Fanny Wiriaatmadja

Posts Tagged ‘West Europe

HARI 6

Nikmati Canal Cruises dengan menelusuri kanal-kanal didalam kota menggunakan perahu kaca.Dilanjutkan dengan city tour melewati objek wisata terkenal seperti Windmolen, Dam Square, Royal Palace yang dulu merupakan tempat tinggal Ratu Beatrix dan Rijksmuseum yang memiliki koleksi terbesar di Netherlands. Setelahnya Anda akan mengunjungi Volendam, sebuah desa Nelayan. Anda mempunyai kesempatan untuk berbelanja aneka cinderamata dan berfoto dengan memakai pakaian tradisional khas nelayan Belanda (Optional). Anda akan diajak menuju Zaanse Schans, desa tradisional yang banyak kincir angin.

Sambungan postingan di siniΒ dan tenang, ini postingan terakhir bwahaha..

Bangun, mandi, dan breakfast. Tempat breakfastnya di lantai 17 dengan kaca di kiri kanan sehingga kami bisa menikmati pemandangan kota Amsterdam.

20160915_072759

Hari ini kami bakalan explore Belanda hampir satu harian full sebelum balik ke airport Schipol untuk kembali ke Jakarta.

Rute pertama adalah ke Desa Zaanse Schans, desa kincir angin, sekitar 1 jam perjalanan dari kota Amsterdam. Desanya lumayan cantik sih, asri dan hijau, hawanya juga segar dan masih terasa atmosfer tradisionalnya. Sesuai namanya, banyak kincir angin yang memang masih digunakan di sini.

20160915_090123

20160915_09573420160915_09295220160915_085812img_20160916_003553

Acara pertama di sini adalah ngeliat cara pembuatan sepatu clog, sepatu khas Belanda, yang bentuknya cantik tapi lumayan buat nyambit jambret. Kami masuk ke sebuah rumah, terus duduk di deretan bangku yang disediakan, dengan deretan mesin-mesin untuk membuat sepatu tersebut. Keren juga sih cara bikinnya, diperagakan oleh seorang bule.

img_20160919_215840

img_20160916_005646

20160915_091236

20160915_090448

Setelah itu kami keliling-keliling (masih di dalam rumah itu) liat souvenir yang lucu-lucu banget. Ada kelinci yang muncul berulang-ulang dalam bentuk berbagai souvenir. Lupa nama kelincinya, tapi sepertinya dia lumayan tenar di sini karena di airport pun gw sering liat si kelinci ini. Keliling demi keliling, gw hebat loh, masih bisa menahan diri belanja, hanya membeli magnet saja.

img_20160916_235928

Next activity adalah berpindah ke rumah lain, untuk melihat pembuatan keju. Ini juga lumayan menarik, diperagakan oleh seorang ibu-ibu yang keibuan banget dengan baju tradisional Belanda. Setelahnya, sama seperti di rumah sepatu clog tadi, kami keliling-keliling rumah tersebut untuk beli keju. Cici gw yang ke Belanda tahun sebelumnya udah titip keju terkenal asal Belanda tersebut, yang rasanya memang enak sih, even untuk someone yang ga terlalu ‘into’ cheese seperti gw.

img_20160919_215637

Selain itu, cici gw pernah bilang ada juga rumah tempat pembuatan minyak, tapi mungkin karena keterbatasan waktu, kami ga ke sana. Bagus deh, siapa juga yang tertarik liat cara buat minyak?

Setelah puas beli souvenir dan keju, kami keliling area desa Zaanse Schans. Ada danau gede yang cantik, rumah-rumah tradisional, kincir angin everywhere, dan masih banyak lagi. Areanya lumayan gede, hampir nyasar untuk balik ke bus. Lumayan menyenangkan sih di desa ini.

20160915_100022

20160915_100202

img_20160916_005853

img_20160916_003001

img_20160916_002814

Nextnya, perjalanan dilanjutkan ke Desa Volendam alias desa Nelayan, sekitar 45 menit dari Zaanse Schans. Di sini angin lebih kenceng, hawa lebih dingin, karena sesuai namanya, desa ini letaknya di pinggir pantai. Begitu sampe’ pun dan kita harus menyusuri jalan menuju desanya, di sebelah kiri sudah ada hamparan pantai yang… cantik. Enggak deng, biasa aja sih.

20160915_105241img_20160917_195518

20160915_105150

Nyampe desanya kami dibawa ke satu toko souvenir gede, tepatnya ke satu ruangan kecil yang temaram, untuk nonton film tentang histori negeri Belanda. Menarik sih, jadi tau bahwa dulu karena Belanda letaknya beberapa meter di bawah permukaan laut, maka kenalah mereka banjir hebat di tahun 1950-an sampe’ bisa dikatakan mereka itu tenggelam. Dari situ negeri ini langsung berbenah dan bangun dam untuk menahan air laut. Ga maen-maen loh, bukan sekedar bendungan untuk nahan danau atau semacam itu, tapi air laut. And it works, after sekian banyak effort, waktu dan komitmen. Makanya kalo’ ga salah Ahok kemarin-kemarin itu ada ke Belanda kan untuk belajar soal ini, karena Jakarta pun diramal bakalan tenggelam parah kayak Belanda kalo’ ga berbenah diri, dengan segala pengikisan garis pantai, pemanasan global dan apalah semua itu. Semoga apa yang dibuat oleh Belanda bisa diadaptasi di Indonesia soon ya.

20160915_105929

20160915_110749

Setelah nonton film, kami langsung belanja souvenir di toko itu. Tokonya lumayan gede dan barangnya OK-OK juga. Gw belanja gantungan kunci buat temen-temen kantor di sini.

Habis itu kami keluar toko dan jalan-jalan di sekeliling, kiri-kanan toko dengan background pantai, enak juga suasananya. Karena ini desa nelayan makan untuk lunch gw dan Mama mutusin makan Fish n’ Chips di salah satu restoran sederhana di sana. Rasanya OK banget, tapi sepertinya beda-beda tipis sama FIsh & Co Jakarta. Harganya kalo’ ga salah 9 EUR-an.

20160915_113832

Habis makan, kami keluar masuk toko-toko lagi. Gw sempet beli selai dan kaus lagi di sini. Di Volendam ini kita juga bisa foto pake’ baju khas Belanda gitu, tapi gw dan Mama mutusin untuk ga moto. Abis komersil dan kayaknya standard banget ya. Ga worth it pula menurut gw. So kami skipped foto-memoto ini.

img_20160917_195748

Setelah selesai, kami balik ke bus untuk jalan ke kota Amsterdam.

Sampe’ Amsterdam, next agenda adalah ke tempat pengasahan berlian. Ada 2 perusahaan gede yang paling terkenal di sini, salah satunya Coster Diamond yang kami datangi ini. Seneng sih liat-liat berlian (cewek!!), tapi ya ga seneng sih liat harganya. Selain seneng liat berlian, seneng juga dengerin penjelasan tentang gimana menilai berlian yang bagus. Menarik banget. Abis itu semua peserta liat-liat berlian termasuk gw, sayangnya ga ada yang beli, bwahaha.. orang tokonya mupeng. Langsung deh kami keluar.

20160915_14074220160915_145404

Ngoomong-ngomong soal berlian, katanya kualitas yang paling bagus adalah berlian dari Afrika Selatan. Catat ya.

Balik ke trip kami, area Coster Diamond ini deket sama Rijkmuseum, museum terkenal di kota Amsterdam yang kalo ga salah populer dengan huruf-huruf gede I AM STERDAM merah putihnya itu. Sayangnya karena keterbatasan waktu (soalnya ga main-main, kami berurusan dengan flight pulang kami nanti) kami ga sempet ke situ, dan ga sempet foto-foto pula. Sedih dan kecewa juga sih, soalnya itu kan salah satu trademarknya Amsterdam gitu.

img_20160916_010801

20160915_133027

Jadi dari tempat pengasahan berlian tadi kami langsung jalan untuk naik kapal lagi menysusuri kanal-kanal Amsterdam selama 1 jam. Inipun udah ngebut banget karena waktunya super mepet. Untungnya masih keburu sih jadwal kapalnya jam 3.15 siang.

20160915_151516

Ya sudah naiklah kami ke kapal kayu tersebut, dengan kaca-kaca di kiri kanan dan atas. Beda dengan kapal di Paris yang terbuka, kapal Amsterdam ini tertutup, tapi ya dengan lapisan kaca. Bangkunya juga beda. Kalau bangku kapal di Paris berderet rapi baris demi baris tanpa meja, bangku-bangku di kapal Amsterdam ini ada mejanya. Jadi kayak di restoran gitu, 1 meja dengan bangku panjang berhadapan. Ada earphone yang bisa kita pakai untuk mendengarkan recorded guide explanation dengan pilihan belasan bahasa, tapi boro-boro dengerin, gw malah ngobrol sama TL-nya saking membosankannya penjelasannya dan pemandangannya. Asli 1 jam rasanya lamaaa banget. Overall menurut gw sih kurang OK ya view-nya. Gatau juga, apa ini gara-gara gw asyik ngobrol sama TL dan Mama.

20160915_154416

20160915_133230

20160915_153812

20160915_151919

20160915_151550

Di seberang ferry port-nya ada pabrik Heineken tampaknya, dengan antrian panjang calon pengunjung.

Selesai naik kapal kami langsung ngebut ke airport karena pesawat kami jam 7.30 malam. Jalanan macet pula, bikin semua dag dig dug. Untung supir kami agak nekat juga, manuver kiri-kanan dan akhirnya bisa lolos dari kemacetan.

Sampe’ airport, peserta berpisah; sebagian melakukan tax refund, sebagian langsung check-in. Karena ga beli barang branded apa-apa, gw dan Mama langsung check-in. Ada sih tax refund yang kami terima, tapi cuma 10 EUR. Itu pun juga sudah mepet banget waktunya, jadi ga usah tax refund lah. TL juga udah wanti-wanti bahwa Schipol Airport ini merupakan salah satu bandara terbaik di dunia dan pemeriksaannya super ketat. Eh bener loh, gw ud nyobain beberapa airport di Eropa, and this one is insane. Kita masuk ke bilik kaca gede berbentuk oval gitu untuk di-scan badannya selama beberapa detik. Petugasnya pun rigid dan tegas banget. Ah bener-bener deh. Ga ada tuh pemeriksaan ngasal-ngasal atau birokrasi doang. Semuanya bener-bener detail dan menyeluruh. Agak nakutin sih.

20160915_183139

Setelah pemeriksaan dll. akhirnya kami berhasil nyampe gate tempat nunggu dan 10 menitan kemudian langsung boarding. Bener-bener mepet waktunya.

Peserta yang tax refund pun akhirnya batal semua karena ga keburu. Daripada ketinggalan pesawat mendingan ga usah tax refund kan. Ada peserta yang tax refund nya nyampe 10 jutaan loh, lumayan banget. Nyesek deh.. keluar deh statement dari beberapa peserta, “Mendingan tadi ga usah naik kapal di kanal Amsterdam.. waktunya buat ke airport aja untuk tax refund..” heheh no comment deh ya. Sejelek-jeleknya kapal tadi, rasanya sayang juga kalo’ nggak naik.

Flight kami berangkat agak telat tapi somehow we manage to make it on time loh pas nyampe Jakarta. Perjalanan lancar, transit Istanbul dulu seperti perginya.

Nyampe’ Istanbul gw buka hardlense dan berganti dengan kacamata, nunggu setengah jaman terus lanjut terbang lagi ke Jakarta sekian belas jam. Susah tidur banget, jadinya nonton terus, dan somehow karena duduk terus tulang ekor gw sampe’ sakit banget sehingga gw harus berganti posisi duduk terus-menerus. Duduknya jadi gelisah, padahal biasanya fine-fine aja.

Nyampe Jakarta jam 5.50 sore dan langsung dijemput suami dan Aimee. Aaaaaaakkkkh akhirnya ketemu my baby πŸ™‚

Intermezzo :

* Jadi-jadi, gw itu agak-gila-banget belanja pernak-pernik dan souvenir gitu. Tiap travelling pasti duit abis buat belanjain gituan. Nambahin koleksi terus. Udah satu lemari tuh di rumah. Nah, di trip kali ini karena pas lagi banyak pengeluaran juga, gw bertekad ga mau belanja aneh-aneh. Surprisingly gw berhasil loh, entah kenapa.. Sepertinya time has somehow changed me into someone different. Gw ga lagi tertarik dan kalap liat pernak-pernik lucu-lucu dan bisa nahan diri dengan mudah. Contoh kalo’ dulu misal ke Eropa Timur, satu negara gw bisa beli magnet sampe 4-5 biji, sekarang gw bisa loh cuma beli 1 magnet 1 negara, or maksimum 2 magnet lah gitu untuk 1 negara. Atau kalo’ dulu gw bisa beli oleh-oleh berlimpah buat semua orang, sekarang gw bener-bener batesin seadanya aja. Kesannya jadi pelit sih, tapi emang beneran sih gw belajar untuk pergi itu buat diri sendiri, bukan buat ‘nyenengin’ orang dengan bawain ini-itu apalagi melimpah-ruah. Yah at the end buat gw pribadi ini pencapaian banget loh karena bisa menghemat pengeluaran, apalagi tau sendiri harga di sini juga ga murah, apalagi di Swiss yang kejamnya maksimal. In summary, dari duit yang gw bawa selama trip ini, gw cuma pake 45 % aja, dan itu pun sebenernya banyak abis buat makan, secara gw kan ga dapet lunch and dinner di tour ini. Jadi beneran, I’m so proud of myself. Kayaknya gw bisa gitu put priority on the expense, mana yang penting and ga penting. Aaaaakhh senang!!

* Kalo’ keabisan Aqua, supir kami jualan Aqua botol kecil dengan harga 1 EUR.

* TL pernah cerita bahwa katanya Prudential pernah bikin incentive trip sekitar 3000-4000 orang ke Eropa. Mereka ‘membatikkan’ Euro Disney (karena ke sana dengan baju batik semua) dan bikin heboh Colloseum dengan maen angklung di sana. Sekian ribu orang. OMG keren banget!

* Selama di pesawat berhasil nonton:
– Money Monster (George Clooney and Julia Roberts) – Bagus tapi ga make sense.
– Me Before You – drama tentang cewek yang jadi ‘nanny’ buat cowok kaya ganteng yang jadi cacat karena kecelakaan, terus falling in love. Picisan banget sih menurut gw (tapi tetep aja ditonton).
– X + Y – cerita tentang anak jenius matematika dengan perjuangannya ikut olimpiade matematika dan permasalahan keluarga. Standard, tapi selalu menyenangkan nonton film tentang orang jenius.
– Water Diviner (Russel Crowe) – inspired by true story, tentang perjuangan seorang Bapak yang nyari 3 anaknya yang hilang during perang Turki gitu. Mengharukan dan bikin bercucuran air mata sambil makan di pesawat.
– Hunger Games Mockingjay yang terakhir, yang waktu itu ga sempet nonton di bioskop. Baru beberapa menit, udah ngerasa boring abis. Akhirnya shut it down.
– Film tentang pecatur (kayaknya kisah nyata tentang Bobby Fischer) dengan background Perang Dunia kayaknya – tapi nontonnya sambil tidur-tidur, akhirnya ga ngerti sama sekali.

* Untuk copet, gw pribadi lumayan worried kali ini karena gw bawa tas yang bener-bener terbuka, no zipper. Cuma satu kancing tempel gitu. Modelnya bawa di bahu gitu. Kenapa ‘maksa’ pake tas ini? Soalnya tasnya gede and lebar, jadi bawa apapun semua masuk, mulai dari payung, jaket. Aqua, dll. Perfect deh. Resikonya yah gw kudu extra hati-hati, karena dikepit di ketek aja tasnya masih tetap terbuka gitu, saking lebarnya. Mancing banget deh. Di sisi dalam tas, ada risleting gitu. Nah di dalamnya gw simpen dompet passport dll. yang penting-penting. Harapan gw sih semoga copetnya ga bisa buka risleting di dalam tas itu, tapi namanya copet kan banyak akal ya. Akhirnya solusi desperate gw adalah naruh dompet kosong di dalam tas. Jadi kalopun si copet ngeliat atau ngincer tas gw yang notabene terbuka lebar itu, yang pertama dia liat bakalan dompet kosong itu. My expectation sih dia bakalan nyopet dompet kosong itu aja gitu, dan lantas berpuas diri. Jadi ga kepikir untuk explore lebih lanjut buka-buka risleting keramat yang isinya ajigile pentingnya itu. Itu aja sih trik gw. Untungnya sampe’ akhir semua baik-baik aja, dan even si dompet pancingan itu juga aman-aman aja. Anyway dompet kosong itu gw pinjam sama ponakannya suami gw, dan ponakannya itu ga tau bahwa dompet itu digunakan sebagai umpan aja bwahaha..

* Untuk peserta tour semuanya enak-enak aja sih :

1. Sepasang tante yang suaminya adik kakak, yang selalu ceria, ramai, dan modis. Total 4 orang.
2. Sekeluarga oom-tante dengan dua anak cowok cewek yang ganteng dan cantik tapi berempat ini selalu agak ‘menyendiri’ dan ga terlalu socialized sama peserta lain.
3. Olive sama Alvin yang lagi honeymoon dan bikin mupeng (bwahaha)
4. Pak Fauzan yang pergi sendirian tanpa istri-anak dan setiap detik selalu selfie dengan tongsisnya. I almost never find him without posing in front of his tongsis haha..
5. Pak Lukman yang super kocak dengan istrinya yang super baik dan sabar bak angel banget dan 4 anaknya, 2 perempuan dan 2 lelaki.
6. Tante dan oom dengan dua anak cowok-ceweknya yang kompak banget
7. Dion dengan GoPro-nya sama Ryan adiknya, bocah kecil kelas 4 SD yang jadi hopeng gw selama tour ini dan bisa ngobrolin Pokemon berjam-jam selama cruise di Paris (mereka sama papa mamanya – si tante baru keluar RS)

Udah deh.

Okeh sekian deh tentang trip West Europe ini. Berkesan ga? Errrr sejujurnya kurang. Mungkin karena sebelumnya gw udah ke Eropa Timur yang notabene menurut gw lebih bagus, tournya lebih full dan lengkap, durasinya lebih lama. Jadi begitu ke West Europe ini, rasanya kok jadi ‘kebanting’ banget ya. Tapi anyway yang namanya travelling mah gw hepi-hepi aja. Selalu ada plus minusnya kan during the trip. Yang pasti pas trip gw enjoy, pulang trip juga bahagia karena bisa ketemu Aimee. Everything’s perfect-perfect aja jadinya πŸ™‚

Untuk Dwidaya Tour nanti gw ceritain terpisah ya, pengalaman gw pake’ mereka. Itupun kalo’ lagi rajin ngetik.

HARI 5

Meninggalkan Perancis dan menuju Belanda yang dikenal dengan sebutan Negara Kincir Angin, tepatnya kota Amsterdam dengan melalui kota Brussel, Belgia. Di Brussels Anda akan diajak melihat Manekin Piss Statue dan Grand Palace, tidak lupa melihat Everard Serclaes momument. Di Amsterdam Anda akan diajak mengunjungi salah satu tempat pengasahan berlian yang terkenal.

Sambungan dari postingan ini.

Hari ini kami bakal jalan ke Belanda dengan mampir di Brussel (Belgia) terlebih dahulu.

Di tengah jalan kami mampir dulu di rest area, ada kompleks lumayan gede dimana terdapat supermarket dan restoran di dalamnya, tempat kami sekalian lunch. Setelah beli Aqua di supermarket, gw dan Mama pilih lunch di Paul, dengan beli sandwich raksasanya. Model sandwichnya kayak di Kempi Deli gitu deh. Rotinya kerasnya setengah mati, kombinasi isi daging dan sayurannya juga agak aneh sih rasanya, dan ada semacam rasa wine gitu. Roti mama isinya ikan dan mayonaise, dan rasanya agak amis, tapi gw doyan aja dua-duanya.

20160914_120834

Setelah itu kami lanjut perjalanan ke Belgia. Di tengah jalan ada papan penunjuk jalan bergambar Asterix gitu. Iiiih cute..

img_20160914_220918

Nyampe’ Brussel kami dibawa ke satu toko yang gw bingung sih, ngapain di bawa ke sini. Isinya cuma tas Kipling dan berbagai merk lain. Ga menarik banget, tapi tetep aja banyak peserta yang beli. Tapi waktu itu kami diminta jangan beli dulu. Jadi ke situ sebenernya cuma numpang ke toilet aja, nanti pas jalan balik / pulangnya, baru kami bakal balik lagi ke situ, karena setelah ini masih ngejar waktu untuk ke next destinationnya di kota Brussel ini. Anyway tas Kipling ini juga asalnya dari Belgia loh.

Selanjutnya, jalan kaki agak jauh dari toko itu, kami ke pusat kota / Old Town-nya, yang notabene supeeeer cantik. Namanya Grand Place / Grote Markt kalo ga salah. Jadi ada satu lapangan atau alun-alun gede yang kiri kanannya semua bangunan cantik (yang gw gatau semua namanya karena kami ga dijelasin, cuma dilepas aja) dengan gaya arsitektur klasik khas Eropa : banyak ukiran dan motif. Di belakang lapangan itu baru berjejer gang-gang dengan toko-toko di kiri-kanannya.

20160914_153621

20160914_154036

20160914_163239

20160914_163233

20160914_153951

20160914_154144

Sebelum dilepas, kami dibawa ke satu toko cokelat yang sepertinya ‘partner’ gitu sama travel agency kami. Intinya sih mereka jualan terus kasih kami discount. Menurut TL memang Belgia ini adalah salah satu surga cokelat dengan harga murah. Herannya pas beli, gw kok tetep ngerasa cokelat ini mahal ya? Anyway busway, gw pernah baca bahwa Haagen Dazs pun menggunakan cokelat dari Belgia loh.. Haagen Dazs sendiri gw kira asalnya dari Eropa (merujuk ke namanya), ternyata ni es krim dari New York.

Setelah ‘lepas’ dari toko cokelat tadi, kami muter-muter ke toko lain. Gw tentu saja mampir ke toko souvenir, beli magnet, tidak lupa beli wafel seharga 3 EUR karena Belgia merupakan negara asal wafel. Rasanya? Menurut gw biasa aja, sama aja kayak wafel di Indonesia, tapi mungkin itu karena gw milihnya cuma menu wafel nutela yang standard, tanpa es krim dan buah.

Habis itu kami juga jalan kaki dikit ke Mannekin Piss, patung anak kecil pipis yang merupakan lambang kota Brussel. Sejarah di balik patung ini ada beberapa versi sih, salah satunya yang paling sohor adalah patung ini didirikan untuk mengenang satu anak kecil yang menyelamatkan kotanya dengan cara pipisin bom yang mau meledak di situ during Perang Dunia. Patungnya bener-bener biasa sih, kecil pula. Biasanya patungnya bugil, tapi di event-event tertentu patungnya bakal dikasih kostum seperti hari itu waktu gw pergi. Sayang karena tidak ada guide, gw gatau kostum putih yang dikenakan si patung bocah itu dalam rangka apa.

Toko-toko di sekitar sini juga banyak yang menggunakan patung anak kecil sebagai icon toko mereka.

img_20160919_220514

20160914_160052

20160914_154218

Setelah keliling-keliling toko, kami balik lagi ke alun-alun gede yang sekelilingnya penuh bangunan cantik tadi untuk foto-foto. Sampe’ bingung milih angle-nya karena semua sudut terlalu instagrammable.

img_20160915_061541

img_20160914_220123

20160914_16304520160914_163117

Puas moto-moto, sambil nunggu peserta tour lain, gw mampir di toko cokelat Godiva. Kayaknya ni brand juga asal Belgia deh. Aaaakh paling suka sama chocolate milkshakenya Godiva di Plaza Indo. Sayang di sini jualannya cuma cokelat doang. Akhirnya gw beli permen cokelat di sini. Not a big fans of chocolate, tapi ini Godiva gitu loh..

Abis dari Godiva, peserta belum ngumpul juga. Eeeh gw lihat toko Tintin, menjual pernak-pernik yang berbau Tintin. TL bilang bahwa Tintin kan emang asalnya dari Belgia (gw sendiri lupa-lupa inget). Sayang di toko ini harga barangnya mahal-mahal, dan untunglah hati gw masih (mario) teguh, jadi gw bisa bertahan ga beli apa-apa walaupun barangnya lucu-lucu banget. Eh baru inget juga bahwa Hercule Poirot, detektif ciptaan Agatha Christie, juga berasal dari Belgia. Wah ternyata Belgia walaupun ga setenar Perancis atau negara lain, menyimpan banyak ‘history’ background ya, seperti merupakan tempat asal wafel, Kipling, Godiva, Tintin, Hercule Poirot dan masih banyak lagi.

Setelah kelar, kami balik ke bus, tapi mampir lagi di toko tas Kipling tadi, karena beberapa peserta (termasuk Mama) juga mau beli beberapa barang di situ. Duh, apa bagusnya sih tas monyet aneh itu?

Habis itu baru beneran balik bus dan perjalanan dilanjutkan ke Amsterdam, Belanda.

Di itinerary disebutkan kami bakal ngeliat patung Everard Serclaes tadi di Brussel, tapi sampe’ akhir gw ga aware sama sekali yang mana patung itu, karena ga dikasihtau. Di bus sempet ada peserta yang nanya, TL-nya kasitau sih, tapi tetep aja gw ga aware. Kenapa ga dikasitau di sana sih? (* sepertinya sih patung ini adalah patung prajurit berkuda yang mangkal di atas salah satu bangunan di Grote Markt tadi -> see below)

img_20160914_220651

Di itinerary juga disebutkan bahwa nyampe Amsteredam kami bakal mengunjungi tempat pengasahan berlian, tapi sepertinya ga keburu karena nyampe Belanda udah malam. Di tengah perjalanan kami mampir di rest area dan gw beli semacam roti sandwichnya. I thought rotinya bakalan keras kayak roti-roti pada umumnya di Eropa, di luar dugaan ternyata rotinya lembut banget. Rotinya gw makan di bus, buat dinner.

Tadinya malam hari mau di-arrange dinner bareng di restoran Indonesia, karena kayaknya semua peserta udah eneg makan roti, sandwich, burger dll. Tapi setelah dirinci-rinci lagi biayanya yakni 22 EUR/orang, gw langsung nolak deh. Mending cari makan sendiri, McD cuma sekitar 5 EUR aja. Akhirnya peserta lain cancel juga, dan batallah makan di restoran Indonesia. Emang sih penasaran juga pengen tau rasa makanan Indo di sini kayak apa sih? Tapi mestinya ga sampe beda banget kali ya secara yang masak banyakan orang Indonesia sendiri juga. Paling bahannya aja yang agak beda.

Nyampe hotel kami langsung mandi dan istirahat. Hotelnya sendiri bagus dan kamarnya modern style, tapi agak remang. Namanya Ramada Apollo Amsterdam Centre.

20160915_081847

20160914_210303

20160914_210249

20160914_211104

20160914_211108

Sampe’ hotel Pak Lukman katanya kehilangan 1 koper. Waduh, semua panik. Apakah ada pencuriankah? Setelah ditelusuri dan telepon sana sini, untunglah ternyata kopernya ketinggalan di hotel di Paris dan akan dititip ke rombongan Dwidaya Tour berikutnya yang akan ke Paris juga minggu depan.

Bersambung ke postingan berikutnya.

HARI 4

Bonjour Paris ! Acara hari ini diisi dengan berkeliling kota Paris dengan melewati Notre Dame, sebuah gereja dimana Napoleon dinobatkan menjadi kaisar, kemudian melewati Arc De Triomphe, yang adalah sebuah gerbang (monument) yang dibangun untuk memperingati kejayaan Angkatan Bersenjata pada masa Napoleon pertama. Anda juga akan melewati Place De I’Etoile, titik pertemuan dari 12 jalan lurus disekitarnya, Louvre Museum, Des Invalides, hotel yang dibangun oleh Raja Louise XIV, Place de la Concorde serta Champs-Elysees, jalanan sepanjang 2 km yang sangat terkenal di Paris.Tidak lupa mengabadikan moment special anda dengan berfoto dengan latar belakang EIFFEL TOWER. Setelah city tour Anda akan diajak berbelanja di Benlux Duty Free dan Galeries Lafayette

Sambungan dari postingan ini.

Bangun, mandi, breakfast.

Karena Residhome Apparthotel merupakan hotel apartemen kali ya, jadinyaΒ breakfastnya dikit dan simple banget. Tapi sosisnya enak aji gile sih, jadi ya udah makanin itu aja.

Hari ini kami bakalan ke kota Paris untuk city tour di sana. Eh tepatnya bukan city tour sih. Nanti liat sendiri deh ngapain aja kami di Paris.

Perjalanan ke kota Paris makan waktu 1 jaman, apalagi macet pula. Kenapa makan waktu 1 jam? Karena hotel kami ada di pinggiran kota, di Montevrain,Β deket Euro Disney. Jadi memang bukan di pusat kota. Kenapa ga di pusat kota? Karena katanya bus ga selalu bisa lewat kalo’ di kota Paris. Ah apapun itu gw mah cincay-cincay aja, yang penting hotel tempat kami bermalam juga bagus-bagus aja kok.

Memasuki kota Paris, sampah is everywhere loh. Banyak grafiti pula di tembok-tembok di jalanan. Berasa di Jakarta aja.

20160913_094307

20160913_094414_001

Pas ud masuk di Parisnya, di pusat kotanya, baru keliatan cantiknya. Suka banget sama arsitektur bangunan-bangunannya yang cantik dan klasik banget. Place De La Concorde nya (semacam lapangan gede gitu) juga impressive banget dengan patung-patung berdetail rumit. Ah pokoknya Paris is cantik menurut gw. So far di trip ini, kalo’ semua peserta lain rata-rata lebih demen Swiss, gw confirm paling suka Paris.

Ini maap foto-fotonya mantul semua karena difoto dari balik jendela bus.

img_20160913_182627

20160913_104034

20160913_19541320160913_12135320160913_10481020160913_10451820160913_10422420160913_10420020160913_10413320160913_10291520160913_102504img_20160913_18213420160913_10312120160913_10310620160913_10355320160913_10363920160913_103838

Jadi pertama-tama kami diturunin di Menara Eiffel (dari jauh, bo..), cuma buat foto-foto doang. Jangan pikir kami bisa masuk, naik, liat view Paris dll. HOAHAHAHHAHA ->Β ketawa gede-gede dengan atmosfer pahit.

Karena ini Eiffel gitu loh, maka kami foto-fotonya lama buanget. Ada kali hampir setengah jam di sini. Pas di rumah liat foto-foto, rasanya foto Eiffel kok banyak banget, padahal sebenernya angle-nya sama-sama aja gitu.

img_20160913_170245

img_20160913_163949

20160913_111116

Atas : TL kami + Pak Lukman yang bikin tour rame

20160913_111217

Pas naik bus lagi, ada banyak penjual-penjual nyamperin kami. Kebanyakan (maaf) kulit hitam. Sepertinya memang banyak imigran dari Afrika. Mereka jual scarf-scarf Paris gitu dengan harga ga terlalu mahal. Langsung deh kami beli, termasuk gw dan Mama. Lumayan buat oleh-oleh sih, tapi gw kurang suka motif-motifnya yang menurut gw keramean dan sangat ‘tourisy’ modelnya.

Abis itu kami naik bus, terus diturunin lagi di Arc De Triomphe. Itu loh, gerbang kemenangan alias gerbang bin monumen berbentuk kotak terkenal gitu yang merupakan pertemuan dari 12 jalan lurus di sekitarnya. Kalo’ liat dari udara, ini pattern-nya keren banget loh. Kalo’ ga salah ada sedikit misteri kan soal pattern kota Paris ini. Seinget gw ada landmark-landmark tertentu yang kalo’ ditarik garis, ternyata semuanya membentuk gris lurus. Gw lupa baca di mana, kalo ga salah di bukunya Dan Brown. Ah keren deh kota ini.

img_20160919_221701

img_20160913_165306

Setelah foto-foto di Arc De Triomphe (dari jauh), kami naik bus lagi, terus jalan. Nah pas jalan, si bus ngelewatin gerbang Arc De Triomphe ini dari deket, jadi gw beneran bisa liat tuh bangunan quite close, dan OMG cantik banget ukiran-ukirannya! Rasanya hati sampe’ pedes-pedes nyesel berdarah karena ga bisa foto deket/ langsung di bawah gerbang ini. Itu di langit-langit di bawah atapnya ada banyak tulisan (lupa itu tulisan apaan, kayaknya nama pahlawan atau semacam itu), belum lagi konturnya keren banget. Ya ampun asli cantik banget. Rasanya Eiffel mah ga ada apa-apanya dengan ‘kekayaan’ arsitektur Arc De Triomphe ini. Bener-bener mengagumkan banget.

Nah setelah foto-foto di dua tempat itu, gw pikir kami bakalan dituruin di Champs Elysees. Itu loh, jalanan panjang kayak di Pasar Baru, tapi kiri-kanan butik branded semua. Yang ada toko LV gede banget itu loh. Eeeh boro-boro, ternyata kaga, Saudara-Saudara! Sedih banget deh, sampe’ bergumam, “ini tour apaan sih, ngapain kita cuma dibawa ke tempat moto doang..”

20160913_120705

Jadi abis itu kami diturunin di Benlux Duty Free, tempat kami bisa belanja, huhuhu.. Ini semacam bangunan indoor kecil kayak mall gitu, terdiri dari beberapa lantai. Tapi asli keciiiil banget, kayak cuma kantoran gitu, dan orang Indonesia cuma ‘boleh’ main di lantai paling atas. Itu cuma ada gerai parfum, gerai kecil Longchamp, MK, koper-koper, dll. Bener-bener ga menarik. Tragis banget deh. Tapi ya peserta lain (termasuk Mama) idup juga sih. Belanja parfum, tas, koper, dll. Di sini enaknya tax nya langsung dipotong, jadi ga kayak di tempat lain dimana duitnya kudu di-claim di airport or via kartu kredit nanti.

Di sini akhirnya gw beli kaus Paris aja saking ga ada kerjaan. Dari Benlux kami dilepas untuk makan siang di area situ. Setelah Mama puas belanja beli parfum, kami nyari makan siang. Karena dikasitau TL nya di seberang ada mall gitu, akhirnya kami ke seberang Benlux, terus turun ke bawah. Beneran ada mall, dan kami makan McD lagi. Kali ini cobain fish wrap nya gitu yang ga ada di Jakarta. Ih enak.. dan di sini Fillet O Fish nya bisa double bo. Hoahahaa.. Heaven banget. McD sini lebih mahal daripada McD waktu di Milan. Kalo’ di Milan 5 EUR udah dapet paket burger-kentang-Coke, di Paris ini mah harga segitu 1 burger aja belum dapet. Gw lupa akhirnya abis berapa di McD ini karena Mama yang gantian bayar.

Abis makan McD kami balik lagi ke deket titik ngumpul, terus belanja di sekitar situ, di tepi jalan. Gw dapet satu kaus untuk Aimee sama magnet di toko yang dimiliki sama satu cewek yang juteknya memprihatinkan.

Habis dari situ, nyampe’ bus gw denger Pak Lukman ada bilang, “eh pada foto ga di piramida putih itu?” dan ngobrol-ngobrol mengenai itu. Gw tadinya ga ngeh, piramida putih apaan sih, dan ga terlalu pay attention. Belakangan pas mikir tau-tau gw baru ngeh bahwa itu maksudnya Louvre Museum!! OMG!! Langsung gw panik-panik tanya Pak Lukman, “Pak maksudnya Louvre ya??” Beliau mengiyakan. Ya ampuuuun, ternyata Louvre itu lumayan deket dari Benlux!! Tau gitu daripada makan ke mall itu mendingan gw ke Louvre aja! Oh no, ke Paris tanpa ke Louvre (biarpun cuma numpang moto doang karena ga mungkin masuk kan tanpa tiket), itu udah kayak beli burger tapi ga ada dagingnya! Aduuuuh sampe’ berasa nyesel dan sedih banget. Terus biasa deh bawaannya mau ngambingitemin orang. Alias TL. Kenapa sih dia ga ngasitau bahwa deket situ ada Louvre Museum? Eh apa jangan-jangan kasitau tapi gw pas ga denger ya? Ah tapi mestinya dikasitaunya ke semua orang dong, ini kan informasi yang SANGAT-SANGAT penting (ini nulisnya vibra dikit karena emosi). LOUVRE bo. There’s Monalisa down there!! Ah ya udahlah, faktanya pokoknya gw missed ke Louvre. Udah. Eat it. Sedih.. Miris.. Pahit.. Geram..

Abis ke Benlux, kami diturunin lagi ke Galeries Lafayette. Itu tuh, mall gede super cantik dengan kubah penuh motif. Mirip dikit sama Galleries Vittorio Emanuelle di Milan kira-kira. Sekali lagi, ini mall GUEDE banget. Kami dikasih waktu 3 jaman di situ! Beberapa peserta udah mulai mengeluh karena acaranya kok belanja mulu. Gw juga udah males banget, gatau mau ngapain lagi 3 jam di situ. I meant, mendingan gw jalan-jalan ke Champs Elysees. Emang sih itu kiri-kanan butik branded juga, tapi kan beda gitu loh, bisa sambil jalan-jalan di area terbuka. Atau.. mendingan gw ke Louvre.

Ya udah karena udah nasib pergi ke situ, kami keliling-keliling ga jelas aja. Mama masih semangat liat-liat baju. Oh iya gw juga sekalian sih nyariin tas titipan sepupu gw di Fendi, tapi ternyata itu udah late season dan ga dijual lagi. Selain liat-liat baju, kami juga ke satu lantai yang merupakan surga buat gw, yakni pernak-pernik. Ih asli barangnya lucu-lucu dan berkualitas banget. Demen banget deh. Untung gw bisa menahan godaan dan hanya membeli 1 magnet.

Dari situ gw lihat di peta bahwa ada view ke dome Lafayette di lantai dua. Langsung deh cari-cari dan nemu. Ih cakep sih kubahnya. Mewah gitu dengan motif cantik.

20160913_153920

img_20160913_164311

Dari Dome View, kami naik lagi ke lantai paling atas, yaitu terrace. Cuma buat liat view kota Paris aja sih di sore hari. Teriknya ga ketulungan dan ternyata cuma gitu-gitu aja view-nya. Itu para bule juga asyik berjemur di bangku-bangku deket situ. Kami sih cepet-cepet kabur masuk lagi. Ga tahan panasnya.

img_20160919_221401

20160913_155553

Ga lama kemudian kami mulai kecapekan dan kebosenan, terus akhirnya duduk di semacam food courtnya gitu terus makan es krim lagi. Oh no.. lama-lama gw bisa ice-cream-phobia. Jadi acaranya makan es krim sambil ngobrol-ngobrol. Tau-tau udah tinggal setengah jam lagi aja. Cepet-cepet kami turun ke titik pertemuan. Pas turun, gw ngeliat ada satu lantai isinya.. Disney World gitu!! OMG langsung ngelonjak terus offically kalap dan cepet-cepet liat-liat dan cari baju buat Aimee. Akhirnya dapat 1 dress doang. Ngantrinya panjang banget pula. Duh kalo’ udah gini langsung nyesel-nyesel, kenapa tadi kelilingnya ga lebih intense. Coba ada waktu lebih, bwahaha.. Di awal ngoceh-ngoceh ngapain lama-lama di mall ini, eh belakangan malah nyesel pingin lamaan.

Abis ngantri dan bayar, ngumpullah kami semua. Oh, menyenangkan sekali ngeliat para peserta biarpun bersungut-sungut tetep aja balik bawa LV, Fendi, sama Chanel. Bwahaha..

Dari Lafayette, lanjut lagi, kali ini untuk optional tour menyusuri Sungai Seine naik kapal. Optional tour ini dikenakan biaya EUR 20 (ga dikasitau lagi, di-charge belakangan seperti optional tour Titisee-Jerman). Ya udah naiklah kami ke satu kapal gede terbuka bareng semua turis lain. Berderet kursi-kursi, dan duduklah kami sambil liat-liat pemandangan kiri-kanan. Nama kapalnya Bateux Mouches dan maap aduh maap bukannya underestimate ya, tapi beneran biasa banget. Rasanya waktu gw naik kapal di Budapest, viewnya jauh lebih cantik deh. Dapet wine pula, hihi..

20160913_190857

20160913_191210

20160913_192151

img_20160919_221130

 

20160913_103147

20160913_103416

20160913_195938

20160913_194735

img_20160919_221912

img_20160919_220724

Ya udah 1 jam kami muter-muter. Akhirnya gw sama Ryan si bocah kelas 4 SD malah memulai diskusi berbobot kami tentang Pokemon. Tepatnya saling memamerkan Pokemon yang kami punya. Gw jadi tersulut karena Ryan ngaku udah punya semua Pokemon, termasuk beberapa yang gw sendiri ga pernah berhasil dapet. Sayang Ryan ga bisa membuktikan karena ga bawa HP nya. Hmmmmh… jiwa kompetitif gw tertowel. No pic, hoax, Ryan!

Di penghujung berakhirnya kapal, tau-tau keliatan Eiffel. Dan karena ini udah jam 8-an malam, langit mulai gelap. Jadi Eiffelnya pun mulai nyala lampunya. Cakep-cakep aja sih. Langsung heboh deh semua orang foto-fotoin Eiffel. Gw juga. Sampe’ rumah, kebingungan lagi, ini ngapain fotoin Eiffel nyala kuning begini banyak? Angle-nya lagi-lagi sama. Ga menarik banget, haha..

img_20160913_220627

Setelah acara naik kapal kelar, kami balik deh ke hotel kami di pinggiran kota Paris itu. Nyampe udah malem, belum makan karena tadi ga sempet makan di Lafayette. Pop Mie udah abis. Jadi Mama ngeluarin senjata andalannya yang lain yakni Regal. Langsung deh kami seduh Regal banyak-banyak. Untung gw bawa Tupperware jadi bisa digunakan sebagai wadah.

Good Nite Paris, City of Light yang cantik..

HARI 2

Lanjutan dari postingan sebelumnya di sini

Pagi hari Anda akan berkesempatan mengunjungi Mt. Titlis, pegunungan yang memiliki ketinggian 10.000 kaki dengan melalui Engelberg, tempat stasiun Cable Car berada. Tiba di Puncak Mt. Titlis dengan Revolving Cable Car (kereta gantung berputar pertama didunia). Dipuncak Mt. Titlis, Anda dapat bermain salju, berfoto atau berbelanja aneka souvenir serta mengunjungi Ice Grotto (Goa Es). Kemudian kita akan menuju kota Lucerne untuk mengunjungi Lion Monument, yang di dedikasikan kepada tentara yang gugur di Perang Revolusi Perancis.

Bangun dengan terkantuk-kantuk karena ga bisa tidur, terus mandi dan breakfast. Breakfastnya standard aja tapi masih lumayan variasi deh. Ada scrambled egg, sosis, pancake dll.

Rute hari ini adalah menuju desa Engelberg untuk selanjutnya naik cable car ke Mt. Titlis, salah satu gunung salju terkenal di Swiss. Kalo’ ga salah ada beberapa gunung yang biasanya dijadikan objek wisata di Swiss ini. Mt. Titlis, Glacier 3000, Jungfrau, sama Matterhorn, gunung yang ada di bungkus cokelat Toblerone.

Pagi ini gw sengaja pake long john buat antisipasi aja karena katanya suhu di atas bisa 0 – 5 derajat. Plus ga lupa bawa 1 light jacket.

Perjalanan sekitar 45 menitan ke Engelberg. Pemandangannya lumayan cantik dalam perjalanan. Ada danau cantik yang warnanya intense banget.

20160911_102307

Turun dari bus, pemandangan udah lumayan cakep sih, gunung batu yang shadowingnya bagus banget, di atas barisan rapat pohon-pohon hijau. Suhunya juga enak. Cable car udah mulai keliatan naik turun. Sambil foto-foto, kami nunggu 1 rombongan peserta yang baru nyusul hari ini karena ada tante yang baru keluar rumah sakit. Setelah cukup lama nunggu, akhirnya rombongan tsb. datang dan baru deh kami masuk bareng-bareng ke stasiun cable car-nya.

20160911_102442

20160911_104244

20160911_104343

20160911_104014

20160911_104956

Boneka ga penting yang entah kenapa tetep perlu difoto dan ditampilkan

20160911_103148

Kami akan naik 2 x cable car yang berbeda, dengan sekuens yang berbeda pula. Cable car pertama cukup kecil, untuk ukuran 4-6 orang saja. Naik ke atas dengan cable car pertama sekitar 15 menitan dengan pemandangan (lebih banyak) hehijauan, kami akan ngelewatin 1 stasiun (ga turun karena memang tujuannya ga ke situ) dan baru turun di stasiun kedua. Stasiun pertama itu lebih untuk resort tempat tinggal dan tempat main ski. Di perjalanan, selama di cable car pertama, kami bingung kok ada kayak bunyi kecapi or gamelan gitu di dalam cable car nya. Gw mendadak baru inget (pernah baca) bahwa itu adalah bunyi klenengan sapi.

dscn7266

dscn7267

dscn7281

20160911_102145

dscn7280

20160911_141624

20160911_100813

dscn7291

20160911_135548

img_20160911_164043

Di stasiun kedua kami turun dan berganti naik revolving cable car/cable car yang bisa muter dan muat orang banyak banget, sampe’ puluhan orang. Ini ga ada kursinya, jadi semua harus berdiri. Dindingnya kaca semua jadi bisa bebas liat view ke pegunungan. Viewnya lumayan sih tapi ga impressive menurut gw. Di sini mulai saljunya kelihatan. Jadi putih lebih mendominasi.

dscn7311

20160911_130021

20160911_135943

dscn7317

dscn7319

20160911_135514

Akhirnya kami tiba di pemberhentian akhir yang merupakan satu bangunan kayu (semacam rumah) yang terdiri dari beberapa tingkat. Tiap tingkat beda-beda, ada restoran, tempat foto dengan baju tradisional Swiss, toko oleh-oleh, gua es, dan puncaknya di tingkat paling atas adalah outdoor tempat main salju atau main ski.

dscn7325

Mumpung belum terlalu ramai, kami mutusin untuk makan dulu di restoran self service. Tempatnya cukup nice, dengan lantai kayu dan jendela super gede tempat kita bisa melihat pemandangaan salju di luar. Masih agak pagi, tapi restorannya udah mulai crowded dengan para turis.

dscn7328

20160911_121022

Selain western food, ada makanan India juga loh di sini. Gw pernah baca bahwa ada orang India yang punya resort di Mt. Titlis ini, sehingga ‘masuk’ jugalah makanan India. Mama pesan spaghetti biasa, sementara gw pesen makanan India yang kebanyakan terdiri dari kuah-kuah kental khas India yang super sedap. Untuk makanan India, makanannya ditimbang dulu, baru dicharge sesuai beratnya. Sepiring makanan India gw itu harganya EUR 12.5. Hampir 200 ribuan deh. Makanan Mama kayaknya lebih mahal, tapi gw lupa berapa. Everything’s expensive here in Switzerland.

20160911_120931

Spaghetti yang sangat biasa rasa dan tampilannya

20160911_120929

Ini enak banget. Kuahnya sedep pula. Seinget gw habis dalam tempo waktu less than 5 minutes.

20160911_121008

20160911_121037

Bangkunya gambar-gambar binatang ^^

Setelah cari bangku kami duduk dan makan. Makanan India punya gw lumayan enak loh. Cepet banget abisnya, saking lapar, doyan dan enak. Spaghetti punya Mama bisa dibilang ga enak.

Ga lama setelah makan, gw dan Mama langsung naik ke lantai tertinggi untuk liat salju. Begitu buka pintu, kami disambut hawa dingin dan pemandangan serba putih. Ada deretan bangku-bangku dulu tempat orang bisa duduk. Kiri kanan sekelilingnya ada semacam pagar tinggi sebagai batas, dimana kita bisa liat open view dari situ. Jalan jauhan dikit, langsung terbentang salju putih. Ada jembatan pula yang katanya lumayan sereem (kata peserta lain). Apesnya, karena gw pake boat yang somehow alasnya licin, gw lumayan setengah mati jalan di atas salju. Hampir tiap langkah gw nyaris kepeleset, sementara gw perhatiin orang lain fine-fine aja. Kayaknya memang sol sepatu gw yang kurang cocok digunakan di atas salju. Berasa pengen nyeker aja jadinya.

dscn7336

dscn7337

20160911_122834

20160911_123021

20160911_123220

Selfie dulu karena celingak-celinguk ga nemu temen sesama tour untuk minta tolong fotoin.

img_20160911_164244

20160911_123019

dscn7331

Ya udah akhirnya gw ga berani jalan jauh. Cuma foto-foto dikit aja, abis itu balik dan liat-liat pemandangan. Hirup udara dalem-dalem, nikmatin segernya hawa pegunungan. Suhu ternyata ga gitu dingin juga. Adem aja gitu kayak di Bandung. Untung ga heboh pake winter coat segala (walaupun udah bawa di koper, hasil malak cici).

Sambil gw jalan-jalan di salju tadi, Mama duduk aja di kursi-kursi di deket sana dan malah di-pedekate-in sama beberapa orang rombongan turis dari Taiwan dan China. Gw dari jauh udah ngawasin aja sih. Agak-agak worried ya, takut si Mama diapa-apain, plus ngiri juga, gw yang kece gini aja ga ada yang pedekate-in, eeeh Mama yang udah tua-tua keladi malah laku pisan.

Akhirnya cepet-cepet gw samperin mereka dengan langkah gagah dan galak. Ternyata mereka lagi ngobrol-ngobrol heboh pake’ bahasa Mandarin (yang tidak gw mengerti) dan Mama lagi diramal tangannya (katanya Mama orangnya beruntung, nasib baik, anak-anak baik, dll. -> diterjemahkan dengan bangga oleh Mama). Halahh.. Gw masih agak curigaan sih, tapi dipikir-pikir sepertinya ga mungkin ada modus apa-apa sih secara mereka satu rombongan tour juga dari negeri lain, sama kayak kami-kami. Ya udah gw cuma liatin aja sambil terus lirik-lirik tangan-tangan mereka, siapa tau ada yang mendadak-copet. Soalnya aneh aja gitu, kok bisa semua ‘ngeroyok’ Mama yang tadinya lagi duduk manis-manis sambil nunggu anaknya yang juga manis.

Akhirnya ga lama-lama juga sih di situ karena ga ada aktivitas yang dilakukan juga secara sepatu gw licin dan ga bisa mainan salju. Kerjaan selanjutnya adalah explore lantai demi lantai di bangunan itu. Buntut-buntutnya kami pesan es krim Movenpick seharga 3.8 CHF.

20160911_131258

Es Krim Movenpick. Rasa? Biasa banget.

Habis makan es krim (yang rasanya biasa banget, beda banget sama es Italy kemarin), Mama belanja dark chocolate di toko cokelat (iyalah ya, masa belanja cokelat di toko semen). Gw absen belanja cokelat di situ karena kata TL cokelat lebih murah dan banyak di Belgia nanti. Mamanya loyar, anaknya pelit.

Setelah itu, kami ke toko souvenir liat-liat, dan gw mampir ke goa es di lantai dasar. Lagi-lagi gw ga bisa jalan karena sepatu yang licin, dan baru beberapa langkah masuk goa es, gw nyerah dan jalan balik lagi.

dscn7344

Terakhir sebelum kami ngumpul untuk berangkat, gw ke lantai tertinggi lagi untuk once more captured the view di sana, sekalian farewell gitu. Gw mah orangnya romantis. Lahap deh tuh semua, salju everywhere yang seolah nyatu sama awan dengan langit biru yang juga seolah ga mau kalah, pingin ikutan exist; danau cantik warna biru turqoise yang kecil tapi berusaha banget eye-catching di kejauhan sana, pepohonan hijau menjulang gagah dan cable car jalan anggun bolak-balik under seutas tali yang meragukan banget. What a nice view, walaupun not the best one.

20160911_122947

dscn7323

20160911_130148

20160911_124518

20160911_122730

20160911_122917

20160911_125257

dscn7338

Habis itu gw ke WC untuk copotin long john karena setelah ini kami bakalan ‘turun gunung’ dan ngunjungin kota lain di Swiss, yaitu Lucerne or Luzern.

Baliknya kami naik cable car yang sama lagi, 2 kali. Pemandangannya masih lumayan bagus dan free kabut.

dscn7302

dscn7329

20160911_140826

dscn7322

20160911_142316

Naik bus, setelah itu kami lanjutin perjalanan sekitar 1 jam-an ke Lucerne. Sampai sana kami diturunin di satu area pertokoan, kayaknya si pusat kotanya Lucerne ya, semacam Old Town nya. Toko pertama yang kami masuki adalah Casa Grande, toko souvenir. Di sini gw cuma belanja magnet dan pisau Victorinox buat adik, plus numpang pipis. Banyak dijual jam kukuk di sini, tapi rasanya ga guna ya beli jam kukuk biarpun jamnya cantik-cantik banget.

20160911_152757

Gambar ga penting tapi too cute to be ignored

20160911_153146

Habis ke Casa Grande, kami masuk lebih dalam lagi ke lorong-lorong toko di situ. Karena hari itu hari Minggu, hampir sebagian besar toko di tutup. Di Eropa emang gitu. Jalan-jalan-jalan, Mama kepo mau liat-liat toko jam, Tissot and Tag Heuer. Nyaris gw mau beli juga, battling between heart and mind. Sayang akhirnya akal sehat yang menang. Walaupun hati gw yang ngebet ini mati-matian bilang, “Gw sudah lama banget ga beli jam bagus..”, akhirnya tetep loh my mind kekeuh bilang bahwa gw saat ini gak butuh jam. Biarpun itu jam bagus. Apalagi jam jelek. And I nodded dengan berat badan. Eh berat hati. Well, my mind is true. Biarpun gw tahu beli di sini lebih murah dan belum tentu keulang lagi bisa beli dengan harga cheaper, akhirnya toh tetep ga beli jam tangan itu. I won. Horrayyyy.. *padahal hati nyesek.

20160911_152715

View kota Lucerne

20160911_152338

Abis itu kami nemu satu cafΓ© dan numpang duduk plus makan di situ. Biasa aja sih makanannya; satu pizza, satu cake manis dan satu roti. Semua mahal, inget itu. Mama minum Aqua botol hasil bawa dari hotel, eh ketahuan dan langsung ditegur sama pelayannya. Ih mata elang betina banget wanita ini. Ya udah abis itu kita ga berani minum dan keluar dari cafΓ© itu langsung habek-habek air Aquanya dengan buas.

20160911_163251

20160911_162742

Habis makan kami mampir ke satu toko gede Bucherer yang isinya jam tangan semua kebanyakan, untuk tukerin 1 kupon yang dikasih sama TL kami dengan sebuah sendok perak gitu. Sendoknya kecil aja sih, tapi namanya gratisan, apa daya, kami tak bisa tahan.

20160911_174233

Habis ke Bucherer, karena masih ada waktu, gw ajak Mama nyebrang jalan dikit dan liat-liat danau di situ. Banyak orang lagi duduk-duduk ataupun jalan-jalan di sana. Viewnya biasa aja sih, cuma menyenangkan aja suasananya. Rileks, santai, sangat tourisy. Rasanya ga ada ya spot macam gini di Jakarta. Di situ gw dan Mama beli es krim lagi. Ini kedua kali beli es krim hari itu, dan rasanya udah mulai eneg makan es krim. Terus coba cari WIFi, eh hoki, nemu.. sambil coba main Pokemon deh, tapi karena Pokemon-nya butut semua, akhirnya gw mogok main lagi.

20160911_172647

20160911_172734

20160911_171428

Ga lama kemudian kami balik ke tempat janjian, terus jalan kaki ke objek wisata berikutnya, yakni Lion Monument. Gw baca sendiri sih sejarahnya via internet. Patung singa berwajah sedih dengan tombak tertusuk di badannya ini adalah untuk mengenang jasa para tentara bayaran Swiss yang mati ngelindungin kerajaan Perancis. Jadi jaman dulu ternyata memang di Swiss ada yang namanya tentara bayaran yang di-hire oleh negara-negara lain. Tentara ini dilatih oleh keluarga bangsawan, sebagai sumber income gitu. Kenapa perjuangan para tentara bayaran ini patut dikenang sampe’ dibikinin monumen segala? Ya bayangin aja itu tentara Swiss kan bisa dibilang cuma ‘belain’ negara lain, bukan negaranya sendiri, tapi mereka mau loh bener-bener dedicated nyawanya sendiri buat negara lain. Itu yang namanya commitment and loyalty kali ya. Monumennya sih sederhana aja gitu, tapi sizenya gede. Kalo’ liat tampang singanya emang berasa sedih dan miris banget sih. I meant, muka singanya itu udah bicara banyak, more than words. Biarpun semua orang ngerasa ga guna ngunjungin ni patung, tetep aja gw seneng bisa jadi someone yang ikutan ngenang sejarah luar biasa ini. Berasa I was the part of the history, menurut gw.

img_20160913_071309

Udah deh habis ke Lion Monument, kami balik ke hotel.

Balik hotel (masih hotel yang sama), handuk semua ga ada dan ga diganti baru. Langsung deh call ke housekeeping dan minta handuk baru. Orangnya bilang, “Did you order a new towel?” Well nggak sih, tapi ini handuk yang lama aja juga ga ada. Untung orangnya ga banyak cingcong, ga lama diambilin lah handuk baru.

Untuk dinner kali ini gw dan Mama bikin Pop Mie gitu. Inget kan kalo’ di hotel ini ga bisa bikin air panas? Akhirnya gw dan Mama turun ke bawah untuk beli air panas. Kata peserta lain yang kemarin udah beli sih kita akan dikasih sepoci air panas. Sampe’ restoran di bawah, kami malah ditolak dan disuruh ke bar. Jalanlah ke bar untuk minta air panas. Bartendernya bilang, kami harus bawa wadah. Waduh bingung juga ya, wadah apaan. Akhirnya gw naik lagi, prepare langsung Pop Mie nya dan bawa 2 Pop Mie itu turun ke bar. Maksudnya air panasnya mau langsung dituang aja ke Pop Mie-nya. Bartendernya kelihatan kurang seneng sih, tapi akhirnya dia tuangin air panas ke masing-masing Pop Mie itu. Pas gw mau bayar, dia sempet mikir sebentar, terus dia nolak. Iiiih jutek-jutek tapi baik juga. Cium juga lo..

Pas gw jalan balik ke kamar, rombongan peserta tour lain ada yang jalan ke bar, bawa Pop Mie juga, hihihhi.. Pasti minta air panas juga. Ga kebayang deh, pasti si bartender agak bete.

Di kamar, pas mau makan Pop Mie, kami baru ngeh bahwa ternyata tuh Pop Mie ga dikasih garpu plastiknya. Kayaknya emang ga ada deh di paketan Pop Mie itu. Waduh langsung deh muter otak gimana cara makan Pop Mienya. Kalo’ minjem sendok garpu ke restoran rasanya sih males banget ya, mengingat ni hotel kayaknya ga terlalu user friendly gitu. Mikir punya mikir, tau-tau si Mama keingetan bahwa tadi di Bucherer kita dapet souvenir sendok silver kecil. Hoaaaa.. berasa bego banget dan ‘kalah’ sama Mama untuk problem solving, bwahaha.. Siapa dulu dong anaknya..

20160911_195826

Akhirnya cepet-cepet kami cuci tuh sendok, terus makan deh Pop Mie nya pake sendok itu. Tetep aja susah sih, tapi at least mendingan lah bisa makan.

Abis makan lagsung mandi terus tidur. Kayaknya ga gitu bisa tidur lagi deh malam itu.

Bersambung ke sini.

Background :

Dari sejak hamil sampe’ lahiran gw ga pernah travelling jauh lagi, padahal biasanya setaun diusahain minimal sekali travelling jarak jauh. Emang susah ya kalo’ terlahir gila jalan. Awal taun ada sih Bangkok sama family, terus ke Singapore urusan kantor sama beberapa domestic travelling, tapi kayaknya belum nampol, nendang, dan afdol kalo’ belum terlalu jauh (blagu). Plus Aimee ‘baru’ 9 bulan, I meant kayaknya masih bisa ditinggal tanpa anaknya berasa ditinggal. Kalo’ udah gedean kan dia bisa nangis bombay nyariin emaknya karena udah tau ditinggal (*emaknya pede banget bakal dicariin sama anaknya).

Mengapa ke West Europe?

Karena tour yang dimau ga jalan dan hanya tour West Europe ini yang jalan di waktu yang dimau.

Mengapa hanya 8 hari?

* Karena ga bisa cuti lama-lama. Ini aja udah minus.
* Karena kalo’ lama-lama ya harganya pasti meroket juga.
* Kalo’ lama-lama takut ga pingin balik lagi.
* Yang terakhir dan most importantly, karena ada 1 makhluk mungil bin lucu nan cute di rumah, menanti emaknya pulang.

Kenapa pergi sama Mama?

* Pengennya sih sama suami, tapi Aimee kayaknya ga mungkin ditinggal bapak-emaknya sekaligus. Bisa patah arang dia.
* Pengen yang kedua adalah pengen pergi sendiri, tapi jujur belum berani and pasti ga dikasih suami, sementara kalo ikutan tour, pergi sendiri itu jauh lebih mahal. Bisa nambah 5-7 juta (why oh why!!!)
* Akhirnya ajak Mama pergi d karena Mama adalah yang paling available tiap diajak pergi.

Kenapa ikutan tour?

Karena ajak Mama. Kalo’ jalan sendiri rasanya susah ajak Mama. Belum nyasar-nyasarnya dll. Bisa-bisa Mama langsung ngambek naik gojek balik Jakarta.

Overall tahapan tour ini :

1. Terima email iklan tour Yunani dari Chan Brothers. Tanggalnya pas pula, pas ada libur hari merah tgl. 12 Sept (Senin) sehingga cutinya ga usah terlalu banyak.
2. Kalap dong, langsung daftar and ajak Mama, sambil paralel minta ijin suami. Melas-melas, bujuk-rayu (ga mempan), sampe’ akhirnya on my birthday karena udah hopeless, langsung nodong dia, minta kado berupa ijin untuk pergi, and… BERHASIL (biarpun suami cemberutnya sempurna)!! Yeeeeay pinter ya gw!! Jadi-jadi, para bini, kalo’ mau pergi tanpa suami, pergilah deket-deket waktu ulang tahun kalian, HOAHAHHA..
3. Coba apply cuti juga. Nunggu mood Boss bagus, kemudian dengan muka polos ceria langsung ijin mau cuti 4 ari. It worked!
4. Menerima kabar dukacita bahwa Yunani ga kekumpul peserta. Sedih dan putus asa; langsung banting stir cari tour lain di periode tanggal yang sama karena spirit travelling sudah membara dan on air banget. Sehari-hari merangkap jadi HR / tour hunter di kantor, sampe’ missed lunch berkali-kali karena sibuk browsing and neleponin tour agency. Semoga tagihan telepon kantor ga bengkak.
5. Nemu 1 tour India yang pasti jalan. Eeeh Mama nolak mentah-mentah, padahal jarang-jarang loh tour India jalan di low season gini.
6. Hunting lagi, nemu 1 tour West Europe yang juga pasti jalan. The one and the only one yang tanggalnya juga pas dan harga ga mahal-mahal banget. Dwidaya Tour lagi, yang notabene lumayan lah namanya. Ya udah cepet-cepet daftar deh daripada ga ada dan ga bisa travelling. Padahal sebenernya ga terlalu napsu ke West Europe.
7. Cepet-cepet siapin dokumen karena waktu pergi tinggal 2.5 minggu lagi. Bikin pas photo, minta bank reference, dll. Untung karena udah pernah ada visa Schengen sebelumnya, proses visa yang sekarang lebih cepet. Ga usah pake’ ke kedutaan lagi u/ fingerprint dll. 3 hari dari document submission, visa udah jadi. Cepet banget! Anyway baru ngeh kalo’ sekarang bikin visa Schengen-nya ternyata via third party / agen (namanya TLS).
8. Begitu granted visa, langsung mulai browsing-browsing destinasinya, hotel, dll. Sehari-hari merangkap jadi HR / West Europe browser di kantor. Baru mulai semangat untuk jalan ke West Europe.

Sekian prosesnya.

Persiapan sendiri standard aja sih. Prepare koper seminggu sebelumnya. Pinjem banyak ini itu sama cici, mulai dari botol-botol kosong, kaus kaki, receh Euro, coat, topi, sarung tangan, dan entah apalagi. Gw adalah orang yang sangat bermodal; doyan travelling tapi sometimes ga punya essential stuff buat travelling, dan… ga berasa malu atas hal tersebut. Yippiiii..

Hari H berangkat (Jum’at 13 Sept), gw ke kantor dulu dan ijin pulang pagian jam 3-an ke rumah Mama. Jadi jalan ke airportnya langsung dari rumah Mama, barengan sama Mama. Pagi-pagi, Aimee udah ikut nganter gw ke kantor sekalian ‘perpisahan’. Ih, berasa sedih banget loh ninggalin bocah satu ini. Pas udah mau turun di lobby kantor sampe’ bercucuran air mata gendong dia, sumprit. Drama banget sih, tapi asli berasa kehilangan banget dan ngerasa jahat banget karena tega ninggalin dia. Terus di WC kantor lanjut nangis lagi sesengukan sambil menyemangati diri bahwa it’ll be only 8 days (*heran, kalo’ ninggalin suami ga sedih sama sekali yah bwahaha..)

Sore jalan ke airport diantar sama koko. Telat hampir 1 jam karena bloody traffic via Kota. Nyampe’ langsung kenalan sama tour leader, check-in, imigrasi, dan nunggu sambil baca Harry Potter yang baru dibeli. Bela-belain bawa berat-berat tuh buku karena ga tahan mau cepet baca. Jam 8-an malem boarding dan 8.30 take off. Pesawat Turkish Airlines. Anyway sebel juga, tiap x pergi jauh gini pasti dapet pesawatnya Turkish. Padahal pengen d cobain Emirates or Qatar. Hmmmh ini pasti pertanda ilahi bahwa gw harus travelling lagi, supaya bisa cobain 2 pesawat itu BWAHAHA..

Perjalanan sekian belas jam sampe’ Istanbul (subuh), terus transit bentar di sana and lanjut lagi ke Milan sekitar 2.5 – 3 jaman. Transit di Istanbul Mama langsung beli kurma dan gw langsung cuci muka + pake’ hardlense. Ga lama kemudian, kami langsung boarding and take off lagi ke Milan. Kerjaan di pesawat standard aja sih : nonton. makan. tidur. ke wc. mikirin Aimee.

20160910_083305

Sampe’ airport Milan, imigrasinya lancar dan sepi. Begitu koper keluar, Mama langsung heboh nyariin obat di koper. Sibuklah kami bongkar koper Mama demi nyariin obat. Lumayan bikin naik darah dan ga sabaran sih karena ga enak sama peserta tour lain yang nungguin. Why oh why, Mama ga bawa obatnya di tasnya ajahhh??

20160910_093045

20160910_094758

20160910_093001

Setelah itu (obatnya tetep ga ketemu) kami naik ke bus dan berangkat ke kawasan Duomo di pusat kota Milan. Pertama-tama kami lihat Le Scala Theatre. Sesuai namanya, ini adalah tempat nonton teater. Cuma lihat dari depan aja sih.Bentuk bangunannya sendiri biasa aja, ga terlalu banyak detail ini itu.

20160910_141803

Bus kami sepanjang trip West Europe ini

dscn7237

 

 

dscn7239

dscn7238

Setelah itu kami jalan dikit dan masuk ke Gallerie Vittorio Emanuelle, kayak indoor mall branded gitu di Milan dengan design kubah cantik dan arsitektur keren.

dscn7242

img_20160910_212954

20160910_110059

20160910_110337

20160910_123131

20160910_134609

Selain itu, di Kompleks Duomo ini ada juga Milan Cathedral, gereja yang ga kalah cantiknya. .

img_20160910_212657

Ngomong-ngomong soal Milan Cathedral yang merupakan gereja terbesar ke-4 (sedunia kalo’ ga salah), gw pikir kita bakalan masuk ke dalam katedralnya, kayak tour-tour biasa, and ternyata.. nggak masuk sama sekali!! Miris banget rasanya. Yah intinya kami dilepas di kompleks itu untuk foto-foto, belanja, makan siang, dan keliling-keliling. Kalo’ mau masuk ke katedralnya ya boleh aja sih, tapi bayar sendiri, antri sendiri. It’s excluded from the tour. Gw sampe’ baca ulang lagi itinerarynya, apakah wordingnya kira-kira maknanya sejenis “… kita akan memasuki Milan Cathedral..” tapi memang wordingnya ‘licik’ sih :

Hari ini Anda tiba di Milan Anda akan diajak city tour menikmati keindahan kota Milan dengan mengunjungi/melewati sebuah gereja bergaya Gothic yang dibangun pada tahun 1813, Milan Cathedral, La Scala Theatre salah satu gedung opera yang terkenal di Eropa, Galleria Vittorio Emanuele II yang sering disebut β€œThe Living Room of Milan” atau tempat tinggal orang Milan yang letaknya berdekatan dengan Milan Cathedral. Tak ketinggalan berjalan-jalan sambil berbelanja di kawasan Duomo, tempat yang terletak di pusat kota Milan ini terkenal dengan fashionnya. Menuju Zurich untuk bermalam

KUNYUKKKKK!!!

Jadi sedikit info soal tournya, tour yang gw ikutin ini adalah tour ‘flexible’ yang notabene lunch and dinner dicover sendiri oleh peserta alias ga dapet makan. Juga ga ada local guide sama sekali (cuma tour leader dari Jakarta). Jadi beneran cuma tour jalan-jalan aja sih sebenernya. Makanya harganya murah pisan.

Jadi aktivitas gw selama di Kompleks Duomo ini :

Pas di Gallerie Vittorio Emanuelle (mall kecil) :

* Melahap puas-puas view kubah serta dinding cantik Galerie Vittorio Emanuelle. Plus foto-foto pastinya. Impressive banget!

img_20160910_202724

* Makan siang di McDonald. 1 paket burger-kentang-Coke sekitar 5 EUR (note : 1 EUR anggap aja IDR 15,000). Di McD ini juga kita bisa numpang ke toilet dengan gratis, beda dengan public toilet kebanyakan yang biasanya requires us untuk bayar 0.5 atau 1 EUR.

20160910_113403
* Gw juga baru inget bahwa di sekitar Gallerie Vittorio Emanuelle sini katanya ada satu cemilan yang terkenal yang namanya Luini. Langsung deh google-google pake’ wifi gratisan yang mati-idup-mati-idup di situ dan akhirnya berhasil nemu tempatnya. Sesuai yang ditulis di internet, antriannya panjang banget, tapi cepet. Jadi akhirnya gw ikutan ngantri. Dari sekian banyak menu, gw pilih Ham & Mozarella atau semacam itu deh, dan rasanya.. asli ga enak banget. Tapi melihat betapa populernya ni tempat, pasti lidah gw yang salah, bukan rotinya. Anggap aja ga cocok taste-nya or mungkin gw harusnya milih menu yang lain. Anyway harganya murah-murah aja, 2.7 EUR.

20160910_125311

20160910_125910

* Masuk toko-toko branded (ga banyak sih. Ada Prada, Versace, dll.), muter sekali, terus keluar lagi. Polanya gitu terus untuk semua toko.

20160910_110157

20160910_134558

* Beli es krim Savini yang sumprit enak banget. Letaknya agak nyudut jadi harus fully-aware supaya ga kelewatan. Gw beli yang rasa tiramitsu sama satu rasa lagi, asal tunjuk doang karena ga ngerti judul rasanya yang pake’ Bahasa Italy. Apapun itu, itu es krim paling enak sepanjang trip waktu itu. Es nya lembut dan ringan banget, ga bikin kenyang. Es krim 2 rasa gini harganya 4 EUR.

20160910_123520

20160910_124136

* Liat-liat orang muter di atas lantai bergambarkan banteng yang katanya dilakukan supaya kita bisa balik lagi kelak ke Milan atau untuk best luck, which I don’t believe at all. Males pula jalan-jalan muterin banteng ga jelas itu dan harus rebutan sama antrian banyak orang, jadinya gw cuma nontonin mereka muter-muter gitu. Ga menarik, tapi boleh juga untuk ngabisin waktu.

20160910_133857

Di luar Gallerie Vittorio Emanuelle :

* Ke toko souvenir, beli kaus dan beli kartu pos lucu, terus langsung ditulisin dan dikirim ke Jakarta buat Aimee pake prangko 5 EUR. NB : Sampe’ sekarang, 22 September 2016, kartu posnya belum nyampe rumah (dikirimnya tgl. 10 September 2016). Kayaknya prangko gw kedikitan.
* Nikmatin view katedral (dari luar ya, catat.. dari luar)
* Jalan ke sisi luar, masuk ke H&M, liat-liat. Ga nemu apapun yang menarik, jadi keluar lagi. Cuma ngadem doang sebenernya.

20160910_111818

20160910_111342

20160910_111836

Di Milan lagi lumayan panas dan terik. Kalo’ ga salah suhu 31 derajatan, dan seperti biasa TL udah ngingetin untuk be very careful dengan para copet di Eropa, terutama Milan dan Italy. Anyway intermezzo aja, kata TL, orang Italy anti sama Starbucks. “It’s like we drink a mineral water,” kata mereka. Pokoknya Starbucks dianggap ‘rendahan’ banget deh, beda sama kopi asli mereka.

Jadi, di Milan intinya kami cuma ke kompleks ini aja sih. Ga ada ke markas AC Milan or Intermilan. Untung gw memang not a fans jadi kayaknya biasa-biasa aja, sementara ada peserta lain yang ngarep-ngarep bisa ke situ.

Udah deh setelah 2.5 jam-an, kami ngumpul lagi, terus dikasitau bahwa kami bakal lanjutin perjalanan ke Swiss, tepatnya ke kota Zurich, kurang lebih 4,5 jam. Begitu denger gini, langsung rombongan bubar lagi karena semuanya mau ke toilet dulu dan toilet gratis adalah di McD yang notabene lumayan juga jalannya dari tempat ngumpul. Akhirnya perjalanan ngaret sekitar 20 menitan.

Ya udah abis itu naiklah kami ke bus dan jalan 4.5 jam. Lumayan cobaan dan ujian buat both pantat dan kesabaran. Macet pula. Untungnya di tengah jalan seperti biasa kami stop dulu di rest area. Rest area ini setau gw udah masuk di Swiss deh. Di rest area ini ada toilet stop sama supermarket buat belanja-belanja. Gw beli beberapa roti buat nyemil di bus sambil nunggu dinner nanti. Karena waktu itu udah sore menjelang malam, gw juga coba cek ke Tour Leader (selanjutnya akan disingkat TL), apakah nanti di sekitar hotel banyak tempat makan, karena gw curiga di sana akan gersang makanan secara hotelnya deket airport Swiss. Bener aja, kata TL ga ada sama sekali (!!!). Hix, kenapa ga dikasitau dari awal ya? Ini nanya baru dikasitau. Coba kalo’ ga nanya, bisa-bisa nanti kita harus dinner di hotel semua karena ga ada resto di sekitar situ.

Langsung deh buru-buru gw and Mama belanja sekalian buat dinner juga di supermarket itu. Untungnya ada restoran juga. Cuma karena waktunya terbatas, akhirnya kami cuma take away aja. Take awaynya simple aja : 1 lasagna sama 1 nasi-ayam-kentang. Dua item. Harganya 31.9 EUR alias hampir IDR 450,000. Duh nyeseknya itu sampe’ bertahan konsisten mangkal terus di ati sampe’ beberapa malam. Ga worth it banget, tapi memang we didn’t have any choice sih. Gw kayaknya ga bisa deh dinner cuma roti-roti doang. Mesti makan berat gitu, dan resikonya yah seperti ini. IDR 450,000. Nangis darah deh, secara siangnya gw baru seneng-seneng karena bisa nahan diri ga belanja aneh-aneh dan duit masih lumayan utuh. Dua porsi makan siang ini bener-bener menguras kantong sekaligus air mata.

Abis itu perjalanan lanjut lagi, dan pemandangan mulai berubah jadi cantik banget dengan danau raksasa yang selalu terpampang di setiap belokan yang kami lalui. Menghibur banget setelah pengalaman beli makanan yang bikin eneg tadi. Gw sempet tanya ini danau apa sih ke TL, tapi gw lupa namanya. Sikokon kalo’ ga salah deh. Cantiiiik banget danaunya. Bener-bener represent Swiss banget.

img_20160910_212255

20160910_191701

View cantik during our way to Swiss

20160910_191524

Danau cantik during our way to Swiss (*lupa namanya)

Sampe’ hotel di Zurich (Dorint Airport Hotel), jam udah sekitar 9 an malam. Langsung deh check-in kamar dan beres-beres. Baru mau buka koper, TL telepon dari receptionist, meminta gw tuker kamar sama 1 peserta tour yang lagi honeymoon karena ranjang di kamar gw itu queen, bukan twin. Ya sudah beberes koper lagi terus pindah kamar. Kamar gw and Mama sekarang ranjangnya jadinya twin. Gw dan Mama dipisahkan secara kejam, bwahahah.. *halah..

20160910_203404

20160910_203433

20160910_203432

Kamarnya sendiri OK sih menurut gw. Hotelnya juga bagus-bagus aja. Karena memang hotelnya di deket airport, di lobby ada papan flight schedule airport yang terupdate tiap beberapa waktu. Informatif banget ya.. Papan jadwal kedatangan bus di halte busway Jakarta mah boro-boro update tuh informasinya.

20160911_085010

Dorint Hotel Lobby

20160911_085047

Sapi merah trademark Hotel Dorint dengan background flight schedule board

Info lain : colokan sama-sama aja kayak Jakarta. Wifi free dan cepet. Sayangnya di kamar ga ada pemanas air/coffee maker sama sekali. Jadi kalo’ mau masak air, harus minta air panas ke restoran di bawah dan… bayar 2 CHF (duit Swiss). Oh iya di Swiss memang bisa pake’ Euro, tapi sebagian besar transaksi masih dilakukan dengan mata uang mereka sendiri yakni CHF. Masih eksklusif gitu. Rate CHF sekitar IDR 13 ribuan. Mirip-mirip lah sama EUR. Duit serasa ga ada artinya T_T

Abis beberes, kami langsung makan makanan yang dibeli di supermarket (yang harganya amit-amit itu loh.. inget kan?). Ni makanan taste-nya biasa banget, jadi makannya makin sakit ati. Udah gitu si Mama bilang dia kenyang pula karena makan roti di bus tadi. Haduh!! Tau gitu beli satu porsi aja dinnernya. Sakit ati makin nyut-nyutan deh. Karena Mama merasa bersalah akhirnya dia ikutan nyomot-nyomot ayamnya juga, tapi langsung ngoceh-ngoceh karena katanya ayamnya ga bersih, masih banyak darahnya. Waduh, speechless deh.

20160910_210933

Dua porsi makanan seharga 450,000 rupiah (kiri : lasagna; kanan : nasi ayam kentang). Rasa lumayan.

Setelah itu tidurlah kami. Gw langsung pules, tapi jam 3-an kebangun dan ga bisa tidur lagi sampe’ pagi. Untungnya di Jakarta udah pagi (selisih waktunya 5 jam duluan di Jakarta) sehingga bisa whatsapp-an dan video call sama my Aimee.

Bersambung ke sini


Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,714 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Everyday in my mind : Bintan. Lombok. NZ. UK. Greece 😣😣😣
.
#trip
#vacation
#holiday
#dream
#target
#bucketlist πŸ’œπŸ’šπŸ’™β€
.
#aimee
#ootd
#baby
#instababy
#cutenessoverload 
#cute 🍣🍣🍣🍣 all u can eat
.
* nice food, semua sushinya enak! Sashimi truffle recommended. Jenis makanan lumayan banyak dan lengkap.
.
* poor service, tampang waiter waitressnya super datar bikin kita pingin mencret. Makanan lamaaa bgt and pesen 15 macem yg dateng 10 macem. Pesen 50 slices yang dateng 25 slices. Niat bikin AYCE ga si? Triknya elegan-an dikit dong.
.
* pesen ice cream, 1 scope-nya kecil banget, miris hati ini. Minta tambah, baru dateng setelah 15 menit. Segitu lamanya ya serve 1 scope amat-sangat-kecil ice cream?
.
* selesai
.
Karena makanannya enak maka masalah service tadi sedikit (saja) termaafkan
.
Harga buffet nett 234 rb. Anak kecil di bawah 10 tahun 50 % harga. Semua sudah termasuk free flow ocha. Time duration 2.5 hours.
.
#review
#restaurantreview
#3wisemonkeys
#senopati
#buffet
#japanese Amazed with the confetti
.
#aimee
#baby
#happybdaykarliekaylee 
#instababy 
#bakmigolek 
#party
#kauskakinyaitem Happy bday Karlie and Kaylee 😎
.
@kaylee_jovanka
@di4n_agust1na
@ivan_salim
#niece
#cousins
#family
#happybdaykarliekaylee 
#birthday
#bakmigolek
#party Mi gede familia πŸ‘¦πŸ‘§πŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘΄πŸ‘΅
.
#family 
#bigfamily
#cousins
#blessing
#happybdaykarliekaylee 😎😎😎
.
#aimee 
#baby
#instababy
#cutenessoverload Paling demen pake sepatu orang πŸ˜„
.
#aimee
#baby
#instababy
#cutenessoverload Our humble buka puasa. Ga kenyang but had a fun and lots of laugh 😁
.
#bukber
#bukapuasa
#office
#alfalaval
#dinner
#ramadhan
#puput 🀣🀣🀣🀣
.
#aimee
#instababy
#baby
#learning
#motoric
#gregetansendiri Not a big one but has unique room with stair and small living room
.
#hotel
#hotelreview
#studioMhotel 
#design
#interiordesign Met buka puasa
.
#latepost
#colettelola
#drink
#beverage Nice spot to chill out πŸ˜€
.
#greenery
#hotel 
#studioMhotel
#spore
#design 
#interior -> baru cobain #telatbanget
.
Lebih suka saingannya, si Golden Duck something itu πŸ˜€
.
#irvins
#saltedegg 
#snack
#spore
#food
#fishskin Cute!
.
#animal
#beach
#sand
#seashell 
#maldives #snorkeling
#maldives
#buffy
#beach
#sea
#turquoise 
#holidayisover 
#traveling #beach
#sand
#turquoise 
#adaaranprestigevadoo 
#adaaran 
#resort
#holiday 
#traveling 
#maldives 
#island #sandbank
#beach
#turquoise 
#sea
#view
#panoramic
#landscape
#maldives Maladewa rasa Belitung
.
#beach
#sand
#sea
#sandbank
#maldives 
#holiday 
#traveling Milky time with yoga 🍼
.
#missu
#aimee
#baby
#instababy

Blog Stats

  • 441,553 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

June 2017
M T W T F S S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: