Fanny Wiriaatmadja

Frans Kucai – In Memoriam

Posted on: May 5, 2014

 munch_2014_05_05_112255

Cai..

Pertama melihatmu di awal-awal perkenalan siswa kelas 1-2 di SMUK 1, aku mengernyitkan kening

Kenapa ada makhluk berbentuk aneh begini, begitu batinku waktu itu

Tulangmu pasti menggigil, dibalut hanya oleh selapis daging

Tubuh kerempengmu menjulang, sekilas membuat iba kala melihatnya

Rambutmu – bukan rambut rusak khas anak yang suka main layangan di tengah terik bolong, tapi tetap warna abu-abu kusamnya membuat sejenak ingin jadi pemilik salon untuk membenahinya

Oh ya, rambut itu keriting tak beraturan, sedikit membentuk jambul di atasnya.

Kalau jadi engkau, mungkin aku pilih botak – anyway kalau tidak salah kamu pernah botak ya rasanya?

Belum lagi gigimu yang seolah mempermainkan gravitasi dengan tumbuh mencang-mencong sana-sini, saling tumpang tindih

Penampakanmu yang agak menyeramkan seperti kujabarkan dengan detail di atas, plus tampangmu yang asam tanpa senyum, membuatku enggan dekat-dekat denganmu.

Rasanya senyum manisku lebih cocok kuhadiahkan untuk teman-teman yang lain.

Tak heran pula nama Kucai melekat erat akhirnya di dirimu. Tak tahu siapa yang menginisiasinya, tapi sungguh nama sayuran tak berbentuk itu menggambarkan dirimu dengan sangat klop.

Sialnya, aku duduk pas di depanmu, dan jadilah selama beberapa waktu mau tak mau punggungku jadi sasaran tatapmu – maaf kalau terlalu pede, tapi at least sesekali selama sekian jam di sekolah, masak tak pernah sekali pun kau menatapku dari belakang?

Anyway ternyata kau tak seseram yang terlihat, walau hanya sedikit derajat penurunan ketidakseramannya.

Ternyata kau suka mengobrol. Sungguh, sungguh suka mengobrol. A sampai Z bisa kaubicarakan, kemudian balik ke A lagi, mutar-mutar di F, kemudian lanjut sampai Z lagi.

Sungguh, semua hal rasanya begitu mudah dibicarakan denganmu, itu yang membuatku heran.

Aku ingat saat kita share nama idaman untuk calon anak kita kelak. Saat kusebut aku suka nama “Eva”, kau mengernyitkan kening, kemudian berkata, “Errr, kayak nama cewek nakal..” Bum! Habis itu tak pernah lagi nama Eva kumasukkan dalam list nama idaman buat anakku kelak.

Kamu juga care dan perhatian Cai.. telingamu jadi pilihan banyak orang untuk tempat curhat, termasuk untukku. Kadang perhatianmu diwujudkan dalam cara yang kasar, maklum mulutmu memang agak pedas, tapi begitulah caramu. Banyak rasa yang kaututupi dengan kekasaranmu itu.

Aku pun sudah bosan kau omeli berkali-kali.

“Ga bisa diem banget sih lo, abis olahraga ngipas-ngipas terus?! Diam bentar napa, noh kayak si Zaza.. Lo makin kipas-kipas gitu, keringetan lo makin menjadi-jadi!”

“Lo bisa ga sih jalan yang aliman dan anggunan dikit?!”

Dan masih banyak lagi, belum termasuk makian kasar ala Kucai untuk Fanny, “Dasar sampah!” yang pertama kali membuatku super sakit hati, tapi kemudian semakin terbiasa dan kuanggap panggilan sayang.

Sialnya, segala kemudahan menceritakan apapun itu hanya berlaku satu arah. Aku bisa menceritakan apapun padamu, tapi tidak denganmu, yang lebih memilih memendam hal-hal pribadi.

Sampai kelas 3 SMU dimana kita pula sekelas, tak berhasil kuketahui perasaanmu terhadap Meler, yang setia kau antar pulang dengan mobil Panther silvermu.

Bukannya tak pernah kukorek, tapi lama-lama capek hanya direspons dengan senyum cool yang pongah darimu, saat pertanyaan bertubi-tubi itu kuluncurkan, “Lo naksir Meler ya?”

Itulah dirimu, terbuka sekaligus tertutup

Hei, jangan lupakan juga bakat olahragamu yang mengundang iri.

Sebut semua cabang olahraga, maka namamu akan tampil di deretan peringkat atas, dilihat dari sisi performance.

Heran rasanya darimana tenaga datang untuk melakukan berbagai smash volley, dari tubuhmu yang terkesan ringkih itu

Belum lagi segala liga-liga buatan kita, mulai dari liga jempol sampai liga catur.

Ingat kan Cai, kertas putih bergambar bidak-bidak catur hasil coretan tangan kita, yang nyaris sama kumalnya dengan dirimu, karena terus menerus kita hapus dan tulisi dengan pensil, setiap kali kita menggerakkan pion-pion catur itu?

Ah, banyak nian kenangan dengan dirimu, termasuk tawamu yang melengking yang membuat telinga bisa berdarah; tawa spontanmu yang tulus dan ceria.

Kamu luar biasa Cai.

Sampai kamu jadi dokter pun, sesekali kita masih kontak, walaupun kuakui semua inisitatifnya memang kebanyakan berasal darimu. Kamu memang lebih setia kawan. Kamu memang tidak pernah berubah, selalu gemar bercerita.

Satu tahun lalu kalau tidak salah, aku menerima SMS darimu yang mengabarkan kepergian papamu. Kaget, dan langsung seribu kata-kata penghiburan datang dari mulutku sebagai orang yang sudah pernah melalui saat-saat itu. Merasa lebih ‘senior’, berusaha kutenangkan dirimu walaupun sepertinya semua ocehanku tak banyak membantu.

Kemudian Agustus lalu kalau aku juga tidak salah, saat sepertinya dunia percintaanku naik turun begitu hebatnya, entah kenapa kita berhasil janjian dan ketemu di Fish n Co Grand Indonesia.

Kamu sama sekali tak berubah, jeleknya makin kentara malahan.

Kita makan, awalnya sedikit canggung, tapi lama-lama orisinilitasmu mulai kembali. Semua bawelmu muncul lagi, menceritakan pengalaman magangmu di pulau antah-berantah sana dan pengalaman masak sendiri, ikan-ikan segar di sana, pula menceritakan gadis yang kau puja, kisah tentang papamu, juga memamerkan foto-fotomu di handphone butut yang kau bangga-banggakan, dan masih banyak lagi, sementara aku yang hatinya sedang porak poranda hanya banyak mendengarkan dan tersenyum.

Dan akhirnya kamu berkata, “Ga asyik banget sih lo, diem mulu.. beda banget sama di blog..” dan setelah itu aku berusaha menyudahi sesi dinner kita sesegera mungkin karena tak tahan dengan kesan yang ditimbulkan diriku. Membosankan bagi orang lain, itu sangat menyakitkan. Aku merasa begitu menyesal, menjadi partner dinner yang menyebalkan.

Waktu sesi bayar, kupikir kamu akan membayariku, tapi dengan tegas seperti biasa, kamu berkata, “Gw bayar 100 ribu, sisanya lo yang bayar ya..” tanpa sebab aku jadi geli sendiri.

Setelahnya, kamu mengantarku pulang. Masih penuh cerita seperti sebelumnya. Btw ini pertama kalinya kamu mengantarku ke rumah, setelah lebih dari 10 tahun kita saling kenal. Itupun masih dengan sungut-sungut khas darimu.

Dan setelahnya, whatsapp-an terus berlangsung. Kamu dan gadis pujaanmu itu. Kamu dan rencana licikmu, yang kutertawakan habis-habisan. Kamu dan segala pertanyaanmu tentang hati dan rasa dalam diri seorang gadis. Kamu dengan sejuta interogasimu mengenai kehidupan cinta dan pengalamanku, supaya bisa jadi ide bagimu untuk mengejar gadis itu. Ah Cai, lucu benar semuanya.

Sebenarnya ingin kukatakan padamu, berhentilah mengejar gadis itu. Tidakkah kau lihat semua respons penolakannya? Tidakkah kau rasa dan kau sadari? Tapi lagi, semangatmu membuatku enggan menegurmu. Tak tega rasanya memupuskan spiritmu yang sedang membabi-buta saat itu. Mana berani aku menyuruhmu menyerah?

Kemudian segala kesibukanku membuatku menjadi sahabat terbrengsek yang bisa kulakukan. Seringkali kau menyapaku, tapi langsung kubungkam dengan “masih kerja, sibuk. Nanti ya..” berkali-kali, sampai kemudian panggilanmu mulai mereda.

Dan di situlah, Sabtu malam, di sebuah comment Instagram, kubaca pesan dari Sugi mengenai kepergianmu. Itu jam 12-an malam. Dan aku tertegun. Kubaca berkali-kali, kemudian diam menatapi gelapnya langit-langit kamar. Apa ini sungguhan? Apa benar Kucai sudah pergi? Kucai yang itu? DIA??

Hampir 15 menit aku hanya diam Cai, dan semua memori kita bersama pun menguar. Berputar seperti film. Canda tawa kita saat SMU, semua kenangan yang pahit dan yang manis. Dan akhirnya kubuka Facebook dan seperti sebuah konfirmasi, semua teman mengabarkan tentang kepergianmu.

Aku masih tak bisa menangis. Rasanya cuma ada sebuah lubang yang aneh dan tak nyaman di sini, di hati. Seperti menusuk, menohok, membuat sesak. Sampai akhirnya air mataku pun tahu diri, mengalir untuk sedikit meringankan beban ini. Dan aku tersedu-sedu, hanya selama 5 menit.

Cai, sungguhan ya, kamu sudah pergi?? Seperti inikah rasanya ditinggal seorang sahabat? Seandainya tidak pernah ada perasaan seperti ini di dunia..

Masih ingin Cai, mendengar panggilanmu di WhatsApp. Sungguh sesibuk apapun akan kuladeni semua ceritamu dan ketidakmasukakalan darimu.

Masih ingin Cai mendengar makian khasmu, “Sampah!” yang terdengar sangat sopan untuk seorang Kucai.

Bangun Cai, jangan pergi.

Bukan sekarang, jangan sekarang.. jangan..

Ayo kira rencanakan lagi pengiriman bunga berikutnya untuk gadis yang sombong itu.

Ayo kita bangun lagi strategi untuk mendapatkan idamanmu itu.

Ayo Cai.. Sekalipun kans mu kecil, kapan seorang Kucai pernah menyerah??

Masih banyak yang harus dilakukan Cai..

Bisakah jangan pergi sekarang??

Tolong??

 

Cai..

Aku sudah tak tahu harus berkata apa..

Kejelekanmu adalah kekuatanmu.

Keburukanmu adalah apa yang membuatmu dirindukan, terutama saat ini.

 

Beristirahatlah dengan damai.

Kamu sudah menyelesaikan semua dengan baik.

Maafkan kami yang belum rela melepasmu ke sana.

Tapi kami akan belajar.

Hati ini akan selalu jadi tempatmu bersemayam.

Selalu dan selamanya.

Terima kasih untuk segalanya – untuk ketulusan dan persahabatan, untuk ke’sampah’anmu yang tak tertandingi.

 

Rest in peace, Frans Kodri.

18 Februari (1984/1983?) – 02 Mei 214

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,714 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Felt so yellow here. Somehow don't really feel like homey.
.
#cafemilano
#caffemilano
#gi
#coffee With Aimee and Kuku @ye_23ly 😎
.
#aimee
#aimeelynn
#family 
#temukangen
#greyhound 
#gi Selalu berjodoh dengan tempat ini. 3rd time in a month
.
#greyhound 
#gi
#coffee
#mangostickyrice Ayam tulang lunak 🍗🍗
.
#ayamtulanglunak
#hayamwuruk
#greenville
#lunch
#food Natural disaster is my kind of movie
.
#geostorm
#movie
#fridaynite
#cinemaz
#cineplex
#grandparagon Kids mode ini kece banget! I've been Samsung loyal customer but never realized of this feature before.
.
#baruexplore
#samsung Yummy!!
.
#cassis
#cassiskitchen
#marshmallow
#gulali
#food
#instafood Tutor Time trial
.
#tutortime
#pluit
#aimee
#aimeelynn 
#preschool
#toddler
@tutortimepluit Topic of the day : Anak n cruise 😁
.
#reunion
#greyhound
#aciauvinnie
#friends Come back here because this is lumayan enak
.
#gopek
#gi
#indonesian
#restaurant
#lunch Situation : classic place plus little playground in the form of pirates ship. Usually rame and sering di-reserved buat acara so better call first before you come
.
#harlequinbistro 
#kemang
#restaurant
#classical
#cafe Nice place tapi banyak nyamuk
.
#harlequinbistro
#kemang
#restaurant
#cafe
#breakfast
#classic Freak out of bubbles 🤣
.
#littlejack
#trial
#aimeelynn
#emporium
#bubbles Closest comparison with be with #magal. Side dish perspective I'd prefer Magal but the rest, @seoseogalbi_id is the champion. Nice and quite spacious place, friendly waitress, super juicy pork belly and of course their superb Seo Seo Galbi. Suka!
.
#seoseogalbi
#korean
#koreanbbq
#pik
#food
#instafood #zoomov time! Anak ini tegang banget tiap nyobain mainan baru 🤣
.
#aimee
#aimeelynn
#daughter
#kids
#kidsplay Just can't resist their mango flavor cheese cake
.
@chizukek
#cheesecake
#somplak
#chizukek
#mango
#mangocheesecake Nasi Krucil @district7.coffee 
#nasikrucil
#district7coffee
#pik
#camilan
#nasi Minutes of serenity - I want to spend more time here in silence. Felt so relax and refreshed. Don't go for food here. Seek for peace, you will find it. 
#thepier 
#thepierbykalaha 
#pier
#serenity
#evening
#windy
#relax 🥞🍽
.
#foodie
#pancake
#dessert
#seafoodplatter
#seafood
#earlydinner Napak tilas peristiwa bersejarahnya @stefanielaurensia 😄😄
.
#thepier 
#thepierbykalaha 
#pier
#weekend

Blog Stats

  • 459,938 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

May 2014
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain's Personal Blog

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

Pemintal rindu yang handal pemendam rasa yang payah

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: