Fanny Wiriaatmadja

Akhir Perjalanan Kita

Posted on: December 3, 2013

Januari. Dingin, menusuk. Kulihat tiap malam kamu selalu kedinginan. Mantel lusuhmu tampaknya tak sanggup lagi menunaikan tugas mulianya. Ia sendiri kini rapuh tiada dua, hancur ditelan masa. Tapi kombinasi sedikit sifat kikirmu yang kadang membuatku geli dan rasa setiamu pada apa pun yang kau anggap milik, tentu saja akhirnya membuatmu terus mengenakannya, bak sahabat setia.

Pemanas tuamu, yang pernah kau ceritakan berusia seperempat umurmu, juga kadang tersendat mengeluarkan hawa panas yang jadi misi hidupnya. Bila ceritamu benar nian adanya, tak heran ia mogok bekerja. Seperti biasa, kamu menolak mengganti apa pun yang lama dan tua dengan sesuatu yang baru. Kamu antipati dengan kata ‘baru’ dan ‘modernisasi’, padahal sebuah persahabatan biasanya dimulai dengan keterbukaan akan sebuah perkenalan, bukan? Sama seperti aku dan kamu, yang diawali dengan sebuah tatapan yang bertemu, menghasilkan percikan yang hanya bisa dimengerti oleh kita berdua. Dan dari dua pasang mata yang bersirobok itulah, perjalanan kita dimulai. Kamu meraihku masuk dalam hidupmu. Sempurna semuanya.

Dalam terpaan cuaca yang mengamuk tanpa sebab ini di awal tahun ini, kamu lebih memilih menyelimutiku ketimbang mengurus rematikmu. Ngilu-ngilu sendi itu kau anggap antara ada dan tiada, kauabaikan tanpa kompromi. Aku heran dengan ketidakpedulianmu, tapi terkadang menurutku itu yang menyatukan kita, dua makhluk dengan kadar keingintahuan dan kepedulian yang kurang dibanding mereka pada umumnya. Itu sebabnya kita bisa saling paham hanya dengan tatapan. Itu cara semesta untuk kita berdua.

Dan kita pun bersama melalui musim dingin ‘jahanam’ ini –begitu istilah yang kaugunakan- dalam pelukan. Tepatnya kamu yang memelukku. Aku merapat hangat dalam rangkulan lengan raksasamu. Bersama kita di depan televisi. Televisi tuamu, jangan lupakan itu, yang masih berwarna hitam putih sementara semua televisi di seluruh negeri antah-berantah sana sudah memasuki dunia warna.

Maret. Dingin mulai usai, menghilang dalam gradasi malu-malu. Langit cerah, semua bunga mekar, menolak kuncup terus, berlomba lebih indah satu sama lain dalam kompetisi tak kasat mata. Kitalah yang jadi penonton dan penikmatnya. Musim semi sudah datang. Musim kegemaran kita.

Kita akan berjalan bersama menyusuri taman, menyaksikan anak-anak berlarian dengan tawa renyah yang katamu membuat sedikit gen irimu membengkak dalam diri, karena masa kecilmu tak pernah menganyam bahagia, tiada kenal kata gembira. Sejak kecil kamu harus membanting-tulang menggantikan ayahmu yang meninggal disantap kanker ganas itu. Kamu berjuang sendiri siang dan malam mengemis dan menghamba pada siapa pun yang bersedia dan menganggapmu layak untuk ditampung. Kamu sudah dewasa sebelum waktunya. Perih dan getir masa lalumu, tapi kini ada aku yang akan mencerahkannya. Bukankah begitu? Itu sebabnya kita bersama kini, bersanding dan berdampingan. Dan  sekarang, di taman ini. Menghirup udara dan membiarkannya lolos membawa kesegaran ke paru-paru kita. Sesekali kamu mengusap dan membelaiku lembut. Sesekali kulirik kamu, berharap kini kamu mengerti makna kata ‘bahagia’ yang dulu asing bagimu.

Juni. Hawa bersahabat tak tinggal lama. Matahari mulai ambil alih, tak mau kalah. Ingin unjuk diri dengan memamerkan teriknya yang intens. Sesekali kami masih berjalan walaupun biasanya kernyitan keningmu yang menahan panas surya membuatmu menyerah dalam ratusan langkah saja. Kamu lebih sering memilih kembali dan bersembunyi nyaman dalam pondok kecil kita. Kering dan gersang udaranya di waktu-waktu ini. Suatu waktu kamu bahkan membuatkanku perasan jeruk dengan kombinasi beberapa buah lain yang segarnya bak menendangku. Baru pertama kurasakan minuman seenak ini –sensasi yang lama tak kurasa. Kamu terbahak-bahak melihatku menghabiskan minuman itu dalam beberapa tenggak saja, bahkan kamu menggodaku, “Seharusnya satu seruput saja kau mampu habiskan..” Aku menjulurkan lidahku, menerjangmu ke sofa terdekat sampai kamu kewalahan dalam tawa berkepanjangan.

Oktober. Saatnya turun panggung bagi terik matahari yang tak tertahan itu. Daun-daun berguguran, siap bereinkarnasi menjadi generasi baru. Warnanya indah,  menyamai pesonanya saat bunga mereka bersemi satu semester lalu. Hawa jadi sejuk cenderung dingin. Rematikmu masih sesekali kambuh, tapi untunglah masih selalu bisa ditangani oleh berbagai koyo kiriman temanmu dari negeri asalmu. “Panas, nikmat,” katamu, memperlihatkan tempelan benda bujur sangkar aneh di sekujur tubuhmu.

Malam hari kita akan tidur bersama, saling mendekap, bersatu mengatasi bekunya dingin. Malam itu entah kenapa aku merasa takut. Kengerian yang datang menyerang tiba-tiba, menelusup dalam endapan lihai ke dalam hatiku. Aku menatap kamu dalam kegelapan. Matamu terpejam damai, dengkuranmu teratur. Ritme dan irama yang telah kukenal belasan tahun. Sang ketakutan membawa bersamanya suatu pertanyaan yang tak sanggup kujawab. Kucoba bohongi dan tenangkan diriku, tapi rupanya hatiku punya pendirian. Ditolak kerasnya semua usaha sia-siaku. Dan sampai subuh, mataku terjaga dengan pertanyaan yang sama. “Bagaimana kalau kamu tidak bangun lagi? Bagaimana kalau matamu tak mau membuka, melihatku dan menikmati dunia lagi bersama denganku?” Dan hatiku pedih oleh kenyataan, bahwa kita berdua hanya makhluk lemah yang lenyap dalam sekejap ditelan usia. Tahun demi tahun bergulir, kadang kecepatannya tidak masuk akal dan membuat kita tercengang begitu menyadari tanggal yang sudah berputar berkali-kali. Sekarang pun dalam hitungan bulan, angka 3 di penghujung deretan pembentuk tahun ini akan berganti menjadi 4. Aku takut, sangat takut.

Kamu terjaga, dan lagi memelukku –masih dengan mata terpejam. Entah sampai kapan kamu bisa bersamaku. Kutatap rambut putihmu, kerutan di sekujur wajahmu, noda-noda cokelat berbintik yang menghias wajah tuamu. Aku menyerah, dan kutempelkan kepalaku ke dadamu. Pasrah mungkin jalan terbaik.

Desember. Dingin lagi. Kamu mengutuki kerentaanmu. Koyo-koyomu tidak lagi ampuh membantumu, kalah dihajar dingin. Kamu jatuh sakit hari ini, di malam Natal. Kamu menolak kudampingi, memilih merawat dirimu sendiri. Kau lahap semua obat yang terserak di lemari obatmu, entah apa itu. Kau buat sendiri buburmu, menolak segala macam bantuan dan hiburan dariku. Mungkin kau tahu aku juga tidak sanggup menyembuhkanmu. Aku juga tiada sakit hati, tahu diri akan keterbatasanku.

Hari ini Natal. Kamu sepertinya sudah membaik, demammu sudah turun. Kamu menyodorkan sebingkis hadiah untukku. Kecil, dengan kertas kado warna merah menyala dan ikatan pita yang amburadul khas kamu. Kaubukakan untukku, dan aku mengerjap. Seuntai kalung tampak di situ. Kau kenakan ke leherku dengan lembut, dan kau giring aku ke depan cermin, menikmati keindahannya. Kulihat sebersit malu yang melintas sekejap di wajahku, tanda risih karena tak membelikanmu apa pun sebagai hadiah Natal. Tapi tampaknya kamu tak peduli dan sungguh tiada mempersoalkannya. Itulah kamu, lagi dengan ketidakpedulianmu akan urusan ecek-ecek nan tidak penting.

Malam tahun baru. Kita bersama lagi, menghempaskan diri di sofa tua lapuk yang nyaman ini. Di kejauhan terdengar hitungan mundur membahana, siap menyambut tahun yang baru. Aku melirik kamu, melihat apakah kamu juga menggumamkan hitungan mundur yang sama. Kamu hanya diam, termenung, seperti asyik berenang dalam kolam pikiranmu. Dan mendadak sergapan rasa takut itu muncul lagi. Aku takut lagi kehilangan kamu. Aku takut lagi tidak ada di pikiran dan hidupmu. Dan sejuta takut yang lain. Aku takut dan hanya takut. Sampai di detik pertama di 1 Januari ini, aku masih takut.

Esok harinya.

Entah mengapa, aku pergi. Benar-benar pergi. Tak terduga. Aku juga tak tahu mengapa bisa begitu, tapi sepertinya Yang Di Atas menjemputku. Menetapkan tanggal 1 Januari 2014 sebagai hari kepergianku. Aku juga tiada daya, dan konyol rasanya menyadari bahwa benar aku telah kehilangan kamu, walaupun entah mengapa aku yang pergi terlebih dahulu. Dijemput dahulu, tepatnya. Aku tak pernah menoleh lagi melihat parasmu, sebab duka yang tergurat di sana pasti akan menghujam hatiku tanpa toleransi. Dan aku lebih memilih pergi dengan damai, harap maafkan aku.

Kamu menguburkan aku di halaman, tempat kita berjemur biasanya di pagi yang hangat. Kamu taruh tulang mainan hadiah ulang tahunku dan kalung hadiah natalku ke dalam galian tanah itu, bersama dengan tubuh bekuku. Bulu cokelatku tampak begitu halus, tiada kusut seperti biasanya, seperti tahu bahwa ini kepergian yang agung. Ada papan yang kau ukir di situ, bertuliskan namaku.

Pergantian tahun usai. Tahun yang baru sudah berjalan. Kita memulainya dengan sebuah perpisahan. Pahit, tapi aku tahu kamu kuat. Semoga ketidakpedulianmu membuatmu bertahan menjalani hidup sendirimu. Kelak pasti kita akan bersua kembali.

Dari aku, yang mencintaimu.

4 Responses to "Akhir Perjalanan Kita"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,697 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Refreshing morning view
.
#view
#morning
#bandung
#mercure
#nature
#familyholiday I must get it!!
.
#aimee
#minnie
#baby
#mercure
#bandung
#holiday
#family Christmas is everywhere 🌲
.
.
#christmas #christmastree #bandung #bandungtrip #aimee #transluxuryhotel #instatravel #instababy FAMILY 👦👧👨👩👴👵👶👱
.
.
#family #bandung #bandungtrip #transluxuryhotel #familyportrait Tempatnya loetjoe. That's it.
.
.
#dinner #bandung #missbeeprovidore #chicken #instafood #food Aimee and Koko Kael at the kids club

#aimee #baby #kidsclub #transluxuryhotel #bandung #holiday #family #kids Swimming!! 🏊🏊🏊
.
.
#aimee #baby #swimming #bandung #bandungtrip #holiday #family #transluxuryhotel Get ready for Aimee 1st traveling experience. We tried the easy one first, Bandung :) #aimee #baby #traveling #jalan2 #longweekend #bandung #family <<emosi>> Last nite dinner di Kopitiam, GI

#langsunghilangseleramakan
#kwetiau
#pucatpasi
#polosbanget
#dikitbanget
#4suaphabis
#emosi
#seginiplustehpajakdll70ribu 
#enakkankwetiaunyokapgw
#waiternyajelalatanlagi 😑😑😑😑😑😑😑😑😑 1 (foto) lagi dari Mayora.. #aimee #birthday #1yearold #perayaanbatchkedua #celebration #remboelan #plazasenayan #inlawfamily #ayeamakukuyeye Libby and Jamie card for Aimee 😁

#birthdaycard #birthday #aimee #kids #handmadecard #cousin #nephew #niece Libby's card for Aimee 😁

#kids #birthdaycard #cousin #niece #birthday #aimee #handmadecard It's almost Christmas, the most wonderful time of the year!! Last year I didn't enjoy all this season beauty as I'm stucked at thome post-birth. But now?? Yeay!! Mall to mall, get ready!

#christmas #decoration #themostwonderfultimeoftheyear #christmastree One of my favorite place. Tasty food, wide range of variety, reasonable price, beautiful and comfy atmosphere

#remboelan #restaurant #indonesianfood Masih edisi ultah 🎂

Headband by @bearbeecollection 
Dress by @galerieslafayette

#aimee #birthday #1yearold #white #baby #instababy #remboelan #plazasenayan #asyikdengansendokdansegalamacam Family is number one blessing

#aimee #birthday #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #keluargapala #remboelan #plazasenayan #whitebluedresscode ❤👪❤ 3 of us

#aimee #birthday #lunch #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan Teeth and tongue 😗

#aimee #baby #laugh #birthday #1yearold #lunch #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan 📷 : @lieta73 😀 Aimee mukanya kok penuh cela gitu si?

#aimee #baby #family #birthday #1yearold Aimee 2nd cake 🍰

A cake 🎂 by @ivenoven, a birthday cake I always want since errr.. forever?? 😀

#aimee #birthday #baby #1yearold #cake #ivenoven #winniethepooh #vanillanutella #vanilla #nutella

Blog Stats

  • 405,710 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

December 2013
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

tuliskan yang tak mampu terucap

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: