Fanny Wiriaatmadja

Sebuah Ban Pinggang

Posted on: January 6, 2014

???????????????????????????????

Di kursi itu kami berdua duduk, sesekali dia berdiri menyaksikan detik-detik pemotongan di meja tinggi itu. Sebaliknya, aku menolak menyaksikannya. “Miris,” kataku waktu itu, dengan nada menuduh dan pandangan menghujam yang kusengaja padanya. Dia hanya geleng-geleng.

Aku sudah bertekad mempertahankan sikap dan pembawaan ini selama kami berada di toko ini. Amarah masih menguasaiku. Aku masih tidak terima.

Setelah 15 menit yang terasa cukup lama, apalagi bagiku, akhirnya pemotongan itu selesai dilakukan. Si mas menyerahkan ban pinggang itu padaku, wajahnya tanpa dosa, membuatku semakin muak.

“Silahkan dicoba,” katanya. Langsung kuraih ban pinggang itu –agak kasar- dan dengan cepat mengembalikannya ke plastik. “Tidak usah dicoba lagi,” tandasku, sengaja menunjukkan gelagat ingin meninggalkan toko itu secepatnya.

Istriku melempar pandang minta maaf pada si mas penjaga toko –sekaligus eksekutor pemotongan ban pinggang itu, kemudian mengucapkan terima kasih dan dia setengah berlari mengejarku.

Di luar, dalam perjalanan ke tempat parkir, tak tahan rupanya ia untuk menegur kelakuanku.

“Ada salah apakah dia padamu?” tudingnya tidak senang, “Mengapa melampiaskan marahmu pada pria tak bersalah yang sudah membantumu memotong ban pinggangmu?”

Aku akhirnya tidak tahan juga, dan tertumpahlah lagi uneg-unegku –sesuatu yang dia sebenarnya sudah tahu karena sudah kukatakan kira-kira 40 kali sebelumnya.

“Aku sudah katakan berkali-kali, jangan pernah belikan aku ban pinggang bila memang nomorku tidak tersedia! Akhirnya benar kan, nomornya kebesaran! Kamu lihat kan akibatnya?” geramku.

“Aku suka ban pinggang itu! Menurutku warnanya akan sangat cocok dengan celana khaki yang baru kamu beli minggu lalu!” balasnya, “Lagipula, size-nya hanya berbeda sedikit saja. Mereka bilang itu memang sudah default size terkecil untuk jenis itu!”

“Dan kamu percaya dengan kata mereka, para pelayan dengan product knowledge minim bak bikini wanita murahan di pantai?!” Aku membalas, puas dengan analogiku yang terasa menohok.

“Aku tidak tahu! Memangnya aku kamu?! Memangnya aku pria?! Memangnya aku tahu bahwa seharusnya ada size lebih kecil?! Kalaupun kebesaran, mereka toh sudah bilang, ban pinggangnya bisa dipotong!”

Aku geleng-geleng kepala seolah kehabisan akal dan sabar, sengaja pasang aksi itu untuk mendramatisir semuanya, “Kamu tahu aku paling tidak suka ban pinggangku dipotong! Nomornya akan hilang! Otentiknya akan hilang! Dan mereka, para pelayan itu, tidak pernah mau peduli urusan printilan seperti itu! Yang ada dalam otak mereka hanya menjual, menjual, dan menjual! Kebesaran? Tinggal potong!! Hanya itu yang mereka tahu! Mereka tidak punya.. apa namanya.. ehm, seni! Ya, mereka tidak paham nilai seni sebuah ban pinggang!!” Aku menyelesaikan kalimatku dengan susah payah.

“Yah, memang hanya kamu seorang di dunia ini yang sebegitu paranoid akan proses pemotongan sebuah ban pinggang!” desis istriku marah, “Dan tidak semua pelayan sepicik itu! Mereka hanya ingin yang terbaik untuk pelanggannya! Jangan berpikir serendah dan sesempit itu! Saat mereka menawarkan saran pemotongan, itu adalah sebuah solusi, bukan sekedar demi menjual!”

“Naifnya kamu! Ahh.. Sudahlah, intinya aku sudah bilang aku tidak mau, tidak suka, dan tidak ingin! Aku sudah bilang jangan memaksa membeli ban pinggang yang kebesaran! Nyaris ban pinggang itu kumuseumkan! Hanya karena kamu memaksa dipotong! Dan FYI, aku SANGAT TERPAKSA melakukan pemotongan itu! Again, hanya demi katamu ‘Aku ingin kamu tetap memakai ban pinggang itu’,” dengan ganas kutirukan suara mendayu seorang wanita –suaranya, maksudku.

Dia mulai terlihat sakit hati. Tertegun sesaat, sebelum dengan getir berkata, “Itu kado ulang tahunku untukmu. Sengaja kujadikan kejutan untukmu.. dan rupanya begini caramu memperlakukan sebuah pemberian tulus.”

Aku nyaris mengatakan sesuatu, tapi untunglah masih bisa kurem mulut besarku ini. Teringat pagi tadi saat dengan sumringah dia memberikan kado itu padaku.

“Aku  mengerti maksudmu. Tapi aku tidak suka ban pinggangku dipotong, berkali-kali kukatakan itu, tapi kamu tetap memaksa membeli..” Aku mengulangi, kali ini lebih pelan. Kutahan-tahan amarahku, kupaksa masuk ke dalam belahan hati terdalam.

“Kamu bilang kamu mengerti? Aku yakin seyakin-yakinnya, kamu tidak mengerti, dan tidak pernah berusaha mengerti. Aku juga sudah bilang berkali-kali, pertama, menurutku ban pinggang itu bagus dan sangat cocok untukmu, terlebih lagi cocok untuk hadiah ulang tahunmu. Kedua, aku benar-benar berpikir size terkecil memang size itu, sesuai kata si pelayan toko. Ketiga, kupikir kalaupun agak kebesaran sedikit, kita bisa memotongnya, sebagaimana direkomendasikan juga oleh para pelayan di toko itu. Keempat, kamu tahu? Seharusnya kamu menghargai pemberianku. Perasaanku. Seharusnya sebuah niat yang dihargai, bukan bendanya. Seharusnya kamu tidak mempermasalahkannya sedemikian besar seperti yang kamu lakukan saat ini. Dan kelima, kamu.. kamu benar-benar menyakiti hatiku,” Dia meninggalkanku dengan berjalan duluan ke mobil, kakinya dihentak-hentakkan. Aku yakin air matanya pasti sudah bercucuran, istriku yang cengeng itu.

Sampai malam harinya kami tidak bicara. Ulang tahunku hari itu bisa dibilang hancur, kelam, terserahlah apa namanya. Sebuah ban pinggang merunyamkan semuanya. Hatiku seolah menggodaku, “Ban pinggang, atau kamu sendiri?” Tapi kuabaikan dan kutekan dalam-dalam suaranya. Persetan.

Esok paginya ketika aku bangun, dia sudah pergi. Darahku nyaris naik ke ubun-ubun seketika, merasa dia sengaja melakukannya untuk membuatku kesal, ketika mendadak pandanganku tertuju pada sebuah plastik indah berwarna peach di kaki ranjang.

Isinya sebuah potongan kulit. Warna cokelat gelap. Kukenali sebagai potongan ban pinggang yang kemarin dimutilasi dengan ganas dari ban pinggang baruku –hadiah dari istriku.

Ada sebuah notes kecil, digantung dengan benang di potongan ban pinggang itu. Notesnya sederhana, dengan sebuah merk hotel tertulis besar-besar di sisi atasnya, tanda notes gratisan dari sebuah seminar yang pernah kami ikuti. Ada tulisan istriku di situ.

“Dear You,

Sebuah pemotongan tidak berarti semuanya selesai. Sebuah pemotongan tidak berarti duniamu berakhir. Aku mengerti, otentisitas ban pinggang itu dipertaruhkan dengan memotong bagian tubuhnya. Tidak lagi orisinil, tidak lagi suci dan mentah seperti yang selalu kaudamba. Tapi maukah di usiamu yang sudah bertambah setahun ini, kau sekali ini melihatnya dari sudut pandang berbeda? Pandanglah pemotongan itu sebagai suatu upaya agar kau bisa mengenakan ban pinggang itu dengan baik. Pandanglah ban pinggang baru yang sudah terpotong itu sebagai suatu benda yang sekarang ‘bisa berfungsi dengan baik’ pasca pemotongannya.

Sama seperti hubungan kita yang begitu naik turun, bukankah sebuah pemotongan akan lebih baik? Egois, ingin menang sendiri, kemarahan, dendam, semua sifat asli manusia itu, bukankah baik adanya kalau dipotong dan dibuang, untuk membuat sebuah hubungan berfungsi dengan baik dan bisa ‘bekerja’? Mengapa tidak memandangnya seperti itu?

 Aku mengerti sakit bagimu untuk menyaksikan pemotongan benda yang kausayang, sebagaimana sakit pula untuk kedua orang membuang semua sifat jelek mereka demi menyatukan sebuah hubungan. Mengalah selalu sakit. Melupakan juga menorehkan luka. Memaafkan apalagi, berdarah-darah rasanya. Tapi menurutku semua pemotongan itu layak dan pantas dilakukan. Harganya sebanding dengan kebahagiaan setelahnya.

 Happy Birthday (again), Husband..

 NB : Aku belanja sebentar ke Pasar. Let’s have a big birthday party today.”

Aku kehilangan kata-kata setelah membacanya, merasa diri begitu picik dan jahat. Diam sejenak mencerna semua kata-katanya, perlahan aku merasakan kebenaran dan keindahan katanya; dalam makna yang terkandung dalam ucapannya.

Bertekad tidak menjadi perusuh lagi dan mengacaukan semua, lekas aku mandi dan bersiap menyambut kepulangannya. Ban pinggang itu –yang sekarang terlihat bersinar entah kenapa- akan menemani kami melalui hari ini bersama, dan pasti seterusnya. Sebelum mandi, kusimpan baik-baik potongan ban pinggang bertalibenangkan notes itu. Untuk sebuah kenangan, supaya tak lapuk dimakan masa -sekaligus untuk diceritakan ke anak cucu kelak.

Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri!

2 Responses to "Sebuah Ban Pinggang"

bagussssssssssss banget😀

Huhuhu makasih Ieeeee..😀 *hug..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,696 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Impatience has its cost 😐

#pablo #pablonyalongsor #cheesetart #japan #matcha #greentea #gandariacity #gancit #gojek #terimakasihabanggojekyangrelaantri #maugamaukasihtipsgede

@pablo_cheese_tart_indonesia Enjoying 30 % discount of Crispy Beef Steak 🐄🍴🍽 #fillbellies #gajahmada #crispybeefsteak #steak #food #dinner #western @fillbellies Anak kepo part 2

#aimee #baby #mainanembercuciankotor #emaknyaudahkehabisanide #udahhabisenergi #parenthood Anak kepo 😂

#aimee #koper #luggage #tatah #jalan #kepo #kiddy -> lg addicted main ini 😎

#designhome #game #playstore #interior #design Yg masak mau kawin tampaknya.. #bintanggading #pik #elanglaut #noodle #bakmi #pork #porknoodle #asinbangetyangdisini 😲😝😖😕 Tryin' this just now.. Agak kecewa.. rasanya flat banget dan ga ada wangi2nya.. istilah gw : rasanya cuma di lidah dan ga nyampe' ke hidung 😅

However teksturnya bener lembut dan agak basah, jadi gak seret kayak kue bolu.

Suggestion : mending rasa matcha-nya ketimbang original cheese cakenya. Rasanya lebih intense.

#fuwafuwa #cheesecake #pik #elanglaut #kue #cake #dessert #japan Kemasannya lutjuuu 😄 #samyang #samyangcheese #instantnoodle #korea #mieinstant #mujigae #pluitvillage #bulgogi #koreanfood #kimchi #chicken #dinner #food #instafood #tiramitsu ala my sister 
#cake #handmade #baileys #dessert Lunch batch 1, diikuti nasi padang #kalimantan #noodle #bakmi #pontianak -> supercool ❤😶😶😶❤ #tyrionlannister #tyrion #gameofthrones #georgerrmartin #series #lannister #biarceboltapikece Happy playin' with the new playmat and fence *for only 10-15' and then yellin' askin' to get out

All is rented via @gigel.id

#playmat #fence #cobyhaus #baby #aimee 🐳🐋🐬🐟🐠🐡 #sulawesi #megakuningan #seafood #parape #ricarica #dinner #squid #crab #soka #makassar 🐷🐖🐽 #babipanggang #pork #pig #food #brunch #asemka #gataunamatempatnya 😶😶😶 #halloween #latepost #gardin #bali  #green #greenery #traveling Coffee? No, please.. #gadoyan #inipunyasuami #coffee #seniman #senimancoffee #bali #ubud #cafehopping #wisatakulinerbali #wisatakuliner #traveling 🌙🌛🌜☁⭐ #selfie
#smile 
#goodnite
#seeyoundari May our path cross again in the future @alicia_tibob 
#farewell #sundari #alfalaval #hrd #teamwork 🐷🐖🐽 #porkbelly #pork #porkneverdies #bali #slipperystone #greek #food #instafood #travelling #dinner #cafehopping

Blog Stats

  • 404,271 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

January 2014
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

tuliskan yang tak mampu terucap

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: