Fanny Wiriaatmadja

Book Review : Red Dragon

Posted on: August 12, 2013

naga-merah-201x300

Red Dragon : Penyebab saya beli buku ini adalah tokoh Hannibal Lecter yang tersohor itu. Karena belum pernah nonton semua filmnya, tentu membaca bukunya adalah plihan utama untuk mengetahui kisahnya, dan versi lebih lengkap dari sebuah buku tentu lebih bisa digaransi kan ketimbang hanya menyaksikan film dengan durasi 2-3 jam?

Cerita novel ini berkisar pada aksi seorang pembunuh berantai yang membunuh korbannya dengan pola yang sama di dua kota berbeda. Korban yang dibunuh tepatnya adalah dua keluarga bahagia, lengkap dengan anak-anaknya yang masih kecil. Teror sang pembunuh yang sadis membuat seisi kota ketakutan.

Untuk menangani kasus ini, Crawford dari FBI memanggil kembali rekannya yang sudah pensiun, Will Graham. Will sendiri memiliki reputasi sebagai penyidik pembunuhan berantai yang cukup berhasil, dan punya ‘gift’ unik untuk bisa menyelami cara pikir seorang pembunuh. Walaupun terakhir sempat dirawat di RS Jiwa karena terguncang setelah membunuh seorang pelaku kejahatan, akhirnya Will menerima penugasan ini, sejalan dengan nuraninya sebagai seorang polisi, walaupun harus siap juga dengan resiko membahayakan keluarga barunya (Molly istrinya dan Willy anak tirinya), Perjanjian yang tadinya hanya untuk “membantu” FBI untuk mengerti pola perilaku si penjahat akhirnya beruntun membawa Will kebablasan, makin terjerat dan terperangkap dalam kasus ini dan tidak bisa meninggalkannya  (seperti janji awalnya ke keluarganya) sebelum si penjahat tertangkap.

Will mulai mendatangi satu demi satu lokasi pembunuhan dan mengadakan rekonstruksi ulang dalam pikirannya, berusaha menempatkan diri dalam posisi si pelaku untuk bisa mengerti setiap tindakan aneh si pembunuh serta keterkaitan kedua keluarga korban yang punya latar belakang cukup berbeda.

Di tengah proses, karena merasa buntu, Will meminta bantuan dari seorang penjahat psikopat Hannibal Lecter yang sekarang sedang dipenjara di sel khusus. Lecter, seorang tahanan spesial dengan kejeniusan, kemisteriusan dan sakit jiwanya, malah kemudian berkomunikasi secara tertulis dengan si pelaku yang juga ‘sakit’ melalui surat. Komunikasi tersebut berhasil terendus oleh para detektif, dan semakin serulah petualangan mereka memecahkan kasus ini dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat, apalagi setelah si pembunuh terang-terangan menjadikan Will sebagai targetnya dan kemudian membunuh seorang wartawan terkenal dengan sadis karena dianggap menghina aksi-aksi brutalnya di media.

Will dan rekan-rekannya harus bekerjasama sebelum si pembunuh mengulangi aksinya di saat bulan purnama bersinar di bulan berikutnya.

Sementara itu, sejalan dengan proses penyelidikan yang berlangsung, kita sebagai pembaca juga diperkenalkan dengan tokoh di pembunuh, yakni Dollarhyde Sang Peri Gigi, yang memang punya trauma masa kecil dengan fisiknya yang cacat sejak lahir dan penolakan dari ibu kandungnya. Kebiasaannya menggigit korban membuatnya mendapatkan julukan eksotis itu. Lupakan tentang ending cerita dimana secara mengejutkan kita menemukan si pembunuh ternyata orang ‘dalam’. Buku ini punya formula berbeda.

Kembali ke Dollarhyde, terobsesi untuk menjadi ‘sempurna’ sesuai lukisan Red Dragon yang dikaguminya yang dia lihat suatu kali di sebuah museum, ia melakukan satu demi satu tindak kejahatan yang diklaimnya merupakan titah murni dari sang Red Dragon, sampai akhirnya ia bertemu seorang wanita buta yang tulus, jatuh cinta padanya dan mengalami kegalauan luar biasa karena ternyata Red Dragon “cemburu” pada wanita itu dan ingin Dollarhyde membunuhnya.

Saya pribadi memang paling doyan dengan novel penyelidikan semacam ini, apalagi ditambah suguhan penjahat psycho yang jenius macam Dollarhyde maupun Lecter. Mengikuti satu demi satu pola pikir dan perilaku mereka merupakan suatu keasyikan sendiri, beda dengan membaca novel percintaan yang picisan itu ataupun novel genre lain. Dengan novel semacam ini, otak dipaksa untuk ikut berpikir, ikut memahami alur dan kejadian, dan ikut merasakan ketegangan yang terjadi di dalamnya sampai kita tidak sabar membalik halaman berikutnya, bahkan tergoda untuk mengintip halaman akhir.

Kelebihan seorang Thomas Harris sebagai penulis adalah kemampuannya untuk bisa membawakan cerita seolah benar-benar terjadi; mengesampingkan semua kerancuan dan ambiguitas yang mungkin timbul disebabkan oleh posisinya sebagai penulis cerita yang sudah tahu ending dan kejadian selanjutnya yang akan terjadi. Dia benar-benar membawa ‘benak’ seorang pembaca yang polos dan kosong, yang menyajikan cerita apa adanya sesuai kejadian sebenarnya.

Contohnya, waktu Dollarhyde menelepon Graham dengan menyamarkan identitas sebagai penelepon misterius anonim dan seolah berniat memberikan petunjuk tentang kasus Peri Gigi ini, di saat-saat awal saya sebagai pembaca dibuat terbingung-bingung, mengapa Graham bereaksi dengan mengeluarkan statement-statement yang aneh, yang menurut saya “tidak seharusnya” dibuat seperti itu oleh si penulis. Namun setelah membawa lebih lanjut, saya ditohok oleh suatu kenyataan bahwa statement Graham tersebut “keluar” karena memang pada kejadian nyatanya, bukan hanya Dollarhyde yang melakukan peneleponan anonim pada pihak kepolisian. Dalam kasus tsb., beratus-ratus orang melakukan hal yang sama alias menelepon pihak kepolisian secara anonim , berusaha mencari sensasi dan keuntungan pribadi dari kasus itu, membuat pusing pihak kepolisian. Saya sebagai pembaca yang tadinya hanya terfokus pada Dollarhyde, lupa pada fakta itu, sehingga beberapa statement Graham yang tertulis di novel itu membuat saya mengerutkan kening. Dengan mengerti background dan fakta tersebut, statement-statement yang dikeluarkan Graham tadi baru terasa masuk akal untuk saya sebagai pembaca. Baru di akhir itu saya disadarkan, bahwa seorang Thomas Harris sebagai penulis, sudah memperhitungkan berbagai aspek sampingan dari kisah ini sedemikian rupa, sehingga penulisan kisahnya berhasil dibuat se-real mungkin, dikondisikan seolah benar-benar terjadi, mengatasi berbagai pola pikir terbatas dari para pembaca.

Eh ngerti ga sih maksud dan penjelasan-panjang-lebar saya ini? Hehe.. Maksudnya, Thomas Harris itu membuat cerita dengan melihat dari sudut pandang 360 derajat, berbeda dari saya sebagai pembaca yang hanya melihat satu sisi saja, dan hal ini terjadi beberapa kali dalam buku ini. Suatu kebingungan dari saya kemudian selalu bisa terjawab di akhir, berkat kepiawaian Thomas Harris dalam menyediakan angle-angle yang tidak bisa dilihat oleh pembaca, seolah seorang Thomas Harris benar-benar ada di sana, saat kejadian berlangsung. Hebat! Apa yang tidak bisa dilihat pembaca, diprediksi dan telah diperhitungkan olehnya.

Kemenarikan lain dari novel ini tentu saja karakter si pembunuh maupun Hannibal Lecter dengan kejeniusan sekaligus “sakit” mereka. Menarik sekali mempelajari kejiwaan dan pola pikir mereka, termasuk usaha Graham ketika berusaha menyelami mengapa si pelaku melakukan ini dan itu terhadap korban. Pembicaraan demi pembicaraan yang terjadi juga disajikan secara cerdas.

Hal yang kurang disuka dari novel ini,  kadang dialog yang ada terlalu cepat sehingga saya harus mikir dulu ini maksudnya apa. So satu scene bisa berlangsung dengan sangat cepat, dengan kalimat-kalimat singkat sebagai alat deskriptor, tapi kadang ga berhasil menjelaskan peristiwa yang terjadi dengan detail. Akhirnya yang ada saya jadi ga ngerti, ni orangnya sebenernya lagi ngapain dan lagi dimana dan maksudnya apa.

Kemudian terakhir-terakhir karena banyak membahas hal teknikal terkait pekerjaan Dollarhyde di bidang fotografi, saya makin ga ‘dong’ deh, ngomongin pencahayaan, film, ruang gelap, dan lain-lain, padahal sebenernya semua penjelasan ini penting buat lebih ngertiin aksi pembunuhan yang dilakukan Dollarhyde.

Anyway buku ini saya recommend kok, terutama buat yang suka thriller/action jenis semacam ini. Secara kualitas, jangan disamakan ya dengan novel-novel karya Dan Brown yang ga ada matinya itu, yang dilihat dari segala sisi kayaknya hampir sempurna. Tapi seperti yang saya bilang tadi, bukunya cukup menarik dan menegangkan. Seru!

So misi selanjutnya tentu saja adalah membaca ketiga sekuel Red Dragon, plus hunting film-filmnya!! Denger-denger Anthony Hopkins bagus banget meranin Hannibal Lecternya.

Score : 7,8

2 Responses to "Book Review : Red Dragon"

Nanti kalau sudah mulai cari filmnya, cari juga mini serinya yang baru saja selesai diputar di AXN. Kalau gak salah judulnya Hanibal. Atau mungkin Fanny sudah nonton juga?

Belum nonton.. Nanti cari downloadan-nya deh, soalnya di rumah ga pasang Cable😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Fanny Wiriaatmadja

Follow Fanny Wiriaatmadja on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,696 other followers

Memories in Picture - IG @fannywa8

Impatience has its cost 😐

#pablo #pablonyalongsor #cheesetart #japan #matcha #greentea #gandariacity #gancit #gojek #terimakasihabanggojekyangrelaantri #maugamaukasihtipsgede

@pablo_cheese_tart_indonesia Enjoying 30 % discount of Crispy Beef Steak 🐄🍴🍽 #fillbellies #gajahmada #crispybeefsteak #steak #food #dinner #western @fillbellies Anak kepo part 2

#aimee #baby #mainanembercuciankotor #emaknyaudahkehabisanide #udahhabisenergi #parenthood Anak kepo 😂

#aimee #koper #luggage #tatah #jalan #kepo #kiddy -> lg addicted main ini 😎

#designhome #game #playstore #interior #design Yg masak mau kawin tampaknya.. #bintanggading #pik #elanglaut #noodle #bakmi #pork #porknoodle #asinbangetyangdisini 😲😝😖😕 Tryin' this just now.. Agak kecewa.. rasanya flat banget dan ga ada wangi2nya.. istilah gw : rasanya cuma di lidah dan ga nyampe' ke hidung 😅

However teksturnya bener lembut dan agak basah, jadi gak seret kayak kue bolu.

Suggestion : mending rasa matcha-nya ketimbang original cheese cakenya. Rasanya lebih intense.

#fuwafuwa #cheesecake #pik #elanglaut #kue #cake #dessert #japan Kemasannya lutjuuu 😄 #samyang #samyangcheese #instantnoodle #korea #mieinstant #mujigae #pluitvillage #bulgogi #koreanfood #kimchi #chicken #dinner #food #instafood #tiramitsu ala my sister 
#cake #handmade #baileys #dessert Lunch batch 1, diikuti nasi padang #kalimantan #noodle #bakmi #pontianak -> supercool ❤😶😶😶❤ #tyrionlannister #tyrion #gameofthrones #georgerrmartin #series #lannister #biarceboltapikece Happy playin' with the new playmat and fence *for only 10-15' and then yellin' askin' to get out

All is rented via @gigel.id

#playmat #fence #cobyhaus #baby #aimee 🐳🐋🐬🐟🐠🐡 #sulawesi #megakuningan #seafood #parape #ricarica #dinner #squid #crab #soka #makassar 🐷🐖🐽 #babipanggang #pork #pig #food #brunch #asemka #gataunamatempatnya 😶😶😶 #halloween #latepost #gardin #bali  #green #greenery #traveling Coffee? No, please.. #gadoyan #inipunyasuami #coffee #seniman #senimancoffee #bali #ubud #cafehopping #wisatakulinerbali #wisatakuliner #traveling 🌙🌛🌜☁⭐ #selfie
#smile 
#goodnite
#seeyoundari May our path cross again in the future @alicia_tibob 
#farewell #sundari #alfalaval #hrd #teamwork 🐷🐖🐽 #porkbelly #pork #porkneverdies #bali #slipperystone #greek #food #instafood #travelling #dinner #cafehopping

Blog Stats

  • 404,271 hits

FeedJit

Archives

Categories

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

August 2013
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Dream Bender

mari kendalikan mimpi

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

JvTino

semua yang ada di alam ini bersuara, hanya cara mendengarnya saja yang berbeda-beda

Rini bee

Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)

hati dalam tinta

halo, dengarkah kamu saat hatimu bicara?

lukamanis

terlalu manis untuk dilukakan

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

kata dan rasa

hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa

Iit Sibarani | Akar Pikiran

Serumit akar, menjalar ke setiap sudut pikiran dengan hati sebagai pusat gravitasinya.

cerita daeng harry

cerita fiksi, film, destinasi dan lainnya

Dunia Serba Entah

Tempatku meracau tak jelas

Astrid Tumewu

i am simply Grateful

Mandewi

a home

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Meliya Indri's Notes

ruang untuk hobi menulisnya

anhardanaputra

kepala adalah kelana dan hati titik henti

catatanherma

Apa yang kurasa, kupikirkan...tertuang di sini...

Rido Arbain

Introducing the Monster Inside My Mind

Tempted to Write

Introducing the Monster Inside My Mind

MIZARI'S MIND PALACE

..silent words of a silent learner..

Nins' Travelog

Notes & Photographs from my travels

Gadis Naga Kecil

Aku tidak pandai meramu kata. Tapi aku pemintal rindu yang handal.

lalatdunia's Blog

sailing..exploring..learning..

GADO GADO KATA

Catatan Harian Tak Penting

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Luapan Imajinasi Seorang Mayya

Mari mulai bercerita...

hedia rizki

tuliskan yang tak mampu terucap

Catatannya Sulung

Tiap Kita Punya Rahasia

chocoStorm

The Dark Side of Me

copysual

iwan - Indah - Ikyu

Rindrianie's Blog

Just being me

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

He said, I said

Introducing the Monster Inside My Mind

Doodles & Scribles

Introducing the Monster Inside My Mind

All things Europe

Introducing the Monster Inside My Mind

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

miund.com

Introducing the Monster Inside My Mind

Dee Idea

Introducing the Monster Inside My Mind

DATABASE FILM

Introducing the Monster Inside My Mind

www.vabyo.com

Introducing the Monster Inside My Mind

aMrazing

Introducing the Monster Inside My Mind

~13~

Introducing the Monster Inside My Mind

%d bloggers like this: