Fanny Wiriaatmadja

Archive for the ‘Aimee’ Category

img_20161004_2042301

I’m an active Instagram user – and a dedicated follower to emak-emak dengan bayi super lucu, yang aktif posting foto anaknya dengan berbagai quote bijak yang intinya bilang bahwa sejak punya baby, their world has changed, bahwa being mom is the best thing in the world, bahwa this is the best feeling ever, and something similar.

I have no idea, tapi gw ngerasa kurang nyaman setiap kali baca those quotes. Bukannya apa-apa lho, ini beneran gw-nya yang problem. Penyebabnya simple aja : because it sometimes demotivates me as I’m not feeling exactly the same. Ini mirip kayak baca kisah sukses ibu-ibu soal ASI dan everytime you read it, you feel like a loser – bwahahaha pahit.

(out of topic) Sedikit mirip pula tidak nyamannya ketika membaca caption “I’m beyond bleseed”, “God is good” atau sejenisnya di foto orang jalan-jalan keluar negeri atau makan di restoran mahal. Maaf sama sekali tidak bermaksud nge-judge; tapi apa boleh buat memang itu yang gw rasa and I’m not gonna deny it. Itu hak setiap orang juga anyway to put whatever caption they want. Itu kan mencerminkan apa yang mereka rasakan juga, dan sama seperti gw berhak menyatakan apa yang gw rasa di blog, tentu saja orang lain pun berhak menyatakannya dalam bentuk caption. So truly ga ada judge-men-judge di sini. Let’s be santai. (out of topic)

Balik ke soal emak-emak, I know parenting is something great; something beyond your imagination. Beneran. But sometimes… it.. just..

Okeh, gini deh : Ketika suatu sore di busway yang penuh sesak sementara gw duduk nyaman untuk 1 jam 45 menit ke depan, I couldn’t hold myself to ask, “if I got a chance, would I choose my world with or without Aimee?” and I wasn’t surprised that I found myself not being able to answer it instantly, firmly, undoubtedly that I would definitely choose my world with Aimee.

It’s fine kalau kalian berjengit, mengernyitkan kening atau mengangkat alis mendengarnya. I know that my response is not impressive and not as expected, but it’s true. I can’t even decide. I can’t said anything like those positive caption I often read in social media, those emak-emak I always wish to be. I’m not proud to say this, but I try to be honest with myself.

Why can’t I decide? I mean, I’m truly thankful for Aimee in my life. It’s a wonderful surpise from dearly God for me and Buffy, and I sometimes feel that I don’t deserve it. He’s too good to bless me with such a wonderful baby. But why then?

It’s not just a simple condition antara ada anak vs ga ada anak. It’s not just a dilemma of “kalo ga’ ada anak lebih enak, bisa jalan-jalan” VS “kalo’ ada anak lebih enak, hidup terasa lebih bahagia dan complete”. Bukan sekedar perbandingan “Kalo’ ada anak repot” vs “kalo ga ada anak kesepian”. No, it’s more complicated, at least from what I feel, that I can’t choose what kind of world I prefer to stay in.

With Aimee in my life, I feel everything’s different (ya iya lah ya..). This is something new that I almost never experienced before, bahkan kalo’ boleh bilang, ini TERLALU baru. Gw ngerasa seperti lagi jadi kelinci percobaan, lagi struggle dan lagi di ambang titik gagal.

I’ve never been so in love sama seseorang (or sesuatu) sampai you want to spend every single second with her, BADLY, apalagi if you’re a working mum. I’ve never so worried of someone seperti yang gw rasain saat berpuluh-puluh malam menyaksikan Aimee sesak napas dalam tidurnya, dan berganti posisi dengan gelisah untuk menemukan the best one untuk bisa bernapas dengan baik (will share of this in other post kalo’ sempet). I’ve never had tears this much (kecuali pas Papa meninggal) watching her so suffering, in her ‘not-beauty-at-all’ sleep. I’ve never been so lack-of-sleep before, as I insist myself to keep opening my eyes the whole night to monitor her, until I’m sure she can breathe normally again, at least for some period of her sleep.

Hal-hal di atas belum termasuk perubahan ketika sekarang lo merasa mandi, makan, dll. adalah sebuah interupsi-super-mengganggu dan bersifat sedikit jahat, yang berusaha merebuat waktu lo dengan anak lo dan kadang membuat lo berpikir dalam khayal, bisakah mandi sambil bisa tetap main sama anak. Rasa yang membuat lo ga nyaman ketika lo date with your husband nonton film favorite lo, tapi tetap ngerasa rugi karena hilang waktu sama Aimee beberapa jam dan ga bisa nemenin dia tidur. Rasa yang membuat lo rela dan tetep hepi untuk gendong dia sepanjang hari biarpun pundak dan tulang punggung lo serasa mau retak dan nyaris lepas karena lo menikmati setiap sentuhan and being so close with her. Rasa yang membuat lo tidak puas karena ciuman, pelukan, sentuhan rasanya tidak cukup menggambarkan betapa sayangnya lo sama anak itu. Rasa rindu dan kangen yang membuat lo memakai sepatu jelek warna merah yang sama sekali tidak matching sama outfit kantoran lo, karena sepatu tersebut begitu nyaman dipakai dan bisa melesatkan lebih kilat langkah-langkah lo saat pulang kerja sehingga lo bisa lebih cepat nyampe’ di rumah and seeing your baby segera, entah rasa itu hanya sugesti atau tidak. Rasa yang membuat lo ga peduli udah bayar suster mahal-mahal dan tetep ga keberatan untuk gantiin sendiri pampers anak lo, nyusuin dia, nidurin dia dll. sometimes, karena lo enjoy dengan semua aktivitas itu dan menganggap itu adalah part of your quality time with your baby.

Belum lagi, rasa antagonis yang muncul, yang bisa membuat lo bisa bersikap antipati (dan kadang sangat benci) pada orang yang mencoba mengganggu terus-menerus intimacy lo sama anak lo. Rasa yang berkobar yang membuat lo mampu mengeluarkan statement bahwa lo akan melakukan apa saja buat anak lo termasuk jadi public enemy. Yeah, I’m more than ready for that. Juga, rasa yang membuat lo melewatkan entah berapa kali waktu makan siang bersama kolega-kolega dan menjadi agak anti-sosial because you’re busy browsing anything about your baby or having a video-call with her. Rasa yang membuat lo kadang bisa membenci suami lo at some point karena merasa bahwa tingkat-concern-nya ga setinggi lo terhadap sang anak. Rasa yang membuat lo sanggup untuk mengabaikan atau menolak dengar semua komentar miring orang saat lo membawa anak lo ke berbagai dokter karena (you know) pergi ke 4 dokter di Indonesia means 4 different opinions yang belum tentu semuanya benar.. Semua rasa antagonis itu kini bisa hinggap di lo dan lo ga pernah tahu bahwa lo bisa begitu mudah sebal, bahkan benci pada orang lain saat menyangkut anak lo.

In summary, I’m someone else. I’m someone new and I’m not really happy with the transformation. Someone that I don’t even recognize. I’ve never been so fragile, cruel, and weak like this, and I’ve never had so much ‘antagonist’ feeling within my heart to see anything or anyone that can possibly be a threat for my daughter. Terlalu tiba-tiba, tsunami rasa dan banjir hal baru yang mendera indera datang dalam sekejap berbarengan dengan kemunculan Aimee. Rasanya kadang gw ga siap menghadapi semua hal baru ini. Gw kewalahan. Gw kaget. Bingung. Gamang. Gw yang biasanya well-prepared, sekarang menyerah.

Balik ke pertanyaan tadi, apakah gw akan memilih hidup gw sebelum Aimee, atau sesudah Aimee lahir? Again I can’t just answer it easily. Karena kadang hidup gw setelah this cute lil’ monster ‘invade’ it terlalu menakjubkan untuk di-describe dengan kata-kata. Lo akan berubah menjadi seseorang yang lo sendiri ga kenal and it’s scary somehow. Kadang gw hanya mau gw yang biasa, yang ordinary, yang ‘baik-baik’ aja hidupnya, bukan someone yang sangat rapuh, jahat, kuatiran, paranoid, berlebihan, drama queen, dan menyebalkan seperti ini. Intinya gw ga pernah deh “se-orang-gila-ini” 🙂

So please give me some more time before I can stand and said confidently, that I choose my life yang sekarang, sebagai ibu yang punya kekuatan untuk mencintai anaknya sedemikian besar. Biarkan gw perlahan mencapai titik itu tanpa dipaksa dan didorong, supaya at the end yang keluar adalah ketulusan pada saat menyatakan bahwa having Aimee is the best thing in my life.

Sekian renungan mellow Jum’at ini.

ASI

Sub-Judul : Kisah sedih tentang si ASI *background lagu ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’ nya Marshanda

Bicara soal ASI, I think I was one of the most stupid emak-emak-baru ever, karena mengira bahwa… jreng-jreng, semua emak-emak-baru pasti bisa kasih ASI ke bayinya. Dengan lancar. Tanpa masalah. Mulus. Kayak paha ikan.

Beneran loh, sejak hamil, mungkin saking sibuknya sama kerjaan, saya ga pernah ngurusin persiapan ASI sama sekali, sampai sekitar beberapa minggu sebelum lahiran, saya sempet chat sama Eka, temen kantor lama saya, dan di situ kita ngomongin ASI. Saya sempet bingung karena Eka kok concern banget ya soal ASI, sampe’ nyuruh saya ke klinik laktasi dll. Saya sih iya-iya aja demi sopan santun. Saya kan orangnya baik.

Di satu mingguan terakhir sebelum lahiran, saya juga kebetulan nyasar ke link soal ASI dan pijat ASI, dan baca bahwa pijat ASI tidak disarankan untuk ibu-ibu yang mau lahir Cesar, karena katanya bisa merangsang kontraksi. Di situ saya ngangguk-angguk bangga, “Nah, untung saya ga pernah pijat-pijat,” gumam saya waktu itu -> ini membuktikan kebegoan saya lagi. Ngetik ini aja sampe’ gregetan sendiri.

Udah gitu pas lagi belanja perlengkapan bayi di Mangga Dua dan lagi mau beli pompa ASI dll, cici-cici saya pada bilang, “Aduh ga usah dulu deh, belum tentu ASI lo keluar..” Saya sebenernya agak bingung waktu itu, karena seperti yang saya jelaskan di atas, I thought semua ibu-ibu pasti keluar ASI dengan lancar jaya. Tapi waktu itu saya ngikutin aja dan ga beli pompa ASI dulu. Udah gitu saya cerita ke temen saya si Zha tentang statement cici saya itu, dan Zha bilang dengan tegas, bahwa dia ga setuju sama statement cici saya. Dia bilang, comment-comment semacam itulah yang bikin para ibu baru jadi ‘rendah diri’ dan akhirnya beneran bisa bikin ASI ga keluar. Padahal encouragement mengenai ASI sangat penting, karena perasaan percaya diri, gembira, bahagia dll. itu kan bisa ngerangsang keluarnya ASI terkait produksi hormon oksitoksin, dan bahwa ASI itu is the matter of demand-supply *eh aku udah macam kayak konsultan klinik laktasi aja

Dan jreng-jrenggggg baru setelah lahiran, saya ngeh dan nyadar kayak orang baru ditempeleng bajaj, bahwa persiapan ASI itu ternyata penting banget dan bahwa ASI itu udah kayak mantra ajaib buat para emak-emak. Ga heran abis lahiran, tiap ketemu emak-emak lain, pasti yang ditanya adalah, “ASI ga, ASI ga?” *iya kaaaan, ngaku, para emak-emak!

Ah sudahlah, intinya :
* Saya ga terlalu aware soal ASI dan persiapannya. Buta sama sekali soal IMD, LDR dll. Baru belakangan ini aware soal semua ini, dan nyeselnya bukan main *tersungkur sambil mukulin tanah
* Orang-orang di sekeliling saya termasuk orang-orang ‘jadul’ (no offense please) yang memang juga ga terlalu pro ASI. Maksudnya prinsip mereka “ada ASI syukur, ga ada ya udah, terima aja..” Padahal seiring dengan modernisasi serta kemajuan jaman di mana media sosial merajalela, kita bisa ‘ketemu’ para ibu-ibu (muda) modern jaman sekarang via online, yang sangat pro ASI, dan bisa ketularan positif dalam menyikapi ASI. No more paradigma yang menyepelekan ASI lagi. Dengan luapan informasi yang beragam, kita bisa belajar dari sharing mereka soal ASI dan makin aware bahwa persiapannya itu sebenernya ga susah kok dan ASI itu ya memang beneran super-penting dan nyaris ‘segalanya’.Sungguh baru terbuka mata saya sekarang betapa pentingnya ASI itu -> asli emak-emak paling bego sedunia.

Anyway-busway, sebagai akibat dari ketidak-care-an saya dan ketidak-aware-an saya, pada saat lahiran dan Rumah Sakit menanyakan apakah ibunya akan ASI ekslusif atau nggak, dengan PD (tanpa tahu apa-apa) saya mengatakan “Oh iya dong..” dan kemudian terhenyak saat tahu bahwa ‘konsekuensi’ dari pilihan itu, berarti si bayi akan tidur sekamar sama si ibu supaya ibu bisa menyusui anytime. Keluarga, seperti yang saya bilang, karena kebanyakan mungkin ga aware soal ASI juga, langsung menolak sambil mengernyitkan dahi, “Hah? Ibunya masih kesakitan, masa mesti tidur sama si bayi..” dan pendapat-pendapat sejenisnya. Termasuk suami saya. Termasuk saya juga, yang ngerasa ga nyaman harus langsung tidur bareng si baby demi ASI saat saya sendiri aja masih struggle dengan pain pasca lahiran baik fisik maupun mental. Akhirnya kami mengubah keputusan untuk si baby ga ASI eksklusif, melainkan… dikasih SUFOR. Oh no..

Asli kalau saja saat itu saya tahu mengenai seluk beluk IMD, ASI eksklusif dll., saya merasa semuanya pasti beda. If I could turn back the time, I would definitely do it. Rasanya nyesel banget karena ga lebih aware dan prepared. Dan seperti biasa muncul segala macam perandaian. Andai saya tahu pentingnya ASI, mungkin saya akan bela-belain untuk merangsang keluarnya ASI buat si baby sejak hari pertama dan ga langsung kasih sufor. Andai saya punya keluarga yang aware soal ASI pula, mungkin akan ada yang mencerahkan pikiran saya dan saya tidak akan ‘menyepelekan’ ASI. Andai saya tahu pentingnya ASI, saya bakalan tidur dengan baby saya di hari-hari di Rumah Sakit, karena keberadaan si baby (katanya) somehow justru could heal us, instead of bikin kita ribet. Mundur sedikit, andai saya tahu ini semua, saya akan prepare dengan mengunjungi klinik laktasi, melakukan pijat payudara, dan seterusnya.

Anyway ini sudah terjadi, dan sampai sekarang my baby jadinya minum sufor plus ASI. Eat the fact.

Jadi di awal-awal hari lahiran di Rumah Sakit, secara berkala Aimee dibawa ke saya untuk disusui. Namanya ibu-ibu baru, pas si baby terlihat ga mau nyusu, saya ya pasrah dan ngerasa fine-fine aja, terus saya pulangin lagi deh si Aimee ke si suster. Begitu terus, sampe’ bisa dibilang Aimee tuh ga ASI sama sekali pas di Rumah Sakit. Semuanya sufor. Saya bahkan gatau apakah ASI saya keluar atau nggak.

Di hari terakhir dirawat, dokter kandungan saya me-refer saya ke konsultan laktasi di RS itu, dan syukurlah ini dilakukan, karena saya jadi tahu soal pijat payudara (untuk pertama kalinya). Di situ saya dipijat sama konsultannya, dan itulah pertama kalinya saya liat ASI keluar dari payudara sendiri. Berasa kayak liat bayi sendiri pas pertama dia keluar n nongol di dunia, saking terharunya. Si konsultan juga berusaha menyemangati, “Ini udah mulai keluar loh Bu ASI-nya.. harus rajin dipijat ya..” katanya.

Pulang dari RS, karena segala macam kesibukan dan kemalasan, pijat ASI ga dilakukan dengan teratur. Jadi ya setiap kali Aimee memang dalam posisi menyusui, tapi saya bahkan gatau apakah ASI-nya keluar atau nggak. Udah gitu semua orang ribut nanyain, “ASI nggak?”, “ASI nya banyak ga?” dll., sampe’ saya pingin ngerekam suara saya aja atau tempelin tulisan di dahi, “ASI saya sedikit”.

Sempet juga saya coba peras payudara pake’ pompa, dimana yang keluar hanya beberapa tetes aja. Coba juga pake’ tangan, hasilnya sama. Tapi at least kan keluar gitu, dan secara masih norak, langsung saya bangga-banggain ke keluarga,

Saya : “Eh ASI gw ada loh! Bisa nih dperas.. keluar, keluar! Eh eh ini dimasukkin kulkas gitu ya kalo’ mau disimpen?”
Cici : “Iya, dimasukkin kulkas. Emang ASI lo ada berapa banyak? Gw aja dulu cuma 30 mili-an..”
Saya : “Gatau nih, ini mau sambil peras lagi..”
terus coba peras lagi dan hasilnya tetep cuma beberapa tetes aja #putusasa.#malu

Nah kemudian setelah ngobrol-ngobrol dikit sama sepupu saya Dyna, akhirnya saya mutusin datang ke klinik laktasi di St. Carolus demi dan atas nama ASI dan Aimee.

Pertama datang, saya ga bawa Aimee, karena saya pikir saya datang untuk dipijat payudaranya seperti waktu di Rumah Sakit paska lahiran -> kebegoan untuk ke sekian kalinya.

Pas ketemu dokternya, dokternya bingung. “Kok anaknya ga dibawa Bu?” Saya tersipu-sipu malu semalu-malunya.

Kata dokter lagi, “Kalo’ saya suruh pulang, nanti Ibu tersinggung. Tapi kalo’ sesi ini diterusin, Ibu ga bawa bayinya. Gimana saya bisa lihat proses menyusuinya?” Saya tersipu-sipu lagi. Nama saya perlu dirubah jadi Ms. Tersipu.

Akhirnya karena kasihan, dokter mengajak kami ngobrol soal ASI dan Aimee. Lumayan sih nambah pengetahuan. Dokter langsung mengultimatum : No more pake dot. Kalo’ nggak, nanti anaknya ga mau netek karena keenakan pake dot. Dokter suruh kami kasih sufornya pake sendok, tidak lupa mengajarkan cara memberikan susu yang benar dengan sendok tsb. Oh-oh.. denger ini aja saya udah stress. Ga kebayang deh repot dan ribetnya kudu nyendokkin si baby pake sendok, satu demi satu. Belum lagi ngerinya sama resiko tersedak.

Saya sempet berkilah, “Dok, buktinya sekarang anaknya masih mau netek kok.. padahal tiap hari juga kami kasih sufor pake dot..” Tapi dokter hanya tersenyum manis dan tetep kekeuh, “Akan ada some point of time dimana dia akan berhenti netek sama sekali dan hanya mau minum susu dari dot.” Saya sih masih ga percaya, tapi baca-baca di internet memang sih semua suggestion adalah jangan pake’ dot kalo’ mau ASI ekslusif. Pilihan lain ya sendok, feeder cup, dll., dan memang alternatif paling memungkinkan dan ‘user-friendly’ saat itu memang sendok sih sebagai pengganti dot.

Ya sudah kami pulang dengan beban.

Besokannya saya dateng lagi, kali ini tentu saja bersama Aimee, yang langsung celingak-celinguk kebingungan dengan noraknya, di tempat baru.

Setelah nunggu super lama karena memang di tiap sesi dokter harus liatin cara nyusuin pasien yang notabene ga sebentar, saya akhirnya masuk. Saya pun memeragakan cara saya menyusui Aimee ke si dokter (plus beneran netekin). Kayaknya sih fine-fine aja ya. Cuma dikasih masukan-masukan sedikit untuk memperbaiki pelekatan.

Di akhir sesi, untuk merangsang ASI, dokter mutusin untuk kurangin takaran sufor Aimee dari 60 mili menjadi…. 30 mili. Setengahnya. OMG. Saya sampe’ shock. Saya bilang, “Dok, how come? Bisa jejeritan ini anak, jatah sufornya dikurangi setengahnya, sementara ASI saya masih sedikit..” Dokternya cuma senyum-senyum aja. Pokoknya dia bilang, saya harus rajin peras dan pijat supaya ASI-nya bisa tambah banyak. Sufor nanti hari demi hari dikurangi.

Pulang dari dokter, saya stress setengah mati, tapi akhirnya coba dijabanin. Sufor dijadiin 30 mili doang, sama seperti jatah waktu lahir, sementara Aimee sekarang sudah hampir 1 bulan. Beneran ga tega ngurangin jatahnya jadi setengahnya. Seperti dugaan, Aimee jadi rewel luar biasa. Nangis kejer sepanjang hari. Ini berlangsung sekitar semingguan sebelum sesi kontrol kami berikutnya. Untuk medianya sendiri, saya masih nekat pake dot instead of pake sendok seperti suggestion dokter.

Sesi berikutnya lagi, si dokter nimbang berat badan Aimee dan surprisingly, berat badannya naik! Padahal takarannya udah diubah jadi 30 mili doang. Dokternya aja sampe’ surprise, tapi akhirnya seneng juga karena berarti Aimee ‘fine-fine’ aja dengan takaran sufor cuma 30 mili. “Lanjutkan,” kata dia. Okeh..

Kemudian dokter sekali lagi ngeliatin cara saya nyusuin. Kali ini, pas dokter liat, dokter bilang bahwa Aimee masih ga bener ngisepnya. Dianggapnya Aimee cuma ngempeng doang. Solusinya, dokter ngasih selang sebagai pengganti sendok. Jadi sambil netek, dengan posisi mulut Aimee masih melekat ke payudara, selang dimasukkan (diselipkan) ke mulut Aimee, kemudian ujung satu lagi ditaruh di botol berisi sufor. Karena Aimee akan menghisap payudara, nanti otomatis sufornya pun terhisap dan Aimee tinggal nelen aja deh dari selang itu. Kata dokter, dengan begini dia belajar menghisap supaya hisapannya juga kuat, sekaligus meminimalisir penggunaan dot.

Di situ saya sempet down lagi. Kok ada-ada aja ya? Kemarin harus pake’ sendok. Hari ini pake’ selang. Ribet banget. Pas saya cerita ke keluarga, semua juga geleng-geleng dan seperti biasa comment-comment negatif berdatangan. “Aduh, udah deh, ga usah ke klinik laktasi lagi,” atau “Ga usah aneh-aneh deh, pake’ sendok lah, pake’ selang lah.. udah pake’ dot aja kenapa sih? Buktinya anaknya masih mau netek toh..” dan lain-lain. Kebayang ga sih pressurenya?

Anyway saya tetep ikutin saran dokter, dan memakaikan selang saat Aimee menetek. Ternyata enak juga loh karena sufornya lebih cepet abis tanpa harus menyusui lewat botol. Lebih hemat waktu gitu, walaupun lebih ribet saat mencuci selang tersebut.

Jadi ya sudah hari-hari ke depan kami pakai selang untuk sufornya Aimee, sementara netek masih jalan terus. Intinya kami ga pake’ dot lagi.

Minggu depannya, sesuai instruksi, kami kontrol lagi ke klinik laktasi untuk liat perkembangan Aimee. Eeeh katanya masih belum terlalu OK ngisepnya. Saya sampe’ sebel dan frustrasi juga. Mesti diapain lagi sih? Di sesi tersebut dokter juga mengajarkan cara pijat payudara (refresh sesi di RS pasca lahiran dulu) yang bikin saya bingung juga. Kenapa baru diajarin sekarang, padahal saya udah pernah nanya dari sesi pertama soal pijat payudara. Terus mulai berasa kok sesi-sesi belakangan serasa ‘gak guna’ ya. Datang cuma untuk dilihatin cara nyusunya Aimee yang katanya ‘kurang’ ada perkembangan. Saya jadi capek sendiri, ini ujungnya sampe’ kapan ya? Kalopun teknik Aimee sudah benar, then what? -> ini emak-emak-baru yang cepet nyerah dan ga sabaran, ga bisa menikmati proses.

Akhirnya setelah itu saya berhenti mengunjungi klinik laktasi lagi. Saya gatau sih (sampe’ sekarang) apakah ini keputusan yang benar atau nggak. Yang penting saya udah dapat ilmu untuk peras payudara dengan menggunakan tangan dan teknik pijat payudara yang benar (walaupun saya hampir ga pernah pijat karena beneran ga ada waktu plus males juga hi-hi-hi).

Kesimpulan dari klinik laktasi :
* Harga mati ga boleh pake’ dot. Gunakan sendok, feeder cup atau yang lainnya.
* Pijat dengan kompres panas dingin sudah tidak digunakan (bikin saya bingung karena di internet semua bilang ini membantu kelancaran ASI)
* Jangan gunakan empeng, karena bisa merusak struktur gigi
* Better peras secara manual dengan tangan ketimbang dengan pompa karena beresiko menyebabkan luka dan lecet pada puting / payudara.

However balik ke soal ASI, walaupun saya ga balik ke klinik laktasi, saya tetap pake’ selang untuk sementara karena udah ‘keenakan’. Plus lama kelamaan karena Aimee rewel terus, saya naikkin lagi sufornya dari 30 mili, terus-menerus dan sekarang sudah 80 mili tiap minum sufor.

Kemudian kami punya suster, dan terkait pemakaian selang, somehow saya paranoid takut susternya nyuci selangnya ga bersih. Plus, entah kenapa susternya ga terlalu jago ‘nyelipin’ selang itu ke mulut Aimee, beda sama suami saya. Yang ada mulut Aimee disodok-sodok untuk masukkin selang itu ke posisi yang tepat supaya sufornya ‘terhisap’ pas dia lagi netek. Saya jadi ngeri mulutnya luka.

Jadi karena alasan-alasan di atas, akhirnya saya berhenti pake’ selang dan mulai pakai sendok. Suster yang nyendokkin. Bener-bener ‘mumpung’ ada suster juga (yang bilang bahwa dia sudah terbiasa ngasih susu pake sendok untuk para bayi yang dijaganya sebelumnya, sehingga kesabarannya mestinya cukup OK), Demi dan supaya Aimee ga mengenal dot lagi, segala upaya dijalani termasuk pake’ sendok yang menurut orang ‘berbahaya’ karena kans tersedaknya cukup tinggi. Makanya saya selalu liatin baik-baik setiap kali Aimee disendokkin, apalagi pas malam hari, karena takut susternya ngantuk, sampe’ bikin sang suster gerah dan akhirnya quit.

Di sisi lain, keluarga juga terus mendesak kami dan menyatakan secara eksplisit antipati mereka terhadap penggunaan sendok karena resiko tersedak tadi.

Mereka : “Udah pake dot aja..”
Kami : “Kalo’ si bayi kebiasaan ‘enak’ pake’ dot, lama-lama dia ga mau netek lagi. Netek kan perlu usaha ngisep, sementara pake dot tinggal terima beres..”
Mereka : “Ya kalo’ si bayi ga mau netek, nanti ASI nya diperas aja, kasih lewat dot juga.. Bisa kan tetep ASI?”
Kami : “Kalo’ si anak ga mau netek, berarti payudara tidak disedot. Means payudara tidak dirangsang untuk menghasilkan ASI. Akhirnya ASI-nya jadi tambah dikit loh dan lama-lama habis (eh masih bisa peras sih, tapi kan tetep sedotan bayi lebih efektif)
Mereka : “Kalo’ sampe ga mau netek lagi ya sudahlah.. Nih gw udah 30-an dan dulu pas bayi gw cuma minum sufor, tapi daya tahan gw baik-baik aja.. Tuh anak si XXX juga ga ASI tapi sehat sentosa aja.. Kayaknya ga ada beda deh anak ASI sama anak sufor..”

Speechless, tapi di satu sisi ‘terhibur’ juga dan membuat saya berkata pada diri sendiri, “Iya juga sih, ASI bukan segalanya kok..” walaupun semua orang di dunia definitely bilang bahwa bayi yang mengkonsumsi ASI lebih bagus daya tahan tubuhnya dan bonding dengan ibunya dengan ‘attached’ ketimbang anak sufor. Jujur sekarang saya udah ga peduli deh akurasi kebenarannya, yang penting diusahain kasih ASI semaksimal mungkin aja.

Jadi, menurut keluarga :
* Pakailah dot kalau tidak ingin mencelakakan anakmu.
* Kalo’ dot membuat anak tak mau menetek lagi, ya udah ga apa-apa. Ga bakalan mati kok. Gitu.

Anyway balik ke soal selang vs dot vs sendok, karena si suster tadi someday berhenti, akhirnya mau ga mau terpaksa kami ‘nurut’ saran keluarga untuk pake’ dot, karena walaupun sudah pernah diajarin di klinik laktasi cara menggunakan sendok yang benar, kami tetep ga PD dan merasa ga seahli si suster yang udah biasa nyendokkin bayi dan tahu penempatan sendok yang benar untuk meminimalisir resiko tersedak, termasuk saat bayi sedang menyusu dalam kondisi ngantuk, merem, bahkan tidur.

Dan setelah 1 bulanan, somehow ramalan ala nostradamus si dokter klinik laktasi terwujud. Aimee ngamuk dan nangis kejer setiap kali mau netek. Even baru diposisikan mau netek aja, dia langsung blingsatan dan jejeritan, sementara pas dikasih dot, doi langsung diem total dan merem-melek, asyik bersantap susu. Oh no, betapa sedih dan sakitnya ni hati, liat anak sendiri ga mau netek. Kalo’ dulu saya sering ngerasa jenuh banget dan berasa jadi ‘sapi perah’ karena harus netekin dia setiap 2 jam, sekarang rasanya I will pay everything untuk kembali ke saat-saat itu, dimana my baby masih mau netek walaupun ASI nya sedikit. Buat para orang tua di luar sana, bersyukurlah kalau your baby masih mau netek. It’s a greatest gift ever, beneran deh. It hurts so deep when your baby refused your milk.

Jadinya sekarang saya stop dulu netekin sementara, dan ‘kejar’ di peras aja. Sesekali saya masih coba usaha netekin Aimee dengan segala strategi dan tipu daya, walaupun sampai saat ini belum berhasil karena ternyata bayi sekarang cukup cerdas dan ga bisa ditipu. Mereka tahu bahwa mereka mau disuruh netek.

Kembali ke soal peras, karena ASI nya memang sedikit, sekali peras paling saya bisa dapat 30 mili. Kalo’ lagi banyak bisa dapat 40-60 mili. Di kantor saya usahakan 3x peras walaupun seringkali berhasilnya cuma 2 x peras. Dibawa pulang palingan cuma cukup buat sekali minum untuk Aimee.

Masih inget waktu pertama kali keluar rumah setelah 30-40 arian dipingit di rumah gitu pasca-lahiran, saya ke Ikea sama suami untuk nyari barang. Perginya lumayan lama, dari siang sampe’ sore. Sampe’ rumah, langsung cepet-cepet peras deh dan dapet hampir 80 mili. Abis itu mandi dan terus lanjut peras lagi, dan dapet 60 milian lagi. Kayaknya cuma itu pengalaman peras ASI yang terbanyak hi-hi. Setelah itu konstan sedikit terus. Anyway tetep bersyukur deh berapapun yang diperoleh, ASI masih bisa dan mau keluar.

Kadang bosen juga sih di awal-awal pasca lahiran tiap kali orang yang sama selalu nanyain, “ASI nya masih dikit?” Sampe’ saya bisa memahami deh perasaan orang-orang yang tiap lebaran or sinchia ditanyain “Kapan kawin? Masih single? Belum punya anak juga?” dll. Aku kini mengerti sungguh!

Balik ke pertanyaan-pertanyaan macam di atas, kadang emang sih statement-statement kayak gitu discourage kita banget (baca : saya). Jadinya kan ngerasa ‘rendah diri’, terus kayak diingetin terus bahwa “eh ASI lo dikit loh.. camkan itu siang dan malam ya.. inget, ASI lo DIKIT. D-I-K-I-T…” Lalu saya berasa sebal, sedih, kadang pingin nangis, terus efek ke pasokan ASI yang berkurang gara-gara hormon. Ah begitulah.. Sebenernya sih tergantung sayanya. Sayanya aja yang kurang positif, jadinya ‘ga bisa bawa santai’ tiap kali ditanyain gitu. Eh mungkin hormon juga kali ya, jadinya lebih sensitif -> kambing itemin hormon.

Anyway, thanks to my cousin Dyna yang ngasitau soal LDR dan lumayan ngefek untuk perbanyak ASIP. It works, saya sampe’ takjub. Rasanya banyak ya seluk-beluk ASI yang masih harus dipelajari dan dipraktikkan.

Jujur kalo’ liat orang posting foto ASIP mereka yang berbotol-botol itu, hati langsung ‘nyut’ gitu. I envy you all hi-hi.. Juga kalo’ baca-baca soal sharing / cerita di internet tentang para pejuang ASI yang berhasil ngasih ASI ekslusif, yang ada kok bukan termotivasi ya, tapi malahan sedih karena begitu banyak orang yang berhasil sementara diri sendiri melempem banget ASI-nya. Baca cerita mereka soal betapa banyak dan melimpahnya ASI mereka sampe’ muncrat-muncrat dll. itu bikin hati kayak dikentutin.

Anyway again tetep, kalo’ lagi down gini, diusahain sebisa mungkin untuk bersyukur karena masih bisa kasih ASI biarpun cuma sedikit. Bersyukur itu susah-susah gampang ya? 🙂 I’m still learning though..

Next kalau ada kesempatan punya anak lagi (sementara belum mau lagi karena masih trauma), saya pasti bakalan lebih prepared biar bisa kasih full ASI eksklusif. Hmmhh!! No more kebodohan, kebegoan dan ketidaksiapan #mengepalkantanganpenuhtekad

Buat para pejuang ASI di luar sana, SEMANGKA!! Buat yang ASInya muncrat-muncrat, semoga makin deras. Buat yang cuma netes, semoga tetesannya menjadi aliran. Buat yang karena suatu kondisi apapun tidak bisa memberikan ASI, keep smiling karena kesehatan anakmu ada di tangan Tuhan 🙂 Berserah saja..

Happy fri-yeay!!

Gilaku

Posted on: March 14, 2016

do-i-miss-you-every-day-quote-1

Katakan
Gila macam apa
Yang membuat waktu jadi seteru
Membidani lahirnya tekad sebulat biji mata
Menyalip, berkelit, berkelok
Semua dimotori sosokmu di ujung sana
Terpusat oleh engkau, hanya oleh engkau
Tiada teralihkan, yang lain terabaikan

Ceritakan,
Perih macam apa, pedih jenis apa,
Saat bersua bengisnya realita
Tetap digdaya sang waktu yang unggul
Walau kaki berderap gesa
Dipacu selekasnya dalam resah
Tetap, aku sang pecundang

Beritahu,
Sensasi duka yang menghantam menohok puas
Saat porak-poranda fondasi hati,
Menatap lontaran senyum yang bukan buatku
Kala bukan sosokku
Yang alfa saat kau bangun
Dan omega saat kau lelap

Teriakkan,
Pedasnya semburat nyeri
Buasnya torehan luka
Saat seolah bayangku tanpa arti
Saat diri ini tak teracuhkan
Sekian bulan perjalanan bersama pudar dari benakmu
Bias kasih sayang berpendar luas dari segala penjuru
Menyelimutimu berlapis-lapis
Engkau nyaman dan bahagia
Bukan, bukan dariku

Siapakah aku kini
Yang hanya antara ada dan tiada
Yang hanya sewujud doa terujar lirih
Yang hanya bisa memutar imajimu dalam memori
Yang hanya bisa sesekali mengakali Sang Waktu
Untuk mendapat secuwil tampilanmu dalam dimensi terbatas
Di tengah padatnya keseharianmu

Hanya beberapa pinta kulontar,
Ijinkan aku menggenggammu
Dalam seserpih waktu yang kupunya
Biarkan aku merengkuhmu erat
Dalam peluk tanpa jeda
Biarkan kulempar hangat
Tatap penuh kasih yang bicara berjuta aksara
Ijinkan aku melahap dan merekam gambar dirimu
Supaya lega dahagaku
Biarkan gita dan senandung kulantun
Mengiring curahan sayangku untukmu
Ijinkan air mata haru tertetes
Untuk syukur atas hadirmu

Guratkan namaku dalam-dalam di segenap dirimu
Biar jadi ikrar manis kita
Dan penyembuh luka borok ini

Aku dan darahku, dagingku.
Selamanya.

Jakarta, 14 Maret 2016

1046878-Royalty-Free-RF-Clip-Art-Illustration-Of-A-Cartoon-Pediatrician-With-A-Client

Menurut saya, simbiosis yang terjadi antara para pediatrician a.k.a. dokter anak dengan para emak quite similar dengan simbiosis yang terjadi antara para nanny dan para emak sebagai berikut :

* Keduanya secara teori dikatakan saling membutuhkan alias mutualisme, tapi pada praktiknya, sebenarnya emak-emaklah yang lebih membutuhkan mereka. Lagi-lagi fakta yang menyebalkan, yang tidak bisa dipungkiri. Ga ada tuh “cari nanny itu kayak cari pacar”.. karena menurut saya, pacar itu statusnya imbang. Keduanya berada pada posisi sejajar. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, kecuali kalau salah satunya o’on alias mau aja dikontrol semena-mena bin membabi-buta sama pasangannya. Nah, kalo’ dokter atau suster, jelas atas nama anak, bahwa kitalah para emak yang lebih membutuhkan mereka ketimbang mereka membutuhkan kita. Sepihak. Titik. Dokter dan suster, tanpa para anak, rasanya masih bisa cari kerjaan lain dan hidup baik-baik saja, sementara emak-emak tanpa dokter anak atau nanny rasanya almost impossible #opinikacangan.

* Yang kedua, kalo’ ketemu dokter anak/ nanny yang cocok, hoaaa rasanya bahagia banget dan hidup tenteram. Tapi kalo’ belum nemu yang cocok, hunting berjalan terus dan nestapa rasanya karena gregetan, makan ati, dan apapun itu yang sejenisnya.

However, profesi dokter anak ini buat saya sangat keren karena :

* Ga cuma ngandalin kejagoan teknis tapi juga butuh persuasion and communication skill yang baik.

* Kedua, profesi ini berhadapan dengan makhluk (baca : bayi) yang ga bisa ngomong dan menjelaskan apa yang mereka rasa, sehingga si dokter harus menganalisa dan mendiagnosa hanya berdasarkan penjelasan dari orang tuanya mengenai gejala yang terlihat dari si bayi, yang biasanya agak subjektif, reaktif, dan meledak-ledak karena kepanikan yang melanda si orang tua sehingga diragukan kebenaran, keabsahan dan akurasinya. Kebayang kan betapa complicatednya profesi ini.

Jadi-jadi-jadi, beginilah sekilas pengalaman saya bersama para pediatrician itu :

1. Bagian Pertama

Awalnya kan dokter anak ‘ngikut’ Rumah Sakit tempat lahiran ya. Cuma gara-gara case kepala anak saya yang bengkak sebelah tanpa ada penjelasan berarti dari sang dokter, akhirnya semua orang manas-manasin untuk pindah dokter. Karena saya oke-oke aja dipanasin, jadinya ya udah kami pindah dokter, ngikutin mayoritas sepupu saya yang dokter anaknya adalah dokter LH yang praktik di RS Medistra / JWCC sana.

Suatu hari kami ke sana untuk cek kepala anak saya, sekalian untuk melakukan imunisasi. Ternyata bin ternyata, sang dokter mirip dikit sama Robert Downey (menurut saya), yang langsung disangkal mentah-mentah sama suami saya. Atas dasar kekurangsenangan suami atas pendapat saya itu, saya harus lebih berhati-hati dalam bertindak-tanduk selama mengunjungi sang dokter, karena sekali sapuan merapikan rambut saja, saya akan dituduh melakukannya ‘demi dan karena mau ketemu dokter Robert Downey’. Ah anyway, kita sudah melenceng dari topik dan kini mari kembali lagi.

Pertama pergi sih lumayan impress karena Aimee diperiksa dengan teliti, dan itu pertama kalinya saya terkagum-kagum (sekaligus deg-degan) liat dia bolak-balikkin Aimee dengan gampang dan cepet banget, udah kayak benda mati tanpa berat. Belakangan baru ngeh bahwa semua dokter anak emang jago ngebolak-balik bayi kayak gitu. Kayak lihat atraksi sirkus deh.

Singkat cerita, diagnosa sang dokter bilang bahwa kepala Aimee baik-baik saja, walaupun untuk kembali normal mungkin butuh waktu cukup lama, kurang lebih 6 bulanan (anyway ga sampe’ sebulan, kepala Aimee ternyata udah balik normal, syukurlah).

Nah, terus setelah selesai periksa, namanya juga emak dan bapak baru, nanyalah kami mengenai beberapa hal. Suami saya nanya mengenai lidah bayi yang putih – harus diapainkah? Apakah tidak apa-apa?? Dan sang dokter menjawab dengan sangat jutek, “You ga usah ikutin orang-orang jaman dulu lah!!” yang bikin kami bengong. Perasaan kami nanya pertanyaan yang cukup normal deh, kok jawabnya galak amat. Di akhir kejutekannya dokter bersabda, “Ya udah kalo’ mau yah dibersihin ajalah pake’ kain kasa dan air putih..” Okeh, kami mingkem deh..

Eh saya karena aji mumpung lagi di dokter, nanya lagi mengenai napas anak. Saya bilang napasnya Aimee kayaknya agak berat dan berbunyi. Takutnya kenapa-kenapa karena saya dan suami asma berat dan eksim. Takutnya kan faktor turunan.

Dokter LH menatap kami seakan kami gila dan berkata dengan gregetan sambil menoleh melihat ke arah lain dan menghela napas, suatu ungkapan eksplisit keputusasaan dia, “Aduh!!” katanya, mengindikasikan bahwa pertanyaan kami sangat bodoh bin tolol bin bego bin apapun itu. Jadi kami diam lagi, dalam kebingungan dan ketakutan. Setelahnya karena mungkin dia ga tega, dia menjelaskan bahwa penyebab napas bunyi ya bisa macem-macem. Alergi, faktor eksternal, dll. Ya sudahlah, penjelasannya ga terlalu menjawab pertanyaan kami, jadi kami setelahnya langsung terbirit-birit kabur keluar ruangan karena emang udah selesai periksa juga. Btw, sebenernya kan bisa yah, dia langsung jawab aja gitu pertanyaan kami, ga usah pake’ aksi membuang muka yang dramatis gitu.

Dokter LH ini, secara akademik dll. katanya memang OK. Maksudnya, dokternya pintar, diagnosanya (katanya) hampir selalu tepat. Pernah saya bawa Aimee juga karena matanya banyak kotoran mata sampe’ kayak luka gitu, dokternya kasih salep dan dalam beberapa hari Aimee langsung sembuh. Eh ini sih mungkin cuma case kecil aja, jadi memang solusinya mudah pula.

Selain itu, si Dokter LH periksanya cermat, ga ‘kejar tayang’ dan… dia seorang anak Tuhan. Saya pernah baca tulisannya mengenai ‘pelayanan’ di dunia kesehatan, yang membuat saya makin kagum dengan beliau. Cuma ya begitulah namanya dokter, kadang karena capek, macet, plus serbuan pertanyaan membeludak bin ga masuk akal dari para emak-emak, kadang-kadang mungkin emosinya jadi terpengaruh sehingga kamilah para pasien berikutnya yang kena dampaknya. Either kita dijutekkin, didamprat, dll., dan mereka akan berkata “Kami juga manusia” sebagai pembelaan atas ‘kejahatannya’ itu, Memang berat menjabani profesi dokter, apalagi dokter anak, tapi itu kan resiko atas pilihan hidup mereka ya.. Kalo’ ga sabar-sabar ngadepin anak (dan emaknya), mana bisa jadi dokter anak yang baik? Mending ga usah daripada ‘nyakitin’ hati banyak keluarga pasien.

Khusus buat dokter LH ini, saya sih beneran berdoa supaya dia ga jadi batu sandungan buat para pasiennya dan tetap jadi berkat, sebagaimana misinya di dunia kesehatan dengan profesinya sebagai dokter anak.

2. Bagian Kedua

Next case nya adalah waktu saya notice lagi dan lagi bahwa napas Aimee itu terasa (dan terlihat) susah banget. Memang kasihan kalo’ punya emak bapak alergi alias asma dan eksim. Bunyi napasnya bukan sekedar bunyi grok-grok biasa yang memang normal untuk para bayi baru lahir, tapi lebih ke bunyi ‘ngik, ngik..” yang menyeramkan, apalagi menjelang malam pas Aimee sudah mau tidur. Capek dan kasihan banget liat dia napas dengan susah, sampe’ nyaris bikin saya mau gotong dia ke UGD di suatu malam, saking kuatirnya #baladaemakemakbaru #masihnorak #panikkan

Akhirnya kami bawa lagi ke dokter LH di atas. Eeeeh, dapetnya nomor bontot, sementara ke RS Medistra itu macetnya lumayan nampol dan nunggu antrian si dokter pun cukup menyita waktu karena dia kan meriksa pasiennya teliti dan lama.

Jadinya kami ke dokter B dulu (lupa nama belakangnya) di Klinik Elizabeth di deket Pluit sana, dokter senior yang pendengarannya sudah menggunakan alat bantu dan jalannya agak terseok-seok tapi punya rekam jejak bagus dan kredibilitas cukup tinggi di antara para dokter anak.

Sekali periksa, dokter bilang bahwa dahaknya Aimee banyak sekali, makanya napas sesak, dan harus dikasih obat pengencer dahak. Plus katanya Aimee alergi karena badan dan mukanya banyak bintik-bintik. Alhasil, kami dikasih obat, kemudian disuruh ganti susu ke susu anti-alergi NeoCate yang harga sekalengnya 345 ribu (dan di kemudian hari kami notice bahwa setiap 5 hari, tuh susu habis.. keringlah kantong demi beliin susu ni anak). Terkait obat, saya ga mau dulu beli obatnya karena ga tega rasanya kasih obat ke bayi yang baru umur 1.5 bulan. So obat dipending dulu sementara.

3. Bagian Ketiga

Besokannya, kami kembali lagi ke dokter LH untuk second opinion, kali ini syukurlah dapat nomor antrian kedua.

Dari luar ruangan, saya udah denger dokter LH lagi ngomel-ngomel di telepon. Kayaknya sama orang tua pasien deh, hampir pasti sih emak-emak. Omelannya (dengan nada jutek yang mulai saya kenal), “Udah ya Bu, ga usah dikit-dikit kuatir, kita para dokter jadi pusing juga kalo begini.. Gimana mau kerja!”

Dan….. abis itu giliran Aimee. Saya dan suami masuk. Si dokter masih bertampang bete dan bikin saya deg-degan. Bukan karena tampang Downeynya, tapi karena kuatir dia bakalan jutek sana-sini lagi kayak biasa.. Saya pun mulai cerita dengan bahasa yang baik dan sederhana bahwa si Aimee ga bisa napas. Namun Saudara-saudara, tampaknya saya salah kata sehingga si dokter dengan muka bete malah membalas cepat, “Hah? Ga bisa napas?? Maksudnya apa??” Cepet-cepet saya perbaiki, “Eh maksudnya susah napasnya Dok.. ngik-ngik gitu..” dan dengan panjang kali lebar kali tinggi, saya ceritain kisah sesaknya Aimee, termasuk soal Aimee yang ga mau netek beberapa hari, yang saya duga dengan sok tahunya, disebabkan oleh napasnya yang sesak.

Dokter menoleh ke Aimee, terus menatap kami dengan datar, “Mana bunyi ngik-ngiknya? Saya ga denger tuh..”

Kami diam. Errr, kayaknya ada sedikit deh itu bunyi napasnya. Kok dia bisa ga denger ya? Kemarin aja dokter B langsung denger dan langsung bilang, “Wahhh banyak dahak nih anak, tuh napasnya sampe’ kayak begitu..”

Dokter berdiri, bersidekap, menunggu respons kami. Kami salah tingkah. Pipi bersemu. Sekali lagi, bukan karena tampang Downey-nya. Gatau kenapa ya pokoknya bersemu aja. Ga usah ditanya.

“Errr itu bukannya bunyi ya Dok? Daritadi di mobil juga bunyi terus napasnya,” kata saya.

“Ya itu di mobil kan? Nah sekarang buktinya ga bunyi tuh? Mana?” tantangnya.

Kami diam lagi. Bingung dan speechless. Pengen tenggelam aja rasanya. Di laut Atlantik. Pacific juga boleh.

Akhirnya dia samperin Aimee yang lagi ditidurin di ranjang, terus dia mulai periksa-periksa. Dia bilang dengan sedikit nada sinis, “Kalo’ gitu nginep aja anaknya di sini.. biar napasnya ga bunyi lagi. Wong napasnya bersih kok di sini..”

Saya coba remind dia lagi, “Tapi ni anak juga ga mau nyusu (ASI) beberapa hari ini Dok.. kayaknya dia ‘engap’ gitu napasnya..” Dokter langsung melirik catatannya di meja. “Buktinya berat badannya naik tuh..” tantangnya lagi. Kami diam lagi. Pokoknya kerjaan kami cuma diam mulu di hadapan si dokter. Kayak orang gagu-grogi-gemetar-gigil-gelisah, sementara si dokter kerjaannya nantangin mulu, kayak jagoan.

Terus singkat cerita (karena udah capek ngetiknya), dia cuma kasih kami Sterimar Baby untuk legain napas, dan cuma suruh kami bersihin tirai, kamar, dinding dll. di rumah untuk mencegah alergi. Oh ya sempet juga sih dia sedot ingusnya Aimee (ih baik juga ya ni dokter). Semoga ingusnya lezat ya Dok..

Setelah selesai pemeriksaan, intinya saya menyimpulkan bahwa si dokter berpendapat :

* Pertama, selama berat badan naik, kemudian si bayi masih mau nyusu (dari dot) dan bayi ga rewel, ya artinya si bayi baik-baik aja.

* Kedua, ga peduli si bayi terlihat sesak, napasnya bunyi parah dll., pokoknya ya si bayi baik-baik aja. Lihat point satu di atas. Titik.

* Ketiga, kami para orang tua (baca : saya) adalah makhluk paranoid yang harus berubah dan belajar menerima kedua point di atas. Titik sekali lagi. Makan tuh titik.

Udah deh. Dari situ suami saya agak bete dan nyaris ga mau ke dokter itu lagi dengan alasan si dokter tidak komunikatif dan super jutek. Kayaknya emang kaminya aja deh yang apes, ke tempat si dokter setiap kali dia lagi bete. Perasaan sepupu-sepupu yang ke Dokter LH itu muji-muji si dokter mulu. “Orangnya sabar, baik pula..” kata mereka, yang bikin saya pingin be’ol sekejap kalau melihat pengalaman indah saya bersama si dokter.

Memang bingung sih bagaimana dalam 2 hari kami ke 2 dokter yang berbeda dan mereka bisa memberikan hasil yang totally different. Yang satu langsung bilang bahwa memang ada something problem, sementara yang kedua bilang ga ada apa-apa.

Sebenernya memang sih tujuan kita para orang tua pergi ke dokter itu menurut saya :

* Kita pingin denger dokter mengiyakan ‘dugaan’ atau diagnosis kita, dan kita hendak berkata dalam hati, “tuh kan bener kekuatiran gw.. something problem dengan anak ini!”
* Kedua, kita pingin denger dokter menenangkan kita, mengeluarkan statement kontra bahwa pendapat atau dugaan kita salah, dan kita akan berkata dalam hati, “Aduh untung anak gw ga apa-apa..”

Nah di dokter LH ini, saya sih lebih dengan reason nomor satu di atas. Saya merasa something wrong with napas Aimee seperti yang kemarin juga sudah ditegaskan oleh dokter B. Dokter LH memang menyatakan sebaliknya, yaktu bahwa Aimee ga apa-apa, tapi sayangnya saat itu Ybs. sedang bad mood sehingga kami akhirnya ga merasa mendapatkan penjelasan dan ketenangan.

Ya sudah deh case closed. Kami anggap Aimee ga apa-apa, walaupun kelihatan jelas banget nih anak napasnya susah dan bunyinya serem banget. Campuran bunyi grok-grok, bunyi reak yang ga bisa dikeluarin, dan bunyi ngik-ngik khas orang asma. Sepaket semua dalam napasnya, lengkap.

4. Bagian Keempat

Beberapa hari kemudian, namanya juga emak-emak baru, ngeliat anaknya masih begitu aja tanpa ada perkembangan, akhirnya saya bawa lagi Aimee ke dokter ketiga, dokter RH di RS Satyanegara Sunter. Pas dateng, Aimee lagi jamnya minum susu, dan sayangnya jamnya bertepatan dengan jam kami dipanggil masuk ke ruangan dokter. Padahal termos sudah dikeluarin, ready untuk bikin susu.

Ya udah kami masuk ke ruangan dokter dulu, dan si monster kecil mulai nangis meraung-raung, mostly saya yakin karena dia emang lapar dan mau nyusu.

Terus saya ceritain tentang napas Aimee ke sang dokter, dan dengan sangat cepat, dokter berkata, “Memang bayi itu suka kolik. Kalau kolik, ya dia akan nangis meraung-raung seperti ini…” dan Ybs. menjelaskan panjang lebar tentang kolik termasuk ngajarin cara pijat bayi. Saya setengah mendengarkan sambil bengong total, karena rasanya keluhan saya soal napas deh, bukan perut. Kalo’ kolik, saya ngerti, it happens sometimes ke bayi-bayi, tapi raungan Aimee hari itu lebih ke arah dia mau nyusu, I was quite sure. Lagian kok ga nyambung banget ya, orang lagi ngomongin napas, eh tau-tau dokter bahas Kolik dengan serunya. Berasa pingin koprol di tempat jadinya saking gregetannya.

Terakhir kami malah dikasih semacam suplemen untuk mengatasi atau mencegah kolik. Semacam probiotik. Pas saya tanya lagi mengenai napas Aimee, dokternya tersenyum, “Ga apa-apa kok..” DUENG.. kami pun tambah pusing tujuh keliling, Perasaan dokternya ga meriksa sama sekali deh, cuma langsung ngomongin kolik based on tangisan Aimee tadi. Sayang Aimee lagi nangis kejer, sehingga napas bunyinya itu ga kedengeran dan ga bisa saya tunjukkin ke dokter.

5. Bagian Kelima

Ya udah akhirnya kami balik ke dokter B yang pertama kali kami datangin itu untuk ambil obat dia karena udah gatau harus gimana. Setelah konsultasi sama kakak ipar saya yang dokter kandungan, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan obat tersebut untuk Aimee karena sepertinya obatnya quite safe. Selama 3 minggu kami kasih Aimee obat-obatan itu (bukan antibiotik) dan ga ada perkembangan berarti sehingga akhirnya saya pasrah dan stop-in semua obat itu karena ga tega lihat anak sekecil itu dicekokin sekian banyak obat dalam periode waktu cukup lama.

Jadi intinya pergi ke tiga dokter berbeda, semuanya berbeda, semuanya sia-sia. Hi-hi-hi.. *ketawamelengkingtandafrustrasi

Nah fenomena ‘shopping’ dokter semacam ini saya rasa common banget dan hampir pasti terjadi di semua ibu-ibu pas anaknya sakit dan kita tidak merasa mendapatkan jawaban yang kita mau (seperti yang saya tulis di atas), either jawaban yang membenarkan kekuatiran kita atau jawaban yang menenangkan hati kita.

In this case, akhirnya saya gave up and stop hunting dokter. Sambil setiap kali tersiksa ngeliatin napas Aimee, saya coba pantau terus perkembangan dia. Sekarang sih sepertinya dia agak mendingan (atau karena kaminya udah terbiasa dengan bunyi-bunyian dan kondisi dia ya? No clue). Plan saya sih, liat perkembangan Aimee sampai beberapa bulan ke depan. Semoga napasnya bisa membaik dan memang sayanya aja yang paranoid. Pingin banget bisa gantiin posisi dia, supaya dia ga perlu kesusahan kalo’ napas bak orang asma gitu.

Saya juga udah capek diomelin dan dinasihatin orang sana-sini, “Ga usah cari dokter lagi deh.. dokter a, b, c pasti beda semua..”, “jangan paranoid”, dan segala macam nasihat lainnya. I understand sih their point. Cuma susah ya, karena mereka gak ngalamin langsung ngeliat anak bayi 1,5 bulan napasnya definitely terlihat sesak dan dahaknya banyak. Memang susah jadi emak-emak. Being a wise one yang bisa tetap rasional dan tenang while seeing your baby suffer itu rasanya susah banget. Being a patient one yang bisa terima dengan humble semua judgment orang yang mempertanyakan keputusan kita untuk pergi ke dokter a, b, c, itu juga sama susahnya. Kadang memang silence itu solusi terbaik.

Udah deh sekian curhatan mengenai para dokter anak. Sampai sekarang saya masih ke dokter LH kalau untuk sekedar imunisasi. Anggap aja demi melihat tampang Robert Downey-nya. Dan, dan, dan, semoga, semoga, semoga, my sweet Aimee napasnya baik-baik saja ke depannya. My plan is to strictly monitor keadaan dia. Udah punya 2 nama dokter sih untuk dipergiin ke depannya, yang sepertinya lebih cocok untuk case-nya Aimee, yakni dokter alergi dari Klinik Sehat dan dokter anak sub spesialis pernapasan di Jatinegara. Juga, kalo’ napas Aimee udah mendingan, kami rencana ganti susu lagi – sehingga ga perlu tekor pake’ susu mahal yang bikin jutaan melayang tiap bulannya.

Happy friday! *buatparadokteranak

 

mom-holding-childs-hand-clip-art

Happy Friday!

Just FYI, ini bukan tulisan mengenai sesuatu yang baru. Jutaan emak-emak baru has experienced this; pengalaman bagaimana rutinitas dijungkirbalikkan dan keseharian diobrak-abrik oleh seorang makhluk yang berojol dari peranakan, atas titah Yang Kuasa.

So, inilah perubahan yang saya alami saat si kecil nongol tanpa tedeng aling-aling setelah bulanan merajalela di rahim :

* Website pertama yang dibuka saat browsing : Dulu so pasti http://www.21cineplex.com. Sekarang? No more cinema – forget it! “Google” sekarang adalah tautan utama yang didatangi tanpa harus dipikir dua kali. “Cara cepat menyendawakan bayi”, “Tips menghentikan cegukan pada bayi”, dan sejenisnya-sejenisnya itu yang sekarang jadi makanan sehari-hari. Ah, dasar ibu-ibu-baru-seumur-jagung!

* No more me-time. Saya hampir ga pernah melakukan perawatan wajah lagi. Paling maksimal ya hanya cuci muka aja, itu pun karena sekalian dilakukan pas mandi. Sebenernya sih bisa aja dilakukan kalo’ mau dipaksain, tapi gatau kenapa, setiap hari rasanya diri selalu berpacu sama waktu. Jaga anak jadi first priority, dan urusan tetek-bengek kecantikan lain seperti tidak lagi punya tempat, karena saya dan suami hanya jaga anak berdua tanpa bala bantuan. Bahkan pake’ krim penghilang bekas garis lahir dan bekas operasi Cesar aja ga lagi dilakukan dengan teratur, termasuk minum booster ASI, Mama Soya, dan apapun itu. Ga ada deh mikir gimana caranya supaya badan bisa balik kurusan seperti sebelum lahiran. Udah ga ada waktu mikirin solusinya. Perut ga balik? Ya udah terima aja sambil mulai memilah-milah celana yang masih muat dipakai. Body lotion dan parfum juga ga pernah dipake lagi dan nyaris mau dikasih ke suster sebelum kemudian si suster ngabur minta berhenti, Tapi body lotion and parfum matters ini lebih karena takut kena kulit sensitif si bayi sih #emak-emakkampungan #paranoid

* No more pup teratur everyday. Yang ada 2 hari sekali. Ga ada tuh leyeh-leyeh menikmati mulusnya luncuran feses ke jamban. Yang ada malahan ga sabar nunggu prosesnya selesai dan akhirnya keluar statement pasrah, ‘ga usah pup deh hari ini..’ saking terburu-buru mau balik jaga anak. Akibatnya : perut begah, kentut super-bau-busuk.

* No more belanja buat diri sendiri. Sekalinya keluar ke mall dan mampir di department store, yang dilakukan adalah nyatronin tempat baju bayi dan langsung heboh ber ‘aaah’ dan ‘iiiih’ melihat baju-baju bayi yang lucu dan cute, apalagi kalo’ ada diskonan dimana baju bayi cuma… 50 rebuuuuu!! OMG, bahagia banget! Pengen sebar duit rasanya.. Intinya saya jadi hilang selera belanja buat diri sendiri. Belanja baju bayi jauh lebih nyenengin, apalagi ga usah buang waktu nyoba-nyobain di ruang ganti seperti pakaian kita-kita orang dewasa. Walaupun secara teori tahu bahwa beli baju bayi itu buang-buang duit karena hanya bisa dipakai beberapa waktu saja, tetep aja godaan selalu berhasil menembus benteng pertahanan yang memang kendor ini. Oh no, siapa sih yang tahan ga belanja baju-baju yang lucunya bukan kepalang itu? Kalo pun ga di mall, sehari-hari pas lowong kerjaannya ngeliatin account baju bayi online di Instagram, hu-hu-hu..

* Kalo’ dulu postingan Instagram hampir pasti isinya gambar makanan semua, menumpahkan kerakusan yang terpampang jelas ke dunia dua dimensi, sekarang mah isinya postingan foto anak mulu. Ga tahan untuk ga posting dan mendokumentasikan kelucuannya yang bikin hati hangat.

* No more game. Goodbye Battle Camp and Hay Day. Bener-bener no time untuk main game, apalagi join event-event di game. Sesekali saya masih mainin Hay Day karena no pressure dan loadingnya lebih cepet ketimbang Battle Camp. No more balesin missed-call orang. Kalo’ penting toh orang itu akan telepon lagi. Pokoknya jadi jarang banget nyentuh HP.

* Tangan jadi kasar karena sering cuci tangan (biar steril dan higienis) dan cuci botol susu anak #nasibgapunyasuster.

Begitulah sekilas beberapa hal yang berubah. Gatau kapan semuanya bisa balik normal. However tetep aja sih berusaha di-enjoyin semuanya 🙂

 

Tags: ,

stock-cartoon-of-a-cartoon-nanny-goat-pushing-a-carriage-by-ron-leishman-11781.jpg

Recently Suster adalah sebuah momok cukup menakutkan di kalangan para ibu rumah tangga, tidak terkecuali saya sebagai emak-emak baru, mengingat maraknya berita di social media tentang berbagai kasus suster-suster mengerikan yang beredar di muka bumi. Mulai dari jahatin anak yang dijaga, kasus pencurian, dan masih banyak lagi.

Anyway, di luar hal-hal menakutkan itu, I hate the fact that I need a nanny. Aselik. Bener-bener ga kepengen punya suster, tapi apa daya bujang kantoran ini masih butuh uang sehingga perlu bekerja, dan si baby ga bisa ditinggal sendirian. I hate harus berbagi dunia dengan seorang yang tidak dikenal, harus berbagi ruang hidup dengan si mbak yang sebelumnya tidak pernah kita butuhkan; harus berbasa-basi tiap harinya dan mengobrol (sesuatu yang bukan merupakan kesukaan dan keahlian saya), harus paranoid setiap harinya – takut anak kita diapa-apain, benci pula fakta bahwa kita harus berbagi kasih sayang dengan orang tak dikenal itu #emakemakposesif. Pokoknya beneran kalo’ bisa sih ga kepengen deh kenal sama makhluk bernama suster. Tapi ya sudahlah, nasib sudah menuntun saya ke arah sebuah kebutuhan akan sang nanny sehingga akhirnya saya pun mencari nanny.

Awalnya, 1 bulan pertama, kami ga pake’ suster gara-gara orang-orang sekitar pada bilang, “Aduh ga usah pelihara nanny dulu deh.. Sayang.. bayi baru lahir palingan cuma nyusu-tidur-nyusu-tidur..” Hell yeah, yang ngomong gitu kayaknya udah lupa rasanya punya bayi atau ga tau fakta bahwa bayi jaman sekarang sungguh berbeda dengan bayi jaman dulu. Beneran, saran pertama saya adalah jangan percaya dengan ucapan ini. Ikutilah kata hati dan pengalamanmu. Dalam hal ini, saya mengikuti yang kedua : pengalaman. Pengalaman selama 1 bulan membuktikan bahwa saya dan suami ternyata benar-benar membutuhkan seorang suster karena bisa dibilang kami cuma berdua merawat si baby, tanpa bala bantuan berarti.

Seorang teman bahkan pernah berkata, “Haah? Lo orang ga pake’ suster? Gila lo berdua, asli..”

Jadi, sodara-sodara, bayi baru lahir itu ternyata memang bukan cuma tidur-nyusu-tidur-nyusu seperti yang dikatakan orang banyak, tapi (jangan lupa) juga pipis, eek, dan.. NANGIS. Kejer. Tanpa sebab. Di tengah malam buta. Tanpa mau tidur. Oh, jangan lupakan tetek-bengek lain seperti mencuci botol susu, sterilin botol susu, pijat payudara untuk perbanyak ASI, peras payudara supaya ASI banyak, dan urusan rumah tangga lain seperti ngisi air dan lain sebagainya. Intinya, BUANYAK banget kerjaan seorang emak-emak.

Dan akhirnya setelah 1 bulan struggling ga tidur tiap malem, kami pun menyerah dan mencari seorang suster. Dari seorang kenalan, kami dapat seorang suster senior dengan gaji 3 juta. Tanpa yayasan, sehingga ga ada biaya administrasi (tapi si suster tetap minta duit seragam – yah kasihlah.. cincay..).

Masuklah seorang suster senior ke rumah kami. Selama 12 hari. Abis itu tau-tau suatu pagi dia bilang, “Saya mau pulang aja ya Non..”

My response saat itu adalah : LEGA BANGET. Aselik. Damai sejahtera. Bahagia. Senang. Dan lain sebagainya. Karena seperti yang saya sebut di awal, saya adalah seorang makhluk pembenci nanny. Bener-bener 12 hari yang menyiksa harus hidup bersama dengan seorang suster dan memenuhi semua kebutuhannya. Saya terbiasa hidup sendiri, individualistis, sehingga harus memenuhi segala keperluan rumah tangga seorang suster rasanya beban banget buat saya.

Anyway si suster bilang bahwa penyebab dia resign adalah soal makanan yang ga cocok sama dia. Memang sih, Mama saya kan dulu beberapa kali operasi. Setelah itu dia lumayan jaga makan sehingga garam-garam dikurangi. Akibatnya makanan jadi agak tawar. Nah inilah yang menyebabkan si suster ga betah. Dia pernah bilang, dia ga selera makan di sini.

Plus, terakhir ada sedikit case di mana suatu sore ketika saya kelaparan berat, saya beli makanan di restoran di sebelah, kemudian makan pake’ nasi bikinan Mama. Mama bilang, “Nasinya Mama masak dulu ya yang baru..” Cuma karena udah kelaperan, saya bilang ga usah, mau makan nasi yang ada aja. Terus saya sekalian sendokkin si suster, dengan nasi dan lauk hasil beli yang sama, dan ternyata beberapa jam kemudian menurut si suster, nasinya itu udah BASI. Haaa? Asli saya kaget banget karena saya dan suami ga ngerasa loh. Saking laparnya, kayaknya kami makan aja dengan lahapnya, ga berasa basi sama sekali. Malam itu saya cuma bisa minta maaf sama si suster dan bilang bahwa kami beneran ga tau bahwa nasi itu udah basi. Beneran ga ada maksud sama sekali.

Dan si suster sambil berlinang air mata, di hari terakhirnya itu, berkisah bahwa seumur hidup dia ga pernah dikasih nasi basi. Saya sampe’ terhenyak, dan hanya bisa berkata pelan, “Bu, saya dan suami kan juga makan nasi yang sama. Kami sama sekali ga bermaksud ngasih Ibu nasi basi dengan sengaja..” Dia bilang, dia ngerti dan dia ga salahin kami. Ya sudah deh intinya selain soal makanan, sepertinya si suster merasa diperlakukan tidak layak bak TKW di luar sana. Saya pun ga bisa berbuat apa-apa.

Terus dia juga bilang bahwa tiap pagi dia ga pernah dikasih makan. Saya jadi bingung. Saya inget banget pas hari pertama itu suster bilang bahwa kalo’ pagi dia makan biscuit, roti, sereal atau semacam itu dan kami udah stock-in semua di kamarnya. Saya sendiri memang ga pernah sarapan, hanya minum jus aja. Jadi ga ada sarapan berat. Nah si suster juga otomatis ga disediain sarapan, dan sekarang dia bilang dia ga dikasih sarapan. Saya beneran pusing tujuh keliling deh.

Nah kembali ke masa-masa sengsara saya, jadi gini, selama 12 hari itu, saya harus ladenin percakapan-percakapan (ga penting) dengan si suster, yang lumayan doyan ngobrol. Saya itu paling ga demen ngobrol, apalagi dengerin cerita orang. Plus, ceritanya ga ada kaitan pula sama saya, seperti cerita tentang betapa baiknya majikan dia sebelumnya, atau cerita bahwa majikannya sebelumnya adalah seorang Manager di Prudential; atau cerita bahwa dia pernah diajak kerja ke Malaysia; atau cerita bahwa majikannya beliin dia piyama atau baju dengan branded terkenal; atau cerita bahwa ulang tahunnya dirayakan oleh majikannya; atau cerita bahwa dia berhasil menyelamatkan rumah majikannya dari perampok; atau cerita bahwa majikannya sangat sayang padanya sehingga datang pada saat anaknya kawin di kampung, dan masih banyak lagi.

Sumpah saya memang jahat. Saya beneran ga tertarik sama sekali dengerin cerita orang. Rasanya males banget harus comment, “Oh ya? Wah baik yah.. Wah ibu beruntung ya.. Wah asyik banget..” dan lain sebagainya. Rasanya saya hanya ingin menyusui anak saya dengan tenang dan khusyuk tanpa harus ditongkrongin plus diberikan selingan obrolan seperti ini. Asli saya memang orang purba yang demennya hidup menyendiri dalam diam. Ga doyan ngobrol.

Dan itulah salah satu 12 hari paling menyengsarakan dalam hidup saya.

Sebab lain yang tak kalah penting adalah soal senioritas si suster. Yang merasa diri sangat pengalaman dalam soal bayi sehingga memandang rendah kami, orang tua baru nan muda dengan anak pertama. Asli saya merasa begitu sering dibodohi oleh Ybs.

Berikut adalah contoh casenya :

  • My baby itu harus nyusu tiap 2 jam, karena awalnya dia kuning. Tapi syukurlah setelah itu si baby ga kuning lagi. Pas suster mulai kerja, si baby udah sehat sempurna sehingga menurut saya ga perlu nyusu 2 jam di MALAM hari. Maksud saya sebangunnya si bayi aja gitu. Plus toh berat badan si bayi naik-naik aja dengan mulusnya. Jadi ga kekurangan berat. Eh si suter menolak. Katanya harus 2 jam sekali, demi perkembangan otak si bayi. Bawa-bawa otak, saya jadi ngeri dan akhirnya pasrah mengikuti keinginan si suster. Dan sungguh bisa dibilang 24 jam saya harus menyusui 2 jam sekali. Bikin saya ngerasa jadi sapi perah dan ga punya hidup banget. Bukannya ngerasa si bayi sebagai beban sih, cuma come on, saya habis lahiran and I need to rest juga! Malam dengan 2 jam sekali menyusui itu, saya harus bangun sekitar 3 x, belum lagi effort untuk bangunin si bayi yang kalo’ udah pules, ditamparin kiri kanan pun dia ga bakalan bangun. Itu aja bisa makan waktu setengah jaman. Sudah deh jangan ditanya betapa capeknya saya. Setelah si suster berhenti, saya quit ikutin aturan 2 jam menyusui di malam hari and I feel much better, sekaligus ngerasa bego banget karena mau aja nurut sama si suster.
  • Waktu itu saya mau ganti lampu di kamar karena lampunya menurut saya terlalu redup. Saya lebih suka ruangan yang terang-benderang. Dengan tegas, si suster bilang, “Jangan, nanti panas..” Saya bilang, “Nggak lah Bu..” terus dia bilang, “Kasihan nanti anaknya kepanasan..” DUENG.. kesannya saya ibu yang jahat banget. Ampun deh, emangnya lampunya saya pasang 5 cm di atas kepala anak saya? Lagian Bu, di dunia ini sekarang ada yang namanya AC kali. Aduh, saya sampe’ berasa makan ati banget.
  • Terkait jemur pagi, di tempat saya itu kalo’ jam 7 pagi, sinar mataharinya belum keluar. Jadi biasanya saya start jemur itu sekitar 7.30 or 7.45-an. Dan… si suster menolak untuk jemur di jam itu. Alasannya nanti kepanasan bayinya. Padahal berdasarkan 1 bulan my experience, saya udah bilang jam segitu belum ada sinar matahari. Dengan tegas si suster memboyong anak saya keluar untuk jemur, tetap di jam 7 pagi. I just wondering, ini yang takut kepanasan anaknya atau susternya sih? Demikian juga dengan jam mandi, kalo’ saya mau telat dikit, pasti dia menolak sambil berkata, “Mandi sore itu paling telat jam 4 sore!” Haaa? Saya baru denger ada aturan kayak begitu. Padahal saya baru mau coba mandiin bayi di malam hari biar si baby tidur lebih lelap.
  • Di awal-awal kerja si suster, saya udah terlanjur ‘kontrak’ seorang mbak-mbak untuk mandiin my baby tiap pagi. Karena udah dibayar sebulan, ya udah tanggung, diterusin aja. Jadi agak overlap sama si suster sehingga akhirnya pagi hari si mbak yang mandiin, sementara sore hari si suster yang mandiin. Ini terus berlangsung sampai kontrak sebulan dengan si mbak itu selesai. Dan ya ampun saya kasihan banget sama si mbak yang mandiin my baby, karena terus diprotes sama si suster. Selama mandi, si suster ngawasin dengan mata elang dan comment sana-sini, menyatakan ketidaksetujuannya atas pekerjaan si mbak memandikan my baby. “Semua dokter sudah bilang, ga boleh pake gurita bayi.” “Baby Oil jangan dipake’ buat perut. Nanti bayi kepanasan.” Dan semua comment complain lain yang bikin si mbak jadi salting sendiri. Saya sendiri di tengah-tengah jadi bingung mau memihak yang mana. Ah memang susah kalo’ punya suster terlalu senior.
  • Waktu itu saya lihat ada kotoran di dahi anak saya. Terus saya seka pake’ tangan dan saya bilang, “Eh kotor..” Terus dia langsung agak ga seneng dan bilang, “Itu kotoran mah emang dari lahir!” Saya sampe’ bengong. Perasaan kotoran yang saya maksud ini ada semacam noda kayak bekas makanan gitu deh, bukan kotoran bekas lahir antah-berantah mana-mana. Lagian kenapa sensitive gitu ya? Saya kan gak nyalahin situ.
  • Kalo’ saya taruh suatu barang sembarangan, dia akan langsung complain, “Ini kenapa ditaruh di sini ya?” Atau, “Berantakan banget sih..” Haaah? Perasaan ini rumah saya deh. Emang sih suster yang satu ini resik dan rapi banget, which is good, cuma caranya ngomong itu, nyakitin banget, huehehe..
  • Kalo’ saya pilihin baju hari itu untuk anak saya, bisa loh si suster bilang, “Jangan yang ini. Yang merah aja, lebih bagus..” terus baju yang udah saya siapin ga disentuh sama dia. Diambilnya baju merah yang menurutnya lebih bagus itu. Kadang bikin ati sakit banget huhuhu..
  • Awalnya suami saya udah jelasin cara penggunaan mesin steril dan cara cuci selang untuk nyusu (waktu itu saya sempet pake’ selang untuk nyusuin anak saya, supaya anak saya belajar nyedot). Dengan pedenya sang suster berkata, “Saya udah tau. Dulu saya pake’ semua ini..” Dengan ga yakin suami saya pun membiarkan dia praktik dan menggunakan mesin steril serta mencuci sendiri selang bekas nyusu. Dan… seperti dugaan, caranya salah semua. Si suster hanya berkilah, “Dulu di tempat saya pakenya begitu kok..” Ya udah Sus, selamat pindah kembali ke majikan yang lama ya..
  • Habis nyusuin (netek) anak saya, biasanya next step adalah nyusu pake’ sufor. Maklum ASI saya masih sedikit. Jadi harus ditambah lagi pake’ sufor. Nah waktu itu setelah netek, saya bilang ke suster untuk gantiin pampers anak saya dulu, karena memang udah jadwalnya ganti. Dia langsung menolak dengan tegas, “Jangan! Baru juga netek. Nanti anaknya ganti pampers keguncang-guncang bisa muntah loh..” Ya sudah saya turutin saja. Eeeeh next days-nya, abis netek, saya pikir kan mau dikasih sufor. Eeeh si suster malah gantiin pampers dulu!! Saya sampe’ bengong. Lah kemarin katanya kalo’ abis netek digantiin pampers, takut anaknya muntah. Ini kok dilanggar? Eh alesannya, “Biar nanti abis nyusu sufor, anaknya bisa langsung tidur. Kalo’ abis nyusu sufor terus baru digantiin pampers, anaknya nanti bangun, susah lagi ditidurinnya.” Grrr… bener-bener ga konsisten!
  • Waktu itu Mama saya pernah gendong my baby sambil bercanda, “Aduh, Ama’ ajak ke rumah temen ya di sebelah.. gregetan, kamu lucu banget..” Eh langsung si suster nyamber, “Ga boleh. Masih terlalu kecil anaknya..” Emang sih si suster bener. Saya juga pasti ga kasih. Cuma caranya itu loh, lancang banget. I just felt that the way she talked itu ga proper banget. She spoke with my Mom, gitu loh!

Case-case lain yang cukup mengganggu buat saya adalah :

  • Suster ini punya kebiasaan nanya, “Kenapa?” -> bukan kenapa yang menanyakan alasan sesuatu, tapi kenapa yang menunjukkan keingintahuan. Misal saya lagi ngomong sama suami. Terus dia denger. Ga lama kemudian dia akan bertanya, “Kenapa Non?” Awalnya saya masih jawab, jelasin apa yang lagi saya omongin sama suami. Lama-lama, aselik GERAH banget, pengen ngamuk rasanya, sampe’ saya taruhan sama suami, berapa kali dalam sehari si suster akan nanya “Kenapa?”. Lama-kelamaan, saya mulai agak jutekin dan jawab, “Ga apa-apa!” pas dia nanya “kenapa” dan pengen tau pembicaraan saya dan suami. Ga semua hal harus dia diikutsertakan kan?
  • Setiap kali saya dan suami lagi ngobrol, dia pasti langsung nyamber ikutan ngobrol. Misal saya dan suami lagi ngomongin ayah teman yang meninggal. Lagi seru-serunya ngobrol tau-tau tanpa ba-bi-bu si suster nyamber, “Eh kalo temen saya bla bla bla..” dan selanjutnya akhirnya kami pun jadi ngobrol bertiga, padahal seperti yang sudah saya tulis, saya mah ga tertarik dengerin cerita dia, karena ga ada kaitan dengan saya dan kedua karena saya memang jahat.
  • Selain kepo bin ajaib, suster ini juga lumayan pintar. Jadi waktu itu mertua saya datang berkunjung ke rumah. Dia notice bahwa si suster menggunakan alas ompol di pundaknya, untuk tatakan gendong si baby. Mertua pun complain, “Sus jangan pake’ tatakan ompol dong.. kan itu buat kepala bayi..” si suster langsung menggumam-menggumam, kemudian menyingkir gitu sambil membawa si bayi. Saya sih cuek-cuek aja ya sepanjang kainnya toh bersih walaupun memang sebenernya kain semacam itu digunakan untuk alas ompol pas ganti pampers or popok. Beberapa hari kemudian, kami main ke rumah mertua, dan… si suster mengganti alas di pundaknya dengan kain bedong yang bagus! Ga pake’ alas ompol lagi. Wow, peka sekali dia. Padahal beberapa hari kemarin setelah ditegur dan setelah mertua saya pulang, si suster tetep pake alas ompol yang sama tuh. Dan yang lebih ajaib, setelah pulang ke rumah dari kunjungan mertua itu, si suster kembali lagi memakai alas ompol. Lihai yah..

Daaaaan banyak lagi case-case lain. Pernah juga sang suster nanya suami saya (di depan saya), saya dan si suster gendutan siapa.. saya sampe shock lagi, duh.. mentang-mentang berat badan saya masih 59 kilo.. *tapi swear loh bener-bener saya jauh lebih kurus ketimbang si n’cus yang udah ibu-ibu beranak sekian itu.

Yah pokoknya sudah saya bilang beneran 12 hari itu saya jadi tambah jahat banget karena jadi kesel melulu bawaannya sama si suster, tapi ga berani terang-terangan nunjukkin karena takut dia bete or kesel and disalurin or ditumpahin ke anak kita. Aduh asli deh beban banget. Kayaknya orang paranoid dan jahat kayak saya emang ga boleh punya suster kali ya.

Dan pas hari dia resign itu, setelah merasa sangat gembira, saya pun kasih ongkos pulang ke dia sebesar 300 ribu, tapi karena kasihan saya kasih aja tambahan 200 ribu lagi sehingga total jadi 500 ribu.

Ga berapa lama setelah dia packing-packing, dia nyamperin saya, terus bilang, “Non kok duitnya segini?”

Saya bilang, “Oh iya Bu emang saya tambahin..”

Terus dengan mata membelalak, dia bilang, “Gaji saya kan lebih dari 500 ribu!”

Dan saya pun bengong, kemudian baru sadar bahwa ternyata dia kira 500 ribu itu adalah gaji dia. Saya cuma tersenyum pahit, “Bu, itu baru ongkos pulang saja. Gaji Ibu 12 hari nanti saya transfer setelah ini..”

Si Ibu ketawa malu, “Oh.. ya udah, jangan lupa ya..” DUENG!!!

Kemudian-kemudian, semingguan setelah si suster pergi, pembantu saya cerita bahwa si suster curhat ke dia, bahwa si suster merasa ‘terkekang’ karena terus diawasi sama saya selama dia nyendokkin susu buat anak saya.

Saya terhenyak. Lagi.

Jadi gini kisahnya. Setelah ke klinik laktasi, saya disuruh pake’ selang untuk nyusuin anak saya, supaya anak saya belajar ngisap dengan benar. Teknisnya saya ga usah jelasin yah karena agak ribet. Nah beberapa hari pake’ selang selama ‘pemerintahan’ si suster, saya merasa ga terlalu nyaman karena selangnya itu kan disodok-sodok ke dalam mulut anak saya. I was just afraid kalo’ someday mulut anak saya luka. Plus saya takut si suster nyuci selangnya ga bersih. Yang ada malah tuh selang jadi sarang kuman or something like that. Jadi saya pikir saya mau stop aja pake’ selang. Alternatif lain adalah pake’ sendok. Saya sementara ga mau pake’ dot karena takut anaknya bingung puting.

Jadi ya udah setelah itu kami pun pake sendok. Dan yang namanya pake’ sendok kan lumayan ngeri ya. Ada banyak kasus bayi meninggal karena tersedak, dan ada saudara suami yang anaknya meninggal baru-baru ini karena tersedak. Jadinya yah saya juga agak parno dong. Walaupun si suster bilang dia udah biasa nyendokkin bayi, saya tetep liatin mereka selama si suster nyendokkin anak saya. Apalagi pas malem, kan takut si suster masih ngantuk, capek, or ga sabaran nyendokkin.

Dan si suster cerita ke pembantu bahwa dia merasa ga dipercaya sama saya, karena tiap nyendokkin anak ajah, saya ngawasin terus. OMG.. OMG.. saya sampe’ shock berat. Itu kan anak saya! Rasanya saya mau koprol, mau ngupil, mau mencret di depan anak saya, itu hak saya deh. Kedua, ini soal SENDOK yang memang resikonya agak tinggi. Apa salahnya saya bantu liatin pas dia nyendokkin anak saya?? Saya toh ga berdiri tepat di samping dia dan ngawasin kayak inspector atau semacam itu, tapi duduk agak jauhan dikit di ranjang, dan sambil mainan HP pula kadang-kadang. Ketiga, si suster adalah orang yang baru saya kenal beberapa hari saja, how come saya bisa langsung ‘lepas’ anak saya disendokkin sama dia, seseorang yang saya belum tahu tingkat kesabarannya dll?

Asli saya sampe’ bener-bener sedih, sakit, pahit, kesel, dan kecewa banget. Kok bisa-bisanya suster ngomong gitu ke pembantu.

Okelah, intinya ya sudah, saya kecewa dengan si suster – yang mungkin sudah sangat senior sehingga merasa harus semua aturannya yang dilakukan, plus ga mau diawasin or diliatin, tapi di satu sisi lain saya ngerasa free banget pas dia berhenti.

Di luar semua hal jelek (maafkanlah, ga tahan pengen numpahin uneg-uneg) di atas, suster saya itu adalah seorang yang sangat profesional. Kerjanya bagus dan disiplin. Hanya aja karakternya kurang cocok dengan kami (baca : saya).

Setelah itu, saya dan suami ngurus my baby berdua lagi. Biarpun capek setengah mati, at least saya lebih damai dan ga ada tuh beban or pressure tiap bangun, harus ngadepin seseorang yang saya ga suka.

Anyway, setelah saya kerja nanti, kami tetep akan butuh suster. At least saya mau enjoyin masa-masa berdua sama si baby alias masa tenang tanpa suster. Lumayan trauma dan saya berdoa banget semoga next nya kami bisa ketemu suster yang cocok.

Buat kalian yang sudah berhasil ketemu suster yang baik dan cocok, berbahagialah kalian dan bersyukurlah. I want mine, too 🙂

 

2016125151205[1]

Aimee Lynn. Banyak orang tanya, kenapa ni anak dikasih nama kayak gitu. Ada juga yang bilang namanya aneh, ga familiar, jarang denger, dll., hihihi.. Syukurin..

Sebenernya saya memang sengaja nyari nama yang belum banyak dipake’ orang. Habis kecepatan pertumbuhan populasi bayi di semesta kayaknya melebihi kreativitas manusia dalam mencipta nama, jadinya banyak banget anak yang bernama sama.

Tadinya saya mau kasih nama Elaine or Faye ke si baby, tapi apa daya udah banyak yang pake’ juga (‘poke’ implisit ke temen saya Farica sama Eric). Maklum saya manusia sedikit sombong bin congkak, jadinya pinginnya nama anaknya belum pasaran-pasaran banget.

Terus setelah merenung setiap hari dengan teduh dan khusyuk dalam perjalanan ke kantor di busway, akhirnya saya memutuskan pingin kasih nama Renee ke nih anak. ‘e’ nya sih pengennya pake ‘e’ yang di atasnya ada garis miring tuh, kayak model Perancis punya. Maklum, namanya juga nama dari Bahasa Perancis. Sekali lagi harap diingat saya manusia sombong.

Apa daya ternyata memang ga memungkinkan, kalo’ pake’ ‘e’ yang aneh-aneh gitu di Indonesia ini, jadinya ya udah Renee aja tanpa sentuhan cantik garis seksi di atas huruf ‘e’-nya.

Sejalan waktu, saya mulai ragu sendiri karena bingung, ‘Renee’ itu diucapinnya ‘Ri-ne’ atau ‘Re-ne’ ya? Aih, si manusia congkak tertelan kesombongannya sendiri dan harus menderita sebuah kebingungan. Google sana-sini, kayaknya sih orang Perancis aslinya ngucapinnya ‘Re-ne’ sementara orang bule ngucapinnya ‘Ri-ne’. Jangan-jangan orang Indo ngucapinnya ‘Re-ne-e’. Lebih ngaco lagi. Nah lo, jadi tambah bingung kan.

Kebingungan semakin merebak karena setau saya nama Renee banyaknya dipake’ sama kaum adam deh di Perancis sana, sementara anakku kan perempuan! Kayaknya ga rela juga namanya jadi biseksual gitu. Akhirnya saya memutuskan untuk mulai menyeleweng ke nama lain.

Gatau kenapa, either gara-gara nonton Asia Next Top Model atau saya memang pinter, tau-tau saya nemu dan falling in love sama nama Aimee, salah satu kontestan di acara itu yang masuk 3 besar dan merupakan salah satu favorite saya karena kecantikan dan kekalemannya. Eh, lagi-lagi nama Perancis. Biarpun sombong nan angkuh, saya sebenernya demennya nama yang simple; ga keberatan dan merupakan nama ‘jadi’, bukan nama jadi-jadian atau dibuat-buat. Ermmm nama yang dibuat-buat itu maksud saya adalah nama hasil kreativitas para mama, misal kayak Rubenia atau Joicelyne atau semacam itu. Eh maaf ya buat yang bernama seperti itu atau yang punya anak dikasih nama seperti itu. Itu kan cuma pendapat wanita sombong ini saja. Eh (lagi), pada ngerti kan ya maksud saya.. maksudnya saya lebih suka nama yang ‘jadi’, bukan yang dirangkai-rangkai sendiri gitu.

Balik ke nama Aimee, saya baru inget juga bahwa di Indonesia ada model yang namanya Aimee Juliet. Jadi yah nama ini ga ‘asing’-‘asing’ banget lah ya..

Setelah cukup mantap dengan nama ini, iseng-iseng saya google, ni nama punya arti ga ya.. Pas dicek, eeeeh ternyata artinya (kalau ga salah inget – males google lagi) dalam bahasa Perancis adalah Yang Disayangi/ Tersayang/ Terkasih. Mirip-mirip gitu deh. Saya langsung hepi dan surprise banget, karena emang bener sih ni anak pasti banyak banget yang sayang (pe-de) secara keluarga saya keluarga besar, keluarga suami juga ga mau kalah, keluarga besar pula. Diliat dari sisi kuantitas, pasti ada banyak orang yang bakal sayang sama nih anak. Iya ga sih? Jadi saya ngerasa makna namanya kok nendang banget ya.

Dan ga berapa lama kemudian, pas mau formulain nama mandarin buat Aimee, eeeeh ternyata ada huruf ‘Ai’ dalam nama itu, yang dalam bahasa mandarin berarti Cinta. Ya ampun, kok bisa sama dengan arti dalam bahasa Perancisnya? Saya sampe’ takjub dan bener-bener ngerasa miracle banget. Agak lebay sih, tapi berasa keren aja gitu nih nama bisa punya makna yang aligned antara bahasa Perancis dan mandarinnya. Seneng banget! Jadi makin mantep untuk pake’ nama Aimee.

Eh iya satu lagi, Aimee itu juga bisa ditulis sebagai I Am Me. Aimee. Hi-hi, berasa norak banget. Kan bisa buat identitas diri gitu. I Am Me.

Mengenai nama keduanya yakni ‘Lynn’, saya gatau sih asal-muasalnya dapet darimana, pokoknya seperti yang saya bilang, saya emang demennya nama yang simple dan ga berat. Jadi ya udah pake’ Lynn aja. Beberapa orang bilang nama ‘Lynn’ ini kayak orang Bule, which is bikin saya agak bingung. Masa sih ya? Kalo’ iya ya ga apa-apa juga sih, cuma mau bingung aja. Boleh kan?

Oh ya ada juga sih yang nanya, “Ga kasian namanya berhuruf depan ‘A’? Nanti kalo’ di sekolahan, dia selalu dipanggil pertama loh..” Bener juga sih, saya juga udah lama kepikir gitu, tapi saya pikir ga apa-apa lah, ada enaknya juga. Dipanggil duluan, abis itu ‘deg-degan’nya ilang, ga ada beban lagi. Coba bayangin anak yang huruf depannya ‘Z’, pasti deg-degan nunggu dipanggil ujian praktik olahraga, nunggu pengumuman nilai (misalnya), dll. Nama depan ‘A’ bebannya cuma sebentar, habis itu bisa santai-santai.

Nah begitulah sejarah nama Aimee Lynn. Sederhana dan simple, seperti namanya.

Mengenai Aimee sendiri, setelah hampir 2 bulan kenal dia, ternyata anaknya sangat ‘mengejutkan’ terutama dari sisi emosi. Ga sabaran, cepet marah, grumpy, dll. Contoh :

  • Akan marah-marah dan ngedumel dengan bahasa bayi paling ajaib bak nge-rap, saat ada orang yang berisik/ngobrol pas dia lagi menyusu. Oh, bahkan pernah pas lagi menyusu, perut saya bunyi karena laper, dan believe It or not, matanya langsung buka, dan dia langsung nangis sambil ngeluarin bunyi aneh yang intinya marah-marah. Cukup lama untuk ngeredain nangisnya. Pokoknya kalo’ lagi nyusu, dia maunya tenang damai sentosa.
  • Kalau lagi ‘nete’ dan pasokan mulai seret (maklum ASInya masih dikit), dia juga akan marah-marah dan mulai nge-rap ‘maki-maki’ (bahasa ‘halus’) yang kedengerannya lucu dan ajaib banget, bikin kita mau ketawa. Plus badannya akan dia banting sana-sini untuk berusaha meraih, menarik, menggigit, dll. Berasa ngeliat bulldog. Takjub deh akan kelenturan gerak badan dan kepalanya.
  • Kalau lagi tidur, dia sering ngulet/menggeliat dan keluarin suara marah-marah/ teriak gitu.

Yah pokoknya ni anak ajaib deh. Ga sabaran dan agak sedikit pemarah. Semoga gedean dikit, emosinya lebih stabil ya Nak..

Biarpun dia sedikit temperamental, tentu aja kami-kami yang namanya bapak-emaknya sayang banget sama nih anak. Gatau kenapa ya, liatin tampangnya yang lucu, gendut, berdagu lipat dll. bikin ‘nagih’ banget. Kadang bisa sampe’ berlinang air mata karena terharu dan ngerasa sayang banget sama nih bocah *emak-emak lebay yang emosinya ga stabil dan hipersensitif. Rasanya emang jadi lebih sering nangis pas udah punya anak, daripada pas hamil.

Selain nangis, saya dan suami juga sering banget dibuat ngakak sama anak yang satu ini, terutama oleh tingkahnya pas mau tidur/ pas lagi tidur. Mata yang teler sehingga bagian bola mata itemnya ilang, menyisakan bagian mata yang putih saja (we call it mata Sadako), kemudian sering ngakak sendirian pas mau tidur sampe’ ranjang bergoncang-goncang dan bikin kami kaget (gatau kenapa), dan masih banyak lagi. We simply love and enjoy all the moments!

Btw juga, si Aimee ini katanya mewarisi mulut jutek mamanya (we call it mulut Gunung Fuji), dan forum muka bapaknya. Hidungnya sih tengah-tengah deh, campuran hidung mommy-daddy-nya, jadi lumayan adil.

Waktu lahir, kepala Aimee sempet benjol sebelah, tanpa sebab musebab apapun. Konsultasi ke berbagai dokter, katanya sih ga apa-apa, cuma kepentok jalan lahir or tulang vagina, dan syukurlah sampai sekarang kepalanya udah kembali ke ukuran normal. Problem kepala lainnya sekarang muncul, yakni gepeng sebelah gara-gara tiap tidur/digendong, kepalanya selalu belok ke sebeah kanan. Duh!

Aimee-dudut (panggilan sayang), kadang juga kami panggil Little-Monster karena beneran bikin kami dag-dig-dug dan agak paranoid. Setiap dia start agak pules pas kami tidurin dia dan taruh dia di boxnya, cepet-cepet kami berjingkat-jingkat tanpa suara, ngumpet dan balik ke ranjang, menatap nanar langit-langit dengan big-worry-takut-dia-bangun yang biasanya terbukti benar.

Begitu kami denger satu bunyi aneh tanpa dosa dari mulutnya di box tempatnya bertakhta itu, pertanda nih anak bangun lagi, langsung jantung kami berpacu lebih cepet dan keringet dingin ngalir keluar; tanda we’re ready untuk start dari awal lagi nimang-nimang, nyanyi-nyanyi, gendong dengan segala gaya dan usaha untuk bikin dia pules dan mau lagi ditaruh di box-nya. Arrrgh, our sweet little monster!

Buat masa depan Aimee, plan jangka pendek adalah bikinin dia email address dimana saya bakalan tulis surreal buat dia anytime, dan bakal kasih dia passwordnya pas dia udah gede. Semoga dia cukup rajin untuk mau baca surat dari Mommynya selama belasan tahun! -> rencana masa depan jangka pendek yang ga penting banget hihi.

Rencana lain adalah bukain tabungan buat dia sehingga dia punya duit sendiri, tempat dia bisa simpen hasil pemberian orang-orang pas dia lahir, pas Imlek, dan pas ulang tahun setiap tahunnya. So at least buat dia sekolah, ada sedikit dana yang bisa dipake. Kami berdua, saya dan suami, commit untuk ga touch duit itu sama sekali. Itu adalah duitnya Aimee dan kami hanya boleh pake’ untuk kepentingan dia.

Last but not least, tiap ari Mommy and Daddy selalu ngedoain biar Aimee tumbuh jadi anak yang takut dan cinta mati sama Tuhan. I don’t need anak yang pinter, cantik, dll. (ga perlulah, udah ada gen emaknya). I just want anak yang selalu pegang tangan Tuhan selama idupnya, muliain nama Tuhan dan jadi berkat buat sesama, secara saya tau, kami ga akan mungkin terus ngawasin Aimee seumur hidup. Cuma berserah sama Tuhan dan doain Aimee selalu jalanin firman Tuhan, yang bisa bikin kami hidup tenang dan yakin bahwa anak ini akan ‘baik-baik saja’. Ga akan ada gunanya kuatirin apakah dia akan terjun ke pergaulan bebas, apakah dia akan punya pacar yang ga baik, dll. Mikir dari A sampai Z, ga ada jalan lain untuk tenang selain berserah. Sepanjang Aimee hidup takut akan Tuhan, maka kami orangtuanya bisa tenang. Makanya itu yang selalu saya doain. Semoga kami dapat hikmat untuk mendidik dan merawat dia dengan baik. AMIN.

 


Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,714 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Everyday in my mind : Bintan. Lombok. NZ. UK. Greece 😣😣😣
.
#trip
#vacation
#holiday
#dream
#target
#bucketlist 💜💚💙❤
.
#aimee
#ootd
#baby
#instababy
#cutenessoverload 
#cute 🍣🍣🍣🍣 all u can eat
.
* nice food, semua sushinya enak! Sashimi truffle recommended. Jenis makanan lumayan banyak dan lengkap.
.
* poor service, tampang waiter waitressnya super datar bikin kita pingin mencret. Makanan lamaaa bgt and pesen 15 macem yg dateng 10 macem. Pesen 50 slices yang dateng 25 slices. Niat bikin AYCE ga si? Triknya elegan-an dikit dong.
.
* pesen ice cream, 1 scope-nya kecil banget, miris hati ini. Minta tambah, baru dateng setelah 15 menit. Segitu lamanya ya serve 1 scope amat-sangat-kecil ice cream?
.
* selesai
.
Karena makanannya enak maka masalah service tadi sedikit (saja) termaafkan
.
Harga buffet nett 234 rb. Anak kecil di bawah 10 tahun 50 % harga. Semua sudah termasuk free flow ocha. Time duration 2.5 hours.
.
#review
#restaurantreview
#3wisemonkeys
#senopati
#buffet
#japanese Amazed with the confetti
.
#aimee
#baby
#happybdaykarliekaylee 
#instababy 
#bakmigolek 
#party
#kauskakinyaitem Happy bday Karlie and Kaylee 😎
.
@kaylee_jovanka
@di4n_agust1na
@ivan_salim
#niece
#cousins
#family
#happybdaykarliekaylee 
#birthday
#bakmigolek
#party Mi gede familia 👦👧👨👩👴👵
.
#family 
#bigfamily
#cousins
#blessing
#happybdaykarliekaylee 😎😎😎
.
#aimee 
#baby
#instababy
#cutenessoverload Paling demen pake sepatu orang 😄
.
#aimee
#baby
#instababy
#cutenessoverload Our humble buka puasa. Ga kenyang but had a fun and lots of laugh 😁
.
#bukber
#bukapuasa
#office
#alfalaval
#dinner
#ramadhan
#puput 🤣🤣🤣🤣
.
#aimee
#instababy
#baby
#learning
#motoric
#gregetansendiri Not a big one but has unique room with stair and small living room
.
#hotel
#hotelreview
#studioMhotel 
#design
#interiordesign Met buka puasa
.
#latepost
#colettelola
#drink
#beverage Nice spot to chill out 😀
.
#greenery
#hotel 
#studioMhotel
#spore
#design 
#interior -> baru cobain #telatbanget
.
Lebih suka saingannya, si Golden Duck something itu 😀
.
#irvins
#saltedegg 
#snack
#spore
#food
#fishskin Cute!
.
#animal
#beach
#sand
#seashell 
#maldives #snorkeling
#maldives
#buffy
#beach
#sea
#turquoise 
#holidayisover 
#traveling #beach
#sand
#turquoise 
#adaaranprestigevadoo 
#adaaran 
#resort
#holiday 
#traveling 
#maldives 
#island #sandbank
#beach
#turquoise 
#sea
#view
#panoramic
#landscape
#maldives Maladewa rasa Belitung
.
#beach
#sand
#sea
#sandbank
#maldives 
#holiday 
#traveling Milky time with yoga 🍼
.
#missu
#aimee
#baby
#instababy

Blog Stats

  • 441,553 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

June 2017
M T W T F S S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: