Fanny Wiriaatmadja

Archive for the ‘Fiction’ Category

Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

 

Petang diselingi rintik gerimis seperti hari-hari sebelumnya. Kususuri jalan setapak cepat-cepat, dengan tangan mencoba menutupi kepala, menuju arah rumah kost tempatku tinggal. Sekian detik kemudian, lelaki tua itu lewat lagi. Lelaki tua yang sama, bersepeda dengan rute yang sama. Yang lebih penting, selalu, selalu, dan selalu bersepeda dalam gerimis. Kadang siang, kadang petang. Tinggal beberapa minggu di kota kecil ini rupanya membuatku menyadari sejumlah hal, dan lelaki inilah yang teraneh sejauh ini. Lusuh pakaiannya, sepeda tuanya, tatap matanya yang kosong, ringkih badannya yang bak tulang terbalut kulit, semuanya menimbulkan perasaan iba mendalam.

Tahu-tahu si lelaki memperlambat sepedanya, menepi di seberang. Kuperlambat jua langkahku, dan setelah memutuskan dengan cepat, kuseberangi jalan menghampirinya. Sebagai pendatang, tak ada salahnya menambah teman, bukan?

Ia duduk di trotoar, menengadah menatap langit dengan mata terpejam, seolah menikmati gerimis. Tampaknya tak ada seorang pun kecuali aku yang mempedulikannya, seolah lelaki pecinta gerimis itu adalah pemandangan hari-hari yang biasa. Kausnya kotor penuh noda gelap; noda sama yang tertoreh di sepeda tua yang diparkir di sampingnya. Ah, juga di tumpukan koran di keranjang sepeda itu. Aku makin prihatin akan keadaannya.

Duduklah aku di sampingnya, berdiam sekian detik sebelum dengan sedikit ragu menyapanya, takut mengganggunya. Untunglah tampaknya dia tidak menganggapku sebagai gangguan, karena ia kemudian menoleh dan tersenyum lemah, menanggapiku. Pembicaraan sederhana soal keluarga dan kegiatan sehari-hari pun dimulai. Kuceritakan segalanya tentang diriku. Dia hanya diam, tapi kutahu dia mendengarkan. Gerimis masih terus meluncur lancar, menolak usai.

Saat akhirnya mulutku sanggup diam dan tibalah gilirannya bercerita, sebersit pedih tersirat jelas di parasnya.

“Aku sendiri saja di sini,” gumamnya. Ada hela napas panjang kemudian. Aku menunggu dengan sabar..

“Istri dan anakku sudah tiada,” lanjutnya. Diam lagi, jeda panjang. Aku menduga-duga kelanjutannya.

“Tahu kerusuhan massal beberapa tahun lalu?” katanya pelan. Aku sontak bergidik, teringat sejarah kelam kota itu, yang sudah kudengar sejak awal kepindahanku. Pertengkaran antar suku yang kemudian berlanjut dengan aksi pembantaian di suatu malam. Berdarah. Biadab. Perikemanusiaan luruh habis.

“Apakah..” lanjutku, tak sanggup meneruskan.

Dia mengangguk. “Ya, istri dan anakku jadi korban. Hari itu, aku pulang mengayuh sepedaku sekuat tenaga, secepat yang kubisa, kembali ke rumahku usai mengantar sebagian koran ke rumah-rumah. Kudengar jelas orang riuh ramai sepanjang jalan, ribut mengabarkan peristiwa itu. Gerimis turun, nyaris membentuk hujan. Setengah jam kupicu pedal, otot betisku mati rasa, telapakku serasa kaku, dan tibalah aku di sana. Di depan mataku semua terjadi. Golok melayang, bacok-membacok. Istri dan anakku sudah terkapar, berdarah di tengah tumpukan mayat lain. Kulihat orang-orang itu masih beraksi, brutal dengan segala teriakan dan jeritan.. Tubuhku membeku..”

Aku mendengarkan. Bulu kudukku bangkit, merinding.

“Mendadak seseorang seolah menyadari kehadiranku. Matanya nyalang. Dia berlari kencang dengan parang di tangan kirinya, tepat menuju tempatku berdiri. Tak sempat berbuat apa-apa aku, kakiku terpasok di tanah tak mampu bergerak, di sisi sepedaku. Dan..“

Tengah tertegun mendengarkan, tahu-tahu sebuah tepukan mendarat di pundakku. Aku menoleh kaget, mendengar seseorang di belakangku berkata dengan nada aneh, “Hei, apa kau baik-baik saja? Dengan siapa kau berbicara sedari tadi??”

Aku tertegun, bingung tak mengerti. Sayup-sayup masih kudengar suara si lelaki berbicara di sampingku, “…parang itu pun menyabet leherku. Yang kuingat, aku hanya bisa melihat percikan darah, sepedaku merah, koranku merah.. Segalanya gelap. Nyawaku putus dalam hitungan detik..“

 

Dibuat untuk tantangan Prompt #65 Monday Flash Fiction

Advertisements
Tags:

Malam pekatnya bukan main. Hitamnya legam. Bulan, awan, dan segala pernak-pernik langit seperti tertelan oleh kelamnya.

Dia melangkah perlahan, dengan bantuan cahaya dari senter besar yang sudah dipersiapkannya. Cangkul yang sudah berkarat ada di tangan kanannya. Kakinya menginjak rerumputan yang basah, kemungkinan gegara hujan lebat di petang harinya. Pula dia bisa merasakan tanah lengket campur lumpur mendekap hangat sepatu-tua-semata-kakinya, tapi dia tidak punya waktu untuk memusingkan hal itu. Ada hal lain yang bertakhta di benaknya saat ini, menduduki peringkat pertama dalam prioritas hal yang perlu dikerjakannya.

Matanya menjelajah ke segala arah, mencoba bersahabat dengan gelap yang mencengkeram. Hutan sunyi. Sangat senyap. Hanya langkah kakinya yang terdengar, diimbuhi beberapa suara yang terkesan familiar. Burung atau suatu binatang malam, dia menduga. Lautan pohon pinus nan tinggi menjulang seolah menenggelamkannya. Semoga dia melangkah ke arah yang benar.

Kira-kira dua puluh menit dia melangkah dan meraba, sampai dia menemukan siluet benda itu. Terkapar rapi di tanah, masih dengan formasi yang sama seperti kemarin dibentuknya. Akhirnya dia menemukan ranting-ranting kayu yang tertumpuk itu.. Terkesan berantakan, tapi hanya dia seorang yang mengenali pola susunannya. Inilah tempatnya.. Dia tersenyum. Dewi Fortuna masih di sisinya

Lekas dia meletakkan senternya di tanah, berjongkok dan menyingkirkan semua ranting di tanah. Dia mulai menggali dengan sekopnya. Peluh muncul di pelipisnya, meluncur lancar ke belakang kepalanya, kemudian ke leher dan punggungnya. Bajunya mulai basah, melekat ketat di tubuhnya. Dia terus menggali, cepat.

Akhirnya tanah yang tersebar ke sekeliling mulai memperlihatkan isinya. Sesosok tubuh wanita, penuh bercak darah yang sudah membeku, teronggok dengan rambut acak menutupi wajah. Dia raih tangan kaku wanita itu, mengeceknya dengan cepat. Ah, itu dia! Cantik, sangat cantik.. Cincin berlian yang terlupakan olehnya di tengah panik yang menyerang beberapa hari lalu, saat menghabisi dan melucuti harta benda korbannya itu.

Dengan susah payah, dikeluarkannya cincin itu dari jari manis wanita itu. Hatinya hangat, terbayang wajah pias anaknya yang terbaring di Rumah Sakit.

Cerita ini dibuat untuk memenuhi tantangan Prompt #64 Monday Flash Fiction.

Pintu terbuka dengan riuh, majikanku datang dengan gegap-gempita, menggendong seekor kucing baru yang sudah lama diserukannya tanpa bosan pada kami semua seminggu ini. Oooh, rupanya inilah kucing baru yang sudah populer sebelum waktunya ini. Hmmm, baru kulihat rupanya kini. Bulunya cokelat dengan totol-totol putih tidak teratur yang (katanya) membuatnya semakin lucu. Ekornya panjang, menjulang angkuh. Tatapannya menusuk, seperti tatapan kucing pada umumnya. Intinya, maaf ya, menurut pandanganku, rupanya amatlah sangat mengerikan, kalau tidak bisa dibilang jelek sempurna! Kucing mahal yang katanya bersertifikasi ini tampak sama saja dengan kucing jalanan pada umumnya, menurut pendapat rendah hatiku. Ah, dari dulu aku memang bukan penggemar kucing. Orang tuaku, kakek-nenekku pun semua bisa dibilang pembenci kucing. Jangan-jangan nenek moyangku pun demikian!

“Mbak Ijah, jangan lupa ya, si Bingo harus diberi makan tiga kali sehari! Makanan kucingnya kusimpan di lemari pojok dapur itu. Jangan lupa susunya juga, kutaruh di tempat yang sama..” Kudengarkan majikanku mewanti-wanti. Hmmm, sepertinya tedengar sangat merepotkan. Makhluk manja!

Kemudian telepon berdering, majikanku mengangkatnya segera, sambil melepaskan dengan lembut makhluk yang ternyata diberi nama Bingo itu ke lantai. Hmh, apa bagusnya nama itu, aku nyaris mendengus. Mondar-mandir aku sambil sedikit-sedikit meliriknya. Hiiih, dari segala arah tetap tidak ada sisi menariknya, makhluk ini! Aku heran, apa yang majikanku lihat darinya.

Si Bingo sendiri nampaknya masih berusaha menyesuaikan diri dengan tempat baru. Ia duduk diam mengeong-ngeong tidak merdu sambil menatap sekeliling dengan rupa bingung. Kehadiranku seperti tidak disadarinya, padahal aku sudah lama berseliweran sambil meliriknya berkali-kali dengan pandangan antipati. Terakhir ia sibuk memperhatikan lantai sambil sesekali menjilati tangannya. Dasar kucing! Kubayangkan nanti pojok-pojok rumah penuh dengan bulu buruk rupanya yang rontok di mana-mana.

Tahu-tahu, kusadari si Bingo terdiam membeku dengan kepala tegak. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Agak terkejut aku, tahu-tahu ditatapnya seperti itu. Tampaknya dia sadar akan keberadaanku yang sedari tadi mengumpat-umpat dalam hati kehadirannya yang jelas tak kuharapkan.

Perlahan namun pasti, ia berjalan mendekatiku. Aku mengenyit. Apa maunya makhluk ini? Mau minta makanan? Mau mencoba mengakrabiku? Mau berupaya bermanis-manis denganku? Mau sok akrab? Huh, jangan coba macam-macam, kuhajar kau nanti, kalau majikanku tidak melihat ke sini.

Ia makin mendekat, Kubalas menatapnya dengan garang. Dipikirnya aku takut?? Kubelalakkan mataku yang bisa dibilang sudah melotot. Mulutku komat-kamit, membuka dan menutup, mendesis-desis penuh makian. Kalau saja aku bisa menendangnya. Atau paling tidak, memuntir buntutnya yang melengkung menjijikkan itu. Atau mungkin..

“Bingo!!! Apa yang kau lakukan!!! Menjauh dari Nimo!!! Mbak Ijah!! Tolong usir Bingo!!” Terdengar seruan panik majikanku, dengan telepon masih menempel di telinganya.

Mbak Ijah tergopoh-gopoh datang dari dapur, mengusir Bingo dari dekatku. Bingo mengeong tajam sambil menyingkir cepat.

Kugerak-gerakkan siripku dengan bengis, berusaha tetap terlihat gagah. Kutatap dia dengan geram dari balik akuariumku, memperlihatkan bahwa aku tidaklah takut. Permusuhan tampaknya sudah resmi kini antara aku dan Bingo!!

 

Dibuat untuk mengikuti tantangan Prompt #63 Monday Flash Fiction.

Awalnya, mulut manis kami masih bisa melontarkan sekian banyak alasan untuk meredam pertanyaan orang, walau waktu demi waktu, kreativitas makin tergilas. Akhirnya kami hanya bisa menghindar dari orang banyak, memupuskan pertanyaan yang semakin menggila dengan tatap curiga dari mereka yang berbaik hati untuk prihatin pada semua memar, lebam dan luka di wajah kami.

Kami memang sasaran paling empuk dari seorang ayah pemabuk yang depresi dengan pahitnya kehidupan dan menganggap kami bertiga sebagai beban belaka.

Hanya kentalnya persaudaraan yang sanggup membuat kami mencoba bertahan. Saling menguatkan satu sama lain dan berujar kata-kata penghiburan, itu senjata kami.

Akhirnya suatu hari kami menyerah. Setelah memutuskan dengan separuh ragu, kami tiga saudara kembar kabur ke stasiun. Diam-diam tentunya, dengan tiket tersimpan aman di saku. Gemetar dan gentar luar biasa kami meninggalkan rumah dan sosok tukang pukul itu. Kabur, itulah pilihan terakhir kami, tiada yang tersisa. Apakah kami akan dicari dan diketemukan? Entahlah..

Sebersit puas hadir dalam diri kami saat ingatan melayang sejenak pada sosok yang terbujur kaku di gudang rumah, yang kami tinggalkan teronggok begitu saja dengan puluhan tusukan di tubuh rentanya.

 

Diikutsertakan dalam Monday Flash Fiction Prompt #62

 

Kecantikan si Kembar Tiga bukan main sohornya, dengan rambut panjang tergerai dan trademark gaun putih. Suatu malam terjadi kecelakaan. Mereka bertiga tewas tertabrak, jua terlindas truk yang pengendaranya melarikan diri. Tragis dan mengejutkan. Seluruh penduduk desa berduka sangat.

Sejak itu santer kabar bahwa hantu mereka bertiga yang tidak tenang itu masih terus menggentayangi seluruh pelosok desa, mencari sang pembunuh. Orang-orang dibuat ketakutan. Saat tiada cahaya jadi momok mengerikan, walaupun belum ada seorang pun yang mengaku didatangi si hantu si Kembar Tiga.

Suatu malam, Jum’at Kliwon, seorang hansip lari terbirit-birit sambil jejeritan sepanjang jalan, nyaris terkencing-kencing. Katanya melihat dengan mata kepala sendiri, tiga sosok berbaju putih dan berambut panjang nampak di tengah kabut asap di pendopo kosong di sudut desa. Si Kembar Tigakah??

Sementara itu, tak jauh di sana, tiga pemuda berambut gondrong dengan kaus putih Slank, band favorit mereka, memasang telinga sambil saling bertanya satu sama lain,  “Ada suara jeritan histeris gitu ya??” Yang lain mengangkat bahu, lanjut bermain gitar sambil mengepulkan asap rokok.

 

*Dibuat untuk mengikuti tantangan Prompt #62 Monday Flash Fiction

 

Gambar sesuai arahan Prompt #61 Monday Flash Fiction

Tyas tertegun menatap layar notebook-nya. Inbox email-nya terpampang di situ, memperlihatkan email terakhir dari Radit. Diperhatikannya lekat-lekat tanggal email itu.

Tyas mengerjap, menghitung-hitung dalam hatinya. Sudah berminggu-minggu dia tidak menerima balasan dari lelaki itu. Email terakhir pun tidak menyiratkan kerinduan seperti biasa. Tiada tertumpah rasa kangen yang biasa selalu diumbar. Hanya beberapa kalimat yang menceritakan sekilas kehidupan Radit sehari-hari. Sesuatu yang bagi Tyas memang menarik untuk didengar, tapi tetap tidak mengalahkan ungkapan sayang yang selalu jadi trademark mereka.

Ah, dia mendesah. Hatinya sedikit pedih. Berbagai skenario mampir cepat dalam benaknya, menoreh sedikit racun. Apa terjadi sesuatu pada Radit? Sakit? Kecelakaan? Atau.. jangan-jangan.. ada seseorang? Kekasih? Pacar? Wanita? Atau sejenisnya? Bagian yang terakhir itu menohoknya begitu dalam. Dikutuknya ribuan kilometer jarak yang membentang memisahkan mereka. Dimakinya keadaan dan situasi yang enggan berkompromi. Disumpahserapahinya negeri tempat tinggal Radit sekarang, yang dianggapnya mencuri pria itu darinya.

Ingatannya lantas melayang ke saat beberapa hari sebelum Radit berangkat. Ritual mereka sebelum diluluhlantakkan perpisahan : Nonton bioskop bersama, makan di restoran seafood kegemaran mereka, bahkan berlibur ke Lombok, pulau favorit Radit. Penuh canda-tawa dan kemesraan, seolah mereka tahu bahwa perpisahan yang sudah di ambang mata tidak berhak merusak kebahagian mereka di sisa waktu yang masih ada.

Kemudian, pelukan itu, pelukan hangat nan erat terakhir sebelum melepas Radit. Air mata dan isak yang membanjir, saat melihat lelaki gagah dengan pundak bidang itu. Tangisan yang berusaha diredamnya karena seolah memfinalkan perpisahan mereka, tapi sungguh di luar dayanya. Dan setelahnya, kehidupan yang sepi tanpa Radit. Apartemen yang sunyi dan tanpa tanda kehidupan, hampir di sepanjang hari.

Dengan lunglai ditutupnya layar email, tepat ketika suaminya masuk, mengamati istrinya itu dengan tatapan prihatin. Cepat Tyas mengubah air mukanya, berusaha menampilkan wajah ceria.

Suaminya geleng-geleng kepala. Diperhatikannya sosok istrinya, wajah cantiknya yang tidak pudar dimakan jaman. Binar matanya yang hilang sejak beberapa bulan terakhir ini, dan kesedihan yang selalu bersarang di paras ayunya.

“Ma,” katanya pelan, antara geli dan sebal, “baru juga tiga hari anak kita tidak kirim email, kamu sudah blingsatan setengah mati..”

Tyas cemberut, ditonjoknya pelan lengan suaminya.

 

* Dibuat untuk memenuhi tantangan Prompt #61 dari Monday Flash Fiction.

impoguemahone.wordpress.com-

impoguemahone.wordpress.com-

Detik ini, malam ini, dia berharap rambutnya tak terpangkas habis
Pasti nikmat merasakan angin membelai rambutnya,
Menguraikan helai demi helainya atau bahkan menamparkannya lembut ke wajah
Merasakan interaksi langsung dirinya dengan alam

Detik ini, malam ini, rasanya dia bisa menghabiskan jutaan waktunya
Berdiam di sini, menikmati gelap gulita pemandangan laut di depannya
Megah dunia yang membuatnya merasa begitu kerdil sebagai sesosok makhluk yang kebetulan hidup
Hingar-bingar tekanan hidup yang menguar sekejap dalam kedamaian yang disuguhkan alam

Detik ini, malam ini, semua inderanya berkata mereka puas dan bahagia
Bau asin yang dikecap, sajian gelombang yang melebur, menggoda daratan berkali-kali dengan datang dan pergi
Deraan ombak yang datang saling berpelukan satu sama lain dalam irama yang menentu
Plus latar malam kelam tanpa bintang yang menyedot mata

Dia ingin melebur dengan laut
Menjadi saksi jutaan kapal yang berjuang melawan dan menaklukan geloranya
Merasakan dirinya yang dahsyat dan perkasa
Bukan seonggok daging dengan segala keterbatasan
Berpadu sekaligus berlomba dengan angin, bersahabat dengan badai

Atau bolehkan menjadi pasir?
Halus atau kasar tak masalah, pasang surut dilanda air yang datang
Sekejap ada, kemudian berangkat, atau kembali lagi
Tak usah berkehendak atau berencana
Hanya membiarkan diri dibawa sebebasnya
Bebas tanpa beban

Menjadi langit malam juga baik adanya
Menjadi batas antara yang di dalam bumi dan di luar sana
Juga merasakan batas antara tenggelam-timbulnya nadi kehidupan manusia
Merasakan ketenangan dan mahaluasnya dunia
Tanpa batas.. Tanpa halangan..

“Nyonya, sudah larut jam 12 malam.. mari kembali ke rumah, angin semakin kencang,“ pelayannya muncul di belakangnya, gegas mendorong balik kursi rodanya.
Dia mendesah. Begitu cepat waktu melintas. Ajalnya mendekat 1 hari lagi.

Tags: ,

 doorman-vector-642713

Pintu terbuka otomatis dan serombongan orang melangkah masuk, riuh ramai dalam pembicaraan mereka.

Aku tersenyum menyambut mereka.
Ada keluarga, ada pasangan, ada teman..
Anak-anak berceloteh riang, semuanya dalam Bahasa Inggris.
Ayah dan ibunya menatap dan merangkul mereka
Semburat geli tapi bangga muncul di wajah sumringah mereka.
Pasangan itu – saling berpelukan, hangat dan berbincang seru
Tatap mereka merepresentasikan bahagia
Teman yang saling cekikikan, menepuk punggung dan saling menggelitik pinggang

Pemandangan yang serupa setiap saat

Inilah nuansa keseharianku
Kurang dari satu menit kebersamaanku dengan mereka,
Tapi selalu sanggup menghadirkan bayangan istri dan anakku yang menanti di rumah
Celoteh memelas anak perempuanku, “Ayah, kapan kita bisa beli mainan yang aku mau?”
Atau tatap teduh istriku yang selalu menyembunyikan kekuatirannya
Sarat pikiran akan terbatasnya keuangan keluarga, atau ayah ibunya yang sakit keras.
Belum lagi ayahku yang separuh lumpuh dan hanya bisa berbaring di dipan kecil di pojok rumah

TING!
Bunyi itu menyadarkanku kembali dari bayanganku.
Pintu terbuka lebar.
Cepat dan sigap, kupersilahkan mereka keluar, tak lupa kuulas senyum lebar.
“Silahkan Bapak, Ibu, sudah sampai di lantai 5..”

Mereka keluar, masih dengan nuansa kegembiraan yang sama.

Rombongan berikut masuk lagi. Ah, lagi-lagi sekeluarga besar lengkap dengan opa dan oma yang digiring anak-cucu mereka.
Aku terbang lagi ke dunia keluargaku yang menunggu setia di rumah.
Rindu sangat..

Tags:

VanGogh_Depression

Namanya panjang, hasil kolaborasi ayah yang menggilai bola dan ibu yang sangat feminis. Dia bahkan sedikit malu akan namanya. Sebut saja dia Kenzo untuk mudahnya.

Kenzo lupa seperti apa asal-muasal semuanya ini, tapi yang pasti kematian orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis di usia remajanya seakan membuka lebar matanya akan sosok makhluk bernama maut, membuatnya berpikir, menimbang-nimbang dalam tahunan hidupnya, bagaimana dia harus menyikapi dan memperlakukan seorang maut. Sebagai temankah atau sebagai musuh. Sebagai sesuatu yang harus dihindari, ditakuti, atau disambut dengan tangan terbuka dan senyum terkembang lebar.

Rasanya dihitung-hitung dalam perjalanan hidupnya, pikirannya lebih banyak terserap untuk tetek-bengek kematian ini, dan dia masih belum bisa memutuskan dengan mantap, seperti apa dan bagaimanakah seorang maut itu, dan apakah dirinya sendiri aliran pendukung atau oposisi. Tapi paralel dengan itu, yang dia lakukan sebenarnya jelas menunjukkan bahwa dia cenderung menghindar dan menakuti sosok kematian.

Sedikit demi sedikit dia mulai memikirkan cara untuk menghindari peristiwa yang sama dengan orang tuanya. Dia berharap kematian datang dengan bersahabat, tidak dengan cara non-manusiawi atau cara yang biadab. Kenzo tidak keberatan kematian datang menjemputnya tanpa ijin sepanjang itu lewat sapaan sewaktu ia tidur atau apapun yang lebih lembut.

Lalu dia mulai membuat daftar penyebab kematian yang mungkin terjadi dalam hidup, dengan membaca banyak surat kabar dan berita, berusaha mendapat sebanyak mungkin ide datangnya kematian dan memikirkan ribuan cara untuk meminimalisir potensi terjadinya. Awalnya sederhana, dia berlatih menahan napas secara teratur setiap harinya, untuk mengantisipasi bila suatu saat dia (harus) tenggelam. Dia belajar membuat simpul, mempelajari cara bertahan hidup dari berbagai sumber bacaan. Dia belajar berenang, walaupun air mungkin makhluk kedua yang paling dia benci setelah maut. Dia berolahraga dengan teratur untuk menjaga staminanya dan menghindari semaksimal mungkin berpergian dengan pesawat atau kendaraan bila tidak diperlukan. Dia membaca persentase tingkat kecelakaan berbagai kendaraan publik untuk menentukan mana yang paling aman. Dia menilik berbagai topik mengenai penanganan pertama untuk berbagai keadaan darurat seperti serangan jantung atau stroke. Nomor-nomor darurat seperti ambulance atau polisi sudah dihafalnya luar kepala.

Kemudian dia mulai semakin serius dan belajar statistik; mengkombinasikannya dengan persentase aktivitasnya sepanjang hari untuk melihat probabilitas angka kematian yang mungkin terjadi dalam kesehariannya. Berapa persen yang dihabiskannya di dapur – dengan potensi kompor meledak, potensi luka bakar yang tak tertangani dengan baik atau semacamnya; berapa persen dihabiskannya dalam tidur sehingga berpotensi meminimalisir kesadaran dan kewaspadaannya akan hal-hal yang mungkin terjadi (pencuri? Kebakaran? Korslet listrik?), dan lain sebagainya; semuanya didatanya dan dia membuat semacam daftar solusi untuk mengatasi semua potensi kematian yang ada. Dia mengurangi waktunya sedikit demi sedikit di tempat-tempat yang beresiko membunuhnya. Berada dalam keadaan aman selalu lebih baik, bukan begitu?

Dia mempelajari tentang kesehatan, pola hidup dan cara berpikir manusia. Cara menangani stress dan tekanan hidup, semua diadopsinya. Dia tahu ketakutan akan kematian juga bisa membunuhnya perlahan, tapi targetnya adalah meniadakan atau paling tidak mengeliminasi segala ketakutan dan tekanan dari aspek hidup yang lain supaya fokusnya bisa terarah pada satu jenis tekanan saja. Selain berolahraga teratur, dia menjaga pola makannya, berusaha tetap gembira dan menjaga suasana hati untuk memelihara kesehatan dan kewarasannya. Dia tahu ada banyak hal yang kontradiktif antara ketakutannya sekaligus usahanya untuk menikmati hidup sekaligus mencoba merasa bahagia untuk mengatasi ketakutannya. Dia belajar mengendalikan pikirannya dan menerapkan pola pikir yang positif, walaupun maut adalah satu dan satu-satunya pengecualian. Buku-buku motivasi adalah salah satu langganananya.

Dia bekerja lebih keras untuk mendapatkan kehidupan finansial yang terjamin – suatu hal yang dibutuhkannya untuk mendapatkan makanan berkualitas dan fasilitas hidup yang lebih baik untuk mendukung semua pola hidupnya, walau di satu sisi berusaha keras menekan segala kekuatiran akan proporsi kerjanya yang cukup gila. Bicara soal pekerjaannya, tentu saja itu dilakukan berdasarkan riset mendalam sebelumnya, pekerjaan apa yang paling beresiko rendah, dan dia menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari dan memodali dirinya dengan berbagai kompetensi sebelum terjun dalam bidang tersebut. Tentu dia terus berpatokan pada angka maksimum stress yang dapat ditanggung seseorang dalam hidupnya.

Teman? Kehidupan sosial? Dijalaninya tentu saja, tapi dia mengurangi berpergian dan interaksi langsung. Berusaha tampil normal untuk menghindari ketakutan dari kolega maupun lingkar sosialnya, dan sejauh ini culup berhasil. Banyak pengetahuan mengenai hidup membuatnya cukup disukai teman-temannya walaupun mereka juga berbisik-bisik di belakangnya, menggunjingkan keanehan dirinya. Pula dia membaca banyak buku tapi dengan taraf wajar untuk menjaga kondisi matanya dan mencegah kelelahan berlebih. Hidupnya berjalan dengan sangat teratur sesuai dengan kalkulasi dan pola yang telah dia rancang.

Keluarga? Dia hanya punya orang tuanya – yang sekarang sudah meninggalkannya – dan tidak pernah tertarik membangun tali silaturahmi dengan kerabat yang lain. Dia sudah melakukan analisa bahwa memutuskan tali kekeluargaan membuat hidupnya lebih aman dan merendahkan tingkat resiko akan kejadian, peristiwa atau insiden apapun yang tidak diharapkan sebelumnya.

Mencari pasangan hidup jelas bukan prioritasnya. Pertengkaran, putus cinta, tangis-menangis, ratap-meratap dan segala masalah dramatik lainnya jelas bukan bagian dari rencana hidupnya. Hidup sendirian membuatnya lebih hidup, menurutnya.

Agama juga dipelajarinya. Semuanya. Satu demi satu ditelaahnya namun di akhir dia memutuskan agama tidak cukup baik untuk menolongnya. Apalah guna sebuah kepercayaan yang hanyalah menimbulkan perselisihan dan saling saing antar sesama pemeluknya? Dia mencoret kata itu dari kamus hidupnya sesegera mungkin.

Dia juga menulis. Banyak ahli berkata menulis menolongmu melupakan luka hati dan melegakan rasa. Dia setuju dan sampai dia tua dia menyimpan seluruh catatannya sebagai pembelajaran sekaligus gugus kenangan.

Begitulah hidupnya.. hari demi hari, tahun demi tahun.

Sekarang usianya 65 tahun. Di biliknya, dia masih rajin membaca berbagai buku. Dia tidak tahu asal-muasalnya kenapa dia bisa berakhir di tempat ini. Kadang dalam masa-masa sadarnya, dia mengerti kegilaan sudah datang padanya, merayap perlahan tapi berhasil mendahului kematian. Tapi dia tidak keberatan. Pikirnya, kegilaan merupakan salah satu cara kematian yang cukup dapat diterimanya. Dia toh tidak akan sadar lagi dan kewarasannya mungkin akan semakin lenyap, sehingga dia tidak perlu merasakan detik-detik kesengsaraan atau kematian. Palingan orang akan menatapinya dengan rasa iba mendalam atau mencemoohnya – apapun itu, dia toh tak akan merasakannya, bukan begitu adanya?

Jadi dia memutuskan bahwa dia bahagia dengan kegilaannya dan bahwa hidup cukup adil mencabut kewarasannya, guna mempersiapkan kematian.

Dia terkekeh-kekeh – terus, sepanjang hari itu. Gembira atas penemuannya. Para petugas hanya geleng-geleng melihatnya.

newspapaer

Tatap Sunarti terhujam ke arah surat kabar yang tergeletak di atas meja, memaparkan dengan vulgar berita utama hari itu. Hela nafasnya mengiringi pemandangan itu. Lagi-lagi berita dengan nada sama, terus terpusat pada Sunarto, calon presiden di negeri itu. Tiada henti rentetan pemberitaan soal pria itu. Bertubi tanpa jeda, apalagi usai. Inilah, itulah.. Beginilah, begitulah..

Untuk apa kalian semua meracuni dunia, menjual kilas peristiwa dengan taburan banyak bumbu yang bagiku hanyalah terasa hambar, jua tak sedap? Entah apa kalian sadar robeknya hatiku, melahap semua guratan kalian tentang suamiku? Tak terbayang oleh benak dan alam sadarku, bagaimana bisa kalian menulis sebegitu rupa.

Mendadak suara derit pintu terdengar, tanda kamar dibuka dari dalam oleh seseorang.

Sesosok pria berkemeja putih rapi tanpa cela muncul, wajahnya penuh senyum, tapi lantas berkerut mengerikan saat melihat istrinya terduduk lemas di ruang tamu. Gegas langkahnya ke arah istrinya, sebuah tamparan melayang kilat.

“MASIH BELUM SIAP JUGA KAU?! ACARA AMAL MULAI 1 JAM LAGI!! MAU BUAT AKU HILANG MUKA DI DEPAN PARA PENDUKUNGKU?!“

Sunarti jatuh, tangannya refleks menggapai pegangan apapun yang bisa diraihnya. Surat kabar terkena layangan tangannya, jatuh mulus menimpa lengannya. Tertangkap lagi oleh matanya yang berlinang air mata, “PENGAMAT POLITIK DAN EKONOMI : SUNARTO MUNGKIN CALON PRESIDEN PALING MUMPUNI SEPANJANG SEJARAH NEGERI INI. BERKAH BAGI BANGSA INI.”

Nyut, nyut, pipi dan hatinya pedih, perih, campur pedas.

Tags:

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,713 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

It's a happiness to see new place with beautiful decor, lighting and ornament
.
#hotel
#grandswissbelhotel
#medan
#decor
#interior
#lighting
#breakfast Morning devil
.
#coffeetime 
#coffeewithme
#pik
#breakfast
#food Unyu-unyu 😘
.
@shellasoo - ternyata aku sudah pernah liat yang ini and emang cute tempatnya 😀
.
#coffeewithme 
#pik
#coffee
#cafe Carnivore time 🥓🥓 lebih suka side dish-nya daripada dagingnya 😶😶
.
#magal
#korean
#bbq
#food
#restaurant
#pik DISTRICT 7 - new coffee spot in PIK. Fresh from the oven. Feels like home.
.
@district7.coffee
#district7
#coffee
#cafe
#pik Tampangnya enegin banget 😂😂😂
.
#aimeelynn 
#aimee
#daghter
#coffee
#morning
#cafe
#pik
#district7 Short clip of our coy outing 15-16 Sept 😀
.

#pulauharapan
#kepulauanseribu
#alfalaval
#paradiso
#nature
#sea
#beach One of our favorite place for dinner
.
Recommended :
* nasi hainam campur
* nasi goreng yangchou
* bubur pitan babi
* cumi lada garam
* and all their yammie (tapi saya si udah bosen banget)
.
#topyammie
#yammie
#manggabesar
#restaurant
#review
#food
#dinner New cafè coming from Bangkok! Location : Lobby Arjuna - West Mall. Ex tempat Mad for Garlic.
.
Impressive decor and many-many menu selection that will take you super long time to decide.
.
They recommended Granita Thai Tea yang memang lumayan enak and Pink Journey yang sumprit I don't get it, it's only es serut pake strawberry dll which is (menurut saya) ga ada enaknya. I felt ga rela bayar hampir 60 rebu buat minuman gini.
.
Mango cakenya (70an rebu) penuh whipped cream gitu tapi surprisingly enak si whipped creamnya rasa mango pula.
.

Haven't got a chance to try the food but will do segera-segera.
.
Tips : booking dulu (like I did) as I've seen many groups coming and sadly rejected.
.
#greyhound
#greyhoundindonesia
#greyhoundjakarta
#cafe
#review
#grandindonesia We returned here simply because this is so so good. We love the broth and the soup!
.
#8treasures
#restaurant
#suki
#wagyu
#food
#lupafotomakanansakingkegirangan I remember during my biztrip to Spore last month, I saw lots of the flight attendance were preparing the wheelchairs for some senior passengers and my eyes were instantly full of tears.
.
10 years ago exactly this day my father should've been on the same wheelchair if only he could make it that night. Our chartered plane has been ready that night on Halim Perdanakusumah to bring our father to Spore when suddenly his condition dropped with no reason. And there he was with no opportunity to get a better medication and treatment. Everything was too late.
.
My father is truly my hero. I'm his and will always be his little princess. He sacrificed a lot by sending me to one of the best high school in Indonesia with unreasonable admission fee and monthly charge. We shared our love to words, Mandarin songs and Jay Chou and I learnt Mandarin from him. We listened all that CCTV mandarin shows and knew that it was our 'daddy daughter' moment. Our 'us time' is filling out Suara Pembaruan Teka Teki Silang everyday together and built our TTS dictionary for cheat. I will read my novel while he read the bible and made lots of notes. That's our silent and sacral moment but full of intimacy, not to mention our church session every Sunday morning.
.
No one will ever understand and cure the deep hole inside this heart after he's gone. Not even the presence of Aimee. My father is the strongest person I've ever known who've struggled the whole of his life with accute asthma.
.
His 'nose' will be forever with me, so does all the memory we've created before. I wish you're here with us but moreover I know it's best for you to be free from all the pain and hurt because your suffering broke our heart so bad.
.
We ❤ you
.
**those who still have your parents with you, cherish every noment with them because you'll never know. Stop saying "I'll do this and this and this.." stop delaying everything.. make it real before it's too late. In ❤ with this jutek girl 😁
.
Glasses by Ii @pingping.victory168
.
#aimee
#aimeelynn
#daughter
#kids
#ootd Silhouette of ❤
.
#daddydaughter
#silhouette
#loveyoupisan Welcoming autumn 🍁🍁
.
#aimee
#aimeelynn 
#kids
#daughter Situation. Restaurant / bakery / cafe plus a small spot for playground. Suitable for your lil' one. Cheap price
.
#broodenbooter 
#review
#restaurant
#food
#bakery
#cafe
#kidsrestaurant
#kidsplace
#daywellspent The more I stressed, the more I run into food.
.
#brunch
#broodenbooter
#cafe
#restaurant
#instafood
#food Being here for Lady Aimee
.
#seaworld
#fish
#ancol
#sea
#aquarium Balas dendam makan-minim di Pulau Harapan 🤣
.
#bakmiace
#ace
#bakmipontianak
#noodle
#food
#instafood Sky. Sea. Blue. Tree.
.
#pulaubirakecil
#pulauseribu
#outing 
#view
#nature
#beach Isn't it cute? 🤣
.
#ayammutiara
#doggy
#animal
#viewthismorning
#friendship

Blog Stats

  • 456,072 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

September 2017
M T W T F S S
« Dec    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: