Fanny Wiriaatmadja

Pediatrician : Sebuah Curhatan

Posted on: March 11, 2016

1046878-Royalty-Free-RF-Clip-Art-Illustration-Of-A-Cartoon-Pediatrician-With-A-Client

Menurut saya, simbiosis yang terjadi antara para pediatrician a.k.a. dokter anak dengan para emak quite similar dengan simbiosis yang terjadi antara para nanny dan para emak sebagai berikut :

* Keduanya secara teori dikatakan saling membutuhkan alias mutualisme, tapi pada praktiknya, sebenarnya emak-emaklah yang lebih membutuhkan mereka. Lagi-lagi fakta yang menyebalkan, yang tidak bisa dipungkiri. Ga ada tuh “cari nanny itu kayak cari pacar”.. karena menurut saya, pacar itu statusnya imbang. Keduanya berada pada posisi sejajar. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kecuali kalau salah satunya o’on alias mau aja dikontrol semena-mena bin membabi-buta sama pasangannya. Nah, kalo’ dokter atau suster, jelas atas nama anak, bahwa kitalah para emak yang lebih membutuhkan mereka ketimbang mereka membutuhkan kita. Sepihak. Titik. Dokter dan suster, tanpa para anak, rasanya masih bisa cari kerjaan lain dan hidup baik-baik saja, sementara emak-emak tanpa dokter anak atau nanny rasanya almost impossible #opinikacangan.

* Yang kedua, kalo’ ketemu dokter anak/ nanny yang cocok, hoaaa rasanya bahagia banget dan hidup tenteram. Tapi kalo’ belum nemu yang cocok, hunting berjalan terus dan nestapa rasanya karena gregetan, makan ati, dan apapun itu yang sejenisnya.

However, profesi dokter anak ini buat saya sangat keren karena :

* Ga cuma ngandalin kejagoan teknis tapi juga butuh persuasion and communication skill yang baik.

* Kedua, profesi ini berhadapan dengan makhluk (baca : bayi) yang ga bisa ngomong dan menjelaskan apa yang mereka rasa, sehingga si dokter harus menganalisa dan mendiagnosa hanya berdasarkan penjelasan dari orang tuanya mengenai gejala yang terlihat dari si bayi, yang biasanya agak subjektif, reaktif, dan meledak-ledak karena kepanikan yang melanda si orang tua sehingga diragukan kebenaran, keabsahan dan akurasinya. Kebayang kan betapa complicatednya profesi ini.

Jadi-jadi-jadi, beginilah sekilas pengalaman saya bersama para pediatrician itu :

1. Bagian Pertama

Awalnya kan dokter anak ‘ngikut’ Rumah Sakit tempat lahiran ya. Cuma gara-gara case kepala anak saya yang bengkak sebelah tanpa ada penjelasan berarti dari sang dokter, akhirnya semua orang manas-manasin untuk pindah dokter. Karena saya oke-oke aja dipanasin, jadinya ya udah kami pindah dokter, ngikutin mayoritas sepupu saya yang dokter anaknya adalah dokter LH yang praktik di RS Medistra / JWCC sana.

Suatu hari kami ke sana untuk cek kepala anak saya, sekalian untuk melakukan imunisasi. Ternyata bin ternyata, sang dokter mirip dikit sama Robert Downey (menurut saya), yang langsung disangkal mentah-mentah sama suami saya. Atas dasar kekurangsenangan suami atas pendapat saya itu, saya harus lebih berhati-hati dalam bertindak-tanduk selama mengunjungi sang dokter, karena sekali sapuan merapikan rambut saja, saya akan dituduh melakukannya ‘demi dan karena mau ketemu dokter Robert Downey’. Ah anyway, kita sudah melenceng dari topik dan kini mari kembali lagi.

Pertama pergi sih lumayan impress karena Aimee diperiksa dengan teliti, dan itu pertama kalinya saya terkagum-kagum (sekaligus deg-degan) liat dia bolak-balikkin Aimee dengan gampang dan cepet banget, udah kayak benda mati tanpa berat. Belakangan baru ngeh bahwa semua dokter anak emang jago ngebolak-balik bayi kayak gitu. Kayak lihat atraksi sirkus deh.

Singkat cerita, diagnosa sang dokter bilang bahwa kepala Aimee baik-baik saja, walaupun untuk kembali normal mungkin butuh waktu cukup lama, kurang lebih 6 bulanan (anyway ga sampe’ sebulan, kepala Aimee ternyata udah balik normal, syukurlah).

Nah, terus setelah selesai periksa, namanya juga emak dan bapak baru, nanyalah kami mengenai beberapa hal. Suami saya nanya mengenai lidah bayi yang putih – harus diapainkah? Apakah tidak apa-apa?? Dan sang dokter menjawab dengan sangat jutek, “You ga usah ikutin orang-orang jaman dulu lah!!” yang bikin kami bengong. Perasaan kami nanya pertanyaan yang cukup normal deh, kok jawabnya galak amat. Di akhir kejutekannya dokter bersabda, “Ya udah kalo’ mau yah dibersihin ajalah pake’ kain kasa dan air putih..” Okeh, kami mingkem deh..

Eh saya karena aji mumpung lagi di dokter, nanya lagi mengenai napas anak. Saya bilang napasnya Aimee kayaknya agak berat dan berbunyi. Takutnya kenapa-kenapa karena saya dan suami asma berat dan eksim. Takutnya kan faktor turunan.

Dokter LH menatap kami seakan kami gila dan berkata dengan gregetan sambil menoleh melihat ke arah lain dan menghela napas, suatu ungkapan eksplisit keputusasaan dia, “Aduh!!” katanya, mengindikasikan bahwa pertanyaan kami sangat bodoh bin tolol bin bego bin apapun itu. Jadi kami diam lagi, dalam kebingungan dan ketakutan. Setelahnya karena mungkin dia ga tega, dia menjelaskan bahwa penyebab napas bunyi ya bisa macem-macem. Alergi, faktor eksternal, dll. Ya sudahlah, penjelasannya ga terlalu menjawab pertanyaan kami, jadi kami setelahnya langsung terbirit-birit kabur keluar ruangan karena emang udah selesai periksa juga. Btw, sebenernya kan bisa yah, dia langsung jawab aja gitu pertanyaan kami, ga usah pake’ aksi membuang muka yang dramatis gitu.

Dokter LH ini, secara akademik dll. katanya memang OK. Maksudnya, dokternya pintar, diagnosanya (katanya) hampir selalu tepat. Pernah saya bawa Aimee juga karena matanya banyak kotoran mata sampe’Β kayak luka gitu,Β dokternya kasih salep dan dalam beberapa hari Aimee langsung sembuh. Eh ini sih mungkin cuma case kecil aja, jadi memang solusinya mudah pula.

Selain itu, si Dokter LHΒ periksanya cermat, ga ‘kejar tayang’ dan… dia seorang anak Tuhan. Saya pernah baca tulisannya mengenai ‘pelayanan’ di dunia kesehatan, yang membuat saya makin kagum dengan beliau. Cuma ya begitulah namanya dokter, kadang karena capek, macet, plus serbuan pertanyaan membeludak bin ga masuk akal dari para emak-emak, kadang-kadang mungkin emosinya jadi terpengaruh sehingga kamilah para pasien berikutnya yang kena dampaknya. Either kita dijutekkin, didamprat, dll., dan mereka akan berkata “Kami juga manusia” sebagai pembelaan atas ‘kejahatannya’ itu, Memang berat menjabani profesi dokter, apalagi dokter anak, tapi itu kan resiko atas pilihan hidup mereka ya.. Kalo’ ga sabar-sabar ngadepin anak (dan emaknya), mana bisa jadi dokter anak yang baik? Mending ga usah daripada ‘nyakitin’ hati banyak keluarga pasien.

Khusus buat dokter LH ini, saya sih beneran berdoa supaya dia ga jadi batu sandungan buat para pasiennya dan tetap jadi berkat, sebagaimana misinya di dunia kesehatan dengan profesinya sebagai dokter anak.

2. Bagian Kedua

Next case nya adalah waktu saya notice lagi dan lagi bahwa napas Aimee itu terasa (dan terlihat) susah banget. Memang kasihan kalo’ punya emak bapak alergi alias asma dan eksim. Bunyi napasnya bukan sekedar bunyi grok-grok biasa yang memang normal untuk para bayi baru lahir, tapi lebih ke bunyi ‘ngik, ngik..” yang menyeramkan, apalagi menjelang malam pas Aimee sudah mau tidur. Capek dan kasihan banget liat dia napas dengan susah, sampe’ nyaris bikin saya mau gotong dia ke UGD di suatu malam, saking kuatirnya #baladaemakemakbaru #masihnorak #panikkan

Akhirnya kami bawa lagi ke dokter LH di atas. Eeeeh, dapetnya nomor bontot, sementara ke RS Medistra itu macetnya lumayan nampol dan nunggu antrian si dokter pun cukup menyita waktu karena dia kan meriksa pasiennya teliti dan lama.

Jadinya kami ke dokter B dulu (lupa nama belakangnya) di Klinik Elizabeth di deket Pluit sana, dokter senior yang pendengarannya sudah menggunakan alat bantu dan jalannya agak terseok-seok tapi punya rekam jejak bagus dan kredibilitas cukup tinggi di antara para dokter anak.

Sekali periksa, dokter bilang bahwa dahaknya Aimee banyak sekali, makanya napas sesak, dan harus dikasih obat pengencer dahak. Plus katanya Aimee alergi karena badan dan mukanya banyak bintik-bintik. Alhasil, kami dikasih obat, kemudian disuruh ganti susu ke susu anti-alergi NeoCate yang harga sekalengnya 345 ribu (dan di kemudian hari kami notice bahwa setiap 5 hari, tuh susu habis.. keringlah kantong demi beliin susu ni anak). Terkait obat, saya ga mau dulu beli obatnya karena ga tega rasanya kasih obat ke bayi yang baru umur 1.5 bulan. So obat dipending dulu sementara.

3. Bagian Ketiga

Besokannya, kami kembali lagi ke dokter LH untuk second opinion, kali ini syukurlah dapat nomor antrian kedua.

Dari luar ruangan, saya udah denger dokter LH lagi ngomel-ngomel di telepon. Kayaknya sama orang tua pasien deh, hampir pasti sih emak-emak. Omelannya (dengan nada jutek yang mulai saya kenal), “Udah ya Bu, ga usah dikit-dikit kuatir, kita para dokter jadi pusing juga kalo begini.. Gimana mau kerja!”

Dan….. abis itu giliran Aimee. Saya dan suami masuk. Si dokter masih bertampang bete dan bikin saya deg-degan. Bukan karena tampang Downeynya, tapi karena kuatir dia bakalan jutek sana-sini lagi kayak biasa.. Saya pun mulai cerita dengan bahasa yang baik dan sederhana bahwa si Aimee ga bisa napas. Namun Saudara-saudara, tampaknya saya salah kata sehingga si dokter dengan muka bete malah membalas cepat, “Hah? Ga bisa napas?? Maksudnya apa??” Cepet-cepet saya perbaiki, “Eh maksudnya susah napasnya Dok.. ngik-ngik gitu..” dan dengan panjang kali lebar kali tinggi, saya ceritain kisah sesaknya Aimee, termasuk soal Aimee yang ga mau netek beberapa hari, yang saya duga dengan sok tahunya, disebabkan oleh napasnya yang sesak.

Dokter menoleh ke Aimee, terus menatap kami dengan datar, “Mana bunyi ngik-ngiknya? Saya ga denger tuh..”

Kami diam. Errr, kayaknya ada sedikit deh itu bunyi napasnya. Kok dia bisa ga denger ya? Kemarin aja dokter B langsung denger dan langsung bilang, “Wahhh banyak dahak nih anak, tuh napasnya sampe’ kayak begitu..”

Dokter berdiri, bersidekap, menunggu respons kami. Kami salah tingkah. Pipi bersemu. Sekali lagi, bukan karena tampang Downey-nya. Gatau kenapa ya pokoknya bersemu aja. Ga usah ditanya.

“Errr itu bukannya bunyi ya Dok? Daritadi di mobil juga bunyi terus napasnya,” kata saya.

“Ya itu di mobil kan? Nah sekarang buktinya ga bunyi tuh? Mana?” tantangnya.

Kami diam lagi. Bingung dan speechless. Pengen tenggelam aja rasanya. Di laut Atlantik. Pacific juga boleh.

Akhirnya dia samperin Aimee yang lagi ditidurin di ranjang, terus dia mulai periksa-periksa. Dia bilang dengan sedikit nada sinis, “Kalo’ gitu nginep aja anaknya di sini.. biar napasnya ga bunyi lagi. Wong napasnya bersih kok di sini..”

Saya coba remind dia lagi, “Tapi ni anak juga ga mau nyusu (ASI) beberapa hari ini Dok.. kayaknya dia ‘engap’ gitu napasnya..” Dokter langsung melirik catatannya di meja. “Buktinya berat badannya naik tuh..” tantangnya lagi. Kami diam lagi. Pokoknya kerjaan kami cuma diam mulu di hadapan si dokter. Kayak orang gagu-grogi-gemetar-gigil-gelisah, sementara si dokter kerjaannya nantangin mulu, kayak jagoan.

Terus singkat cerita (karena udah capek ngetiknya), dia cuma kasih kami Sterimar Baby untuk legain napas, dan cuma suruh kami bersihin tirai, kamar, dinding dll. di rumah untuk mencegah alergi. Oh ya sempet juga sih dia sedot ingusnya Aimee (ih baik juga ya ni dokter). Semoga ingusnya lezat ya Dok..

Setelah selesai pemeriksaan, intinya saya menyimpulkan bahwa si dokter berpendapat :

* Pertama, selama berat badan naik, kemudian si bayi masih mau nyusu (dari dot) dan bayi ga rewel, ya artinya si bayi baik-baik aja.

* Kedua, ga peduli si bayi terlihat sesak, napasnya bunyi parah dll., pokoknya ya si bayi baik-baik aja. Lihat point satu di atas. Titik.

* Ketiga, kami para orang tua (baca : saya) adalah makhluk paranoid yang harus berubah dan belajar menerima kedua point di atas. Titik sekali lagi. Makan tuh titik.

Udah deh. Dari situ suami saya agak bete dan nyaris ga mau ke dokter itu lagi dengan alasan si dokter tidak komunikatif dan super jutek. Kayaknya emang kaminya aja deh yang apes, ke tempat si dokter setiap kali dia lagi bete. Perasaan sepupu-sepupu yang ke Dokter LH itu muji-muji si dokter mulu. “Orangnya sabar, baik pula..” kata mereka, yang bikin saya pingin be’ol sekejap kalau melihat pengalaman indah saya bersama si dokter.

Memang bingung sih bagaimana dalam 2 hari kami ke 2 dokter yang berbeda dan mereka bisa memberikan hasil yang totally different. Yang satu langsung bilang bahwa memang ada something problem, sementara yang kedua bilang ga ada apa-apa.

Sebenernya memang sih tujuan kita para orang tua pergi ke dokter itu menurut saya :

* Kita pingin denger dokter mengiyakan ‘dugaan’ atau diagnosis kita, dan kita hendak berkata dalam hati, “tuh kan bener kekuatiran gw.. something problem dengan anak ini!”
* Kedua, kita pingin denger dokter menenangkan kita, mengeluarkan statement kontra bahwa pendapat atau dugaan kita salah, dan kita akan berkata dalam hati, “Aduh untung anak gw ga apa-apa..”

Nah di dokter LH ini, saya sih lebih dengan reason nomor satu di atas. Saya merasa something wrong with napas Aimee seperti yang kemarin juga sudah ditegaskan oleh dokter B. Dokter LH memang menyatakan sebaliknya, yaktu bahwa Aimee ga apa-apa, tapi sayangnya saat itu Ybs. sedang bad mood sehingga kami akhirnya ga merasa mendapatkan penjelasan dan ketenangan.

Ya sudah deh case closed. Kami anggap Aimee ga apa-apa, walaupun kelihatan jelas banget nih anak napasnya susah dan bunyinya serem banget. Campuran bunyi grok-grok, bunyi reak yang ga bisa dikeluarin, dan bunyi ngik-ngik khas orang asma. Sepaket semua dalam napasnya, lengkap.

4. Bagian Keempat

Beberapa hari kemudian, namanya juga emak-emak baru, ngeliat anaknya masih begitu aja tanpa ada perkembangan, akhirnya saya bawa lagi Aimee ke dokter ketiga, dokter RH di RS Satyanegara Sunter. Pas dateng, Aimee lagi jamnya minum susu, dan sayangnya jamnya bertepatan dengan jam kami dipanggil masuk ke ruangan dokter. Padahal termos sudah dikeluarin, ready untuk bikin susu.

Ya udah kami masuk ke ruangan dokter dulu, dan si monster kecil mulai nangis meraung-raung, mostly saya yakin karena dia emang lapar dan mau nyusu.

Terus saya ceritain tentang napas Aimee ke sang dokter, dan dengan sangat cepat, dokter berkata, “Memang bayi itu suka kolik. Kalau kolik, ya dia akan nangis meraung-raung seperti ini…” dan Ybs. menjelaskan panjang lebar tentang kolik termasuk ngajarin cara pijat bayi. Saya setengah mendengarkan sambil bengong total, karena rasanya keluhan saya soal napas deh, bukan perut. Kalo’ kolik, saya ngerti, it happens sometimes ke bayi-bayi, tapi raungan Aimee hari itu lebih ke arah dia mau nyusu, I was quite sure. Lagian kok ga nyambung banget ya, orang lagi ngomongin napas, eh tau-tau dokter bahas Kolik dengan serunya. Berasa pingin koprol di tempat jadinya saking gregetannya.

Terakhir kami malah dikasih semacam suplemen untuk mengatasi atau mencegah kolik. Semacam probiotik. Pas saya tanya lagi mengenai napas Aimee, dokternya tersenyum, “Ga apa-apa kok..” DUENG.. kami pun tambah pusing tujuh keliling, Perasaan dokternya ga meriksa sama sekali deh, cuma langsung ngomongin kolik based on tangisan Aimee tadi. Sayang Aimee lagi nangis kejer, sehingga napas bunyinya itu ga kedengeran dan ga bisa saya tunjukkin ke dokter.

5. Bagian Kelima

Ya udah akhirnya kami balik ke dokter B yang pertama kali kami datangin itu untuk ambil obat dia karena udah gatau harus gimana. Setelah konsultasi sama kakak ipar saya yang dokter kandungan, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan obat tersebut untuk Aimee karena sepertinya obatnya quite safe. Selama 3 minggu kami kasih Aimee obat-obatan itu (bukan antibiotik) dan ga ada perkembangan berarti sehingga akhirnya saya pasrah dan stop-in semua obat itu karena ga tega lihat anak sekecil itu dicekokin sekian banyak obat dalam periode waktu cukup lama.

Jadi intinya pergi ke tiga dokter berbeda, semuanya berbeda, semuanya sia-sia. Hi-hi-hi.. *ketawamelengkingtandafrustrasi

Nah fenomena ‘shopping’ dokter semacam ini saya rasa common banget dan hampir pasti terjadi di semua ibu-ibu pas anaknya sakit dan kita tidak merasa mendapatkan jawaban yang kita mau (seperti yang saya tulis di atas), either jawaban yang membenarkan kekuatiran kita atau jawaban yang menenangkan hati kita.

In this case, akhirnya saya gave up and stop hunting dokter. Sambil setiap kali tersiksa ngeliatin napas Aimee, saya coba pantau terus perkembangan dia. Sekarang sih sepertinya dia agak mendingan (atau karena kaminya udah terbiasa dengan bunyi-bunyian dan kondisi dia ya? No clue). Plan saya sih, liat perkembangan Aimee sampai beberapa bulan ke depan. Semoga napasnya bisa membaik dan memang sayanya aja yang paranoid. Pingin banget bisa gantiin posisi dia, supaya dia ga perlu kesusahan kalo’ napas bak orang asma gitu.

Saya juga udah capek diomelin dan dinasihatin orang sana-sini, “Ga usah cari dokter lagi deh.. dokter a, b, c pasti beda semua..”, “jangan paranoid”, dan segala macam nasihat lainnya. I understand sih their point. Cuma susah ya, karena mereka gak ngalamin langsung ngeliat anak bayi 1,5 bulan napasnya definitely terlihat sesak dan dahaknya banyak. Memang susah jadi emak-emak. Being a wise one yang bisa tetap rasional dan tenang while seeing your baby suffer itu rasanya susah banget. Being a patient one yang bisa terima dengan humble semua judgment orang yang mempertanyakan keputusan kita untuk pergi ke dokter a, b, c, itu juga sama susahnya. Kadang memang silence itu solusi terbaik.

Udah deh sekian curhatan mengenai para dokter anak. Sampai sekarang saya masih ke dokter LH kalau untuk sekedar imunisasi. Anggap aja demi melihat tampang Robert Downey-nya. Dan, dan, dan, semoga, semoga, semoga, my sweet Aimee napasnya baik-baik saja ke depannya. My plan is to strictly monitor keadaan dia. Udah punya 2 nama dokter sih untuk dipergiin ke depannya, yang sepertinya lebih cocok untuk case-nya Aimee, yakni dokter alergi dari Klinik Sehat dan dokter anak sub spesialis pernapasan di Jatinegara. Juga, kalo’ napas Aimee udah mendingan, kami rencana ganti susu lagi – sehingga ga perlu tekor pake’ susu mahal yang bikin jutaan melayang tiap bulannya.

Happy friday! *buatparadokteranak

 

4 Responses to "Pediatrician : Sebuah Curhatan"

Fanny, kl divideoin aj Aimee nya pas lg napasnya susah, trs ksh ke dr LH itu memungkinkan ga? biar tuh dr jutek percayaπŸ˜€

semoga Aimee sehat2 ya

Iya ud sempet divideoin tapi suaranya ga gitu jelas, ud coba berkali2.. nanti2 coba lg d :p thank you Auntie Ikaaaaa.. muah..

wow panjang juga, bookmark dulu deh hikz >_<

Haha iya tumpahan hati yg terpendam.. jd banyak bgt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,696 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

<<emosi>> Last nite dinner di Kopitiam, GI

#langsunghilangseleramakan
#kwetiau
#pucatpasi
#polosbanget
#dikitbanget
#4suaphabis
#emosi
#seginiplusteh70ribu 
#enakkankwetiaunyokapgw
#waiternyajelalatanlagi πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘ 1 (foto) lagi dari Mayora.. #aimee #birthday #1yearold #perayaanbatchkedua #celebration #remboelan #plazasenayan #inlawfamily #ayeamakukuyeye Libby and Jamie card for Aimee 😁

#birthdaycard #birthday #aimee #kids #handmadecard #cousin #nephew #niece Libby's card for Aimee 😁

#kids #birthdaycard #cousin #niece #birthday #aimee #handmadecard It's almost Christmas, the most wonderful time of the year!! Last year I didn't enjoy all this season beauty as I'm stucked at thome post-birth. But now?? Yeay!! Mall to mall, get ready!

#christmas #decoration #themostwonderfultimeoftheyear #christmastree One of my favorite place. Tasty food, wide range of variety, reasonable price, beautiful and comfy atmosphere

#remboelan #restaurant #indonesianfood Masih edisi ultah πŸŽ‚

Headband by @bearbeecollection 
Dress by @galerieslafayette

#aimee #birthday #1yearold #white #baby #instababy #remboelan #plazasenayan #asyikdengansendokdansegalamacam Family is number one blessing

#aimee #birthday #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #keluargapala #remboelan #plazasenayan #whitebluedresscode ❀πŸ‘ͺ❀ 3 of us

#aimee #birthday #lunch #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan Teeth and tongue πŸ˜—

#aimee #baby #laugh #birthday #1yearold #lunch #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan πŸ“· : @lieta73 πŸ˜€ Aimee mukanya kok penuh cela gitu si?

#aimee #baby #family #birthday #1yearold Aimee 2nd cake 🍰

A cake πŸŽ‚ by @ivenoven, a birthday cake I always want since errr.. forever?? #aimee #birthday #baby #1yearold #cake #ivenoven #winniethepooh #vanillanutella #vanilla #nutella Aimee 1st cake πŸŽ‚ πŸŽ‚ @colettelola

#masihedisiulangtahun #aimee #birthday #1yearold #baby #cake #coletteandlola #chocolate Happy Birthday Aimee πŸŽ‚

#masihedisiulangtahun #aimee #birthday #1yearold #baby #changthien #keluargakaret #perayaanbatchpertama #greendresscode Happy birthday sweetheart πŸ˜€

Even the power of words (whom I trust the whole of my life) can't describe how I feel for this 1 year journey. 
It's a mixed of rollercoaster jaw-dropping, calming and peaceful feeling from rain and soil smell, soap opera laugh and tears, and so on.. Oh, and one thing for sure I know now what is heavy backpain and sleepless night, lol.. Mommy and Daddy woof you berry berry munch, sweet lil' monster.. Thank you for making me a better person, someone I never knew I could be.. ❀πŸ‘ͺ #aimee #birthday #1yearold #baby #perayaanbatchpertama #chsngthien #bihunikanpalingenaksedunia #celebration #dinner #family Impatience has its cost 😐

#pablo #pablonyalongsor #cheesetart #japan #matcha #greentea #gandariacity #gancit #gojek #terimakasihabanggojekyangrelaantri #maugamaukasihtipsgede

@pablo_cheese_tart_indonesia Enjoying 30 % discount of Crispy Beef Steak πŸ„πŸ΄πŸ½ #fillbellies #gajahmada #crispybeefsteak #steak #food #dinner #western @fillbellies Anak kepo part 2

#aimee #baby #mainanembercuciankotor #emaknyaudahkehabisanide #udahhabisenergi #parenthood Anak kepo πŸ˜‚

#aimee #koper #luggage #tatah #jalan #kepo #kiddy -> lg addicted main ini 😎

#designhome #game #playstore #interior #design

Blog Stats

  • 405,266 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

March 2016
M T W T F S S
« Feb   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

tuliskan yang tak mampu terucap

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: