Fanny Wiriaatmadja

Percakapan Sahabat : Sebuah Perenungan

Posted on: November 13, 2013

4017754_Love-friendship-f

“Jadi, kenapa kamu putus sama cewek itu?” tanyaku penasaran, setelah kami berdua mengambil posisi nyaman kami masing-masing di sofa bulukan itu.

Pria yang duduk di sampingku –sahabatku- menjawab ogah-ogahan, “Yaaah banyak sebabnya..”

“Di antaranya?” pancingku. Ilmu interview-ku keluar.

“Hmmm.. mulai darimana ya?” Dia termangu-mangu, kemudian setelah jeda yang nyaris membuatku ingin menohoknya, dia berkisah, “Mungkin salah satu penyebabnya adalah dia begitu membosankan.. begitu pasif, begitu tidak hidup..”

Mataku membulat, “Maksudmu?”

“Hmm, bagaimana ya.. Kira-kira begini : Dia tidak akan mengisahkan ceritanya hari demi hari kalau tidak ditanya.. Jadi setiap hari aku harus menggalinya, menanyakan kabarnya, dan lain sebagainya. Yah, itu baru belakangan ini saja sih.”

“Oooh.. Itu sih mungkin karena dia lelah akan responsmu setiap kali dia selesai bercerita, sehingga lama-kelamaan dia berhenti membuka mulut. Diam menurutnya lebih baik daripada sakit hati melihat ketidakpedulianmu akan kisahnya,” candaku, dengan kandungan sekian persen keseriusan dan kebenaran. Sedikit banyak aku tahu juga karakter perempuan yang pernah dicintainya itu.

Dia mendengus tanda tak terima akan kesimpulanku, kemudian balik bertanya dengan menyelidik, “Apa dia pernah curhat padamu juga?”

Aku tertawa dan mengangguk. Dia mendengus lagi.

“Sebab lain?” lanjutku.

Dia meregangkan tubuhnya, berusaha menunjukkan gesture bosan terhadap penyelidikanku. “Dia.. Dia bisa dibilang tidak menghargaiku..”

“Contohnya?” Aku melanjutkan tanyaku. “Bukannya tadi kamu yang tidak menghargainya?” candaku. Tapi muka seriusnya membuatku menghentikan kalimat dan tawaku.

“Contohnya, dia sering meminta masukanku tentang ide cerpennya. Dan parahnya, tak satu pun ideku diterimanya.”

Aku nyaris tergelak mendengarnya. “Memangnya harus semua idemu diterima ya?” sengalku di antara rentetan tawaku.

Dia pasang wajah tersinggung. “Apa salahnya?” bantahnya, “Ideku cemerlang!”

“Ya Tuhan, belum pernah kutemui orang searogan kamu, Hei, manusia itu beragam. Tak semua idemu sesuai dengan seleranya ataupun bisa diwujudkan dengan mudah. Hargailah kalau dia masih terus meminta masukanmu dan menanyakan pendapatmu. Sungguh, itu sudah cukup,” kataku lembut. “Percayalah, kalau idemu sesuai, tanpa kauminta dia pasti akan mewujudnyatakannya dalam cerpennya.. Juga, dia tidak menolak idemu dengan sengaja ataupun untuk menyakitimu, kamu seharusnya tahu dan sadar itu..”

Dia bergeming dengan wajah kaku.

“Apa lagi sebabnya?” Aku memulai lagi setelah dia tidak melanjutkan protesnya.

Dia menggaruk-garuk kepalanya. “Hmmm, mengenai uang, mungkin?” katanya.

Aku membelalak. Ini topik sensitif.

Tanpa kutanya lagi, dia lanjut bercerita, “Aku merasa semua biaya harus dikeluarkan dengan.. emm, memakai uangku,” katanya.

“Dalam hal apapun?” ulangku. Dia mengangguk cepat.

“Jadi..” aku sontak berpikir, “Perjalanan travelling kita itu semua kamu yang bayar untuknya?”

Dia mengangguk cepat sekali lagi, tapi kemudian berhenti. Dia terlihat enggan saat menjawab, “Yah, nggak juga sih.. Ada juga yang dia bayar..”

“Oke.. Jadi dia turut berpartisipasi dalam perjalanan kita selama ini kan. Maksudku dalam urusan bayar-membayar?”

Dia mengangguk.

“Apalagi yang dia bayar sendiri selain perjalanan keluar negeri? Barang pribadinyakah mungkin? Adakah?” tebakku bak ahli nujum.

“Yah, biasanya kalau dia beli barang untuk mamanya atau sepupunya, dia.. dia akan bayar dengan uangnya sendiri..”

Aku tersenyum. “Menurutku yang dilakukannya cukup adil dan masuk akal.”

Dia mengeleng-geleng .

“Jadi tidak semua hal kamu yang bayar kan? Mmm, misal tagihan credit card-nya?” tandasku lagi.

“Tidak.. Tidak pernah..” jawabnya.

“Jadi dia tidak memanfaatkanmu kan dalam sisi keuangan?” Aku masih penasaran.

“Mmmm.. tidak sih..”

“Saat kalian berbelanja bersama, apa dia membeli semua barang seenak jidat, mengingat kebanyakan semuanya kamu yang bayar?”

Sahabatku berpikir sejenak, kemudian menggeleng. “Tidak juga.. Kalau barangnya tidak bagus atau tidak diskon, dia tidak akan memaksa membeli..”

Mendadak aku teringat sesuatu. “Saat kamu mendapat banyak barang gratisan seperti tablet atau handphone apapun itu, kalau tidak salah kamu memberikannya padanya kan?”

Dia mengingat-ingat, kemudian menggeleng. “Tidak, dia bilang lebih baik barang itu untuk keluargaku. Dia tidak memerlukannya.”

Aku tersenyum. Klarifikasiku tentang soal keuangan selesai sudah. Aku pikir sahabatku ini sudah cukup mengerti point-ku.

“Apa lagi sebab yang lain?” lanjutku.

Dia terlihat sedikit lega, lari dari topik keuangan. “Hmm.. Dia suka menyinggung-nyinggung atau menyindir soal kesalahanku, mengungkit-ungkitnya..” katanya dengan nada kemenangan.

“Oow.. Oke, apakah kamu pernah melakukan hal yang sama?” kataku menyelidik.

Dia tercenung.

“Jujur,” pintaku.

“Yah, kadang.. Entahlah..” Dia mengangkat bahu.

“Jadi, pernah atau sering?” ulangku.

“Kadang,” katanya defensif.

“Apa yang dia lakukan saat kamu mengungkit-ungkit masa lalu dan semua kesalahannya?”

“Mmmm.. Yah, biasanya dia akan menenangkanku..” Dia menunduk.

Aku tersenyum. Entah sudah senyum ke berapa. “Jadi, kesimpulannya kamu boleh mengungkit-ungkit, dia akan menenangkanmu. Tapi saat dia melakukan yang sama, kamu akan marah dan ngamuk. Begitukah?”

Dia melotot, tapi diam dengan mulut terkatup.

“Bagaimana bila kau lakukan yang sama pula, saat dia mengungkit-ungkit kesalahan masa lalumu? Mengapa tidak menenangkannya seperti yang dia selalu lakukan padamu?” usulku sok bijak.

Sahabatku tidak terima dengan usulku, “Dia sengaja cari-cari..” kilahnya.

“Kalau kamu? Apa kamu tidak sengaja cari-cari dengan mengungkit masa lalu atau kesalahan gadismu?”

“Aku tidak cari-cari! Aku serius sakit hati dengan semua yang dia lakukan di masa lalu..”

“Menurutmu, apakah dia juga sakit hati dengan yang pernah kamu lakukan terhadapnya?” tanyaku.

Dia diam lagi. “Pastinya,” katanya pelan.

“Jadi?” tukasku, “menurutku kalian berdua sama. Tidak ada yang berniat untuk saling menyerang atau mencari-cari. Dua-duanya sama-sama tersakiti dengan cara yang sama, dan saat hati kalian memilih mengungkitnya, mengapa tidak saling menenangkan satu sama lain dan membangkitkan kepercayaan?” nasihatku.

Dia melengos. Kemudian kami berdiam dalam hening.

“Ada lagi penyebab kamu memutuskannya?” tanyaku.

“Terkadang saat aku bercerita, dia seolah meremehkannya dan tidak menaruh perhatian penuh,” adunya. “Yah, lagi-lagi masalah tidak menghargai,” simpulnya.

“Apakah saat dia bercerita, kamu sendiri menaruh perhatian penuh?” tanyaku, mulai tahu kelemahannya. “Kamu ingat tadi, kata-katamu mengenai kepasifannya dalam bercerita? Aku sudah bilang, dia begitu karena merasa responsmu sangat tidak menghargainya..”

“Yah, kadang kalau dia terus bercerita tentang tulisannya, blognya, aku juga bosan.. Normal kan? Tidak semua orang suka tulis-menulis,” katanya.

“Kalau begitu, apakah dia boleh berbuat sama terhadap ceritamu, yang tidak membuatnya tertarik?”

Dia hampir meledak. “Kami itu pasangan! Seharusnya kami saling support dan saling menghargai! Bukan balas-membalas!”

“Kalau begitu, mengapa tidak mulai melakukannya duluan?” kataku, menatap tajam pria egois ini. “Kujamin gadis itu akan melakukan yang sama pula. Aku lihat hubungan kalian lebih ke arah reaksi dan respons. Satu melakukan yang salah, dan yang lain otomatis –bukan dengan sengaja, catat- terpengaruh melakukannya juga, tanpa sadar.. Tidak ada yang sengaja berniat membalas. Itu semua psikologi sederhana, sama seperti batu keras yang terus dikikis oleh hujan, sebuah rasa sayang kadang bisa terkikis dengan mudah.. Butuh dua tangan untuk bertepuk tangan, tidak cukup hanya satu. Kalau kamu mau sesuatu, mulailah lakukan itu. Percayalah aksi-reaksi adalah hal paling mendasar di semesta ini. Yang kaulakukan, akan kaudapat balasnya,” aku mengakhiri petuahku.

Dia diam saja.

“Ada lagi penyebab lain putusmu?” cepat aku mengalihkan ke topik berikutnya.

“Yah, masih banyak hal-hal tidak menghargai lainnya,” katanya lemah.

“Contoh?” tanyaku,

“Yah, misal aku sedang cari sepatu. Dia kadang tidak menemaniku sepenuhnya. Maksudku, kadang dia melihat-lihat sepatunya sendiri.. Oh come on, aku sedang fokus mencari sepatuku, dan dia masih memikirkan barangnya sendiri!” Dia berkata dengan penuh emosi.

“Apakah letak rak sepatu pria dan wanita berdekatan?” Bak detektif, aku mengumpulkan bukti.

“Ya, ya, tapi tetap saja, seharusnya dia konsentrasi penuh pada sepatuku!” Sahabatku benar-benar seperti anak kecil yang ngambek.

“Hei, dengar,” kataku dengan sabar, “Menurutku tidak ada salahnya dengan mengalihkan pandangan sekian menit melihat-lihat sepatunya –dengan asumsi kamu tidak sedang meminta pendapatnya DETIK ITU- atau ketika kamu sedang sibuk memilih-milih. Sungguh, menurutku tidak ada salahnya. Kecuali, kalau dia menyuruhmu memilih sendiri, kemudian dia pergi meninggalkanmu ke tempat lain untuk mencari barangnya. Aku yakin dia tidak melakukan itu. Iya kan?”

Dia menerawang. “Ya, memang tidak.. Memang, semua barang-barang yang dilihatnya – itu semua dilakukannya sambil lalu, tapi tetap saja aku..”

Cepat aku memotongnya, “Berhenti ya! Jangan egois.. Aku yakin perempuanmu menemanimu seharian, bahkan saat mungkin kakinya sudah lelah atau dia sudah capek. Kamu tahu, untuk hal ini dia sudah bercerita padaku. Hari itu, saat kamu memintanya menemaninya, kakinya sudah lelah bukan kepalang, ditambah sepatu baru yang dipakainya membuat kakinya sedikit lecet di bagian belakang. Tapi dia bertahan menemanimu seharian, ditambah dia takut kamu marah kalau dia mengeluh tentang kakinya yang sakit. Jadi seharian itu dia bertahan, menemanimu, karena memang dia INGIN menemanimu. Itu, kalau kamu mau tahu kejadian sebenarnya.. Dan lagi aku camkan, tidak ada salahnya menemanimu mencari sepatu sambil sedikit melihat-lihat barang lain SAMBIL LALU..”

Sahabatku melongo sejenak, sebelum cepat-cepat memperbaiki ekspresinya. “Ah, aku tidak yakin seperti itu kejadiannya,” gumamnya.

Aku memutar-mutar mata. “Oke, apa lagi kesalahannya??” tuntutku, mulai malas berbasa-basi.

Dia diam, kemudian dengan lemah menggeleng. “Tidak, aku rasa tidak ada lagi..”

Kami diam lagi dalam perenungan pribadi masing-masing.

“Yah,” gumamnya. “Mungkin aku sudah kehilangan sesuatu yang sebenarnya berharga..”

Diam sejenak, kemudian aku tersenyum simpul. “Kelemahan terbesar manusia adalah membiarkan keburukan menang atas kebaikan. Percayalah dalam diri semua orang termasuk gadismu, ada kebaikan yang terpancar setiap saat. Hanya kau memilih membutakan matamu dengan balok, menghalangimu merasakan dan melihat keindahannya..”

Dia bangkit tiba-tiba. “Semoga belum terlambat,” katanya. Cepat dikecupnya pipiku, kemudian berlari ke depan. Aku tahu hendak ke mana ia.

Ah, perih menampar di hatiku. Mengapa kulakukan semua sesi bodoh ini? Aku melewatkan kesempatan mendapatkannya… Hatiku memang tidak bisa diajak bekerjasama. Lagi aku menghela napas. Mungkin memang belum saatnya dia jadi milikku. Tugaskulah mengembalikan dia ke pelukan wanitanya. Paling tidak saat ini.

4 Responses to "Percakapan Sahabat : Sebuah Perenungan"

hueee.. nyesek ya jadi “tempat sampah”.. x'(
tapi itulah sahabat :’)
btw si “aku” ini cewek bukan mba?

Iya.. cinta terpendam😀 iya dia cewek😀

percakapan yang keren…
suerrr….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,696 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

<<emosi>> Last nite dinner di Kopitiam, GI

#langsunghilangseleramakan
#kwetiau
#pucatpasi
#polosbanget
#dikitbanget
#4suaphabis
#emosi
#seginiplusteh70ribu 
#enakkankwetiaunyokapgw
#waiternyajelalatanlagi 😑😑😑😑😑😑😑😑😑 1 (foto) lagi dari Mayora.. #aimee #birthday #1yearold #perayaanbatchkedua #celebration #remboelan #plazasenayan #inlawfamily #ayeamakukuyeye Libby and Jamie card for Aimee 😁

#birthdaycard #birthday #aimee #kids #handmadecard #cousin #nephew #niece Libby's card for Aimee 😁

#kids #birthdaycard #cousin #niece #birthday #aimee #handmadecard It's almost Christmas, the most wonderful time of the year!! Last year I didn't enjoy all this season beauty as I'm stucked at thome post-birth. But now?? Yeay!! Mall to mall, get ready!

#christmas #decoration #themostwonderfultimeoftheyear #christmastree One of my favorite place. Tasty food, wide range of variety, reasonable price, beautiful and comfy atmosphere

#remboelan #restaurant #indonesianfood Masih edisi ultah 🎂

Headband by @bearbeecollection 
Dress by @galerieslafayette

#aimee #birthday #1yearold #white #baby #instababy #remboelan #plazasenayan #asyikdengansendokdansegalamacam Family is number one blessing

#aimee #birthday #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #keluargapala #remboelan #plazasenayan #whitebluedresscode ❤👪❤ 3 of us

#aimee #birthday #lunch #1yearold #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan Teeth and tongue 😗

#aimee #baby #laugh #birthday #1yearold #lunch #celebration #perayaanbatchkedua #remboelan #plazasenayan 📷 : @lieta73 😀 Aimee mukanya kok penuh cela gitu si?

#aimee #baby #family #birthday #1yearold Aimee 2nd cake 🍰

A cake 🎂 by @ivenoven, a birthday cake I always want since errr.. forever?? #aimee #birthday #baby #1yearold #cake #ivenoven #winniethepooh #vanillanutella #vanilla #nutella Aimee 1st cake 🎂 🎂 @colettelola

#masihedisiulangtahun #aimee #birthday #1yearold #baby #cake #coletteandlola #chocolate Happy Birthday Aimee 🎂

#masihedisiulangtahun #aimee #birthday #1yearold #baby #changthien #keluargakaret #perayaanbatchpertama #greendresscode Happy birthday sweetheart 😀

Even the power of words (whom I trust the whole of my life) can't describe how I feel for this 1 year journey. 
It's a mixed of rollercoaster jaw-dropping, calming and peaceful feeling from rain and soil smell, soap opera laugh and tears, and so on.. Oh, and one thing for sure I know now what is heavy backpain and sleepless night, lol.. Mommy and Daddy woof you berry berry munch, sweet lil' monster.. Thank you for making me a better person, someone I never knew I could be.. ❤👪 #aimee #birthday #1yearold #baby #perayaanbatchpertama #chsngthien #bihunikanpalingenaksedunia #celebration #dinner #family Impatience has its cost 😐

#pablo #pablonyalongsor #cheesetart #japan #matcha #greentea #gandariacity #gancit #gojek #terimakasihabanggojekyangrelaantri #maugamaukasihtipsgede

@pablo_cheese_tart_indonesia Enjoying 30 % discount of Crispy Beef Steak 🐄🍴🍽 #fillbellies #gajahmada #crispybeefsteak #steak #food #dinner #western @fillbellies Anak kepo part 2

#aimee #baby #mainanembercuciankotor #emaknyaudahkehabisanide #udahhabisenergi #parenthood Anak kepo 😂

#aimee #koper #luggage #tatah #jalan #kepo #kiddy -> lg addicted main ini 😎

#designhome #game #playstore #interior #design

Blog Stats

  • 405,266 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

November 2013
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

tuliskan yang tak mampu terucap

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: