
Orang seperti dia juga pasti tidak mau semua seperti ini..
Kadang bersyukur aku karena dia sudah tenang di sana
Tidak perlu merasakan gilanya perubahan ini, seakan mau membunuh semua hati dan pertalian darah ini
Untunglah dia tidak di sini dan merasakan deritanya

Maka di hari yang sama, benak kembali mengingat sesi dengan seorang konsultan
Yang mencoba menggali pribadi kami melalui tools psikologi gambar
Maka menggambarlah aku : Pohon, Rumah dan Manusia
Dan dengan tatapan prihatin, digalinya aku dalam-dalam
Bagaimana aku punya ‘sesuatu’ di masa lalu, terkait dengan orang tuaku
Bagaimana katanya aku sangat dekat dengan sosok papa, and will always be a daddy’s little girl..
Bagimana dikatakannya aku menjaga jarak dan tembok dengan sosok mama..
Maka tertegun dan membekulah aku
Karena setiap serat katanya hanya kebenaran yang terkandung di dalamnya
Serasa berhadapan dengan paranormal
Maka berteriaklah aku dalam hati, bagaimana kamu bisa tahu semua dari coretan gambar jelek yang kubuat ini?
Dan atas nama penasaran, digalilah lagi masa lalu, hubunganku dengan papa dsb,.
Untuk mendapatkan ‘puzzle’ yang hilang tentang sesuatu di masa lalu itu

Dan saat akhirnya aku mengaku, Papaku sudah tak ada, berbinarlah matanya
Seakan menemukan kepingan puzzle yang susah payah berusaha dicarinya
Dan aku tahu ada kebanggaan dalam hatinya karena dianggapnyalah berhasil dirinya
Mengorek, menggali dan menemukan sesuatu itu
Bertolak belakang dengan kesedihanku yang muncul lagi
Melongok keluar pelan-pelan dan lagi membuat linangan air mata hampir keluar
Aku tahu dia benar, 100 % benar, konsultan-luar-biasa ini..
Ada masa lalu, memang ada masa lalu..
Dan masa lalu yang pahit itu hanya bicara soal betapa aku sangat kehilangan orang yang kucintai itu
Bagaimana tragis dan jahat direnggutnya sosok itu dari hidup dan duniaku

Dia, sang konsultan, tak akan bisa mengerti
Baginya ini semua scientific, pekerjaan, profesi.. makanan sehari-hari
Sementara bagiku dan mungkin ribuan orang lain, ini masalah hidup bahkan mungkin hidup mati
Ini soal dia yang sangat dicinta yang sekarang sudah beranjak pergi
Ini bicara soal dia yang sudah tidak ada untuk diandalkan dan dipegang lagi
Ini bicara soal kasih sayang yang sudah tidak dirasakan lagi, walaupun semua orang dengan sampahnya berkata, “kasih sayangnya masih dirasakan dan disimpan dalam hati”
No, that’s all bulshit..
Ga akan ada artinya semua penghiburan itu
Papa tidak ada, titik..

Konsultan itu, sekali lagi, benar..
Memang ada suatu masa lalu yang ‘tidak beres’..
Aku akan selamanya jadi orang yang penuh problem, orang yang kehilangan kasih sayang dari sosok yang sangat dipuja itu
Dan ga akan ada seorang pun yang mengerti

Ini soal Papa..
Ini tentang dia..
Selalu, soal dia dan luar biasanya dia..

Aku sangat kehilangan, bahkan sampai detik ini
Air mata tidak pernah bisa diajak berkompromi ketika bicara tentang dia
Aku sangat rindu dia, sama seperti aku rindu keluarga besarku untuk kembali ‘dipulihkan’
Aku ingin sinchia yang dengan dia, yang ada dia, yang bersama dia
Dan keluarga besarku
Dengan canda tawa, kemeriahan dan keriuhan serta semarak yang sama
Aku rindu dia, rindu mereka, rindu kalian semua..

Gong Xi, Papa…

Tags: ,

Old Post @ Facebook, posted by 2010

Yosianaggk

Dua hari ini , mimpiku benar-benar jahat.. Entah apa salah yang kubuat..

Dua malam ini, sosok ayah tercinta muncul.. tidur nyenyak malam di malam kemarin menghapus kenangan mimpi yang pertama, tapi di mimpi yang kedua ini kupaksa setiap sel kelabu otakku untuk menanamkannya dalam-dalam begitu ku sadar sejenak dari tidurku. Dan sebelum pikiranku mengkhianatiku kurasa ada baiknya kuguratkan kenangan ini, walaupun pahit.

Aku, sebagaimana yang memang kulakukan malam sebelumnya di dunia nyata, mampir di Honeymoon Dessert, tempat minum yang notabene sama sekali bukan favorit, tapi memenuhi kriteria sebagai tempat untuk membawakan pulang bagi ibunda (yang baru saja operasi kantung empedu), minuman-minuman kesehatan seperti rumput laut dll. Dan kini mimpiku dengan sok kreatifnya mencomot sebagian realita itu dan menggodoknya di dalam skenario mimpi kedua ini.

Dalam mimpi itu aku begitu kesenangan, gembira tak tertahan, membelikan sarang burung walet mahal untuk papa dan mamaku, tidak sabar bergegas pulang membawakan mereka minuman itu dan melihat raut kegembiraan di mata mereka, serta keterkejutan karena kini anaknya bisa, mampu membayar semua benda mahal itu.

Saat itu, di moment singkat itu, dengan bengisnya mimpi mengambil alih, berhenti berjalan, mendadak, cepat, kilat.. Dan aku menemukan diriku bangkit dari sadarku dengan masih belum terjaga sepenuhnya, bergumam, “hei mengapa baru sekarang ya tercetus ide membelikan papa minuman ini?? Well ini harus dilakukan secara teratur sekarang.. ini benar-benar ide hebat yang entah kenapa tidak pernah terpikir sebelumnya..” sebelum pada saat yang bersamaan, kesadaran akan fakta itu muncul, menghembus kencang, menghantam urat nadi, pembuluh darah, merambat naik ke pikiran dengan kecepatan cahaya dan mencipratkan kesakitan dan keperihan di hati.

Papaku sudah tidak ada..

Iya,, Papaku sudah tidak ada..

Dan pikiran dan hati yang sudah kompak kesakitan, sepakat menendang keluar tetesan air mata yang tiada henti dari bola mata ini.. mereka berhak membagi kesedihan.. Dan ku hanya bisa terisak, tahu bahwa kesempatan itu tidak ada lagi.. Dan ku menjerit pedih, mencaci maki sang mimpi, yang begitu teganya memberikan harapan palsu, memberikan bunga indah yang membuai dalam kepalsuan.

Sama seperti ketika mendengarkan lagu mandarin dan menemukan kata yang tidak dapat dimengerti, sontak pikiran menenangkan dan berkata, “ah nanti tanya sama Papa..” dan seperdetik kemudian ditonjok keras oleh fakta itu, lagi dan lagi.. “Hei, papamu sudah tidak ada..” dan kembali linangan air mata berderai deras..

Ini sudah lama.. sudah hitungan tahun, tapi sungguh sosok itu begitu kuatnya menggenggam seluruh benang memori di otak, pikiran dan hati.

Dan di luar segala kepahitan dan kesakitannya, keluar pula rasa syukur untuk semua kenangan yang boleh kupunya dan kugurat selama ini dengannya, yang menjadikannya sosok nomor satu paling berharga di hidupku, yang membuatku berkata dengan pedih bahwa tidak ada kematian siapapun yang bisa merusak hatiku sedemikian parah lagi.

Selamat hidup tenang Papa..

Juli 2010
– Ananda..

Tags: , ,

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,713 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Yes, another tempat enak di bilangan Selatan lagi. This time the famous Dough Darlings came up with their (literally) kitchen . Quite surprised of their dishes taste quality on 2nd opening day. Tried Donut Burger Chicken, Nasi Kecombrang and Crispy Chicken, their Hash Brown and of course their signature donuts and all is super good 😍 . Improvement need on their time of serving (acceptable lah ya since baru 2 hari buka). They have also done serving all the food to our table but beverages was still not ready at all that time and we had to remind them . Their internal communication is also one thing. They have blasted everywhere on their social media channel of 10% discount but their waiter/cashier didn't know it . Overall will be back for sure for their food ❤ enak pisan! @kitchenbydoughdarlings . #kitchen #doughdarling #food #restaurant
Medan - best food besides Pontianak, Bali and Bandung ❤❤❤ . What we ate : . * Ondo - Babi Batak Korea. Kudu, harus, wajib. Ga sah kalo ke Medan ga ke sini * Asan Babi Grill - sama harus dan wajibnya. Gila judulnya enak banget * Chasiu Asan (or bisa juga saingannya, Afoek 88) - menurut gw biasa aja sih. Tapi emang chasiunya garing renyah parah * Soto Sinar Pagi - selalu enak sih ya menurut gw. Mantap! Prefer ini ketimbang Soto Kesawan * RM Pondok Gurih - gokil sop kepala ikannya. Yang lain I have no comment karena memang ga terlalu doyan Padang * Kwetiau Ateng - biasa aja sih menurut gw. Kami juga cobain kwetiau sejenis, PekCha dan lebih biasa lagi. So far kwetiau paling enak sih menurut gw di Penang ya (lupa namanya. Kayaknya Kwetiau Nyonya) * Mie Pangsit Akhun - lumayan enak and super murah * Bakmi TiongSim - nothing special sih ya. Malah malam itu kurang enak. Enakan Jakarta punya * Bakmi HockSeng - juga biasa aja si. Mahal doang 😘 di Jakarta juga ada * Bihun Bebek Kumango - Mantab!! Tapi kurang asin dikit * Bakpao Huang Bao di Kompleks Cemara - wajib kudu beli. Enak!!! Favorite : Obak Komplit. * Bacang Cemara (bacang mini). Selalu enak tapi ud mulai agak bosen nih * Yang lain2 ga usah disebut spesifik ya, ga terlalu spesial - Lontong Kak Lin, TipTop, Mie Balap Wahidin, Macehat, Es Campur Amo, Kopitiam Kok Tong, Ucok Durian . Sekian makanannnya. Banyak juga yang belum kesampean, misal Nasi Simangunsong. Kalo Jala-Jala or Nelayan emang ga mau cobain lagi biarpun rasanya lumayan karena saya and cici pernah gatel-gatel abis makan di situ. Kapok . Kalo objek wisata kami cuma ke Gereja Anna Maria Velangkani yang bentuknya cantik sekali, kemudian ke Rumah Tjong A Fie. . Nginepnya di Arya Duta Hotel. Tipikal hotel 'konservatif' ya. Designnya ga modern tapi lumayanlah. Lokasi juga strategis. Hotel lain yang boleh dicoba kalo ke Medan : Adimulia, Grand Aston City Hall, Cambridge and of course JW Marriott . Sekian dan terima kasih . #medan #culinary #food
#wheninjohor sempet stay 2 nights at this hotel-apartment. Not too bad sih kalau kamu butuh masak, nyuci, dll. Designnya modern, kamarnya simple. Pas masuk kamar agak sedikit bau apek sih tapi the rest is OK. No bathtub . Lokasi deket banget dari Hello Kitty Town. Jalan kaki maybe around 5 minutes. Ada shuttle juga sehari 2x ke Legoland dan Hello Kitty Town dan sebaliknya. Karena dia di kompleks gede gitu, bakal susah cari makan di sekeliling. . Facility jangan expect banyak. Ada outdoor gym, library buat anak-anak and adult (nyaman banget), and no kids club . Breakfast gabung di apartment sebelah (Fraser) dan rame banget kayak pasar. Makanan so-so. . Overall boljug tapi ga bakal balik 😉 . #pinetreemarinaresort #johor #hotel #hotelreview
Aimee and Angelina the Ballerina . #aimee #aimeelynn #hellokittytown
Hua Mui - yang swear biasa banget 😆 . #huamui #johor #hainanesechickenchop #lunch
❤❤ . #aimee #aimeelynn #lego #legoland
Hello again and again, Kitty! This time I bring one lil' girl to meet you ❤ . #hellokitty #aimee #hellokittytown
Tjong A Fie tour always reminds me of this . As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth. For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more. But the mercy of the Lord is from everlasting to everlasting upon them that fear him, and his righteousness unto children's children . To remind myself - Power and pride are not everything 🙂 do not let it take control of your life. Humility is a never ending lesson of life. Be friend with it . #tjongafie #tjongafiemansion #medan #psalm #family
❤ . #medan #family #annavelangkani #church
Let's enjoy these 2 weeks, shall we? 🥰 . #aimee #aimeelynn #holiday
Zen time 🙏 . #royaltulip #gununggeulis #bogor #staycation #hotel
Definitely the absolute winner over the hotel competition in Bogor/Puncak area. Here I'm talking about ambience, service, and interior. Facility they might not be the best, but still overall super love.. Bali is here.. . #pullman #pullmanvimalahills #hotel #staycation
My everything-partner 🥰 . #gendutgoal #couplegendutgoal #bavarianhouse #lunch #fanfanhanhan
August bday 🎂 . #family #bigfamily #bday #pondokkemangi
Don't understand why you always say I'm a caring person. It's obviously an overstatement compared to YOUR caring level. Look what you've done! It's literally more than total of the presents I've received during my 35 times birthday in my life 🤣🤣 and look how personalized, customized and thoughtful all of it. I felt so loved but on the other side so sad as I felt I didn't deserve to be treated this nice. Thanks for all your kindness. I love you gopeceng ❤ . #alfalaval #farewell #colleagues #gift
See you when I see you.. Best wishes for all of you, my kesayangan always ❤❤❤❤ . #farewell #alfalaval #iloveyousapegoceng #colleagues
Off we go! . #yogyakarta #jogja #merapi #merapilavatour #alfalaval #alfalavalouting #companyouting
Hello again, Hottie 🥰 . #borobudur #yogyakarta #alfalaval #alfalavalouting #company #borobudurtemple
What we did today to celebrate Independence Day and yes sorry we know that what we did doesn't justify any nationalism spirit whatsoever . * Potluck as usual and afternoon donut stealing with doubtful reason by @devina_reny * Taking thousand of pictures and videos everwhere in office premises and try to make every lil' corner instagramable, utilizing @ottotanton as a freelance photographer/choreographer * A bit sexual harassment by posing inappropriately in front of @adrian.tanjung whose eyes instantly popped out and fingers shaking on top of the shutter, resulting a failed picture * Ruin HR room and contaminate the holy aura inside by impolite 'raising leg' pose by @shellasoo * A total boobs-show-off pose . . Yeah we're really that fun! . #independenceday #alfalaval #colleagues #potluck
Alfa Laval Virtual World ☻ . #sandboxvr #love #lotte #alfalaval #event

Blog Stats

  • 556,718 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

September 2019
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Advertisements
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Akar Pikiran Besar Mengawali dan Mengawal Evolusi Besar

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Sastra Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain's Personal Blog

Introducing the Monster Inside My Mind

Sindy is My Name

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

amrazing007 tumblr post

Introducing the Monster Inside My Mind

The Naked Traveler

Journey Redefined

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: