Fanny Wiriaatmadja

Posts Tagged ‘Zurich

HARI 2

Lanjutan dari postingan sebelumnya di sini

Pagi hari Anda akan berkesempatan mengunjungi Mt. Titlis, pegunungan yang memiliki ketinggian 10.000 kaki dengan melalui Engelberg, tempat stasiun Cable Car berada. Tiba di Puncak Mt. Titlis dengan Revolving Cable Car (kereta gantung berputar pertama didunia). Dipuncak Mt. Titlis, Anda dapat bermain salju, berfoto atau berbelanja aneka souvenir serta mengunjungi Ice Grotto (Goa Es). Kemudian kita akan menuju kota Lucerne untuk mengunjungi Lion Monument, yang di dedikasikan kepada tentara yang gugur di Perang Revolusi Perancis.

Bangun dengan terkantuk-kantuk karena ga bisa tidur, terus mandi dan breakfast. Breakfastnya standard aja tapi masih lumayan variasi deh. Ada scrambled egg, sosis, pancake dll.

Rute hari ini adalah menuju desa Engelberg untuk selanjutnya naik cable car ke Mt. Titlis, salah satu gunung salju terkenal di Swiss. Kalo’ ga salah ada beberapa gunung yang biasanya dijadikan objek wisata di Swiss ini. Mt. Titlis, Glacier 3000, Jungfrau, sama Matterhorn, gunung yang ada di bungkus cokelat Toblerone.

Pagi ini gw sengaja pake long john buat antisipasi aja karena katanya suhu di atas bisa 0 – 5 derajat. Plus ga lupa bawa 1 light jacket.

Perjalanan sekitar 45 menitan ke Engelberg. Pemandangannya lumayan cantik dalam perjalanan. Ada danau cantik yang warnanya intense banget.

20160911_102307

Turun dari bus, pemandangan udah lumayan cakep sih, gunung batu yang shadowingnya bagus banget, di atas barisan rapat pohon-pohon hijau. Suhunya juga enak. Cable car udah mulai keliatan naik turun. Sambil foto-foto, kami nunggu 1 rombongan peserta yang baru nyusul hari ini karena ada tante yang baru keluar rumah sakit. Setelah cukup lama nunggu, akhirnya rombongan tsb. datang dan baru deh kami masuk bareng-bareng ke stasiun cable car-nya.

20160911_102442

20160911_104244

20160911_104343

20160911_104014

20160911_104956

Boneka ga penting yang entah kenapa tetep perlu difoto dan ditampilkan

20160911_103148

Kami akan naik 2 x cable car yang berbeda, dengan sekuens yang berbeda pula. Cable car pertama cukup kecil, untuk ukuran 4-6 orang saja. Naik ke atas dengan cable car pertama sekitar 15 menitan dengan pemandangan (lebih banyak) hehijauan, kami akan ngelewatin 1 stasiun (ga turun karena memang tujuannya ga ke situ) dan baru turun di stasiun kedua. Stasiun pertama itu lebih untuk resort tempat tinggal dan tempat main ski. Di perjalanan, selama di cable car pertama, kami bingung kok ada kayak bunyi kecapi or gamelan gitu di dalam cable car nya. Gw mendadak baru inget (pernah baca) bahwa itu adalah bunyi klenengan sapi.

dscn7266

dscn7267

dscn7281

20160911_102145

dscn7280

20160911_141624

20160911_100813

dscn7291

20160911_135548

img_20160911_164043

Di stasiun kedua kami turun dan berganti naik revolving cable car/cable car yang bisa muter dan muat orang banyak banget, sampe’ puluhan orang. Ini ga ada kursinya, jadi semua harus berdiri. Dindingnya kaca semua jadi bisa bebas liat view ke pegunungan. Viewnya lumayan sih tapi ga impressive menurut gw. Di sini mulai saljunya kelihatan. Jadi putih lebih mendominasi.

dscn7311

20160911_130021

20160911_135943

dscn7317

dscn7319

20160911_135514

Akhirnya kami tiba di pemberhentian akhir yang merupakan satu bangunan kayu (semacam rumah) yang terdiri dari beberapa tingkat. Tiap tingkat beda-beda, ada restoran, tempat foto dengan baju tradisional Swiss, toko oleh-oleh, gua es, dan puncaknya di tingkat paling atas adalah outdoor tempat main salju atau main ski.

dscn7325

Mumpung belum terlalu ramai, kami mutusin untuk makan dulu di restoran self service. Tempatnya cukup nice, dengan lantai kayu dan jendela super gede tempat kita bisa melihat pemandangaan salju di luar. Masih agak pagi, tapi restorannya udah mulai crowded dengan para turis.

dscn7328

20160911_121022

Selain western food, ada makanan India juga loh di sini. Gw pernah baca bahwa ada orang India yang punya resort di Mt. Titlis ini, sehingga ‘masuk’ jugalah makanan India. Mama pesan spaghetti biasa, sementara gw pesen makanan India yang kebanyakan terdiri dari kuah-kuah kental khas India yang super sedap. Untuk makanan India, makanannya ditimbang dulu, baru dicharge sesuai beratnya. Sepiring makanan India gw itu harganya EUR 12.5. Hampir 200 ribuan deh. Makanan Mama kayaknya lebih mahal, tapi gw lupa berapa. Everything’s expensive here in Switzerland.

20160911_120931

Spaghetti yang sangat biasa rasa dan tampilannya

20160911_120929

Ini enak banget. Kuahnya sedep pula. Seinget gw habis dalam tempo waktu less than 5 minutes.

20160911_121008

20160911_121037

Bangkunya gambar-gambar binatang ^^

Setelah cari bangku kami duduk dan makan. Makanan India punya gw lumayan enak loh. Cepet banget abisnya, saking lapar, doyan dan enak. Spaghetti punya Mama bisa dibilang ga enak.

Ga lama setelah makan, gw dan Mama langsung naik ke lantai tertinggi untuk liat salju. Begitu buka pintu, kami disambut hawa dingin dan pemandangan serba putih. Ada deretan bangku-bangku dulu tempat orang bisa duduk. Kiri kanan sekelilingnya ada semacam pagar tinggi sebagai batas, dimana kita bisa liat open view dari situ. Jalan jauhan dikit, langsung terbentang salju putih. Ada jembatan pula yang katanya lumayan sereem (kata peserta lain). Apesnya, karena gw pake boat yang somehow alasnya licin, gw lumayan setengah mati jalan di atas salju. Hampir tiap langkah gw nyaris kepeleset, sementara gw perhatiin orang lain fine-fine aja. Kayaknya memang sol sepatu gw yang kurang cocok digunakan di atas salju. Berasa pengen nyeker aja jadinya.

dscn7336

dscn7337

20160911_122834

20160911_123021

20160911_123220

Selfie dulu karena celingak-celinguk ga nemu temen sesama tour untuk minta tolong fotoin.

img_20160911_164244

20160911_123019

dscn7331

Ya udah akhirnya gw ga berani jalan jauh. Cuma foto-foto dikit aja, abis itu balik dan liat-liat pemandangan. Hirup udara dalem-dalem, nikmatin segernya hawa pegunungan. Suhu ternyata ga gitu dingin juga. Adem aja gitu kayak di Bandung. Untung ga heboh pake winter coat segala (walaupun udah bawa di koper, hasil malak cici).

Sambil gw jalan-jalan di salju tadi, Mama duduk aja di kursi-kursi di deket sana dan malah di-pedekate-in sama beberapa orang rombongan turis dari Taiwan dan China. Gw dari jauh udah ngawasin aja sih. Agak-agak worried ya, takut si Mama diapa-apain, plus ngiri juga, gw yang kece gini aja ga ada yang pedekate-in, eeeh Mama yang udah tua-tua keladi malah laku pisan.

Akhirnya cepet-cepet gw samperin mereka dengan langkah gagah dan galak. Ternyata mereka lagi ngobrol-ngobrol heboh pake’ bahasa Mandarin (yang tidak gw mengerti) dan Mama lagi diramal tangannya (katanya Mama orangnya beruntung, nasib baik, anak-anak baik, dll. -> diterjemahkan dengan bangga oleh Mama). Halahh.. Gw masih agak curigaan sih, tapi dipikir-pikir sepertinya ga mungkin ada modus apa-apa sih secara mereka satu rombongan tour juga dari negeri lain, sama kayak kami-kami. Ya udah gw cuma liatin aja sambil terus lirik-lirik tangan-tangan mereka, siapa tau ada yang mendadak-copet. Soalnya aneh aja gitu, kok bisa semua ‘ngeroyok’ Mama yang tadinya lagi duduk manis-manis sambil nunggu anaknya yang juga manis.

Akhirnya ga lama-lama juga sih di situ karena ga ada aktivitas yang dilakukan juga secara sepatu gw licin dan ga bisa mainan salju. Kerjaan selanjutnya adalah explore lantai demi lantai di bangunan itu. Buntut-buntutnya kami pesan es krim Movenpick seharga 3.8 CHF.

20160911_131258

Es Krim Movenpick. Rasa? Biasa banget.

Habis makan es krim (yang rasanya biasa banget, beda banget sama es Italy kemarin), Mama belanja dark chocolate di toko cokelat (iyalah ya, masa belanja cokelat di toko semen). Gw absen belanja cokelat di situ karena kata TL cokelat lebih murah dan banyak di Belgia nanti. Mamanya loyar, anaknya pelit.

Setelah itu, kami ke toko souvenir liat-liat, dan gw mampir ke goa es di lantai dasar. Lagi-lagi gw ga bisa jalan karena sepatu yang licin, dan baru beberapa langkah masuk goa es, gw nyerah dan jalan balik lagi.

dscn7344

Terakhir sebelum kami ngumpul untuk berangkat, gw ke lantai tertinggi lagi untuk once more captured the view di sana, sekalian farewell gitu. Gw mah orangnya romantis. Lahap deh tuh semua, salju everywhere yang seolah nyatu sama awan dengan langit biru yang juga seolah ga mau kalah, pingin ikutan exist; danau cantik warna biru turqoise yang kecil tapi berusaha banget eye-catching di kejauhan sana, pepohonan hijau menjulang gagah dan cable car jalan anggun bolak-balik under seutas tali yang meragukan banget. What a nice view, walaupun not the best one.

20160911_122947

dscn7323

20160911_130148

20160911_124518

20160911_122730

20160911_122917

20160911_125257

dscn7338

Habis itu gw ke WC untuk copotin long john karena setelah ini kami bakalan ‘turun gunung’ dan ngunjungin kota lain di Swiss, yaitu Lucerne or Luzern.

Baliknya kami naik cable car yang sama lagi, 2 kali. Pemandangannya masih lumayan bagus dan free kabut.

dscn7302

dscn7329

20160911_140826

dscn7322

20160911_142316

Naik bus, setelah itu kami lanjutin perjalanan sekitar 1 jam-an ke Lucerne. Sampai sana kami diturunin di satu area pertokoan, kayaknya si pusat kotanya Lucerne ya, semacam Old Town nya. Toko pertama yang kami masuki adalah Casa Grande, toko souvenir. Di sini gw cuma belanja magnet dan pisau Victorinox buat adik, plus numpang pipis. Banyak dijual jam kukuk di sini, tapi rasanya ga guna ya beli jam kukuk biarpun jamnya cantik-cantik banget.

20160911_152757

Gambar ga penting tapi too cute to be ignored

20160911_153146

Habis ke Casa Grande, kami masuk lebih dalam lagi ke lorong-lorong toko di situ. Karena hari itu hari Minggu, hampir sebagian besar toko di tutup. Di Eropa emang gitu. Jalan-jalan-jalan, Mama kepo mau liat-liat toko jam, Tissot and Tag Heuer. Nyaris gw mau beli juga, battling between heart and mind. Sayang akhirnya akal sehat yang menang. Walaupun hati gw yang ngebet ini mati-matian bilang, “Gw sudah lama banget ga beli jam bagus..”, akhirnya tetep loh my mind kekeuh bilang bahwa gw saat ini gak butuh jam. Biarpun itu jam bagus. Apalagi jam jelek. And I nodded dengan berat badan. Eh berat hati. Well, my mind is true. Biarpun gw tahu beli di sini lebih murah dan belum tentu keulang lagi bisa beli dengan harga cheaper, akhirnya toh tetep ga beli jam tangan itu. I won. Horrayyyy.. *padahal hati nyesek.

20160911_152715

View kota Lucerne

20160911_152338

Abis itu kami nemu satu café dan numpang duduk plus makan di situ. Biasa aja sih makanannya; satu pizza, satu cake manis dan satu roti. Semua mahal, inget itu. Mama minum Aqua botol hasil bawa dari hotel, eh ketahuan dan langsung ditegur sama pelayannya. Ih mata elang betina banget wanita ini. Ya udah abis itu kita ga berani minum dan keluar dari café itu langsung habek-habek air Aquanya dengan buas.

20160911_163251

20160911_162742

Habis makan kami mampir ke satu toko gede Bucherer yang isinya jam tangan semua kebanyakan, untuk tukerin 1 kupon yang dikasih sama TL kami dengan sebuah sendok perak gitu. Sendoknya kecil aja sih, tapi namanya gratisan, apa daya, kami tak bisa tahan.

20160911_174233

Habis ke Bucherer, karena masih ada waktu, gw ajak Mama nyebrang jalan dikit dan liat-liat danau di situ. Banyak orang lagi duduk-duduk ataupun jalan-jalan di sana. Viewnya biasa aja sih, cuma menyenangkan aja suasananya. Rileks, santai, sangat tourisy. Rasanya ga ada ya spot macam gini di Jakarta. Di situ gw dan Mama beli es krim lagi. Ini kedua kali beli es krim hari itu, dan rasanya udah mulai eneg makan es krim. Terus coba cari WIFi, eh hoki, nemu.. sambil coba main Pokemon deh, tapi karena Pokemon-nya butut semua, akhirnya gw mogok main lagi.

20160911_172647

20160911_172734

20160911_171428

Ga lama kemudian kami balik ke tempat janjian, terus jalan kaki ke objek wisata berikutnya, yakni Lion Monument. Gw baca sendiri sih sejarahnya via internet. Patung singa berwajah sedih dengan tombak tertusuk di badannya ini adalah untuk mengenang jasa para tentara bayaran Swiss yang mati ngelindungin kerajaan Perancis. Jadi jaman dulu ternyata memang di Swiss ada yang namanya tentara bayaran yang di-hire oleh negara-negara lain. Tentara ini dilatih oleh keluarga bangsawan, sebagai sumber income gitu. Kenapa perjuangan para tentara bayaran ini patut dikenang sampe’ dibikinin monumen segala? Ya bayangin aja itu tentara Swiss kan bisa dibilang cuma ‘belain’ negara lain, bukan negaranya sendiri, tapi mereka mau loh bener-bener dedicated nyawanya sendiri buat negara lain. Itu yang namanya commitment and loyalty kali ya. Monumennya sih sederhana aja gitu, tapi sizenya gede. Kalo’ liat tampang singanya emang berasa sedih dan miris banget sih. I meant, muka singanya itu udah bicara banyak, more than words. Biarpun semua orang ngerasa ga guna ngunjungin ni patung, tetep aja gw seneng bisa jadi someone yang ikutan ngenang sejarah luar biasa ini. Berasa I was the part of the history, menurut gw.

img_20160913_071309

Udah deh habis ke Lion Monument, kami balik ke hotel.

Balik hotel (masih hotel yang sama), handuk semua ga ada dan ga diganti baru. Langsung deh call ke housekeeping dan minta handuk baru. Orangnya bilang, “Did you order a new towel?” Well nggak sih, tapi ini handuk yang lama aja juga ga ada. Untung orangnya ga banyak cingcong, ga lama diambilin lah handuk baru.

Untuk dinner kali ini gw dan Mama bikin Pop Mie gitu. Inget kan kalo’ di hotel ini ga bisa bikin air panas? Akhirnya gw dan Mama turun ke bawah untuk beli air panas. Kata peserta lain yang kemarin udah beli sih kita akan dikasih sepoci air panas. Sampe’ restoran di bawah, kami malah ditolak dan disuruh ke bar. Jalanlah ke bar untuk minta air panas. Bartendernya bilang, kami harus bawa wadah. Waduh bingung juga ya, wadah apaan. Akhirnya gw naik lagi, prepare langsung Pop Mie nya dan bawa 2 Pop Mie itu turun ke bar. Maksudnya air panasnya mau langsung dituang aja ke Pop Mie-nya. Bartendernya kelihatan kurang seneng sih, tapi akhirnya dia tuangin air panas ke masing-masing Pop Mie itu. Pas gw mau bayar, dia sempet mikir sebentar, terus dia nolak. Iiiih jutek-jutek tapi baik juga. Cium juga lo..

Pas gw jalan balik ke kamar, rombongan peserta tour lain ada yang jalan ke bar, bawa Pop Mie juga, hihihhi.. Pasti minta air panas juga. Ga kebayang deh, pasti si bartender agak bete.

Di kamar, pas mau makan Pop Mie, kami baru ngeh bahwa ternyata tuh Pop Mie ga dikasih garpu plastiknya. Kayaknya emang ga ada deh di paketan Pop Mie itu. Waduh langsung deh muter otak gimana cara makan Pop Mienya. Kalo’ minjem sendok garpu ke restoran rasanya sih males banget ya, mengingat ni hotel kayaknya ga terlalu user friendly gitu. Mikir punya mikir, tau-tau si Mama keingetan bahwa tadi di Bucherer kita dapet souvenir sendok silver kecil. Hoaaaa.. berasa bego banget dan ‘kalah’ sama Mama untuk problem solving, bwahaha.. Siapa dulu dong anaknya..

20160911_195826

Akhirnya cepet-cepet kami cuci tuh sendok, terus makan deh Pop Mie nya pake sendok itu. Tetep aja susah sih, tapi at least mendingan lah bisa makan.

Abis makan lagsung mandi terus tidur. Kayaknya ga gitu bisa tidur lagi deh malam itu.

Bersambung ke sini.

Advertisements

Background :

Dari sejak hamil sampe’ lahiran gw ga pernah travelling jauh lagi, padahal biasanya setaun diusahain minimal sekali travelling jarak jauh. Emang susah ya kalo’ terlahir gila jalan. Awal taun ada sih Bangkok sama family, terus ke Singapore urusan kantor sama beberapa domestic travelling, tapi kayaknya belum nampol, nendang, dan afdol kalo’ belum terlalu jauh (blagu). Plus Aimee ‘baru’ 9 bulan, I meant kayaknya masih bisa ditinggal tanpa anaknya berasa ditinggal. Kalo’ udah gedean kan dia bisa nangis bombay nyariin emaknya karena udah tau ditinggal (*emaknya pede banget bakal dicariin sama anaknya).

Mengapa ke West Europe?

Karena tour yang dimau ga jalan dan hanya tour West Europe ini yang jalan di waktu yang dimau.

Mengapa hanya 8 hari?

* Karena ga bisa cuti lama-lama. Ini aja udah minus.
* Karena kalo’ lama-lama ya harganya pasti meroket juga.
* Kalo’ lama-lama takut ga pingin balik lagi.
* Yang terakhir dan most importantly, karena ada 1 makhluk mungil bin lucu nan cute di rumah, menanti emaknya pulang.

Kenapa pergi sama Mama?

* Pengennya sih sama suami, tapi Aimee kayaknya ga mungkin ditinggal bapak-emaknya sekaligus. Bisa patah arang dia.
* Pengen yang kedua adalah pengen pergi sendiri, tapi jujur belum berani and pasti ga dikasih suami, sementara kalo ikutan tour, pergi sendiri itu jauh lebih mahal. Bisa nambah 5-7 juta (why oh why!!!)
* Akhirnya ajak Mama pergi d karena Mama adalah yang paling available tiap diajak pergi.

Kenapa ikutan tour?

Karena ajak Mama. Kalo’ jalan sendiri rasanya susah ajak Mama. Belum nyasar-nyasarnya dll. Bisa-bisa Mama langsung ngambek naik gojek balik Jakarta.

Overall tahapan tour ini :

1. Terima email iklan tour Yunani dari Chan Brothers. Tanggalnya pas pula, pas ada libur hari merah tgl. 12 Sept (Senin) sehingga cutinya ga usah terlalu banyak.
2. Kalap dong, langsung daftar and ajak Mama, sambil paralel minta ijin suami. Melas-melas, bujuk-rayu (ga mempan), sampe’ akhirnya on my birthday karena udah hopeless, langsung nodong dia, minta kado berupa ijin untuk pergi, and… BERHASIL (biarpun suami cemberutnya sempurna)!! Yeeeeay pinter ya gw!! Jadi-jadi, para bini, kalo’ mau pergi tanpa suami, pergilah deket-deket waktu ulang tahun kalian, HOAHAHHA..
3. Coba apply cuti juga. Nunggu mood Boss bagus, kemudian dengan muka polos ceria langsung ijin mau cuti 4 ari. It worked!
4. Menerima kabar dukacita bahwa Yunani ga kekumpul peserta. Sedih dan putus asa; langsung banting stir cari tour lain di periode tanggal yang sama karena spirit travelling sudah membara dan on air banget. Sehari-hari merangkap jadi HR / tour hunter di kantor, sampe’ missed lunch berkali-kali karena sibuk browsing and neleponin tour agency. Semoga tagihan telepon kantor ga bengkak.
5. Nemu 1 tour India yang pasti jalan. Eeeh Mama nolak mentah-mentah, padahal jarang-jarang loh tour India jalan di low season gini.
6. Hunting lagi, nemu 1 tour West Europe yang juga pasti jalan. The one and the only one yang tanggalnya juga pas dan harga ga mahal-mahal banget. Dwidaya Tour lagi, yang notabene lumayan lah namanya. Ya udah cepet-cepet daftar deh daripada ga ada dan ga bisa travelling. Padahal sebenernya ga terlalu napsu ke West Europe.
7. Cepet-cepet siapin dokumen karena waktu pergi tinggal 2.5 minggu lagi. Bikin pas photo, minta bank reference, dll. Untung karena udah pernah ada visa Schengen sebelumnya, proses visa yang sekarang lebih cepet. Ga usah pake’ ke kedutaan lagi u/ fingerprint dll. 3 hari dari document submission, visa udah jadi. Cepet banget! Anyway baru ngeh kalo’ sekarang bikin visa Schengen-nya ternyata via third party / agen (namanya TLS).
8. Begitu granted visa, langsung mulai browsing-browsing destinasinya, hotel, dll. Sehari-hari merangkap jadi HR / West Europe browser di kantor. Baru mulai semangat untuk jalan ke West Europe.

Sekian prosesnya.

Persiapan sendiri standard aja sih. Prepare koper seminggu sebelumnya. Pinjem banyak ini itu sama cici, mulai dari botol-botol kosong, kaus kaki, receh Euro, coat, topi, sarung tangan, dan entah apalagi. Gw adalah orang yang sangat bermodal; doyan travelling tapi sometimes ga punya essential stuff buat travelling, dan… ga berasa malu atas hal tersebut. Yippiiii..

Hari H berangkat (Jum’at 13 Sept), gw ke kantor dulu dan ijin pulang pagian jam 3-an ke rumah Mama. Jadi jalan ke airportnya langsung dari rumah Mama, barengan sama Mama. Pagi-pagi, Aimee udah ikut nganter gw ke kantor sekalian ‘perpisahan’. Ih, berasa sedih banget loh ninggalin bocah satu ini. Pas udah mau turun di lobby kantor sampe’ bercucuran air mata gendong dia, sumprit. Drama banget sih, tapi asli berasa kehilangan banget dan ngerasa jahat banget karena tega ninggalin dia. Terus di WC kantor lanjut nangis lagi sesengukan sambil menyemangati diri bahwa it’ll be only 8 days (*heran, kalo’ ninggalin suami ga sedih sama sekali yah bwahaha..)

Sore jalan ke airport diantar sama koko. Telat hampir 1 jam karena bloody traffic via Kota. Nyampe’ langsung kenalan sama tour leader, check-in, imigrasi, dan nunggu sambil baca Harry Potter yang baru dibeli. Bela-belain bawa berat-berat tuh buku karena ga tahan mau cepet baca. Jam 8-an malem boarding dan 8.30 take off. Pesawat Turkish Airlines. Anyway sebel juga, tiap x pergi jauh gini pasti dapet pesawatnya Turkish. Padahal pengen d cobain Emirates or Qatar. Hmmmh ini pasti pertanda ilahi bahwa gw harus travelling lagi, supaya bisa cobain 2 pesawat itu BWAHAHA..

Perjalanan sekian belas jam sampe’ Istanbul (subuh), terus transit bentar di sana and lanjut lagi ke Milan sekitar 2.5 – 3 jaman. Transit di Istanbul Mama langsung beli kurma dan gw langsung cuci muka + pake’ hardlense. Ga lama kemudian, kami langsung boarding and take off lagi ke Milan. Kerjaan di pesawat standard aja sih : nonton. makan. tidur. ke wc. mikirin Aimee.

20160910_083305

Sampe’ airport Milan, imigrasinya lancar dan sepi. Begitu koper keluar, Mama langsung heboh nyariin obat di koper. Sibuklah kami bongkar koper Mama demi nyariin obat. Lumayan bikin naik darah dan ga sabaran sih karena ga enak sama peserta tour lain yang nungguin. Why oh why, Mama ga bawa obatnya di tasnya ajahhh??

20160910_093045

20160910_094758

20160910_093001

Setelah itu (obatnya tetep ga ketemu) kami naik ke bus dan berangkat ke kawasan Duomo di pusat kota Milan. Pertama-tama kami lihat Le Scala Theatre. Sesuai namanya, ini adalah tempat nonton teater. Cuma lihat dari depan aja sih.Bentuk bangunannya sendiri biasa aja, ga terlalu banyak detail ini itu.

20160910_141803

Bus kami sepanjang trip West Europe ini

dscn7237

 

 

dscn7239

dscn7238

Setelah itu kami jalan dikit dan masuk ke Gallerie Vittorio Emanuelle, kayak indoor mall branded gitu di Milan dengan design kubah cantik dan arsitektur keren.

dscn7242

img_20160910_212954

20160910_110059

20160910_110337

20160910_123131

20160910_134609

Selain itu, di Kompleks Duomo ini ada juga Milan Cathedral, gereja yang ga kalah cantiknya. .

img_20160910_212657

Ngomong-ngomong soal Milan Cathedral yang merupakan gereja terbesar ke-4 (sedunia kalo’ ga salah), gw pikir kita bakalan masuk ke dalam katedralnya, kayak tour-tour biasa, and ternyata.. nggak masuk sama sekali!! Miris banget rasanya. Yah intinya kami dilepas di kompleks itu untuk foto-foto, belanja, makan siang, dan keliling-keliling. Kalo’ mau masuk ke katedralnya ya boleh aja sih, tapi bayar sendiri, antri sendiri. It’s excluded from the tour. Gw sampe’ baca ulang lagi itinerarynya, apakah wordingnya kira-kira maknanya sejenis “… kita akan memasuki Milan Cathedral..” tapi memang wordingnya ‘licik’ sih :

Hari ini Anda tiba di Milan Anda akan diajak city tour menikmati keindahan kota Milan dengan mengunjungi/melewati sebuah gereja bergaya Gothic yang dibangun pada tahun 1813, Milan Cathedral, La Scala Theatre salah satu gedung opera yang terkenal di Eropa, Galleria Vittorio Emanuele II yang sering disebut “The Living Room of Milan” atau tempat tinggal orang Milan yang letaknya berdekatan dengan Milan Cathedral. Tak ketinggalan berjalan-jalan sambil berbelanja di kawasan Duomo, tempat yang terletak di pusat kota Milan ini terkenal dengan fashionnya. Menuju Zurich untuk bermalam

KUNYUKKKKK!!!

Jadi sedikit info soal tournya, tour yang gw ikutin ini adalah tour ‘flexible’ yang notabene lunch and dinner dicover sendiri oleh peserta alias ga dapet makan. Juga ga ada local guide sama sekali (cuma tour leader dari Jakarta). Jadi beneran cuma tour jalan-jalan aja sih sebenernya. Makanya harganya murah pisan.

Jadi aktivitas gw selama di Kompleks Duomo ini :

Pas di Gallerie Vittorio Emanuelle (mall kecil) :

* Melahap puas-puas view kubah serta dinding cantik Galerie Vittorio Emanuelle. Plus foto-foto pastinya. Impressive banget!

img_20160910_202724

* Makan siang di McDonald. 1 paket burger-kentang-Coke sekitar 5 EUR (note : 1 EUR anggap aja IDR 15,000). Di McD ini juga kita bisa numpang ke toilet dengan gratis, beda dengan public toilet kebanyakan yang biasanya requires us untuk bayar 0.5 atau 1 EUR.

20160910_113403
* Gw juga baru inget bahwa di sekitar Gallerie Vittorio Emanuelle sini katanya ada satu cemilan yang terkenal yang namanya Luini. Langsung deh google-google pake’ wifi gratisan yang mati-idup-mati-idup di situ dan akhirnya berhasil nemu tempatnya. Sesuai yang ditulis di internet, antriannya panjang banget, tapi cepet. Jadi akhirnya gw ikutan ngantri. Dari sekian banyak menu, gw pilih Ham & Mozarella atau semacam itu deh, dan rasanya.. asli ga enak banget. Tapi melihat betapa populernya ni tempat, pasti lidah gw yang salah, bukan rotinya. Anggap aja ga cocok taste-nya or mungkin gw harusnya milih menu yang lain. Anyway harganya murah-murah aja, 2.7 EUR.

20160910_125311

20160910_125910

* Masuk toko-toko branded (ga banyak sih. Ada Prada, Versace, dll.), muter sekali, terus keluar lagi. Polanya gitu terus untuk semua toko.

20160910_110157

20160910_134558

* Beli es krim Savini yang sumprit enak banget. Letaknya agak nyudut jadi harus fully-aware supaya ga kelewatan. Gw beli yang rasa tiramitsu sama satu rasa lagi, asal tunjuk doang karena ga ngerti judul rasanya yang pake’ Bahasa Italy. Apapun itu, itu es krim paling enak sepanjang trip waktu itu. Es nya lembut dan ringan banget, ga bikin kenyang. Es krim 2 rasa gini harganya 4 EUR.

20160910_123520

20160910_124136

* Liat-liat orang muter di atas lantai bergambarkan banteng yang katanya dilakukan supaya kita bisa balik lagi kelak ke Milan atau untuk best luck, which I don’t believe at all. Males pula jalan-jalan muterin banteng ga jelas itu dan harus rebutan sama antrian banyak orang, jadinya gw cuma nontonin mereka muter-muter gitu. Ga menarik, tapi boleh juga untuk ngabisin waktu.

20160910_133857

Di luar Gallerie Vittorio Emanuelle :

* Ke toko souvenir, beli kaus dan beli kartu pos lucu, terus langsung ditulisin dan dikirim ke Jakarta buat Aimee pake prangko 5 EUR. NB : Sampe’ sekarang, 22 September 2016, kartu posnya belum nyampe rumah (dikirimnya tgl. 10 September 2016). Kayaknya prangko gw kedikitan.
* Nikmatin view katedral (dari luar ya, catat.. dari luar)
* Jalan ke sisi luar, masuk ke H&M, liat-liat. Ga nemu apapun yang menarik, jadi keluar lagi. Cuma ngadem doang sebenernya.

20160910_111818

20160910_111342

20160910_111836

Di Milan lagi lumayan panas dan terik. Kalo’ ga salah suhu 31 derajatan, dan seperti biasa TL udah ngingetin untuk be very careful dengan para copet di Eropa, terutama Milan dan Italy. Anyway intermezzo aja, kata TL, orang Italy anti sama Starbucks. “It’s like we drink a mineral water,” kata mereka. Pokoknya Starbucks dianggap ‘rendahan’ banget deh, beda sama kopi asli mereka.

Jadi, di Milan intinya kami cuma ke kompleks ini aja sih. Ga ada ke markas AC Milan or Intermilan. Untung gw memang not a fans jadi kayaknya biasa-biasa aja, sementara ada peserta lain yang ngarep-ngarep bisa ke situ.

Udah deh setelah 2.5 jam-an, kami ngumpul lagi, terus dikasitau bahwa kami bakal lanjutin perjalanan ke Swiss, tepatnya ke kota Zurich, kurang lebih 4,5 jam. Begitu denger gini, langsung rombongan bubar lagi karena semuanya mau ke toilet dulu dan toilet gratis adalah di McD yang notabene lumayan juga jalannya dari tempat ngumpul. Akhirnya perjalanan ngaret sekitar 20 menitan.

Ya udah abis itu naiklah kami ke bus dan jalan 4.5 jam. Lumayan cobaan dan ujian buat both pantat dan kesabaran. Macet pula. Untungnya di tengah jalan seperti biasa kami stop dulu di rest area. Rest area ini setau gw udah masuk di Swiss deh. Di rest area ini ada toilet stop sama supermarket buat belanja-belanja. Gw beli beberapa roti buat nyemil di bus sambil nunggu dinner nanti. Karena waktu itu udah sore menjelang malam, gw juga coba cek ke Tour Leader (selanjutnya akan disingkat TL), apakah nanti di sekitar hotel banyak tempat makan, karena gw curiga di sana akan gersang makanan secara hotelnya deket airport Swiss. Bener aja, kata TL ga ada sama sekali (!!!). Hix, kenapa ga dikasitau dari awal ya? Ini nanya baru dikasitau. Coba kalo’ ga nanya, bisa-bisa nanti kita harus dinner di hotel semua karena ga ada resto di sekitar situ.

Langsung deh buru-buru gw and Mama belanja sekalian buat dinner juga di supermarket itu. Untungnya ada restoran juga. Cuma karena waktunya terbatas, akhirnya kami cuma take away aja. Take awaynya simple aja : 1 lasagna sama 1 nasi-ayam-kentang. Dua item. Harganya 31.9 EUR alias hampir IDR 450,000. Duh nyeseknya itu sampe’ bertahan konsisten mangkal terus di ati sampe’ beberapa malam. Ga worth it banget, tapi memang we didn’t have any choice sih. Gw kayaknya ga bisa deh dinner cuma roti-roti doang. Mesti makan berat gitu, dan resikonya yah seperti ini. IDR 450,000. Nangis darah deh, secara siangnya gw baru seneng-seneng karena bisa nahan diri ga belanja aneh-aneh dan duit masih lumayan utuh. Dua porsi makan siang ini bener-bener menguras kantong sekaligus air mata.

Abis itu perjalanan lanjut lagi, dan pemandangan mulai berubah jadi cantik banget dengan danau raksasa yang selalu terpampang di setiap belokan yang kami lalui. Menghibur banget setelah pengalaman beli makanan yang bikin eneg tadi. Gw sempet tanya ini danau apa sih ke TL, tapi gw lupa namanya. Sikokon kalo’ ga salah deh. Cantiiiik banget danaunya. Bener-bener represent Swiss banget.

img_20160910_212255

20160910_191701

View cantik during our way to Swiss

20160910_191524

Danau cantik during our way to Swiss (*lupa namanya)

Sampe’ hotel di Zurich (Dorint Airport Hotel), jam udah sekitar 9 an malam. Langsung deh check-in kamar dan beres-beres. Baru mau buka koper, TL telepon dari receptionist, meminta gw tuker kamar sama 1 peserta tour yang lagi honeymoon karena ranjang di kamar gw itu queen, bukan twin. Ya sudah beberes koper lagi terus pindah kamar. Kamar gw and Mama sekarang ranjangnya jadinya twin. Gw dan Mama dipisahkan secara kejam, bwahahah.. *halah..

20160910_203404

20160910_203433

20160910_203432

Kamarnya sendiri OK sih menurut gw. Hotelnya juga bagus-bagus aja. Karena memang hotelnya di deket airport, di lobby ada papan flight schedule airport yang terupdate tiap beberapa waktu. Informatif banget ya.. Papan jadwal kedatangan bus di halte busway Jakarta mah boro-boro update tuh informasinya.

20160911_085010

Dorint Hotel Lobby

20160911_085047

Sapi merah trademark Hotel Dorint dengan background flight schedule board

Info lain : colokan sama-sama aja kayak Jakarta. Wifi free dan cepet. Sayangnya di kamar ga ada pemanas air/coffee maker sama sekali. Jadi kalo’ mau masak air, harus minta air panas ke restoran di bawah dan… bayar 2 CHF (duit Swiss). Oh iya di Swiss memang bisa pake’ Euro, tapi sebagian besar transaksi masih dilakukan dengan mata uang mereka sendiri yakni CHF. Masih eksklusif gitu. Rate CHF sekitar IDR 13 ribuan. Mirip-mirip lah sama EUR. Duit serasa ga ada artinya T_T

Abis beberes, kami langsung makan makanan yang dibeli di supermarket (yang harganya amit-amit itu loh.. inget kan?). Ni makanan taste-nya biasa banget, jadi makannya makin sakit ati. Udah gitu si Mama bilang dia kenyang pula karena makan roti di bus tadi. Haduh!! Tau gitu beli satu porsi aja dinnernya. Sakit ati makin nyut-nyutan deh. Karena Mama merasa bersalah akhirnya dia ikutan nyomot-nyomot ayamnya juga, tapi langsung ngoceh-ngoceh karena katanya ayamnya ga bersih, masih banyak darahnya. Waduh, speechless deh.

20160910_210933

Dua porsi makanan seharga 450,000 rupiah (kiri : lasagna; kanan : nasi ayam kentang). Rasa lumayan.

Setelah itu tidurlah kami. Gw langsung pules, tapi jam 3-an kebangun dan ga bisa tidur lagi sampe’ pagi. Untungnya di Jakarta udah pagi (selisih waktunya 5 jam duluan di Jakarta) sehingga bisa whatsapp-an dan video call sama my Aimee.

Bersambung ke sini


Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,714 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

There was an error retrieving images from Instagram. An attempt will be remade in a few minutes.

Blog Stats

  • 465,872 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

November 2017
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain's Personal Blog

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: